Arsip Bulanan: Juli 2014

Let It Go!

Tahu dong lagu ini ya? Yang pasti aku sudah muak dengan lagu ini karena memang sering diputar dan itu cukup lama diputar di media Jepang. Bukan itu saja, kalau pergi-pergian pasti bisa dengar deh anak-anak kecil nyanyi, “Ari no mama de~~~~” (Terjemahannya Let it go gitu deh)

Postingan ini memang aku tulis setelah aku tiba di Jakarta, dengan judul yang aku sudah tetapkan bahkan waktu aku masih melayang-layang di atas angkasa. Karena persiapan mudik bertepatan dengan akhir semester membuat aku pontang-panting menyelesaikan tugas-tugas sehingga tidak bisa menulis. Apalagi Tokyo sering aneh cuacanya, kadang hujan, kadang badai, kadang panas terik, sehingga cucian juga mengitu irama cuaca di luar. Sambil packing barang-barang yang mau dibawa dalam koper, aku memeriksa ujian mahasiswa. Sambil masak dan beberes. Hari Jumat akhirnya aku bisa menyerahkan daftar nilai ujian kepada biro akademik, dan menyelesaikan satu pekerjaan di studio.

Ada anak ngumpet di balik koper at Haneda Airport

Untung juga aku sempat mendaftarkan dua koper untuk diambil hari Kamis di rumah mengikuti program Hands Free Travel (Tebura) dari ANA yang mengambil koper dari rumah, dan mereka akan memasukkan bagasi cek in, sehingga kami tinggal mengambil dari conveyer di bandara tujuan. Sayang sekali kali ini aku tidak bisa bawa banyak barang, karena jatah koper per penumpang sudah ganti. Kalau dulu setiap penumpang (kelas ekonomi) bisa bawa dua koper max 23 kg, sekarang hanya bisa 1 koper max 23kg. Duh terasa benar pengaruhnya untukku, apalagi nanti kalau pulang dari Jakarta ke Tokyonya. Mana cukup 3 koper barang/oleh-oleh Indonesia untuk stock 1 tahun huhuhu. Dan untung sekali kopernya diambil hari Kamis pukul 4 sore, karena malam harinya hujan deras bercampur petir, halilintar, guruh dan guntur (ayoooo bisa bedakan ngga?) bersahutan di langit. Amat mengerikan. Dan aku sempat melihat petir jatuh sekitar 300 m dari apartmenku. Mati listrik semenit, sempat nyala kembali, tapi akhirnya mati listrik lebih dari 1 jam.

Jadi, aku masih punya jatah 1 koper yang akan kami bawa ke bandara sendiri. Karena bajuku, Riku dan Kai HARUS bisa masuk ke dalam 1 koper, aku harus atur benar-benar supaya tidak overweight. Selain membereskan koper, aku juga harus membereskan rumah karena akan aku tinggal 3 minggu, sehingga Gen tidak perlu membuang sampah atau menyalakan kompor lagi. Mengeluarkan pot listrik untuk air panas (lebih aman meskipun biaya listriknya lebih mahal daripada gas), juga meninggalkan uang tunai untuk membayar tagihan koran dan susu yang biasanya ditagih akhir bulan. Kerjaan emak-emak itu sangat banyak dan tidak ada kata selesai deh. Itu juga yang membuat aku tidak tidur semalaman, karena harus bangun jam 4, dan berangkat ke Haneda jam 5 pagi. Tapi untung saja ke Haneda bukan ke Narita, sehingga lebih cepat waktu tempuhnya.

Kami baru pertama kali memakai bandara Internasional Haneda. Agak bingung dengan pintu masuknya, tapi untung saja kami tidka perlu berputar-putar berkali-kali. Setelah parkir, kami menggeret koper masing-masing dan pergi ke counter cek in. Karena aku sudah punya boarding pass online, kami tinggal menaruh satu koper lagi di counter dan… cari sarapan. Bagus juga sih konsep interior di lantai atas untuk keberangkatan, bertemakan perkampungan Jepang dengan restoran dan toko khasnya. Bingung juga akan makan apa, karena restoran ramen sudah banyak antriannya, dan rasanya makan ramen untuk sarapan terlalu berat. Untung saja kami menemukan sebuah restoran Italia, yang kosong, dan menyediakan sarapan roti khas (seperti pizza) aku lupa namanya apa. Kami memesan untuk 4 orang dan rasanya enak! Tidak menyesal kami masuk ke restoran ini (tapi menyesal waktu melihat tagihan karena … muahal hahaha). Seperti biasa sih, kalau mama Imelda masuk toko yang sepi, pasti tak lama lagi tokonya jadi rame 😀 (kadang sebel juga loh punya “daya tarik” begini hihihi)

Karena sudah diwanti-wanti ground-staff bahwa boarding gate kami itu jauh, kami akhirnya berpisah dengan Gen pukul 9 pagi dan menyelesaikan imigrasi. Dan memang benar kami musti jalan jauh sekali, karena gate kami terletak paling ujung. Sambil menunggu aku menahan kantuk yang amat sangat. Dan dengan santai kami masuk pesawat paling belakang, karena sudah banyak orang yang berebutan untuk antri boarding. Banyak sekali keluarga dengan anak-anak mereka yang pasti akan melewati libur musim panasnya di Jakarta (atau kota lain). Biasanya mereka berebut ngantri masuk karena barang bawaannya banyak sehingga bisa “menjajah” kompartmen orang lain. Dan benar saja, waktu kami sampai di tempat duduk kami, bagian kompartmen atas tempat duduk sudah diisi koper milik orang lain, padahal jeleas-jelas itu bagian dari tiga nomor. Sabar…sabar… memang banyak orang Indonesia yang begitu 😀

Hampir semua WC yang kumasuki di Haneda memakai pintu lipat. Konsep yang bagus karena berarti cukup lebar untuk bisa masuk bersama koper bawaan. Ruginya jumlah bilik lebih sedikit. Tapi semua otomatis sih. Dalam pesawat ANA 787B yang baru pun semua alat dalam WC memakai sensor, sehingga kita tidak perlu memegang tuas flash/keran bekas orang lain pegang. Jadi semakin higienis

TAPI kesabaranku habis setelah pesawat lepas landas. You know lah, anak-anak di seluruh dunia itu pasti cerewet, ribut, pecicilan…TAPI seharusnya orang tuanya memperingatkan anak-anaknya agar tidak mengganggu orang lain. AKU selalu menegur anak-anakku kalau tindakan mereka, misalnya bersuara keras atau menendang kursi depan dll supaya mereka tidak melakukannya lagi. TAPI orang tua yang duduk di depanku sepertinya cuek saja dengan tingkah anaknya. Dua anak perempuan yang berteriak, bernyanyi keras-keras –tentu lagu LET IT GO–, atau menengok ke belakang (ke kami) dan memantau kami terus. Pernah saking tidak sukanya, aku membisiki Riku yang duduk di sebelahku, “Gimana kalau mama pasang tampang galak ya? Kaget kali ya? Kalau dia nangis mama pasang muka bengong aja” Dan Riku tertawa tergelak-gelak. Huh menyebalkan!

TAPI tingkah ke dua anak perempuan ini masih jauh lebih mendingan daripada tingkah anak lelaki yang duduk di sebelah kananku yang dibatasi lorong. Tadinya anak ini duduk di tengah antara bapak dan ibunya, dan entah kapan dia pindah. Aduuuuuh, anak ini kami namakan GAMER (Boy). Waktu antri boarding aku sudah melihat dia antri sambil main game dan ketinggalan jauh. Aku melihat rupanya ibunya berdiri di barisanku dua orang di depanku. Dan waktu si ibu mau masuk, dia menyerahkan dua lembar boarding pass, untuk dia dan anaknya, tapi anaknya tidak ada! Hahaha antara ingin ketawa dan ingin ikut memarahi si anak 😀 Makanya kalau punya anak  diperhatikan toh buuuu. Aku merasa bersyukur bahwa anakku (belum) tidak sampai segitunya bermain. Ohhhh seandainya menunjukkan gejala begitu? aku akan ambil itu DS, atau PS atau whatever it is, dan BANTING di depan si anak 😀 supaya dia tidak bisa pakai lagi. Jahat? Memang, tapi aku lebih baik menjadi ibu yang jahat daripada aku punya anak yang jahat 🙂 Aku sudah berusaha balancing memberikan mainan dan seharusnya anak-anak pun balancing antara bermain dan memperhatikan sekelilingnya, terutama menuruti perintah orang tuanya. Aku paling benci melihat orang tua yang mau saja diperintah anaknya 😀

Yang paling menjengkelkanku, anak GAMER itu bermain game terus sepanjang 7 jam perjalanan dan dia MENGUCAPKAN SEMUA TINDAKANNYA WAKTU BERMAIN. Kalau pistol ya dia bilang dor dor dor, mampus lu, eh ini gimana mainnya (sambil tanya ke papanya yang tentu saja tidak tahu), kiri kiri, kanan kanan….seperti reporter sepak bola dan suaranya keras! duuuuh kalau ada pistol kemarin itu mungkin aku sudah tembak deh. Dan herannya papa mamanya cuek beibeh, benar-benar membiarkan si anak bermain dan ribut begitu. Beberapa kali aku lihat ke anak itu dengan memancarkan mata marah supaya bapaknya menegur, eeeh si bapak tidak ngerti. Mau tegur langsung juga tidak enak, karena biasanya orang Jepang jarang sekali menegur langsung (sedangkan aku sudah seperti orang Jepang kan ~~~ uhuk uhuk). Benar-benar khawatir pada perkembangan anak-anak generasi sekarang jika orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan baik deh. Dan sedih dengan berkurangnya toleransi orang tua terhadap kenyamanan umum.

Dan sayup-sayup di bangku depanku, anak perempuan itu bernyanyi…”Let it go let it go~~~” Dan suara anak itu terasa jauh lebih menyejukkan hati. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku memasang headset (aku tidak suka pakai headset soalnya) dan pasang lagunya Billy Joel yang melantunkan “Honesty~~~” dan ikut bergumam… sayangnya aku tidak bisa nyanyi keras-keras untuk menandingi anak-anak itu. Biarlah aku dianggap kalah dengan anak-anak, asal aku masih santun 😀

Let it go~~~~~

 

Dia Hebat

Tak banyak orang yang bisa mengatakan “Dia Hebat!”, tanpa ada embel-embel misalnya “tapi…..” atau “sayangnya….” di belakang kalimatnya. Memuji dari hati bahwa dia hebat, dan mengakuinya. Sulit! Apalagi anak-anak yang biasanya akan berkata, “Mama lihat deh… AKU hebat kan?”

Baru kemarin aku bersama Gen merasa bangga pada ke dua anak kami.

Riku: “Waaah Kai hebat ya… dia bisa buat ini”
Kai: “Riku…. ini bagus sekali… hebat!”

Memang saat itu mereka berbicara soal game “minecraft” yang sedang mereka gandrungi, tapi baru kali ini aku melihat mereka berdua main akur. Kalau game berkelahi, pasti akan berakhir dengan tengkar mulut. Tapi game minecraft ini mereka sama-sama membuat bangunan, membuat kota sendiri, ya seperti SIM City. Dan …. selama dua minggu sejak aku unduh soft ini, rumahku adem, nyaman dan … sepi. Tapi sepertinya sebentar lagi akan aku hentikan, dan hapus softnya karena mereka terlalu kecanduan bermain di iPad dan iPhone.

ulangan berhitung dan hiragana

Tapi akhir-akhir ini Riku memang sering memuji adiknya karena perkembangan pendidikan yang juga dipantau Riku. Seperti yang kutulis dalam Tugas Kai, Kai sudah “gede” dan melakukan tugas-tugasnya selaku murid kelas 1 SD, dan bahkan melewati harapanku. Dia bisa mengatur waktunya sendiri, begitu pulang sekolah langsung buat PR sehingga aku sama sekali tidak perlu mengejar-ngejar dia buat PR. Cuma ada satu tugas yang tetap aku sendiri yang laksanakan yaitu Ondoku 音読, membaca dengan suara keras sebuah bacaan dalam buku Bahasa Jepangnya. Ini berguna untuk melatih membaca juga. Memang dari test bahasa Jepang 国語 dan berhitung 算数 nya, Kai hampir seluruhnya mendapat nilai sempurna. Terharu sekali waktu Kai menunjukkan ulangan pertamanya. Ah, anak yang belum ada “isi”nya sekarang sedikit demi sedikit mulai “berisi” dengan pengetahuan.

Gambar T Shirt karya Kai

Pelajaran untuk kelas 1 itu baru Bahasa Jepang 国語, dengan belajar hiragana dan partikel pembentuk kalimat. Berhitung 算数 berupa penambahan dan pengurangan, Kehidupan 生活 (mengamati makhluk hidup) yaitu dengan menanam bunga Morning Glory dan mengamati perkembangannya. Pelajaran lainnya adalah musik 音楽, yaitu mempelajari pianika dan olah raga 体育. Selama musim panas murid SD juga mempelajari renang. Ini juga yang membuat aku kaget, karena ternyata di semua sekolah Jepang mempunyai kolam renang selain lapangan luas. Bahkan di kelurahanku sangat menekankan perlunya berenang sehingga mengadakan pencatatan rekor di semua SD dalam kelurahan.

Kai’s 7th birthday cake

Tanggal 16 Juli yang lalu Kai genap berusia 7 tahun. Kami sibuk hari itu karena hari kerja, sehingga kami “rayakan” dengan makan sushi malam sebelumnya. Pagi harinya hanya dinyanyikan dengan kue tart yang kubeli sore sebelumnya. Benar-benar sederhana saja perayaan ultah Kai tahun ini. Tapi sayangnya ada satu “hadiah” dari gurunya Kai yang datangnya sehari sesudahnya. Jadi ceritanya waktu aku pulang, gurunya telepon dari sekolah. Minta ijin untuk memasang namanya Kai di website karena lukisan Kai tentang mobil pemadam kebakaran “terpilih” untuk dipamerkan di Gedung Pemda. Tentu saja aku ijinkan, malahan bangga bukan? Tapi memang prosedur karena Jepang mempunyai perlindungan atas hak asasi (jadi tidak bisa memberikan nama dan keterangan warga tanpa persetujuan ybs). Bahkan Riku yang mendengar soal terpilihnya lukisan Kai mengatakan…. “Wah Kai hebat ya lukisannya bisa terpilih… Aku 6 tahun di SD tidak ada yang terpilih”.

Kai dengan bunga asagao (Morning Glory) yang ditanam sejak dari biji sampai berbunga. Dalam waktu tertentu mereka harus memperhatikan perkembangan dan menuliskannya.

Bagaimana lukisannya? Aku tidak tahu dan tidak bisa lihat juga, karena kami tidak berada di Tokyo saat lukisan itu dipamerkan. Jadi kami menugaskan papa Gen untuk mengambil foto untuk kami 😀

Tapi memang Kai Hebat! Good boy….Mama bangga pada Kai!

 

Menanti Kedatanganmu-2-

Lanjutan Menanti Kedatanganmu -1-,  padahal sebetulnya foto inilah yang menginspirasiku dalam pemberian judul.

Ini adalah aula Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Karena umat Islam warga negara Indonesia belum memiliki mesjid sendiri di Tokyo, biasanya mereka berkumpul di aula ini untuk sembahyang Jumat.

Biasanya setelah sembahyang Jumat tentu alas karpet langsung disimpan kembali. Namun pada bulan Ramadhan, dibiarkan begini karena setiap malam ada taraweh di sini.  Aula ini menanti kedatangan umatNya yang sedang dalam bulan yang suci ini, bulan Ramadhan.

Meskipun aku bukan muslim, ingin ikut meramaikan perhelatan ini:

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

Menanti Kedatanganmu -1-

Pertengahan Juli. Sudah tanggal 15. Tapi ternyata aku baru bisa menulis di blog ini setelah 14 hari berlalu dari bulan Juli. Bermacam pikiran dan perasaan selama 14 hari itu, atau kalau mau dihitung tepatnya 20 hari aku tidak menulis. Mengapa?

1. Fajar seperti ini jarang muncul di beranda rumahku. Musim hujan, badai No 8, kabut sering menutupinya. Kami selalu menanti kedatangan Sang Matahari pertanda hari yang baru akan dimulai.

fajar tadi pagi dari apartemenku…

2. Pemilihan Presiden yang belum ada ujungnya, yang membuat aku ikut deg-degan sebelum dan hari pelaksanaannya, dan sesudah pelaksanaannya. Kalau kukutip pernyataan temanku, ASN:

Sebelum sampai saat memilih aku gak netral. Namun setelah memilih, terlepas suara rakyat harus dijaga agar jadi pemilu yg jujur, bersih dan tak ada kecurangan. Kita semua harus siap untuk menang dan kalah. Menang senang tapi ya gak usah berlebihan. Kalah sedih tapi ya juga gak usah lebay dan berlebihan. Siapa pun presiden terpilih kan akan jadi Presiden untuk SELURUH rakyat Indonesia. Apapun pilihannya.”

Dan kalau perlu aku tambahkan lagi, siapapun presiden kita, janganlah mencemoohkan atau mengejeknya terus: “Kan aku sudah bilang dulu bla bla bla….” “Makanya pensiun saja, kembali tidur sana… bla bla bla”.  Sedih loh setiap kali membaca cemoohan orang, terhadap siapapun. Sering aku berpikir, orang-orang ini kok bisa mencemoohkan orang segitu sadis. Apa mereka tidak pernah berpikir seandainya cemoohan yang sama berbalik padanya? Hati mereka di mana ya? Begitukah sifat orang Indonesia sekarang?

Dan pagi ini aku menemukan pepatah  baru dari Karaeng Toto, Profesor Aminuddin Salle yang kuhormati, sebuah pepatah dari Makassar, kampung halaman ke 4 ku. “OLOK-OLOKA LAGI NANIAK PACCENA, Binatangpun Ada Rasa Iba“. Masa sih kita lebih rendah dari binatang yang tidak punya rasa iba? Tolong dipikirkan bersama.

Kami menanti kedatangan Presiden RI yang terpilih dengan berdebar-debar.

3. Libur musim panas bagi deMiyashita akan dimulai tanggal 26 Juli, tapi itu berarti aku harus menyiapkan segala-sesuatunya sebelum libur. Hari kuliah terakhir tgl 25 Juli dan tentu aku harus membuat soal-soal ujian. Dan merencanakan liburan musim panas tahun ini memang menyenangkan dan … makan waktu.

Kami menanti kedatangan liburan musim panas dengan gembira.

4. Bersambung di Menanti Kedatanganmu -2-

Kastil Segi Lima

Sudah cukup lama deMiyashita tidak pergi jalan-jalan bersama, karena Papa Gen sampai akhir Juni benar-benar sibuk, sehingga hari Sabtu dan Minggu tetap kerja, bahkan kadang harus menginap di kantor. Dan hari Minggu 6 Juli kemarin, Gen (berhasil) meliburkan diri. TAPI aku, Riku dan Kai harus ke gereja pagi. Jadilah baru setelah selesai gereja, pukul 12, kami melesat ke arah Nagano.

Menurut GPS diperkirakan kami akan sampai pukul 3. Dan karena tempat tujuan kami tutup pukul 4, kami tidak mau membuang waktu untuk makan siang di restoran. Untung sebelum naik mobil aku sempat mebeli sandwich dan onigiri di toko konbini. Jadilah kami makan, alas perut, dengan sandwich dan onigiri. Tapi meskipun begitu kami tetap mampir di Parking Area untuk istirahat ke toilet.

Akhirnya kami sampai di Kantor Informasi Goryokaku di kota Saku, Nagano tempat tujuan kami sekitar pukul 3. Kami sengaja tidak memasuki lingkungan kastil Goryokakunya dulu karena ingin mengunpulkan informasi. Dan di dalam Kantor informasi itu ada seorang bapak tua yang dengan senang hati menjelaskan tentang kastil ini kepada kami. Apalagi dia melihat Riku dan mengatakan bahwa di SD Taguchi yang berada dalam wilayah kastil itu mengadakan kentei shiken (ujian lisensi) mengenai kastil ini. Sayang Riku tidak mengeluarkan catatan (aneh deh itu anak tidak suka mencatat dan juga tidak suka memotret padahal bawa kamera dia sendiri loh… Malah si Kai yang potret semua yang dia bisa potret 😀 )

Riku mendengarkan penjelasan mengenai sejarah kastil Tatsuoka Goryokaku. Riku akhirnya mencatat setelah disuruh papanya 😀

Nama kastil ini adalah Kastil Tatsuoka, ditambah dengan nama Goryokaku yang berarti bentuk segi lima. Kastil ini merupakan kastil terakhir yang didirikan sebelum terjadi Restorasi Meiji (1867). Karenanya meskipun bentuk segilimanya lengkap, hanya ada 3 parit yang mengelilingi. Dua sisi yang lainnya belum sempat selesai karena keburu Bafuku (pemerintahan Tokugawa) jatuh. Kastil ini mengikuti bentuk yang sama yang ada di Hokkaido. Tentu jika ada waktu kami juga ingin mengunjungi goryokaku yang di Hokkaido. Oh ya kastil Tatsuoka Goryokaku (dan juga yang di Hokkaido) ini TIDAK termasuk 100 kastil terkenal yang kami kumpulkan capnya! Kebetulan Riku ingin menulis tentang kastil ini untuk tugas libur musim panasnya.

Setelah mendapat penjelasan dari si bapak tua itu, Gen menanyakan apakah ada suatu tempat yang bisa melihat kastil ini dari atas, sehingga bisa terlihat semua segi limanya. Dan dia mengatakan bahwa jalannya kecil dan sulit dan hanya bisa dilewati mobil kecil. Dia memberitahukan cara untuk ke sana. Dan mumpung masih terang dan cuaca baik, kami tidak masuk ke dalam lingkungan kastil tapi malah menaiki mobil untuk pergi ke atas bukit yang ditunjukkan oleh si bapak tua. Diapun berpesan untuk hati-hati.

Kastil segi lima dari atas bukit. Untung tidak hujan… kalau hujan kami tidak bisa kembali pastinya

Akhirnya kami mengikuti pesannya, dan untung kami sempat memotret peta jalan menuju ke atas. Memang jalannya kecil dan dari tanah. Kalau hujan sudah pasti kami tidak bisa ke atas. Harus pakai jeep. Di tengah jalan kami juga harus menyibakkan ranting yang mengganggu jalan, dan setelah 20 menit kami sampai. Parkir di samping jalan, dan dari situ kami harus berjalan ke arah deck yang tersedia. Dan di situ banyaaaaaaaaaaaaaaaaaak sekali terdapat ulat bulu hiiiii. Jangan sampai deh bersandar di pohon, karena dipenuhi ulat bulu.

Aku ngeri tapi pura-pura tidak lihat, demi memotret pemandangan ke bawah. Eh, tapi aku sempat kok memotret seekor ulat bulu emas hehehe. Selain itu untung aku pakai sneaker sehingga tidak tergelincir. Dan kami akhirnya sampai di deck untuk melihat ke bawah, dan melihat ini. Kalau musim sakura atau musim gugur pasti bagus deh.

Memasuki kastil, di sebelah kanan ada kuilnya. Foto kanan bawah itu bangunan peninggalan 150 th lalu

Setelah itu kami bergegas kembali dan masuk ke dalam lingkungan kastil. Kantor informasi yang kami datangi sudah tutup. Kami melewati jembatan masuk dan menemukan kuil di sebelah kiri, lapangan base ball yang sedang dipakai latihan. Sebuah gedung yang konon merupakan ruang penyimpanan senjata, dan di tengah-tengah berdiri bangunan sekolah dasar Taguchi. Dari depan bangunan SD itu kami bisa melihat bukit tempat kami memotret sebelumnya.

SD Taguchi yang berada dalam lahan kastil

Kami juga sempat memutari seluruh segi lima lahan tersebut dan memang menemukan 3 bagian yang berparit dan dua bagian yang tidak berparit. Memang tidak ada kastilnya yang berupa kastil tapi hanya ada  bekas lahannya saja.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 5, sedangkan kami belum makan, kami mencari makanan khas daerah itu, yaitu Soba Walnut. Restoran yang kami tuju tidak begitu jauh dari tempat itu, ditandai dengan kincir air di depannya. Sebetulnya kami mendapat info restoran ini juga dari acara TV yang kami lihat malam sebelumnya. TAPI… kami harus menunggu lamaaaaa sekali, sehingga jam 6:15 kami baru bisa makan, makan siang dan malam sekaligus.

Melewati stasiun terdekat. Stasiun tanpa bangunan :D. Juga “Bajaj” khusus pengangkut rumput

Tapi kami cukup senang dengan perjalanan hari itu karena kami bisa belajar banyak tentang kastil segi lima. Dan sebetulnya kastil ini ingin kami bandingkan dengan kastil di Indonesia….. hehehe tunggu saja tulisannya. Dua bulan lagi ya…..

walnut soba khas restoran ini