Radang

Entah kenapa aku kalau mendengar kata “radang” itu biasanya langsung ingat puisinya Chairil Anwar, yang AKU itu loh. Dalam penggalan puisi itu kan ada …. “Biar peluru menembus kulitku  Aku tetap meradang menerjang”. Dan memang kalau memeriksa KBBI ada dua arti pada kata ‘meradang’ ini, yaitu yang artinya  (a) marah sekali; geram; jengkel sekali: dan yang artinya (n) penyakit kerusakan jaringan tubuh yg ditandai oleh demam dan pembengkakan (jika sudah lanjut disertai keluar getah bening, darah, nanah):

Aku sendiri sebenarnya sejak hari Minggu tgl 14 Oktober itu sudah mulai merasa tidak enak lehernya. Tapi masih pergi ke gereja dan membantu kegiatan bazaar di gereja. Aku termasuk dalam kelompok ibu-ibu yang anaknya ikut sekolah minggu, dan mereka membuat bermacam-macam barang dan makanan yang dijual di bazaar yang akan diselenggarakan tgl 21 itu. Tentu saja dengan harga murah, dan barangnya kebanyakan pemberian dari umat juga. Aku diserahkan tugas menyediakan marshmallow yang dilapis coklat cair dan diberi topping hiasan. Tapi selain itu aku juga ikut membantu membuat gantungan kunci berbentuk hamburger dari kain, juga hiasan natal. Hebat euy ibu-ibu di sini, selain jual barang jadi, mereka selalu berusaha menjual kerajinan tangan, tapi yang dikerjakan bersama-sama. Kayaknya di Indonesia jarang deh seperti ini, kalaupun ada yang menjual kerajinan tangan, pasti buatannya sendiri. Jadi yang penting itu justru proses pembuatannya, sehingga kami juga bisa akrab satu sama lain.

Setelah Selasa dan Rabu aku keluar rumah hanya untuk antar jemput dan menemani Kai bermain saja di TK, hari Kamisnya aku harus mengajar dan juga menjadi penerjemah dalam acara kelompok teh yang mengadakan pertemuan di KBRI. Jadi otomatis seharian dari pagi sampai sore aku di luar rumah. Pulang ke rumah masih sempat masak, lalu tepar, minum obat flu dan tidur terus sampai pagi. Jumat paling parah, karena aku harus bicara terus dua jam pelajaran dan rupanya kondisi badanku bertambah buruk. Ada satu saat suaraku hilang…… duh… Lalu salah seorang mahasiswiku yang bernama Rina san, berkata, “Sensei hati-hati loh. Kakak saya juga terkena radang tenggorokan begitu dan sekarang sedang dirawat di RS selama 4 hari. Infus dan antibiotika itu penting. Kabarnya memang sedang mewabah sekarang. lebih baik ke dokter deh….”

Tapi aku sampai di rumah sudah jam 6 sore, dan dokter THT dekat rumahku sudah tutup. Salah satu kesempatan untuk ke dokter hanyalah  hari sabtu pagi sebelum keluar rumah. Hari Sabtu itu acaraku padat sekali. Karena aku harus bantu bazaar jam 1 siang dan menonton film “Soegija” malam harinya, aku minta tolong ibu mertuaku untuk menjaga anak-anak. Jadi aku harus mengantar anak-anak sampai ke Shibuya, karena Shibuya merupakan tempat tengah-tengah antara rumahku dan rumah ibu mertua. Tadinya aku janji bertemu jam 10 pagi, padahal dokter THT mulai pukul 9 pagi. Waktu aku telepon, ibu mertuaku bilang, tentu saja lebih baik ke dokter dulu, kita bertemu pukul 12 siang saja.

Jadi aku bersepeda ke dokter THT itu jam 8:30 karena kliniknya mulai jam 9. Kupikir biar aku menjadi pasien pertama deh. Ealah, waktu aku sampai pukul 8:35 ternyata sudah ada 3 pasien sebelum aku. Jadi aku nomor 4. Semoga cepat deh.

Dan memang ternyata cepat sekali giliranku datang. Sekali panggil, 3 orang bersamaan tunggu di ruang tunggu dokter, jadi cepat prosesnya. Pikir punya pikir, memang dokter THT tidak harus memeriksa dada yang mewajibkan buka baju, jadi ada pasien lain di situ pun tidak apa-apa. Tapi memang dokter Ishikawa ini bekerja cepat sekali dan terlihat sekali keahliannya. Begitu dipanggil aku duduk di kursi seperti kursi pasien dokter gigi. Ternyata radang tenggorokanku cukup dalam, di sekitar pita suara sehingga harus pakai semacam kamera kecil untuk melihatnya, dan itu terekam di tv kecil samping kursi, sehingga kita bisa melihat kondisi tenggorokan kita. Memang bengkak. Dan sebagai langkah pertama oleh dokter dia “mensterilkan” tenggorokan.  Entah apa saja yang dia semprotkan dan oleskan di tenggorokanku, aku sampai tidak sadar saking cepatnya, dan tentu sambil berusaha tidak muntah. Sungguh tidak enak kan jika ada sesuatu yang mengorek-ngorek pangkal lidahmu.

Selesai sterilisasi, aku harus mengisap uap obat dua jenis untuk hidung dan tenggorokan yang keluar dari alat yang terdapat di semacam wastafel panjang. Hebat deh alatnya sepertinya memang sudah berisi obat tinggal diatur waktu penguapannya saja, dan kita tinggal mencopot masker plastik dari selangnya setelah selesai, sehingga orang lain bisa pakai di alat yang sama. Bisa 3 pasien sekaligus mengisap dari nebulizer ini. Setelah selesai penguapan, aku masih harus menunggu obat yang tidak tanggung-tanggung, ada 10 obat termasuk obat minum, kumur, tetes dan isap. Buanyak rek!

Tapi obatnya benar-benar mantap. Setelah dua kali aku minum yaitu  pukul 10 pagi dan pukul 4 siang, suara sudah biasa juga tidak terasa sakit lagi waktu menelan. Sehingga kerja persiapan bazaar bisa dilaksanakan dengan baik, sambil aku minta ijin tidak ikut acara bazzar pada hari minggunya karena harus menginap di Yokohama. Dan aku masih bisa mengikuti misa (nyanyi sedikit) dan tentu saja menonton film Soegija di Roppongi yang dimulai pukul 8 malam. Cerita tentang Soegijanya sesudah ini ya.

Yang pasti ternyata ada kalanya obat flu biasa tidak bisa menyembuhkan tenggorokan yang sakit. Perlu minum antibiotika dan di Jepang antibiotika tidak dijual bebas, jadi harus ke dokter. Dan jangan ke dokter umum/internis biasa, lebih baik langsung ke dokter THT (jibika 耳鼻科) karena mereka lebih mantap memberikan obat dan penangannya. Ngeri juga sih waktu aku diberikan kertas “peringatan dan pencegahan” dari dokternya :

Sakit ini diakibatkan pemakaian suara yang berlebihan. Jangan berbicara dengan suara keras atau berusaha berbicara dalam suasana yang ribut seperti dalam kereta dsb. Juga tidak boleh berteriak dari jauh. Jika memakai suara yang berlebihan, setelah itu tidak bisa lagi berbicara dengan suara keras atau tinggi, juga tidak bisa bernyanyi seperti biasanya.

Untuk itu jangan makan/minum yang dingin, panas, atau pedas. Untuk sementara hentikan merokok dan minum alkohol. Istirahat yang cukup dan jangan stress, serta sesuaikan pemakaian AC dan heater secukupnya (tidak boleh terlalu dingin/panas). Untuk pengobatan pakai pbat kumur/isap serta penguapan.

Dan tentu saja aku berusaha menaatinya. Karena pekerjaanku pasti pakai suara. Tanpa suara aku tak bisa bekerja!