Penyambutan Murid Baru

Penyambutan Murid Baru

Di Jepang, setiap awal tahun ajaran akan diadakan 始業式 shigyoushiki, upacara awal tahun ajaran yang diikuti oleh kelas 2 sampai kelas 6 SD. Sedangkan 入学式 nyuugakushiki, secara harafiah Upacara Masuk, tapi kalau di Indonesia lebih tepat diterjemahkan menjadi upacara penerimaan murid baru diadakan untuk kelas 1 baru. Pika-pika no ichinensei (kelas satu yang masih berkilau, aku pernah menulis tentang Riku yang kelas 1 SD di sini).

Kai bersiap berangkat ke upacara penerimaan murid baru

Satu hal yang aku sadari yaitu jika penekanan kata nyuugakushiki itu adalah upacara si anak MASUK ke sekolah, kalau di Indonesia itu penekanannya pada pihak sekolah yang MENERIMA/Menyambut datangnya murid baru. TAPI pada kenyataannya sepertinya upacara nyuugakushiki di Jepang, lebih “menyambut” murid baru, daripada hanya sekedar “Oh kamu sudah masuk SD ya?” saja. Hal itu terlihat dari susunan acara. Atau karena Riku adalah murid kelas 6 SD, aku tahu bahwa murid-murid kelas 6 yang dikerahkan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan upacara nyuugakushiki ini.

Upacara Masuk ini berlangsung hari Senin tgl 7 April, tapi sudah sejak Jumat sebelumnya, murid SD mempersiapkan hall tempat pelaksanaan upacara dan mereka juga berlatih menyanyikan lagu kebangsaan 国歌 Kimigayo serta lagu sekolah mereka 校歌. Selain itu mereka juga bertugas menjadi penerima tamu dengan membagikan daftar kelas (kami baru tahu murid kelas 1 masuk kelas yang mana pada hari upacara), membantu murid-murid mengisi absen di kelas barunya serta memasangkan badge nama di jas mereka.

susunan acara upacara penerimaan murid baru

Sejak di pintu masuk itulah, murid-murid baru berpisah dengan orang tuanya. Mereka diantar masuk ke loker tempat penyimpanan sepatu dan ditunggui 先輩 sempai kakak kelasnya untuk mengganti sepatu dengan 上履き uwabaki, sepatu untuk di dalam ruangan. Lalu mereka diantar sampai ke kelasnya. Orang tua, dengan was-was apakah anaknya大丈夫 daijoubu (tidak apa-apa), menuju ke aula sambil melirik kelas satu yang dilewati. Ah, kakak kelas dan guru sudah di dalam kelas dan menyambut murid-murid baru yang tegang. Untung saja tidak ada yang menangis hehehe. Lain dengan upacara penyambutan murid TK yang riuh rendah dengan suara tangis. Well, saat itu mereka memang masih usia 3 tahun…sedangkan kalau SD kan sudah berusia 6 tahun (batas umur di Jepang untuk kelas 1 SD adalah GENAP 6 tahun terhitung tgl 2 April tahun tersebut).

Orang tua menempati tempat duduk yang sudah disediakan dalam hall dan menunggu upacara dimulai. Kebetulan aku duduk di samping satu pasang suami istri yang membawa dua anak, satu berusia sekitar 3 tahun dan satu lagi masih bayi. Hmmm ribut! anaknya yang usia 3 tahun itu tidak bisa diam dan ngoceh terus sambil naik turun kursi lipat. Beberapa kali dia hampir jatuh dari kursi. Sabar imelda….sabar 😀 Untung aku sudah merasakan betapa repotnya membesarkan dua anak, jadi bisa mengerti bahwa mereka tidak bisa menitipkan anak-anaknya yang masih kecil demi mengikuti upacara anak pertama mereka (I hope so…. karena jarang ada keluarga Jepang yang mempunyai lebih dari 2-3 anak). Tapi seharusnya anak kecil begitu duduk di antara ayah dan ibu, sehingga tidak mengganggu orang yang duduk di sebelah anak itu. Benar-benar aku khawatir kalau anak itu jatuh dari kursi dengan kepala duluan 🙁

Acara diawali dengan masuknya kepala sekolah, tamu-tamu kehormatan yang kemudian duduk di tempat khusus. Kemudian kami menyambut dengan tepuk tangan masuknya murid-murid baru yang masuk ke dalam hall dengan berbaris. Oh ya, aku perlu beritahu bahwa dalam upacara-upacara begini, jarang sekali terdengar tepuk tangan. Orang Jepang tidak biasa bertepuk tangan seusai seseorang mengucapkan pidato. Entah kalau sekolah lain, tapi aku jarang sekali mendengar tepuk tangan pada acara-acara sekolah. Lain ladang lain ilalang ~~~~

kepala sekolah menyambut murid kelas satu

Semua acara dimulai dengan 起立 kiritsu  礼 rei 着席 chakuseki, berdiri – hormat – duduk. Ah aku jadi ingat pendidikan di SMP-ku dulu yang mengadaptasi cara ini. Kamu harus selalu berdiri dan menghormati guru SETIAP ganti pelajaran, di awal dan akhir pelajaran. Entah apakah masih ada sekolah di Indonesia yang menerapkan seperti ini. Tapi di Jepang dalam semua acara resmi pasti akan terdengar “perintah-perintah” semacam ini.

Kepala sekolah memberikan pidato juga tidak bertele-tele, dan menyampaikan tiga hal penting yang harus diingat murid baru yaitu : memberi salam, mendengarkan pembicaraan orang lain baik guru maupun teman dan membuat teman sebanyak mungkin.

Satu-satunya acara “hiburan” adalah pementasan lagu oleh kelas 2. Mereka bernyanyi dan memainkan pianika, sambil menyambut “adik-adik” dan menyampaikan pesan-pesan seperti : “kalau ada yang tidak tahu, silakan tanya kami ya” dsb. Aku merasa cukup senang menyekolahkan anakku di SD Negeri ini. Memang tidak “sedisiplin” sekolahku dulu atau sekolahnya Gen juga, tapi cukuplah. Yang penting anak-anak merasa nyaman bersekolah.

Setelah acara di hall, kami menuju kelas masing-masing dan mendengarkan perkenalan dari guru serta pengumuman-pengumuman. Kami juga membawa pulang banyak barang baru yang dibagikan. Ada satu kotak berisi peralatan menulis dan belajar (pensil, buku catatan, buku pelajaran, pensil warna, craypas), sedangkan dari kelurahan mendapatkan topi pelindung kepala yang bisa dipakai sebagai alas duduk serta buzzer keamanan untuk dipasang di ransel masing-masing. Ada happening seorang anak membunyikan buzzer itu dan orang tuanya sibuk mencari cara menyetopnya. Buzzer ini perlu jika anak-anak bertemu dengan orang iseng atau jahat dan merasa perlu bantuan, tinggal menarik tali buzzer sehingga alarm akan berbunyi kencang.

Kai dengan barang-barang yang mesti dibawa pulang

Semua barang-barang ini kami bawa pulang dan menjadi “pekerjaan rumah” baru untuk kami, karena kami harus menuliskan nama satu-per-satu pada barang-barang ini, termasuk pensil dan craypas.

Setelah selesai menuliskan nama pada semua barang, kami pergi makan siang dan bermobil ke Yokohama untuk bertemu dengan kakek-neneknya Kai karena sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Kebetulan Gen juga ambil cuti khusus untuk hari ini. DeMiyashita kemudian merayakan “hari bersejarah” bagi Kai yang masuk SD dengan makan malam bersama.

 

Selamat bersekolah ya Kai… 入学おめでとうございます。

 

19 Comments

Topi yang dipakai Kai itu yang juga bisa difungsikan sebagai alas duduk ya Mbak Imel? Wah benar-benar otak Jepang yang merancangnya..Praktis dan banyak fungsi 😉

nggak terasa Kai sudah SD. dulu ketemu Kai pertama kali waktu dia masih berapa tahun ya? masih kecil banget kayaknya. dia masih minum susu pake dot. hihihi. cepatnya waktu berlalu…

Kai keren….jadi ingat pas ke Toyohashi ketemu anak-anak SD, yang besar menggandeng yang kecil.
Gedung sekolah SD nya juga mirip di SD dekata apato Narp di Toyohashi….apakah memang semua gedung sekolah bentuk bangunan nya agak mirip?

Aaahhh Kai sudah mulai bersekolah secara formal nih …
Om pinjam jas dan dasinya dong Kai …
Keren banget …
Smart …

Semoga menyenangkan sekolahmu ya Nak …

Salam saya EM

(15/4 : 1)

Ih lucu si Kai….. 😀

Btw di indonesia masih kok ada sistem kiritsu-rei-chakuseki nya, bu. Aku aja lulus SMA tahun 2007, dan SMA-ku dulu itu SMA katolik. Hohoho…. Thank you, Bu, informasinya. Jadi pengen segera ke Jepang, gara-gara baca blog ini…. Nggak nyesel nge-add ini di Feedspot… 😀

iya kalau sekolah katolik aku percaya kalau masih ada sistem kiritsu-rei-chakuseki… kan aku juga sekolah katolik hehehe.

Ssst sekarang sudah banyak loh orang Indonesia yang berlibur ke Jepang.

Duh gila.. kakak kelasnya kok baik-baik amat? Di Indonesia, kakak-kakak kelas kalau ngeliat adik kelas yang culun dan baru masuk malah yang ada gatal tangan ingin memelonco…. ada yang sampai mati… ada… banyak 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :