Arsip Bulanan: September 2014

Kata Baru

Waktu aku membereskan koran untuk dibuang, aku menemukan sebuah artikel yang menarik tentang bahasa Jepang. Yaitu sebuah survey dari kata-kata buatan baru bahasa Jepang yang sering dipakai. Biasanya bahasa Jepang untuk kata-kerja memakai tambahan suru する (melakukan) yang ditempelkan pada kanji gabungan yang dibaca secara onyomi  音読み(cara china). Misalnya benkyo suru, shokuji suru dan lain-lain.

Tapi ada bahasa Jepang yang memakai kata dari bahasa Inggris yang dijepangkan dan ditambahkan kata suru. Misalnya Attakku suru アタックする. Kata attack itu sendiri sebetulnya sudah kata kerja (dalam bahasa Inggris), tapi masih ditambahkan suru yang menjadi ciri kata kerja bahasa Jepang. Bingung kan 😀 Dan sekarang ada kecenderungan untuk menambahkan hanya RU dibelakang kata-kata yang bukan kata kerja (kata benda atau kata asing). Dan kata-kata ini cukup populer dalam masyarakat.

Hal ini diketahui dari survey yang diadakan Dirjen Kebudayaan pada bulan Maret 2013 yang dilakukan pada 3473 pria wanita berusia di atas 16 tahun dan dijawab oleh 2028 orang. Kepada peserta angket diberikan 10 kata populer bentuk “baru ini” dan diketahuilah ranking penggunaan/pengetahuan mereka tentang kata-kata ini.

1. Chin-suru チンする (レンジで加熱) 94% pernah pakai, 8,3% pernah dengar dan 1,2 % tidak pernah dengar.

2. Saboru サボる (なまける)   86,4% pernah pakai, 12,5% pernah dengar dan 1,0 % tidak pernah dengar

3. Ochasuru お茶する (喫茶店に入る) 66,4% pernah pakai, 27,6% pernah dengar dan 5,8 % tidak pernah dengar

4. Jiko-ru (事故に遭う) 52,6% pernah pakai, 41,5% pernah dengar dan 5,7 % tidak pernah dengar

5. Panikuru パニックる (慌てる) 49,4% pernah pakai, 41,6% pernah dengar dan 8,8 % tidak pernah dengar

6. Guchiru 愚痴る (愚痴を言う) 48,3% pernah pakai, 44,7% pernah dengar dan 6,8 % tidak pernah dengar

7. Kokuru 告る (告白する) 22,3% pernah pakai, 52,3% pernah dengar dan 25.0 % tidak pernah dengar

8. Kyodoru きょどる (挙動不審に) 15,6% pernah pakai, 34,9% pernah dengar dan 48,7% tidak pernah dengar

9. Takuru タクる (タクシー利用) 5,9% pernah pakai, 21.6% pernah dengar dan 71.9 % tidak pernah dengar

10. Dissuru ディスる (けなす) 5,5% pernah pakai, 20,1% pernah dengar dan 73,7 % tidak pernah dengar

hasil survey Dirjen Kebudayaan Jepang

Waduh, aku sendiri tidak tahu kata-kata mulai nomor 7 deh (dan dibilang Gen, tidak perlu tahu hehehe). Maksud diadakannya survey ini sendiri untuk menunjukkan bahwa TIDAK SEMUA orang TAHU kata-kata itu, sehingga PERLU memperhatikan dan mengerti kalau TIDAK SEMUA ORANG TAHU. Sewajarnya MENGGUNAKAN KATA YANG SEMUA ORANG TAHU.

Indonesia juga mempunyai banyak kata baru. Aku senang kalau mengetahui kata baru itu sebetulnya sudah terdapat di KBBI hanya kurang populer, dan dipopulerkan kembali. Biasanya kata-kata itu berasal dari bahasa daerah. TAPI ada beberapa kata yang menjadi trend HANYA karena dipakai seorang artis dan menjadi terkenal, atau menunjukkan trend sesaat. Kata-kata ini memang biasanya tidak lama. Dan aku senang mengetahui kata-kata baru ini dari tulisan-tulisan di socmed seperti FB dan twitter. Meskipun memang harus dilihat sekitar 3-5 tahun apakah kata-kata itu bisa bertahan atau tidak. Seperti kata lebay, mungkin sudah bisa dimasukkan pada kamus ya 😀 (kalau galau sih memang sudah ada di kamus). Untuk alay? Masih harus tunngu 2-3 tahun mungkin ya 😀

Akhir-akhir ini yang aku lihat trend pemakaian kata “bingit” sebagai pengganti banget. Mungkin teman-teman yang lain bisa menambahkan di sini?

Dua puluh dua tahun

Tanggal 23 September 2014, hari libur di Jepang yaitu hari shubun no hi 秋分の日, hari autumn equinox. Equinox ada dua, pada spring (sekitar tgl 22-23 Maret) dan autum (22-23 September), dan oleh orang Jepang dinamakan Higan 彼岸. Pada hari ini biasanya orang Jepang pergi nyekar ke makam keluarga. Jadi kebiasaan nyekar di Jepang sudah pasti ada 2 kali setahun pada musim semi dan musim gugur. Kalau ditanya kapan orang Indonesia nyekar? Ya biasanya aku jawab, tergantung yang mau pergi, kapan saja, atau biasanya sebelum bulan Ramadhan dan syawal untuk umat Islam. Atau waktu ulang tahun orang yang telah meninggal itu, selama masih diingat oleh keluarganya.

Karena hari libur, dan kebetulan Gen bisa libur juga (biasanya tidak bisa libur), kami berjanji untuk pergi ke Yokohama, ke rumah mertua untuk kemudian bersama-sama ke makam keluarga. Tapi Gen ingin mampir dulu ke Universitas Tokyo (Todai)  karena ada pameran kupu-kupu Jepang di sana, dan hari itu merupakan hari terakhir. Gen memang menyukai kupu-kupu.

Jadilah kami pergi pukul 9:30 pagi, dengan harapan jalanan tidak macet. Karena biasanya pada hari libur, semua orang mau pergi bermobil kan? Untunglah jalanan menuju kampus Todai di Komaba (Inokashira Line) tidak begitu macet, sehingga kami bisa sampai pukul 10:30. Langit cerah biru dengan semburat awan khas musim gugur. Tidak banyak orang yang datang ke pameran itu. Mungkin hanya orang-orang yang “gila kupu-kupu” saja ya 😀 Tapi aku senang karena bisa jalan menghirup udara segar dan bisa jeprat-jepret sana sini. Sayang di dalam ruang pameran tidak boleh memotret.

Pameran ini gratis, dan sebetulnya sudah diselenggarakan lama. Kami saja yang baru sempat ke sini. Di sini dipamerkan 280-an jenis kupu-kupu asli Jepang yang sudah dikeringkan dan dimasukkan dalam frame! Tidak banyak memang jika dibandingkan dengan negara kita, tapi ada beberapa jenis yang diketahui bisa terbang sampai 2500km, karena ditemukan di Taiwan! Kami boleh membawa fotokopi daftar nama yang telah disediakan. Ada beberapa kupu-kupu yang pernah kami tangkap dan buat specimennya.

Karena kami berjanji untuk sampai di rumah mertua pukul 12, kami bergegas keluar tempat pameran kembali naik mobil. Kami menjemput ibu mertua lalu makan siang di Motosumiyoshi, di sebuah restoran yang merupakan langganan bapak dan ibu mertua. Sebetulnya restoran itu kecil, tapi memang masakannya enak dan murah! Seluruh daerah motosumiyoshi ini memang murah, sehingga pulangnya kami sempatkan membeli sayur dan buah-buahan di sini.

Tapi persis sebelum masuk ke tempat kami memarkirkan mobil, kami sempat mampir ke sebuah toko yang menjual minuman keras, Sakaya. Tokonya kecil tapi banyak menyediakan sake dari berbagai daerah, termasuk juga sake daerah yang sulit didapat. Aku memang suka minum sake Jepang, tapi hanya yang  bermutu. Sake bermutu biasanya tidak memabukkan. Sake itu terbuat dari beras, sehingga biasanya sake yang enak itu dari daerah penghasil beras yang enak. Dan biasanya di daerah yang musim dinginnya ekstrim, seperti Niigata. Air di daerah ini juga enak, sehingga baik untuk campuran dalam pembuatan sake. Aku memang pernah berkeinginan menjadi sommelier khusus sake Jepang (biasanya sommelier adalah pencicip wine yang mengetahui rasa wine yang cocok untuk makanan tertentu). Karena hari itu merupakan ulang tahun ke 22 kedatanganku di Jepang (Aku datang pertama kali di Jepang tanggal 23 September 1992), maka Gen menghadiahkanku buku referensi untuk mengetahui sake Jepang.

Sekitar pukul 4 sore kami mengunjungi makam keluarga, memberi air pada nisan, membakar hio dan berdoa. Dan sepertinya sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk mampir ke sebuah rumah tradisional, Yokomizo Yashiki yang terletak di dekat kuil dan terbuka untuk umum (dan gratis). Di situ kami bisa merasakan suasana Jepang pada setiap musim. Musim gugur merupakan musim untuk panen padi, sehingga kami bisa melihat sawah di depan rumah itu yang mulai menguning. Aku selalu senang mampir ke situ, untuk menyenangkan hati dengan kedamaian yang terpancar dari suasana dan tetumbuhan di sekitar rumah itu.

 

 

Studi Perbandingan

Bukan, aku bukan ingin menceritakan atau membahas studi perbandingan yang dilakukan anggota DPR RI ke luar negeri. Tapi ingin menceritakan tentang Riku (lagi).

Jadi, selama liburan musim panas, sejak kelas 3 SD, mereka diberi tugas untuk membuat proyek sendiri. Namanya Jiyuu Kenkyuu 自由研究, untuk mengisi liburan musim panas. Topiknya boleh apa saja. Boleh prakarya, atau penelitian bintang, museum atau coba resep …apa saja. Dan setelah liburan selesai, mereka harus membawa ke sekolah dan memamerkannya di kelas. Jadi, cukup malu kalau hasil proyek itu tidak bagus (itu pemikiran deMiyashita).

Padahal Riku selalu ikut aku berlibur di Jakarta kira-kira sebulan, sehingga otomatis waktu liburannya habis di Jakarta. Karena itu kami mengusulkan pada Riku untuk membuat karangan tentang apa yang ditemui di Jakarta. Kelas 3 dia menulis hal-hal yang mengejutkannya yang ditemui di Jakarta. Misalnya waktu dia main di Kidzania, naik delman, naik bajaj, ketemu buah lengkeng dan buah Naga. Kelas 4 dia menulis tentang hutan Mangrove, karena waktu itu kami pergi ke pelabuhan Sunda Kelapa. Kemudian kelas 5 masih melanjutkan dengan Mangrove dengan tujuan waktu itu ke Taman Wisata Mangrove di Angke.

Kelas 6 ini, seperti yang telah kutulis di Daeng Senga Pulang Kampung, Riku mengunjungi Fort Rotterdam untuk proyek musim panasnya. Tapi sayangnya waktu hari pertama kami pergi ke museum itu, sedikit sekali informasi tentang benteng yang bisa kami dapat. Tapi berkat info dari suami Mugniar, kami merasa kami perlu kembali ke Fort Rotterdam lagi.

Jadi setelah pulang dari rumah  Karaeng Toto, Opa dan Kai beristirahat di hotel, sementara aku, Riku dan Yuko jalan lagi. Kami sempatkan pergi ke lapangan Karebosi yang di bawahnya terdapat pertokoan dan pergi makan es pisang ijo! Wah aku tidak mau pergi ke rumah makan MM itu lagi ah…. penuuuh dan musti antri, sambil lihat siapa yang sebentar lagi selesai makan, berdiri di dekatnya dan berebut tempat duduk 🙁 Ngga biasa sih…. aku juga tidak akan enak makan jika ditunggui seperti itu deh.

Nah aku ingat kenapa kami mampir ke Kareboshi dan makan pisang ijo dulu sebelum ke benteng Fort Rotterdam lagi, karena aku tahu waktu hari pertama ke sana, panaaaaaaasnya minta ampun. Jadi mau menunggu agak sorean dulu baru ke sana. Dan untung saja, memang waktu kami ke benteng sudah tidak terlalu panas. Dan satu hal yang paling mengejutkan kami, yaitu bertemu dengan pemandu wisata yang bisa berbahasa Jepang! Di pintu masuk kami disapa apakah perlu guide, lalu kujawab perlu yang bisa bahasa Jepang. Dan si bapak setengah abad itu menjawab : “Saya bisa bahasa Jepang!”

Wah, meskipun kalimat bahasa Jepangnya tidak sempurna, cukuplah untuk Riku. Kami diantar naik ke bagian depan benteng yaitu bagian yang berbentuk kepala kura-kura. Memang benteng ini memakai bentuk kura-kura sejak di didirikan oleh Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karang Mangunungi Tumaparisi Kallona dan diselesaikan oleh putranya Raja Gowa X pada tahun 1545. Awalnya tentu tidak bernama Fort Rotterdam tapi Benteng Ujung Pandang. Awalnya berfungsi sebagai benteng pengawal yang melindungi Benteng Induk Somba Opu yang juga sebagai pemukiman pembesar-pembesar kerajaan. Pada tahun 1667 benteng Ujung Pandang diserahkan kepada VOC bersamaan dengan ditandatanganinya perjanjian Bungaya. Dari 1667 sampai kedatangan Jepang tahun 1942 diganti nama menjadi Fort Rotterdam dan digunakan sebagai markas komando pertahanan, pusat perdagangan, pemerintahan dan pemukiman pejabat-pejabat belanda. Pangeran Diponegoro pernah ditawan dari tahun 1834-1855 di sini.

Konon Raja Gowa membuat benteng berbentuk penyu/kura-kura ini karena menginginkan kerajaan Gowa jaya di laut dan di darat, seperti layaknya kura-kura. Keseluruhan luas benteng 28.595,55 meter dengan tinggi benteng bervariasi antara 7 sampai 5 meter, dengan ketebalan benteng rata-rata 2 meter. Waktu aku membantu Riku mengetahui luas benteng ini, memang panjang/lebarnya tidak ada yang sama! Menurut data sisi muka (kepala ) 225 m, lalu ke arah utara 155,35meter , timur 193.2 meter dan sisi selatan 164,2 meter. Kok sisi-sisinya tidak sama ya? Asumsiku jaman dulu benteng dibangun juga mungkin tanpa denah dan perhitungan ya sehingga tidak simetris. Di dalam lingkungan benteng terdapat 14 bangunan Belanda + 1 bangunan Jepang.

Lain sekali dengan Goryokaku (kastil segilima) yang terdapat di Saku-shi, Nagano. (Sudah pernah ditulis di sini) Tentu tahun pendiriannya juga lain. Jauh lebih modern, sudah mendekati restorasi Meiji. Bahkan sebetulnya pembangunan parit sekeliling kastil yang berbentuk segi lima itu belum semuanya selesai, baru 3 sisi saja. Kastil Goryokaku jadi merupakan kastil “termuda” di Jepang dan belum pernah dipakai untuk perang. Sekarang di dalam lingkup kastil itu berada gedung sekolah SD Taguchi, lengkap dengan lapangan untuk olahraga. (di sebelah salah satu sisi juga dibangun kolam renang untuk pelajaran renang). Satu-satunya bangunan yang masih lengkap dan masih berada dalam kastil hanyalah bangunan dapur. Sebetulnya masih ada bagian-bagian kastil, seperti gerbang, tapi dipindah ke tempat yang lain.

Riku membandingkan dari tahun pembuatannya, bentuk/luasnya (di sini pakai skala untuk menyamakan, cukup berat untuk dia karena belum dipelajari di sekolahnya) kemudian pemikiran dia mengenai keberadaan kastil itu sendiri. Kami biarkan dia menulis pemikirannya sendiri, tanpa ada campur tangan pendapat kami. (padahal banyak tuh yang mau kita tambahin hehehe) . Tapi sejak awal aku sudah menanamkan pada Riku kalau menulis sesuatu, coba saja jawab pertanyaan: Apa? Siapa? Kapan? Di mana? Bagaimana? Kenapa?  Supaya tulisannya tidak ngawur hehehe. Betul kan?

Dan memang untuk mendapatkan informasi yang cukup, perlu waktu. Kami sampai dua kali pergi Fort Rotterdam dan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Untung juga waktu kami pulang, sempat menanyakan juga apakah ada buku tentang benteng, dan membeli dua buku (fotocopy-an) untuk melengkapi informasi. Semakin lama, semakin banyak informasi, tentu kita bisa menulis lebih bagus dan lengkap.

 

Kumis dan Biore

Laporan Daeng Senga Pulang Kampung 2014-nya dipotong dulu ya, kebetulan ada topik yang pendek, tentang anak-anak.

Dalam kesempatan mudik lalu, aku bisa bertemu dengan seorang teman, adik kelas, Ira Inami yang suaminya sedang bertugas di Hanoi. Selama ini aku kenal dan bertegur sapanya hanya lewat FB, for the sake of almater. Eh ternyata aku kakak kelas dia, dan saat aku menjadi ketua Himaja (Himpunan Mahasiswa Japanologi) UI aku sempat “membaptis”nya dalam OSPEK prodi Jepang. Jadi beda angkatan hanya 3-4 tahun. Senang sekali akhirnya bisa bertemu muka langsung, kebetulan dia mudik (dari Hanoi) dan aku mudik (dari Jepang). Ketemunya di Plaza Senayan.

Pertemuan lintang dadakan di Garcon PS. Tengah “calon brondong-brondong” kami :D. Lihat, penampakan kuenya yummy kan?

Salah satu topik yang dipercakapkan dalam pertemuan di toko kue Garcon (toko kue Perancis ini memang enak dan mahal :D) adalah bahwa anak lelaki satu-satunya yang sudah duduk di kelas 2 SMP itu mulai bertanya soal urusan kumis. Ya, anaknya sudah mulai tumbuh kumis, dan disarankan ibunya jangan cukur, karena nanti tambah lebat. Aku menimpali, “Boleh cukur, tapi berarti sejak hari itu kamu harus setiap hari cukur. Kalau belum bisa komit untuk setiap hari cukur, ya berarti kumisnya akan tambah lebat dan semakin sulit lagi. Untuk sementara lebih baik tidak dicukur, kecuali tambah banyak dan mengganggu ya.”

Sambil berkata begitu, aku dalam hati, juga berkata pada diri sendiri bahwa aku juga harus siap jika tiba-tiba Riku (dan Kai) sudah berkumis. Sebentar lagi…. Tapi kelihatannya Riku sudah siap sih, pernah dia tanya, “Ma, aku sudah berkumis belum?”
“Belum lah…. kenapa? kamu mau berkumis?”
“Mau lah…. kan semua orang jadi besar dan berkumis…”
“Yaaaaah berarti kamu sudah tidak mau peluk dan cium mama lagi ya?”
“Mama ngomong apa sih….”
Memang benar, Riku sudah tidak mau lagi. Jangankan peluk, gandengan tangan saja tidak mau. Padahal aku juga sudah sering kecewa, kalau mencium Kai,  adiknya yang baru 7 tahun saja, dia langsung menghapus pipinya seakan-akan jijik…. huhuhu.
Mana bayikuuuuuuuuuu….. aku kan masih mau cium-cium anakku 😀 😀 😀

Waktu berada di Jakarta, tiba-tiba Riku datang padaku dan tanya,
“Ma, ini apa?” Sambil menunjukkan jerawat kecil di dagunya.
“Itu jerawat! Kecil sih… gpp!”
“Gimana cara hilanginnya?”
“Ya makanya mama kan bilang sehari makan telur maksimum 2 butir. Jangan makan yang berminyak”
“Kan aku juga atur makannya”
“Ya sudah, cuci muka saja yang bersih, setiap hari. Nanti hilang deh. Kalau mau pakai tuh biorenya mama. Tapi jangan banyak banyak…mahal!”
“Aku cuci sekarang ya?”
“Iya….” Akhirnya aku mengikuti dia ke kamar mandi.

“Eh ini ada biore untuk laki-laki… pakai ini saja. Mungkin punya om Chris atau kakak Dharma”
“Gini ya…..”
“Ya, nanti kalau mama ke supermarket, ingatkan untuk beli seperti ini ya”

Begitulah dia akhirnya aku belikan biore for men, sambil wanti-wanti jangan sering-sering nanti justru kulitnya kering.

Besoknya,
“Ma, udah kecilan ya jerawatnya”
“Iya… lanjutkan cuci mukanya. Musti rajin”
Besoknya dan besoknya,
“Horreeee sudah ngga ada jerawatnya”
“Iya, makanya musti cuci muka yang bersih setiap hari ya”

kiri biore beli di Jepang, kanan yang beli di Jakarta + Spray isi air untuk rambutnya 😀

Dan akhirnya aku membelikan dia biore foam sesampai di Jepang. Waktu di drugstore, dia datang bawa biore foam dalam botol itu.
“Ma, aku beli ini ya…”
Dan karena aku buru-buru tidak melihat harga lagi, tapi sempat mengomel dalam hati,”Huh aku sudah harus belikan kosmetik untuk anakku? huhuhuhuhu”… nangis deh ingat isi dompet yang berkurang 😀

Dan sekarang Riku (11 th) setiap pagi dan malam rajin mencuci mukanya.
Dan itu diikuti Kai (7th) juga ikut rajin mencuci mukanya dengan biore setiap malam sambil sikat gigi. Huhuhuhu…

Dan beberapa hari lalu, Riku minta pergi potong rambut dengan papanya, (padahal rambutnya masih pendek… tapi memang sudah agak tidak beraturan.) Dan pulangnya tiba-tiba kulihat ada botol spray berisi air di wastafel (seperti yang dipakai untuk spray tanaman gitu)
“Itu spray punya Riku ya?”
“Iya ma…. aku kan lihat di barbershop tukang potongnya pakai spray begitu untuk basahin dan siri rambutnya. Kupikir aku bisa bikin begitu setiap hari supaya rambutnya rapi”
“Iya…….”
(Sambil menahan tawa duuuuh anakku sudah mulai perhatikan penampilannya…
Umur berapa sih kamu? Kok mau cepat-cepat jadi gede aja?)
(dan aku teringat adegan aku dan papanya kaget saling berpandangan beberapa waktu yang lalu, ketika Riku bilang” Horree TUJUH TAHUN lagi aku bisa ambil SIM dan nyetir mobil….)
OMG anakku perlahan dan pasti menuju puber dan menjadi dewasa!

Be prepared mel! 7 tahun itu cepat, dan perkembangan anak itu lebih cepat lagi hehehe.

Biore adalah nama produk perusahaan Kao. KAO sendiri dulu namanya  Nihon Yuki Company (日本有機株式会社) didirikan oleh Tomiro Nagase pada tahun 1887  sebagai perusahaan manufaktur perlengkapan sabun mandi domestik. Tahun 1940,  nama perusahaan diubah menjadi Kao Soap Company(花王石鹸株式会社), dan 1985 menjadi Kao Corporation. Lucunya waktu aku mendengar nama perusahaan KAO itu langsung teringat kanji 顔 kao yang wajah, eh ternyata salah hehehe (padahal berhubungan ya).

(katanya pendek, tahunya 780-kata lebih hahaha)

Pertemuan Para Daeng

Akhirnya kami sampai pada tujuan  utama kunjungan Daeng Senga Pulang Kampung, yaitu berkunjung ke AS Center di Perumahan Dosen UNHAS. AS Center adalah sebuah yayasan dari keluarga Karaeng Toto, “Aminuddin Salle Center”. Tempat ini digunakan sebagai pusat kegiatan keluarga pak professor untuk membantu anak-anak sekitar mendapatkan pendidikan luar sekolah, dan menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. Senang sekali aku bisa mengikuti kegiatan mereka mesti cuma lewat foto-foto. Seandainya aku berada di sana, ingin juga ikut serta dalam berbagai kegiatan tersebut.

AS Center huruf lontara…. kapan ya aku bisa baca/tulis huruf itu? Bawah Yuko san, Riku dan Dzaky bermain kendang.

Begitu sampai di AS Center kami melihat-lihat ruangan yang sedang dipersiapkan menjadi ruang pameran. Ada banyak karya dari kayu bertuliskan pepatah bahasa Makassar. Bahkan tulisan TOILET pun bertuliskan huruf Lontara. Wah aku serasa buta huruf deh kalau lama-lama di sini 😀 Padahal kalau melihat sekilas, huruf-huruf itu sepertinya tidak sulit ya. Tapi untuk otakku yang mulai menua ini, kelihatannya aku perlu tenaga ekstra untuk mempelajarinya.

Selain melihat koleksi buku, foto dan ukiran kayu AS Center, aku juga melihat tumbuhan yang ditanam di sekeliling center. Kami beristirahat di ruangan terbuka yang merupakan kolam ikan di bagian bawahnya. Ya, seperti horigotatsu di Jepang, tapi dibawahnya kolam yang berkawat supaya kalau ada barang jatuh tidak kecemplung ke dalam kolam.

Tanaman di AS Center. Kanan bawah buah Nangka cempedak yang jatuh waktu kami datang.

Selain unik tempat berkumpul itu, di sekelilingnya terdapat tanaman markisa. Aku baru tahu pohon markisa ternyata tidak sebesar pohon mangga/nangka dan menjalar. Waktu itu pula kami bisa mencicipi nangka cempedak yang jatuh dari pohon waktu kami berada di situ. Dalle (Rejeki) nya daeng Senga? hehehe. Rasanya? Ya nangka tapi harum dan dagingnya lembut seperti durian. Untuk beberapa orang mungkin tidak suka karena harumnya yang cukup keras.

Foto atas di ruang terbuka di AS Center yang seperti horigotatsu dan di bagian bawahnya merupakan kolam ikan. Dalam menu makan siang kami ada ikan goreng juku sala mata, ikan yang letak matanya salah katanya hehe.

Kami pun pindah dari lokasi AS Center ke rumah kediaman untuk santap siang bersama. Kami bisa merasakan suasana kekeluargaan bersama anak-anak dan cucu Karaeng Toto. Anak lelaki tunggal Karaeng yang bernama Donni memanggilku Daeng Senga terus, dan ini mengingatkanku bahwa … namaku adalah Daeng Senga. Dan kebetulan semua anak yang masing-masing mempunyai nama Daeng sehingga boleh dikatakan hari itu merupakan pertemuan para Daeng! (Tapi daeng yang ini yang paling tidak tahu apa-apa hehehe) Salam hormatku Daeng Memang, Daeng Salle, Daeng Tamae’, Daeng Bau’ dan Daeng Niso’na, serta tentu kepala keluarga Karaeng Patoto.

Dzaki dan Riku. Kiri: foto tahun 2012 waktu berjumpa pertama kali. Kanan foto waktu berjumpa ke dua kali tahun 2014.

Yang lucu adalah cucu karaeng yang bernama Dzaky itu amat lengket dengan Riku. Memang sejak 1,5 tahun lalu waktu pertemuan pertama, dia sudah nempel terus sama Riku. Bahkan kalau diperhatikan mukanya memang mirip!

Terima kasih atas jamuan dan waktu yang disediakan Prof Aminuddin Salle Karaeng Toto untuk menemui kami. Semoga nanti akan ada kesempatan-kesempatan lain di masa datang untuk saling berjumpa lagi ya. Tentu saja kalau bisa berjumpa di Tokyo lebih baik lagi hehehe.

 

Kue Blinjo dan Kopdar

Beberapa hari yang lalu aku sempat mengupload sebuah foto makanan. Tepatnya sekotak kue Jepang yang dibuat begitu rapih, dan jika dibuka kuenya berbentuk seperti apel. Memang ada campuran apel, yang merupakan produk khas prefektur Nagano, yang dicampur dalam adonan kue yang disebut Manju. Kalau mungkin pernah makan kue bulan, ya seperti itu. Ada bagian kulit dan bagian dalam, seperti paste dari kacang hijau. Rasanya? Enak untuk yang suka kue Jepang. Kebetulan aku tidak begitu suka kue-kue Jepang. Makan, tapi tidak mencarinya. Padahal kue Jepang tidak manis (aku tidak begitu suka yang manis-manis). Menurutku kue Jepang itu pantasnya untuk dilihat (saja) hehehe. Mereka menyatukan estetika bentuk dan rasa dengan pandainya. Sahabatku, Sanchan pandai membuat kue-kue Jepang yang cantik-cantik karena memang belajar.

Kue manju berbentuk apel yang sangat detil

Tapi sebetulnya aku sendiri memang memilih sekali untuk makan kue. Aku makan kalau aku tahu pasti enak 😀 Atau aku tanya dulu adikku atau temanku yang pemilih, apakah kue itu enak atau tidak. Maklumlah, aku tidak mau menambah kadar gula yang tidak perlu di dalam tubuh yang sudah melar ini. Nah, kebetulan aku mendapat sebuah kotak kue dari Makassar, Kue Blinjo namanya. Karena kali ini aku tidak bisa membawa pulang banyak-banyak (koper hanya tiga saja — biasanya 6 koper), maka aku taruh makanan yang kuterima sebagai oleh-oleh di atas meja, untuk dimakan bersama keluargaku di Jakarta. Waktu itu papa, yang juga picky untuk makanan karena harus menjaga asupan kalori untuk jantungnya, membuka kotak kue Blinjo ini.

“Mel, aku buka ya….”
“Buka saja pa, aku dikasih teman di Makassar. Enak ngga?”
“Eh mel…. ini kue bentuknya tidak cantik tapi enak sekali!”
“Masa sih…..” Lalu aku ambil satu….dan….. memang enak!
“Sorry… aku bawa ke Jepang ya :D” dan masuklah satu kotak Kue Blinjo itu ke dalam koperku. Dan sekarang sudah habis, oleh aku sendiri 😀

Kue Blinjo dari Niar. Terima kasih banyak ya daeng.

Kue Blinjo yang enak itu adalah oleh-oleh dari sahabat bloggerku yang baru, Mugniar Marakarma yang memang tinggal di Makassar. Kebetulan aku sudah berteman dengannya di FB, dan tepat sebelum aku mudik ke Jakarta, sempat berbincang-bincang dengannya. Dan kebetulan sekali aku punya rencana untuk ke Makassar, sehingga ada kemungkinan untuk berjumpa dengannya.

Karena memang aku datang ke Makassar waktu liburan lebaran, aku tidak mau mengganggunya dengan kegiatan keluarganya. Tapi waktu aku sedang bermain di pantai Akkarena itulah Niar menghubungiku. Aku sendiri tidak ada acara lain, kecuali makan malam yang belum diketahui rencananya ke mana. Jadi kami janjian untuk bertemu di hotel sekitar pukul 8 malam.

Ternyata kami saking capek dan masih kenyang karena makan siang cukup lambat, tidak pergi keluar hotel lagi setelah itu. Sehingga aku bisa berbicara dengan Niar cukup lama di lobby hotel. Kami berbicara tentang keluarga dan blog kami, sementara suami Niar duduk di tempat lain. Baru waktu aku mengantar mereka berdua untuk pulang, suami Niar justru memberikan banyak masukan mengenai Fort Rotterdam. Ya aku memang bercerita perjalanan ke Fort Rotterdam sehari sebelumnya kepada mereka berdua, dan menyayangkan tidak adanya informasi yang mendetil tentang benteng itu sendiri. Suami Niar menyarankan aku mencari di google saja, karena cukup banyak informasi yang bisa ditemukan. Tapi ada satu info bahwa jika naik ke bagian atas benteng, akan bisa melihat bulatan ring tempat menambat kapal, sehingga dapat diketahui bahwa benteng itu berada persis di pinggir laut.

Aku dan Niar yang cantik sekali. Siapa yang percaya anaknya sudah tiga orang?

 

LOH… bagaimana caranya naik ke atas? Dari informasi inilah aku kemudian pergi lagi ke Fort Rotterdam esok harinya. Terima kasih banyak atas informasi yang justru diberikan persis sebelum pulang. Terima kasih juga karena Niar langsung mengirimkan juga link tulisannya mengenai benteng di sini. Juga terima kasih untuk tulisan kopdarnya di sini. Terima kasih juga untuk oleh-olehnya Kue Blinjo yang sangat enak itu. Aku baru pertama kali mengetahui kue blinjo ini. Meskipun katanya bukan asli Makassar (ada yang bilang dari Surabaya) tapi kue ini patut dipromosikan.

Demikianlah kopdar pertamaku di kota Anging Mamiri. Semoga akan ada lagi kopdar-kopdar berikutnya di lain kesempatan.

 

Danau Kassi Kebo dan Pantai Akkarena

Dalam kunjungan Daeng Senga ke Makassar kali ini, kami menyempatkan diri pergi (lagi) ke Bantimurung. Karena teman kami, Yuko san belum pernah ke sana. Bantimurung tempat yang menyenangkan sehingga berapa kali pun tidak akan bosan untuk pergi ke sana. Riku dan Kai juga ingat tempat ini, sehingga mereka sudah tahu arah jalan, dan mau cepat-cepat pergi ke air terjun besarnya.

Pintu masuk dengan deretan toko-toko cendera mata

Berlainan dengan waktu kami ke Bantimurung tahun 2012 lalu, kali ini banyak orang sejak di pintu masuknya. Karena masih dalam libur sesudah lebaran, sehingga banyak orang berekreasi ke sini. Toko-toko di sepanjang pintu masuk menawarkan oleh-oleh cendera mata, termasuk kumpulan kupu-kupu yang sudah dipigura.

Sayangnya dibanding kedatangan kami sebelumnya, kami jarang melihat kupu-kupu beterbangan. Mungkin mereka takut juga karena banyak orang ya 😀 Padahal saat itu masih pagi loh. Oh ya aku tidak suka di sini yaitu WC nya. WC untuk perempuannya tidak berjamban (hanya lantai saja), dan kami harus membayar 2000 rupiah. Hmmm….. tapi kalau terpaksa ya apa boleh buat ya.

tangga menuju ke sumber mata air dari air terjun, yang katanya dengan berjalan 800 m kami bisa melihat danau dan gua batu

Anak-anak langsung buka sepatu dan turun ke batu-batu air terjun untuk bermain air. Opa memotret dari pinggir dan tidak ikut turun. Karena cukup banyak orang di air. Sementara itu aku dan Yuko dengan dipandu seorang pemuda naik ke atas tangga di samping air terjun. Dulu aku ingin naik tapi tidak bisa karena harus memperhatikan anak-anak. Sekarang anak-anak sudah lebih besar dan bisa jaga diri, sehingga kesempatan untuk naik ke sumber air di atas. Kata pemandu kami jaraknya 800 m, pulang balik kira-kira 1 jam. Satu jamnya sih tidak apa-apa, tapi aku lupa bahwa aku membawa sepatu anak-anak. Aku memang tidak mau menitipkan pada opa, takut opa terpecah perhatiannya, lalu terpeleset atau apa.

Danau Kassi Kebo yang merupakan mata air dari air terjun Bantimurung ini

Nah selama perjalanan di atas air terjun itulah banyak kujumpai kupu-kupu. Selain itu airnya berwarna biru muda menciptakan sungai yang tenang. Untung udara tidak begitu panas, sehingga aku masih tahan berjalan terus mengikuti si pemuda pemandu, sambil sesekali berhenti memotret kupu-kupu. Jalanan yang kami lewati dibeton dan bagus mengarah ke Gua batu dan Danau Kassi Kebo. Dan benarlah setelah berjalan cukup lama, kami sampai di danau putih, tempat mata air Bantimurung ini. Kebo itu artinya putih, sedangkan kassi itu pasir. Danau pasir putih…. sungguh indah, apalagi saat itu tidak ada orang lain selain kami bertiga.

Aku dan Yuko san di depan danau Kassi Kebo

Kami diajak si pemuda untuk masuk Gua, tapi aku kepikiran opa dan anak-anak yang menunggu di bawah. Selain itu aku memang takut pada kegelapan kan? Jadi tidak berani coba masuk ke gua itu. Setelah sampai di air terjun dan memakaikan anak-anak sepatu, kami berjalan ke arah pulang. TAPI ada sesuatu yang membuat kami kaget. Kebetulan saat itu aku sedang duduk di depan stand kopiko, tiba-tiba ada ramai-ramai. Rupanya ada Iguana yang cukup besar melintas… Lucunya dia sempat berhenti seakan-akan berpose memberikan kesempatan pada kami untuk memotretnya.

Iguana berpose

Kami pun pulang ke hotel setelah makan siang di restoran Ratu Gurih, berdasarkan rekomendasi temanku. Hmm aku pribadi lebih suka restoran New Dinnar karena lebih bersih dan dingin AC nya hehe. Tapi ada satu cara inovatif yang kuperhatikan dari restoran Ratu Gurih yaitu mereka memakai taplak meja dari plastik yang bertumpuk. Jadi kalau sudah selesai, mereka tinggal ambil satu lapis pertama dan ambil semua kotoran di atas meja sekaligus dengan plastiknya. Praktis dan tidak makan waktu.

Pantai Akkarena

Setelah mengantar opa ke hotel untuk istirahat, kami pergi ke pantai Akkarena. Sebetulnya ingin mencari pantai pasir putih, tapi semua pantai yang disebut-sebut di internet cukup jauh dari kota. Takutnya kami kemalaman di jalan, sehingga akhirnya kami pergi ke pantai yang terdekat.

Pantai Akkarena Bawah: pisang epek dan jagung bakar

Masih terang benderang dan aku membiarkan anak-anak bermain pasir dan air laut. Sementara aku berteduh dan memesan pisang epek dan jagung bakar serta minuman. Sementara itu di beberapa tempat beberapa kelompok orang mulai berdatangan dan membentang tikar/selimut untuk berpiknik. Sayang sekali, mereka tidak menjaga kebersihan atas sampah yang dibawanya. Aku sempat memperhatikan beberapa angsa yang mengambil sampah-sampah dari tempat mereka dibiarkan saja sehingga sampahnya berserakan ke mana-mana. Bagaimana kalau angsa itu menelan plastik? ah… kesadaran memelihara kebersihan orang Indonesia memang masih sangat kurang.

plastik bekas minuman akhirnya berserakan begitu saja 🙁

Eh tapi dari pantai Akkarena ini ada satu yang patut dipuji. WC nya bersih dan TIDAK PERLU BAYAR, kecuali kalau mandi hehehe. Waktu aku mau membayar, ibu berjilbab yang menjaga di depannya mengatakan tidak perlu. Terasa sekali bedanya antara WC di Bantimurung seharga 2000 rupiah dengan WC di Akkarena yang gratis hehehe.

Karena sudah capek, kami meninggalkan pantai Akkarena sebelum matahari tenggelam sehingga tidak bisa menikmati keindahan sunset di sini, dan kembali ke hotel.