Telepati

Percayakah akan telepati? Telepati adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau saling menukarkan informasi dengan orang lain tanpa menggunakan indera. Aku sendiri lebih condong percaya 🙂

Seperti yang pernah kutulis di “Senangnya diingat“, aku melihat sebuah foto di reklame kereta yang mirip dengan teman DJku Luis Sartor dan  teringat dia, eh malamnya aku dihubungi produserku bahwa dia akan membuat acara perpisahan dengan si Luis. Weleh baru teringat sudah harus berpisah.

Beberapa waktu aku sempat memikirkan seorang mantan mahasiswaku. Dia seorang pemuda yang sangat perhatian. Setiap tahun dia mengirimkan buah-buahan kepadaku, atau mengajak aku dan dosen bahasa Indonesia lain serta mantan mahasiswa lainnya untuk berkumpul dan makan-makan bersama. Aku ingin menanyakan kabarnya, tapi karena sibuk kupikir malam saja. Eh tahu-tahu dia mengirimkan pesan lewat Line, dan memberikan kabar terbarunya bahwa dia sudah menikah (hanya catatan sipil). Kaget juga aku, karena baru saja terpikir dia, kok bisa dia yang memberi kabar.

Kira-kira seminggu yang lalupun, aku teringat seorang sahabat, seorang adik yang sudah pulang ke Jakarta. Dini hari aku ingin menghubungi si Ekawati Sudjono …eh tahu-tahu dia juga menghubungiku. Bahasa Jepangnya Isshin denshin 以心伝心, yaitu “terhubungkan lewat hati”.

Cukup sering aku begitu, memikirkan seseorang yang sudah lama tak berkabar, tahu-tahu orang tersebut menghubungi. Apakah ini keturunan, aku pun tidak tahu. Karena alm mama sering begitu. Kalau dia mau ngobrol dengan kakaknya yang di Cirebon, sering kali cukup memikirkan kakaknya, dan tak lama kakaknya akan telepon. Tapi kurasa mama memang punya indera keenam, karena sering dia mengetahui sesaat sebelum seseorang meninggal 🙁  Dia yang memaksa papa mengunjungi teman yang sedang sakit, dan tak lama sang teman meninggal. Mama memang “khusus”.

Aku sendiri tidak merasa mempunyai kemampuan itu, tapi kata Eka: “Kak Imelda perasa sih, jadi terhubungkan”.

Terlepas dari telepati atau tidak, aku menyukai kiriman dari Eka :

indeed….

Apa kabar teman-teman, sahabat-sahabatku, semoga kalian semua sehat ya…. Kami di Tokyo sedang bersiap lagi menghadapi kemungkinan datangnya Badai no 27 dan 28 berbarengan pada akhir minggu ini, dan konon badai taifu ini jauh lebih besar dari yang kemarin-kemarin. Nah loh…. Semoga saja angin membelokkan jalan si Fransisco dan Lekima (nama untuk si badai 27 dan 28, karena Jepang memakai nomor timbulnya badai bukan nama untuk menyebutkan badai) sehingga tidak lewat di atas Jepang.

9 thoughts on “Telepati”

  1. Telepati ?
    mmm … saya tidak menguasai ilmunya EM … jadi saya tidak tau …
    tetapi yang saya tau … kedekatan emosional … kadang kala bisa membuat dua orang bisa saling terhubung … saling merasa …

    kedekatan emosional yang sering saya temui adalah … antara saudara kembar …
    antara kakak dan adik … dan yang paling sering … antara Ibu dengan anaknya …

    Salam saya EM

  2. Saya juga sering merasakan begitu mb Em. Beberapa hari yg lalu juga kejadian lagi, sejak seminggu sebelumnya saya selalu teringat dg adek angkat sy di norwe, tiba tiba kemarin dia menghubungi saya dg BBMnya 🙂

  3. Mbak Imel, telepati ini susah kalau enggak dipercaya. Disamping sering merasakan, aku menemukannya di banyak konsep. Walau tak menggunakan nama telepati, namun komunikasi jarak jauh tanpa telepon ini ditemukan dalam sufisme dan the law of attractions

  4. Tidak semua orang punya kemampuan seperti ini, tapi bisa dilatih karena kata-kata juga merupakan doa. Dan pembicaraanpun bisa dilakukan dengan cara lahir dan batin.
    Semoga terhindar dari badai, Aamiin!

  5. Salam mba imel…
    mampir dari blognya pakde..

    aq percaya dengan yang namanya telepati… krna entah kenapa sering juga mengalami hal tersebut… ketika merasakan sesuatu gak tau kenapa bisa terjadi hal tersebut…

    Kalo kita percaya.. maka itu ada… kalo gak percaya… semuanya bisa kita abaikan..

    Mudah2an badainya tidak lewat di saya ya mbak… salam…

  6. Telepati, Insting, Feeling. Saya selalu percaya dengan ke tiga kata tersebut, Mba. Malah terkadang lebih mengandalkan feeling. 😀

    Moga Badainya belooook, Mba. Sehat selalu ya, Mba. 🙂

  7. Aku kadang juga pernah gitu mbak.. kepikiran dan langsung dihubungi.. tapi gak selalu seh.

    Soal badai bagaimana mbak? masih menunggu atau sudah terlewati?

Komentar ditutup.