Ten busy days

18 Apr

Sepuluh hari telah berlalu sejak Kai menjadi kelas satu SD. Sepuluh hari yang begitu merepotkan dan membuatku stress. Tadi waktu aku mengikuti pertemuan orang tua murid kelas 1, pihak sekolah mengatakan, “Anak-anak pasti stressnya mulai keluar, jadi besok akhir pekan biarkan mereka beristirahat dan menikmati liburan….” Tapi menurutku, untuk kasusku, bukan Kai yang stress tapi mamanya, dan yes! Aku butuh liburan. 😀

Aku memang sekarang, sampai akhir Juni nanti, bekerja setiap hari. Dulu hanya hari Kamis dan Jumat (pekerjaan tetapku di universitas), tapi mulai tanggal 8 April setiap hari Senin, Selasa dan Rabu daku harus pergi mengajar di sebuah institusi pemerintah yang terletak 45 km dari rumah, jika ditarik garis lurus. Pelajaran dimulai pukul 9:30 tapi aku berangkat dari rumah pukul 7 pagi. Naik bus 1 kali dan naik kereta 2 jalur selama 1 jam 45 menit. Memang bisa saja aku keluar rumah jam 7:30, tapi kalau sudah jam segitu kereta akan lebih penuh lagi. Lebih baik aku pergi lebih cepat kan? 😉 Tapi meskipun begitu memang lebih sering aku tidak dapat tempat duduk sih, yang kadang aku nikmati juga. You know what.… hari pertama aku pergi aku dapat tempat duduk dan aku tertidur! Kelewatan deh stasiun yang seharusnya aku turun sehingga terpaksa naik kereta arah balik dan menghabiskan waktu 20 menit hehehe (untung pergi pagi sekali). Abis aku bangun pukul 4 pagi supaya bisa masak sarapan dan membuat bekal makanan (bento) untukku sendiri. Aku pun harus menyediakan makan siang untuk Kai yang seminggu pertama tidak mendapat makan di sekolah.

Lorong pertokoaan dengan pilar berhiaskan karikatur serta taman di sebelah tempat kerja baruku. Kalau pagi masih dingin dan senang jalan-jalan di sini.

Aku merasa beruntung, dan beryukur bahwa Kai sudah lebih dewasa dibandingkan dengan anak lain seumur dia. Mungkin karena sebagai anak kedua, orang tua (baca: aku) sudah lebih mempercayai dia melakukan segala sesuatunya sendiri. Memang kalau pagi hari, Kai akan keluar rumah bersama kakaknya Riku sekitar pukul 7:50. Dia yang sewaktu TK baru keluar rumah jam 8:50 harus bangun lebih pagi apalagi karena aku harus pergi jam 7, dia harus bangun sebelumnya. Karena dia masih manja memintaku untuk mengganti baju pijamanya dengan baju untuk ke sekolah. Baju sekolah SD negeri di sini bebas. Banyak yang menyangka bahwa seragam SD nya adalah jas seperti yang dia pakai waktu upacara penerimaan murid baru, tapi bukan! Dalam upacara itu setiap anak memakai jas atau pakaian formal yang berbeda-beda. Sebetulnya tidak ada ketentuaan harus jas, tapi biasalah, orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk sang anak anak kan?

Seminggu pertama aku membiasakan diri untuk menelepon Kai di rumah dari tempat kerjaku waktu istirahat makan siang. Kalau aku lupa pasti Kai akan menelepon sekitar pukul 2 atau 3 siang. Dia pulang sekolah sendirian pukul 12:15 karena Riku sudah punya jadwal pelajaran sampai pukul 3 atau 4. Dia buka pintu dan ambil nasi sendiri dan makan lauk yang sudah kusediakan di meja. Dia tahu bahwa dia tidak boleh menyalakan kompor atau memakai microwave. (Kalau Riku sudah bisa bertanggung jawab dengan kompor dan microwave sehingga sering kumintakan bantuan). Kalau aku menelepon Kai pasti begini:
Moshi moshi Kai? Ini mama….”
“Nani? (Apa?….)”
“Sudah makan?”
“Ini lagi makan”
“Ada masalah?”
“Tidak….”
“OK deh mama kerja dulu ya, nanti mama sedapat mungkin pulang cepat (Padahal secepat-cepatnya aku akan sampai pukul 7 malam di rumah huhuhu)”
“Iya…. ”
“Daaag”
“Iya…”
Dasaaaaar anak lelaki, bahasanya pendek-pendek hihihi.

Tapi ada suatu hari aku lupa menelepon dia. Kemudian sekitar pukul 3 an dia menelepon dan memasukkan pesan, karena aku tidak bisa angkat telepon.
“Mama… Riku tadi sudah pulang. Tapi dia cepat-cepat pergi lagi. Aku takut….”
Dan pesan itu sampai dua kali… Hmmm dia benar-benar takut.
Jadi begitu ada waktu menelepon aku menelepon dia dan menyuruh dia menonton rekaman acara Dash-Jima (Acara membuka pulau baru oleh grup penyanyi TOKIO), karena acara itu menyenangkan (dan bukan anime). Lalu waktu kelas selesai, aku menelepon dia kembali sambil berjalan pulang. Untung saja dia tidak panik saat takut itu dan tetap berada di rumah. Kalau Riku waktu kecil, pasti akan keluar rumah dan mengebel pintu tetangga dan minta untuk berada di rumah tetangga :D, atau ke pos polisi hehehe.

Tapi kejadian Kai menjadi takut itu hanya satu kali. Keesokan harinya bahkan aku mendapati rumah kosong. Memang hari itu aku bisa pulang lebih cepat karena lokasi pengajaran dekat (di Universitas W). Sudah sampai rumah pukul 4 sore, dan …anak-anak tidak ada meskipun kulihat tas ransel mereka sudah ada. Sempat berpikir untuk mencari mereka di taman dekat sekolah, tapi ah…sepertinya aman-aman saja. Baru kemudian aku lihat pesan di telepon. Waktu kudengar, suara anak sulungku,
“Mama aku ajak Kai main di halaman sekolah ya. Jadi mama tidak usah khawatir”
Ngga nak… mama tahu kalian baik-baik saja dan mama bisa mempercayai kalian berdua.

Kedua anakku siap berangkat ke sekolah. Aku bisa mengantarkan mereka begini sebelum aku pergi kerja hanya pada hari Kamis.

 

Minggu kedua, Kai sudah mendapat makan siang di sekolah sehingga aku tidak perlu bangun terlalu pagi untuk menyiapkan makan siang juga, cukup makan pagi dan bento. Tapi ada satu happening yang terjadi pada hari Rabu lalu. Waktu istirahat siang aku melihat ada misscall dari SD nya Riku dan Kai. Aduuuuh ada apa ya? Tapi karena mereka tidak meninggalkan pesan apa-apa, semestinya tidak parah. Aku curiga kemungkinan Kai demam. Ternyata pihak sekolah menghubungi papanya, dan Gen memberitahukanku bahwa Kai muntah waktu makan dan sekarang tidur di ruang Kesehatan di sekolah. Gen sudah kasih tahu gurunya bahwa biar Kai tunggu di situ sampai Riku selesai pelajarannya dan pulang dengan kakaknya, karena kami berdua (Gen dan aku) tidak bisa cepat-cepat pulang. Meskipun akhirnya Gen yang mendapat ijin untuk pulang cepat sehingga dari jam 3, Gen sudah bisa menemani anak-anak di rumah. Aku sendiri baru pukul 7 sampai di rumah dan langsung mempersiapkan makan malam. The three boys are starving! peko-pekoda!

Beginilah suka dukanya ibu yang bekerja, terutama karena ada perubahan jenjang pendidikan (Kai menjadi murid SD) dan aku memulai pekerjaan baru di tempat yang jauh. Tapi aku bersyukur karena kedua anakku bisa diandalkan. Good job!

12 Replies to “Ten busy days

  1. Disitu boleh tinggalin anak sendiri di rumah ya mbak? Disini boleh kalo udah berumur 12 th, kalo dibawah itu ga boleh…kalo ketauan bisa dianggap careless dan urusan ama dinas sosial 🙁

  2. baca ini rasanya nano-nano. seneng karena Kai sudah besar dan bisa dipercaya. tapi terharu juga waktu sadar kalau dia sudah tidak kecil lagi. semoga semuanya sehat-sehat, ya Mbak 🙂

  3. Ke pos polisi?? Haha. Lucu dong ya pak polisinya jadi macam baby sitter. 😀

    Dulu waktu masih kecil kalau takut sendirian di rumah begitu, pasti masuk kamar, tiduran di ranjang, pasang selimut seluruh badan bahkan sampai kepala.

  4. Riku mirip banget sama Mba EM loh, kaya fotocopyan

    Repot banget kayanya ya Mba dengan kondisi barunya, semoga cepat terbiasa yaa…

  5. senang bacanya Mel, ya memang begini ya dilema ibu bekerja…Daniel juga begitu, dia sekarang kelas IV SD. Smp di rumah jam 13.30, ganti baju, ambil makan sendiri, nasi atau roti, tidur siang. Kalau ada les, dia akan bangun jam 15, kalau tidak ya tidur smp jam 16. Kakak2nya pulang sore.

    dgn begitu anak2 lbh mandiri dan brtggjawab ya 🙂

  6. Si Riku makin mirip kamu ya mel, sementara Kai mirip gen 🙂
    Btw aku kadang berpikir betapa bahagianya anak2 sekarang, karena sakit sedikit, udah jaman henpon, sang guru tinggal sms/telp ortu.. lha dulu.. kita? sakit ya di UKS, kalo parah diantar pulang (aku dulu pernah bbrp kali) trus ortu lagi pada kerja, malah jadi di rumah sendirian.. hahahaha…

Comments are closed.