10-20-1-2

10-20-1-2

(Bulan 10, tanggal 20 dan bulan 1 tanggal 2)

Deretan angka-angka yang mungkin aneh, tapi aku ingin memperkenalkan anggota baru keluarga “besar” deMiyashita. Dia bernama Shaw, (semestinya sih shou tapi biar keren dong pakai logat bahasa Inggris :D) 翔. Dilihat dari kanjinya merupakan gabungan kanji 羊(domba) dan 羽 (sayap). Kebetulan tahun ini adalah tahun domba/kambing sehingga pas kan? Shaw menggantikan kedudukan DAI, anjing shiba yang dipelihara ibu mertuaku sampai tahun 2012, ketika dia menghilang tiba-tiba. Memang Dai sudah tua, dan mungkin sudah waktunya dia untuk mati. Karena anjing shiba seperti serigala, dia seakan tidak mau “ditangisi” majikannya, sehingga dia memilih untuk lari, entah kemana. Sekitar tanggal 20 Februari 2012, ibu dan bapak mertuaku mencari-cari dimana-mana tapi tidak ada, bahkan sudah lapor polisi. Tidak ada pemberitahuan ditemukan, hidup atau mati.

Kepergian (Kematian) Dai membuat ibu mertuaku shock dan memang sejak itu kesehatannya memburuk. Kebetulan ada sebuah toko peralatan rumah tangga yang baru dibuka di dekat rumah ibu mertuaku, dan di situ dijual anjing shiba! Hampir setiap ada kesempatan keluar rumah,  ibu mertuaku ke sana dan memandangi anjing shiba yang ada di situ. Dan akhirnya tanggal 2 Januari kemarin, dia memutuskan untuk membeli anjing tersebut. Begitu si anjing dikeluarkan dari etalase, dia kupeluk dan… duh cantiknya! (eh cakepnya, karena dia jantan) dan tidak berontak turun, bahkan bermain dengan kancing coatku. Tak terasa hampir 30 menit aku menggendongnya, dan memotretnya 😀 selama prosedur pembelian diselesaikan. Tentu saja pihak toko memeriksa kesehatan, memberikan vaksin, memotong kuku dan akhirnya memberikan anak anjing yang lahir tanggal 20 Oktober itu kepada kami sebagai orang tua baru. Bahkan pihak toko membuat foto “keluarga” bersama dan mencetaknya untuk kami. Mungkin juga itu sebagai bukti yang akan disimpan pihak toko bahwa kami adalah pemiliknya.

foto yang diambil petugas toko

Begitu dibawa pulang, ayah mertua memberikan nama Shaw dan dia lari ke sana ke mari di dalam rumah. Anak anjing yang sangat “genki” (sehat). Meskipun aku (dan Gen) sebenarnya agak khawatir jika saking sehatnya, Shaw akan mencelakakan ibu mertua yang kurang lancar berjalan. Tapi dari segi psikologis, kehadiran Shaw menggembirakannya dan kupikir kesehatan rohani lebih penting. Semoga saja Shaw bisa membawa kebahagiaan di rumah kedua mertuaku.

foto bersama di rumah setelah memberi nama “Shaw”

Anak-anakku juga suka sekali Shaw. Memang Riku sudah lama minta agar kami memlihara anjing, tapi kami tinggal di apartemen sehingga tidak boleh memelihara anjing. Kai, sebenarnya takut. Tapi lama kelamaan dia tahu bagaimana harus menggendong dna bermain dengan Shaw, sehingga waktu Shaw dimasukkan ke dalam “rumah”nya untuk tidur malam dan menangis, Kai menghiburnya sambil menyanyi “lullaby”…lucu sekali.

Kai menyanyikan “nina bobok” untuk Shaw 😀

Dan kesedihan juga terlihat pada muka Kai waktu kami harus pulang. sebenarnya kami berencana pulang kembali ke rumah Tokyo tanggal 2, tapi karena anak-anak masih mau bermain dengan Shaw, terpaksa ditunda sampai hari ini (tanggal 3) . Dan… tentu saja anak-anak minta terus untuk bermain dengan Shaw begitu libur sekolah 😀 Jadi aku sudah menjanjikan untuk pergi bertemu Shaw sedikitnya dua minggu sekali 😀 … Apa boleh buat kan? (Padahal aku juga mau bermain dengan Shaw hehehehe)

 

7 Comments

Ahh… Kalau membaca cerita Dai ini jadi teringat anjingku yg sudah lama mati, dia pergi begitu saja tanpa kabar berita padahal sudah 11 tahun kupelihara. Sedihnya… Sekarang agak trauma untuk memelihara lagi, takut ditinggal pergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :