Antara Semprit dan Semprong

Salah satu narablogger memakai nama di FB dengan NhHerSabarNyempritt, dan entah kenapa waktu  melihat kata “semprit” aku teringat kue semprong. Padahal ada juga loh kue semprit, biasanya terbuat dari sagu dan aku suka! Kalau kue semprong?

Waktu aku kecil dulu, sekitar kelas 4-5 SD, ada seorang penjual semprong yang secara rutin datang ke rumah kami untuk menjajakan kue semprongnya. Kue itu kebanyakan berbentuk roll dan dimasukkan ke dalam kaleng kotak seperti kaleng untuk krupuk di warung-warung begitu. Aku lupa apakah dia datang jalan kaki atau naik sepeda, tapi aku masih teringat wajahnya waktu berbicara dengan mama, di depan pintu masuk dekat dapur. Ah ya dulu rumah kami tidak mempunyai pintu pagar besar karena pintu masuk dipakai untuk dua rumah yang bersebelahan. Space di depan 2 garasi 2 rumah ini bisa masuk 6 mobil jika dipaksa, tapi kami sendiri hanya punya satu mobil, jadi kebanyakan space dipakai oleh tetangga kami yang punya 3 mobil.

Bapak penjual semprong ini pandai menjajakan dagangannya, sehingga biasanya mama membeli cukup banyak dan selalu mengingatkan agar jangan terlalu cepat datang lagi. Kalau setiap minggu datang, pasti kami kewalahan menghabiskan kue semprong itu. Bagi kami saat itu membeli kue semprong segitu banyak merupakan kemewahan, tapi Imelda kecil mengerti bahwa mama juga ingin membantu si bapak penjual semprong itu supaya jualannya laku. Hal yang sama yang dilakukan mama kepada kakek buah-buahan yang kadang mampir ke rumah kami menawarkan pepaya atau buah apa saja yang bisa dipikulnya. Kakek ini sudah tua dan bongkok tapi masih harus memikul buah-buahan.

Tapi dibanding kakek tua itu, aku masih mengingat jelasssss sekali wajah penjual semprong itu. Kenapa?

Dia berbicara seperti wadam dengan bibir yang lentur membuat gerakan-gerakan gemulai, meskipun suaranya biasa saja. Dengan gerakan tangan yang khas sekali. Sampa sekarang pun aku masih ingat jelas wajahnya. Hebat ya dia, sampai bertahun-tahun wajahnya tetap diingat oleh Imelda 😀 😀 😀 Dia tipe orang yang sering kita sebut sebagai #setengah lelaki #melambai #gemulai #wadam… apa lagi ya? Kalau di Jepang #Onee #half #okama dsb 😀 😀 😀

(dan aku mendengar suara semPRITTTTTT deh :D)

Maaf untuk postingan ini aku tidak pasang foto karena tidak punya foto kue semprit atau semprong hasil jepretan sendiri 😀

Kamu suka kue semprong? Aku makan kue semprong roll itu dimasukkan jari dan dipotel sedikit-sedikit…. lebih suka wafer sih, tapi kalau adanya semprong ya apa boleh buat kan?

Atau kamu pernah mengingat seseorang penjual atau apalah yang wajahnya terpatri di benakmu bertahun-tahun bahkan sampai sekarang, padahal namanya saja kamu tidak tahu?

 

 

Buku Cerita

Hari Minggu tanggal 13 Oktober, setelah menonton baseball, kami mengunjungi rumah mertua di Yokohama. Kebetulan adik Gen dari Sendai datang, dan juga keesokan harinya tante dari Wakayama juga mampir. Jadi secara tidak langsung kami bereuni di sana. Dan mengisi acara setelah makan siang, bapak mertuaku memutar film lama, The Guns of Navarones.

The Guns of Navarone

Aku langsung teringat bahwa aku sudah pernah membaca buku aslinya. Sebuah buku yang dikarang Alistair MacLean dengan judul Meriam Benteng Navarone (1957). Kenapa aku bisa ingat tentang buku ini, sebenarnya karena buku ini termasuk buku novel dewasa pertama yang kubaca dengan sembunyi-sembunyi waktu aku kelas 5 SD (atau 6 persisnya aku lupa)- sekitar tahun 1981. Sebelumnya aku hanya membaca buku-buku tipisnya Album Cerita Ternama, atau cerita-cerita anak-anak. Temanku yang tetangga di belakang rumah yang meminjamkan buku kakaknya itu kepadaku. Dia menyerahkan buku itu lewat pagar rumah, dan waktu selesai aku kembalikan juga lewat pagar kawat. Lucu juga kalau mengenang masa-masa itu.

Buku Meriam Benteng Navarone yang kupinjam. Setelah itu di Jepang aku membeli buku bekasnya yang berbahasa Inggris.

 

Dan karena aku takut tidak diperbolehkan baca buku setebal itu oleh mama, aku membacanya di kamar asisten di belakang. Mama memang tidak begitu senang membaca, lain dengan papa. Untuk soal buku, aku memang “anak papa” :D. Aku sembunyikan novel itu di bawah kasur asisten, dan kalau mau baca ya masuk kamar mereka dan baca di situ 😀 (Duh pengakuan dosa deh hehehhe). Tapi sesuai dengan keterangan tentang Alistair MacLean “Compared to other thriller writers of the time, such as Ian Fleming, MacLean’s books are exceptional in one way at least: they have an absence of sex and most are short on romance because MacLean thought that such diversions merely serve to slow down the action.” Jadi tidak ada dong cerita yang nyerempet-nyerempet begitu. Bahkan menurutku waktu itu ceritanya sulit dicerna. Ada dua buku Alistair yang kubaca yaitu Meriam Benteng Navarone ini dan HMS Ulysses, dan keduanya berat euy.

Tapi dengan buku berat ini, aku akhirnya menyenangi cerita spy, misteri dan detektif. Setelah itu bacaanku buku-buku Agatha Christie, Sidney Sheldon pinjam dari perpustakaan tapi kalau membeli sendiri aku hanya boleh membeli bangsanya Lima Sekawan dan Trio Detektif. Tentu Winnetou juga termasuk di dalam daftar bukuku. Untung saja waktu itu aku belum kenal Kho Ping Ho, coba kalau kenal jaman aku SMP bisa-bisa aku tidak belajar 😀

Baru setelah aku masuk SMA dan bahasa Inggrisku sudah cukup memadai, aku membaca buku roman berbahasa Inggris dari Mills and Boon (sekarang menjadi Harlequin) dan berkenalan dengan Barbara Cartland 😀 yang tipe ceritanya senada semua: Gadis miskin berkenalan dengan pria kaya. Cinderella stories deh. Lama kelamaan aku bosan dan memutuskan “persahabatan” dengan BC.

Jaman universitas aku sudah bisa membeli buku sendiri, dan menyukai buku-buku dari S. Mara Gd, V. Lestari dan Maria A Sardjono. Ingin membeli buku-buku Mills and Boon tidak bisa karena sulit mendapatkan buku bahasa Inggris saat itu. Sejak aku bisa membaca buku bahasa Inggris di SMA, aku tidak pernah lagi suka buku terjemahan jika tidak terpaksa sekali.

Sekarang buku-bukuku beragam, tapi sampai aku tetap merupakan fans  ketiga penulis wanita Indonesia dan buku romance Harlequin dalam bahasa Inggris karena membaca buku-buku mereka membuatku rileks dan bisa menikmati waktu “me Time” atau dalam perjalanan dalam kereta.

Hari ini adalah hari kelahiran seorang penulis cerita detektif Jepang yang bernama Edogawa Ranpo. Coba sebutkan nama ini dan bayangkan nama Edgar Alan Poe, mirip kan? Memang dia memakai nama ini, padahal nama aslinya adalah Hirai Tarou. Bukunya yang terkenal adalah Kaijin Nijumensou 怪人二十面相(かいじんにじゅうめんそう). Sayangnya aku belum pernah baca karya-karyanya. waktu kutanya apakah Gen pernah baca, ternyata dia tidak pernah baca. Gen sih jenis bacaannya susah seperti sastra klasik dan modern serta buku essei biologi. Eh tapi dia sudah menyelesaikan tetraloginya Pramoedya Ananta Toer loh (tentu saja terjemahan ke bahasa Jepang) .

Kamu suka buku cerita detektif?

Sssst aku sedang membaca ini:

Misteri Dilema Seorang Menantu

Bazaar dalam Hujan

Hari ini tanggal 20 Oktober ada bazaar di gereja kami, Kichijouji 吉祥寺. Memang aku pergi ke dua gereja, satu di Meguro yang merupakan komunitas umat Indonesia dengan misa berbahasa Indonesia oleh pastor Indonesia (setiap Sabtu sore pukul 5), sedangkan satu lagi di Kichijouji. Dan secara resminya memang aku terdaftar di Kichijouji sebagai kepala keluarga dengan dua anak. Riku juga ikut sekolah Minggu di sini (Minggu jam 9 pagi), sehingga aku tergabung dalam kelompok “orang tua Sekolah Minggu”. Kai yang tahun depan masuk SD, akan masuk Sekolah Minggu di sini. Sekolah Minggu memang dimulai dari kelas 1 SD.

Gereja Katolik Kichijouji ini mempunyai program tahunan, salah satunya adalah Bazaar yang dinamakan Minna no Hiroba みんなの広場 disingkat Minahiro yang selalu diadakan hari Minggu ketiga bulan Oktober. Tahun ini sudah tahun kedua aku ikut sebagai panitia pelaksana yang mewakili kelompok orang tua Sekolah Minggu. Karena ini kemarin pun aku pergi ke gereja untuk mempersiapkan kegiatan kelompok kami, padahal Kai masih demam dan menunggu di rumah bersama Riku.

menjual barang-barang sumbangan orang tua. Paling kanan terlihat candy wreath yang dibuat bersama

Kelompok kami membuat dua kegiatan yaitu penjualan barang-barang yang disumbangkan para orang tua. Barang yang disumbangkan bisa berupa buku, piring, baju, sepatu, apa saja. Tapi kami juga membuat candy wreaths dan sabun hias untuk dijual. Katanya candy wreath disukai anak-anak dan sabun hias disukai ibu-ibu lansia. Sedangkan kegiatan yang lain adalah membuka cafe Jepang. Bertempat di ruang Jepang washitsu 和室 kami menjual teh hijau Matcha, oshiruko atau dessert Jepang yang hangat, jelly, dan sweet decoration berupa kue madeleinne dan marshmallow lapis coklat.

bermacam topping hiasan kue yang kusediakan

 

Nah, aku bertanggung jawab untuk sweet decoration ini, sehingga aku harus menyiapkan coklat cair dan bermacam topping hiasan kue. Hari ini aku menjual 20 tusuk marshmallow seharga 50 yen (Rp5000) . Tentu saja tidak balik modal, tapi yang penting happy bisa melihat anak-anak gembira  menghias marshmallow berlapis coklat dengan topping sesuka mereka. Apalagi 3 gadis yang terakhir membeli, aku beri coklat yang banyak sampai mereka berkata, “tante baik sekali, terima kasih ya”.

Ruang Jepang dan kue madeleine serta marshmallow lapis coklat yang kujual

Nah, kami memang mendapat tempat di dalam gedung. Gedung paroki Kichijouji terdapat dalam mansion 3 lantai, dan kami mendapat tempat di lantai 2. Sedangkan untuk bazzar tentu tidak cukup tempat di dalam gedung, sehingga ada tenda-tenda yang didirikan di halaman gereja. Riku dengan kelompok kelas 5 dan 6 menjual fruit punch di luar. TAPI hari ini HUJAN DERAS!!!! Duh kasihan deh mereka yang mendapat tempat di tenda. Jadi anak-anak tidak berjualan di tenda tapi berkeliling dalam gedung. Sedangkan yang aku lihat masih semangat berjualan di luar seperti mie goreng, ramen, sate, pasta, minuman dan masakan Filipina. Kupikir pasti tidak ada yang beli, tapi ternyata aku salah! Pembeli tetap semangat membeli dalam hujan dengan payung! Toh mereka (pembeli) harus pergi ke misa sehingga selesai misa bisa mampir berbelanja.

Bazaar dalam hujan. Foto ini sudah terakhir waktu beberes-beres, jadi sudah banyak yang pulang. Maklum aku baru bisa keluar setelah selesai sih

 

Memang akhirnya banyak pembeli juga yang berlama-lama di dalam gedung karena menghindar hujan. Apalagi kaum lansia. Sehingga hall utama yang menjual nasi kare dan makanan lainnya penuh sesak. Tapi cafe Jepang kami juga cukup penuh, sehingga banyak orang yang terpaksa harus “duduk bersama” memenuhi 4 meja yang tersedia. AISEKI 相席 ini memang banyak dilakukan di restoran Jepang pada waktu jam makan siang. Jangan kaget kalau Anda diminta meminjamkan kursi yang kosong di meja makan kepada orang yang tidak dikenal. Jadi bisa saja kalau melihat meja penuh dan yang duduk sama sekali tidak bercakap-cakap satu sama lain, ya karena mereka tidak saling mengenal. Orang Indonesia kurasa tidak bisa melakukan hal ini. Pasti akan merasa risih jika ada orang lain yang makan di depanmu bukan? Kalau di warung pun duduk bersama orang lain, tapi bersebelahan, bukan berhadapan kan? Aku cukup kaget waktu pertama kali ditanya apakah bisa aiseki, dan tentu harus aku jawab silakan 😀 Tapi pintar-pintarnya petugas restoran saja, biasanya aiseki pun sesama jenis. Coba kalau ojisan atau ojiisan (om-om atau kakek-kakek) makan di depanku, bisa bisa tidak tertelan deh makanannya. Apalagi kalau pemuda cakeeep banget seperti Kimura Takuya gitu musti aiseki sama aku. Bisa pingsan deh hahahaha. Ah, soal makan ini aku memang mengalami culture shock cukup parah di awal-awal kedatanganku.

Menjelang pukul 3 kami beberes dan menghitung hasil penjualan. Banyak sisa bakmi yang tidak terjual kemudian diobral kepada ibu-ibu. Lumayan bisa untuk makan malam 😀 Akhirnya aku bisa pulang sekitar pukul 4 dan masih hujan! Duh, hari ini memang tidak berhenti hujannya. Tapi semangat untuk tetap melaksanakan bazaar patut diacung jempol deh. Dan kutahu di gereja Ignatius, Yotsuya pun diadakan bazaar. Lain kali aku perlu mencari tahu kenapa gereja-gereja melaksanakan bazaar di hari minggu ketiga ya?

Aku dan Riku yang sudah dari pukul 8:30 datang ke gereja pulang mendapati Kai tertidur dan masih demam 🙁 Duh sakitnya kali ini kok cukup lama ya? Sepertinya besok aku perlu membawa dia ke dokter lagi deh. Kasihan mendengar dia batuk-batuk terus sepanjang malam dan melihat dia tidak bisa makan. Dan semoga besok cerah ya.

Ini Perangko ya?

Tadi sore aku sempat membaca sebuah artikel di surat kabar Jepang bahwa harga perangko untuk mengirim kartu pos dan surat akan naik bulan April 2014. Memang semua pajak pembelian akan naik dari 5 % sekarang, menjadi 8 %. Karena itu pula banyak yang berlomba-lomba untuk membeli barang sebelum pajak pembelian itu naik.

Karena itu Japan Post yang sudah bukan BUMN lagi, merasa perlu menaikkan harga perangko kartu pos yang tadinya 50 yen (dalam negeri) menjadi 52 yen, sedangkan untuk surat biasa (dalam negeri) dari 80 yen menjadi 82 yen. Saat itu aku langsung teringat perangko yang ada sekarang hanya 50 dan 80, berarti harus menempelkan perangko tambahan 2 yen untuk perangko yang lama yang dicetak sebelum April 2014 itu.

Nominal perangko di Jepang yang lazim dipakai sekarang ini mulai dari 1 yen,3 yen, 5 yen, 10 yen, 20 yen, 30 yen, 50 yen,70 yen, 80 yen, 90 yen, 100 yen, 110 yen, 120 yen, 130 yen, 140 yen, 160 yen, 200 yen, 270 yen, 300 yen, 350 yen, 420 yen, 500 yen, 1000 yen. (Kalau mau lihat contohnya silakan klik di sini).  Hampir semuanya aku punya dalam koleksiku kecuali 1000 yen (sepertinya harus beli nih untuk melengkapi koleksiku).  Tapi tentu dulu ada nominal lain, misalnya 62 yen (aku punya tapi belum sempat foto). Atau ada perangko khusus 50 yen untuk duka cita (mengirim kartu pos pemberitahuan berduka) atau untuk suka cita (mengirim kartu pos pemberitahuan pernikahan/selamatan yang lain). Selain itu setiap tahun ada perangko khusus untuk tahun baru yang disesuaikan dengan shio tahun barunya.

Aku juga teringat ucapan Drajat dalam foto perangko di FB: kok seperti bukan perangko ya? Memang ada perangko Jepang yang berupa seal, sticker untuk greetings atau karakter tertentu. Namun meskipun seperti sticker, namanya tetap perangko karena tetap dipakai sebagai tanda pembayaran. Cuma memang rasanya kurang sreg bagi kolektor perangko bekas ya. Di Jepang sendiri ada 3 macam perangko dilihat dari jenis kertasnya, yaitu perangko tanpa lem (dulu begitu, karena itu dulu disediakan lem di kantor pos) lalu perangko dengan lem kering (yang tinggal dibasahkan dengan air untuk direkatkan, kebanyakan semua perangko sekarang begitu), dan stiker yang tinggal dilepaskan dari alasnya sehingga lebih mudah. Konon (aku tidak tahu pasti) di Amerika banyak perangko jenis stiker begini. Dan satu lagi waktu aku mencari nominal perangko US kebanyakan sekarang tidak ada tulisan angka ya. Aku sulit sekali mencari informasi berapa nominal tertinggi perangko di US. Eh tapi aku juga tidak tahu nominal tertinggi perangko Indonesia loh…. Rp 10.000?

Perangko BlackJack yang di kiri berbentuk stiker, sedangkan serial Heidi yang di kanan biasa (bukan stiker). Aku jelas lebih suka yang perangko biasa daripada stiker.

Ada banyak pro kontra tentang perangko stiker yang kubaca di website Jepang. Katanya jenis stiker ini lebih sulit dipakai oleh penyandang cacat (tuna netra). Sulit untuk dilepaskan dari alasnya. Selain itu cengan meraba saja, akan sulit mengetahui apakah yang dipegang itu perangko atau bukan. Kalau perangko biasa kan ketahuan geriginya. Selain itu katanya kalau berbentuk stiker, tidak begitu tahan lama dibanding perangko biasa, dalam arti lem nya cepat “habis”. Menarik juga membaca polemik orang Jepang mengenai perangko stiker ini. Padahal perangko stiker masih sedikit. Yang kutahu perangko Hello Kitty itu banyak yang berbentuk stiker. Aku sendiri tidak begitu suka perangko bentuk stiker ya karena aku koleksi perangko. Bagiku perangko harus ada gerigi pinggirnya. Bentuk boleh segiempat, segitiga atau bundar, tapi gerigi harus ada.

Mengumpulkan perangko atau filateli mungkin tidak sepopuler dulu, tapi aku masih tetap melanjutkan hobiku ini meskipun sekarang mengandalkan pemberian dari bapak mertua dan suami yang bekerja di kantor. Sebelum Kai lahir aku masih sering membeli perangko sheet yang bagus untuk koleksi, tapi mengeluarkan 500-800 yen per sheet untuk koleksi cukup menguras dompet. Karena Jepang secara rutin mengeluarkan seri-seri baru, belum lagi yang temporer seperti persahabatan dua negara, atau simposium dsb. Bisa-bisa kami harus makan perangko deh kalau mau beli semua jenis 😀 Jadi akhir-akhir ini aku hanya sesekali saja membeli perangko sheet yang khusus atau kurasa bagus gambarnya.

Tapi bagiku yang sudah mulai mengumpulkan perangko sejak SD, aku banyak belajar dari perangko. Dengan perangko aku mengetahui georafis, kebudayaan, alam, peninggalan, arsitektur dsb. Aku sempat mengumpulkan perangko berdasarkan negara, berdasarkan tema semisal kupu-kupu, bunga, atau aku juga mengumpulkan perangko bentuk aneh, seperti segitiga, jajaran genjang, bulat dan lain-lain (kalau tidak salah pernah ada segi enam juga, tapi aku lupa taruh di mana, mungkin di Jakarta). Setiap papa pergi ke luar negeri, aku cuma minta dibelikan souvenir perangko. Dan aku ingat waktu aku pergi ke Wina, aku tanya kepada petugas hotel bisa beli perangko untuk koleksi di mana. Dan aku sampai di sebuah toko di lantai dua yang menjual perangko bekas ( lawan bekas = perangko mint -belum dipakai) kiloan! Rasanya aku ingin beli semua, tapi akhirnya aku hanya beli satu kantung. Dan satu hal yang kutahu di situ ternyata perangko Wina banyak yang memakai warna emas. Kalau British emasnya hanya di siluet wajah Ratunya saja (one point).

Semoga aku masih bisa terus melanjutkan hobi lamaku ini, ntah sampai kapan. Aku percaya kok, meskipun orang bilang perangko akan lenyap, di Jepang untuk sementara waktu, (sepertinya sampai aku mati sih) masih akan menerbitkan perangko. Semoga.

Buku Unggulan dan Buku Obat

Pagi tadi pukul 8:50 pagi aku mengajak Kai ke Rumah Sakit dekat rumahku. Rumah Sakit itu adalah rumah sakit koperasi yang dana pembiayaannya didukung oleh “modal pinjaman” warga yang tertarik. Memang sekitar tahun 2002 itu waktu RS ini mau dibangun, banyak warga sekitar yang protes tidak mau di dekatnya didirikan RS. Aku bisa mengerti kekhawatiran mereka seperti ributnya jika ambulans masuk keluar, tapi aku (dan Gen) mendukung pembangunan RS ini. Kamipun menjadi salah satu dari ribuan penyandang dana (padahal cuma sedikit sekali sih… di sini pakai sistem 1 unit 1000 yen, maunya berapa unit). Kami pikir paling sedikit untuk sakit ringan, kami bisa berobat di sini, apalagi waktu itu Riku hampir lahir.

Setelah mendaftar untuk ke klinik Anak, aku mengisi kertas laporan keluhan: batuk dan demam 39 derajat sejak kemarin, lalu kami duduk. Kai yang manja aku peluk, dan tepat saat itu pintu klinik terbuka. Dokter kepala sekaligus dokter anak, Dr S keluar dan menyapaku.
“Wah sudah lama ya tidak ke sini….”
“Iya sensei, hampir setahun mungkin…”
“Bagaimana kabarnya? Genki?”
Sambil tertawa dalam hati berpikir ini dokter kok tanya genki (sehat), kalau sehat kan tidak ke sini 😀 , aku menjawab,
“Ini Kai demam tinggi. 39 derajat”
“Hmmm sekarang banyak masuk angin yang bukan virus juga sih ya. Tapi okasan (ibu) kelihatan kurusan ya…”
Ampuuun deh ini dokter masih perhatikan aku hahaha..
“Tidak kok dok, sama seperti dulu. Mungkin karena terlihat capek saja. Dokter hari ini di klinik Anak?”
“Hari ini saya di klinik umum. Nanti dengan Dr. M, dia lulusan Universitas Hokkaido.”
“Oh ya, saya sepertinya sudah pernah bertemu”…. lalu Dr Kepala itu pamit.

Ternyata waktu nama Kai dipanggil, aku belum pernah bertemu Dr M ini. Lelaki masih muda dan cakep! Lalu dia memeriksa Kai, sambil aku melaporkan bahwa Kai tidak pernah mau minum obat. Cuma daripada aku ambil resiko jika dia sakit berat, aku minta diperiksa. Kemudian Dr M menyarankan Kai diambil foto thorax karena sedang musim pneumonia.

Harafiahnya : buku yang kami ingin anak-anak baca

Sambil menunggu hasil foto, aku melihat poster yang dipasang di ruang tunggu. Daftar buku unggulan. Sebetulnya terjemahannya bukan buku unggulan, tapi “buku yang disarankan“. Osusume no hon お勧めの本. Memang sulit menerjemahkan kata susume 勧め bahasa Jepang ke Indonesia. Bahasa Inggrisnya memang recommendation, tapi kalau pakai rekomendasi kok kesannya oogesa 大げさ (berlebihan). Untuk orang Indonesia pasti lebih kena jika pakai terjemahan Buku Unggulan, padahal unggulan itu pasti kuat, berbobot, pernah menang dsb. Orang Indonesia memang sering lebay sih ya hehehe.

rak buku di ruang tunggu. sebelahnya ada space bermain

Hasil foto rontgen nya, memang ada sedikit bayangan putih di paru-paru sehingga lebih baik minum obat supaya tidak menjadi parah. Kesempatan juga untuk berlatih minum obat. Memang Kai tidak suka minum obat puyer atau sirup karena ada rasanya. Jadi kali ini diberi resep obat tablet, yang sudah pasti tidak ada rasanya. Dan oleh dokter disarankan minum dengan es krim atau yoghurt.

keterangan obat yang diterima

Kami pun menyelesaikan administrasi dengan menyerahkan karte. Untuk anak-anak memang tidak bayar karena ada kartu khusus dari Kelurahan Nerima (sampai 12 tahun gratis), jadi kami hanya menerima resep obat untuk diambil di apotik. RS itu memang tidak mempunyai apotik sendiri, tapi ada apotik di depan RS tersebut. Di sini juga kami tidak membayar (obat untuk anak-anak juga gratis). Tapi kali ini aku minta dibuatkan Buku Obat  okusuri techou お薬手帳  baru, karena buku obatnya Kai sudah tidak tahu taruh di mana 😀 Aku pikir sistem Buku Obat ini bagus sekali, karena bisa ditelusuri obat apa saja yang pernah diminum. Jika bagus bisa diteruskan dan jika tidak ada kemajuan bisa diganti obat lain. Apalagi kalau obatnya banyak jenisnya. Masing-masing obat ditulis kegunaan dan takarannya dengan detil, sehingga kita tahu apa yang kita minum. Alm mama dulu banyak sekali obatnya, dan semua hanya dijelaskan waktu menerima obatnya saja, tanpa keterangan tertulis. Paling-paling ingatnya obat A untuk jantung, obat B untuk darah, obat C vitamin dst. Buku Obat seperti ini amat perlu deh untuk pasien yang sering berurusan dengan RS. Atau mungkin sudah ada seperti Buku Obat begini di Indonesia?

Buku Obat

STOP PRESS 号外:  Yes! Sore ini Kai berhasil minum obat tablet 4 biji! Harus dirayakan nih 😀

Panggilan

Hari ini aku mendapat dua kali panggilan lewat telepon selularku. Pertama jam 13:17 dan yang kedua jam 14:27. Tentu saja aku tak bisa ambil karena aku sedang “seru-serunya” mengajar. Waktu melihat bahwa ada miss call jam 13:17 sempat buyar juga konsentrasiku karena si penelepon adalah TK nya Kai, tapi aku pikir nanti saja aku telepon kembali ke mereka karena kuliah selesai pukul 14:30. Eh ternyata pukul 14:27 sudah ada telepon kedua. Wah ada gawat apa ya?

Sebelum menelepon kembali, sambil bergegas berjalan ke terminal bus aku mendengar rekaman pesan dari TK. Rupanya waktu telepon pertama mereka mau memberitahukan bahwa Kai demam 37,7 derajat dan tidak selera makan bahkan sempat muntah. Lalu yang kedua ternyata demamnya naik menjadi 38,5 derajat. “Kami tahu Ibu sedang kerja, tapi kalau sempat mendengar pesan ini, tolong telepon kami”. Sebelum naik bus aku menelepon TK dan memberitahukan bahwa aku akan sampai di TK untuk menjemput Kai 1 jam lagi.

Tepat pukul 4 aku memarkirkan sepedaku di depan kantor guru, lalu aku disambut kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Sambil melaporkan keadaan Kai, mereka mengantarku ke tempat tidur yang ada di kantor guru. Kai sedang tidur dan tidak mau bangun meskipun gurunya sudah mengatakan, “Mama datang”. Jadi aku yang membangunkan dia sementara guru Kai yang cantik, Haruka sensei membawakan sepatu Kai. Ah guru-guru di TK ini memang baik-baik semua. Karena Sabtu ada ensoku (bermain bersama di luar dan kali ini kunjungan ke museum kereta api) aku pikir lebih baik meliburkan Kai juga. Duh aku harus menjaga dua anak yang sedang sakit. Kemarin Riku juga demam sampai 38,5 derajat, tapi tadi pagi karena tidak demam dia tetap ke sekolah sambil memakai masker. Ya memang tadi pagi Kai juga sudah ayashi (mencurigakan) menunjukkan gejala sakit, tapi waktu kuukur suhu badannya hanya 36,7. Aku memohon dia untuk mau ke TK dengan menjanjikan membelikan dia jelly dan cat air, karena aku tidak bisa membatalkan kelas hari ini. Semester genap memang rasanya lebih sibuk dan lebih cepat berlalu dibanding semester ganjil.

Panggilan lewat telepon kepada orang tua murid oleh pihak sekolah pasti dilakukan jika suhu badan murid melebih 37,5 derajat yang merupakan batas sehat dan demam. Aku sudah cukup sering dipanggil, meskipun aku bukan wanita panggilan 😀 Yang seru waktu dipanggil waktu Riku demam sedangkan aku masih dalam perjalanan ke universitas yang jauhnya 1,5 jam dari rumahku 😀 Terpaksa aku menemui staf ruang guru dulu dan memberikan tugas pada kelasku sebelum akhirnya pulang tanpa melanjutkan kuliah jam berikutnya. Padahal begitu aku sampai di rumah, Gen masuk lapangan parkir dengan Riku sudah pulang dari Rumah Sakit…. terlambat deh. Rupanya sekolahnya juga menelepon Gen ke kantor, dan Gen lebih cepat sampai daripada aku.

Oh ya tadi waktu aku masuk kantor guru TK, aku juga melihat amplop pendaftaran TK. Memang mulai 15 Oktober sampai 1 November, orang tua yang mau memasukkan anaknya ke TK bulan April tahun depan, harus membeli formulir pendaftaran (seharga 500 yen) dan mulai mengikuti test masuk. Test masuk ini biasanya formalitas, karena tidak bisa disangkal jumlah anak-anak sekarang semakin berkurang. Satu kelas biasanya 30-33 orang, sekarang hanya sekitar 25-28 orang. Aku sendiri senang kalau ada banyak ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya di TK ini, yang tahun ini merayakan 50 th berdirinya. Dan kalau ingat bahwa Kai akan lulus dari TK bulan Maret nanti, rasanya sedih juga.

Semoga tidak ada lagi panggilan-panggilan telepon mendadak lagi deh, cukup membuat sport jantung sih 😀

Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta

Sudah menonton film ini? Aku belum dong…. loh kok bangga hehehe.

Jadi ceritanya film ini terdaftar sebagai peserta Tokyo International Film Festival TIFF 2013 yang akan dilangsungkan tanggal 17 Oktober besok sampai tgl 25 Oktober di Roppongi. Terjemahan bahasa Inggrisnya What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Panjang ya judulnya 😀

Kebetulan Gen ada perlu untuk pergi ke TIFF yang ke 26 itu dan mengajakku menonton film YTDKMC ini. Tapi bagaimana bisa, film itu diputar pada Hari Minggu tgl 20 Oktober pukul 19:55, dan tanggal 23 Oktober pukul 20:00. Tentu saja Gen hanya bisa hari Minggu, sedangkan kalau kami berdua pergi menonton jam 8 malam di Roppongi, bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak tidak diperbolehkan terlihat pada pukul 11 malam di situ. Sedangkan kami tidak mungkin juga membawa anak-anak menonton sebuah film remaja kan? Memang sulit menjadi ibu rumah tangga di Jepang, tanpa pembantu dan baby sitter, juga jauh dari saudara sehingga tidak bisa dititipkan. Jadi aku bilang pada Gen supaya dia saja yang pergi menonton. Dia memang suka menonton, sedangkan aku tidak begitu suka. Ntah nanti jadinya bagaimana apakah Gen tetap pergi menonton sendiri atau memutuskan batal saja pergi ke Ropponginya.

Tapi kalau ada teman-teman yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya, dan mau menonton film itu, silakan lihat keterangan di websitenya. Kalau tiket belum habis, biasanya bisa beli pada hari itu juga. Tapi untuk amannya memang lebih baik membeli secara online.

Aku ingat tahun lalu aku pergi ke TIFF 2012 dan menonton Soegija, yang sampai sekarang belum kutulis ceritanya di TE. Sepertinya sudah basi ya kalau mau ditulis sekarang hehehe.

 

Terbesar dalam 10 tahun

Hari ini aku meliburkan Kai. Pagi dia bangun dan mengeluh sakit kepala, sementara memang dia sejak kemarin pilek. Wah kupikir dia pasti tertular aku. Seharian kemarin aku menderita sakit kepala yang hebat, sampai aku menangis tidak tertahan. Tentu aku minum obat, tapi begitu pengaruh obat hilang, ya sakit lagi. Untung hari ini sakit kepala sudah enyah.

Menjelang pukul 10, dia bangun dan sudah tidak sakit kepala meskipun masih pilek. Malah yang cukup parah adalah batuknya Riku. Dia pulang pukul 3 siang dan langsung memberitahukan padaku bahwa besok SEMUA sekolah SD dan SMP milik pemda  di kelurahan Nerima diliburkan. Setengah jam sebelumnya sebetulnya gurunya Kai juga menelepon dan memberitahukan bahwa sekolah TK diliburkan besok.

Memang badai topan nomor 26 (diberi nama dengan nomor sesuai dengan urutan timbulnya di samudera Pasifik) sedang mendekat Jepang dan akan melintasi Kanto (Tokyo) mulai besok dini hari sampai sekitar makan siang. Sejak kemarin memang sudah diperkirakan bahwa badai akan datang, dan kami sudah diwanti-wanti untuk bersiap menghadapi badai yang konon terbesar selama 10 tahun terakhir.

Gerakan Taifu nomor 26 sampai pukul 3 besok sore. Terlihat Tokyo tetap berada di pusat badai. 

Tak lama aku juga mendapat email dari pemerintah daerah Nerima yang memberitahukan warga untuk berhati-hati menghadapi Badai nomor 26 ini, dan dimohon untuk terus memantau informasi dari radio atau televisi. Juga diberitahukan bahwa ada 5 tempat yang menyediakan kantong tanah gratis yang bisa dipinjam untuk menghalang air masuk ke rumah jika terjadi banjir. Persiapan pemerintah Jepang memang hebat ya, dan warga juga mempercayai prakiraan cuaca sehingga bisa dilakukan tindakan prefentif.

Apa saja yang perlu disiapkan waktu terjadi badai?

1. Hindari keluar rumah. Payung sama sekali tidak berguna dalam badai. Banyak barang yang mungkin diterbangkan angin, sehingga kalaupun harus keluar rumah, harus memperhatikan sekeliling, seperti papan reklame dan lain-lain.

2. Jangan mendekat sungai atau pantai. Bagi mereka yang tinggal dekat sungai, selain mencegah air melimpah, juga harus memperhatikan sirine apakah harus mengungsi atau tidak. Biasanya kaum lansia akan diungsikan lebih awal sebelum terlambat. Seperti biasanya lokasi pengungsian adalah SD terdekat yang ditunjuk pemda.

3. Untuk mencegah jatuhnya korban, sebelum hujan bertambah kencang diharapkan menurunkan barang-barang yang ditaruh/digantung di luar rumah, atau memindahkannya ke dalam rumah. Pot bunga, tiang jemuran dan barang lain yang berada di luar rumah harap dimasukkan.

4. Menyiapkan makanan dan air minum yang cukup. Perlu diantisipasi jika listrik padam, sehingga harap menyediakan senter dan radio. Untung saja belum terlalu dingin sehingga tidak perlu menyediakan pemanas manual. Pipa gas biasanya di dalam tanah sehingga gas biasanya tidak mati.

Bagi yang tinggal di lantai atas apartemen tidak perlu takut kebanjiran, kecuali memang apartemennya terletak di dekat sungai. Saranku untuk malam ini, makan malam yang enak dan hangat, siapkan buku bacaan dan tidur. Mungkin tidur akan terganggu oleh suara-suara di luar, tapi anggap saja itu nyanyian alam. Setuju? No need to worry….

Tulisan hari ini aku tujukan untuk teman-teman baru yang baru/ belum lama tinggal di Tokyo/Kanto  terutama Mbak Tya (Sekar Wulan) yang belum lama tinggal di Chiba.

Baseball

Baseball (profesional)  atau yakyuu 野球 adalah olahraga yang paling populer di Jepang, dilanjutkan dengan sepakbola (pro) dan golf (pro). Tentu saja Ichiro merupakan pemain baseball yang paling terkenal dan menjadi idola banyak pemuda Jepang. Bisa dilihat dari data cita-cita anak-anak Jepang yang menempati rangking 1 adalah menjadi atlit dan tentunya di antaranya menjadi pemain baseball pro. 

(Sebetulnya bahasa Indonesianya adalah Bisbol, tapi karena aku terbiasa pakai Baseball perkenankan aku pakai istilah Baseball ya.)

Aku belum pernah menonton pertandingan olahraga langsung. Padahal sebetulnya sudah lama Gen ingin mengajak anak-anak menonton pertandingan olahraga langsung, entah  sepakbola entah baseball, tapi karcis begitu juga cukup mahal apalagi kami berempat. Selain itu kami tidak mempunyai “idola” grup olahraga tertentu yang kami sukai untuk kami dukung.

Kebetulan Gen mendapatkan karcis baseball dari teman kantornya untuk pertandingan baseball hari Minggu kemarin. Sebetulnya aku malas, karena aku akhir-akhir ini kurang enak badan. Tapi Gen agak memaksa supaya aku ikut karena pertandingan itu antara kelompok baseball terkenal yaitu Saitama Seibu LIONS dan Chiba Lotte MARINES. Kupikir memang asyik juga karena aku bisa menuliskan pengalamanku pergi menonton pertandingan langsung.

Sebetulnya stadium baseball Seibu Dome itu tidak begitu jauh dari rumahku. Naik mobil bisa 1 jam saja, tapi yang menjadi masalah adalah tempat parkir yang terbatas. Kalau penuh tempat parkirnya berarti kami harus mencari tempat parkir yang lainnya dan pasti makan waktu. Jadi kami memutuskan untuk naik mobil sampai beberapa stasiun sebelum Seibu Dome, dan melanjutkan dengan naik kereta. Untung saja kami memutuskan naik kereta, sehingga kami bisa sampai 30 menit sebelum pertandingan dimulai.

di depan stadium “Seibu Dome”

Begitu turun stasiun Seibu Kyujoumae, aroma pertandingan sudah tercium. Bersama banyak penumpang yang turun, kami berjalan menuju stasium. Ada banyak stand toko-toko di depan stadium. Tapi karena kami belum pernah masuk stadium, kami langsung masuk setelah diperiksa karcis dan bawaan kami. Begitu terlihat deretan kursi aku langsung berinding! Begitu banyak orang yang berkumpul dalam stadiun bertempat duduk 37.000 orang. Hampir semua penuh. Aku baru pertama kali melihat begitu banyak orang tapi TERTIB…wahhhh.

seibu dome dengan panoramic

Kami duduk di bagian yang cukup dekat dengan pemukul. Di bagian barat yang ditempati oleh pendukung team Lions. Karena bertanding di kandang sendiri pendukung lions menempati tiga perempat stadium. Kebanyakan memakai baju putih atau biru tua, baju team Lions. Aku sendiri cukup repot mencari baju berwarna biru untukku. Ternyata 90 persen bajuku berwarna hitam dan merah :D. Untung ketemu kemeja jeans sehingga bisa pakai warna biru, warna team Lions.

Kami duduk di kursi penonton yang menurutku sangat sempit. Well, memang tempat duduk menonton olahraga lain dengan menonton film di bioskop sih. Setelah duduk, Gen kemudian beli goods untuk mendukung team. Bendera, bat plastik ganda yang dipakai untuk pengganti tepuk tangan serta balon biru yang dilepaskan pas team akan juara.

begitu banyak penonton dengan perbandingan 3/4 pendukung Lions dan 1/4 pendukung Lotte

Terus terang aku tidak begitu mengerti pemain baseball yang tergabung dan team Lions. Yah boleh dikatakan aku cuma tahu Ichiro 😀 Dengan bekal pengetahuan peraturan permainan softball, aku bisa sedikit mengerti tata cara pertandingan baseball. Yang menarik setiap atlet mempunyai fansnya  sendiri dan punya lagu dukungan sendiri. Sehingga sebelum si atlit memukul , pendukungnya bernyanyi dan mengucapkan yell-yell khusus. Merinding dengarnya. Setiap ada bola yang masuk, pendukung berteriak dan memukul bat plastik. Kadang berdiri dan mengangkat tangan. Apalagi jika ada homerun, ada lagu khususnya lagi.

Penonton mendukung dengan mengibarkan bendera, memukul bat plastik atau melepaskan balon kemenangan. Fans Club mengibarkan bendera besar.

Aku selalu takut pergi ke pertujukan musik live atau pertandingan olahraga langsung apalagi team terkenal. Aku selalu takut terinjak-injak, terdorong-dorong atau terlibat kerusuhan seperti yang sering terjadi di Jakarta. TAPI pandanganku berubah banyak kemarin. Stadiun yang begitu besar (42,541 m persegi) dipenuhi begitu banyak orang, tapi kami bisa pergi ke WC/merokok/membeli makanan kapan saja dan tidak sulit kembali lagi ke tempat duduk.

Yang menarik juga ada penjual (bukan asongan sih) minuman softdrink, bir, teh, es krim atau goods yang berkeliling menawarkan jualannya. Ada yang pakai papan, ada yang langsung diketahui dari pakaian dan “ransel” yang digendongnya. Memang lebih mahal dari luaran tapi praktis karena diantar sampai tempat duduk. Bir dingin dijual 700 yen sedangkan juice seharga 250 yen.

Penjual bir, yebisu dan asahi. Lihat cara dia membawa uang kertasnya 😀 Kanan bawah penjual teh hijau asli Saitama: Sayama Tea

Selain penjual minuman begitu, aku sempat memperhatikan ada gadis-gadis pendukung team yang memakai baju team dengan perut terbuka. duh seksi dan lurusnya perut serta kecilnya pinggang membuat ngiler deh 😀 (aku yang perempuan saja tidak bisa tidak melihat perut mereka apalagi yang laki-laki ya :D)

Lions’ Girls and Mascot

Akhirnya pertandingan selesai setelah 3,5 jam bertanding yang dimenangkan team yang kami dukung: Seibu Lions. Menangnya telak 15-0. Kami pulang melewati tempat duduk fans club Lions yang membawa bendera besar. Senang sekali melihat semangat mereka. Langsung Riku minta untuk ikut menjadi anggota fans club Lions, tapi aku bilang untuk menjadi anggota harus membayar uang iuran tertentu, yang bagiku tidak murah, jadi tunggu dulu sampai dia benar-benar suka dengan kelompok Lions. Orang Jepang memang fanatik sekali terhadap idolanya, sehingga membayar iuran untuk menjadi anggota fans club sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang mungkin sulit untuk diterapkan di Indonesia (atau sudah ada, CMIIW)

bersiap pulang setelah Lions dinyatakan menang 15-0

Kami naik kereta yang dipenuhi penonton untuk kembali ke stasiun tempat kami memarkir mobil. Yang aku senangi tidak ada deh acara dorong mendorong atau teriak-teriak yang mengganggu. Dan Riku sempat berkata: “Aku anak yang bahagia ya, selalu dibelikan ini itu, diajak nonton baseball, diajak jalan-jalan oleh papa mama. Terima kasih banyak ya” Aku terharu mendengar perkataan dia yang keluar tiba-tiba dan aku katakan, “Ya kamu memang harus berbahagia, karena mungkin tidak semua anak bisa begini. Mama papa tidak kaya yang bisa belikan macam-macam atau kasih uang, tapi kebersamaan yang bisa dikenang itu yang ingin mama papa lakukan. Nanti kalau Riku lebih besar lagi akan lebih sedikit lagi waktu untuk bisa pergi bersama, tapi sudah puas karena waktu kecil sudah banyak membuat kenangan.”

Senang, tapi mungkin kalau ada tiket pertandingan lagi belum tentu aku mau ikut deh, soalnya makan waktu lama sih. Sebuah pengalaman yang patut dikenang.

Apakah kamu sering menonton pertandingan olahraga? Apakah pernah menjadi anggota fans club team tertentu?