Arsip Bulanan: Februari 2015

Trisomy18

Kurasa masih sedikit yang tahu apa arti trisomy, lain halnya dengan kata threesome ya 🙂 Akupun tidak tahu, atau baru tahu akhir-akhir ini, dari seorang teman di Yogyakarta yang kukenal waktu dia belajar di Jepang, Ani.

Trisomy 18 pada bayi adalah  kelainan kromosom yaitu kelebihan kromosom nomor 18 yang seharusnya 2 kromosom saja (kromosom nomor 18nya ada 3).  Jika kita mengetahui down syndrom, itu kelebihan kromosom nomor 21, yang masih bisa ditangani. Sedangkan Trisomy 18 lebih sulit, karena membawa dampak ke semua organ tubuh. Dampak yang paling umum adalah lubang di jantung. Namun sebetulnya kelainan trisomy 18 (T18) ini bisa terjadi 1 dari 6000 kelahiran. Angka yang menurutku cukup banyak ya.

Ani melahirkan anak keduanya pada bulan April 2014 dan divonis bahwa bayinya mengalami kelainan T18 ini. Tentu sangat menyedihkan bagi orang tua jika mengetahui bayinya menderita trisomy, dan sulit juga bagi orang tua untuk menjelaskan kondisi bayinya kepada saudara dan teman-teman. Untunglah Ani akhirnya mau memberitahukanku melalui Ekawati Sudjono, mohon doa katanya.

Anak perempuan manis itu diberi nama Marvella. Vella mempunyai kista di otak, otot-otot kaku dan reflek telan tidak berjalan. Itu sebabnya dia hanya bisa minum susu melalui selang. Sebagai seorang ibu, aku juga tahu betapa berat Ani menghadapi semuanya. Apalagi setelah beberapa saat cuti melahirkan, dia masih harus kembali bekerja di universitas. Bersama suami dan kakak Brian, mereka berempat melewati hari-hari yang pasti amat berat. Aku bisa mengikuti perkembangan adik Vella melalui catatan Ani di FB.

Karena aku ingin menemui Ani dan dik Vella maka aku merencanakan perjalanan ke Yogyakarta summer lalu. Jadi setelah dari rumah ibunya Donny di Klaten, kami menyusuri jalan yang cukup macet ke Yogyakarta dengan mobil Ata chan. Kebetulan Atachan mengetahui daerah tempat tinggal Ani, sehingga bisa cepat ketemu.

Brian langsung mengajak kakak Riku dan Kai untuk bermain, sementara aku menjenguk Vella yang sedang tidur. Kamipun berdoa bersama (aku berterima kasih pada Riku dan Kai yang mau ikut berdoa padahal aku berbicara dalam bahasa Indonesia) sebelum aku pamit untuk menuju tempat kami menginap di Yogya, Catys House.

Kemarin adalah 100 harinya dik Vella meninggalkan dunia, kembali kepada Sang Pencipta. Aku hanya bisa melihat foto bunga yang dibawa kakak Brian ke makam lewat FB, tapi hatiku ikut berdoa bagi bayi kecil Vella, dan untuk orang tuanya. Dari tulisan Ani, aku juga mengetahui bahwa ternyata ada kelompok keluarga-keluarga dengan bayi dengan kelainan langka yang saling menguatkan.Dan seperti yang Ani pernah tuliskan, bayi-bayi ini diberikan Tuhan untuk mengajarkan manusia terus bersyukur untuk kehidupan. Dik Vella hanya mampu bertahan 7 bulan tapi telah memberikan cinta dan persahabatan yang indah di antara kami. Terima kasih dan selamat jalan Vella sayang <3

kenangan bersama adik Vella di Yogyakarta, 13 Agustus 2014. Foto diambil oleh Atachan

Bulan Maret adalah bulan untuk Trisomy. Aku ingin mendoakan untuk semua keluarga yang mempunyai anak trisomy 18 agar mereka dapat menjalankan kehidupan bersama kelainan anaknya. Karena meskipun T18 dikatakan incompatible with life, mereka hanya membutuhkan support dan treatment karena kondisi mereka memang tidak memungkinkan hidup tanpa treatment. Hidup memang butuh perjuangan, tapi perjuangan itu juga butuh dukungan. Aku juga  menunggu tulisan Ani mengenai suka dukanya merawat bayi T18 sehingga bisa menjadi pengetahuan bagi orang tua lainnya.

KLA X

Aku sebetulnya tidak mau tulis KLATEN seperti itu karena mengingatkan pada perbuatan orang Indonesia yang tidak menghargai tempat wisata di Jepang. Waktu itu ramai kejadian ada tulisan KLA X Indonesia di rute gunung Fuji. Pas saat itu aku berada di Indonesia sehingga tidak tahu bagaimana akhir kejadian itu.

Perjalanan dengan kereta dari Surabaya akhirnya mengharuskan kami turun di Klaten. Ya, aku memang mempunyai tujuan khusus mampir ke Klaten dulu sebelum ke Jogja. Inginnya sih mampir ke Solo juga, tapi… nanti saja lain kali. Di Klaten aku ingin mengunjungi DUA tempat, yang pertama adalah rumah mertua dari adik perempuanku yang akrab kami panggil Yang Ti dan Yang Kung serta rumah ibunya Donny Verdian (yang sudah kutulis di sini).

Seperti yang kutuliskan di sini, begitu mendekati stasiun Klaten, petugas cleaning yang kuminta carikan porter mendatangi kursi kami dan menurunkan barang-barang kami. Loh… kupikir dia akan turun panggil porter, tapi katanya, “Stasiun kecil bu, tidak ada porter, biar saya bawakan saja” Wah, untung saja. Jadi dia menurunkan bawaanku, lalu membawakan sampai pintu keluar. Aku sempat berkata padanya untuk turunkan saja dari kereta ke peron, nanti aku sedikit-sedikit bisa bawa. Eh dia bawa sampai pintu stasiun. Soalnya aku kasian kan kalau dia ditinggal kereta :D:D 😀

Riku dan Kai naik becak di Klaten 😀

Sesampai di pintu stasiun, sudah ada YangTi menunggu. Barang-barang langsung dimasukkan mobil, sedangkan Riku dan Kai disuruh naik BECAK! hahaha, senang lah mereka bisa naik becak.

stasiun Klaten

Kami memang sampai duluan di rumah, tapi YangTi bilang abang becaknya kenalan jadi tidak perlu khawatir.

berdikari!

Kami diantar berkeliling rumah, melihat ayam dan ikan yang dipelihara. Anak-anak langsung memancing ikan di empang, lalu digoreng menjadi lauk kami selain ayam peliharaan. Jikyu jisoku 自給自足 berdikari menyediakan semua keperluan sendiri 😀 Dan YangTi juga sempat menggorengkan sukun dari pohon sendiri! duh Sukun kesukaanku! Kapan lagi bisa makan gorengan sukun panas-panas!

Masih ada foto bersama alm. YangKung di Klaten

Sambil menunggu dijemput Atachan, aku sempat tidur siang. Saat itu YangTi pergi ke acara di gereja, sedangkan YangKung menunggu di rumah. Aku sempat bercakap-cakap dengan YangKung sambil menikmati teh panas manis dan buah-buahan. Itu adalah pertemuan aku dengan YangKung yang terakhir karena beliau meninggal sekitar 4 bulan yang lalu. Aku bersyukur mengikuti perasaanku untuk turun di Klaten dan bertemu YangTi dan YangKung, ditambah lagi dengan kunjungan ke rumah ibunya Donny Verdian. Klaten kemudian kutinggalkan untuk kemudian menuju ke Yogyakarta dengan mobilnya Atachan.

Yogyakarta I’m coming!

kenangan di Klaten 13 Agustus 2014

Catatan perjalanan mudik summer 2014

voorzichtig zijn = sing ngati-ati

“voorzichtig zijn” adalah kata yang sering diucapkan mamaku.

sing ati-ati le” adalah kata-kata yang terpatri dalam hati sahabat blogger, DV yang diucapkan ibunya pada saat-saat penting hidupnya.

Yang satu bahasa Belanda, dan yang satunya bahasa Jawa. Apapun bahasanya artinya sama… Hati-hati ya (nak).

Dalam satu kalimat itu HATI seorang ibu menyatu dalam doa untuk anaknya. Doa SEMUA ibu yang terucap untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya tidak menemui rintangan, kemalangan atau marabahaya. Agar anaknya sehat dan bisa menjalankan aktifitasnya dengan baik.

Tiga hari yang lalu, hari Senin aku banyak menangis. Aku memang tidak mengisi rencana apa-apa karena ingin kuperuntukkan satu hari itu untuk mama yang telah dipanggil Tuhan 3 tahun yang lalu. Apalagi waktu kubuka FB pagi harinya, tante Diana, adik papa, salah satu tante yang amat kukasihi, menulis akan bersiap-siap ke Oasis (kolumbarium, tempat abu mama disimpan) bersama papa. Kuisi satu hariku dengan doa untuk mama, dan membongkar foto-foto lama untuk mengenang mama. Di situ aku ingat mama memang jarang bicara setelah terserang stroke pertama 1999. Tapi senyum mama tak pernah pudar. Senyum dan tawanya yang khas, terekam dalam setiap foto. She will always in my heart.

Dua hari yang lalu, aku menanyakan kabar ibunya Donny melalui google, dan aku tahu keputusannya seperti yang telah dia tuliskan dalam blognya. Berada jauh dari mama itu sangat tidak enak, apalagi dalam waktu-waktu seperti begini, ketika mama sakit atau dalam kesusahan.

Aku sendiri pernah bertemu dengan mamanya Donny ketika aku mampir di rumahnya di Klaten. Memang aku berencana mengunjungi rumahnya, mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, Agustus 2014. Padahal aku tidak kenal ibunya, tidak tahu rumahnya dan Donny tentu tinggal di Australia. Aku sangat berterima kasih pada papa-mamaku yang selalu meneladani kami untuk berusaha mengunjungi keluarga/saudara/sahabat yang sakit atau melayat, semampu kita, meskipun hanya satu menit. Karenanya dengan berbekal alamat dan nomor HP adiknya Donny, kami bertiga (aku, Riku dan Kai) dengan Ata-chan mencari rumah Donny di Klaten.

dasar blogger, semua difoto 😀 Bukti aku sudah sampai rumah DV di Klaten

Setelah menunggu beberapa saat, kami bisa bertemu mamanya Donny, omanya dan adiknya. Mamanya Donny sempat tanya padaku, kamu siapa? Dan kukatakan: “Saya temannya Donny. Saya tinggal di Tokyo, Donny di Australia dan kami bersahabat melalui tulisan di internet. Pertama kali bertemu Donny tahun lalu di Jakarta, dan sekarang saya di sini di Klaten untuk bertemu mamanya Donny  hehehehe. Rumit ya. ”

dinding kenangan

 

Karena anak-anak mulai rewel, aku cepat berpamitan dan kami berfoto bersama, tak lupa aku sempat memotret foto-foto kenangan keluarga di dinding rumah. Bersama foto di depan rumah, aku kirimkan beberapa foto ke Donny via email saat itu. Maaf, saat itu mungkin aku membuat Donny kangen akan rumahnya, tapi…. rasa kangen, sedih nano-nano itu wajar untuk seorang manusia bukan? Apalagi untuk yang di rantau seperti kami… rindu tak tertahankan merupakan makanan sehari-hari 🙂

bersama mamanya Donny, mamak, dan dik Chitra… yang tidak kelihatan sedang hamil.

Sebetulnya aku sempat gembira ketika beberapa saat yang lalu melihat ibunya sudah tidak duduk di kursi roda lagi, pada sebuah foto di FBnya Donny. Fotonya sedang duduk memangku dan memandangi  cucu ketiga, anak dari adiknya Donny. Rupanya sempat mengalami kemajuan, tapi karena tersedak sekitar awal Februari lalu, sekarang kondisinya turun lagi.

Pada saat-saat seperti ini, kata-kata “sing ati-ati” sepertinya bukan hanya milik seorang ibu. Tapi juga milik seorang anak, yang amat sangat khawatir akan keadaan ibunya. Jika dulu anak-anak hanya menerima perkataan itu, sekarang waktunya untuk mengatakan hal yang sama kepada ibunya… “Bu, sing ati-ati”…

“Pa, take care”

 

Karena sesungguhnya ucapan itu merupakan doa bagi orang yang dicintai, dan sepotong hati ikut selalu menyertai ~~~

Sing ati-ati

voorzichtig zijn

Ki wo tsukete ~~~

 

“Kiranya Tuhan selalu melindungi kita semua di manapun kita berada. Amin”
Sebuah tulisan catatan perjalanan Surabaya-Jogjakarta 2014 yang tertunda.

Mendaki Tangga Kedewasaan

sebetulnya itu terjemahan dari perkataannya Kai waktu itu: 大人の階段に上った otona no kaidan ni nobotta. Hanya karena dia merasa bisa mengalahkan keinginan untuk main iPad seharian pada hari Sabtu. Aku merasa geli, kalau dia membandingkan perbuatan dia yang diukur dengan menahan diri. Tapi memang sebagai orang dewasa, kita sepantasnya bisa menahan diri, tidak lepas mengumbar emosi seperti anak-anak ya. Dan aku juga tercenung sih, untuk menjadi dewasa itu berapa banyak tangganya ya? hehehe

Tapi memang akhir-akhir ini Kai merasa bangga sendiri jika sudah bisa melakukan sesuatu yang tadinya belum bisa, atau yang menurutnya hanya “orang gede” saja yang bisa melakukan. Seperti waktu aku ajarkan dia memakai microwave, tentu dengan wanti-wanti tidak memasukkan sendok (besi-besian) dan hanya 1 menit saja, kalau kurang baru tambah 1 menit lagi. Dia seperti mencari kesempatan untuk pakai microwave itu. Dia juga suka untuk membuat sesuatu, mencampur sesuatu, dan mengumpulkan sesuatu 😀 Kadang aku bingung melihat ada piring kecil berisi cabe cair yang ntah dicampur apa oleh Kai 😀 Kalau aku ada di rumah, dia juga suka mengajakku membuat sesuatu. Jadi deh coba-coba membuat macam-macam kue.

Memang dia suka menonton youtube. Dan ntah kenapa kadang dia melihat cara memasak. Jadi deh dia ingin membuat puding karamel. Aku langsung menyiapkan bahan-bahan dan berdua mencoba resep dari tante Mega, tapi gagal! Akhirnya sisa caramelnya aku jadikan mousse au caramel deh 😀

Riku sudah lebih tinggi dari mamanya 🙂

Setiap anak akan melampaui masa-masa menuju kemandirian. Belajar dari orang tua atau dari kakaknya kalau ada kakak. Susahnya, orang tua kadang menahan kemandirian anak-anak dengan memanjakannya, untuk kepentingan orang tua itu sendiri. Tidak mau mereka menjadi dewasa, karena nanti akan “ditinggal”. Pada malam hari, Kai yang masih tidur di sebelahku akan memelukku dan aku menciumnya. Saat itu aku berkata;” Kai kamu setahun dua tahun lagi pasti tidak mau disun mama deh…” Jawabnya, “Ngga kok… sampai aku gede aku mau kok disun mama!”

Ya, dia bisa bilang begitu, tapi aku yang harus mengerti bahwa anak akan menjadi besar dan merasa malu jika disun mamanya.

Sama seperti hari Sabtu kemarin, waktu aku mengantar Riku ke calon sekolah SMPnya untuk mengukur baju seragam. Karena kakiku sakit, aku maunya berpegangan dengan dia, tapi secara halus dia melepaskan tanganku. Saat itu aku pikir…”Ahh coba ada Kai, dia akan memperhatikanku dan memegangku dengan tangannya yang kecil, dengan tubuhnya yang kecil mencoba menopangku”. Tapi Riku bukan Kai, dia sejak Kai lahir sudah biasa mandiri.

Lalu waktu tiba giliran kami, si petugas mengukur badan Riku yang jauuuuh terlihat besar dibanding anak-anak sebelumnya yang…. boleh dibilang sebesar Kai! Untung saja ada ukurannya. L saja saudara-saudara. Badannya lebih kekar daripada petugasnya malahan hahaha.

Juga waktu mencoba sepatu olahraga. Dia langsung memilih nomor 26,5 … duh kakiku cuma 25,5 (42) yang sudah termasuk besar untuk orang Indonesia. Untung ada persediaannya. Dan dia baru akan menjadi kelas SATU SMP!

Dan dia sempat berkata pada papanya, “Nanti aku ulang tahun aku minta Kartu Buku 図書券 (semacam gift card buku) saja deh, supaya aku bisa beli sendiri buku yang kumau”

Apakah aku parno dengan buku-buku pilihannya itu bagus atau tidak? Dia baru saja menyelesaikan 30 jilid buku (manga) SANGOKUSHI (the Three Kingdoms, cerita sejarah daratan China) . Dia juga sudah menyelesaikan dua buku pilihannya : Cerita Sesudah Sejarah, yaitu kelanjutan cerita sejarah (Eropa dan Jepang) yang kita pelajari di sekolah yang jarang/tidak diketahui umum. Dua tema buku yang mungkin tidak akan kupilih untuk dibaca 😀

Sangokushi 30 jilid! Makan tempat kan? huhuhuhu

Sebetulnya ada dua lagi permintaannya, yaitu ingin smartphone dan ke Kyoto. Tapi waktu kami menghadiri orientasi SMP, diberitahukan bahwa sekolah akan mengadakan Karyawisata ke Kyoto waktu kelas 3 SMP. Hmmm tour ke  Kyoto mahal sih  🙁 , tapi akan aku usahakan. Sedangkan untuk smartphone? Mendingan notebook computer ah! hehehe (di SMP murid-murid TIDAK BOLEH bawa HP)

Jadi, di hari ulang tahun Riku yang ke 12 hari ini, kami merayakan dengan sederhana. Sesuai permintaannya, kami memberikan gift card Kartu Buku, dan meniup lilin dengan kue buatanku yang kubuat cepat-cepat semalam. kami tidak bisa pergi makan malam “birthday dinner” bersama karena aku dan Gen bekerja. Tapi Riku sudah memaklumkan hal itu dan berkata, :”Ngga papa kok mah, biaya dinnernya masukkan menjadi Kartu Buku saja!”…. huh 😀 😀 😀 生意気 Namaiki !

Tiup lilin begitu bangun pagi tadi. kuenya berantakan tapi enak loh hehehe 😉

Selamat Ulang Tahun Riku sayang. Sebentar lagi (akhir Maret) kamu lulus SD, dan benar-benar menaiki satu tangga kedewasaan, yaitu menjadi murid SMP. Semakin berat pelajarannya, semakin banyak waktu untuk belajar dan ekskul. Semakin sedikit waktu untuk berkumpul dengan keluarga, tapi satu yang kami pinta: Ceritakan semua kesusahanmu! mama dan papa akan berusaha membuat kamu bahagia dan menghilangkan keresahan kamu dalam hidup. Tentu sambil berdoa pada Tuhan untuk selalu melindungimu setiap saat. Amin ~~~

Segitiga dan Permintaan Doa

Siang tadi, aku terbangun persis Kai mengebel jam 2 siang. Memang aku tidur dari jam 11 pagi karena malamnya aku hanya tidur 3 jam. Setelah membukakan pintu untuk Kai, aku makan siang dan membuka komputerku. Sementara itu aku mendengar Kai kluthekan di WC, dan dia memanggilku, “Mama sini dong….lihat deh!”

Wah ternyata dia membersihkan WC! Ada apa nih… kok tiba-tiba dia membersihkan WC? Tapi memang aku tahu Kai sering melakukan sesuatu yang dia suka dengan impulsif. Tapi, aku lebih terkejut lagi waktu melihat tissue gulung dilipat segitiga bagian ujungnya. Ya, seperti di hotel-hotel begitu, meskipun segitiganya tidak rapih. Ah, senang rasanya mendapat “service” seperti itu, dan aku merasa terharu. Akupun kemudian membuat segitiga pada tissue yang habis kupakai. Kamu pernah berbuat begitu? segitiga pada tissue itu sebetulnya seperti “bantuan” kecil pada orang yang akan memakai tissue setelah kita.

segitiga pada tissue WC. Lipatan Kai sih tidak sebagus ini 😀

Karena aku curious ingin mengetahui apakah segitiga pada toilet itu merupakan manner atau tidak, aku jadinya browsing deh. Ternyata namanya FireHold, karena dulu pertama kali digunakan untuk para pemadam kebakaran. Mereka harus selalu dalam keadaan siaga, sehingga sedapat mungkin menghemat waktu. Seandainya tanpa segitiga, mereka mungkin sulit mencari “ujung” tissue, lain halnya jika diberi segitiga tersebut. Langsung bisa memakai tissue itu tanpa perlu mencari-cari sehingga menghemat waktu.

Konon hotel Jepang pertama yang memperkenalkan segitiga itu adalah hotel Imperial di Tokyo. Rupanya itu dipakai sebagai tanda kepada petugas hotel lainnya bahwa WC kamar hotel itu sudah dibersihkan. Senang kan mengetahui kamar kita memang sudah bersih.

Tapi ada beberapa orang yang tidak suka dengan segitiga di tissue itu. Maklumlah orang Jepang memang  きれい好き”bersihan” kan. Katanya rasanya jijik kalau orang yang membuat segitiga di tissue itu tangannya kotor (habis ceb*k belum cuci) hahaha. Kepikiran sampai situ ya? Orang “bersihan” memang sulit karena memandang segala sesuatu dari segi higienitasnya.

Tadi aku waktu melihat lipatan segitiga Kai memang terharu, karena dia “melihat” apa saja. Aku jadi ingat semalam Kai minta aku mendoakan dia, karena hari ini dia akan ditest permainan harmonikanya. Lalu dia juga minta aku membuat tanda salib di dahinya waktu berangkat ke sekolah. Memang akhir-akhir ini aku melakukan kebiasaan itu, mengulang kebiasaan mama dan papa yang memberikan tanda salib di dahi sebagai berkat dalam melakukan pekerjaan/ujian hari itu. Jika kami anak-anak berempat merasa takut dan waswas kami datang ke orang tua kami dan minta di”berkati” dengan tanda salib di dahi. Alm mama bahkan memberikan ciuman di dahi kami, katanya, “supaya otaknya encer!” 😀

Kadang-kadang teman-teman kita meminta kita mendoakannya bukan? Aku menganggap permintaan ini sebagai tanda bahwa kita dipercaya dan kita merupakan orang “khusus” baginya. Biasanya aku secara khusus membawa namanya dalam doa malam, memohon agar Tuhan memberikan atau mengabulkan permohonannya.

Jadi, aku langsung tanyakan pada Kai, bagaimana test harmonikanya hari ini. Lalu dia bilang, “Aku sih dapat 100 ma. Tapi ada teman-temanku yang dapat 200!”

LOH? hihihi. Lalu aku katakan,

“Tidak apa Kai, yang penting Kai sudah berusaha. Mama juga tidak bisa pelajaran musik kok dulu. Kakak juga tidak bisa. Yang standar sajalah. Tapi tadi tidak khawatir waktu test kan?”

“Tidak dong. Kan mama sudah kasih tanda salib di dahi!”

Topik tulisan hari ini : Segitiga dan salib. Terlihat tidak saling berhubungan, tapi pasti ada hubungannya (bagiku) ah! 😀

Ingin Peranti Ini

Ntah kenapa aku sudah tidak tertarik lagi dengan gadget telepon atau tablet. Maksudku, aku belum ada keinginan untuk membeli HP atau tablet terbaru, meskipun tidak nolak kalau dikasih. Rasa-rasanya semua sama saja sekarang, tidak ada yang istimewa. Paling beda soal kecepatan atau kejelasan kan? Tapi akhir-akhir aku merasa ingin membeli dua peranti ini, gara-gara nonton di TV/komputer. (Baru periksa di KBBI ternyata yang benar PERANTI bukan PIRANTI loh :D)

Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa kemarin terjadi kecelakaan TransAsia di Taiwan. Pesawat mati setelah lepas landas dan langsung nyungslep jatuh ke sungai, setelah menyenggol taxi di jalan tol. Nah yang membuatku penasaran adalah tayangan kejadian yang diambil dari drive recorder mobil di belakang taxi tersebut, sehingga terlihat begitu real. Baru akhir-akhir ini memang aku mendengar kata Drive Recorder. Terutama pada taxi atau bus, dipakai untuk merekam kejadian dalam taxi sebagai pencegahan kejahatan. Tapi sepertinya hasil tayangan tentang pesawat itu bukan taxi/bus. Jadi aku langsung cari Drive Recorder, yang ternyata hampir sama dengan CCTV deh. Iseng-iseng aku cari di amazon, dan mendapatkan jenis-jenis dengan harga berkisar antara 15.000 yen sampai 3000 yen (1,5 juta -300rb rupiah). Hmm tidak mahal kalau dibanding dengan keamanan yang diberikan. Paling tidak bisa dipakai sebagai bukti jika ada yang menyenggol mobil.

Peranti satu lagi yang menarik untukku, agak mahal. Katanya sekitar 10 juta rupiah (100ribu yen) kalau sudah dijual. Masalahnya ini peranti kedokteran ini memang belum dijual, mungkin dalam waktu dekat. Wah, 10 juta kok tidak mahal? Ya, karena dengan alat ini kita bisa mengetahui apakah kita menderita alzheimer atau influensa bahkan kanker hanya dari setitik darah. Pemeriksaannya bisa kita lakukan sendiri dan hanya makan waktu 10 menit. Hebat kan? Paling tidak bisa membuat kita tidak panik lah, dan bisa sewaktu-waktu periksa tubuh kita sendiri meskipun sedang sibuk dan tidak ada waktu ke Rumah Sakit. (Aku tidak bilang supaya kita tidak ke RS lohhh)

setitik darah yang ditaruh di sensor

tunggu hasilnya 10 menit…

Aku ketahui peranti ini dari acara “Sekaiichi uketai jugyou 世界一時受けたい授業” (The Most Useful School in the World) di Nippon TV  (chanel 4) setiap Sabtu jam 19:00-20:00 malam. Kami bertiga (aku-riku-kai…papa gen belum pulang kerja) sering menonton acara ini bersama-sama. Termasuk dalam genre variety pendidikan.

Kamu sedang ingin punya peranti apa?

Menyimpan Kenangan

Kemarin sore, sebelum aku pergi mengajar malam hari di Sekolah RI Tokyo, Kai bertanya padaku, “Mama, mama masih simpan surat yang aku kasih pada tahun baru kemarin?”

Lalu kujawab, “Masih ada kok. Tapi jangan suruh mama cari sekarang ya. Dan meskipun surat itu hilang, mama sudah ambil fotonya. Surat itu amat berharga buat mama loh….”

Dan aku melihat dengan sudut mataku, dia tersenyum senang…

Malam harinya, setelah mengajar, aku mampir dulu berbelanja di sebuah supermarket dalam perjalanan pulang. Karena aku tahu bahwa esok, Kamis dan Jumat akan turun hujan/salju di Tokyo, sehingga sulit untuk keluar rumah. Apalagi kakiku memang sedang sakit tulangnya, sehingga harus istirahat. “Tidak boleh banyak jalan”, kata dokter. Berarti tidak boleh naik tangga dan naik sepeda deh. Nah, mumpung aku naik mobil, sekalian saja aku berbelanja untuk 3 hari ke depan. Tak lupa aku ingin membelikan coklat untuk Kai, karena sebelum pergi dia menunjukkan hasil kuiz di sekolah mendapat nilai 100.

Karena aku mampir belanja dulu itu, aku sampai di rumah pukul 10:10 malam, sudah lewat waktunya anak-anak tidur (Aku biasakan mereka tidur jam 9).  Langsung menaruh belanjaan dan tas di depan pintu, aku pergi melihat kondisi anak-anak dulu. Riku tertidur di sofa-bed sedangkan aku melihat Kai mengintip dari selimutnya. Aku langsung melihat ada secarik surat dengan tulisan Kai di atas komputer. Langsung kubaca dan terharu akan isinya. Dia menulis cukup panjang, antara lain:  “Selamat pulang, mama pasti capek, tapi jangan lupa tulis laporan bahwa aku sudah baca tugas guru (ondoku 音読) ya. Judulnya: Tanuki no Itoguruma. Jangan lupa ya. Kalau sudah pulang, nanti bobo sebelah Kai ya. Waktu mama baca surat ini, mungkin Kai sudah tidur. Riku juga sudah tidur di sofa, nanti mama bangunin dia suruh pindah ya. Lalu besok pagi bangunin Kai jam 6 atau jam 5 pagi ya. Untuk doa malam, Kai berdoa sendiri. dari Kai”

surt Kai

Cute kan? (oyabaka hehehe ortu selalu memuji anaknya sendiri :D). Aku senang setiap mendapat surat dari Kai, karena sekaligus dia belajar menulis dan mengungkapkan pikirannya. Jadi setiap suratnya aku foto dan aku simpan sebagai file di Hard Disk. Surat, karyanya berupa gambar, lego, apa saja aku foto dan aku simpan dalam file.

Tapi ada satu media yang aku harus berpikir keras bagaimana cara menyimpannya. Yaitu rekaman suara Kai waktu meneleponku di iPhone. Kai memang mempunyai kebiasaan meneleponku jika aku belum pulang mengajar. Kadang dia menelepon untuk memberitahukan bahwa besok harus bawa bla, bla, bla, sehingga aku bisa membelinya kalau tidak ada di rumah. Hal ini paling aku hargai, karena kakaknya selalu kasih tahu malam hari atau keesokan paginya sehingga aku sering kelabakan. Atau kadang dia hanya ingin bertanya apakah boleh makan kue yang ada di atas meja. Di akhir pesan dia selalu berkata, “Kalau mama tidak sibuk dan sudah mendengar pesan ini tolong telepon ke rumah ya….” Kadang aku malas menjawab teleponnya, dan waktu kupulang, kue di atas meja masih tetap ada. Di satu sisi aku senang dia selalu bertanya dulu sebelum makan/ambil sesuatu, di lain sisi aku merasa kasihan dia menahan keinginannya cukup lama. Ada satu rekaman suaranya, waktu awal menjadi murid SD dan dia ketakutan di rumah padahal aku paling cepat 2,5 jam lagi pulangnya. Begitu aku mendengar pesan itu, aku langsung meneleponnya sambil berjalan ke stasiun dan mengajak ngobrol supaya dia lupa ketakutannya.

Semua rekaman suara ini masih ada, ada aku memutar otak bagaimana cara menyimpannya. Akhirnya aku browsing dan menemukan satu software bernama TouchCopy (seharga 25$) yang bisa menyimpan semua data voice, foto, text apa saja dari iPhone dan memindahkannya ke komputer. Memang aku masih harus mengconvert menjadi mp3, tapi aku senang karena bisa menyimpan suara Kai waktu anak-anak. Mungkin kelak jika aku sudah jompo, aku bisa mendengarkan kembali suaranya yang imut-imut (dan tentu masih belum berubah). Sayangnya waktu Riku kecil memang belum ada teknologi canggih seperti ini, selain memang sifatnya berbeda. Eh, tapi suara Riku ada loh di Youtube hehehhe.

Sambil memindahkan beberapa rekaman suara Kai itu, aku sempat menanyakan pada adikku, apakah dia punya rekaman suara almarhum mama? Karena mama memang jarang menelepon aku, sehingga tidak ada suaranya di answering machine, lain dengan papa. Lalu aku mengingat-ingat, ah… memang mama jarang bercerita lagi setelah dia sakit beberapa tahun lalu. I miss her voice… and her smile. Yah, sebentar lagi genap 3 tahun mama pulang ke rumah Bapa, sehingga akhir-akhir ini aku merasa sedih dan menjadi melankolis teringat padanya.

So, selain foto, tulisan/surat/kartu, atau suara kamu suka menyimpan apa lagi untuk mengenang seseorang, atau untuk menjadikannya kenangan di masa mendatang? Mungkin bisa memberikan ide?