Mereka juga Manusia Biasa

Lah memang siapa yang kamu maksud Mel? Superman? Batman?

Hari Sabtu kemarin, sekolah Riku mengadakan Pertunjukan Musik 音楽会. Memang setiap bulan November sudah masuk kurikulum SD di sini, mereka akan mengadakan either pertunjukan musik/drama atau pameran kesenian setiap bulan November. Musim Gugur di Jepang memang sering diibaratkan sebagai musim seni. Mungkin karena Hari Kebudayaan yang jatuh di bulan November (tanggal 3) , atau mungkin karena keindahan musim gugur menimbulkan keingin setiap insan untuk mengagumi alam dan menuangkannya dalam berbagai bentuk seni, seni lukis, musik, puisi dan pantung, apa saja. Dan aku selalu mengagumi kegiatan-kegiatan sekolah (kalender sekolah) yang mengikuti musim ini.

Khusus untuk melihat pertunjukan musik Ongakukai-nya Riku, papa Gen mengambil libur di hari Sabtu. Biasanya memang Gen tetap bekerja setiap Sabtu, tapi dalam sebulan bisa mengambil 1 atau 2 kali libur pada hari Sabtu, asal memberitahukan sebelumnya. Jadi di akhir bulan Oktober, Gen sudah mengajukan libur untuk Sabtu tanggal 17 November kemarin. Acaranya dimulai jam 9:40 sampai 11:40 dengan menampilkan pertunjukan musik dari 6 kelas. Kelas 4 mendapat giliran ke 5, sehingga Gen pergi ke sekolahnya Riku sekitar pukul 10. Bisa sih datang dari awal, tapi kami tahu aulanya kecil, dan kami harus bergantian duduk di depan panggung, jadi lebih baik datang menjelang pertunjukan kelasnya Riku saja. Dan kelasnya Riku berhasil membawakan paduan suara dan pertunjukan ansamble suling yang membawakan lagu tema dari anime populer One Piece.

Karena aku sedang membereskan rumah dan sedang sakit punggung, aku tidak ikut melihat penampilan Riku. Jadi hanya menikmati lewat video yang diambil Gen. Dan aku sendiri punya rencana untuk pergi ke gereja, misa bahasa Indonesia di Meguro jam 5. Setiap hari Sabtu, komunitas umat katolik membuat misa bahasa Indonesia di gereja St Anselmo Meguro, mulai pukul 5 sore. Pastornya berganti-ganti, pastor orang Indonesia yang kebetulan sedang bertugas di Tokyo, dan ada waktu luang untuk memberikan misa. Ada 3 pastor Indonesia yang biasa memberikan misa di Meguro, dan hari Minggunya di Yotsuya (pada pukul 4 sore, di gereja St Ignatius, Yotsuya). Kalau kebetulan pastor orang Indonesianya tidak bisa, ya kami meminta bantuan pastor Leo, pastor kepala di gereja St Anselmo untuk memberikan misa dalam bahasa Inggris. Jadi kalau aku ke gereja Sabtu itu berarti aku mengikuti misa bahasa Indonesia, sedangkan kalau ke gereja Minggu pagi, aku mengikuti misa dalam bahasa Jepang. Riku mengikuti sekolah Minggu di gereja Kichijouji, sehingga aku mengantar Riku ke misa bahasa Jepang setiap pukul 9 pagi pada hari Minggu.

Aku keluar rumah sendiri pukul 4 sore meninggalkan anak-anak yang sedang bermain dan papanya sedang tidur siang, bergegas naik bus dan kereta. Hujan, sehingga agak lambat untuk ganti kereta, dan menyebabkan aku terlambat 15 menit ikut misa yang dimulai pukul 17:00. Eh, tapi misanya baru mulai kok 😀 Aku agak tertahan di tengah perjalanan menuju gereja, karena payung yang kupakai rusak tertiup angin. Angin sebetulnya tidak begitu besar, tapi kebetulan pas dekat gedung tinggi, pas ada angin besar bertiup dan …rusak deh payungnya. Dua batang jerujinya patah, sehingga separuh payung tidak berfungsi. Tapi karena aku buru-buru ya masih bisa deh pakai setengah payung :D.

Misa dibawakan oleh pastor Ardy SVD, yang biasanya melayani di paroki Kichijouji. Bacaannya seram, tentang dunia kiamat. Memang kalender liturgi katolik sudah hampir habis, dan menjelang akhir tahun ini, kita juga diingatkan tentang akhir dunia. Dan minggu adven pertama untuk menyambut Natal akan dimulai tgl 2 Desember. Berarti sudah musti mempersiapkan diri untuk Natal dan latihan menyanyi! Kami sempat berlatih menyanyi lagu Natal bersama pastor Dendy CSsR juga, yang khusus datang untuk latihan menyanyi. Pastor Dendy biasanya melayani gereja Hatsudai di Shinjuku.

Setelah selesai latihan, dalam hujan kami berjalan pulang menuju stasiun. Karena aku sudah lapar dan sudah dapat ijin untuk makan di luar dari Gen, aku mengajak kedua pastor untuk makan malam bersama. Tadinya sih mau makan sushi “berjalan” di gedung Atre, tapi aduh antriannya puanjang deh. Jadi kami masuk restoran masakan China di sebelahnya deh. Sambil makan kami ngobrol ngalor ngidul terutama tentang perbedaan pelaksanaan misa di Jepang dan Indonesia, juga pembaruan tata cara misa yang sekarang. Intinya, terasa semakin kemari, kesucian dalam misa semakin berkurang. Semakin jarang ada bagian yang berlutut, apalagi di Jepang. Misa di Jepang tidak mengenal kata berlutut! Modernisasi ternyata juga melanda tata cara misa. Tapi memang yang penting bagaimana hati kita memuji Tuhan dan percaya padaNya.

Duduk di antara dua gembala (umat katolik merefer pastor dan pemimpin agama dengan gembala) umat, dua orang pastor yang berasal dari Flores dan Jawa Tengah (tapi sekolah di Flores), aku merasa pastor-pastor ini dan tentu saja semua pastor pada umumnya, sama saja manusia biasa seperti kita. Dalam arti bukan manusia super yang tidak bisa capek, yang tidak bisa marah juga. Mereka juga butuh hiburan, butuh teman, butuh komunitas dan butuh candaan. Mereka juga mengaku bahwa senang bisa membawakan misa dalam bahasa Indonesia, tidak melulu bahasa Jepang. Atau betapa aku sering terkecoh dengan lawakan pastor Dendy yang begitu kocak dan penuh plesetan 😀 Hidup dalam masyarakat Jepang yang “dingin” memang kurang dengan candaan khas orang Indonesia. Dan dengan adanya misa berbahasa Indonesia oleh komunitas umat Indonesia di sini, sedikit banyak menjadi ajang penghiburan diri dari kepenatan sehari-hari. Kerinduan orang Indonesia pada komunitasnya. Seperti kata Donny di sini  “Misa berbahasa Indonesia selalu jadi tempat ‘temu-kangen’ .. di sini pun demikian.

Misa bahasa Indonesia Tokyo setiap Sabtu 17:00
Gereja St Anselmo, Meguro
3 menit berjalan kaki dari Stasiun Meguro, ke arah Dressmaking School SUGINO.