Arsip Bulanan: Februari 2013

Gara-gara Kai

Rabu kemarin aku diundang sahabatku, Lisa untuk makan siang di rumahnya. Ceritanya dia ada arisan ibu-ibu Tokyo, jadi sekaligus aja datang, katanya. Aku sendiri tidak ikut arisan sih. Tapi Kai harus ke TK dan setiap hari Rabu tidak ada perpanjangan kelas, berarti harus pulang pukul 2 siang. Hmmmm. Aku ingin pergi, meskipun jauh dari rumahku, karena aku sering tidak bisa datang kalau Lisa yang mengundang. Mesti ada aja yang menghalangiku pergi. Apalagi menurut prakiraan cuaca, hari Rabu itu hujan, dengan kemungkinan bersalju.

Karena sudah pasti aku tidak bisa menjemput Kai tepat waktu, jadi aku menuliskan surat pada gurunya minta ijin supaya Kai tidak masuk TK. (Dulu Gen sering marah kalau aku memboloskan anak-anak untuk acara pribadi, tapi sekarang sepertinya sudah bisa mengerti bahwa mumpung masih TK, masih bisa bolos, jadi OK saja :D). Kupikir aku akan mengajak Kai pergi bersama.

Seperti sudah diperkirakan Tokyo hujan, tapi tidak deras. Kadang rintik, kadang berhenti dan waktu kulihat ke luar pukul 10 pagi, tidak berubah menjadi salju. Jadi aku bersiap-siap untuk pergi dong. Tapi ada yang mengebel, rupanya dari Amazon membawa Lego pesanan Kai. Ya, Kai bayar pakai uang sakunya sendiri, uang saku yang dia terima dari neneknya 😀 Senang sekali dia bisa belanja pakai uang sendiri, bisa menyamai Riku yang “kaya” karena setiap ulangan dapat 100 yen (Aku tidak memberlakukan sistem uang saku, tapi memberlakukan sistem reward, jadi kalau dia belanja untukku juga aku “gaji” 50 yen). Jadi deh Kai membuat Legonya dulu dong, sebelum berangkat. Tapi untung dia cukup bisa cepat mengerti buku manual sehingga dalam waktu 30 menit bisa jadi rakitan Lego yang sebetulnya untuk usia 7-12 tahun :D.

Gaya Kai sambil menunggu bus.

 

So kita bersiap untuk berangkat ke dalam kota! Rumahnya Lisa berada di Tokyo agak ke arah chiba, dan stasiunnya stasiun subway a.k.a kereta bawah tanah. Ups… aku kan memang anti subway, bisa panik dan pusing kalau naik subway. Perasaan tertekan di bawah tanah, sehingga aku menghindari naik subway. TAPI…. hari itu aku enjoy pergi dengan Kai, sehingga mau coba naik subway! Kami bercerita atau gantian main game di iPhoneku sehingga tak terasa sudah dekat rumahnya Lisa. Senang sekali aku bisa mengalahkan rasa takutku. Mungkin karena aku merasa bertanggungjawab membawa Kai (padahal Kai yang sebetulnya “membawa” aku hehehe).

Senang sekali waktu sampai di rumah Lisa pun di meja makan sudah terhidang masakan Indonesia buatannya. Empalnya top deh. Aku suka empal tapi malas sekali masak empal 😀 Jadi deh makan pakai tangan berdua Kai, tapi Kai hanya bisa makan yang tidak pedas. Sekitar pukul 3:45 aku pamit untuk pulang, dan berniat pulang naik subway yang bisa langsung ke arah rumahku. TAPI makan waktu 45 menit. Duh sengsara sekali karena kereta Oedo Line itu PANAS, heaternya terlalu panas, sehingga sumuk rasanya. Dan itu membuat aku mulai panik. Kai sebetulnya sudah mengajak aku pindah kereta yang lain yang lebih dingin, meskipun harus berputar…. tapi kupikir coba alihkan pikiran saja dulu. Kalau perlu aku turun di Roppongi dan naik bus  ke Shibuya. Tapi akhirnya aku berhasil menahan diri dan sampai di stasiun dekat rumah sekitar pukul 5:10.

Kemudian aku mengajak Kai untuk beli makanan jadi. Gen tidak makan malam karena dinas ke luar kota, jadi aku malas masak. Tapi, mau tahu apa Kai bilang?
“Mama, langsung pulang aja. Makan apa yang ada…”
“Tapi ngga ada apa-apa Kai..”
“Aku mau langsung pulang. Mama harus hemat kan? Nanti uangnya bisa beli barang yang mama mau…..”
Ampuuuun cerewet! Akhirnya aku mengalah, dan langsung pulang ke rumah, dan memberi Riku makan malam dengan Empal dan sayur lodeh yang dibawakan Lisa.

Kata Riku: “Mama…INI ENAK!”

Ah, aku harus ganti judul! Seharusnya bukan gara-gara karena gara-gara itu berkesan negatif.”Gara-gara Kai”  櫂のせい。Sedangkan yang tepat “Berkat Kai!” 櫂のおかげです。Berkat Kai, aku bisa naik subway, bisa bertemu teman-teman Indonesia, bisa makan masakan Indonesia, bisa HEMAT 😀 juga. (Tapi empal yang kubawa jadinya habis, aku tidak kebagian!!! rugi dong ya hihihi)

Whita – aku dan Lisa

Setengah Dewasa

Tentu aneh kenapa ada istilah setengah dewasa ya? Sebetulnya ide judul ini dari komentar “adik” Jepangku yang tinggal di Hongkong, Kimiyo. Hanseijin 半成人. Kalau di Jepang orang dikatakan dewasa jika sudah berusia 20 tahun. Saat itu ada perayaan yang disebut Seijin no Hi, di hari Senin minggu kedua Januari. Pemerintah Daerah yang mengadakan, dan para remaja berpakaian kimono dan hakama. Sejak hari itu mereka boleh minum minuman keras dan merokok (jika merokok/minuman keras sebelum usia 20 th dan ketahuan di tempat umum bisa ditangkap). Nah, Riku kemarin berusia 10 tahun, sehingga persis setengah menuju ke manusia dewasa 😀 Dan berarti 10 tahun lagi bisa minum alkohol bersama…. asyiknya (dan berarti kami harus sehat supaya 10 tahun lagi bisa minum bersama).

Waktu 10 tahun itu sepertinya cepat berlalu. Dulu dia masih bayi kecil yang prematur, sekarang sudah hampir berubah suara, atau tumbuh kumis. Akhir-akhir ini Riku sering tanya, “Ma aku sudah tumbuh kumis?”
“Belum…kenapa? Kamu mau tumbuh kumis?” dan dia mengangguk.
Wah… akunya yang panik…hiiii anakku kalau mulai tumbuh kumis gimana ya 😀 Ngga bisa cium-cium lagi pipinya yang gembil. Tapi aku juga bilang padanya,
“Kalau sudah tumbuh kumis kamu tidak bisa telanjang dari kamar mandi, jalan-jalan ke kamar makan loh :D” , dan biasanya dia marah kepadaku sambil pukul-pukul… merajuk karena malu.

Aku juga menemukan satu fotokopi pelajaran hoken 保険 (kesehatan) yang menjelaskan tentang perubahan tubuh perempuan dan laki-laki menuju remaja. Kupikir kok cepat ya sudah diajarkan di kelas 4, tapi baru sadar juga diriku saja usia 9 tahun sudah haid pertama 😀  Terlalu bongsor deh hehehe. Jadi lebih baik lagi kalau sebelumnya sudah mengerti kan? 

Untuk menyambut ulang tahunnya yang ke sepuluh, Riku dengan mengajukan permohonan untuk bisa makan bersama kakek neneknya (bapak-ibunya Gen) di resto kesayangan dia, Zauo. Restoran yang menyediakan ikan-ikan hidup di dalam kolam dan bisa memancing dari atas perahunya ini memang membuat Riku ketagihan. Apalagi kami semua memang penyuka ikan, jadi tidak keberatan sama sekali makan di sana.

setelah mengikuti misa Arwah mama melalui skype di rumah adikku

 

Jadi setelah mengikuti (akhir) misa Arwah Mama di rumah adikku di Yokohama Sabtu 23 Februari lalu, kami pergi ke resto Zauo. Dan…. tentu saja Riku dan Kai langsung heboh untuk memancing ikan di kolam. Tapi karena dalam kolam besar itu banyak ikan Shimaaji dan Tai, jadi Riku dan Kai menangkap 4 ekor ikan Shimaaji. Dan ikan ini yang paling mahal 😀 Well memang pesta untuk Riku jadi aku minta satu ikan Shimaaji dibuat sashimi (dipotong tipis lalu dimakan mentah) dan dibakar dengan garam Shioaji. Satu lagi aku minta diganti dengan ikan Tai (semacam kakap) dan dibuat sashimi, sedangkan satu lagi boleh dilepaskan kembali. Pelayannya kasihan juga melihat kita kebanyakan mancing Shimaaji, padahal sebetulnya peraturannya yang sudah ditangkap tidak boleh dilepaskan kembali.

tangkap dan makan!

Setelah makan sashimi, Riku dan Kai bergerilya lagi, dan aku minta untuk menangkap ikan Aji, ikan kecil yang tentu lebih murah. Tapi aku juga minta mereka memancing Umazura. Ikan ini enak sekali untuk sashimi, dan isi perutnya bisa dimakan, dan enak untuk “ikan”nya sake Jepang. Hati atau livernya  (mentah) ini dibubuhkan ke kecap asin saja sudah enak sekali. Pokoknya hari itu kami berdelapan makan 12 ekor ikan, tanpa nasi! Kenyang dan puas deh. Karena ikan-ikan ini kami tangkap sendiri lalu langsung dimasak, hasilnya segar dan enak sekali. Tapi karena cukup mahal, aku selalu wanti-wanti anak-anak bahwa kami hanya bisa makan di sini kalau ada yang ulang tahun 😀 Kalau tidak bisa bokek deh 😉

sebagai service dari resto Zauo diberikan dessert plate dengan lilin untuk yang berulang tahun

Restoran Zauo ini ada di Saitama, Shinjuku, Yokohama (Tsunashima) dan Meguro. Aku pertama kali pergi ke resto yang di Saitama, lalu ke Shinjuku, baru terakhir ini di Yokohama. Dan kurasa yang paling besar di Shinjuku yang berada di lantai basement Hotel Washington. Banyak orang Indonesia yang juga sering menginap di hotel Washington jika datang ke Tokyo.

Sesuai dengan keinginan Riku setelah dari restoran kami pulang ke rumah mertua di Yokohama dan menginap di sana. Padahal awalnya tidak berencana menginap, karena Riku harus mengikuti pelajaran Sekolah Minggu di Kichijouji. Lalu aku katakan padanya, asal dia janji untuk bangun pagi dan bersamaku naik kereta jam 7 pagi untuk mengikuti misa jam 9 di Kichijoji, maka dia boleh menginap. Riku setuju. Jadi begitulah, pagi harinya aku dan Riku naik kereta berdua menuju ke Kichijoji untuk ke misa dan sekolah Minggu, sementara papa Gen dan Kai masih tidur di Yokohama. Rencananya mereka akan bergabung di kichijoji siangnya….. Yang akhirnya mereka pulang ke rumah pukul 8 malam 😀 Tapi senang sekali hari Minggu itu, aku dan Riku berdua dari pagi hari berdua makan siang di gerai KFC lalu pulang naik bus, dan makan malam berdua saja di resto Yakiniku dekat rumah. Berdua begini, aku lebih bisa memperhatikan anakku yang 10 tahun lalu aku lahirkan. Meskipun tidak banyak bercerita, hanya berada berdua saja sungguh menyenangkan.

waktu Kai mendengar kakaknya pergi makan yakiniku berdua saja dengan mama, dia bilang…” Riku curaaaaaang!”

TAPI kami belum mengucapkan Selamat Ulang Tahun padanya, karena sebetulnya dia berulang tahunnya hari Senin. Kalau orang Indonesia mungkin pamali untuk mengadakan pesta sebelum ulang tahun, tapi kami memikirkan efisiensinya saja. Jadi sepi sekali waktu bangun pagi tanggal 25 Februari itu. Aku sih ingin membuat kue tapi sudah tidak sanggup membuat tengah malam waktu anak-anak tidur. Jadi aku buat sementara Riku dan Kai ke sekolah, dan aku bawa ke Sekolah Indonesia, tempat aku mengajar bahasa Indonesia malamnya. Aku minta Gen untuk datang ke Meguro selesai kerja sehingga bisa meniup lilin bersama dan pulang bersama. Tadinya aku mau masukkan kue itu di mobil dan menyembunyikan dari Riku sampai malam hari. Tapi tidak keburu, sehingga waktu pulang dari sekolah dia kaget sekali melihat ada kue di meja 😀

bersama murid-muridku di Restoran Cabe, Meguro dengan meniup kue ulang tahun buatanku

Dan karena satu dan lain hal, kami bersama dua muridku, merayakan ulang tahun Riku di Restoran Indonesia, Cabe di dekat Sekolah Indonesia itu. Senangnya dia waktu dinyanyikan oleh banyak orang yang ada di restoran itu. Ah, anakku ini sudah setengah dewasa, tapi juga masih anak-anak yang tidak bisa menyembunyikan kekagetan dan kegembiraannya dirayakan secara meriah. Dan semoga 10 tahun lagi bisa minum sake bersama ya Riku!

RIKU 10 tahun! from deMiyashita’s Kitchen

In Memoriam: Mama Tersayang

Setahun yang lalu, mama, Elizabeth Maria Coutrier telah dipanggil Bapa di surga. Setahun tanpa suaranya, tanpa kehadirannya, tanpa pelukannya, tanpa tanda salib atau kecupan di dahi, serasa sebagian hatiku menjadi kosong. Tapi selama setahun ini, aku bisa melihat lebih jelas lagi posisi mama dalam kehidupan kami. Mutlak dan aku bersyukur mempunyai ibu seperti mama.

Elizabeth Maria Coutrier – Mutter (12 Mei 1938 – 23 Februari 2012)

Elizabeth Maria lahir tanggal 12 Mei 1938, dari ibu Julia Keppel dan bapak Yohannes Ferdinand Mutter sebagai anak ke 6 (dari 7 bersaudara-kandung). Pada usia 2 tahun, ibu Julia Keppel meninggal dunia setelah melahirkan anak terakhir, tante Tera. Tidak lama hadir seorang ibu baru untuk Maritje, demikian dulu nama panggilan mama. Masa kecil yang sulit di masa pendudukan Jepang mama lewati di Jogjakarta. Waktu menonton film Soegija kemarin, aku melihat tawanan perang seperti melihat kilas oma dan opa di Jogja, dan membayangkan kehidupan mama saat itu. Mama pernah cerita bahwa mama dititipkan kepada keluarga Jawa dan setiap makan harus menunggu dulu eyang itu makan, dan mama makan sisa-sisa mereka. Atau kilasan cerita bahwa mama tidur di bale-bale, di pinggiran jendela, atau di kolong. Karena itu mama selalu marah kalau kami makan tidak bersih dan menyisakan nasi…. dan kami diceritakan masa-masa sulit mama ketika itu.

Mama bersama kakak-adik Mutter, tahun 1985

Mungkin suatu kebetulan yang aneh, bahwa mama lahir di tanggal yang sama dengan Florence Nightingale (12 Mei 1820 – 13 Agustus 1910), seorang perawat, penulis dan ahli statistik. Karena mama juga pernah belajar keperawatan di St Carolus. Alasannya masuk waktu itu hanya karena ingin belajar, tetapi tidak punya uang. Jika belajar menjadi perawat, tidak perlu membayar, malah akan digaji. Dan ternyata dia tidak bisa tahan bekerja sebagai perawat. Seorang perawat tidak boleh takut jarum suntik dan darah bukan?

Karya mama sebagai perawat memang belum banyak, karena kemudian dia beralih profesi menjadi sekretaris di sebuah perusahaan minyak yang akhirnya bertemu dengan papaku. Tapi aku ingat cerita mama yang pernah merawat seorang nenek yang pikun, tapi hanya mau dilayani oleh mama. “Mana Suster Maria?”. Nenek itu sudah tidak ingat kapan makan, kapan buang air. Bahkan dia sering mengorek “kotorannya” sendiri dan melepernya di dinding. Menjijikkan! Dan tentu saja Suster Maria harus membersihkannya. Tapi mama juga sedih waktu mendapati tempat tidur nenek itu kosong di suatu pagi hari waktu masuk kerja. Rupanya si nenek sudah meninggal waktu mama sedang tidak bertugas.

Atau kecekatan mama menyembuhkan anak-anaknya yang luka dan sakit. Aku ingat waktu adikku tertusuk duri dan durinya tinggal di tengah-tengah ibu jari kakinya. Mama langsung ambil gunting, mencabut duri dari bawah kuku dan mencuci dengan rifanol. Beres!

Aku masih batita

Aku senang lahir sebagai anak pertama. Bisa mendengarkan ceritanya tentang ini itu. Aku banyak belajar dari mama. Katanya, “perempuan harus pintar! Harus bisa apa saja. Kamu tidak bisa hanya bercita-cita menjadi ibu rumah tangga saja. Bagaimana kamu mau menjadi ibu rumah tangga jika tidak bisa berhitung, tidak bisa ini itu. Iya kalau suami kamu baik, kalau jahat dan kamu disiksa, ditinggal? Atau kalau suami kamu kehilangan pekerjaan? Perempuan harus bisa semua”. Dia bisa memperbaiki seterika yang mati. Dia bisa mengurus rumah seluas 150 meter dan kebun 850 meter sendirian! Dan…aku jarang melihat dia tidur….

mama dan aku dalam kereta di Belanda

Setiap mama cerita aku hanya bisa mendengarkan dan menitikkan air mata. Aku tidak bisa memberikan pelukan untuknya, atau belaian di kepalanya seperti yang Kai dan Riku berikan untukku kalau aku menangis. Aku memang kaku sekali waktu kecil, tidak bisa mengungkapkan kasih sayangku untuknya. Hanya bisa menunduk dan menangis. Dan mama juga tidak berusaha memelukku. Bagaimana bisa? Dia juga tidak pernah merasakan dipeluk  ibunya yang meninggal saat dia masih balita. Dia tidak tahu apa pentingnya skinship pelukan saat itu. Di mataku, mama adalah ibu yang tegar dan disiplin. Dan aku tahu, tentu sulit membagikan kasih sayang secara eksplisit pada ke tiga putrinya di samping mengatur rumah tangga. Meskipun aku tahu bahwa dia sangat menyayangi kami.

mama sebagai sekretaris

Tapi, cerita mama tentu saja tidak hanya tentang kesengsaraannya saja. Dia banyak bercerita bagaimana dia menabung dan mengikuti kursus ini itu, terutama bahasa Inggris. Dia mengambil diploma  untuk bahasa Inggris dan mengetik. Waktu luangnya selalu dipakai untuk belajar, belajar dan belajar. Betapa bangganya aku juga waktu dia bercerita bahwa ketikannya amat cepat sehingga semua yang ada di kantor menoleh padanya. Jaman teleks baru dimulai, dia termasuk orang yang pertama menggunakannya. Dengan pinggang kecil, rok lebar, baju putih dan rambut yang panjang, dia memukau orang. Bukan saja dengan kecantikan tapi juga dengan kepandaiannya, meskipun dia tidak bersekolah tinggi.

mama mengetik

Aku tak pernah bisa mengalahkannya dalam berhitung. Belum sempat menekan tombol sama dengan pada kalkulator, mama sudah menyebutkan jawabannya. Dia selalu punya cara menghitung yang aneh dan cepat. Sampai semua penjual terheran-heran, dan mungkin dengan terpaksa menjual barang ke mama dengan harga murah. Karena mama menawar keseluruhan harga barang, bukan satu persatu. Dan jangan pernah bertengkar soal arah pada mama. Dia pengingat jalan yang baik, meskipun dia sering salah berbahasa Indonesia. Dia tetap sulit menyebutkan mana yang kiri dan mana yang kanan. Lebih baik tanya links (kiri) atau recht (kanan).

menari

Semakin mama bertambah umur memang ingatan masa lalunya semakin memudar. Aku sedih waktu aku bercerita soal toneel, pertunjukan musik pertama yang mama lakukan, mama hanya bisa memukul Cymbal dan kemudian menjatuhkannya. Cymbal itu menggelinding jatuh di panggung dan menjadi bahan tertawaan pengunjung. Mama pernah ceritakan itu padaku, dan waktu aku tanyakan saat itu, mama sudah lupa. …. sedih memang mengetahui bahwa orang tua kita makin melemah, baik fisik maupun pikiran. Tapi ma, cerita-cerita mama selalu aku ingat.Sedangkan cerita saja aku ingat, apalagi cinta dan kasih mama sebagai seorang mama…

Selalu suka foto ini. Dan aku juga suka komentar dari pastor John Lelan, SVD : “Cinta itu bukan saling memandang, melainkan sama-sama melihat arah yang sama.”

Aku masih ingat waktu aku menelepon mama waktu ulang tahun terakhirnya , mama bercanda mengatakan “Aku sudah tua, hanya tinggal menunggu Tuhan memanggil”. Dan aku seperti biasa hanya bisa bercanda menghiburnya bahwa Tuhan memanggil siapa saja kapan saja tanpa kita tahu waktunya. Dan ternyata mama sudah siap! Dia siap menghadap Tuhan setelah menerima abu di hari Rabu Abu tahun lalu. Sudah komuni dan berpuasa, bahkan sudah mandi dan keramas di malam harinya.

 

Ah, aku selalu menulis sambil menangis, jika berbicara soal Mama. Maafkan aku ma… Aku hanya ingin mengungkapkan rinduku padamu. Itu saja. Dan aku yakin mama sudah bahagia bersama Tuhan di surga, dan terus mendoakan kami yang masih di dunia ini. Semoga hidup kita semua selalu bersandar padaNya, karena hanya Dia sang empunya hidup, sampai waktunya kita bertemu kembali. Semoga.

Bunga kesukaan mama, Garbera.

 

Pagi hari ini pukul 11 akan diadakan Misa Arwah 1 tahun meninggalnya mama di rumah Jkt. Aku tidak bisa datang, dan berusaha sambung dengan Skype. Tapi kalaupun tidak bisa online, aku akan berdoa sendiri di rumah, di jalan, di mana saja dan membawa mama selalu dalam kegiatanku, khususnya hari ini. Sama seperti ketika kemarin membeli bunga kesayanganmu. Hari ini adalah harinya mama… Titip salam untuk semua saudara-saudara kita yang sudah mendahului kami ya Ma….

Mandi Bersama

Mungkin kalau membaca judul Mandi Bersama, kamu akan membayangkan pemandian umum di Jepang yang bernama Sento, atau pemandian air panas, Onsen, yang mewajibkan semua mandi bersama, tentu saja dalam keadaan telanjang di satu tempat/kolam. Tapi yang kumaksud di sini adalah mandi bersama anggota keluarga lain, di kamar mandi di rumah tentunya.

Memang kalau di Indonesia jarang atau mungkin tidak ada seorang bapak/ibu yang mandi bersama anak-anaknya kan? Memandikan sih ada, tapi pasti pakai baju dan sesudah memandikan baru akan membuka baju dan mandi sendiri. Tapi kalau di Jepang sudah umum bahwa anak-anak itu mandi bersama orang tuanya, dan biasanya di malam hari sebelum tidur. Kalau bapaknya belum pulang, biasanya anak-anak akan mandi dengan ibunya. Mandi cara Jepang, seperti pernah kutulis juga, adalah membasuh badan, memakai sabun, membilas, baru kemudian masuk ke bak yang berisi air panas dan berendam. Jadi waktu mengajar bahasa Indonesia kepada orang Jepang, jika mau mengatakan ofuro ni hairu, aku katakan lebih baik jangan pakai kata “mandi”, dan juga jangan harafiah: “masuk bak”, tapi katakan saja “berendam”, pasti orang Indonesia bisa mengerti. (kalau tidak berendam biasanya pakai kata shawa- japlishnya shower. Dan aku kasih tahu saja ya kepada teman-teman, kalau sudah biasa berendam di air panas, pasti ketagihan deh 😀

Karena kami keluarga Jepang, maka kebiasaan mandi bersama ini terus kami laksanakan, sejak anak-anak masih bayi. Dan tentu saja mandi bersama ini 95% adalah antara aku dan kedua anakku, karena suamiku jarang bisa pulang sebelum pukul 8 malam (di keluarga kami pukul 8 malam mandi, dan pukul 9 tidur). Apakah sekarangpun, aku masih mandi bersama anak-anak? Ya, aku masih mandi bersama Kai (5 th) tapi tidak bersama Riku (9 th) . Sudah sejak dia berusia 7 tahun dia lebih sering mandi sendiri, tapi karena Kai maunya bersamaku, kadang kami berendam bertiga. Rupanya benar juga kata survey di TV bahwa anak-anak mulai tidak mau mandi bersama lagi waktu kelas 4 SD, dan Riku memang kelas 4 SD. Rupanya di kelas 4 juga mereka mendapatkan pelajaran biologi yang menerangkan perubahan tubuh seorang anak menjadi dewasa.

Aku sangat menyukai acara mandi bersama, lebih daripada makan bersama. Karena kalau makan bersama, aku masih harus menyiapkan masakan, lalu membereskan piring dan makanan setelah selesai. Tapi kalau mandi bersama, kami bisa benar-benar melewatkan waktu bersama sambil berendam. DAN sudah sejak setahun terakhir aku menikmati percakapan dengan Kai di dalam bak. Dia mulai belajar menulis dengan melihat daftar huruf hiragana yang aku pasang di dinding kamar mandi (tahan air). Kalau Riku sejak kecil tidak ada perhatian dengan deretan huruf itu, Kai penuh perhatian dan sering mengatakan bahwa huruf ini mirip dengan huruf ini.

Kemarin dulu Kai bertanya padaku:
“Ma, ini boneka Ultraman bisa mengapung karena ada udaranya ya?”
Lalu aku terangkan kalau semua udara diganti dengan air, maka boneka itu bisa tenggelam dan tidak mengapung lagi. Tapi kalau bonekanya kecil dan terbuat dari plastik biasanya tidak bisa tenggelam sampai bawah karena …. berat (aku maunya bilang berat jenis tapi ngga tahu jeh bahasa Jepangnya BJ itu apa hihihi)nya tidak sama dengan berat air.
“Lalu kenapa kalau kita kasih air dari atas, bisa membuat lingkaran yang makin membesar gitu?”
Terpaksa aku bilang ya itu karena ada tekanan yang dipaksakan di permukaan kemudian daya itu makin lama makin kecil seiring dengan lingkaran membesar…. bingung juga menjelaskannya tapi…. Kai akan tanya terus jika tidak aku jelaskan. Mungkin karena aku selama ini aku selalu menjawab dan menerangkan dengan mudah pertanyaan dia, dia makin “menyebalkan” pertanyaannya dan makin gencar hehehe.

Tapi kemarin malam aku kaget dia bertanya,
“Ma, kenapa kalau kita masuk ke bak airnya naik?”
Yatta….. itulah nak … hukum archimedes!!! Jadi deh aku mendongeng bahwa dulu orang ngga tahu cara mengetahui volume, lalu seorang bernama archimedes berendam deh seperti Kai. Baknya penuh seperti tadi mama sebelum masuk kan penuh, begitu mama masuk ke dalam bak, banjir deh keluar semua 😀 Jadi volumenya mama sama dengan volume air yang tumpah itu. Lalu aku suruh dia keluar bak, beri tanda garis airnya, lalu waktu dia masuk, garisnya akan naik….

Dia pernah bertanya: “Listrik itu gimana terjadinya?” atau “Otak manusia itu warnanya apa?” dan tadi siang dia bertanya, “Awal mula manusia cuma satu orang ya?” Dooooohhh 😀 Karena sambil kayuh sepeda aku bilang akan jelaskan di rumah saja (dan untung dia lupa setelah sampai di rumah hahahaha)… eh tapi dia tanya, kenapa musti di rumah? Lalu aku bilang : karena mama perlu buat bagan 😀

Apakah dia mengerti penjelasan-penjelasanku? Aku harap begitu, tapi meskipun tidak, pasti ada sebagian kecil keterangan yang akan masuk ke otaknya yang bisa dia mengerti di kemudian hari. Dan pertanyaan dia tentu saja tidak berhenti waktu mandi saja. Kemarin sesudah mandi aku membantu Riku mengerjakan PR matematikanya, dan dia ambil kertas serta spidol dan tulis angka-angka :
2+1 = 3 (ini dia bisa tulis sendiri) lalu
3+5 = …. (Maaaa… ini tulis apa? lalu aku beritahu)

tulisannya Kai, lihat  angka 5 nya kebalik kan? hihihi

dan terus tanya, sampai aku marah dan bilang: JANGAN GANGGU mama sedang bantu kakak!

Lalu dia bilang: “Kok mama cuma bantu Riku aja… aku kan juga mau belajar!!”
“Tapi kamu belum ada PR, kalau kamu sudah ada PR pasti mama bantu!”
Dan akhirnya dia masuk kamar, lalu bermain lego deh….

Mandi bersama berkembang menjadi belajar bersama!

Punya pengalaman yang sama?
Jadi mohon maklum ya kalau akhir-akhir ini aku tersendat-sendat menulis di TE, soalnya sedang belajar bersama Kai sih 😀

 

 

Lapor 2x24jam !

Sering kita lihat di pengumanan RT/RW bahwa tamu 1×24 jam atau 2×24 jam untuk melapor ke ketua RT, yang konon mengacu pada UU No. 23/2006 soal pendatang. Peraturan ini menurutku baik juga, karena dengan demikian bisa mencegah masuknya “orang asing bertujuan jahat” dalam lingkungan kita. Tapi kalau setiap saudara dari daerah menginap harus melapor, kasihan juga pak RTnya ya :D, maklum rumahku di Jkt memang biasa jadi tempat singgah saudara-saudara yang tersebar di tanah air.

Tapi hari ini aku mau lapor ah kegiatanku dalam 48 jam sebelum hari ini, mulai Sabtu siang kemarin. Karena aku belum menerima abu pada hari Rabu Abu (awal masa puasa untuk umat Katolik)  aku “maksa” anak-anak untuk ke gereja di Meguro, gereja berbahasa Indonesia setiap Sabtu pukul 5. Memang kasihan juga kalau anak-anak mengikuti misa berbahasa Indonesia karena mereka tidak mengerti bahasanya. Jadi aku janji pada mereka bahwa aku kita akan makan MacD sebelum misa. Tapi karena perginya mepet, kalau mampir MacD dulu pasti terlambat, jadi aku minta anak-anak bersabar, mengikuti misa dulu baru setelah misa ke Mac D. TAPI… misa hari Sabtu itu cukup lama karena diawali dengan Jalan Salib dulu, kemudian pemberian abu baru dilanjut misa biasa. Untung saja anak-anak masih bisa tahan mengikuti 1,5 jam upacara yang tidak mereka mengerti. Tapi untuk aku sendiri, benar-benar merasa senang karena bisa merayakan ekaristi dalam bahasaku sendiri. Kalau papanya tidak bekerja sih sebaiknya memang aku titipkan anak-anak di rumah saja, sayangnya suamiku tetap harus bekerja meskipun Sabtu.

Jadi misa sudah dipenuhi hari sabtu, sambil aku menerangkan bacaan Injil yang dipakai hari itu kepada Riku, kami pulang ke rumah dalam udara yang dingiiiiin sekali. Brrr deh, north wind-nya benar-benar menusuk tulang. Dan tentu saja aku memenuhi janjiku kepada anak-anak makan di mac D.

Tapi seperti biasanya Riku harus mengikuti Sekolah Minggu di gereja Kichijouji. Kalau aku tidak ke misa di Meguro ini, kami biasanya ke misa pukul 9 pagi (misa anak-anak) lalu sesudah misa pukul 10, Riku akan mengikuti sekolah Minggu sampai pukul 11:15. Tapi karena Riku sedang persiapan komuni pertama, dia ada pelajaran tambahan katekismus sampai pukul 12 (dan seringnya sampai 12:30… bahkan kemarin sampai pukul 1….). Nah, biasanya aku mengantar Riku ke misa dan  manyun menunggu Riku sekolah Minggu. TAPI kemarin ini ada satu kemajuan besar pada Riku yang akan berulang tahun ke 10 minggu depan. DIA PERTAMA KALI NAIK BUS SENDIRI. 

“Ma, aku pergi sendiri aja deh…. mau coba naik bus”
“Berani? Gampang kan? Kamu sudah tahu tempatnya juga…”
“Iya bisa kok…”

Jadi aku berikan dia uang bus, dan aku lebihkan untuk membeli jus saja. Hanya membawa 420 yen saja! Dan tidak lupa aku bawakan dia kartu namaku, seandainya ada apa-apa. (Padahal aku baru ingat kartu namaku itu semuanya alfabet hihihi)
Sempat ragu-ragu juga dia sebelum pergi, lalu aku katakan…..
“Riku…. biasanya ibu-ibu itu khawatir SEKALI waktu melepaskan anaknya pergi sendirian. PARNO. Kelihatannya mama cuek banget ya? Memang mama cuek, karena mama tahu Riku pasti bisa. TAPI kalau Riku ragu-ragu nanti mama ketularan ragu-ragu, trus mama  khawatir, terus mama melarang kamu pergi, trus kamu musti pergi dengan mama teruuuuus sampai jadi kakek-kakek kan? Jadi… jangan ragu-ragu! Kamu sudah besar, sudah bisa baca kanji. Punya mulut untuk tanya, dan mama tahu kamu tidak pernah MALU bertanya sejak kecil. So…. GO GO GO!!”

Dia harus naik bus dari halte dekat rumah (kira-kira300 meter), lalu membayar ongkos bus untuk anak-anak (harus memberitahukan KODOMO – anak-anak ) seharga 110 yen. Kemudian duduk (kalau ada tempat duduk) selama kira-kira 25 menit. Turun di terminal lalu jalan kaki ke gereja Kichijoji 10/15 menit. MUDAH! Tapi segala sesuatu yang PERTAMA pasti menakutkan 🙂

Jadilah dia pergi pukul 9:15 untuk mengikuti sekolah minggunya, sambil aku antar sampai depan pintu rumah saja. Dan Gen mengatakan, “Ternyata memang benar ya, usia 10 tahun anak-anak sudah harus mulai kita lepaskan. Milestone buat Riku.”
Sambil memandangi punggung Kai yang sedang menonton TV, aku berkata…
“Anak laki-laki pasti akan pergi keluar rumah… jangan orang tua menahan kakinya untuk pergi. Dia akan menemukan kehidupannya sendiri,meskipun begitu hubungan dengan orang tua jangan sampai terputus….”
“Kita harus pikirkan masa tua kita akan lewatkan bagaimana ya tanpa anak-anak” Kata Gen….dan aku sambut tertawa saja… Aku tidak pernah memikirkan masa tua akan aku lewatkan bagaimana. Berdua maupun sendiri…. Que sera sera, what will be will be. Pernah dulu ada seseorang yang pernah dekat denganku mengatakan, “Aku membayangkan menyambut masa tua dengan kamu sambil duduk memandang jendela…” Duh…. aku tidak pernah tuh memikirkan hal itu? Egois kali ya aku ini? Atau aku memang penganut “nikmati masa sekarang dulu deh!”…. Ima ga Daiji. (Yang penting sekarang ini)

Karena Gen ada janji bertemu seseorang di Stasiun Tokyo, maka dia pergi naik bus jam 10, sedangkan aku dan Kai pergi jam 11 untuk menjemput Riku di gereja Kichijouji. Riku baru keluar pukul 1 padahal kami sudah lapar sekali…. jadilah kami bertiga makan di dekat stasiun. Dan…aku menikmati sekali makan bertiga begini. Biasanya aku masak dan memberikan mereka makan malam, jarang sekali bisa duduk tenang, dan lama di meja makan. Sebentar aku sudah ke dapur untuk mengambil ini itu, atau makan cepat dan cuci panci peralatan lainnya, sementara anak-aak masih makan. Kalau pergi makan di luar (restoran) itu, apalagi kemarin restorannya suasana mendukung sekali, typical japanese, aku bisa memandang ke dua anakku dengan santai, tanpa harus memikirkan masakan. Melihat Riku yang suka makan daging, sedangkan Kai pasti pilih ikan (eh ternyata ada bagusnya juga loh kuliner menurut golongan darah. Gol darah A seperti aku dan Kai tidak bagus makan daging dan itu cocok juga) Tentu…. aku harus melihat juga mereka berdua bertengkar mulut 😀 but… thats life!

makan siang

Persis setelah kami menyelesaikan makan siang, aku mendapat email dari Gen untuk menemui dia dan tamunya di stasiun Yotsuya. Jadi kami bertiga pergi ke stasiun Yotsuya, dan mampir ke gereja Yotsuya. Riku dulu dipermandikan di sini, sehingga aku menceritakan tempat-tempat dalam lingkungan gereja itu. Kami juga sempat mampir ke toko gereja untuk membeli buku Jalan Salib (Jujika no michiyuki 十字架の道行き) dalam bahasa Jepang untuk Riku. Well…. dengan demikian dalam waktu 1 x 24 jam aku telah mengunjungi 3 gereja ditambah satu peristiwa melepas Riku pergi naik kendaraan umum sendiri. What a day.

Di depan SJ House dan kapel Kultur Heim, Yotsuya

Dan mumpung kami telah di Yotsuya dan bisa meminta tamu kami untuk memotret kami berempat, aku dan Gen memperlihatkan kepada Riku dan Kai, tempat kami menerimakan sakramen perkawinan 13 tahun lalu di kapel Kultur Heim yang terdapat di lingkungan universitas Sophia. Kemudian dari situ berjalan ke hotel New Otani, tempat kami mengadakan resepsi penikahan yang hanya dihadiri 110 orang Jepang dan 10 orang Indonesia (resepsi di Jepang rata-rata sedikit yang diundang karena undangan harus memberikan angpao cukup mahal yang sudah ditetapkan. Bisa baca cerita pernikahan kami di sini).

depan hotel New Otani

Untung kami masih bisa menikmati Nihon Teien 日本庭園 Taman Jepangnya hotel yang cukup terkenal ini dan bisa berfoto-foto di sini sebelum akhirnya kami menikmati tea time di lounge nya. Hari Minggu itu jadi lengkap dengan tapak tilas sejarahnya Papa Gen dan Mama Imelda sebelum Riku dan Kai lahir…
Mau tahu apa kata Kai? “Iiih mama zurui (curang), menikah di tempat bagus tapi Kai ngga ikut!” hahahahahhahahahaha

Taman Jepang di hotel New Otani, Yotsuya. Riku cari obyek foto sedangkan Kai kejar-kejar burung Gagak 😀

 

 

Coklat Kasih

Bukan Kasih (ngasih) Coklat, tapi Coklat Kasih. Coklat Valentine.

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa di Jepang itu waktu hari Valentine, justru yang perempuan mengirimkan coklat kepada yang lelaki. Ya memang tadinya sebagai tanda cinta, dan jika diterima, maka si pria akan memberikan “kembalian” pada tanggal 14 Maret, yang dinamakan sebagai White Day. Tentu, ini dimulai oleh perusahaan coklat, taktik mereka supaya coklat bisa laku dijual paling tidak dalam satu hari dari 365 hari. Dan perlu diingat, orang Jepang itu memang suka event-event khusus, sehingga menjadikan tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine di Jepang itu sangat tepat.

Buktinya selain coklat pernyataan cinta, akhirnya merupakan kewajiban bagi semua perempuan untuk mengirimkan kepada teman-teman (sekantor)nya yang laki-laki. Ini kemudian disebut sebagai Giri-choko…. ya seperti coklat “terpaksa ngasih” hehehe. Tapi akhir-akhir ini, karena aku punya anak usia SD, aku baru tahu ada istilah Tomo-choko, coklat yang diberikan kepada tomodachi a.k.a teman. Rupanya murid SD yang perempuan masih “malu” untuk memberikan kepada teman cowoknya, sehingga mereka bertukaran coklat dengan sesama teman perempuan. Daaaaan biasanya kalau coklat-coklat untuk valentine begini, mereka sedapat mungkin membuat sendiri! Tezukuri -hand made! Rajin yah 😀

Kemarin Riku datang padaku dan mengatakan, “Mama aku ngga mau valentine-valentinan, tapi aku mau coba buat coklat sendiri!” Ow, tentu saja boleh. Lagi pula aku memang masih ada banyak persediaan coklat, coklat putih dan segala pernak-pernik untuk membuat coklat atau menghias cake.
“Ayo, besok kan kamu pulang cepat. Setelah pulang sekolah kita buat coklat…. Eh, tapi kamu mau main dengan teman ya? Ya sudah kapan-kapan sebisanya saja. Kapan aja bisa kok”.

Dan, pagi tadi Riku pergi ke sekolah. Oh ya tadi pagi turun salju lagi, tapi meninggalkan lapisan tipis di atap, sehingga siang harinya yang max 10 derajat bisa mencairkan semua salju yang ada.

Karena aku batukku yang bertambah parah sejak kemarin, aku tidak bisa makan apalagi ditambah sakit kepala. Jadi ceritanya sekitar jam 1:30 aku mau leyeh-leyeh tiduran di sofa bed kamar tidur. Aku sudah buka kunci pintu sehingga kalau Riku pulang bisa langsung masuk. Apalagi ada Kai yang sedang menonton TV. Jadi waktu Riku masuk rumah aku tahu, tapi aku biarin. Tapi kok aku mendengar orang menangis? Kenapa?
“Kenapa? siapa nangis?”
Kai jawab, “Riku”
“Kamu apain Riku?”
“Bukan aku kok…..”
“Riku kenapa kamu nangis?”
Yang bersnagkutan tambah nangis…. Hmmm ada apa nih?
“Sakit?” dia menggeleng…
“Dibully?” dia menangis… sambil menggeleng.
“Kamu bukannya mau pergi main dengan teman-teman?”
nah, dia tambah nangis deh…
“Kenapa? Tidak ada teman yang mau bermain sama kamu?”

Lalu dia cerita, tentu saja sambil menangis. Dia ingin bermain dengan S-san, tapi S-san bilang tidak bisa karena dia ada janji dengan Y-san. Karena Y-san juga teman Riku, dia bilang… “Aku ikut dong…”
Dijawab…”Ngga bisa, karena ada beberapa perempuan yang ikut…”
(Nah aku sudah bisa nebak, ini pasti valentin-valentinan deh)
Ya sudah, lalu Riku tidak memaksa. Tapi teman Riku yang bernama I-san, dia juga tidak diajak… jadi dia nangis dan maksa untuk ikut…. Karena jadi ramai, S dan Y akhirnya mengajak I, tapi tetap tidak mengajak Riku. TERBUANG!

Ah kasihan anakku… Lalu aku bilang: “OK Riku mari kita pergi ke mana Riku mau. Sama mama dan Kai kita senang-senang yuk! Mama sakit, tapi bisa pergi. Yuuuk….”
Riku diam… “Atau kamu mau buat coklatnya hari ini. Lupakan saja. Kadang memang ada teman yang begitu. Tapi mama senang karena Riku TIDAK MENANGIS di sekolah dan merengek-rengek seperti I-san. Kalau kamu menangis, kamu setelah ini akan dikata-katain terus sebagai anak cengeng. Jangan takut, mama pasti dukung kamu. Tidak bisa bermain dengan mereka, ya sudah, nanti kita cari acara lain. Jadi bagaimana? mau pergi atau mau buat coklat?”

mulai mempersiapkan bahan

Dan dia memilih buat coklat! Mulailah aku ambil semua persedian, menyiapkan bahan-bahan sementara Riku melihat buku resep bergambar hadiah dari temanku Yeye (Ingat ngga kamu kasih buku resep kue ye? Saat aku ultah sekitar 18-19 tahun lalu?). Dan keputusannya dia mau membuat truffle….dan cake coklat seperti biasa.

Ok, mulailah kami bertiga memasak. Tentu Kai ingin berbuat SAMA PERSIS seperti Riku, sehingga aku sering harus mengingatkan dia bahwa dia lebih kecil dari Riku jadi ada kalanya tidak bisa melakukan yang sama persis. Jadi kalau Riku pakai pisau, Kai pakai serutan untuk memotong coklatnya.

hasil buatan Riku dan Kai. Kuenya sudah habis tapi trufflenya masih loh 😉

Lumayan makan waktu membuat dua macam itu. Apalagi trufflenya harus masuk lemari es dulu. Sehingga baru selesai semuanya jam 5 sore. Eh yang jam 5 sore itu trufflenya, sedangkan cakenya sudah siap jauh sebelum itu dan sudah dihias, dan SUDAH HABIS 😀 Lumayan deh kekesalan Riku hari itu bisa terobati sedikit, karena sebetulnya sekitar jam 3 an dia sempat nyeletuk, “Si S dan Y sekarang sedang ngapain ya?”… aku dengar sih, tapi pura-pura tidak dengar 😀

Terbuang…. Merasa  terbuang. Nakamahazure  仲間外れ. Aku sendiri sering mengalaminya, tapi untung mamaku selalu mengajarkanku untuk selalu percaya diri, dan mencari  distraksi yang lain.

Kebetulan hari ini hari Rabu Abu untuk umat katolik. Meskipun tidak pas setahun yang lalu, tapi mama meninggal sesudah merayakan hari Rabu Abu, Mama masih menerima tanda abu di dahi — simbol kerapuhan kita sebagai manusia, bahwa kita terbuat dari debu dan akan kembali menjadi debu,  menyambut Komuni suci, menjemput cucu-cucu dari sekolah, dan mandi keramas di sore hari… Mama betul-betul sudah siap untuk pergi…. Tapi yang ditinggalkan? Tidak pernah akan siap melepaskan orang terkasih, namun kami percaya bahwa Tuhan menyayanginya dan menginginkan untuk pulang ke rumahNya.

Aku sendiri belum menerima abu, karena di Jepang biasanya abu diterimakan pada hari sabtu berikutnya. Sulit untuk mengadakan misa pada hari kerja biasa di Jepang. Tapi, aku menaati puasa dan pantang ala katolik loh 😉

Besok valentine, aku kirim coklat kepada pembaca TE lewat blog saja ya 😀

coklat untuk TE 😀

 

25.000

Nobango, katanya orang-orang Tionghoa di Indonesia. Kalau bahasa Jepangnya ni man go sen. Ini adalah jumlah komentar di blogku Twilight Express ini sejak April 2008 (wah sebentar lagi 5 tahun nih… bikin acara apa ya? :D).

Sebagai penyuka angka cantik, saya mengucapkan selamat kepada Krismariana yang pas menjadi komentator ke 25.000. Lucu juga sih sedari pagi tadi aku melihat Kris obrak abrik tulisan lamaku, kemudian disusul Priskilia yang ribut mengajak Arman di Twitter. Keduanya bersaing ketat, dan akhirnya Kris yang mendaptkan bolpen yang bisa dihapus, frixion sebagai hadiah dari TE.

Terima kasih untuk semua komentar teman-teman di Twilight Express yaaaaa. Love you all!!

Sempat aku menulis komentar di FB nya Kris: Kalau 25.000 rupiah bisa dapat apa ya? Sepiring sate padang + minuman teh botol mungkin (dan terus terang aku jadi pengeeeeeen sekali sate padang hiks :D) . Tapi seperti yang pak Marsudiyanto tulis di Jakartaria, sekarang Jakarta serba mahal! 25.000 itu bisa beli apa ya?

Kalau aku memang baru saja “membuang” uang setara dengan 25.000 rupiah  untuk SAMPAH! Ya, hari minggu kemarin, akhirnya kami membawa TV 14 inch yang sudah rusak ke toko elektronik untuk membuangnya! Sejak bulan Juni 1998 ditetapkan Law for Recycling of Specified Kinds of Home Appliances atau bahasa Jepangnya Risaikuru-ho リサイクル法, dan peraturan ini dilaksanakan mulai bulan April tahun 2001. Jadi kami TIDAK BISA membuang TV bekas sembarangan, harus membayar. Dan kami juga tidak bisa membawanya ke Dinas Kebersihan pemerintah daerah dekat rumah kami, karena khusus TV harus dikumpulkan di toko peralatan listrik. Kebetulan hari itu kami membeli BluRay Recorder di toko YamadaDenki, sehingga bisa membuang DVD recorder lama kami gratis, tapi untuk TV kami harus membayar 2.310 yen! (Dan karena petugas toko baik, kami boleh juga membawa satu set sound system yang hendak kami buang dengan gratis). Jadi begitulah di Jepang, buang barang harus bayar! Dan harganya beda-beda tergantung jenisnya. Masih ada beberapa peralatan listrik yang menunggu giliran untuk dibuang di beranda apartemen kami. Paling enak sih memang waktu membeli baru, langsung bawa yang lama sehingga tidak usah membayar lagi (biasanya toko elektronik mau ASAL beli baru hehehe). Susah deh buang aja musti merogoh kocek!

Kalau tidak mau bayar? Ada sih caranya, yaitu MUTILASI, copot semua yang bisa dicopot, lalu dikecilkan semua sehingga bisa dibuang bersama sampah tak terbakar yang lain. Tapi… lumayan bahaya sih. Aku sempat mau membeli gergaji multipurpose, tapi dilarang oleh Gen. Katanya, “buat apa? Lebih baik bayar sedikit tapi aman. Kamu tidak usah buang tenaga, belum lagi bahaya kalau ada anak-anak… pasti juga waktu barangnya udah ada, kamu juga jadi malas… mubazir kan?” Well, he knows me well 😀

Kalau di Indonesia buang (air besar dan air kecil) kadang harus bayar ya? Buang sampah bagaimana? Masih ada iuran kebersihan RT/RW? Buang apa lagi yang dikenakan biaya? EH iya BUANG WAKTU juga kena biaya ya… biaya ngebakso, ngopi, ngeteh dsb 😀 😀 😀

So, next angka cantiknya kapan?

25025 (20-an lagi) deh kasih hadiah hiburan  untuk yang belum sempat dapat hehehe

… dan selanjutnya 25252! (240-an lagi)

Selamat berkomentar TAPI ingat harus log in di mari ya (kalau komentar di FB atau pakai akun FB tidak terhitung) dan jangan OOT loh 😉

TGIF!

 

Influenza vs Masuk Angin

Beberapa hari yang lalu deMiyashita menderita Influenza. Mengutip komentar Narpen ” flu itu ‘serius’ ya tan? dulu bilang flu ke sensei, dia kaget  padahal klo org indo, flu kan level ‘biasa’…dan kujawab: beda influenza dan masuk angin (kaze). Kalau masuk angin tanpa virus, kalau influenza krn virus jadi menular. Orang Indonesia menyamakan semuanya dgn flu, padahal lain. Begitu bilang Influenza, pasti kamu akan diisolasi di Jepang hehehehe.

Jadi dalam bahasa Jepang ada dua kata yang sering dipakai yaitu KAZE untuk masuk angin, dan INFLUENZA untuk influenza parah. Bedanya? Setelah aku cari-cari sebetulnya penjelasanku bahwa masuk angin itu tanpa virus juga salah. Jadi untuk jelasnya aku tulis saja perbedaannya ya. (Sumber dari sini)

1. Kalau KAZE itu disebabkan Corona virus atau Rhinovirus sedangkan INFLUENZA disebabkan oleh virus Influenza. Untuk Influenza ada vaksin pencegahannya, tapi kalau virus Kaze tidak ada vaksinnya.

2. Gejala KAZE adalah sakit tenggorokan, pilek, batuk dan bersin, dan masih dianggap gejala ini ringan. Biasanya demamnya tidak tinggi (tidak setinggi Influenza), tidak ada komplikasi dan biasanya sembuh dalam waktu 1 mingguan. Sedangkan gejala Influenza adalah demam tinggi (38-40 derjaat), sakit kepala, sakit persendian dan otot, serta sakit seluruh tubuh. Tentu saja kadang disertai sakit leher, pilek dan batuk. Biasanya gejala ini berlangsung 2-3 hari dan paling lama 5 hari. Yang perlu diperhatikan jika lansia atau bayi/balita menderita Influenza, bisa terjadi komplikasi menjadi pnuemonia dan bisa meninggal.

3. Kaze dan  Influenza sama-sama menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan penderita, tapi khusus Influenza, virus yang ada di udara bisa tahan lama (berjam-jam) dan mempunyai kemampuan untuk berkembang biak. Jadi misalnya virus yang menempel pada pegangan di kereta, tirai atau pegangan pintu dapat hidup terus selama 3 jam. Karena itu sebagai pencegahan selalu disarankan untuk selalu mencuci tangan.  Kalau Kaze tidak mengenal waktu penyebarannya, di Jepang masa mewabahnya influenza adalah sekitar bulan Desember sampai Maret.

4. Pencegahan Influenza yang paling disarankan adalah vaksin. Karena itu biasanya mulai bulan Oktober akan ada vaksin anti influenza. Meskipun belum berarti sesudah vaksin akan bebas dari penyakit, tapi jika terjangkit influenza biasanya akan lebih ringan daripada tidak mendapat vaksin. Tapi aku dan anak-anak belum pernah mendapat vaksin anti influenza. Vaksin ini tidak termasuk dalam asuransi sehingga harus bayar sendiri, sekitar 2500 – 4000 yen.

5. Selain vaksin, pencegahan dapat dilakukan dengan selalu mencuci tangan dan berkumur-kumur setelah bepergian. Hindari tempat yang ramai serta biasakan memakai masker. Tidur atau istirahata yang cukup serta mejaga kelembaban ruangan (virus Influenza menyukai udara kering, sehingga sedapat mungkin usahakan kelembaban 40-60 persen). Jika sampai terjangkit influenza, kalau di Jepang biasanya kami akan mendapat obat yang bernama Tamiflu (untuk influenza, antibiotik tidak dipakai). Nah seringnya kami diwanti-wanti jika minum obat jenis ini, karena pernah dilaporkan anak-anak yang minum obat ini menjadi “tidak sadar” sehingga dapat melukai diri sendiri. Mungkin karena demam tinggi tapi mungkin juga karena pengaruh obat. Karena itu orangtua diharapkan memperhatikan anak-anaknya waktu minum obat Tamiflu. Pelajar yang menderita Influenza (bisa ditest di dokter) biasanya HARUS istirahat di rumah dan tidak boleh masuk sekolah sebelum benar-benar sembuh (biasanya 5 hari setelah demam turun). Untuk sekolah yang disiplin, mereka meminta surat keterangan sembuh dari dokter (TK nya Kai meminta surat 完治証明書 ini dan bisa didapat di RS dengan membayar sekitar 300 yen). Jika 10 murid dari satu kelas absen karena influenza biasanya diberlakukan “Penghentian Pembelajaran” karantina untuk kelas tersebut 学級閉鎖, atau kalau sampai parah bisa saja satu sekolah diliburkan 学校閉鎖.

Karena itu bedakan penggunaan kata KAZE dan Influenza di Jepang. Karena levelnya berbeda, dan diharapkan masing-masing warga bertanggungjawab untuk tidak memicu wabah Influenza. Jadi jangan bilang “flu” deh di sini (kecuali memang benar terkena virus influenza)

Meskipun kemarin tanggal 4 Februari sudah dinyatakan bahwa Jepang sudah mulai memasuki musim semi (risshun 立春) cuaca di Jepang tidak menentu, kadang hangat, kadang dingin, bahkan untuk hari Rabu besok sudah diprediksi akan turun salju yang cukup lebat. Well, yang penting semuanya saja harus menjaga kesehatannya masing-masing ya.

Oh ya hanya mau mengingatkan bahwa TE (Twilight Express), blogku sebentar lagi akan menyambut  komentator yang ke 25.000 … yippie!!!! Seperti kebiasaaan yang sudah-sudah untuk angka cantik, sudah ada hadiah yang kupilih untuk yang pas angka 25.000 tersebut. TAPI semoga yang dapat bukan pendatang/komentator baru (dengan alamat email tidak jelas) atau spammer yang dapat yah :D. Kalau sampai terjadi, maka aku akan memilih yang terdekat deh 😉 FYI: komentar dengan login FB tidak dihitung oleh Jetpack jadi kalau mau dihitung tulis langsung di kolom komentar dengan tulis nama dan email ya….

Hadiahnya:

frixion, bolpen yang bisa dihapus

 

 

 

Nyaris

Kalau teman-teman melihat foto ini pasti tahu kenapa aku menulis judul NYARIS.

nyaris pecah

Ya, ini  salah satu kantong plastik belanjaanku. Dan rupanya sudut tempat telurnya cukup tajam sehingga bisa merobek kantong plastik dan hampir jatuh. Untung aku segera sadar dan akhirnya memegang tempat telurnya langsung dengan tangan. Kalau tidak kejadian lagi deh seperti beberapa hari yang lalu. Aku lupa tidak menutup plastik belanjaan yang aku taruh di keranjang sepeda padahal aku taruh telur di bagian atas. Nah, waktu mau masuk ke pelataran parkir apartemenku, ada semacam undakan kecil sehingga aku mesti turun karena bahaya, lalu aku dorong sepedanya. Tapi undakan itu membuat tempat telur yang ada di bagian atasnya menclat ke aspal dan….. kraaaak, pecah deh 8 butir dari 10 butir telurnya 😀 Terpaksa deh malam itu aku buat fuyunghai 😀

Tapi kalau teman-teman lihat foto ini, tidak tahu apa yang “Nyaris” ya? Meksipun mungkin bisa bahasa Jepang mungkin pinto konai ピンとこない tidak bisa langsung ngeh apa yang dimaksud. Ya karena aku sendiri yang menerima kartu pos itu butuh waktu cukup lama untuk bisa mengerti.

Kartu pos dengan keterangan apa yang hilang/ditemukan dan barang tersebut akan disimpan selama 3 bulan

Jadi kartu pos itu dari kepolisian. Dan memberitahukan bahwa ada orang yang menemukan Kartu Identitas Orang Asing punyaku (ya semacam KTP lah) pada tanggal 29 Januari lalu dan aku harus mengambilnya ke kepolisian daerahku. LOH! Aku baru sadar, bahwa Kartu itu tidak ada di dompetku ya saat aku membaca kartu pos itu! Aku tidak merasa kehilangan, tapi waktu kucari di dompet memang tidak ada! WAH…. seandainya loh… seandainya terjadi di Indonesia, atau…. seandainya tidak ada orang yang menemukan, aku pasti akan sulit sekali mencarinya pada waktu aku perlu, karena sama sekali tidak sadar. Lalu waktu kuingat-ingat kembali, hari itu aku pergi dengan Kai ke RS, lalu ke stasiun untuk makan siang dan belanja. Jadi pasti terjatuh waktu aku membayar atau membuka dompet. Duh…. kok bisa teledor begitu. Dan untung saja waktu aku cek kartu-kartu lainnya semua masih ada (termasuk credit card dan kartu bank).

Aku membaca kartu pos itu tadi pagi, dan waktu kulihat aku hanya bisa mengambil kembali pada hari kerja, begitu aku selesai mengantar Kai, aku langsung bersepeda ke kantor polisi itu. Lumayan sih kalau naik sepeda, kalau ngebut 10 menit juga sampai 😀 Aku langsung ke loket kehilagan barang dan segera mendapatkan kembali kartuku itu. Di dalam laporan juga tidak diberi keterangan ditemukan di mana, jadi tetap aku tidak tahu tepatnya kapan aku menjatuhkannya. Tapi untung saja bisa kembali, kalau tidak NYARIS aku tidak ber-KTP deh 😀

Kalau foto yang ini sih, untung tidak NYARIS hangus, karena aku aduk terus begitu bumbunya mulai mengering. Tapi belum tidka boleh NYARIS habis karena ini buat dibawa acara gereja besok!