Kira kira

Dalam bahasa Indonesia tentu sudah tahu artinya kira-kira itu apa ya? Tapi kira kira juga ada di bahasa Jepang, dan berarti mengkilat, cemerlang, bercahaya kelap-kelip dan yang paling tepat menggambarkan nuansa kira kira itu adalah bintang di langit.

Kira kira hikaru
Yozorano hoshi wo
(Twinkle twinkle little star versi bahasa Jepang)

Tadi sore aku dan Kai menghabiskan waktu berdua selama 2,5 jam di pertokoan stasiun dekat rumahku. Terpaksa buang waktu begitu karena Riku minta diantar ke bimbel. Dia sedang aras-arasan tidak mau pergi belajar di bimbel. Tapi kalau aku boloskan, dia akan tambah malas dan tambah tidak belajar. Mau tidak mau aku mengajak Kai dan kami bertiga naik bus ke stasiun. Hari hujan sehingga tidak bisa naik sepeda. Nah, karena aku tidak mau bayar extra untuk bus pp (¥420 atau 42000) aku bermaksud menghabiskan waktu di pertokoan stasiun.

Karena lapar kami berdua pergi ke restoran murah di dekat stasiun dan bermaksud melewatkan dua jam di situ. Mumpung drink bar jadi bisa minum apa saja sebanyak berapa saja. Tapiiii Kai membuyarkan keinginanku karena dia ingin “tugas negara” dan wc nya terletak di luar restoran. Malas untuk keluar masuk restoran dan meninggalkan barang-barang di kursi, aku menyelesaikan pembayaran dulu sebelum ke wc.

Berarti aku harus mencari tempat lain untuk melewatkan waktu satu setengah jam lagi. Dan akhirnya aku berjalan mengitari toko-toko di lantai 3 pertokoan itu. Di situlah aku sadar bahwa Kai suka segala yang kira kira, sama seperti mamanya 😀 Tiba tiba dia berkata :”Mama aku barusan lihat ada kalung yang cocok untuk mama” dan dia menunjukkan sebuah kalung seharga 4000 yen.
“Bagus ya” kataku.
“Mama beli dong”
“ngga ah mahal!”
Dan dia menunjuk lagi kalung dan anting anting di toko lain. Semuanya kira kira dehhh

Baru dia kemudian sadar bahwa aku memakai bros yang kira kira.
“Itu mama beli yang mahal, kok ngga mau beli yang itu? Aku mau dong…. ”
Wah jangan sampai ah dia jadi suka perhiasan wanita, jadi aku bilang
” ini dari oma, yang beli oma. Tapi Kai ngga boleh ah pakai perhiasan seperti ini. Seperti perempuan ahhhh”
“Aku ngga pakai, aku mau simpan, kan bagus kira-kira…”
“OK kalau begitu, nanti mama kasih yang sudah rusak tapi kira-kira untuk Kai simpan ya…”
“Asyikkkkk…”

Aku jadi ingat juga, hari minggu lalu ada bazaar kecil di gereja, yang menjual piring-piring bekas. Dan Kai tertarik membeli piring yang berwarna emas! Waduuuh dia mau loh beli itu pakai uang sakunya 😀 Meskipun bisa beli satuan, karena cuma ada 5 biji, terpaksa deh aku beli 4 yang lain, supaya bisa satu set. Tapi ada piring hijau, dia beli khusus untuk dia sendiri!!! Dan begitu sampai rumah, dia cuci dan setiap makan dia pakai “My Piring” deh….

piring (dan mangkok) hijau dengan kira-kira emas 😀 itu yang menjadi “My Piring” nya Kai, sedangkan mangkuk emas di kanan yang pertama dibeli Kai, sampai aku terpaksa beli satu set deh 😀 Untung tidak mahal (karena bazaar)

Aneh ngga sih anak laki-laki seperti Kai?

NB: Kira kira termasuk dalam gitaigo (onomatope untuk menggambarkan kondisi), seperti yang telah aku tulis juga dalam komentarku di tulisan mas NH18 yang ini.

Hati-hati dengan tasmu

Ah, tentu saja kita harus berhati-hati dengan tas kita masing-masing. Kalau meletakkan sembarangan, ya tentu bisa mengundang orang yang punya niat tidak baik untuk mengambilnya (baca: mencuri) . Aku sendiri di Tokyo sering pakai ransel, tapi kalau di Jakarta tidak berani, karena takut disilet dan tidak tahu bahwa tasnya sudah terbuka. Sedapat mungkin tas dibawa ke mana-mana, sehingga tas cangklong itu yang paling praktis.

Tapi aku ingin menulis bahwa kita juga perlu berhati-hati waktu membawa tas geret, apalagi di Jepang. Kita sering memakai tas geret (semacam koper kecil dengan roda) waktu bepergian 1-2 hari, sehingga cukup memasukkan koper kecil itu dalam cabin, tidak usah cek in. Tapi di Tokyo akhir-akhir banyak wanita muda yang membawa tas geret model begitu padahal tidak sedang bepergiaan. Mereka membawa tas itu supaya bisa belanja dulu sebelum pulang kerja, dan menyimpan belanjaan yang berat (seperti beras) dalam tas geret itu. Tapi masalahnya sekarang jika membawa tas geret itu di stasiun atau jalanan padat, tas itu amat sangat mengganggu pejalan kaki. Banyak orang yang tidak melihat bahwa ada tas geret di belakang wanita itu sehingga bisa tersandung tas itu, dan menimbulkan kecelakaan yang cukup fatal.

Taruh ransel di depanmu….Peringatan di dalam gerbong kereta

Selain tas geret ada lagi ransel yang sering menjadi masalah dalam gerbong kereta yang penuh penumpang. Sampai-sampai perusahaan kereta perlu memperingatkan penumpang yang membawa ransel untuk menurunkan ranselnya, atau mendekapnya di bagian depan. Ransel yang tetap dipakai di punggung itu sangat mengganggu penumpang lainnya, dan parahnya pemakai ransel tidak menyadari bahwa ranselnya itu sebenarnya mengganggu.

Dan ada satu lagi kejadian yang terjadi padaku minggu yang lalu. Waktu itu aku begitu sampai di kampus W, tanpa menaruh tas dulu di ruang guru, langsung masuk toilet. Tentu saja sambil membawa tasku yang memang cukup besar. Memang biasanya kalau aku masuk ke toilet itu, suara otohime (alat yang mengeluarkan bunyi air untuk etiket, menutup “suara-suara” yang tidak enak waktu ke belakang) akan berbunyi. Jadi waktu itu aku tidak merasa apa-apa. Tentu saja aku cantelkan tas di balik pintu, dan duduk di wc. Tapi tak lama aku mendengar bunyi semacam sirine yang aneh, dan staf kantor guru datang dan menanyakan, “Ada yang perlu bantuan?”… lah ada apa ini?

Baru aku sadar ternyata tasku yang besar itu menyentuh tombol emergency yang rupanya baru dipasang di sana. Tombol itu menyala. Loh, ternyata aku penyebabnya? Langsung aku berkata: “Tidak apa-apa. Kelihatan tas saya yang menyentuh tombol itu. Saya sendiri tidak apa-apa…..” Wah cukup malu gara-gara tas besar aku membuat satu gedung panik. Petugas satpam juga datang untuk mengetahui apa yang terjadi, dan mematikan fungsi emergency alert. Malu deh…. Ah, aku jadi teringat juga pernah kejadian yang sama, waktu aku melahirkan Riku. Mama yang tidak tahu bahasa Jepang, salah menekan tombol emergency, disangka tombol flush. Memang orang asing sering melakukan kesalahan ini. Tapi, untuk kasusku, bukan aku yang salah tekan tapi si tas yang salah tekan hahaha (tidak bertanggung jawab sekali ya, menyalahkan si tas :D). Sejak itu aku pasti menaruh tas dulu di ruang guru baru ke wc. Memang wcnya kecil sih (dan akunya gede gitu loh haha)

Yang tombol oranye kanan itu yang emergency, jadi kalau itu ditekan, semua petugas bergegas datang 😀 (Ini toilet di dalam stasiun Kichijoji Inokashira line)

Karena itu bagi teman-teman yang akan jalan-jalan/berwisata ke Jepang, hati-hati ya. Waktu masuk WC (toilet) terutama di stasiun, RS, tempat-tempat umum yang bagus, pasti ada tombol emergency di dalam toilet, yang berwarna oranye. Jadi jangan sampai salah tekan ya.

Tentu kita harus berhati-hati agar tas kita tidak diambil orang, tapi kita juga harus berhati-hati dan memperhatikan apakah tas kita itu mengganggu orang lain atau mengganggu ketertiban umum tidak 😀

Pernah punya kejadian tidak enak dengan tas mu?

Hujan, Pelangi dan Batik

Hari kedua Oktober. Begitu kubuka situs socmed terkenal itu, aku diingatkan bahwa hari ini adalah hari “Batik”. Aku sebetulnya agak tidak setuju jika kami diharapkan memakai baju batik di sini. Entah kenapa, mesti tanggal 2 Oktober itu, yang pernah kualami cuacanya sama sekali tidak cocok untuk berbatik ria. Entah dingin, entah badai, entah hujan, atau… bukan hari “keluar rumah” untukku 😀

Seperti yang kukatakan pada sahabat blogger Drajat, batik itu memang cocoknya untuk udara panas. Jadi kalau musim panas di sini, aku lebih suka memakai batik, karena benar bahan batik itu jauh lebih menyejukkan daripada baju lainnya. Tapi ya itu, belum ada coat batik untuk musim dingin, jas hujan batik untuk dipakai waktu musim hujan, atau…. payung bermotif batik 😀 Semestinya kalau ada payung motif batik, seru juga ya. Pasti menjadi pusat perhatian. Tapi kalau ketinggalan di kereta seperti kejadian payung vynilku minggu lalu, pasti menyesal deh. Tapi hebatnya, kalau memang ada payung batik, pasti bisa ditemukan kalau mau mencari. Tinggal pergi ke Lost and Found kantor stasiun, dan melaporkan kira-kira naik kereta yang jam berapa.

Jadi ya memang hari ini aku tidak memakai batik waktu pergi mengantar-jemput Kai di/ke TK. Pagi hari hujannya begitu deras dan agak dingin sehingga aku memakai baju yang agak tebal saja. Pulangnya sudah tidak hujan, tapi tidak sempat ganti baju. Tapi aku selalu pakai taplak batik kok di rumah **pembelaan**

Memang Jepang sedang tidak stabil cuacanya. Pagi tadi diberitakan ada Badai No 22 mendekat, sementara no 23 juga timbul di perairan filipin. Badai di Jepang bernomor, sesuai dengan saat timbulnya. Jadi sudah ada 23 badai yang timbul di perairan Pasifik selama ini. Besok kalau ada badai lagi, pasti akan dinamakan Badai No 24 dst. Kadang tiba-tiba terdengar Badai No 30 padahal kita tidak tahu ada badai nomor-nomor sebelumnya. Itu berarti badai nomor-nomor sebelumnya tidak “mendarat” atau mendekati kepulauan Jepang.

Yang menjadi perhatian kami, bagaimana cuaca nanti hari Sabtu tgl 5 Oktober. Karena pada hari itu akan diadakan Undokai, Festival Olahraga untuk TK nya Kai. Kali ini Kai nenchogumi (kelas teratas) sehingga merupakan undokai yang terakhir sebelum masuk SD.  Rencananya Kai akan memainkan belurira Glockenspiel, lalu ada senam ritmik juga. Kalau sabtu hujan, berarti ditunda hari Minggu atau Senin atau Selasa. Kalau mau ikuti kehendaknya deMiyashita sih, kalau bisa diadakan hari Minggu supaya papa Gen bisa ikut menonton. Kalau Sabtu dia kerja.

Hujan memang sering tidak diharapkan manusia. Semua tindakan bisa menjadi lambat dengan turunnya hujan. Tapi setelah hujan berhenti, pelangi yang indah mungkin akan menghiasi angkasa. Sama seperti sore ini ketika aku pulang dari belanja. Waktu bersepeda pulang, aku melihat ada dua ibu sedang memandang ke angkasa arah timur. Begitu aku menoleh, waaaahhh aku lihat pelangi. Memang indah. Sambil mengayuh cepat aku berpikir, keburu tidak ya memotret dari rumah? Biasanya pelangi cepat hilang. Akhirnya aku menghentikan sepeda di depan sebuah ladang. Pemandangan dari situ indah sekali. Cepat-cepat kukeluarkan iphone ku dan… ini hasilnya.

harus ambil dua kali, kiri dan kanan

 

Untung saja aku mengambil di depan ladang itu, karena ternyata waktu aku mau ambil foto dari beranda apartemenku yang terletak di lantai 4, tidak bisa masuk semua dalam lensa.

dari beranda rumahku, dengan memakai fungsi panorama

Dan aku diingatkan ekubo sisterku sebuah lagu dari Jamrud: Pelangi di matamu.

Kalau kamu melihat atau mendengar soal pelangi, ingat apa?

 

Hari untuk Warga Tokyo

Tanggal 1 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila untuk bangsa Indonesia. Tapi kami di Tokyo merayakan “Tomin no hi 都民の日” Kalau diterjemahkan menjadi “Hari untuk Warga Tokyo”. Pada hari ini, 115 tahun yang lalu, Tokyo berubah dari Kota Khusus menjadi kota dengan model pemerintahan yang sama dengan prefektur lainnya, dan mempunyai gubernur. Jadi bisa saja dikatakan sebagai hari ulang tahun “kota” Tokyo yang ke 115. Kok masih muda? Ya tentu saja, karena Tokyo sebelumnya bernama Edo kan? 😀

Nah, yang kadang merepotkanku adalah bahwa tanggal 1 Oktober itu merupakan hari libur untuk TK dan sekolah pemerintah daerah, jadi Riku dan Kai libur pada hari ini. Untung saja hari ini aku tidak ada kuliah di universitas sehingga tidak perlu pusing mengatur “anak-anakku mau dikemanakan” :D. Sayangnya malam harinya aku harus menyetir dan mengajar di Meguro sehingga aku tidak bisa mengajak anak-anak bermain siang harinya. Ya memang mendung sih, tapi biasanya kalau hujan rintik saja tidak menghalangi kita untuk jalan-jalan.

Tanggal 1 Oktober Kebun Binatang Ueno gratis!

Salah satu “kehebatan” pemerintah daerah Tokyo pada hari Warga Tokyo ini adalah, menggratiskan banyak taman dan tempat hiburan yang dikelola pemerintah daerah Tokyo. Hari minggu kemarin aku sempat pergi ke Museum Science di Ueno, yang rencananya untuk melihat pameran Deep Sea, tapi karena harus antri untuk masuk dan menunggu 100 menit, aku dan anak-anak (Gen bekerja)  membatalkan rencana pergi ke museum. Padahal kami sudah punya tiket masuknya. Nah, saat itu aku mengetahui bahwa pada tanggal 1 Oktober itu Kebun Binatang Ueno dibuka gratis untuk umum. Tapiiiii belum tentu aku mau pergi loh, karena sudah pasti banyak sekali orang tumplek di sana, sedangkan aku benci kerumunan orang.

Tahun ini ada 19 tempat yang bisa didatangi gratis yaitu:

1. Hamarikyu Onshi Teien  浜離宮恩賜庭園 (Stasiun JR Shinbashi)

2. Shiba Rikyu Onshi Teien 旧芝離宮恩賜庭園 (Stasiun JR Hamamatsucho)

3. Koishikawa Korakuen 小石川後楽園 (Stasiun JR Iidabashi)

4. Rikugien 六義園 (Stasiun JR Komagome)

5. Kyu Iwasakitei  Teien 旧岩崎邸庭園 ( StasiunJR Okachimachi)

6. Mukojima Hyakkaen  向島百花園 (Stasiun Keisei Ikifune)

7. Kiyomizu Teien  清澄庭園 (Stasiun Metro Kiyomizu Shirakawa)

8. Kyu Furukawa Teien 旧古河庭園 (Stasiun JR Magome)

9. Tonogayato Teien  殿ヶ谷戸庭園 (Stasiun JR Kokubunji)

10. Jindai Shokubutsu Koen 神代植物公園 (Stasiun JR Kichijouji)

11. Tama Dobutsuen 多摩動物公園 (Stasiun Keio Tama Dobutsu Koen)

12. Onshi Ueno Dobutsuen 恩賜上野動物園 (Stasiun JR Ueno)

13. Kasai Rinkai Suzokuen 葛西臨海水族園 (stasiun JR Kasai Rinkai Koen)

14. Inokashira Shizen Bunkaen 井の頭自然文化園 (stasiun JR Inokashira)

15. Yumenoshima Nettai Shokubutsukan 夢の島熱帯植物館 (Stasiun JR Shinkiba)

16. Tokyowan Yacho Koen  東京港野鳥公園 (Stasiun JR Oomori)

17. Tokyoto Edo Tokyo Hakubutsukan (kecuali pameran khusus bayar) 東京都江戸東京博物館 (stasiun JR Ryogoku)

18. Edo Tokyo Tatemono en 江戸東京たてもの園 (stasiun JR Musashi Koganei)

19. Tokyoto Shasin Bijutsukan (Museum Fotografi)  東京都写真美術館 (stasiun JR Ebisu)

 

Daftar didapat dari : http://dot.asahi.com/life/lifestyle/2013093000032.html

Nah, ada 19 tempat, tinggal pilih mau pergi dan berminat ke mana. Ternyata di antara 19 tempat ini, aku baru pernah pergi ke nomor 10, 11, 12, 13, 14 dan 18… wuih masih banyak yang belum aku kunjungi. Masuk ke dalam daftar dulu deh soalnya hari ini tidak bisa keluar rumah.

Hari ini juga merupakan hari koromogae “pergantian baju musim” jadi ibu-ibu mulai mengeluarkan baju musim dingin karena memang udara sudah mulai sejuk.