Donguri

Hari ini waktu menjemput Kai pulang dari TK, aku membiarkan dia bermain di halaman TK nya. Aku selalu senang karena TKnya mempunyai halaman yang cukup luas untuk anak-anak bermain, berlari bahkan bermain pasir. Dan sejak 2 tahun lalu ada tambahan lahan kecil di bagian belakang halaman itu yang belum ditanami apa-apa, hanya diberi rumput artifisial yang lembut. Karena tanahnya lebih rendah dari halaman TK sehingga membentuk sebuah perosotan alami dengan rumput artfisial. Dan kalian musti melihat murid-murid TK ini berguling-guling di tanah! Aku bisa bayangkan betapa menyenangkannya.

Kai tidak begitu suka bermain dengan orang lain. Dalam arti dia lebih suka bermain sendiri, jika teman akrabnya tidak ada. Biasanya dia bermain perosotan atau jungle jim, tapi hari ini dia menyusuri tepian halaman TK untuk mencari donguri! Aku juga jadinya membantu dia mencari dan mengumpulkan donguri.

donguri hasil pungutannya Riku. mirip mlinjo kan? 

donguri koro koro donburi ko                                               
oikeni hamatte sa taihen 
dojouga dete kite konnichiwa
botchan isshoni asobimashou

donguri korokoro yorokonde
shibaraku isshoni asondaga
yappari oyama ga koishito
naiteha dojouwokomaraseta

Sebuah lagu anak-anak yang pasti bisa dinyanyikan semua anak Jepang! Aku pun tahunya dari Riku waktu dia masih di penitipan Himawari, masih usia 3 tahun. Dia yang mengajari mamanya 😀 Tapi memang lagu ini begitu sederhana dan mudah diingat. Diciptakan oleh Aoki Nagayoshi (1879-1935) pada tahun 1921 dalam buku Kawaishouka かわいい唱歌 dan terdiri dari dua bait.  Bait pertama menceritakan tentang donguri (biji pohon) yang jatuh ke rawa. Lalu dojou (lele) datang dan menyapanya : konnichiwa sambil berkata “Hei ayo main bersama”. Bait kedua isi: donguri sangat senang dan bermain bersama, tapi dia kangen pada gunung dan menangis membuat si lele susah.

partitur lagu Donguri korokoro

Lagu anak-anak ini kemudian resmi diajarkan di sekolah dasar pada mata pelajaran musik pada tahun 1947. Bahkan lagu ini menurut Kindaiichi Haruhiko, seorang linguist Jepang terkenal, merupakan satu dari 3 lagu anak Jepang terbaik. Dan pada tahun 2007 terpilih masuk ke dalam 100 lagu Jepang terkenal. Karena lagu ini sudah lewat masa penggunaan hak cipta, sekarang menjadi milik umum public domain. Karena itu aku juga berani memasang lagu itu di sini.

Doguri koro-koro

 

NB: Kalau aku mendengar kata koro-koro, langsung teringat bahasa Makassar yang artinya marah-marah atau ngambek. Yang pasti dongurinya ngga ngambek kok 😀

Yang pasti donguri dan DONBURI itu lain loh. DONBURI itu adalah makanan berupa nasi dalam cawan dan diatasnya diberi lauk (jenis apa saja).

Satu lagi catatan: semacam donguri yang namanya Ginnan dijual dengan harga yang cukup mahal. Biasanya dibakar sebagai sate dan nikmati dagingnya dengan garam saja. Atau dimasukkan dalam cawan mushi. Rasanya ada pahit-pahitnya tapi itu yang membuat enak. Nah aku pernah melihat acara TV di Jepang yang menayangkan bahwa jika kita memungut ginnan di jalanan Tokyo maka kita tidak perlu membayar apa-apa, silakan dibawa pulang. Karena ginnan yang telah jatuh dari pohon itu sudah dianggap sebagai sampah.

biji ginnan waktu masih muda. Aku pungut dari jalanan di univ W pada bulan Juni