Kotor

Dua hari ini aku tepar! Akibat leher yang terganggu amat sangat, aku harus memaksakan diri untuk minum obat teratur dan tidur, setiap ada kesempatan. Hari Senin terpaksa aku memboloskan Kai, tapi aku tidak bisa tidur siang karena harus mengambil mobil yang dibawa Gen ke tempat kerjanya. Untung waktu itu kondisiku tidak seberapa parah. Bisa tanpa obat, sehingga bisa menyetir ke mana-mana, sampai malam. Tapi hari Selasa, terasa sekali aku harus tidur. Jadi setelah mengantar Kai ke TK, aku langsung tutup jendela, minum obat, pasang alarm sampai waktunya jemput Kai (13:45) dan tidur… Enak sekali rasanya tidur dengan tenang, tanpa ada gangguan apa-apa. Memang cuma 3 jam tapi cukup lah. Demikian pula hari ini aku sempat tidur siang dan masa bodoh dengan rumah yang berantakan.

Tapi ya begitu, waktu aku jemput Kai, aku harus sabar melihat dia. Karena Selasa dan Rabu itu lumayan cerah, Kai minta untuk diperbolehkan main di halaman TK nya. Dan biasanya aku perbolehkan, karena memang aku toh tidak perlu cepat-cepat pulang. Selain itu Kai perlu menghabiskan energinya di lapangan supaya tidak ‘meledak’ di rumah 😀 Biasanya dia langsung pergi ke permainan ‘Kubah’ untuk memanjat. Dia sudah menemukan cara yang jitu untuk memanjat, meskipun tidak ada tali tambang yang bisa dipakai. Suatu waktu aku yang mengajarkan dia, bahwa dia harus menggulung celana panjangnya, sehingga tidak licin waktu memanjat dan menjadi penahan badannya waktu memanjat. Jadi sejak itu dia merasa sebagai ‘jagoan’ berhasil naik tanpa tali.

Permainan di TK Kai

Setelah ‘Kubah’ dia biasanya lari ke perosotan pendek berbentuk gajah, lalu ntah lari ke mana lagi. Yang lucu waktu aku lihat dia tiba-tiba berada di sebelah teman sekelasnya, sebut saja X kun yang sepatu, baju dan topinya sudah berdebu kotor sekali. Seperti dia bergulingan di pasir saja. Tapi, (mungkin) di mata Kai, dia itu ‘jagoan’. Jadi Kai mengejar kemana saja X kun itu bermain. Hmmmm Kai memang agak sulit bergaul, tidak seperti Riku yang bisa bermain dengan siapa saja. Tapi baru kali ini aku menyaksikan bahwa dia sudah memilih teman! Sampai waktu aku ajak pulang, dia masih tetap mau bermain dengan X kun. Memang pihak sekolah memperbolehkan anak-anak bermain di lapangan TK selama 30 menit setelah jam TK selesai (jadi boleh sampai jam 2:30). Jadi aku mengalah dan memperbolehkan dia bermain terus sampai waktunya. Dan… dia mencari-cari di mana si X kun itu. Rupanya si X kun itu naik mobil jemputan, sehingga sudah pulang. Dengan kecewa, Kai bermain sendiri, naik perosotan yang tingginya 2 meter, rangka besi pesawat terbang untuk memanjat, dan palang besi yang tersedia di lapangan sekolah.

Di lapangan TK Kai ada 7 jenis mainan yang besar untuk dipakai bersama. Tapi ada 1 jenis mainan yang sejak awal aku menyekolahkan anak-anak di sini itu tidak pernah dalam kondisi ‘bisa dipakai’. Mainan itu adalah Ayunan. Sebetulnya ada 3 tempat ayunan, tapi tanpa tali dan tempat duduknya. Dulu mungkin anak-anak bisa bermain, tapi entah sejak kapan ayunan itu ditiadakan. Tapi memang aku jarang menemukan ayunan tersedia di taman-taman di sekitar rumahku. Rupanya ayunan, sudah dianggap “BERBAHAYA” untuk anak-anak. Memang aku juga sering merasa takut jika melihat anak bermain ayunan, terutama anak-anak tanggung yang bermain sambil berdiri, dan dengan didorong temannya dari belakang.

Pihak TK memang membolehkan anak-anak bermain selama 30 menit setelah waktu TK selesai, TAPI harus diawasi orang tuanya masing-masing. Pihak TK tidak bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan pada anak-anak waktu bermain ini. Karena meskipun permainan-permainan yang tersedia diperiksa berkala keamanannya untuk dipakai anak-anak, Tetap saja anak-anak tidak bisa mengukur apakah perbuatannya aman atau tidak. Seperti aku pernah komentar di postingan mas NH tentang “Jungkat-Jungkit“, tentang kecelakaan yang terjadi pada mainan di taman sehingga masuk TV.

Semua alat mainan di taman-taman Jepang pasti dimonitor/diperiksa berkala oleh pemda, karena kadang timbul korban. Semisal perosotan di bagian pinggirnya ada besi yang mencuat, sehingga waktu ada anak yang merosot turun sambil berpegangan, kena besi itu, dan… putus jarinya. Atau semacam besi (jungle jim) berputar, ada anak yang kejepit jarinya hingga putus, dsb. Oleh karena itu biasanya di taman-taman, ada papan peringatan supaya ibu-ibu memperhatikan anaknya yang sedang bermain supaya tidak terjadi kecelakaan, atau melaporkan jika terlihat sesuatu yang kurang beres.

Jungkat-jungkit memang tidak ada di halaman TK dan hampir di semua taman sekitar rumah kami. Tapi ada satu wahana permainan yang biasanya ada di taman-taman Jepang, tapi aku jarang/tidak pernah melihatnya di Indonesia. Yaitu BAK PASIR. Dengan bak pasir ini, memang anak-anak akan kotor, tapi banyak sekali bentuk yang bisa dibuat di sini sehingga daya kreatifitas anak-anak bisa dikembangkan. Yah, dua hari ini setiap pulang dari TK, aku harus mencuci baju seragam TK nya dan menyuruh Kai mandi! Dan tahu apa yang dia bilang tadi?

Bermain pasir dengan X kun

“Mama, maaf ya mama musti cuci baju Kai”
“Ngga papa Kai. Mama senang kamu main, kotor pun tidak apa-apa. ASAL KAMU CUCI TANGAN DI TK, DAN WAKTU PULANG GANTI BAJU DAN MANDI. Kalau tidak…. nanti ada ulat masuk ke badan kamu bagaimana?”
“Iya ma…”

Kotor itu SEHAT! betul ngga? 😀

Lihat betapa kotornya si KAI (5th)