Mendaki Tangga Kedewasaan

25 Feb

sebetulnya itu terjemahan dari perkataannya Kai waktu itu: 大人の階段に上った otona no kaidan ni nobotta. Hanya karena dia merasa bisa mengalahkan keinginan untuk main iPad seharian pada hari Sabtu. Aku merasa geli, kalau dia membandingkan perbuatan dia yang diukur dengan menahan diri. Tapi memang sebagai orang dewasa, kita sepantasnya bisa menahan diri, tidak lepas mengumbar emosi seperti anak-anak ya. Dan aku juga tercenung sih, untuk menjadi dewasa itu berapa banyak tangganya ya? hehehe

Tapi memang akhir-akhir ini Kai merasa bangga sendiri jika sudah bisa melakukan sesuatu yang tadinya belum bisa, atau yang menurutnya hanya “orang gede” saja yang bisa melakukan. Seperti waktu aku ajarkan dia memakai microwave, tentu dengan wanti-wanti tidak memasukkan sendok (besi-besian) dan hanya 1 menit saja, kalau kurang baru tambah 1 menit lagi. Dia seperti mencari kesempatan untuk pakai microwave itu. Dia juga suka untuk membuat sesuatu, mencampur sesuatu, dan mengumpulkan sesuatu 😀 Kadang aku bingung melihat ada piring kecil berisi cabe cair yang ntah dicampur apa oleh Kai 😀 Kalau aku ada di rumah, dia juga suka mengajakku membuat sesuatu. Jadi deh coba-coba membuat macam-macam kue.

Memang dia suka menonton youtube. Dan ntah kenapa kadang dia melihat cara memasak. Jadi deh dia ingin membuat puding karamel. Aku langsung menyiapkan bahan-bahan dan berdua mencoba resep dari tante Mega, tapi gagal! Akhirnya sisa caramelnya aku jadikan mousse au caramel deh 😀

Riku sudah lebih tinggi dari mamanya 🙂

Setiap anak akan melampaui masa-masa menuju kemandirian. Belajar dari orang tua atau dari kakaknya kalau ada kakak. Susahnya, orang tua kadang menahan kemandirian anak-anak dengan memanjakannya, untuk kepentingan orang tua itu sendiri. Tidak mau mereka menjadi dewasa, karena nanti akan “ditinggal”. Pada malam hari, Kai yang masih tidur di sebelahku akan memelukku dan aku menciumnya. Saat itu aku berkata;” Kai kamu setahun dua tahun lagi pasti tidak mau disun mama deh…” Jawabnya, “Ngga kok… sampai aku gede aku mau kok disun mama!”

Ya, dia bisa bilang begitu, tapi aku yang harus mengerti bahwa anak akan menjadi besar dan merasa malu jika disun mamanya.

Sama seperti hari Sabtu kemarin, waktu aku mengantar Riku ke calon sekolah SMPnya untuk mengukur baju seragam. Karena kakiku sakit, aku maunya berpegangan dengan dia, tapi secara halus dia melepaskan tanganku. Saat itu aku pikir…”Ahh coba ada Kai, dia akan memperhatikanku dan memegangku dengan tangannya yang kecil, dengan tubuhnya yang kecil mencoba menopangku”. Tapi Riku bukan Kai, dia sejak Kai lahir sudah biasa mandiri.

Lalu waktu tiba giliran kami, si petugas mengukur badan Riku yang jauuuuh terlihat besar dibanding anak-anak sebelumnya yang…. boleh dibilang sebesar Kai! Untung saja ada ukurannya. L saja saudara-saudara. Badannya lebih kekar daripada petugasnya malahan hahaha.

Juga waktu mencoba sepatu olahraga. Dia langsung memilih nomor 26,5 … duh kakiku cuma 25,5 (42) yang sudah termasuk besar untuk orang Indonesia. Untung ada persediaannya. Dan dia baru akan menjadi kelas SATU SMP!

Dan dia sempat berkata pada papanya, “Nanti aku ulang tahun aku minta Kartu Buku 図書券 (semacam gift card buku) saja deh, supaya aku bisa beli sendiri buku yang kumau”

Apakah aku parno dengan buku-buku pilihannya itu bagus atau tidak? Dia baru saja menyelesaikan 30 jilid buku (manga) SANGOKUSHI (the Three Kingdoms, cerita sejarah daratan China) . Dia juga sudah menyelesaikan dua buku pilihannya : Cerita Sesudah Sejarah, yaitu kelanjutan cerita sejarah (Eropa dan Jepang) yang kita pelajari di sekolah yang jarang/tidak diketahui umum. Dua tema buku yang mungkin tidak akan kupilih untuk dibaca 😀

Sangokushi 30 jilid! Makan tempat kan? huhuhuhu

Sebetulnya ada dua lagi permintaannya, yaitu ingin smartphone dan ke Kyoto. Tapi waktu kami menghadiri orientasi SMP, diberitahukan bahwa sekolah akan mengadakan Karyawisata ke Kyoto waktu kelas 3 SMP. Hmmm tour ke  Kyoto mahal sih  🙁 , tapi akan aku usahakan. Sedangkan untuk smartphone? Mendingan notebook computer ah! hehehe (di SMP murid-murid TIDAK BOLEH bawa HP)

Jadi, di hari ulang tahun Riku yang ke 12 hari ini, kami merayakan dengan sederhana. Sesuai permintaannya, kami memberikan gift card Kartu Buku, dan meniup lilin dengan kue buatanku yang kubuat cepat-cepat semalam. kami tidak bisa pergi makan malam “birthday dinner” bersama karena aku dan Gen bekerja. Tapi Riku sudah memaklumkan hal itu dan berkata, :”Ngga papa kok mah, biaya dinnernya masukkan menjadi Kartu Buku saja!”…. huh 😀 😀 😀 生意気 Namaiki !

Tiup lilin begitu bangun pagi tadi. kuenya berantakan tapi enak loh hehehe 😉

Selamat Ulang Tahun Riku sayang. Sebentar lagi (akhir Maret) kamu lulus SD, dan benar-benar menaiki satu tangga kedewasaan, yaitu menjadi murid SMP. Semakin berat pelajarannya, semakin banyak waktu untuk belajar dan ekskul. Semakin sedikit waktu untuk berkumpul dengan keluarga, tapi satu yang kami pinta: Ceritakan semua kesusahanmu! mama dan papa akan berusaha membuat kamu bahagia dan menghilangkan keresahan kamu dalam hidup. Tentu sambil berdoa pada Tuhan untuk selalu melindungimu setiap saat. Amin ~~~

5 Replies to “Mendaki Tangga Kedewasaan

  1. Selamat ulangtahun, anak muda… Semakin keren dan pniter ya.. Jangan lupa bersyukur pada Tuhan yang telah memberimu keluarga yang luar biasa..

    Salam dari kami di Kweni.. 😉

  2. happy birthday riku!!!
    welcome to teenager world… 🙂
    semoga selalu pinter, sayang papa mama dan kai, selalu sehat dan panjang umur ya!

  3. Selamat ulang tahun Riku. Selamat menikmati tangga pendidikan berikutnya.
    Btw, mba EM menarik juga kalo ditulis tentang smp di Jepang.

Comments are closed.