Menyimpan Kenangan

5 Feb

Kemarin sore, sebelum aku pergi mengajar malam hari di Sekolah RI Tokyo, Kai bertanya padaku, “Mama, mama masih simpan surat yang aku kasih pada tahun baru kemarin?”

Lalu kujawab, “Masih ada kok. Tapi jangan suruh mama cari sekarang ya. Dan meskipun surat itu hilang, mama sudah ambil fotonya. Surat itu amat berharga buat mama loh….”

Dan aku melihat dengan sudut mataku, dia tersenyum senang…

Malam harinya, setelah mengajar, aku mampir dulu berbelanja di sebuah supermarket dalam perjalanan pulang. Karena aku tahu bahwa esok, Kamis dan Jumat akan turun hujan/salju di Tokyo, sehingga sulit untuk keluar rumah. Apalagi kakiku memang sedang sakit tulangnya, sehingga harus istirahat. “Tidak boleh banyak jalan”, kata dokter. Berarti tidak boleh naik tangga dan naik sepeda deh. Nah, mumpung aku naik mobil, sekalian saja aku berbelanja untuk 3 hari ke depan. Tak lupa aku ingin membelikan coklat untuk Kai, karena sebelum pergi dia menunjukkan hasil kuiz di sekolah mendapat nilai 100.

Karena aku mampir belanja dulu itu, aku sampai di rumah pukul 10:10 malam, sudah lewat waktunya anak-anak tidur (Aku biasakan mereka tidur jam 9).  Langsung menaruh belanjaan dan tas di depan pintu, aku pergi melihat kondisi anak-anak dulu. Riku tertidur di sofa-bed sedangkan aku melihat Kai mengintip dari selimutnya. Aku langsung melihat ada secarik surat dengan tulisan Kai di atas komputer. Langsung kubaca dan terharu akan isinya. Dia menulis cukup panjang, antara lain:  “Selamat pulang, mama pasti capek, tapi jangan lupa tulis laporan bahwa aku sudah baca tugas guru (ondoku 音読) ya. Judulnya: Tanuki no Itoguruma. Jangan lupa ya. Kalau sudah pulang, nanti bobo sebelah Kai ya. Waktu mama baca surat ini, mungkin Kai sudah tidur. Riku juga sudah tidur di sofa, nanti mama bangunin dia suruh pindah ya. Lalu besok pagi bangunin Kai jam 6 atau jam 5 pagi ya. Untuk doa malam, Kai berdoa sendiri. dari Kai”

surt Kai

Cute kan? (oyabaka hehehe ortu selalu memuji anaknya sendiri :D). Aku senang setiap mendapat surat dari Kai, karena sekaligus dia belajar menulis dan mengungkapkan pikirannya. Jadi setiap suratnya aku foto dan aku simpan sebagai file di Hard Disk. Surat, karyanya berupa gambar, lego, apa saja aku foto dan aku simpan dalam file.

Tapi ada satu media yang aku harus berpikir keras bagaimana cara menyimpannya. Yaitu rekaman suara Kai waktu meneleponku di iPhone. Kai memang mempunyai kebiasaan meneleponku jika aku belum pulang mengajar. Kadang dia menelepon untuk memberitahukan bahwa besok harus bawa bla, bla, bla, sehingga aku bisa membelinya kalau tidak ada di rumah. Hal ini paling aku hargai, karena kakaknya selalu kasih tahu malam hari atau keesokan paginya sehingga aku sering kelabakan. Atau kadang dia hanya ingin bertanya apakah boleh makan kue yang ada di atas meja. Di akhir pesan dia selalu berkata, “Kalau mama tidak sibuk dan sudah mendengar pesan ini tolong telepon ke rumah ya….” Kadang aku malas menjawab teleponnya, dan waktu kupulang, kue di atas meja masih tetap ada. Di satu sisi aku senang dia selalu bertanya dulu sebelum makan/ambil sesuatu, di lain sisi aku merasa kasihan dia menahan keinginannya cukup lama. Ada satu rekaman suaranya, waktu awal menjadi murid SD dan dia ketakutan di rumah padahal aku paling cepat 2,5 jam lagi pulangnya. Begitu aku mendengar pesan itu, aku langsung meneleponnya sambil berjalan ke stasiun dan mengajak ngobrol supaya dia lupa ketakutannya.

Semua rekaman suara ini masih ada, ada aku memutar otak bagaimana cara menyimpannya. Akhirnya aku browsing dan menemukan satu software bernama TouchCopy (seharga 25$) yang bisa menyimpan semua data voice, foto, text apa saja dari iPhone dan memindahkannya ke komputer. Memang aku masih harus mengconvert menjadi mp3, tapi aku senang karena bisa menyimpan suara Kai waktu anak-anak. Mungkin kelak jika aku sudah jompo, aku bisa mendengarkan kembali suaranya yang imut-imut (dan tentu masih belum berubah). Sayangnya waktu Riku kecil memang belum ada teknologi canggih seperti ini, selain memang sifatnya berbeda. Eh, tapi suara Riku ada loh di Youtube hehehhe.

Sambil memindahkan beberapa rekaman suara Kai itu, aku sempat menanyakan pada adikku, apakah dia punya rekaman suara almarhum mama? Karena mama memang jarang menelepon aku, sehingga tidak ada suaranya di answering machine, lain dengan papa. Lalu aku mengingat-ingat, ah… memang mama jarang bercerita lagi setelah dia sakit beberapa tahun lalu. I miss her voice… and her smile. Yah, sebentar lagi genap 3 tahun mama pulang ke rumah Bapa, sehingga akhir-akhir ini aku merasa sedih dan menjadi melankolis teringat padanya.

So, selain foto, tulisan/surat/kartu, atau suara kamu suka menyimpan apa lagi untuk mengenang seseorang, atau untuk menjadikannya kenangan di masa mendatang? Mungkin bisa memberikan ide?

6 Replies to “Menyimpan Kenangan

  1. hmm… apa ya?
    baju? aksesoris yg biasa dipakai orang tersebut?

    tapi asyik juga ya kalau bisa menyimpan “suara”. aku selama ini hanya menyimpan surat dan foto. kadang aku juga masih menyimpan barang-barang pemberian teman. kadang sederhana saja sih, misalnya catatan kecil menyentuh atau terasa lucu, kadang tetap aku simpan. 🙂

  2. baca ini yang kai pulang duluan itu,jadi kayak adegan di film2,mamanya telpon ngajak ngobrol anaknya hehehe…salut sama kai,nggak mau makan kuenya sebelum dapat izin dari mamanya^^

  3. Sama Mbak Imel aku menyimpan surat anakku yg sdh kufoto dan kuposting diblog ini, suara anakku ada masanya dua anakku doyan nyanyi- nyanyi sambil joget2lucu kurekam dihp kdg sampe berantem2nya lucu gitu hihihi waktu diopname icha memvideo dirinya sendirisambil nangis2 bilang dia kangen kaka sepupunya rumah boneka sampai mbak suster senyum2liatnya

  4. Ahh Kai….manis sekali dikau…

    Kalau keluarga sibuk, catatan, tulisan, pesan tertulis ataupun sms dan pesan suara bisa membuat masing-masing anggota keluarga menjadi lebih dekat.
    Yang rajin menulis surat si bungsu…atau anak kedua begitu ya Mel? Yang sulung juga mirip Riku..suka bikin kelabakan.

Comments are closed.