WarNer

8 Sep

Jumat siang aku memang upload foto di FB ku, dan seperti biasa aku pasang: “Cooking for Master!” @WarNer. Lalu kemudian seorang teman bertanya, :”Warung Nerima itu beneran resto indonesia di Nerima atau maksudnya mbak Imel yang masak? Kayanya enak2 bangeettt!. Berkat komentar dia, aku jadi mau menulis tentang WarNer deh hehehe.

WarNer itu pertama kali dicetuskan oleh saudara “lesung pipit”ku Sanchan, waktu dia makan di rumahku. Waktu itu aku menyediakan rendang, dan masakan Indonesia lain (lupa aku). Biasanya masakanku aku tulis: “from deMiyashita Kitchen”. Tapi berkat Sanchan, apa yang tersaji di meja makanku diberi nama dari WarNer singkatan Warung Nerima (Nerima adalah nama kelurahan tempat aku tinggal). Keren kan? Dan berarti apa yang tersaji di meja makan BELUM TENTU hasil masakanku semua. Bisa saja beli jadi, atau bawa dari Indonesia, meskipun biasanya ada satu dua jenis masakan buatanku. Begitu tercetus kata “WarNer” wah aku merasa seperti bagian dari Warner Bross yang produser film itu 😀 numpang beken hehehe. Sejak saat itu aku memakai kata WarNer untuk meja makan di rumahku + isinya. Terima kasih untuk nama yang bagus ya Sanchan 😀

Ekubo Sister (ekubo = lesung pipit dalam bahasa Jepang). Sayang Sanchan tidak bisa gabung di WarNer Jumat kemarin karena kerja

Hari Jumat kemarin, 6 September aku menggelar WarNer lagi 😀 untuk merayakan wisuda program S2 nya Ekawati Sudjono dan sekaligus perpisahan dengannya yang akan pulang ke Indonesia. Sudah cukup lama kami tidak bisa berkumpul bersama 5 orang, Eka, Lisa, Witha, Nesta dan aku.  Karena Eka tinggal jauh dari Tokyo, memang dia tidak termasuk dalam grup kuliner manca negara.

Waktu merencanakan pertemuan Jumat itu, aku memang sudah mengatakan pada teman-temanku ini bahwa aku tidak mau masak-masak. Soalnya teman-temanku ini semua pinter masak, jadi jiper juga memasak untuk yang ahli. Kebetulan memang aku membawa rendang, mpek mpek dan otak-otak dari Indonesia, jadi menunya itu saja. Aku sendiri sibuk setiap hari membereskan rumah dan antar-jemput Kai yang sudah mulai sekolah. Tapi akhirnya pas hari jumatnya aku bangun pukul 4 pagi dan membuat puding coklat serta  black forrest. Ntah kenapa aku ingin sekali membuat kue. Sampai aku ingin tanya siapa sih di antara kita yang akan berulang tahun dekat-dekat ini.

tumpeng dadakan di WarNer

Akhirnya Lisa, Witha dan Nesta + Hiro anaknya datang pukul 12 lewat. Yang mau diselamatin, Eka malah datangnya jam 2 lebih. Jadi sebelum Eka datang, aku minta tolong Lisa yang pintar menghias makanan dan kue, untuk membuatkan tumpeng dari nasi kuning yang kutanak malam  sebelumnya. Jadi deh nasi tumpeng ala kadarnya. Oh  ya masih sempat membuat ayam bumbu bali dengan bumbu instant 😀

“Tamu”nya WarNer Jumat 6 September. Photo by Kai. Selamat wisuda untuk Eka, dan Selamat ulang tahun untuk Lisa.

 

Waktu kami ngobrol ngalor ngidul, Riku pulang pukul 1, dan pukul 2 kurang aku menjemput Kai naik sepeda. Baru jam 2:15 an Eka datang dan potong tumpeng deh. Karena Lisa harus pulang cepat, aku keluarkan puding. Ternyata sementara aku menghias kuenya, aku dengar bahwa Lisa sebetulnya berulang tahun pada hari Seninnya. Lisa sendiri sering membuat cake dan menerima pesanan. Kuenya bagus-bagus! Jadi aku keluarkan kue black forrestku dengan lilin untuk Lisa (untung ada persediaan lilin ulang tahun). Kueku sudah pasti kalah dengan buatan Lisa, tapi kubuat dari hati loh 😀

Lisa dengan kue buatanku. Selamat ulang tahun ya Lis.

Karena emak-emak (kecuali Eka yang belum emak :D) ini semua sibuk, Lisa harus cepat pulang karena suaminya ultah. Lalu Nesta juga karena suaminya ultah (kok bisa ya suami-suami mereka itu ultah bareng tgl 6 September hehehe), lalu Witha sakit pinggangnya, dan Eka masih harus pergi lagi bertemu teman lain, jadi WarNer bubar jam 4 sore. Warungku cuma buka 4 jam deh hari itu 😀 (ngga balik modal deh :D)

Kehidupan di Jepang (Tokyo) memang sangat sibuk sehingga kami jarang bisa bertemu. Tapi kami selalu mengusahakan berkumpul terus untuk menjaga silaturahmi. Meskipun anggota kami berkurang satu dengan kepulangan Eka, Warner siap buka kapan saja aku ada waktu untuk menyambut teman-teman. Tapi jangan lupa bawa bekal sendiri ya, nanti aku sediakan nasi deh hehehhe. Rendang, mpek-mpek atau sate padang pasti dismabut dengan gembira 😀

Naga-naganya WarNer baru buka sekitar Natal nanti deh 😀

Kai, Hiro dan Riku

 

19 Replies to “WarNer

  1. WarNer Boros instead of warner bros yah Mbak lol, karena kalau di Jepang makanan (dan bahan makanan) Indonesia itu justru menjadi sesuatu yang mewah buat kita-kita aku mau pudding nya *^^* nanti aku bawa bika Medan yah (kenapa pakai Ambon kalau beli di Medan yah??)

    • hahhaha bika Ambon dari Medan,
      Pepaya bangkok beli di Mayestik,
      Pisang Ambon dari kampung Melayu
      Nanas Palembang beli di Blok M
      musti dikumpulin nih 😀

      dan yes, Warung Boros! Mahal soalnya bahannya ya 😀 Ada yang musti naik pesawat terbang tuh

  2. Mbak, tumpengnya meriah bangeeet! Salut deh bisa menyiapkan tumpeng semeriah itu. Jauh dari Indonesia pula. Keren nih WarNer. Bisa nggak ya kapan-kapan mampir ke sana? 😉

    • aku mah ngga jago, tapi kepepet 😀
      Tapi bener deh, ibu-ibu yang tinggal di LN mau ngga mau musti jago masak. Kalau ngga bisa bokek cari “rasa” Indonesia di restoran terus hehehe

  3. Membuat Tumpeng lengkap di negeri orang …
    yang jauh dari negeri sendiri …

    Sangat patut untuk di double apresiasi …
    Apresiasi pertama karena tentu bukan hal yang mudah untuk mengumpulkan bahan-bahannya … serta proses pembuatannya juga tentu perlu pemikiran juga
    Apresiasi kedua karena … ini budaya kampung halaman … salut untuk mereka yang melakukannya … apalagi ini di luar negeri

    (BTW … as ussual … itu empuk-empuk kan EM … hahahaha)

    Salam saya EM

    • untung selalu ada persediaan abon. Kalau telur dadar kan bisa buat sendiri. Perkedel dan ayam biasanya ada di kulkas hehehe. Kecuali rendang semua empuk-empuk kok mas. Kapan mau datang ke WarNer. Bisa pesan bubur ayam juga kok, aku sudah bisa buat cakwe 😀

    • hahahha iya “Warner Sis(ter”. Kalau menjadi kenyataan, maunya aku dan sanchan buka warung. Tapi ya itu spt komentarnya sanchan pasti jadi warung boros, karena kita cuma mau sediakan dan makan masakan yang “terpilih” berarti bahannya mahal 😀

  4. mBak EM, ketenaran warner pastinya karena kehangatan hati keluarga sang pemilik warung dan seluruh makanan dimasak maupun disajikan dengan hati. Jadi kangenan para sahabat yang tinggal maupun sementara studi jauh di negeri Sakura. Salam

  5. Wah, di warung ada nasi tumpeng. Senangnya…

    Biasanya kalau ada tumpengan begitu, pengennya dapet yang bagian pucuknya. Tapi biasanya kan yang dapat pucuk itu adalah orang yang penting, misalnya pejabat, atau kalau acara ulang tahun ya orang yang berulang tahun. Sayangnya belum pernah tuh ulang tahun dikasih tumpengan beginian. Ingin rasanya…

  6. pasti seru banget ya mbak kumpul kumpul gitu. Apalagi kalau jarang bisa kumpul, makin terasa pas ketemunya.. apalagi makanannya enak enak bener 😀

  7. hahahahah mami buka warner di jkt juga dunk.. buka cabang hanya waktu libruan xixixixix… * tapi aku uda penah makan ikan goreng warner cabang jkt* xixixiixx

    seruuuuu yaaaaaa… <3 <3 <3….

    semoga warner buka terus dan yang masak sehat2 terus… makin rame makin laris warner nya xixixixix *doa calon langganan warner* xixixixix

  8. Tak terasa Eka sudah mau pulang? Selamat untuk Eka yang telah memperoleh gelar S2 nya. Juga selamat untuk Lisa yang berulang tahun.

    Mel, berarti jika anak-anak sudah besar, Imel bisa bikin restoran Indonesia. Saya ingat “Warung Ani dan Ivan” di Hamamatsu, yang masak pemiliknya, dan pegawainya cuma satu. Nggak usah besar-besar, dan waktu bukanya terbatas….hehehe…
    Soalnya masakan Imel enak (selain aku, udah ada beberapa orang lho yang mengatakannya).

Comments are closed.