Spoiled

Aku agak bingung menerjemahkan kata ‘spoiled‘ yang akan aku pakai sebagai judul posting hari ini. Pasti teman-teman tahu kalau artinya “manja”. Biasanya kita pakai untuk “Anaknya spoiled (manja)”. Tapi rasanya kok kurang tepat jika kata “manja” dipakai dalam kasus kami.

Kemarin hari Senin 8 Oktober, adalah hari libur di Jepang, hari Olahraga taiiku no hi . Cerah tapi sejuk. Ya sudah jelas-jelas masuk musim gugur, meskipun masih bisa pakai baju lengan pendek pada siang hari. Nah hari itu, Gen ingin sekali mengajak ibunya pergi ke luar, ke mana saja untuk jalan-jalan. Kebetulan bapaknya sedang pergi mendaki gunung, jadi ibunya sendiri di rumah. Tapi sebetulnya sudah lama aku ingin sekali mengajak ibu mertuaku itu untuk makan pizza di Saitama. Ya, tempat tinggal ibu mertua di Yokohama, sedangkan toko pizzanya di Saitama. Dari rumahku saja butuh 1 jam ke restoran itu, apa lagi kalau dari Yokohama. Dobel deh waktunya. Dan jika kami pergi jemput dulu ibunya di rumahnya, ada 2 jam waktu yang terbuang. Untung ibunya masih sehat dan gesit, sehingga ibunya menawarkan diri untuk datang ke stasiun Kichijoji, yang relatif lebih dekat dari rumah kami, baru pergi langsung ke restoran yang dimaksud.

Memang aku tahu kalau janjian dengan ibunya itu, kami harus perkirakan bahwa akan lebih cepat dari rencana 😀 Beliau itu tidak mengenal “Biar lambat asal selamat”, atau “Terlambatlah  5 menit supaya tuan rumah sudah siap untuk pesta”. Ya, ibunya itu selalu datang lebih cepat dari janji 😀 Aku berjanji menjemput di stasiun Kichijouji pukul 11, padahal beliau sudah ada di situ pukul 10:45 dan menawarkan diri untuk naik bus saja ke rumah kami 😀 Memang orang Jepang asli, tidak akan terlambat (malah kecepatan)! hehehe.

Restoran Napoli no kamado (Tungku Napoli) di Saitama, waktu malam.

Kami tetap menjemput ibunya di Kichijouji naik mobil setelah aku menyuruh semua bergegas naik mobil, sambil ngomel-ngomel kepada the boys dan berbicara di telepon dengan ibu mertua untuk menentukan tempat yang paling strategis untuk ‘pickup’ di stasiun Kichijoji. Begitu ibu mertua naik mobil, kami langsung menuju restoran yang bernama Napoli no Kamado ナポリのかまど “Tungku Napoli” di Saitama. Kami sampai di restoran ini pukul 12:00 teng, dan harus menunggu giliran selama 30 menit. Tapi karena memang tujuan kami ke sini, kami ‘jabani’ juga menunggu 30 menit. Restoran ini tidak pernah sepi!

Pelayan mengeruk keju Parmesan untuk Caesar Salad di depan meja kami.

Kok segitunya?

Ya restoran Italia ini memang restoran yang tepat untuk keluarga, karena murah dan enak SEKALI! Sejak mengenal restoran ini, terus terang aku tidak bisa lagi makan pizza sembarangan di tempat lain, apalagi untuk delivery pizza. I am spoiled! Adonan rotinya khas Napoli, yang tipis dan dibakar di tungku khusus bukan oven. Sehingga rasa rotinya sendiri sudah enak, kenyal dan empuk. Aku pernah terkecoh memesan delivery dengan nama yang mirip Napoli no kamado (kanjinya lain), tapi rasanya jauh deh. Lebih enak makan langsung di restorannya, panas-panas, fresh from the oven. Dan apa kata ibu mertuaku?
“Pizza yang ini jauuuuh lebih enak daripada pizza yang aku makan di Italianya langsung” hihihi. Tentu itu juga karena suasana yang mendukung, makan bersama anak cucu kan?

Selain pizza tentu ada spaghetti dan dolce atau dessert khas resto tersebut yang yummy. Tapi yang juga membuat aku dan Gen suka dengan restoran ini adalah Caesar Saladnya. Romainne Lettuce diberi salad topping bacon bits dan roti goreng yang crunchy dan parmesan cheese. Parmesan cheesenya diserut langsung dari balok keju besar di depan kami. Tidak banyak restoran yang melayani tamunya dengan parutan keju langsung seperti ini, karena selama 20 tahun aku baru melihat di 3 restoran. ( mungkin banyak karena aku juga jarang wiskul sih hehehe)

Dessertnya cantik-cantik dan enak tentu saja. Aku juga pesan dessert khas Jepang: Anmitsu

Yang pasti kami merasa senang dan terpuaskan menikmati salad, pizza, spaghetti dan dolce dari restoran ini. Kai yang biasanya makan sedikitpun, kemarin makan cukup banyak. Pizza dan salad. Aku pun senang karena sudah bisa mengajak ibu mertuaku makan bersama di sini. Dan sepulang dari restoran ini, kami sempat pergi ke toko ikan untuk membeli kerang, kemudian ke Taman Showa Memorial di Tachikawa untuk melihat bunga khas musim gugur, Cosmos. Sayang waktu kami sampai di taman ini, hanya tinggal 40 menit sebelum tutup, padahal untuk menuju bukit cosmos itu butuh waktu 40 menit pulang pergi. Jadi kami hanya sempat berfoto di depan pintu masuknya saja. Next time.

cuma sempat berfoto di depan gerbang 😀

Dalam kemacetan akhir liburan panjang, kami mengantarkan ibu mertua pulang ke yokohama, beristirahat dulu sebentar dan dan sampai kembali ke rumah kami sudah pukul 12 malam. Hari yang panjang, melelahkan tapi puas! Yang penting, kami bisa melewatkan waktu bersama satu keluarga.

NB: Bapak mertuaku pergi mendaki gunung ke 100 hari ini. Target kelompok mereka memang untuk menaklukkan 100 gunung terkenal di seluruh Jepang. Banyak sekali foto-foto gunung dan tetumbuhan di puncak gunung yang dibuat bapak mertuaku. Nanti suatu waktu, aku ingin menuliskannya, meskipun bukan aku sendiri yang mendaki 😀