Torei

Torei

Duh, rasanya aku sudah lama sekali tidak menulis di blog ini. Maklum sedang banyak shimekiri 締切, deadline sehingga aku tidak bisa menulis. Alasan lain sempat sakit kepala hebat dan batuk-batuk, dua kali mengalami taifun di Tokyo.

Hari ini aku ada pertemuan orang tua dan guru untuk kelasnya Kai, lalu aku harus mengajar malam. Tapi sebelum pergi rasanya aku harus menulis sedikit, untuk mencaharkan sembelitku ini 😀

Judulnya TOREI, pelafalan dari katakana トレイ (bukan toire loh). Karena katakana kita harus curiga bahwa kata ini berasal dari bahasa lain, bahasa asing gairaigo 外来語. Dan memang ini berasal dari bahasa Inggris : TRAY.

tray dengan gambar daun Haran

Kemarin dulu aku berbelanja di supermarket yang lain dari biasanya. Karena kebetulan lewat naik mobil, sekalian mampir untuk mempersiapkan kedatangan taifun. Harus isi kulkas dengan makanan. Nah, kemarin aku masak daging yang ditempatkan pada tray plastik berwarna kuning muda. Tapi aku merasa aneh kok daun yang ada di tray itu tidak tercuci (kami selalu cuci dulu sebelum dibuang/dikumpulkan). Rupanya itu gambar daun yang tercetak pada tray nya, sehingga tidak bisa lepas.

Kalau kita berbelanja daging/ikan mentah di supermarket memang biasanya kita menemukan daun plastik di dalamnya. Aku dulu sering heran. Kenapa sih susah-susah masukkan daun plastik ke dalamnya. Dasar orang Jepang suka “kecantikan”, sampai daging saja di hias. Memang ada benarnya, untuk kecantikan tapi ini sebetulnya pengganti kebiasaan menaruh daun sungguhan di dalam tray daging/ikan.

Biasanya kalau membeli daging yang khusus untuk curry akan diberikan daun laurier (semacam daun salam), untuk dimasak bersama-sama daging, sebagai bumbu tambahan. Atau kalau daging yang mahal biasanya diberi daun hiba (bentuknya seperti daun cemara) yang katanya mempunyai khasiat mencegah pembusukan. Sedangkan  gambar daun yang di tray kubeli kemarin itu ternyata daun Haran, yang hanya dipakai sebagai hiasan saja. Mungkin karena susah atau mahal, atau merepotkan, supermarket itu lebih baik memakai tray yang sudah ada gambar daunnya 😀

Apapun alasannya, aku tetap merasa bahwa orang Jepang memang masih memegang kebiasaan lama, meskipun lama-kelamaan diganti dengan imitasinya. Demi kebudayaan dan estetikanya.

Kalau di Indonesia, apakah ada yang memasukkan daun pepaya ke dalam bungkusan daging ya? hehehe

10 Comments

Ooo karena tradisi ya masukin daun. Saya juga suka wondering kalo beli di supermarket Jepang kok suka ada daun daunan nya. Hahaha.

Kenapa mesti dicuci sebelum dibuang mbak?

kan bau bekas daging(darah)nya melekat sehingga membuat bau satu plastik sampah daur ulangnya (dipilah berdasarkan jenis) . Demikian pula bekas botol saus atau sambal harus dicuci atau minimal bilas dulu sebelum dibuang

He3 baru saja semalam istri saya belanja pembersih botol ternyata di sekitarnya buatan jepang semua. Ada satu paket yg isinya lengkap dan tersusun rapi yaitu berbagai warna benang, berbagai ujuran jarum, dan segala kebutuhannya, yg klo kita beli di indonesia harus satu per satu 🙂

Mbak, apresiasi dengan kebiasaan mencuci botol/wadah meski akan dibuang yang mempermudah proses daur ulang, semuanya berangkat dari rumah tangga ya.
Toreinya halus ya mbak, bisa untuk pemanfaatan lain sebelum dibuangkah? pengin untuk alas pot tanaman hehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :