Arsip Bulanan: Agustus 2013

Pameran “Elite” di Yokohama

Wah ternyata sudah seminggu aku kembali ke rumah. Tepat pagi ini Jumat minggu lalu aku sampai di Narita. Selama seminggu itu rasanya sibuuuk sekali, bukan karena bongkar koper tapi karena pergi terus 😀 kebetulan Gen ambil cuti dua hari juga, sehingga kami berkesempatan pergi berlibur bersama keluarga.

Hari Sabtu kami langsung pergi ke rumah mertua di Yokohama untuk membawa oleh-oleh dan ngobrol. Selama aku dan anak-anak pergi ke Indonesia, Gen dan orang tua sering pergi bersama. Satu kali sampai ke Wakayama prefecture karena ada om yang meninggal. Kemudian mereka juga pergi berlibur dengan mobil ke daerah Sendai dan utara Jepang. Pernah akan menginap di Morioka tapi terhadang hujan lebat yang berpotensi banjir, sehingga cepat-cepat kembali ke Sendai. Jadi kami bertukar cerita malam itu, tentu sambil mencoba sake asli Yamagata.

Minggu pagi kami terbangun oleh hujan. Setelah sarapan kami bermalas-malasan tapi kupikir sayang sekali waktu terbuang begitu saja, jadi aku menyarankan untuk pergi ke Cup Noodles Museum di Yokohama. Ibu mertuaku juga mau ikut, sehingga kami berlima naik mobil menuju daerah kota Yokohama.

Gudang Batubata

Mendekati museum itu, kami melihat begitu banyak orang yang masuk museum. Hmm tidak enak juga jika kami harus antri lama-lama hanya untuk mencoba membuat cup noodles sendiri. Lagipula waktu kami mau parkir di situ, sudah penuh dan harus mencari tempat parkir yang lain. Jadi kami terus menuju ke Akarenga Soko (Redbrick Warehouse – Gudang Batubata) yang merupakan salah satu tempat wisata juga di Yokohama. Tempat parkirnya mahal, dan waktu kami ke situ memang ada tanda mansha 満車 (sudah penuh) tapi hanya ada 3 mobil yang sedang antri. Kami memutuskan untuk antri saja, karena begitu ada 3 mobil yang keluar, pasti kami bisa masuk. Masalahnya berapa lama? hehehe

Tapi kami sudah memutuskan untuk tidak jadi ke Cup Noodles Museum dan melihat di pelataran Gudang Batubata itu banyak mobil pemadam kebakaran, ambulans dan tenda-tenda, seperti ada festival. Dan tidak sampai 10 menit ternyata ada 3 mobil yang keluar lapangan parkir, sehingga kami bisa memarkirkan mobil kami di situ. Yatta! Horreeee.

Riku naik motor dari NTT

Kami langsung keliling, dan Kai yang melesat sendirian ke mana-mana sehingga terpaksa aku harus mengawasi dia. Pertama dia naik sepeda motor dari grup NTT telepon, yang konon dipakai untuk memeriksa jaringan. lalu sesudah itu dia ingin coba pakai baju dengan masker anti gas. Ada dua tempat yang menarik hatinya yaitu masker dari Japan Coast Guard (Pengawas Pantai) dan dari dinas pemadam kebakaran. Waktu mau mencoba, Riku ikut bergabung sehingga aku bisa memotret keduanya dengan seragam Japan Coast Guard. Di sini kami mendapat penjelasan bagaimana cara mengangkat lapisan minyak di permukaan laut dengan bahan khusus.

Japan Coast Guard

Di ajungan perusahaan Gas Jepang, kami mengisi kuiz yang kemudian bisa memutar undi untuk mendapatkan hadiah. Di situ kami baru tahu bahwa tanggal 31 Oktober adalah hari gas 😀 . Yang lucu Kai ingin berkali-kali memutar undi jadi dia bolak balik ikut kuiz itu.

menaiki mobil Palang Merah memakai baju dokter Red Cross

Dari petugas Japan Coast Guard kami mengetahui bahwa kapal patroli Izu dibuka untuk umum. Kapal Patroli ini sangat membantu pencarian korban waktu terjadi tsunami di Tohoku. Jadi kami langsung ke tempat kapal patroli itu ditambatkan dan masuk ke dalam. Dari situ kami bisa melihat pemandangan sekitar dari atas kapal. Ada pula demonstrasi penyelamatan orang di laut. Salah satunya Riku mencoba ditarik dengan crane cukup tinggi.

Kapal Patroli Izu

Riku diangkat dengan crane dalam simulasi penyelamatan kecelakaan laut

Saking sukanya Riku dengan Japan Coast Guard ini, dia membeli vest dengan uangnya sendiri.

Riku dengan vest yang dibeli sendiri dengan uang sakunya. Kai mama yang belikan, soalnya Riku mendapat topi dari neneknya 😀

Sesudah dari kapal, kami juga melihat museum kapal pengintai Korea Utara yang ditangkap Japan Coast Guard dan kolam renang tempat mereka berlatih. Aku sempat bercerita pada salah satu staf, bahwa aku pernah lihat acara di TV bahwa anggota Japan Coast Guard itu harus berlatih untuk bisa menahan nafas sampai 30 detik. Dan kata staf itu memang ada latihan seperti itu terutama untuk mereka yang bertugas di laut langsung.

kolam tempat mereka berlatih

 

Tapi memang acara seperti ini selalu ramah terhadap anak-anak. Mereka menyediakan baju kapten ukuran anak-anak untuk dicoba. Riku sudah harus memakai ukuran dewasa, sehingga kadang tidak bisa ikut memakai kostum.

kapten Kai Miyashita

Setelah dari kapal pengintai itu, kami menuju Gudang Batubara lagi untuk mencari makan. Padahal Riku sebetulnya ingin sekali melihat latihan dengan  helikopter. Sesudah makan kami kembali lagi ke beberapa stand yang belum dikunjungi seperti Palang Merah, Pasukan bela diri, mobil pemadam kebakaran dengan tangga dan mobil pemadam bahan kimia. Ada pula mobil simulasi gempa bumi.

pemadam kebakaran

Boleh dikatakan semua anjungan yang ada itu merupakan perwakilan dari “elite” di daerah Yokohama, yang pasti amat berperan jika terjadi bencana baik di Yokohama maupun di tempat lain. Ada perusahaan lifeline : gas, listrik, telepon dan layanan darurat: Palang Merah, pemadam kebakaran, Pengawas pantai dan pasukan bela diri. Merupaka kesempatan langka untuk anak-anak melihat semua perusahaan itu di satu tempat apalagi bisa berfoto bersama baik dengan baju seragam mereka maupun dengan sarana-sarana mereka. Baru kami ketahui setelah pulang ke rumah bahwa festival/fair  itu adalah festival Penanggulangan Bencana Yokohama yang diadakan pemda Yokohama. Memang setiap tahun pada tanggal 1 September selalu diadakan peringatan Penanggulangan Bencana, dan rupanya festival ini sehubungan dengan hari peringatan tersebut. Dan sudah waktunya juga aku mengecek persiapan deMiyashita dalam menghadapi bencana.

kakak-adik pemadam kebakaran

Kami sama sekali menyangka bahwa rencana kunjungan ke museum Cup Noodles bisa menjadi pengalaman yang begitu menarik bagi anak-anak dengan adanya Festival Penanggulangan Bencana Yokohama ini. Kalau hari biasa dan tanpa festival ini kami tidak akan bisa masuk atau mencobai bermacam-macam hal.

Ah DeMiyashita memang terbiasa dengan perjalanan tanpa rencana. Nariyuki. Tanpa festival ini, mana bisa mereka mencoba memakai seragam macam-macam 🙂

 

Mengejar (Bunga) Matahari

Begitu kami keluar dari pesawat ANA (23-08-2013) yang kami tumpangi dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, kami disambut dengan udara panas. Langsung keluar dari mulut kami, “Aduh panas!”. Memang kami seakan mengejar matahari ke tempat yang jauh lebih panas dari Jakarta. Padahal saat itu temperatur BELUM 35 derajat 😀

Untung proses imigrasi dan bagasi lancar sehingga dalam waktu 30 menit dari mendarat, kami sudah bisa mendorong koper-koper kami ke luar pintu kedatangan. Gen juga sudah menunggu di depan pintu, dan aku tahu pasti dia tidak tidur semalam supaya tidak terlambat. Supaya sampai Narita jam 7 pagi memang harus berangkat jam 5 – 5:30 dari rumah kami.

Anak-anak langsung menghambur ke papanya dan memang kelihatan sekali beda Kai sebelum pergi dengan sesudahnya. Dia tambah tinggi dan berisi! Lalu kami pergi ke counter “Kucing Hitam” Deliveryuntuk mengirim sebagian koper kami karena tidak masuk ke mobil. Untung si kuroneko bisa menjanjikan koper kami sampai di rumah sekitar pukul 6 sore.

Begitu masuk mobil, kami pasang AC keras-keras. Panas! dan Ngantuk. Aku otomatis tidak tidur selama di pesawat karena mengerjakan terjemahan dengan laptopku. Oh ya aku juga baru tahu loh, bahwa ada colokan listrik di dalam pesawat! Letaknya di bawah kursi dan bisa menerima colokan bentuk apa saja (bundar, pipih, tiga lubang dsb). Universal!!…. HEBAT! Aku sudah sering juga sih membuka laptop di dalam pesawat tapi karena sebentar, biasanya pakai cadangan batere saja. Karena laptop batereku hanya 3 jam, aku tanya pada petugas ground, dan diberitahu letak colokannya. Yatta! (ih udik banget si Imelda ini, masa baru tahu ya hehehehe). Fantastic!

diambil dari website ANA http://www.ana.co.jp/int/inflight/guide/y/seat/767_300er_new/

Jadi aku ingin tidur selama perjalanan pulang nih…rencananya. Tapi anak-anak dan Gen ingin melanjutkan proyek kami “Mengunjungi 100 Castle Terkenal Jepang”, dan salah satunya ada di Sakura (nama daerah) di Chiba. Jadilah Gen menyetir ke arah Sakurajo (Sakura Castle). Tapi karena tempat itu hanya merupakan “bekas situs” tidak ada bangunannya, aku menunggu di dalam mobil (tepatnya tidur) sambil mereka turun dan berfoto.

Sakura Castle at Chiba… hanya tinggal bekas situsnya

Yang menyenangkan adalah setelah dari Sakurajo itu, Gen mampir ke sebuah kebun Himawari (Bunga Matahari) yang konon terkenal. Tapi ternyata hanya sisa satu dua batang bunga matahari saja. Semua sudah habis, dan tersisa hamparan padi yang mulai menguning serta sebuah Kincir Angin besar seperti di Belanda saja.

kincir angin “Belanda” diambil dari lapangan parkir

 

Memang puncaknya keindahan bunga Matahari selalu pas aku mudik ke Jakarta sehingga tidak pas waktunya. Tapi berdiri di tengah-tengah jalan aspal satu mobil dan memandang hamparan padi itu sangat menyegarkan hati. Aku selalu suka tempat yang luas dan alami seperti ini.

Pagi menguning. foto panorama 180 derajat.

Kami memang sempat sarapan di sebuah Parking Area. Tempat yang selalu kami mampiri sepulang dari Jakarta. Kai selalu memesan zaru soba (mie Jepang yang dingin) dan kami biasanya memesan MOS Burger. Nah sepulang dari Taman Himawari di Chiba itu, perjalanan masih jauh ke Tokyo, dan masih macet. Jadi aku bilang pada Gen agar tidak memaksakan diri nyetir pulang dalam keadaan ngantuk. Jadi deh kami mampir ke sebuah Parking Area lagi, dan tidur berempat di dalam mobil 😀 Lumayan loh satu jam-an tidur membuat segar kembali. Dan kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, setelah mampir makan siang sushi.

Memang aku sempat makan sushi di Jkt 2 kali, tapi kok rasanya lain ya? Di Jakarta terlalu funky 😀 Sebelah kiri memang sushi tradisional yang “biasa”, Tapi aku sekarang sedang suka sushi dengan cara “Aburi” jadi disemprot dengan api dari atas, sehingga sushinya setengah matang. Dan rasanya yummy, karena ada “bau” asapnya 😀

“Aduh kecilnya rumah kita”… itu yang diucapkan anak-anak begitu sampai di apartemen kami. Ya di Jakarta enak bisa lari-lari dalam rumah saking besarnya, kalau di sini mau jalan dalam rumah saja bertabrakan 😀 Tapi biarpun kecil, ini rumah kami dan kami sudah terbiasa hidup di sini. Dan malam itu kami makan malam nasi + rendang, rasa tanah air….

 

Your Home is …..

….. where your heart is.

Ya, kami sudah kembali ke Tokyo, ke rumah kelinci kami lagi.

Dan ternyata, menjadi Infal ART di Jakarta itu beraaaaaat sekali.

Masak dan mencuci pakaian buatku, sama sekali no problem! Tapi, yang bikin berat adalah, tidak bisa pergi ke mana-mana. (Lagian ART mau pergi ke mall :P) Sibuk buka pintu untuk tamu dan anggota keluarga yang pergi dan pulang. Sibuk mengatur siapa orang dewasa yang perlu jaga rumah, jika anak-anak (5 krucils) pulang sekolah. Dan orang dewasa yang bisa diandalkan hanya papa (opa) dan aku 😀 Papa tentu punya kesibukan sendiri dengan acara mengajar di Lemhanas, rapat-rapat di gereja… dan yang aku kagum, papa SETIAP HARI mengikuti misa di gereja 🙁 Jadi deh pembantu infalan dari Tokyo yang harus menjaga rumah. Pernah aku lari ke PS bertemu teman-teman lintang (lintas angkatan) Sastra Jepang sampai jam 2:30, dan anak-anakku kelaparan tidak ada makanan 😀 . Kebetulan ada adik laki-lakiku, jadi dia telepon delivery MacD.

Ya, memang sekarang lebih canggih, bisa delivery berbagai masakan. TAPI aku tidak suka masakan cepat saji seperti itu. Aku tidak suka masakan china, dan bosan dengan bakmi kesohor G* yang kalau di Tokyo aku ngiler melihat fotonya. Ya, selera makanku sudah berubah total. Meskipun ya, aku masih suka makan sate padang dan ketoprak! Mungkin tahun depan daftar keinginanku untuk kuliner akan menjadi lebih pendek lagi 🙁 🙁 🙁 (Hey, maybe I am sure getting old)

Selain itu tiba-tiba aku ada permintaan mengerjakan translation dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Chance dong! Aku iya-kan, dan menyesal sesudahnya, karena liburanku menjadi rusak karenanya. Tolong ingatkan aku untuk tidak menerima pekerjaan waktu liburan tahun depan 😀

Ya, aku lebih banyak di rumah, tapi ada tiga angel, yang menghiburku, karena mereka tidak sungkan untuk datang ke rumah, kapan saja. Yang jauh adalah Liona, dari Solo, yang datang persis waktu aku berencana pergi ke rumah dunia tanggal 4 Agustus, untuk mengikuti acara Kado Lebaran. Yang dekat, dari Jakarta adalah Ria (Jumria Rahman), saudara Galesong-ku yang sering mampir sesudah pulang kantor, hanya untuk mengajak makan malam, atau membawa makanan untuk dimakan bersama di rumahku. Dan satu lagi anakku ketemu gede, karena dia selalu memanggil aku “Mommy”. Kai bertanya padaku, “Ma, mommy apa artinya?”, dan kujawab “Ibu, mama, mother…jadi Kakak Lia (Priskilla) memanggil mama seperti ibunya”
dan Kai protes, “NGGA BOLEH, INI KAN MAMAKU!!!”

“Tante” Ria, “Mama” Imelda dan “Oma” Lia, kata anak-anakku 😀

Meskipun diprotes, meskipun kadang anak-anakku bosan dengan cerewetnya Kakak Lia (Sampai sampai mereka memanggil Oma LIA :D) , Kakak Lia amat membantuku untuk menjaga anak-anak waktu pergi memancing, atau mengajak bermain di Rumah Dunia dsb. Dan puncaknya Tante Ria dan Kakak Lia datang pada malam terakhir aku berada di Jakarta. Lia membantuku packing koper, dan Ria membawakanku Bakwan Malang yang benar-benar memenuhi impianku. ENAK!

Ria dan Lia, juga Liona, juga teman-teman lain yang sempat kutemui di Jakarta. Terima kasih banyak. Kalian membuat liburanku berarti, dan tentu saja aku masih hutang tulisan tentang perjalanan kita bersama. Satu-per-satu akan kutulis, tapi paling tidak fotonya sudah kupasang di FB. Semoga kita diberi umur dan rejeki oleh Tuhan sehingga dapat berjumpa lagi, dalam waktu dekat!

Kai berkata, “Ah lega bisa berbicara bahasa Jepang, dan menonton bahasa Jepang” Padahal dia sudah amat pandai memakai bahasa Indonesia selama di Jakarta.
Riku berkata, “Mama, semoga tahun depan bisa datang lagi ya… (dan tentu saja sambil berurai air mata di bandara, waktu berpisah dengan opanya). Aku mau ikut sepupu-sepupuku pergi ke Solo naik mobil”.
Gen berkata, “Wah anak-anak terutama Kai bertambah besar dan tinggi ya. (Dan memang banyak bajunya yang terpaksa kutinggal di Jakarta untuk dibuang karena sudah kekecilan).
Dan aku berkata, “Semoga… semoga aku masih bisa pulang kampung lagi, karena perekonomian dunia saat ini sudah mulai kritis (ah mungkin perekonomian DeMiyashita saja)”

Dan akhirnya aku lega sudah bisa menulis di Blog lagi. I AM HOME!

Kicir angin yang kami lihat di Chiba, sesudah mendarat di Narita. Tak perlu ke Belanda kok 😀

Anugerah

Aku sedang ingin menulis tentang “Berkat”, berkat-berkat yang kurasakan selama hampir sebulan ini, terutama akhir-akhir ini, yang kurasa amat banyak. Tapi khusus untuk kali ini aku memakai kata Anugerah dulu sebagai judul tulisan.

Aku ingin menceritakan tentang om-ku, Philip Karel Intama yang meninggal tanggal 4 Agustus yang lalu. Pagi itu persis waktu aku sedang mempersiapkan kunjungan ke Rumah Dunia. Kami menerima kabar tentang kematian om Kale, demikian sapaan kami kepadanya.  Tepatnya aku mendengar suara terisak papa yang menerima telepon pemberitahuan dari keluarganya. Dan aku mengerti bahwa Tuhan telah memanggil om kami ini.

Om Kale adalah suami dari adik papa, jadi adik iparnya papa. Saat meninggal usianya 80 tahun, usia yang cukup banyak bagi kebanyakan orang Indonesia, yang rata-rata life expectancy (angka harapan hidup 寿命)nya 69,32 tahun data th 2011 ( urutan ke 118, menurut WHO).

Sebab meninggalnya karena sakit yang memang tidak bisa disembuhkan lagi. Tapi ada satu hal yang membuatku tak hentinya meneteskan air mata waktu mengikuti kebaktian penghiburan di rumahnya. Yaitu bahwa om Kale sudah 4 tahun berusaha mengurus surat pengakuan dari pemerintah Indonesia bahwa beliau adalah pejuang Trikora, di Manado saat itu. Konon tanda “bagde” pejuang trikora sudah diterima, tapi surat pengakuan itu yang belum diterima. Jadi selama masa “penantian” surat pengakuan itu, beliau ber-nazar (janji pada diri sendiri hendak berbuat sesuatu jika maksud tercapai; kaul:  – KBBI Daring) dengan tidak mencukur jenggotnya.

Om jenggot putih itu juga yang menjadi trade mark bagi anak-anakku untuk mengenali dibanding namanya, Om Kale. Kai selalu bermain dan menarik-narik jenggot om Kale setiap bertemu jika aku mudik. Tapi waktu kuajak anak-anak melayat, mereka tidak menemukan “Om Jenggot Putih” di dalam peti mati. Ah wajah om Kale memang cerah dan bersih dari kumis dan jenggot. Dan dari kotbah kebaktian itu lah aku mendengar cerita tentang nazar pengakuan pemerintah atas keikutsertaannya dalam memperjuangkan Trikora.

Adalah tgl 29 Juli, persis hari ulang tahun papaku, pukul 8 pagi putri om Kale mendatangi rumahku. Rupanya dia sudah janjian dengan papa untuk pergi ke Kemenham guna menanyakan surat pengakuan pejuang Trikora. Kebetulan papa ada chanel dengan orang “dalam” untuk bisa menanyakan posisi surat tersebut. Papa pun hari itu tidak menyangka bahwa kepergian papa dan sang putri dapat menghasilkan sesuatu yang positif. Dalam waktu 2 jam, surat pengakuan yang rupanya sudah ditanda-tangani tanggal 15 Juli itu berhasil diterima sang putri. Yang kemudian surat pengakuan itu dibawa langsung ke RS untuk diberikan pada om Kale yang sedang terbaring tapi masih sadar. Tangis pecah mengiring kebahagiaan atas perjuangan selama 4 tahun yang membawa hasil positif. Ya, Om Kale dinyatakan sebagai pejuang Trikora di Manado. Pengakuan yang ditunggu-tunggu itu memberikan kebahagiaan pada Om Kale, dan dengan hati ringan bisa menghadapi panggilan Tuhan untuk kembali ke rumah Bapa.

Selamat Jalan Om Kale

Banyak yang telah dilakukan om Kale dalam pelayanan di 3 gereja GPIB yang terbukti dari banyaknya kebaktian dan doa yang dikumandangkan untuknya. Sehingga genaplah doa yang sering diucapkan orang Indonesia ketika seorang bayi lahir, yaitu “Agar berguna bagi keluarga, gereja dan bangsa”. Bagi om Kale tentu sudah banyak anugerah Tuhan yang beliau terima. Dan terakhir dilengkapi dengan peng-anugerah-an surat keputusan pemerintah yang menyatakan om Kale adalah Veteran Pembela Kemerdekaan RI.

Dan bagi kami, om Kale juga anugerah Tuhan, karena doa-doanya selalu menyertai kehidupan kami sejak kami kecil.

Rest in Peace oom. Doa kami menyertai oom dan segenap penghuni surga. Titip salam juga pada mamaku ya.

NB: Om Kale dimakamkan di San Diego Hills tepat tanggal 8 Agustus, saat umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri. Saya juga mau mengucapkan selamat Idul Fitri kepada semua keluarga dan teman yang beragama Islam. Semoga kita dapat memulai kehidupan baru setelah saling memaafkan kesalahan yang telah dilakukan selama ini.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah”

 

Melapor

Q: Kenapa akhir-akhir ini malas menulis dan jarang ada tulisan baru?
A: Ya, akhir-akhir ini di Tokyo, selain panas dan lembab, aku sering menemani Riku mengerjakan PR. Kemudian membereskan rumah, mengepak 5 koper karena kami akan mudik ke Jakarta. Bahkan aku masih harus memberikan Ujian kepada mahasiswa sampai tanggal 26 Juli.

Q: 5 koper? Isinya apa saja tuh?
A: Isinya? Lupa 😀 Segala mie Jepang, bumbu, kecap, coklat, plastik, kaset dan CD bekas masuk bruk ke dalam koper. Baju-baju kami bertiga saja cuma 1 koper. Oh ya PR dan bukunya Riku sendiri sudah 10 kg loh :D. Eh iya, bahkan sempat memasukkan beras Jepang 2 kg ke dalam koper :D. Jadi kesimpulannya 5 koper sampah 😀

Q: Emang mau berapa lama di Jakarta, dan mau ngapain aja?
A: Cuma 28 hari dan cuma di Jakarta saja. Mau melamar kerja infal pembantu  gaji tinggi kira-kira ada yang mau ngegaji ngga ya? 😀

Q: Kapan berangkat?
A: Tanggal 27 Juli, soalnya tanggal 29 Juli papa berulang tahun yang ke 75. Harus dirayakan tuh, angka cantik!

So, sodara-sodara…. niatnya mau menulis laporan akhir bulan Juli, tapi malas! Jadi begitu deh, aku sedang di Jakarta dan semoga mendapatkan dorongan kuat untuk tetap menulis di blog 😀 Masih banyak sekali topik yang belum tertulis di draft.

Soalnya sejak aku datang dan menempati kamarku di Jakarta, bawaannya ngantuuuuk melulu. Dan senangnya bisa tidur pulas. Capek yang bertumpuk di Tokyo bisa disembuhkan deh … Dan tentu saja menyimpan tenaga baru untuk melamar jadi infal pembantu lebaran 😀 (Gajinya pakai Yen ya hihihi) 😉