Hujan, Pelangi dan Batik

Hari kedua Oktober. Begitu kubuka situs socmed terkenal itu, aku diingatkan bahwa hari ini adalah hari “Batik”. Aku sebetulnya agak tidak setuju jika kami diharapkan memakai baju batik di sini. Entah kenapa, mesti tanggal 2 Oktober itu, yang pernah kualami cuacanya sama sekali tidak cocok untuk berbatik ria. Entah dingin, entah badai, entah hujan, atau… bukan hari “keluar rumah” untukku 😀

Seperti yang kukatakan pada sahabat blogger Drajat, batik itu memang cocoknya untuk udara panas. Jadi kalau musim panas di sini, aku lebih suka memakai batik, karena benar bahan batik itu jauh lebih menyejukkan daripada baju lainnya. Tapi ya itu, belum ada coat batik untuk musim dingin, jas hujan batik untuk dipakai waktu musim hujan, atau…. payung bermotif batik 😀 Semestinya kalau ada payung motif batik, seru juga ya. Pasti menjadi pusat perhatian. Tapi kalau ketinggalan di kereta seperti kejadian payung vynilku minggu lalu, pasti menyesal deh. Tapi hebatnya, kalau memang ada payung batik, pasti bisa ditemukan kalau mau mencari. Tinggal pergi ke Lost and Found kantor stasiun, dan melaporkan kira-kira naik kereta yang jam berapa.

Jadi ya memang hari ini aku tidak memakai batik waktu pergi mengantar-jemput Kai di/ke TK. Pagi hari hujannya begitu deras dan agak dingin sehingga aku memakai baju yang agak tebal saja. Pulangnya sudah tidak hujan, tapi tidak sempat ganti baju. Tapi aku selalu pakai taplak batik kok di rumah **pembelaan**

Memang Jepang sedang tidak stabil cuacanya. Pagi tadi diberitakan ada Badai No 22 mendekat, sementara no 23 juga timbul di perairan filipin. Badai di Jepang bernomor, sesuai dengan saat timbulnya. Jadi sudah ada 23 badai yang timbul di perairan Pasifik selama ini. Besok kalau ada badai lagi, pasti akan dinamakan Badai No 24 dst. Kadang tiba-tiba terdengar Badai No 30 padahal kita tidak tahu ada badai nomor-nomor sebelumnya. Itu berarti badai nomor-nomor sebelumnya tidak “mendarat” atau mendekati kepulauan Jepang.

Yang menjadi perhatian kami, bagaimana cuaca nanti hari Sabtu tgl 5 Oktober. Karena pada hari itu akan diadakan Undokai, Festival Olahraga untuk TK nya Kai. Kali ini Kai nenchogumi (kelas teratas) sehingga merupakan undokai yang terakhir sebelum masuk SD.  Rencananya Kai akan memainkan belurira Glockenspiel, lalu ada senam ritmik juga. Kalau sabtu hujan, berarti ditunda hari Minggu atau Senin atau Selasa. Kalau mau ikuti kehendaknya deMiyashita sih, kalau bisa diadakan hari Minggu supaya papa Gen bisa ikut menonton. Kalau Sabtu dia kerja.

Hujan memang sering tidak diharapkan manusia. Semua tindakan bisa menjadi lambat dengan turunnya hujan. Tapi setelah hujan berhenti, pelangi yang indah mungkin akan menghiasi angkasa. Sama seperti sore ini ketika aku pulang dari belanja. Waktu bersepeda pulang, aku melihat ada dua ibu sedang memandang ke angkasa arah timur. Begitu aku menoleh, waaaahhh aku lihat pelangi. Memang indah. Sambil mengayuh cepat aku berpikir, keburu tidak ya memotret dari rumah? Biasanya pelangi cepat hilang. Akhirnya aku menghentikan sepeda di depan sebuah ladang. Pemandangan dari situ indah sekali. Cepat-cepat kukeluarkan iphone ku dan… ini hasilnya.

harus ambil dua kali, kiri dan kanan

 

Untung saja aku mengambil di depan ladang itu, karena ternyata waktu aku mau ambil foto dari beranda apartemenku yang terletak di lantai 4, tidak bisa masuk semua dalam lensa.

dari beranda rumahku, dengan memakai fungsi panorama

Dan aku diingatkan ekubo sisterku sebuah lagu dari Jamrud: Pelangi di matamu.

Kalau kamu melihat atau mendengar soal pelangi, ingat apa?