Ada Mutu Ada Harga

Tadinya aku mau menulis judul “Ada Rupa Ada Harga” seperti yang sering alm. mama katakan. Kalau mau bagus ya mestinya mau bayar mahal. Tapi rasanya itu bagaimana kita menilai barang, sedangkan yang ingin aku tuliskan di sini adalah lebih tentang jasa.

Ada seorang eksekutif Jepang yang akan pergi ke Indonesia. Tentu dia harus mengambil Visa on Arrival (VoA) di imigrasi Jakarta, waktu mendarat nanti. Harganya 25 dollar untuk 30 hari. Nah, dia ingin supaya tidak perlu mengantri untuk mengurus VoA ini karena dia dengar koleganya harus antri selama 2 jam untuk mendapatkan VoA. Dia tanya apakah tidak ada cara lain sehingga dia bisa masuk Indonesia tanpa harus mengantri begitu lama. Ya, aku tahu memang mengantri VoA itu amat menyebalkan. Karena aku harus menemani anak-anakku yang warga negara Jepang untuk mengurus visa mereka. Dan terakhir aku sempat murka! Karena kami disuruh bolak balik karena loket untuk VoA tidak buka. Kami disuruh ke antrian orang Indonesia, ada 2 orang asing di depanku dan kulihat petugas imigrasi menyuruh orang asing itu untuk kembali ke loket VoA. Tanpa penjelasan, dengan cara mengusir dengan melambaikan tangan seperti mengusir anjing ke arah belakang. Dan tiba giliranku, dia bilang: Tidak bisa mengurus VoA di sini bu, kami tidak punya alatnya. Lalu aku katakan, “Lah kenapa kami disuruh ke sini? Jangan begitu dong. Beri keterangan yang benar. Pakailah bahasa Inggris. Orang asing ini tidak tahu harus bagaimana kan?”

Akhirnya aku dengan suara keras mengatakan pada orang-orang asing di belakangku dalam bahasa Inggris dan Jepang untuk kembali ke loket VoA, dan antri….. Waktu kami kembali itu sudah panjang karena sudah ada pesawat lain yang mendarat 🙁 Duh menyebalkan sekali. Orang Jepang memang sabar, mereka tidak ngomel-ngomel seperti aku. Tapi bersamaan dengan itu, ada rombongan orang Italia dan mereka marah-marah karena mereka terlambat untuk naik pesawat lanjutan. Aku dengar mereka mengancam dan memaksa petugas Imigrasi mengganti tiket pesawat dan hotel mereka. RASAIN!!!

Ekskutif ini menanyakan apakah tidak ada Fast Line seperti di Thailand, karena di Thailand ada jalur khusus bagi mereka yang mau cepat dengan membayar biaya tambahan. Duh, setahuku memang tidak ada. Kalaupun mau bisa saja mengurus visa multiple di kedutaan besar RI sebelum berangkat. Tapi bukan visa biasa, sehingga biayanya 12.000 yen (1,2 juta). Waktu aku mendengar biaya itu aku langsung kaget: “Mahal! Soalnya waktu aku mengambil multiple visa untuk Jepang HANYA 6.000 yen. Apa standarnya sehingga KBRI menetapkan harga visa segitu ya?

Aku sendiri juga sering heran. Biaya legalisasi di KBRI Tokyo biayanya 1800 yen. Dan kalau aku browsing berapa harga legalisasi di KBRI negara-negara lain, aku mendapatkan angka yang berbeda-beda. Apa standarnya? Padahal yang mengurus legalisasi itu kebanyakan warga negara Indonesia sendiri loh. Aku baca keluhan mahasiswa di luar negeri lain (Eropa) yang harus membayar mahal untuk legalisasi ijazah. Belum pernah aku bayar surat-surat di pemerintah daerah di sini lebih dari 300 yen! Mungkin ada pegawai Deplu yang bisa menjelaskan standar penentuan harga yang kadang tidak masuk akal.

vending machine di KBRI Tokyo

Tapi ada satu perubahan yang kurasa bagus pada pelayanan imigrasi dan konsuler di KBRI Tokyo sekarang, yaitu pembayaran dilakukan bukan di loket lagi, tapi dengan membeli “karcis” di vending machine sesuai dengan keperluannya apa. Jadi misalnya mengurus legalisasi 1800, kami disuruh membeli tiket no 33 seharga 1800. Masukkan uang ke mesin dan kami mendapat struk. Serahkan struk dan setelah berkas selesai, kami akan mendapat kwitansi. Sistem vending machine ini memang banyak dipakai di kantor-kantor pemerintah, sekolah dan universitas untuk mengatur pembiayaan surat-surat yang diperlukan. Dengan demikian tidak ada lagi uang “di bawah meja” dan semuanya terekam otomatis oleh mesin tersebut. Inginnya sih mesin seperti itu ada juga di kantor-kantor kelurahan di Indonesia ya…. hehehe.

Ah ya, ada satu curhat lagi mengenai “jasa” ini. Aku melihat suatu kecenderungan negatif di Jepang, yaitu mengenai harga pasaran atau souba 相場 penerjemah. Semakin lama harga pasaran semakin rendah. Banyak perusahaan yang mencari penerjemah semurah-murahnya, dan aku sering menemukan hasil terjemahan yang begitu amburadul. Sepertinya  si penerjemah memakai google translator dan memindahkannya semua plek plek secara harafiah. Masih mending kalau perusahaan itu membayar mahasiswa yang baru 2-3 tahun tinggal di Jepang.  Langsung ketahuan kok dari hasilnya siapa yang menerjemahkan. Inilah yang kumaksud dengan ada mutu ada harga. Kalau mau membayar sedikit, ya silakan puas dengan hasil yang tidak bagus. Apalagi kalau mau gratisan? ya siap-siap saja menerima klaim atau dituntut karena salah translasi hehehe.

Jadi? Aku masih harus mencari cara supaya si Eksekutif Jepang itu bisa tidak menunggu lama di imigrasi mengurus VoA.  Pernah dengar? Aku sih cenderung menyuruh si Eksekutif untuk antri dan merasakan yah begitulah Indonesia 😀 Cuma memang aku ikut malu sih, soalnya kalau aku mendarat dan di imigrasi Jepang, tidak sampai 10 menit (termasuk antri) udah selesai 😀 Loketnya puluhan bo…. begitu dilihat banyak orang langsung dibuka semua.

7 thoughts on “Ada Mutu Ada Harga”

  1. Itulah Indonesiaku bu, negara yang kaya namun banyak kesalahan prosedur yang tetap dipelihara. Namun bagaimanapun juga aku masih tetap mencintai meskipun banyak cerita miringnya 😆

  2. Pepatah lama sepertinya yang tepat memang ini Mb “Ada Rupa Ada Harga”.
    Tapi alangkah baiknya pihak berwenang kembali meninjau kebijakan tentang hal tersebut. 🙂

  3. waktu pengalaman kita apply VOA pas th 2009 dulu pas pulang indo buat esther dan andrew kok lancar dan cepet ya mbak… apa pas kita lagi untung aja ya waktu itu?

  4. Dengan alat yang canggih akan semakin lancar dan aman dibawah, apalagi diatas meja
    belum pernah mengurus VoA jadi tidak tahu keluh kesahnya

    namun bagaimanapun tetap cinta Indonesia dan tidak ada tempat lain selain Indonesia yang lebih dekat dengan sahabat dan kerabat

    Salam hangat dari pamekasan madura

  5. Ga pernah merasakan di Indonesia seh.. yang paling rame waktu di singapur. Tapi tetep cepat hitungannya dan loket yang buka memang banyak banget..

Komentar ditutup.