Tergantung cuaca

5 Okt

Mulai kemarin sore, Tokyo hujan. Sepulang dari mengajar pukul 4 lewat, aku sampai di rumah dan menemukan Riku belum pergi ke bimbelnya. Dia seharusnya berangkat dari rumah pukul 4:20-an supaya bisa mengikuti pelajaran pukul 4:50. Jarak tempat bimbel ini memang agak jauh dari rumahku, sisi berlawanan dari stasiun yang berjarak 20 menit jalan kaki dari rumah (10 menit naik sepeda). Daaaan dia mulai mengeluh sakit perut lah, sakit leher lah…keluhan yang kutahu sebetulnya hanya ungkapan malas pergi 😀 Bahasa Jepangnya kebyo 仮病 (pura-pura sakit). Akhirnya aku dengan sangat terpaksa, mengajak Kai dan naik bus bertiga ke stasiun. Memang kalau hujan, kami tidak bisa memakai sepeda untuk bepergian. Mungkin ada yang bisa tetap naik sepeda dengan atribut jas hujan dan satu tangan memegang payung. Tapi aku tidak mau mengambil resiko jatuh dari sepeda. Sehingga jika hujan aku pasti jalan kaki atau naik bus saja.

Tadi pagi seharusnya Kai melaksanakan undokai, pesta olahraga di TK nya. Tapi karena dari kemarin sudah diketahui bahwa hari ini bakal hujan, sudah dibatalkan sejak kemarin. Kami menerima surat pemberitahuan bahwa undokai diundur hari Sabtu, dan harap melihat kertas pengumuman simulasi rencana pengadaan undokainya bagaimana. Jadi hari ini belajar biasa setengah hari. Untung hari ini papanya libur kerja, (minta cuti khusus supaya bisa ikut undokai) sehingga kami bisa mengantar Kai ke TK naik mobil, dan mengantar Riku ke bimbelnya untuk mengikuti ujian bulanan.

“Aku tadinya pikir kita bisa pergi jalan-jalan ke mana gitu. Ternyata anak-anak semakin besar, dan mereka punya acara sendiri-sendiri waktu hari libur ya (Sabtu). Kita sudah musti siap mengantisipasi bahwa mulai sekarang kita akan semakin jarang bisa bepergian bersama….” Kata Gen, dan kurasa memang demikian. Untunglah kami selama ini sudah cukup sering bepergian bersama, sehingga tidak ada kata penyesalan.

Hujannya cukup deras hari ini, dan terus berlangsung sampai pukul 12 malam ini dengan rintik-rintik. Menurut kertas pengumuman, jika Sabtu hujan maka undokai diundur hari Minggu. TAPI ada tambahan: Jika Sabtu hujan dan genangan air serta cuaca tidak memungkinkan hari Minggu pun TIDAK diadakan undokai. Dipindah hari Senin, dan jika Senin pun hujan, maka undokai akan dibatalkan. Sedih juga kalau sampai dibatalkan, tapi rasa-rasanya lapangan TK besok pagi pasti masih basah…. hmmm perkiraanku sih undokainya hari Senin nih 😀 Tapi aku selalu merasa hebat karena pihak sekolah selalu memberikan lot waktu untuk pelaksanaan kegiatan. Jika hari H nya hujan, diundur sampai kapan…mereka selalu memberikan simulasi alternatif. Perencanaan yang matang. TAPI TERGANTUNG SEKALI CUACA.

Dan tadi di TV aku melihat banyak pertandingan olah raga seperti baseball dan golf yang dibatalkan karena hujan. Memang untuk kegiatan di udara terbuka, amat sangat tergantung cuaca ya.

Cepat bobo ah, karena jam 6:30 nanti akan ada telepon beranting dari TK yang menyampaikan keputusan apakah jadi dilaksanakan hari Minggu atau diundur Senin. Telepon itu menjadi penentu repot tidaknya ibu-ibu mempersiapkan bento (bekal makanan) untuk satu keluarga yang akan menonton undokai.

*** Akhirnya bisa menulis juga hari ini, karena aku sedang mengusahakan untuk menulis terus satu tulisan satu hari selama Oktober ini. Bisa tidak ya? Tapi yang pasti menulis blog seharusnya TIDAK tergantung cuaca ya 😀 Cuaca hati mungkin 😀 ***

 

2 Replies to “Tergantung cuaca

  1. Hoho. Betul. Cuaca di dalam hati, Bu. 😀

    Ternyata di mana-mana pun ada saja yak anak-anak pakai alasan sakit agar tidak pergi.

    Di sini mah prakiraan cuaca gak terlalu dianggap.

  2. Mbak EM melaksanakan program posting per hari nih, meneladan lili pink yang tetap mekar tak terganyung cuaca.
    Akurasi prediksi cuacanya tinggi sekali ya mbak. Salam

Comments are closed.