12 Jam Doraibu

18 Nov

Setelah menuliskan Sehari Tanpa Gadget : Doraibu, akhirnya deMiyashita bisa mempunyai waktu libur yang pas semuanya libur, yaitu hari Minggu kemarin, mulai dari jam 12 siang sampai 12 malam lebih. Kok siang sekali berangkatnya? Ya, karena kami harus menunggu Riku yang ke gereja dan ikut sekolah Minggu sampai jam 11. Aku dan Kai sudah ke gereja sabtu sorenya, mengikuti misa berbahasa Indonesia di gereja Meguro, sedangkan Riku belum.

Kemana selama 12 jam? Yang pasti kami pergi ke dua prefektur: Kanagawa dan Shizuoka. Sebelum kami jalan, kami menjemput ibu mertua dulu di Yokohama. Saat itu kami belum tahu mau ke mana, tapi sudah pasti tidak mau ke arah pelabuhan dan kota Yokohamanya, karena ada pertandingan marathon wanita. Jadi kami melarikan mobil ke arah Odawara dan paling tidak mengunjungi Ashinoko, Hakone tempat yang bisa melihat daun-daun merah-kuning ciri khasnya musim gugur, dan gunung Fuji. Momijigari! (Mencari pemandangan musim gugur)

Tapi hampir jam setengah 2 kami baru sampai di Ninomiya, dekat Odawara padahal kami sudah lapar sekali. Kebetulan ada rumah makan Jepang bernama Ebiya, kami langsung parkir saja di situ. Ternyata rumah makan ini menyediakan segala macam masakan ikan, udon dan soba. Maklum tempatnya dekat laut (Odawara), jadi aku memesan ikan Bora bakar, ibu mertua ikan Isaki bakar dan sazae (sejenis kerang), sedangkan Gen dan Riku makan nasi dengan ikan teri mentah dan Kai sashimi. Karena lapar semuanya enak 😀 Rupanya ibu mertuaku jarang bakar ikan karena memang makan waktu dan bau ke mana-mana ya. Jadi dia senang sekali bisa makan ikan bakar.

Makan siang terlambat di Ebiya. Kiri atas: sejenis kerang bernama Sazae. Kiri bawah nasi dan ikan teri mentah. Kanan bawah Ikan Bora bakar

Setelah makan kami menuju ke Hakone dan kebetulan ada papan penunjuk “Ichiya Castle” (harafiahnya : Kastil Satu Malam), langsung Riku berkata: “Aku mau ke situ, itu kan tempatnya si bla bla bla”. Aku tidak menyimak tapi bangga anakku tahu sejarah negaranya sendiri 🙂 Jadi kami mampir menuju peninggalan castle Ichiya. Tapi untuk melihat castlenya harus mendaki sedangkan aku pakai rok dan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Ibu mertua juga tidak bisa mendaki, sehingga aku, Kai dan ibu mertua tunggu di rest area. Rest areanya juga bagus tempatnya, ada sebuah restoran bakery, tenpat penjualan hasil ladang dan bunga, serta hamparan ladang jeruk sedangkan di kejauhan terlihat pantai yang biru. Sementara kalau lihat di atas bukit bisa terlihat ray of light yang indah. Sayang kamera Nikonku dibawa Gen mendaki sehingga aku hanya ada kamera digital, yang kurang bisa menangkap ray of light nya.

Ishigakiyama, Ichiyajo yang tinggal situsnya saja (tidak ada bangunannya)

Menurut Riku, Ichiyajo artinya kastil yang dibangun 1 malam. Maksudnya BUKAN kastil sungguhan pada jaman Toyotomi Hodeyoshi. Untuk mengelabui musuhnya dibangunlah bangunan semi permanen yang dari jauh terlihat seperti kastil padahal dalamnya kosong. Menurut wikipedia selama pemerintahan Toyotomi ada dua kastil yang termasuk dalam ichiyajo yaitu Sunomatajou dan Ishigakiyamajou. Yang kemarin kami pergi itu namanya Ishigakiyamajou.

Rest area di Ichiyajo. Kai bergaya di kebun jeruk

Setelah berbelanja tanaman hias dan jeruk, kami meninggalkan tempat ini. Sudah pukul 4, dan kupikir Gen akan mengarah pulang. Ternyata dia masih mau mencari tempat wisata di sekitar tempat itu. Dan aku teringat sebuah hotel yang bernama FUJIYA, yang mempunyai arsitektur dan taman yang indah. Cocok untuk berfoto di sana. Lagipula aku ingat pernah pergi ke sana dengan mama dan papa. Ah jadi kangen mama, untung aku sudah tidak menangis lagi jika teringat alm. mama (kecuali pas down a.k.a PMS :D) Jadi kami bermobil menuju hotel itu menyusuri jalan menanjak yang berliku-liku. Pemandangannya bagus di sebelah kanan, tapi kami juga harus melihat antrian mobil yang sedang turun. MACET! Wah, kalau pulangnya nanti musti ikut antri di belakang antrian itu….. membuat hati ini terasa berat. Tapi kemudian ibu mertuaku bilang, kalau pulang lewat jalan lain saja, dan memang dulu kami pernah melewati jalan lain itu.

Kami sampai di hotel Fujiya sudah pukul 4:45, dan senja sudah mulai menggelapkan pandangan. Saat itu di hotel yang terkenal dengan keaslian dan kemahalannya itu masih dipenuhi dengan tamu dari dua pernikahan. Kupikir kalau perlu kami bisa duduk di cafe dan ngopi. Tapi ibu mertuaku bilang dia mau membeli roti di toko hotel. Jadi kami ikut lihat-lihat di sana. Oh ya hotel ini terkenal dengan kare dagingnya. Jadi aku juga membeli pack berisi kare daging untuk oleh-oleh. 

Kai yang belanja roti sendiri (pakai uang sendiri) di hotel Fujiya

Ada satu yang lucu di toko roti ini. Kai yang membawa dompetnya sendiri, ingin membeli SATU roti yang paling murah. Dia lihat dari harga roti dan memilih yang seharga 270 yen. Aku tahu dia mau bayar sendiri, jadi aku biarkan dia membawa roti yang dia ingin beli ke kasir. Untung saat itu kasirnya tidak ada orang, dan gadis penjaga kasir juga melayani Kai dengan ramah. Kai memang sudah bisa berhitung sedikit, dan dia tahu kalau dia memberikan 300 yen akan dapat kembalian. Jadi dia ambil 300 dari dompetnya dan memberikannya ke kasir. Dari jauh aku dan Gen melihat Kai yang berani dan berlagak seperti anak besar. Ah…. dia sudah bukan anak kecil lagi, sedikit demi sedikit dia akan mandiri. Jadi terharu deh…..

Setelah membeli roti kami keluar ke taman yang indah. Untung kami bisa mengejar terang senja dan masih bisa berfoto di situ. Sementara itu mulai banyak tamu yang keluar untuk menikmati keindahan senja dan lampu yang menerangi hotel dan taman. Persis pukul 5:05 kami meninggalkan parkir hotel. Kok tahu itu pukul 5:05? Ya, karena ada pemberitahuan lewat speaker bahwa sudah pukul 5:05 dan penangkapan babi hutan untuk hari itu selesai. Rupanya banyaknya babi hutan yang berkeliaran membuat pemda menginjinkan perburuan babi hutan di sekitar daerah itu.

Hotel Fujiya, Hakone

Tentu kami memakai jalan yang lain dan menjauhi jalan menurun yang masih macet. Tentu sambil melihat navigator dan GPS dari HPku. Car navigator kami sudah berusia 3 tahun dan selama 3 tahun itu sudah ada beberapa perubahan yang terjadi di daerah itu. Kami sampai di rumah mertua pukul 10 malam. Jalan toll macet cukup parah dan membuat kami harus duduk lama di mobil. Setelah istirahat sebentar di rumah mertua kami pulang ke Tokyo dan sampai di rumah pukul 12 malam. Tentu saja anak-anak sudah tertidur semua 😀

Perjalanan 12 jam doraibu (bermobil) yang nariyuki (tanpa tujuan awal) yang melelahkan tapi cukup menyenangkan.

15 Replies to “12 Jam Doraibu

  1. That’s you, k imel 🙂 you can always make simple things more beautiful 🙂 ah, kai.. Lucunyaa.. Cium gemesh dari aunty eka yaa..

  2. wah pasti cape ya… tapi hotel nya bagus banget view nya ya mbak…

    btw tanpa gadget bisa… tapi bisa gak kalo tanpa kamera mbak? hahaha

  3. kaang perjalanan tanpa tujuan bisa lebih menyenangkan ya mbak. Jadi inget Pascal waktu Alvin minta dibelikan sesuatu dia bilang bayarnya pakai uang dia aja

  4. Baru tau ikan teri mentah bs lgs dimakan :p
    Btw aku seneng deh kl mbak imel suka nyelipin istilah bhs jepangnya 🙂

    • Di Jepang kan makan ikan mentah, hampir segala jenis. Tapi ada beberapa ikan yang memang tidak bisa dimakan mentah, entah dia banyak duri atau cepat busuk

      Hehehe jadi bisa belajar bahasa Jepang sekalian ya?

  5. wah menu ikannya menggoda sekali mba..
    makanan jepang yang paling bergizi itu katanya yang dari ikan, tapi untuk salmon yang mentah di sushi saya belum doyan 🙁
    cara makan sushi salmon gimana mba?

    • sushi salmon mentah memang agak sulit dimakan. Caranya? Pakai kecap dan wasabi banyak-banyak hehehe. Atau ada cara lain yang diberi nama :aburi, yaitu dibakar bagian atasnya saja. Enak loh ada bau bau asap gitu

  6. saya suka sekali sama ikan.. tapi kalau mentah enggak tau 😀
    hai kak imelda.. salam kenal ya
    aku teman baru disini, kunjungan perdana 😀

    suka baca tulisannya blog personal juga 🙂 .

Comments are closed.