Bertemu Dinosaurus

13 Feb

Hari Selasa, 11 Februari yang lalu kami libur. National Foundation day. Dan karena weekend sebelumnya kami terkurung di rumah karena salju, Riku minta pergi. Katanya, “Kemana saja deh. Kalau bisa doraibu, kalau tidak bisa jalan-jalan sekitar sini juga boleh. Soalnya aku harus cerita di kelas karena besok aku jadi petugas kelas. Jadi harus ada cerita dong”.

Senin malamnya memang Gen sudah mengajak aku pergi ke National Museum of Nature and Science, yang terletak di Ueno. Dan untuk ke situ paling praktis memang naik kendaraan umum. Riku juga sangat setuju begitu aku katakan bahwa kami akan ke museum itu. Tapi memang kami berangkat santai sehingga baru keluar rumah jam 10 lebih, dan sampai di ueno menjelang pukul 12 siang. Nah, bingung kan mau masuk museum dulu atau makan dulu, karena sudah jam makan siang.

Kebetulan ada teman SMP nya Gen yang mempunyai restoran Taiwan di Ueno. Gen baru tahu dan mengajak kami makan di situ saja. Lumayan besar loh restorannya (untuk ukuran restoran Jepang bukan chain-store ya) dan porsinya besar!!! Kami salah perhitungan karena biasanya kalau porsi orang Jepang itu tidak sebanyak itu. Susah payah kami menghabiskan makanan yang tersedia. Cuma ada satu kekurangan yang aku rasakan, dan aku rasa ini merupakan ciri khas kebiasaan negara asal. Yaitu WC nya, cuma ada 2 kloset untuk 2 lantai, dan tidak bersih…. jika aku bandingkan dengan WC Jepang. Kalau bandingkan dengan WC Indonesia sih masih lebih bersih resto itu (haduh jadi teringat WC sebuah tempat makan di Pluit yang aduhai joroknya hhihihi. Sampai Kai bilang: “Mama kok jorok sekali ya? dan memang banyak lalatnya juga hiiiiii). Memang WC restoran (dan pertokoan) Jepang itu bersih-bersih ya, meskipun bangunannya tua, atau WCnya kecil, tapi tetap bersih dan tidak bau. Susah deh aku yang sudah terbiasa bersih jadinya cerewet begini hehehe.

Patung Saigo Takamori di taman Ueno

Setelah selesai makan, perlahan kami jalan menuju museum. Memang kompleks taman Ueno cukup besar dan restoran yang kami tuju berada berlawanan dengan kompleks museum. Sambil berjalan melewati patung Saigo Takamori, aku ingat aku pernah mengunjungi tempat ini 18 tahunan yang lalu untuk mewawancarai pendengar program radioku. Saat itu orang Indonesia banyak yang berkumpul di sini. Di taman ini pula aku bertemu pendengar setia dari Aceh yang bernama Banta, dan akhirnya beberapa hari setelah itu aku pun mengunjungi pabrik tempat kerjanya untuk shooting acara TV NHK. Saat itu taman Ueno masih tanah merah belum memakai trotoar.

Kami sampai di depan Museum dan kaget membaca bahwa kami harus antri 60 menit sebelum bisa masuk ke dalam museum. Wah terlambat! Jadi ingat kejadian yang hampir sama waktu aku, Riku dan Kai datang ke situ untuk menonton pameran Cumi-cumi besar dan harus antri 3 jam! Wah mending ngga usah deh…dan memang akhirnya kami batalkan pergi ke pameran itu. Tapi kali ini HANYA 60 menit, dan kami berempat jadi masih bisa sabar menunggu 1 jam. Meskipun… banyak godaan untuk kesal 😀

Dibandingkan dengan Indonesia tentu antri di Jepang sangat teratur. Tapi hari itu hari libur, jadi banyak yang datang ke museum itu sekeluarga. Dan anak-anak tentu tidak bisa menunggu dengan tenang. Tapi itu bisa aku maklumi. Yang aku tidak bisa mengerti jika yang datang ibu bapak dan balita yang masih duduk di babycar. Siapa sih yang mau menonton di museum? Ibunya? Bapaknya? Tidak mungkin dong anaknya 🙂 Aku tidak melarang loh pasangan muda membawa anak balitanya ke mana-mana, tapi lihat tempat dong. Kasihan dong anaknya kalau harus menunggu 1 jam. Orang dewasa saja bosan, apalagi anak-anak. Aku dan Gen berbicara dalam bahasa Indonesia mengenai hal ini, dan kami dulupun waktu anak-anak masih balita, tidak pernah mengajak belanja di mall, atau ke museum, atau ke tempat yang penuh orang, karena KAMI TIDAK MAU MENGGANGGU ORANG LAIN. Aku paling tidak bisa mengerti waktu melihat seorang ibu muda yang mendorong bayinya masuk BUTIK di pusat pertokoan terkenal, hanya untuk belanja bajunya! Apa salahnya titip dulu deh kepada orang tuanya, atau pasangannya lalu belanja. Lebih cepat dan lebih nyaman. Pasti! Ah… seorang ibu itu MEMANG harus berkorban kok untuk bayinya. Kalau merasa tertekan, ya justru harus berpisah sebentar dengan bayinya. Daripada saking kesalnya bayi itu dicederai kan? (Banyak kasus ibu-ibu stress membunuh anaknya sendiri di Jepang)

tiket museum untuk pameran Dinosaurus yang berlangsung sampai tgl 23 Februari

Ok, akhirnya…setelah satu jam lebih, kami bisa masuk ke pameran DINOSAURUS dari Gobi Desert di Mongolia. Aduuuh kalian musti lihat deh betapa banyaknya pengunjung di pameran itu. Heran deh orang Jepang kok suka ya dengan pameran seperti ini? Bayarnya cukup mahal loh 1500 yen (Rp 150.000) untuk dewasa. DAN mereka mengerti dan hafal nama-nama jenis dinosaurus itu loh! Tidak lelaki tidak perempuan, banyak yang suka dan mengerti tentang dinosaurus. Terdengar percakapan sana-sini yang mencerminkan mereka TAHU tentang dinosaurus. Aku bisa bayangkan kalau orang Indonesia masuk sini pasti cepat-cepat jeprat-jepret berfoto bersama lalu sudah pulang hihihi.

Aku tidak hafal jenis-jenis dinosaurus, meskipun aku tahu dinosaurus ada yang herbivora, pemakan tumbuhan dan ada yang carnivora pemakan daging. Jadi aku memang cuma ikut-ikutan Riku dan Gen berkeliling dan memotret tulang-tulang yang dipamerkan. Nah, di museum ini memang diperbolehkan memotret, tapi ada keterangan kalau mengupload di internet harus minta ijin dulu. Yaaah, terpaksa deh postingan kali ini tidak bisa aku  sertakan foto-foto yang bagus-bagus, karena aku malas minta ijin. Kalau mau lihat kasih tahu saja, supaya aku beri ijin hanya pada orang yang memang berminat dan berjanji tidak menyebarkan. Soalnya, aku merasa penemuan-penemuan ini hebat sekali. Ada replika yang dipamerkan, tapi kebanyakan adalah tulang asli yang ditemukan di gurun Gobi itu. Duuuh betapa peninggalan yang berharga sekali. Dan yang paling mengharukan adalah ditemukannya 15 telur yang belum menetas, jadi kita bisa melihat tulang belulang bayi dino yang ternyata kecil!

Rangkaian pameran diakhiri dengan pemutara film jenis dinosaurus dan kami digiring keluar melewati toko souvenirs. Tentu saja banyak orang yang membeli cendera mata di sini, termasuk anak-anakku. Kami membiasakan mereka memilih satu souvenir seharga 500 yen sebagai kenang-kenangan bahwa sudah pernah pergi ke suatu tempat. Tapi Gen membelikan mereka pictorial book mengenai dinosaurus dari gurun Gobi dan itu cukup mahal huhuhuhu…. (kalau aku sih tidak perlu deh hehehe)

di depan museum, masih ada sisa-sisa salju

 

7 Replies to “Bertemu Dinosaurus

  1. Itu potonya kenapa merem Mba? Hehehe. *salah fokus*
    Saya termasuk yang selalu membawa anak ke mall pake stroller Mba soalnya ga ada yang bisa dititipin. T.T
    Pamerannya pasti keren sekali. Orang Jepang suka sama dinosaurus ya. Saya baru tahu. Apa karena sering ada cerita monster yang bentuknya mirip dinosaurus ya yang jadi lawannya tokoh-tokoh macem ultraman dan sebagainya? Hehehe.

  2. Orang Jepang liburan banyak yang ke Museum, sebagian siswa Indonesia ke Museum kalau ada tugas dari sekolah. Kalau boleh memilih mereka lebih suka ke mall daripada ke museum, hehehe…

  3. Riku dan Kai sudah terbiasa sehingga bisa menikmati main dan belajar di museum ya mBak EM. Gurun Gobinya sudah menggelitik apalagi dinosaurus dari gurun tsb pasti banyak yang penasaran. Salam

  4. Mbak EM, anakku umar suka sekali dengan dinosaurus. Dia suka film dino Dan. Dia hafal beberapa dinosaurus, kebiasaannya, dan makanannya. Kalo boleh aku mau mbak foto-foto dinosaurus yang di musium. Kalau mbak EM berkenan bisa di email ke Puteriamirillis@gmail.com. Terimakasih mbak.

    Saya juga termasuk ga suka bawa-bawa anak batita ke mana-mana yang justru merepotkan dan bikin cape anak.

Comments are closed.