Panggilan

17 Okt

Hari ini aku mendapat dua kali panggilan lewat telepon selularku. Pertama jam 13:17 dan yang kedua jam 14:27. Tentu saja aku tak bisa ambil karena aku sedang “seru-serunya” mengajar. Waktu melihat bahwa ada miss call jam 13:17 sempat buyar juga konsentrasiku karena si penelepon adalah TK nya Kai, tapi aku pikir nanti saja aku telepon kembali ke mereka karena kuliah selesai pukul 14:30. Eh ternyata pukul 14:27 sudah ada telepon kedua. Wah ada gawat apa ya?

Sebelum menelepon kembali, sambil bergegas berjalan ke terminal bus aku mendengar rekaman pesan dari TK. Rupanya waktu telepon pertama mereka mau memberitahukan bahwa Kai demam 37,7 derajat dan tidak selera makan bahkan sempat muntah. Lalu yang kedua ternyata demamnya naik menjadi 38,5 derajat. “Kami tahu Ibu sedang kerja, tapi kalau sempat mendengar pesan ini, tolong telepon kami”. Sebelum naik bus aku menelepon TK dan memberitahukan bahwa aku akan sampai di TK untuk menjemput Kai 1 jam lagi.

Tepat pukul 4 aku memarkirkan sepedaku di depan kantor guru, lalu aku disambut kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Sambil melaporkan keadaan Kai, mereka mengantarku ke tempat tidur yang ada di kantor guru. Kai sedang tidur dan tidak mau bangun meskipun gurunya sudah mengatakan, “Mama datang”. Jadi aku yang membangunkan dia sementara guru Kai yang cantik, Haruka sensei membawakan sepatu Kai. Ah guru-guru di TK ini memang baik-baik semua. Karena Sabtu ada ensoku (bermain bersama di luar dan kali ini kunjungan ke museum kereta api) aku pikir lebih baik meliburkan Kai juga. Duh aku harus menjaga dua anak yang sedang sakit. Kemarin Riku juga demam sampai 38,5 derajat, tapi tadi pagi karena tidak demam dia tetap ke sekolah sambil memakai masker. Ya memang tadi pagi Kai juga sudah ayashi (mencurigakan) menunjukkan gejala sakit, tapi waktu kuukur suhu badannya hanya 36,7. Aku memohon dia untuk mau ke TK dengan menjanjikan membelikan dia jelly dan cat air, karena aku tidak bisa membatalkan kelas hari ini. Semester genap memang rasanya lebih sibuk dan lebih cepat berlalu dibanding semester ganjil.

Panggilan lewat telepon kepada orang tua murid oleh pihak sekolah pasti dilakukan jika suhu badan murid melebih 37,5 derajat yang merupakan batas sehat dan demam. Aku sudah cukup sering dipanggil, meskipun aku bukan wanita panggilan 😀 Yang seru waktu dipanggil waktu Riku demam sedangkan aku masih dalam perjalanan ke universitas yang jauhnya 1,5 jam dari rumahku 😀 Terpaksa aku menemui staf ruang guru dulu dan memberikan tugas pada kelasku sebelum akhirnya pulang tanpa melanjutkan kuliah jam berikutnya. Padahal begitu aku sampai di rumah, Gen masuk lapangan parkir dengan Riku sudah pulang dari Rumah Sakit…. terlambat deh. Rupanya sekolahnya juga menelepon Gen ke kantor, dan Gen lebih cepat sampai daripada aku.

Oh ya tadi waktu aku masuk kantor guru TK, aku juga melihat amplop pendaftaran TK. Memang mulai 15 Oktober sampai 1 November, orang tua yang mau memasukkan anaknya ke TK bulan April tahun depan, harus membeli formulir pendaftaran (seharga 500 yen) dan mulai mengikuti test masuk. Test masuk ini biasanya formalitas, karena tidak bisa disangkal jumlah anak-anak sekarang semakin berkurang. Satu kelas biasanya 30-33 orang, sekarang hanya sekitar 25-28 orang. Aku sendiri senang kalau ada banyak ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya di TK ini, yang tahun ini merayakan 50 th berdirinya. Dan kalau ingat bahwa Kai akan lulus dari TK bulan Maret nanti, rasanya sedih juga.

Semoga tidak ada lagi panggilan-panggilan telepon mendadak lagi deh, cukup membuat sport jantung sih 😀

8 Replies to “Panggilan

  1. Panggilan darurat sudah pasti bikin jantung ibu berdebar.
    Kalau tiba2 ada telepon dari mbaknya Vay pas jam sekolah saja aku udah cemas duluan, apalagi kemarin juga ada miskol dari sekolah. Saat dikolbek, eh ternyata mau ngasih tahu akan ada Open House…..

  2. Mbak em.. kenapa yang sekolah disana jadi berkurang? apa anak anak sekitar udah pada makin sedikit yak?

    mudah2an kai dan riku gak terulang lagi ya mbak sakitnya 🙂

Comments are closed.