Arsip Bulanan: Agustus 2014

Daeng Senga Pulang Kampung

Siapa itu Daeng Senga? Baca di sini ya 😉 Nah dia pada liburan musim panas kemarin, tepatnya sejak tanggal 26 Juli pulang “kota” ke Jakarta. Setelah merayakan ulang tahun papanya tgl 29 Juli, pada tanggal 31 Agustus, pulang ke kampung halamannya di Makassar! Tentu saja berempat lagi! (Eh tambah satu teman orang Jepang deh 😀 jadi berlima)

Kepergian ke Makassar ini memang sudah direncanakan sejak jauh hari, dengan tujuan utama Fort Rotterdam dan silaturahmi lebaran ke rumah Prof Aminuddin Salle Daeng Toto. Kenapa Fort Rotterdam? Karena waktu kami ke Makassar 1,5 tahun yang lalu, kami tidak sempat pergi ke Fort Rotterdam. Dan nama Fort Rotterdam muncul waktu Riku ingin menulis tentang perbandingan Kastil di Jepang dan di Indonesia. Kastil bukan istana, lebih menyerupai benteng. Oleh karena itu aku mencari nama-nama benteng di Indonesia, dan menemukan informasi bahwa benteng Rotterdam itu yang paling besar, paling tua dan masih terpelihara sampai sekarang. Tentu saja ini merupakan daya tarik yang amat besar bagiku untuk bisa kembali ke Makassar lagi, setelah menerima nama Daeng Senga. Dan waktu kuajak temanku Yuko, dia juga mau ikut bersama.

Perjalanan mudik ke Makassar setelah menjadi Daeng Senga

Kami sampai di bandara Hasanuddin masih pagi. Karena kali ini tidak ada mobil/jemputan, kami naik taxi dari bandara. Ntah karena kami berlima + koper, taxi yang kami tumpangi kempes bannya pas melewati polisi tidur (mungkin juga bodynya terlalu pendek ya?). Kami menuju Hotel Celebes, sebuah hotel tua, hotel melati yang aku pesan lewat agoda untuk 3 malam. Papa yang suka menginap di sini karena letaknya yang dekat dengan gereja Katolik, sehingga papa bisa jalan kaki untuk mengikuti misa setiap hari.

Sesampai di hotel, kami cek in, menaruh koper dan barang-barang lalu jalan kaki ke warung-warung terdekat untuk makan pagi. Sebetulnya mau dibilang warug juga tidak, karena mereka menempati kiosk-kiosk permanen. Dan lucunya menunya hanya satu, eh dua, ikan bandeng bakar dan sop saudara.  (Nama Sop Saudara ini juga aneh, ntah apa yang membuat sop ini dinamakan Sop Saudara. Kata papa: “Kalau sop sayur, sayurnya dipotong-potong lalu direbus. Kalau sop buntut, buntutnya dipotong lalu direbus. Nah kalau sop saudara, masa saudaranya dipotong lalu direbus? hehehe)

makan pagi dan naik becak menuju Fort Rotterdam

Jadilah kami berlima makan nasi dengan ikan bandeng bakar, dan tentu pakai tangan. Yuko san juga terlihat tidak aneh makan nasi dengan tangan, meskipun awalnya canggung, akhirnya terbiasa juga. Kai juga suka sekali makan nasi dengan ikan ini.

Setelah selesai makan, kami bergerak lagi menuju Fort Rotterdam. Tapi, katanya cukup jauh untuk berjalan ke sana (mungkin kalau orang Jepang sih biasa, tapi tidak untuk orang Indonesia). Jadi papa memanggil becak dan bertanya dalam bahasa Makassar. Berapa ongkos sampai benteng? Lalu si tukang becak berkata, “Seberapa saja ji…” Akhirnya sepakat 10 ribu, tapi tidak bisa dong kami berlima dengan satu becak. Jadi kami naik 3 becak, aku dengan Yuko, Riku dengan Kai dan Papa sendiri. Ternyata dekat juga sih 😀 Tapi anak-anak senang sekali bisa naik becak. Kami saling memotret di depan benteng. Benar-benar wisatawan deh  (ya emang iya sih) 😀

Fort Rotterdam, Makassar

Kami menulis nama di penerima tamu, dan waktu ditanya musti bayar berapa, dijawab seberapa saja. Wah rupanya tidak ada harga tanda masuk yang tetap. TAPI kalau masuk ke museum Galigo nya memang harus bayar 5000 rupiah. Karena di luar panas, kami berfoto sebentar, lalu masuk ke museumnya. Sayang sekali tidak ada guide bahasa Jepang saat itu. Kupikir aku mau pakai guide bahasa Jepang, supaya Riku bisa mendengar langsung dari guidenya. Tapi karena tidak ada, terpaksa deh aku yang menerjemahkan secara random.

Dalam Museum La Galigo

Sayangnya keterangan-keterangan yang ada itu mengenai sejarah kota Makassar, bukan tentang bentengnya sendiri. Waktu aku mau membeli buku atau pamflet tentang bentengnyapun tidak ada. Kami akhirnya pulang ke hotel –tentu saja dengan naik becak– membawa kekecewaan karena minimnya dokumentasi sejarah benteng Fort Rotterdam itu.

Sunset di pantai Losari

Hari pertama di kampung halaman Makassar pun kami akhiri dengan melihat sunset di pantai Losari dan makan ikan (lagi) di sebuah restoran terkenal, bersama adik papa Tante Anneke, yang memang tinggl di Makassar. Dan yang membuatku heran adalah betapa murah harga masakan yang kami pesan. kalau di jakarta pasti aku harus membayar dua kali lipat. Kuliner Makassar memang ikan! Dan aku suka ikan!

ikan Kulu Kulu yang kotak itu sangat cocok untuk digoreng! Favoritnya Riku dan Kai.

 

Kenalkan Namaku : Daeng Senga

Akhir tahun 2012, aku mengajak papa untuk pulang kampung ke Makassar. Sebetulnya ingin menghibur dirinya yang kehilangan mama pada bulan Februari, sekaligus memintanya menjadi “guide” bagi anak-anakku yang belum pernah ke Makassar. Padahal saat itu kondisi badannya tidak bisa dikatakan fit benar, karena sedang diobservasi jantungnya yang hanya berfungsi 20%. Jadi waktu itu aku mempunyai tanggung jawab memperhatikan 3 orang, papa (opa), Riku dan Kai.

Dalam perjalanan itu selain berwisata ke Bantimurung, aku pun mengatur pertemuan dengan Prof. Aminuddin Salle, teman papa yang kukenal lewat FB. Kusisihkan satu hari untuk bertemu dengan pak Prof. sekeluarga.

Tanggal 29 Desember 2012, Kami dijemput pak Prof beserta ibu di lobby hotel persis setelah kami makan pagi, pukul 7 pagi. Tadinya aku mengajak bapak dan ibu untuk sarapan bersama, tapi katanya sudah di rumah. Setelah berbincang-bincang di lobby, kami berangkat bersama. Tujuannya? Tentu berwisata ke desa Galesong, daerah asal Pak Aminuddin. Meskipun ada juga kemungkinan nenek moyang Coutrier berasal dari Galesong juga (sesuai percakapanku dengan Ria , putri Galesong yang konon eyangnya mengenal seseorang putri yang menikah dengan orang Belanda). Sepanjang perjalanan aku melihat sawah membentang dan… pohon-pohon Lontar. Tentu semua tahu kan bahwa Makassar mempunyai huruf yang diberi nama huruf lontar, dan sebagai media kertasnya dipakai daun lontar. Lontar juga menjadi bahan baku untuk pembuatan topi adat songkok guru.

pohon lontar di sepanjang jalan. Sempat melihat perahu-perahu nelayan juga di sungai

Perjalanan yang lumayan jauh berakhir ketika kami sampai di Balla’ Lompoa (istana) Karaeng Galesong. Rumah adat yang tertata bersih dan rapih masih megah berdiri menjadi pusat kegiatan kerabat Galesong. Balla’ Lompoa ini merupakan tempat tinggal keturunan Karaeng Galesong yang terkenal dalam sejarah itu. 

Karaeng Galesong putra Sultan Hasanuddin dari istri keempatnya bernama I Hatijah I Lo’mo Tobo yang berasal dari kampung Bonto Majannang. Karaeng Galesong bernama lengkap I Mannindori Kare Tojeng Karaeng Galesong yang lahir pada 29 Maret 1655. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, ia diangkat sebagai Karaeng Galesong (Galesong, termasuk bawahan kerajaan Gowa) dan kemudian menjadi panglima perang kerajaan Gowa. Pada waktu kerajaan Gowa dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1669, Karaeng Galesong bersama beberapa kerabat kerajaan melarikan diri ke Jawa karena tidak ingin berada di bawah jajahan Belanda. 

Balla’ Lompoa Karaeng Galesong

Aku cukup heran ketika menaiki tangga Balla’ Lompoa, dan melihat piring-piring berjajar di ruang utama. Kamipun di antar melihat-lihat sekeliling sambil mendengarkan penjelasan dari Prof Aminuddin. Yang membuat aku terkejut waktu Pak Aminuddin menanyakan apakah aku keberatan jika diberi nama daeng? Wah, apakah aku bisa dan memenuhi syarat? Apakah aku yang tidak beragama Islam boleh? Tentunya kalau Pak Prof sudah menanyakan pasti beliau sudah berpikir masak-masak bahwa aku memang pantas menyandang nama Daeng. Dan aku dipilihkan nama SENGA yang berarti berani.

Pemberian nama Daeng Senga ini tentu tidak lepas dari pengaruh nama Daeng Labbang, yaitu papaku sendiri. Papa memang keturunan Makassar, masih bisa berbahasa Makassar dan tugasnya membuat sering mengajar di Universitas Hasanuddin, dan bertemu dengan Prof. Aminuddin. Waktu aku memberitahu papa, bahwa aku berteman dengan Pak Aminuddin di FB, papaku langsung berkata, “Ya, beliau teman papa! Mama beberapa bulan sebelum meninggal sempat datang ke Makassar dan bertemu Pak Aminuddin juga”.

upacara pemberian nama daeng oleh Karaeng Tanang

Selanjutnya aku mengikuti acara padaengan yang dipimpin oleh Karaeng Tanang, disaksikan oleh Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto sebagai Ketua Dewan Adat Karaeng Galesong , Pemangku Adat Karaeng Gassing dan Kerabat lainnya. Upacara singkat dilakukan di bawah tangga ruang dalam Balla’ Lompoa, tangga yang menuju ke atas loteng tempat “pusaka” pemersatu Galesong berada. Aku merasakan kekhidmatan dalam upacara, dan merasa terharu bahwa aku sekarang menjadi bagian dari kerabat Galesong. Lebih terharu lagi ketika aku boleh naik ke tangga yang curam, menuju bagian atas Balla’ Lompoa dan melihat pusaka yang bisa digambarkan sebagai omikoshi (kuil) kecil di Jepang. Konon dalam acara-acara tertentu pusaka ini akan dikeluarkan. Aku ingin suatu waktu kelak mengikuti upacara di Galesong lagi. 

Yang aku ingat hanya kue biji nangka kiri atas, dan barongko (pisang) kiri tengah

Selesai acara pemberian nama, kami kemudian duduk kembali di ruang utama di depan piring-piring bertudung emas, yang rupanya berisi kue-kue khas Makassar dan lauk pauk untuk makan siang. Ikan merah asap merupakan makanan khas Galesong yang sangat enak, apalagi jika dicocol dengan sambal mangga muda. Riku pun makan banyak dengan ikan merah ini. Sementara Kai masih berada di halaman bermain dengan ayam-ayam yang berkeliaran.

ikan merah, sayur santan, acar sebagai makanan utama

Setelah makan, papa sempat bercerita bahwa dia teringat ada satu tantenya yang dulu dia kenal bernama Daeng Senga. Meskipun aku tidak mempunyai hubungan darah langsung dengan tante itu, semoga aku bisa membawa nama “berani” ini dengan lebih berani. Juga bisa membantu menyebarkan kebudayaan dan daya tarik Galesong setelah aku mempelajarinya juga. Maklum aku benar-benar nol pengetahuannya tentang Galesong, bahasa dan adat istiadat Makassar. Memang setelah pemberian nama ini, Prof Aminuddin selalu memanggilku Daeng Senga (di FB). Awal-awal aku merasa aneh memang karena belum terbiasa, tapi sekarang aku sudah memanggil Pak Prof dengan Karaeng Toto.

Kami akhirnya meninggalkan Balla’ Lompoa dan mampir di rumah pengrajin Songkok Guru, dan sempat melihat proses pembuatan Songkok Guru dari dekat. Riku terlihat ganteng memakai topi khas Makassar itu.

songko guru yang terbuat dari serat lontar

Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami juga sempat mampir di warung untuk istirahat minum dan makan jagung. Jagungnya kecil buntek berbiji bulat berwarna putih, tapi enak! Lain dengan jagung biasa yang kuning yang lebih banyak kandungan airnya, jagung putih ini benar-benar dapat dipakai untuk menahan lapar dalam perjalanan.

jagung putih yang nikmat sebagai pengganjal perut

Kenalkan namaku : Imelda Coutrier Daeng Senga!
Sekarang aku harus membiasakan diri menerima panggilan sebagai Daeng Senga, dan membiasakan juga memanggil teman-teman dari Makassar yang sudah mempunyai nama daeng sejak lahir, seperti Jumria Daeng Tugi.
Oh ya PR ku juga, untuk mempelajari tulisan lontar! **panik** hehehe

atas: berfoto bersama rombongan pembawa surat undangan pernikahan. bawah: di depan tangga Balla’ Lompoa Karaeng Galesong

 

(tulisan yang tertunda sejak 29 Desember 2012)

 

Setelah Pulang, langsung …..

Cuci tangan? Mandi? atau minum/makan?

Kalau di Jepang, terutama pada musim dingin dengan udara kering yang menyebabkan mudah masuk angin atau terkena influenza, kami pasti harus mencuci tangan dan kumur-kumur. Konon dengan kumur-kumur, bibit penyakit yang ada dalam mulut bisa dibersihkan dan mengurangi resiko masuk angin.

Kami kembali dari Jakarta hari Senin yang lalu. Begitu turun dari pesawat, aku sudah berkata, “Acchii… (atsui = panas)”. Setelah kami menyelesaikan imigrasi dan mengambil barang (kali ini barangku sedikit euy, karena memang satu penumpang cuma boleh satu koper seberat 23 kg. Kalau dulu boleh dua koper. Karenanya aku tidak banyak belanja oleh-oleh), kami langsung keluar dan bertemu dengan papa Gen yang menjemput. Aku juga sempat berfoto bersama teman lama yang kebetulan naik pesawat yang sama. Setelah itu aku menuju tempat pengiriman barang, untuk mengirim dua koper kami. Mobil kami kecil sehingga hanya muat masuk satu koper besar saja. Karena aku memilih perusahaan ekspedisi yang bekerjasama dengan ANA, maskapai yang kami pakai, kami pun mendapat “bonus” 50 mile.

Karena kami mendarat di Haneda, bukan seperti di Narita seperti tahun-tahun sebelumnya, kami bisa sampai di rumah dalam waktu 1 jam. Narita itu memang jauh rek. Begitu sampai di rumah, aku langsung memasak nasi dan membuat indomie untuk mengganjal perut yang kelaparan. Kai? Dia langsung memasang TV dan menonton rekaman acara TV pilihannya selama 3 minggu. Sedangkan Riku? Dia langsung membaca buku komik dan novel yang terbit seminggu sekali itu. Bayangkan sejak kemarin dia sudah membaca sebanyak ini! Semua!

Buku Riku yang langsung dilahap sejak kemarin (dua hari ini)

Memang Riku sejak menaiki pesawat ANA berkata padaku, “Ah senangnya bisa mendengar bahasa Jepang lagi” Aku teringat tulisanku yang dulu, Sembelit.
Lalu kutanya, “Kamu tidak suka ke Indonesia?”
“Suka tapi tidak mau lama-lama. Aku mau ke Jakarta lagi libur musim dingin nanti ya ma… Aku sendiri, atau bersama tante Titin juga boleh…”
“Waduh enaknya. Kamu nabung saja sendiri. Mama juga mau pergi, tapi pasti tidak ada uang lebih. Gini aja, nanti kamu jemput Opa bukan Maret dan kembali ke Tokyo dengan opa, tapi jangan lupa belikan pesanan (makanan dan sebagainya) mama ya”
“OK aku mau….”
“Semoga saja bisa ya”

Demikianlah, kami sudah kembali ke kandang kelinci kami setelah melewatkan 3 minggu yang amat sibuk di Jakarta, termasuk Makassar, Surabaya, Klaten dan Jogjakarta. Liburan musim panas kali ini memang lebih pendek dari biasanya. Mohon maaf kalau masih ada teman yang terlewatkan dan tidak tersapa, tidak berjumpa. Terima kasih untuk teman-teman yang banyak membantu kami, menyediakan waktu untuk bertemu dengan kami, dan juga yang mengirimkan oleh-oleh kepada kami. Semoga Tuhan mau membalas budi baik  teman-teman semuanya. Dan sampai berjumpa kembali pada liburan mendatang…..

Sejarah itu menyakitkan, tapi …..

tetap harus diketahui, untuk kemudian dihindari agar tidak terulang kembali. Tugas kita sebagai orang tua untuk memberitahukan sejarah itu kepada anak-anak kita.

Tgl 14 Agustus 2014. Kami berkunjung ke benteng Vredeburg. Karena waktu yang singkat, aku hanya mau memotret bagian luar, tapi akhirnya masuk juga. HTM (Harga Tanda Masuk) hanya Rp 2000,- berlainan dengan benteng Fort Rotterdam di Makassar yang “serelanya”. Ternyata ada dua sisi bangunan yang berisikan diorama-diorama. Ah diorama! Pasti membosankan untuk anak-anakku, apalagi Riku yang sebenarnya malas untuk turun dari mobil. Tapi…. kepalang tanggung, jadi kuajak anak-anak masuk.

di depan benteng Vredeburg

Aku pun mengitari diorama di ruangan pertama dengan cepat, sesudah berusaha memotret beberapa diorama awal. Ya cerita tentang agresi militer I dan II. Cepat-cepat aku beranjak ke ruangan sebelahnya. Tiba-tiba Kai (7th) bertanya, “Ini apa ma… kok seperti perang?”
“Ya nak, itu memang perang”
“Perang siapa lawan siapa?”
“Perang antara orang Indonesia dan tentara Sekutu (Belanda)”
“Yang mana yang orang Belanda?”
“Itu yang pakai baju tentara dengan senapan dan mobil tank. Sedangkan yang pakai baju petani, baju biasa itu orang Indonesia. ”

diorama

“Kalau itu apa? Jembatan kok dihancurkan?”
“Ya jembatannya dirusak supaya Belanda tidak bisa masuk ke daerah itu. Kalau tidak ada jembatan kan, Belanda tidak bisa nyebrang”
“Wah pintar ya….”

“Itu siapa? ”
“Itu Presiden Soekarno yang baru turun dari pesawat terbang.”
“Yang mana presiden? Yang pakai kacamata?”
“Bukan, itu Hatta wakil presiden….”

“Itu siapa?”
“Itu Jendral Soedirman. Dia panglima perang yang pintar. Dia pahlawan Indonesia”
“Oh orang hebat ya?”
“Iya sayang…”

“Kai… ini lambang Universitas Gajah Mada, universitas tertua di Indonesia”
“Wah sugoi (Hebat)”….

dan kami melewati replika serdadu Belanda setinggi manusia sedang memegang senapan. Dan Kai ketakutan…. Ya, perang itu menakutkan memang.

Setelah melihat diorama dan mengetahui Riku demam

Terus terang aku awalnya malas menjawab semua pertanyaan Kai. Tapi kupikir, aku harus jawab. Mumpung dia ada minat untuk bertanya. Dan sekali lagi aku merasa harus mengulang pelajaran sejarah, terutama tahun-tahun supaya bisa menjawabnya lebih detil lagi.

Tapi perjalanan melihat diorama itu harus dipercepat karena Riku menjadi demam dan lemas. Kusuruh dia kembali ke mobil, tapi dia enggan pergi sendiri. Ini tanda bahwa aku harus meninggalkan tempat ini, dan kami bergegas berfoto-foto dan masuk mobil. Aku sempat jalan kaki menuju Titik Nol dan berfoto di sana sementara anak-anak menunggu di mobil.

Penjelasan mengenai perang dan agama (yang ditanyakan Riku sebelumnya, “Apa itu Islam, Buddha dan Hindu”) aku lanjutkan dalam pesawat menuju Jakarta. Tapi aku sempat kagum pada perhatian Kai, waktu dia bertanya,
“Mama nanti malam akan bertemu teman-teman kan? Di restoran mana?”
“Restoran dalam universitas Gajah Mada”
“Oh universitas tertua di Indonesia itu ya?”
dan aku tersedak… terharu dan kaget bahwa dia masih ingat apa yang tadi kukatakan.
Mungkin ingatan itu akan hilang dan terlupakan. Tapi semoga informasi yang pernah masuk, akan bisa mencuat suatu waktu nanti, dan bisa menimbulkan keingintahuan yang lebih dalam lagi.

benteng Vredeburg

SEJARAH memang banyak yang kelam, tapi JANGAN ditutupi, demi pembelajaran generasi yang yang datang. Generasi yang bisa menghargai sejarahnya. Pembelajaran yang cukup berat untuk Riku dan Kai, karena mereka harus tahu sejarah dua negara, Jepang dan Indonesia. Gambatte nak!

DIRGAHAYU INDONESIA KE 69!

(Foto-foto : koleksi pribadi dan dari kamera Septarius a.k.a ATA chan)