Smartphone yang Memperbodoh

Smartphone yang Memperbodoh

Huhuhuhu kangen ingin menulis banyak. Tapi biasanya kalau aku mempunyai keinginan untuk menulis banyak itu justru tidak akan terlaksana karena aku perlu mengedit foto atau mencari keterangan tambahan lainnya, sehingga akhirnya tidak tertuliskan! Begitulah kalau punya sifat maunya sempurna ya…. Benar-benar harus dilawan. Dan kebetulan malam ini aku punya sedikit waktu luang untuk keluar dari “kegalauan tak bisa menulis” 😀

Hari ini, sebetulnya, selain ingin melanjutkan catatan PkS, aku ingin menulis tentang dua topik: Tugas Kai dan Smartphone. Mumpung masih hangat, aku tulis yang smartphone dulu ya.

Kamu sadari tidak, bahwa smartphone atau internet itu mempunyai dampak yang saling bertolak belakang. Di satu pihak kamu bisa menjadi pintar, karena jika ingin mengetahui apa saja, bisa cari melalui mbah Google (atau mesin pencari lainnya) dan voila... ketemu. TAPI, ada tapinya nih.

Dengan adanya smartphone/internet ini kamu menjadi MALAS berpikir, MALAS mencari lewat buku atau kamus/ensiklopedia, dan gawatnya jadi MALAS BELAJAR. Pikirnya toh bisa googling kalau perlu. Dan ini gawat loh….. Teleponnya sih SMART tapi kitanya, manusianya jadi BODOH! Dan kelihatannya sisi negatif ini yang menjadi tambah parah, terutama di kalangan mahasiswa (di Jepang).

Beberapa hari yang lalu aku sempat kaget melihat teman dosen yang mengupload foto mahasiswa dalam kelasnya yang memotret papan tulis whiteboard. SEMUA mahasiswanya, tidak ada yang tidak mengarahkan smartphonenya ke whiteboard. Kupikir untung sekali mahasiswaku di dua universitas tidak ada yang begitu. Mereka masih menulis di kertas fotokopi yang kubagikan. Meskipun aku sempat kaget sekitar 2 tahun waktu ada anak yang menanyakan email aku untuk mengirim tugas. Aku tuliskan emailku yang pendek dan mudah itu di papan, kemudian si mahasiswa MEMOTRETnya! Kaget aku. Aku sendiri jika ingin mengambil jalan pintas (tidak mau menulis di kertas) akan menulis langsung di kolom email dan kirim email kosong untuk meyakinkan bahwa emailku sudah sampai. Sejak 2 tahun itu aku mulai melihat kecenderungan mahasiswa yang malas mencatat dan hanya memotret tulisan di papan tulis (ke dua universitas tempatku kerja masih memakai papan tulis dengan kapur). TAPI tidak ada yang memotret bahan kuliah serentak. (Mungkin tidak keburu karena aku cepat menghapus tulisanku ya hehehe)

Manusia emang pintar menggunakan gadget yang ada. Tapi ada kalanya dengan kemudahan-kemudahan itu, manusia akan bertambah BODOH! Salah satunya dengan contoh yang akan kuberikan di bawah ini.

Pada test menerjemahkan kalimat bahasa Indonesia, aku mengeluarkan soal yang SEHARUSnya diterjemahkan secara harafiah saja: 私はちょっと疲れたが、元気です Saya sedikit capek tapi sehat. Memang soal tentang kata sifat: capek (tentu saja yang benar dan baku itu capai, tapi mana ada orang Indonesia sekarang tahu bahwa yang benar itu capai? hehehe) dan sehat. TAPI ada mahasiswaku yang menjawab begini: Aku sedikit lelah, tapi saya baik-baik saja.

Waaaaah begitu aku baca jawabannya, aku sampai teringat lagunya RATU yang berjudul Aku baik-baik saja hahahhaa. Kupikir pintar sekali dia! Tapi jelas dia pakai internet/smartphonenya. Aku memang membolehkan mahasiswa membuka catatan/diktatnya masing-masing, tapi smartphone? A big NO!

Dan memang kalau aku cari lewat google translator akan keluar seperti ini:

nah loh…. kamu KETAHUAN! 😀

O o o kamu ketahuan! Aku selalu katakan pada mahasiswaku bahwa translator engine itu PARAH! Kalau toh mau pakai kamus online, carilah kata per kata, lalu SUSUN sesuai apa yang sudah dipelajari. Aku tidak minta smartphone yang belajar kok! Kalau tidak mau belajar ya jangan jadi mahasiswa. Setiap kali aku selalu mengingatkan mereka: “Saya tahu siapa yang menerjemahkan dengan translator. Jadi kalau tidak mau nilainya dikurangi, jangan pakai!” Dan tentu saja yang pakai smartphone dalam kelas itu adalah mahasiswa yang sering absen, tidur dalam kelas atau tidak perhatian dalam pelajaran. Sulit mengendalikan mahasiswa sebanyak 60 orang dalam kelas memang, dan aku tidak bisa mengumpulkan smartphone mereka sebelum kuliah dimulai. Seperti anak SD/SMP/SMA saja kan? Beberapa usaha yang kulakukan supaya mereka tidak mencontek teman atau smartphone adalah dengan ngider/ berjalan berkeliling atau membuat dua soal yang berbeda (diacak soalnya) sehingga tidak bisa lirik kanan/kiri. Atau sekaligus membuat soal yang banyak untuk diselesaikan dalam waktu terbatas. Mahasiswa yang perhatian pasti bisa, tapi yang tidak memperhatikan kuliah pasti KO 😀 Dan sepertinya aku harus menanyakan pihak universitas apakah aku bisa menyuruh mahasiswa memasukkan smartphonenya dalam kardus sebelum kuliah dimulai, terutama waktu test. Hmmm mungkin pihak Universitas akan membolehkan, tapi akunya yang MALAS hahaha (tertular si smartphone deh). Mendokusai! Repot kan mengumpulkan 60 HP sebelum kuliah mulai…. pasti makan waktu 😀

contoh lain “keanehan” terjemahan karena pakai smartphone. dan ya! aku jadi kesal dan terpaksa marah di kelas 🙁

So…. kamu mahasiswa? Belajarlah dan jangan mengkhianati gurumu yang sudah memberi kepercayaan padamu. Kamu dosen? Ada tips apalagi nih untuk menghadapi mahasiswa modern macam ini. Dan ya, sepertinya aku tidak bisa lagi terus menjadi guru BAIK, harus jadi guru yang GALAK nih! hihihi.

PS: sorry curhatan profesi nih

tambahan hasil endapan dan komentarku terhadap pendapat untuk mengumpulkan HP sebelum kuliah:

aku tahu bahwa ada beberapa anak yang main game. Kalau internet sudah lama tahu. BAHKAN ada yang nonton! menyebalkan. Kejadian ini TIDAK terjadi pada kelas yang hanya diikuti 20-30 orang (bahkan 40 orang), tapi kalau sudah kelas besar di atas 40 orang… nah! Mulai kelihatan sejak tahun lalu, dan aku sendiri sudah mengaplikasikan beberapa cara ujian yang mengijinkan pemakaian internet karena memang sudah aku buat sulit sekalian. Tapi kalau pakai translator langsung ketahuan dan nilainya dikurangi SETENGAH! hahaha. Aku tidak mau membuat mahasiswa menjadi murid SD, karena aku tahu juga kadang aku melihat smartphone untuk melihat jam. Lalu ada alert gempa yang berbunyi kan? penyakit deh! 依存症 addicted!

Aku sedang memikirkan cara win win solution, yang tidak merepotkan aku juga untuk mengawasi HP^HP ini (kalau ada yang jatuh atau rusak nanti aku di-sue lagi hehehe). Minggu depan aku akan coba bagikan amplop coklat ke setiap anak sebelum kuliah dan minta mereka memasukkan HP nya ke dalam amplop lalu lipat dan taruh di meja bagian depan. satu jam saja!

Kemarin aku marah karena aku tahu banyak yang tidak mengikuti penjelasanku. Lalu aku selesaikan kelas lebih cepat dan mengatakan minggu depan test yang baru kujelaskan itu tapi boleh buka buku/catatan. Tiba-tiba ada mahasiswa datang dengan fotokopian KOSONG tanpa coretan dan bilang, “Sensei bisa kasih tahu ini artinya apa?” WHAAAAT aku musti ulang penjelasan tadi untuk dia saja? Kalau beberapa kata OK aku biasanya layani, tapi ini SEMUA! Buset deh, aku langsung marah dan bilang, “Apa? semua? IYADA! Saya mau cepat pulang!” dan pergi tinggalkan dia. Biar saja dia cari jalan bagaimana mengetahui terjemahan apa yang kujelaskan tadi. Masalah penggunaan smartphone di kuliah sudah mulai gawat, dan biasanya dosen acuhkan. Pikirnya toh mereka (mahasiswa) sudah dewasa. Aku mau coba galak dulu di kelasku sambil soudan (diskusi) dengan administrasi univ untuk memberitahukan tindakanku supaya jangan dipersalahkan nanti kalau ada apa-apa. Misalnya, ada berita duka dari keluarga yang harus segera diketahui tapi tidak bisa karena aku suruh matikan HP dll (aku selalu pikirkan segala kemungkinan sih).

Wish me luck!

 

11 Comments

Jawabannya yang benar: Buku kakak laki-laki saya banyak. HON dalam bahasa Jepang kalau diIndonesiakan memang bisa menjadi batang juga (untuk menghitung misalnya pensil 1 batang) , tapi utamanya BUKU hehehe.

hahahaha jadi aneh ya terjemahannya… 😛

tapi emang karena apa2 sekarang serba otomatis, orang jadi males mikir.
yah bukan smartphone doang, kayak di perusahaan2 besar kan kita pake ERP system, apa2 jadi otomatis. kayak kemaren ini saya baru dapet email dari salah satu orang accounting yang dapet request dari auditor untuk ngejelasin gimana fixed assets depreciation nya dikalkulasi. karena udah otomatis dari sistem kalkulasinya, dia jadi gak bisa explain dan minta saya yang explain! gile bener.. jadi accounting kok gak tau gimana ngitung depresiasi tuh gimana coba… 😛

nah kan itu yang kumaksud… manusia bertambah BODOH! yang sewajarnya diketahui saja, jadi tidak tahu. Otaknya ngga dipakai! Jadi karatan deh baru tahu ntar hehehe.

He3 begitulah suka duka menjadi seorang pengajar, bahkan di negara sekelas jepang.

Btw mb jangan galak dong, pleaseee 🙂 .

Harapan saya lewat bahasa agar mereka (mhs jepang) bisa tertarik dengan Indonesia

Coba deh mba carikan alternatif dan solusi lainnya, selain misalnya melarang menggunakan smartphone. Misalnya, mereka diijinkan membuka kamus sebagai pengganti smartphone.
Soalnya menurut pendapatku, kuliah bahasa itu, emang ga bisa lepas dari yang namanya KAMUS. Kalau misalnya mereka hanya diijinkan membuka catatan saat ujian, mgk bagi sebagian anak yang rajin mengikuti kuliah, itu sudah solusi yang cukup membantu. Tp bagi mereka yang malas kuliah, mgk terasa kurang. Nah, mahasiswa itu memang bukan anak kecil lagi, seperti penjelasan mba Imel juga. Itu saya setuju. Jd otomatis, mrk tidak bs lagi didikte, apalagi mrk berpikir, bhw mrk sedang kuliah bahasa. Dlm prakteknya, sesuatu yang berhubungan dg bahasa, msh bisa diselesaikan dg yang namanya KAMUS atau Smartphone sbg translator. Itu ga bs kita pungkiri. Bahasa bukan matematika atau ilmu lainnya yang butuh hitung²an. Jd menurutku, kl misalnya mrk dilarang bawa smartphone, coba cari solusi lainnya, selain diijinkan buka catatan. Misalnya dg diijinkan membuka KAMUS juga. Karena tetep aja, jika mereka boleh buka kamus, tp tidak semua kata dalam kamus bisa pas diterjemahkan dalam bentuk kalimat. Tetep logika mereka msh dibutuhkan dalam menyusun kalimat yang sebenarnya. Ngertikan mba maksudku?
Karena kadang², dalam kamuspun, ada alternatif terjemahan yang bervariasi, jd rk tetep dituntut utk berpikir logis.
Ini sekedar pengalamanku aja wkt dulu jd dosen di jurusan teknik mesin: Kl saat ujian, aku selalu bikin variasi soal A bis E. Masing² tipe soal A sampe E itu, selalu dibikin 5 soal essay. Jd otomatis, tiap ujian, aku hrs bikin variasi soal 25 buah utk tipe A sampai E. Nah, tipe soal itu, aku bagikan berurut ke masing² anak menurut urutan tempat duduknya saat ujian. Otomatis, mereka tidak bisa mencontek kiri dan kanannya, bahkan sampai 5 anak berikutnya. Jd kesempatan menoleh jawaban teman sangat kecil sekali, krn mrk sulit menemukan anak yang memiliki soal sama dgnya. Dg kondisi ini, aku mengijinkan dan memberikan kelonggaran untuk mrk membuka HANYA catatan kuliah, dan setengah halaman kertas A4 bolak balik yang dapat mereka tulisi rumus yang mereka anggap penting untuk diketahui dan bermanfaat dalam mengerjakan soal. Karena otomatis soal² hitungan itu tidak pernah lepas dari rumus² (agak beda asumsinya dengan kuliah bahasa yang tidak pernah lepas dengan kamus). Dg keadaan ini, di atas meja mereka hanya dilengkapi catatan dan 1 lembar kertas A4 full rumus yang hanya setengah halaman itu. Kertas A4 itupun hrs diberi nama siswa dan dikumpulkan bersamaan dg lembar jawaban saat ujian berakhir. Tujuannya, aku jd bisa memantau, sejauh mana mereka mencatat selama kuliah, sejauh mana contekan rumus yang mereka buat itu berhubungan dg jawaban ujian yang mereka kerjakan. Dari sana akan kebaca, logika mereka dalam mengerjakan soal. Biasanya dg caraku ini, mrk jd sulit mencari wkt utk liat kiri kanan, krn sibuk baca catatan rumus mrk sendiri.
Uniknya, dalam hal mencatat rumus itu, kita dituntut secerdik mgk dalam memilih rumus yang penting, menulis rumus sekecil²nya agar bs muat setengah halaman kertas A4 itu. Kadang rumus yang ditulis itu hanya mampu dibaca oleh si penulis sendiri. Ini solusi unik lho!
Nah dalam kasus mba Imel, mgk bukan rumus, tp kamus.
Coba masing² mahasiswa diijinkan bawa 1 kamus pocket yang menurut mrk lengkap, tp tutup smartphone. Niscaya mrk hanya akan sibuk dg kamus itu aja atau dg catatan kuliah mrk.
Ini hanya sekedar saran dan masukanku lho mba 🙂 Semoga membantu.

oooh kamus boleh dong. Sayangnya di Jepang Kamus Bhs Indonesia – Jepang itu terbatas sekali, dan kalaupun ada mereka malas beli karena mahal. Karenanya aku HANYA mengeluarkan apa yang ada di catatan. Mereka baru saja belajar bahasa Indonesia (kelas dasar) jadi uplek-uplek di situ-situ saja kok, sebetulnya belum perlu kamus, lain dengan kelas menengah.
Dengan beberapa kata benda, kata sifat, nama tempat (yang sudah diajarkan semua) harus terjemahkan dengan susunan bahasa Indonesia yang LAIN dari susunan bahasa Jepang (Kalau Jepang kata kerjanya di paling belakang). Jadi yang penting itu urutannya. Kalau buka-buka kamus lagi malah bingung kok hehehe

Anyway terima kasih untuk komentarnya ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :