Arsip Bulanan: Oktober 2012

Panduan Suara

Aduh rasanya sudah lama sekali tidak menulis ya….. Hiatus? No! Tidak ada kata hiatus untukku. Tapi aku pun kadang merasa sulit untuk menulis. Biasanya bukan karena tidak ada ide, tapi belum tuntas untuk mengadakan penelitian tambahan suatu topik yang sedang ditulis, atau macet bagaikan sembelit waktu menulis topik itu, selain dari tidak ada waktu luang yang cukup untuk duduk depan komputer ya. Padahal banyak loh topik lainnya yang bisa ditulis, tapi maunya supaya topik itu tidak “basi”. Ya, aku sedang menulis review film Soegija yang kutonton tgl 20 Oktober lalu, tapi…. ada sesuatu yang mengganjal yaitu memory tentang keluargaku yang cukup sulit untuk diungkapkan dan dirawi menjadi suatu tulisan. Kemudian mulai hari kamis lalu aku mengalami sakit kepala yang cukup berat dan mengganggu sehingga tidak bisa konsentrasi menulis. Parahnya hari Jumat, ketika aku sama sekali tidak bisa tidur saking sakitnya, dan terpaksa menelan p*nstan dari Indonesia. Pun baruu butir ketiga, sakitnya mulai hilang. Tapi seperti biasanya aku tak menemukan waktu untuk pergi ke dokter karena akhir pekan yang sibuk dan tentu saja dokter tutup, kecuali ke UGD. Untuk itu aku merasa belum perlu.

uuugh 6 hari tak menulis? Lamaaa yah 😀

Apa penyebabnya? Aku tidak tahu, tapi prediksiku karena si “rumput babi” ditambah tamu bulanan, ditambah kondisi badan yang memang belum sehat seperti sediakala sesembuhnya radang tenggorokan kemarin. (Eh obatnya tentu aku minum sampai habis loh) . Hari ini tidak sakit kepala meskipun masih merasa badannya tidak enak seperti masuk angin. Ah suhu udara juga naik turun, plinplan dan perlu perhitungan yang masak waktu memilih baju. Seperti kemarin, sebelum berangkat kerja malam bersama anak-anak, kami merasa baju yang kami pakai sudah cukup hangat, tapi ternyata waktu pulangnya, tidak cukup dan cukup membuat kami menggigil. Sinar bulan purnama di atas langitku belum sanggup menghangatkan badan yang menggigil terkena embusan angin malam.

Bulan bulat bundar kemarin malam tampak di atas gerbang Sekolah RI Tokyo

Nah begitu mau coba menulis dengan topik lain, datang kerjaan dan sepertinya butuh konsentrasi tinggi untuk beberapa hari mendatang. Lagipula karena suhu semakin menurun, aku harus mengeluarkan semua baju-baju hangat yang belum sempat aku lakukan di akhir pekan. Koromogae. Dan you know, memasukkan dan mengeluarkan baju-baju itu untukku perlu energi ekstra, karena aku pasti melakukannya sambil bersin-bersin! Meskipun sudah pakai masker hehehe. Susah deh kalau jadi orang alergian 🙂

Duuuuh padahal banyak sekali loh yang mau aku tulis, dan bertumpuk di sudut pikiranku ini. Karena itu, maaf, Soegija aku pending dulu, aku tulis dulu yang mudah dan tidak butuh waktu banyak ya. (Prolognya panjang benar nih… maaf ya hehehe)

Panduan Suara, bukan paduan suara! Panduan, bantuan, bimbingan yang dilakukan berupa suara. Pernah dengar tidak ya di Indonesia? Aku jarang jalan-jalan sih di Indonesia sehingga jarang kudengar. Begini, misalnya kemarin waktu aku di stasiun (Musashi Sakai Sta) dan bermaksud untuk ke WC, terdengar panduan suara, “WC Wanita berada di pojok dalam sebelah kiri, dan WC Pria di depannya….” something like that deh. Tentu saja suara ini dari kaset, suara wanita. Sehingga orang yang mendengar langsung tahu harus kemana, tanpa melihat panduan tulisan yang ada. (Bagaimanapun juga panduan suara yang kuingat terus sampai sekarang adalah suara announcement di toko Matahari Blok M Jakarta dulu sekali tahun 1980-an dengan suara khasnya :D)

Panduan suara ini amat sangat berguna bagi mereka yang mempunyai masalah penglihatan. Cukup dengan mendengar, para tunanetra bisa menentukan langkah mereka dan tahu mereka berada di mana. Tentu saja selain Huruf Titik (Braille) yang tertulis di tempat-tempat strategis. Bahkan aku sampai dengan menulis topik ini masih belum sadar bahwa suara “Migi ni magarimasu (Belok kanan)” atau “Back shimasu (Mundur)” yang terdengar di truk-truk besar itu untuk apa. Ternyata bantuan bagi mereka yang tidak tahu kehadiran mobil besar di sekitar mereka (termasuk anak-anak). Ah, ini juga bisa dikategorikan dengan panduan suara! Hakken (penemuan).

Tombol panduan suara yang ada sebelum penyeberangan untuk membantu para tuna netra menyeberang

Selembar foto ini yang menjadi awal topik tulisan hari ini. Yaitu tombol merah yang ada di tiang di depan penyeberangan di jalan, dengan tulisan “Tombol Panduan Suara”. Di atas tombol merah itu juga ada huruf titiknya bagi tuna netra. Mereka yang memerlukannya dapat menekan tombol ini, dan akan ada suara yang memberitahukan bahwa sudah aman untuk menyeberang, atau sebentar lagi akan berubah merah. Suaranya macam-macam, ada yang berupa kalimat pemberitahuan langsung, atau lagu yang berbeda di setiap prefektur di Jepang. Waktu aku mencari informasi tentang alat ini, ternyata berdasarkan data th 200, di seluruh Jepang terdapat 14200 alat (1450 alat dengan lagu, dan sisanya 12750 unit dengan kata-kata atau suara saja). Selain itu ada dua jenis alat, yaitu yang otomatis akan memandu suara tanpa ditekan, serta yang perlu ditekan dulu sebelum menyeberang. Rupanya jenis yang ditekan dulu itu ‘terpaksa’ dipasang karena panduan suara ini cukup keras sehingga mengganggu warga yang tinggal di sekitarnya. Well, susah memang memakai suatu inovasi baru yang bisa memuaskan semua pihak, meskipun bukan berarti tidak bisa. Dengan sedikit perubahan (pemasangan) tombol, semua keinginan bisa diakomodasikan.

Alat-alat ini terutama dipasang pada jalanan padat dan ramai, serta di dekat fasilitas-fasilitas yang banyak dikunjungi penyandang tuna netra. Pantas aku sering dengar di dekat rumahku, karena ada sekolah luar biasa (SLB) dekat rumahku.

Di bagian atas yang putih ada tulisan braillenya. Foto dari wikipedia

Sumber informasi dari wikipedia Jepang

Semoga dengan tulisan ini ‘sembelit menulis’ku mulai terurai sedikit demi sedikit 😀

 

Radang

Entah kenapa aku kalau mendengar kata “radang” itu biasanya langsung ingat puisinya Chairil Anwar, yang AKU itu loh. Dalam penggalan puisi itu kan ada …. “Biar peluru menembus kulitku  Aku tetap meradang menerjang”. Dan memang kalau memeriksa KBBI ada dua arti pada kata ‘meradang’ ini, yaitu yang artinya  (a) marah sekali; geram; jengkel sekali: dan yang artinya (n) penyakit kerusakan jaringan tubuh yg ditandai oleh demam dan pembengkakan (jika sudah lanjut disertai keluar getah bening, darah, nanah):

Aku sendiri sebenarnya sejak hari Minggu tgl 14 Oktober itu sudah mulai merasa tidak enak lehernya. Tapi masih pergi ke gereja dan membantu kegiatan bazaar di gereja. Aku termasuk dalam kelompok ibu-ibu yang anaknya ikut sekolah minggu, dan mereka membuat bermacam-macam barang dan makanan yang dijual di bazaar yang akan diselenggarakan tgl 21 itu. Tentu saja dengan harga murah, dan barangnya kebanyakan pemberian dari umat juga. Aku diserahkan tugas menyediakan marshmallow yang dilapis coklat cair dan diberi topping hiasan. Tapi selain itu aku juga ikut membantu membuat gantungan kunci berbentuk hamburger dari kain, juga hiasan natal. Hebat euy ibu-ibu di sini, selain jual barang jadi, mereka selalu berusaha menjual kerajinan tangan, tapi yang dikerjakan bersama-sama. Kayaknya di Indonesia jarang deh seperti ini, kalaupun ada yang menjual kerajinan tangan, pasti buatannya sendiri. Jadi yang penting itu justru proses pembuatannya, sehingga kami juga bisa akrab satu sama lain.

Setelah Selasa dan Rabu aku keluar rumah hanya untuk antar jemput dan menemani Kai bermain saja di TK, hari Kamisnya aku harus mengajar dan juga menjadi penerjemah dalam acara kelompok teh yang mengadakan pertemuan di KBRI. Jadi otomatis seharian dari pagi sampai sore aku di luar rumah. Pulang ke rumah masih sempat masak, lalu tepar, minum obat flu dan tidur terus sampai pagi. Jumat paling parah, karena aku harus bicara terus dua jam pelajaran dan rupanya kondisi badanku bertambah buruk. Ada satu saat suaraku hilang…… duh… Lalu salah seorang mahasiswiku yang bernama Rina san, berkata, “Sensei hati-hati loh. Kakak saya juga terkena radang tenggorokan begitu dan sekarang sedang dirawat di RS selama 4 hari. Infus dan antibiotika itu penting. Kabarnya memang sedang mewabah sekarang. lebih baik ke dokter deh….”

Tapi aku sampai di rumah sudah jam 6 sore, dan dokter THT dekat rumahku sudah tutup. Salah satu kesempatan untuk ke dokter hanyalah  hari sabtu pagi sebelum keluar rumah. Hari Sabtu itu acaraku padat sekali. Karena aku harus bantu bazaar jam 1 siang dan menonton film “Soegija” malam harinya, aku minta tolong ibu mertuaku untuk menjaga anak-anak. Jadi aku harus mengantar anak-anak sampai ke Shibuya, karena Shibuya merupakan tempat tengah-tengah antara rumahku dan rumah ibu mertua. Tadinya aku janji bertemu jam 10 pagi, padahal dokter THT mulai pukul 9 pagi. Waktu aku telepon, ibu mertuaku bilang, tentu saja lebih baik ke dokter dulu, kita bertemu pukul 12 siang saja.

Jadi aku bersepeda ke dokter THT itu jam 8:30 karena kliniknya mulai jam 9. Kupikir biar aku menjadi pasien pertama deh. Ealah, waktu aku sampai pukul 8:35 ternyata sudah ada 3 pasien sebelum aku. Jadi aku nomor 4. Semoga cepat deh.

Dan memang ternyata cepat sekali giliranku datang. Sekali panggil, 3 orang bersamaan tunggu di ruang tunggu dokter, jadi cepat prosesnya. Pikir punya pikir, memang dokter THT tidak harus memeriksa dada yang mewajibkan buka baju, jadi ada pasien lain di situ pun tidak apa-apa. Tapi memang dokter Ishikawa ini bekerja cepat sekali dan terlihat sekali keahliannya. Begitu dipanggil aku duduk di kursi seperti kursi pasien dokter gigi. Ternyata radang tenggorokanku cukup dalam, di sekitar pita suara sehingga harus pakai semacam kamera kecil untuk melihatnya, dan itu terekam di tv kecil samping kursi, sehingga kita bisa melihat kondisi tenggorokan kita. Memang bengkak. Dan sebagai langkah pertama oleh dokter dia “mensterilkan” tenggorokan.  Entah apa saja yang dia semprotkan dan oleskan di tenggorokanku, aku sampai tidak sadar saking cepatnya, dan tentu sambil berusaha tidak muntah. Sungguh tidak enak kan jika ada sesuatu yang mengorek-ngorek pangkal lidahmu.

Selesai sterilisasi, aku harus mengisap uap obat dua jenis untuk hidung dan tenggorokan yang keluar dari alat yang terdapat di semacam wastafel panjang. Hebat deh alatnya sepertinya memang sudah berisi obat tinggal diatur waktu penguapannya saja, dan kita tinggal mencopot masker plastik dari selangnya setelah selesai, sehingga orang lain bisa pakai di alat yang sama. Bisa 3 pasien sekaligus mengisap dari nebulizer ini. Setelah selesai penguapan, aku masih harus menunggu obat yang tidak tanggung-tanggung, ada 10 obat termasuk obat minum, kumur, tetes dan isap. Buanyak rek!

Tapi obatnya benar-benar mantap. Setelah dua kali aku minum yaitu  pukul 10 pagi dan pukul 4 siang, suara sudah biasa juga tidak terasa sakit lagi waktu menelan. Sehingga kerja persiapan bazaar bisa dilaksanakan dengan baik, sambil aku minta ijin tidak ikut acara bazzar pada hari minggunya karena harus menginap di Yokohama. Dan aku masih bisa mengikuti misa (nyanyi sedikit) dan tentu saja menonton film Soegija di Roppongi yang dimulai pukul 8 malam. Cerita tentang Soegijanya sesudah ini ya.

Yang pasti ternyata ada kalanya obat flu biasa tidak bisa menyembuhkan tenggorokan yang sakit. Perlu minum antibiotika dan di Jepang antibiotika tidak dijual bebas, jadi harus ke dokter. Dan jangan ke dokter umum/internis biasa, lebih baik langsung ke dokter THT (jibika 耳鼻科) karena mereka lebih mantap memberikan obat dan penangannya. Ngeri juga sih waktu aku diberikan kertas “peringatan dan pencegahan” dari dokternya :

Sakit ini diakibatkan pemakaian suara yang berlebihan. Jangan berbicara dengan suara keras atau berusaha berbicara dalam suasana yang ribut seperti dalam kereta dsb. Juga tidak boleh berteriak dari jauh. Jika memakai suara yang berlebihan, setelah itu tidak bisa lagi berbicara dengan suara keras atau tinggi, juga tidak bisa bernyanyi seperti biasanya.

Untuk itu jangan makan/minum yang dingin, panas, atau pedas. Untuk sementara hentikan merokok dan minum alkohol. Istirahat yang cukup dan jangan stress, serta sesuaikan pemakaian AC dan heater secukupnya (tidak boleh terlalu dingin/panas). Untuk pengobatan pakai pbat kumur/isap serta penguapan.

Dan tentu saja aku berusaha menaatinya. Karena pekerjaanku pasti pakai suara. Tanpa suara aku tak bisa bekerja!

Kotor

Dua hari ini aku tepar! Akibat leher yang terganggu amat sangat, aku harus memaksakan diri untuk minum obat teratur dan tidur, setiap ada kesempatan. Hari Senin terpaksa aku memboloskan Kai, tapi aku tidak bisa tidur siang karena harus mengambil mobil yang dibawa Gen ke tempat kerjanya. Untung waktu itu kondisiku tidak seberapa parah. Bisa tanpa obat, sehingga bisa menyetir ke mana-mana, sampai malam. Tapi hari Selasa, terasa sekali aku harus tidur. Jadi setelah mengantar Kai ke TK, aku langsung tutup jendela, minum obat, pasang alarm sampai waktunya jemput Kai (13:45) dan tidur… Enak sekali rasanya tidur dengan tenang, tanpa ada gangguan apa-apa. Memang cuma 3 jam tapi cukup lah. Demikian pula hari ini aku sempat tidur siang dan masa bodoh dengan rumah yang berantakan.

Tapi ya begitu, waktu aku jemput Kai, aku harus sabar melihat dia. Karena Selasa dan Rabu itu lumayan cerah, Kai minta untuk diperbolehkan main di halaman TK nya. Dan biasanya aku perbolehkan, karena memang aku toh tidak perlu cepat-cepat pulang. Selain itu Kai perlu menghabiskan energinya di lapangan supaya tidak ‘meledak’ di rumah 😀 Biasanya dia langsung pergi ke permainan ‘Kubah’ untuk memanjat. Dia sudah menemukan cara yang jitu untuk memanjat, meskipun tidak ada tali tambang yang bisa dipakai. Suatu waktu aku yang mengajarkan dia, bahwa dia harus menggulung celana panjangnya, sehingga tidak licin waktu memanjat dan menjadi penahan badannya waktu memanjat. Jadi sejak itu dia merasa sebagai ‘jagoan’ berhasil naik tanpa tali.

Permainan di TK Kai

Setelah ‘Kubah’ dia biasanya lari ke perosotan pendek berbentuk gajah, lalu ntah lari ke mana lagi. Yang lucu waktu aku lihat dia tiba-tiba berada di sebelah teman sekelasnya, sebut saja X kun yang sepatu, baju dan topinya sudah berdebu kotor sekali. Seperti dia bergulingan di pasir saja. Tapi, (mungkin) di mata Kai, dia itu ‘jagoan’. Jadi Kai mengejar kemana saja X kun itu bermain. Hmmmm Kai memang agak sulit bergaul, tidak seperti Riku yang bisa bermain dengan siapa saja. Tapi baru kali ini aku menyaksikan bahwa dia sudah memilih teman! Sampai waktu aku ajak pulang, dia masih tetap mau bermain dengan X kun. Memang pihak sekolah memperbolehkan anak-anak bermain di lapangan TK selama 30 menit setelah jam TK selesai (jadi boleh sampai jam 2:30). Jadi aku mengalah dan memperbolehkan dia bermain terus sampai waktunya. Dan… dia mencari-cari di mana si X kun itu. Rupanya si X kun itu naik mobil jemputan, sehingga sudah pulang. Dengan kecewa, Kai bermain sendiri, naik perosotan yang tingginya 2 meter, rangka besi pesawat terbang untuk memanjat, dan palang besi yang tersedia di lapangan sekolah.

Di lapangan TK Kai ada 7 jenis mainan yang besar untuk dipakai bersama. Tapi ada 1 jenis mainan yang sejak awal aku menyekolahkan anak-anak di sini itu tidak pernah dalam kondisi ‘bisa dipakai’. Mainan itu adalah Ayunan. Sebetulnya ada 3 tempat ayunan, tapi tanpa tali dan tempat duduknya. Dulu mungkin anak-anak bisa bermain, tapi entah sejak kapan ayunan itu ditiadakan. Tapi memang aku jarang menemukan ayunan tersedia di taman-taman di sekitar rumahku. Rupanya ayunan, sudah dianggap “BERBAHAYA” untuk anak-anak. Memang aku juga sering merasa takut jika melihat anak bermain ayunan, terutama anak-anak tanggung yang bermain sambil berdiri, dan dengan didorong temannya dari belakang.

Pihak TK memang membolehkan anak-anak bermain selama 30 menit setelah waktu TK selesai, TAPI harus diawasi orang tuanya masing-masing. Pihak TK tidak bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan pada anak-anak waktu bermain ini. Karena meskipun permainan-permainan yang tersedia diperiksa berkala keamanannya untuk dipakai anak-anak, Tetap saja anak-anak tidak bisa mengukur apakah perbuatannya aman atau tidak. Seperti aku pernah komentar di postingan mas NH tentang “Jungkat-Jungkit“, tentang kecelakaan yang terjadi pada mainan di taman sehingga masuk TV.

Semua alat mainan di taman-taman Jepang pasti dimonitor/diperiksa berkala oleh pemda, karena kadang timbul korban. Semisal perosotan di bagian pinggirnya ada besi yang mencuat, sehingga waktu ada anak yang merosot turun sambil berpegangan, kena besi itu, dan… putus jarinya. Atau semacam besi (jungle jim) berputar, ada anak yang kejepit jarinya hingga putus, dsb. Oleh karena itu biasanya di taman-taman, ada papan peringatan supaya ibu-ibu memperhatikan anaknya yang sedang bermain supaya tidak terjadi kecelakaan, atau melaporkan jika terlihat sesuatu yang kurang beres.

Jungkat-jungkit memang tidak ada di halaman TK dan hampir di semua taman sekitar rumah kami. Tapi ada satu wahana permainan yang biasanya ada di taman-taman Jepang, tapi aku jarang/tidak pernah melihatnya di Indonesia. Yaitu BAK PASIR. Dengan bak pasir ini, memang anak-anak akan kotor, tapi banyak sekali bentuk yang bisa dibuat di sini sehingga daya kreatifitas anak-anak bisa dikembangkan. Yah, dua hari ini setiap pulang dari TK, aku harus mencuci baju seragam TK nya dan menyuruh Kai mandi! Dan tahu apa yang dia bilang tadi?

Bermain pasir dengan X kun

“Mama, maaf ya mama musti cuci baju Kai”
“Ngga papa Kai. Mama senang kamu main, kotor pun tidak apa-apa. ASAL KAMU CUCI TANGAN DI TK, DAN WAKTU PULANG GANTI BAJU DAN MANDI. Kalau tidak…. nanti ada ulat masuk ke badan kamu bagaimana?”
“Iya ma…”

Kotor itu SEHAT! betul ngga? 😀

Lihat betapa kotornya si KAI (5th)

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Tawuran? Siapa sih orang Indonesia yang tidak tahu tawuran? Suatu kegiatan yang pasti tidak bisa menjadi kebanggaan jika diceritakan.

Sebetulnya aku pernah menanyakan pada Gen, suamiku, apakah di Jepang ada tawuran? Lalu dia malah balik bertanya, apa itu tawuran, untuk apa tawuran? Kenapa bisa tawuran? Kujawab : “Ya misalnya ada beberapa pelajar yang mungkin mempunyai masalah dengan ceweknya, atau temannya di sekolah lain. Lalu mereka berkelahi, kemudian membawa teman-temannya, sehingga menjadi perkelahian antar sekolah. (Sambil menjawab begini aku jadi lebih kecut lagi, karena menyadari alasan tawuran yang begitu sepele)

Dijawab suamiku: Tentu saja tidak ada tawuran di Jepang. Kami tidak ada waktu untuk memikirkan yang lain, kecuali belajar. Kalaupun ada ada yang tidak mau belajar, bergabung dengan ‘gangster’ biasanya tidak membawa nama sekolah (hebat ya ternyata pelajar kita, ‘cinta banget’ sama sekolah sampai bawa nama sekolah …sayangnya dalam kegiatan negatif). Juga kalau mau menjadi furyo (anak tidak baik) tidak ajak-ajak teman, dan kalaupun mau ijime (bully) temannya itu biasanya dilakukan dalam kelompok kecil, tidak bersatu satu sekolah (hebat lagi nih pelajar kita, rasa ‘bersatu’nya kental sekali sampai main keroyokan). Pacaran? Kalau mau pacaran ya berduaan saja kan? Kalaupun diganggu atau diputusin, semestinya itu masalah berdua saja, jangan bawa orang sekampung 😀

Benar deh, rasanya malu sekali menanyakan pada suamiku, apakah ada tawuran di Jepang. Dan aku memang tidak pernah melihat ada ribut-ribut di Jepang. Kalau seorang yang ‘ngamuk’ sampai menusuk orang yang lewat (disebut torima) memang ada, tapi yang sampai berkelahi berkelompok? Ya paling kerjaannya gangster seperti di film-film, dan itupun kami masyarakat biasa tidak tahu, karena itu antar-gang dan waktu malam.

Seperti jawaban Gen bahwa pelajar Jepang TIDAK ADA WAKTU untuk tawuran itu benar sekali. Sejak SD sampai SMA mereka dituntut untuk belajar dan belajar. Sesudah waktu sekolah, ada kegiatan esktra kurikuler, sehingga pulang ke rumah sudah sore. Baru pulang (atau tanpa pulang) sudah harus pergi ke bimbel (bimbingan belajar) untuk belajar lagi. Dan untuk pelajar SMA, ada pula yang perlu arbaito (kerja paruh waktu) untuk membantu perekonomian rumah tangga, atau sekadar untuk uang saku/tabungan mereka. Tabungan untuk membeli sesuatu yang mahal, atau malah untuk berwisata ke luar negeri. (Sering orang Indonesia berpikir bahwa banyak turis Jepang datang ke Indonesia itu karena mereka kaya, padahal mereka mengumpulkan uang sen demi sen untuk bisa berwisata ke luar negeri)

Jadi kehidupan pelajar di Jepang sampai SMA itu padat sekali. Karena mereka harus berusaha keras jika mau masuk universitas. Jika mereka tidak pintar, mereka tidak bisa masuk universitas top yang akan menjamin mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus. Jadi diibaratkan mereka bersusah payah untuk masuk universitas, dan setelah menjadi mahasiswa barulah boleh merasa lega. Sudah terkenal di sini bahwa masuk universitas itu sulit, tapi keluar (lulus) universitas itu mudah, jauh lebih mudah daripada masuknya. Saat mahasiswa mereka bisa lebih bebas bermain, dan bekerja part time juga lebih keras dan lebih lama dengan gaji per jam (sistem gaji di Jepang memang per jam) yang lebih tinggi (misalnya untuk pelajar SMA 700, untuk universitas 800). Banyak mahasiswaku yang bekerja sampai tengah malam, pulang ke rumah jam 2 pagi, tidur dan kuliah pagi harinya. Karenanya banyak pula mahasiswa yang tidur dalam kuliah 😀 kasihan ya :(.

Jadi kupikir, untuk bisa mencegah dan menanggulangi tawuran, salah satunya adalah membuat pelajar/mahasiswa itu TIDAK ADA WAKTU untuk berkelahi dan tawuran. Dengan mengadakan kegiatan-kegiatan individual atau kelompok yang menuntut disiplin, kerja keras masing-masing pelajar atau bahkan kerjasama dan rasa persatuan demi menjunjung nama baik sekolah. Ada beberapa kegiatan pelajar yang pernah kutulis seperti domino taoshi, tapi khusus untuk tulisan ini aku ingin memperkenalkan 3 kegiatan yang baru-baru ini kuketahui.

1. Ujian percobaan bersama seluruh negeri. Memang pelaksananya adalah institusi bimbingan belajar terkenal, dan dilakukan untuk berbagai tingkat SD, SMP, SMA di seluruh negeri. Yang bagusnya test seluruh negeri ini bisa diikuti oleh peminat dengan gratis! Ini dipakai untuk mengukur kemampuan diri sendiri (ditunjukkan dengan ranking ke berapa dari jumlah peserta), meskipun memang akhirnya akan dibujuk untuk mengikuti bimbingan belajar di tempat mereka (yang tentu saja bisa ditolak). Jika ada test seperti ini, tentu setiap anak akan berusaha untuk mencapai nilai yang lebih tinggi lagi. Dan yang mengherankan aku yaitu waktu melihat iklan test bersama seluruh negeri untuk SMA. Jadi test itu hanya ada 1 jenis untuk semua kelas, kelas 1,2 dan tiga mengikuti ujian yang sama. Dan ada kemungkinan meskipun dia baru kelas 1 bisa lebih tinggi rankingnya daripada pelajar kelas 3. Dengan kemampuan seperti ini dia bisa tobikyu, lompat kelas, atau bisa masuk ke universitas favorit yang biasanya sulit penerimaannya.

2. Piramid manusia. Ini adalah kegiatan murid kelas 1 sampai 3 di sebuah SMP. Mereka mau memecahkan rekor dengan mendirikan piramid manusia 10 tingkat yang terbentuk dari 137 orang! Untuk itu perlu hitung-hitungan, besar kecilnya badan (berat badan) siswa yang di bagian bawah, lalu perlu juga menentukan posisi sehingga beban berat siswa-siswa bagian bawah tidak terlalu banyak. Perlu perhitungan dalam berapa menit bisa selesai, dan yang terpenting perlu latihan bersama. Aduh waktu melihat betapa mereka kesakitan (resiko patah tulang dsb) dan ketabahan mereka untuk tetap berlatih DEMI mencapai suatu tujuan, aku benar-benar salut pada semangat mereka! Semangat bersatu seperti ini yang perlu ditularkan pada pelajar di Indonesia. Semangat kebersamaan untuk mencapai suatu tujuan bersama. Tentu saja tujuannya bukan tawuran 🙂

Foto ini kuambil dari TV… lihat usaha mereka untuk bisa membuat piramid setinggi itu. Perlu latihan berbulan-bulan!

3. Kuis SMA/Universitas. Ini adalah acara di televisi. Aku selalu mengikuti acara kuis SMA dan/atau universitas ini yang ditampilkan sebagai acara variety. Kadang pertanyaannya benar-benar tidak masuk di akal, karena pertanyaan baru diajukan sedikit, mereka sudah bisa menjawab dengan tepat! Otak mereka itu kok seperti komputer ya?  Dan memang dulu di TV ada acara seperti ini “Cerdas Cermat” ? tapi kok sayangnya sekarang tidak ada lagi CMIIW.

Pertanyaannya misalnya :  (Aku copas dari statusku di FB waktu sambil menonton acara itu ya)

 “Tuliskan siapa saja penerima nobel kesusastraan yang bukan orang jepang!” Dan SMA Kaisei bisa menulis 40 NAMA ….

Sebutkan sebanyak-banyaknya nama gunung dgn ketinggian 8000m dpl selain everest, dan dijawab 13 nama oleh SMA Kaisei

 Pertanyaan mengenai lukisan GAUGUIN: jawabnya Paul Gauguin: D’ou venons nous? Que sommes nous? D’ou allons nous? (where do we come from? What are we? Where are we going?), 1897-98, Museum of Fine Arts, Boston.

Pertanyaan dari NASA “Brp derajat panas permukaan matahari”? dijawab 5,51 X 10 pangkat3 =5510 dan dijawab semua sekolah dengan BENAR!!!! gilaaaaaaaa gimana hitungnya tuh? Kita googling memang ada jawaban seperti itu, tapi tidak dibertahu hitung-hitungannya kan?

Dan selalu ada pertanyaan dengan menggunakan huruf hieroglif dan cina kuno… Memang ada patternnya, tapi itupun harus bisa dikuasai 3 orang wakil SMA itu.

Imelda on August 31: “Sedang menonton acara Cerdas Cermat SMA Jepang 高校クイズ, dan selalu kagum dengan kepintaran siswa-siswa ini di segala bidang. Tahun ini yang ke 32. Tidak heran kalau negara ini bisa maju, acaranya seperti begini :)”

Menggunakan tenaga, menggunakan kepintaran, menggunakan energi yang postif untuk menghabiskan waktu luang, aku harapkan bisa mencegah dan menanggulangi tawuran di Indonesia. Jangan buang waktu dengan percuma dengan tawuran. Habiskanlah waktumu untuk yang positif sehingga remaja Indonesia bisa berkata, “Maaf, saya tidak ada waktu untuk tawuran!” Jadilah remaja yang SIBUK!

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran.

Tetangga

Tidak biasanya aku ingin bergossip di sini. Tentang tetangga sih, terutama yang muncul dalam berita seminggu ini di Jepang.

Mengenai tetanggaku sendiri?  Aku cuma kenal tetangga sebelah kiriku, sebuah keluarga dengan anggota 5 orang, bapak-ibu dan anak kembar dua, serta neneknya. Karena ada neneknya, kami cukup akrab sampai saling memberikan oleh-oleh berupa makanan atau sayur/buah kiriman. Osusowake お裾分けnamanya dalam bahasa Jepang, artinya membagi sedikit. Sayangnya keluarga ini anggota sebuah partai politik, sehingga agak mengganggu jika dia membawa misi partainya. Dan untungnya aku tidak punya hak pilih di Tokyo jadi aku cuma jawab, “OK saya sampaikan suami saya” hihihi.

Tetangga sebelah kanan? Aku tidak kenal, tapi yang aku tahu dia punya anak perempuan yang masih di TK, karena kadang bertemu di parkir sepeda, atau waktu mau naik lift. Well, kami memang sudah tinggal di apartemen yang sama selama 13 tahun, jadi banyak penghuni yang sudah berganti, kecuali penghuni kamar yang tinggal di bawah kami, yang pernah jadi korban banjir, seperti kutulis di sini.

Tuntutan kehidupan di Tokyo memang membuat tetangga tidak saling mengenal. Untuk yang punya rumah (bukan apartemen) mau tidak mau harus mengenal tetangga, karena mereka harus mengerjakan tugas se-rt (chonaikai) termasuk mengedarkan pengumuman dari kelurahan, dan utamanya penanganan sampah. Biasanya (menurut yang aku dengar dari ibu mertua) mereka mempunya grup yang wajib membersikan tempat (titik) pengumpulan sampah yang sudah ditentukan. Petugas sampah tinggal mengambil saja, jadi mereka yang membereskan jaring net penghalau burung gagak atau jika ada sampah yang tidak terangkut karena salah hari (Di sini sampah diangkut berdasarkan hari pengambilan, misalnya hari senin pengambilan kertas bekas, selasa sampah dapur dsb). Belum lagi setiap rumah, harus menyapu dan membersihkan jalanan di depan rumahnya, tentu setiap hari. Jadi kalau ada jalan yang kotor itu merupakan tanggung jawab rumah yang ada di dekatnya. Keruwetan ini pun yang membuat aku agak malas pindah (sewa atau beli) rumah, karena apartemen punya tempat pengumpulan sampah sendiri, dan kami sudah bayar orang yang memelihara kebersihan sekitar apartemen kami.

Nah, di perumahan seperti beginilah biasanya terjadi masalah antar tetangga. Dua hari yang lalu kami dikagetkan dengan berita bahwa seorang ibu berusia 60-an mati ditusuk seorang kakek tetangga depan rumahnya yang berusia 80 tahun, Berita ini menjadi besar, karena si kakek adalah mantan polisi ranking tinggi. Dan si kakek akhirnya bunuh diri dengan pedang (samurai) miliknya, dengan menebas lehernya sendiri. Masalahnya apa? Kalau aku dengar dari beritanya, sebetulnya masalahnya hanya dari kesukaan si nenek untuk merawat kebun, dan dia meletakkan tanamannya sampai di depan rumah, sehingga agak mengganggu jalanan. Ya memang, orang seperti itu ada! Menimbun rumahnya dengan tanaman sampai meluap ke jalan. Tapi sebetulnya kalau tanaman masih mending! Ada yang menimbun sampah! duh… Dan sepertinya si kakek sering memperingatkan dia tapi dicuekin.

Aku setiap mengajar hari kamis pasti naik sepeda ke stasiun terdekat, dan di salah satu pojok ada sebuah rumah berlantai 3 yang sekilas seperti rumah kosong, tapi BAUUUU sekali. Bau kucing! Sepertinya pemilik rumah seorang nenek yang suka kucing, dan mungkin karena sedih kucingnya hilang, dia menyimpan semua barang-barang milik kucingnya begitu saja, dan dia sendiri tinggal di luar rumah 🙁 Aku benar-benar kasihan pada tetangganya, karena bau pesing itu bisa tercium sampai jarak 100 meter loh. Aku belum sempat tanya gossip mengenai rumah itu sih, tapi sepertinya pihak kelurahan harus turun tangan menyelesaikan masalah itu. Nah, kan… takut kan kalau pindah rumah lalu dapat tetangga yang aneh begitu 😀

Selain masalah tetangga yang berkelahi sampai menyebabkan kematian, akhir-akhir ini juga timbul kejahatan pada mereka yang tinggal sendirian di mansion/apartemen. Secanggih-canggihnya keamanan apartemen yang memakai pintu lock otomatispun jika memang ada yang “gila” ya kejahatan bisa saja terjadi. Karena itu biasanya aku (dan aku ajarkan kepada Riku juga) untuk tidak naik lift hanya berduaan dengan orang yang tidak dikenal. Lebih baik pura-pura lupa sesuatu di sepeda, atau pura-pura pergi beli minuman di toko tetangga, aau kalau perlu ke koban/pos polisi dan bilang takut, pasti akan ditemani pulang. Untung saja rumahku dekat sekali dengan pos polisi, tidak sampai 200 meter.

Tapi tetangga itu memang dibutuhkan jika terjadi apa-apa juga. Tetangga juga bisa meredam jika ada pertengkaran dalam keluarga. Aku ingat beberapa tahun yang lalu, di apartemen seberang kami, terdengar teriakan-teriakan. Anak remaja berteriak minta tolong, dan ntah siapa menelepon polisi, sehingga polisi cepat datang. Aku dan beberapa tetangga keluar di teras rumah dan melihat ke arah apartemen itu. Rupanya anak itu yang seperti “kemasukan” sampai ibunya keluar dan berteriak minta maaf kepada tetangga-tetangga. Waktu polisi datangpun, masalah sudah selesai.

Sampai sekarangpun aku binkan (alert) jika mendengar anak-anak yang menangis keterlaluan dan lama. Biasanya kami bisa dengar masalahnya apa, apakah ibunya memarahi atau karena ibunya memukul. Kejadian pemukulan ibu kepada anak-anak, akhir-akhir ini cukup banyak, bahkan sampai menyebabkan sang anak meninggal. Dalam satu bulan ini saja di seluruh Jepang ada empat berita besar yang menyorot pembunuhan ibu terhadap anaknya. Gyakutai 虐待(ぎゃくたい), mungkin kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia cukup KDRT saja. Dan tadi di TV dibahas kenapa ibu-ibu itu bisa sampai ‘hilang akal’ dan membunuh anak-anaknya sendiri. Kata kuncinya: Isolasi. Mengisolasikan diri dari masyarakat, tak punya teman, dan memikirkan semua masalah sendiri, tidak berbagi, tidak bisa curhat, sehingga sampai pada tahap ‘meledak’. Pantas saja setiap ada vaksinasi atau pemeriksaan berkala, dari puskesmas selalu ditanya, apakah kamu punya masalah dalam membesarkan bayimu. Dan aku selalu bilang: Tidak ada. hehehe.

kematian anak-anak usia s/d 3 tahun yang terbanyak menjadi korban meninggal akibat kekerasan yang dilakukan ibunya sendiri

Jadi, beruntunglah ibu-ibu Indonesia yang mempunyai teman berbagi, punya suami yang mendukung dan mau membantu, punya orang tua yang bisa tinggal sama-sama atau bisa dimintai tolong, punya baby sitter atau pembantu khusus untuk bayinya. Atau bahkan punya tetangga yang bisa dimintai tolong. Ini semua merupakan kemewahan bagi ibu-ibu di Jepang, yang harus merawat bayinya benar-benar sendiri.

Ibu-ibu… gambarou ne (semangat ya) dan tentu saja kita harus berusaha membina hubungan yang baik dengan tetangga kita.

Have a nice weekend!

Huruf Titik

Bukan hurufnya tulisan teman kita, si Titik, tapi memang huruf yang terdiri dari titik-titik. Setidaknya itulah terjemahan dari 点字 Tenji , atau yang kita kenal dengan huruf Braille. Kenal? Pernah lihat? Aku ragu apakah orang Indonesia pernah melihat langsung (bukan foto) pemakaian huruf Braille di sekitar kita. CMIIW

Ini sebetulnya tugas pelajaran Bahasa Jepangnya Riku. Kami memang libur berturut dari hari Sabtu, Minggu, Senin lalu. Bahkan hari Jumatnya sebetulnya adalah akhir semester satu SD nya Riku. Dan tidak ada libur antarsemester karena sudah banyak libur pada musim panasnya. Jadi hari Selasa adalah hari permulaan semester dua, dan Riku mempunyai PR yang harus diselesaikan. Padahal seperti yang kutulis di posting kemarin, kami sampai di rumah pukul 12 malam. Jadi?

Tugas Riku adalah mencari pemakaian huruf Braille di sekitar kehidupan kita, dan menuliskan laporan singkat, untuk kemudian dipresentasikan dalam grup mereka di kelas. Ini merupakan bagian pelajaran Bahasa Jepang yaitu menulis sakubun 作文 dan presentasi happyou 発表. Bagian ini menurutku penting sekali, karena dengan demikian mereka terbiasa memresentasikan pendapat mereka, sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Teratur deh kalau mendengar orang Jepang happyou, karena mereka sudah biasa dari kecil. (Indonesia bagaimana ya? hehehe)

Biasanya ‘Huruf Titik’ ini bisa dijumpai di stasiun. Banyak! Seperti daftar harga tiket ke setiap tujuan, lalu di lift juga banyak yang memiliki huruf braille. Pegangan tangga untuk memberikan informasi tangga itu ke mana, dan …(mungkin) berapa anak tangga (aku tak bisa baca jadi tidak tahu info apa yang tertulis). Tapi sebetulnya tidak usah jauh-jauh, karena di jalanan atau di stasiun pun ada biasanya berwarna kuning, dengan ‘tonjolan) bulat atau panjang, khusus untuk pejalan kaki tuna netra.

garis kuning dengan tonjolan, juga merupakan tenji bagi penyandang tuna netra

 

Tapi masalahnya Riku tidak sempat mencari contoh sebagai bahan penulisan. Waktu di rumah mertua di yokohama, aku sempat menemukan sebuah contoh yaitu tenji di kaleng minuman bir. Mungkin untuk memberitahukan kepada penyandang tuna netra bahwa kaleng minuman itu beralkohol. TAPI rasanya kurang cocok untuk dipakai sebagai contoh oleh Riku yang kelas 4 SD (kok minuman alkohol gitu). Jadi waktu pulang, sebelum kami pulang ke rumah, kami bermaksud mampir ke stasiun lalu mengambil foto untuk bahan PR nya Riku. Riku sendiri waktu itu sudah tertidur di mobil. Dan tiba-tiba aku teringat pernah melihat di bus surat di depan kantor pos dekat rumah kami. Kantor pos itu lebih dekat daripada stasiun, dan pastinya tidak banyak teman Riku yang “menemukan” pemakaian braille di bus surat. Jadi aku langsung memotret bus surat itu. Dan kalaupun perlu, Riku bisa ke kantor pos pagi harinya (pasti lewat sini juga kalau pergi ke sekolah).

Pagi harinya Riku menulis laporannya berdasarkan foto yang kubuat, dan menurutnya memang tidak ada temannya yang menulis sama dengannya. Horree…..

Dan secara tidak sengaja kemarin itu rupanya Hari Pos Sedunia. Rasanya pas sekali memadukan pos dengan huruf braille sebagai pengetahuan untuk Riku.

Bagaimana? Pernah lihat pemakaian huruf ini di tempatmu? Atau mungkin malah bisa membacanya? Hebatnya di buku pelajaran bahasa Jepangnya Riku ada loh daftar huruf braille itu lengkap dengan ‘tonjolan’nya.

pengenalan huruf braille kepada murid SD kelas 4

Penggalan dari postinganku di sini :

Pada tanggal 1 November 1890 untuk pertama kalinya huruf Braille yang memakai 6 titik dipakai untuk menggantikan huruf titik bagi penderita tunanetra di Jepang yang 12 titik. Yang merupakan bapak huruf titik untuk tuna netra di Jepang adalah Ishikawa Kuraji ( Huruf titik di Jepang berlainan dengan huruf yang dipakai di luar negeri, mungkin dikarenakan Bahasa Jepang tidak memakai alfabet, sehingga tidak cocok jika huruf Braille dipakai begitu saja. ) Yang pasti penderita tuna netra di Jepang sejak tahun 1890 ini sangat diperhatikan dengan pemakaian huruf titik ini di hampir semua fasilitas umum. Bahkan di kaleng-kaleng minuman, atau pegangan tangga, pasti didapati tulisan titik ini. Bila mau melihat dokumen mengenai huruf titi silakan baca wikipedia ini , yang memang berbahasa Jepang, tapi dengan melihat fotonya saja mungkin dapat kita lihat usaha-usaha melakukan Barrier Free bagi penyandang Tuna netra.

Spoiled

Aku agak bingung menerjemahkan kata ‘spoiled‘ yang akan aku pakai sebagai judul posting hari ini. Pasti teman-teman tahu kalau artinya “manja”. Biasanya kita pakai untuk “Anaknya spoiled (manja)”. Tapi rasanya kok kurang tepat jika kata “manja” dipakai dalam kasus kami.

Kemarin hari Senin 8 Oktober, adalah hari libur di Jepang, hari Olahraga taiiku no hi . Cerah tapi sejuk. Ya sudah jelas-jelas masuk musim gugur, meskipun masih bisa pakai baju lengan pendek pada siang hari. Nah hari itu, Gen ingin sekali mengajak ibunya pergi ke luar, ke mana saja untuk jalan-jalan. Kebetulan bapaknya sedang pergi mendaki gunung, jadi ibunya sendiri di rumah. Tapi sebetulnya sudah lama aku ingin sekali mengajak ibu mertuaku itu untuk makan pizza di Saitama. Ya, tempat tinggal ibu mertua di Yokohama, sedangkan toko pizzanya di Saitama. Dari rumahku saja butuh 1 jam ke restoran itu, apa lagi kalau dari Yokohama. Dobel deh waktunya. Dan jika kami pergi jemput dulu ibunya di rumahnya, ada 2 jam waktu yang terbuang. Untung ibunya masih sehat dan gesit, sehingga ibunya menawarkan diri untuk datang ke stasiun Kichijoji, yang relatif lebih dekat dari rumah kami, baru pergi langsung ke restoran yang dimaksud.

Memang aku tahu kalau janjian dengan ibunya itu, kami harus perkirakan bahwa akan lebih cepat dari rencana 😀 Beliau itu tidak mengenal “Biar lambat asal selamat”, atau “Terlambatlah  5 menit supaya tuan rumah sudah siap untuk pesta”. Ya, ibunya itu selalu datang lebih cepat dari janji 😀 Aku berjanji menjemput di stasiun Kichijouji pukul 11, padahal beliau sudah ada di situ pukul 10:45 dan menawarkan diri untuk naik bus saja ke rumah kami 😀 Memang orang Jepang asli, tidak akan terlambat (malah kecepatan)! hehehe.

Restoran Napoli no kamado (Tungku Napoli) di Saitama, waktu malam.

Kami tetap menjemput ibunya di Kichijouji naik mobil setelah aku menyuruh semua bergegas naik mobil, sambil ngomel-ngomel kepada the boys dan berbicara di telepon dengan ibu mertua untuk menentukan tempat yang paling strategis untuk ‘pickup’ di stasiun Kichijoji. Begitu ibu mertua naik mobil, kami langsung menuju restoran yang bernama Napoli no Kamado ナポリのかまど “Tungku Napoli” di Saitama. Kami sampai di restoran ini pukul 12:00 teng, dan harus menunggu giliran selama 30 menit. Tapi karena memang tujuan kami ke sini, kami ‘jabani’ juga menunggu 30 menit. Restoran ini tidak pernah sepi!

Pelayan mengeruk keju Parmesan untuk Caesar Salad di depan meja kami.

Kok segitunya?

Ya restoran Italia ini memang restoran yang tepat untuk keluarga, karena murah dan enak SEKALI! Sejak mengenal restoran ini, terus terang aku tidak bisa lagi makan pizza sembarangan di tempat lain, apalagi untuk delivery pizza. I am spoiled! Adonan rotinya khas Napoli, yang tipis dan dibakar di tungku khusus bukan oven. Sehingga rasa rotinya sendiri sudah enak, kenyal dan empuk. Aku pernah terkecoh memesan delivery dengan nama yang mirip Napoli no kamado (kanjinya lain), tapi rasanya jauh deh. Lebih enak makan langsung di restorannya, panas-panas, fresh from the oven. Dan apa kata ibu mertuaku?
“Pizza yang ini jauuuuh lebih enak daripada pizza yang aku makan di Italianya langsung” hihihi. Tentu itu juga karena suasana yang mendukung, makan bersama anak cucu kan?

Selain pizza tentu ada spaghetti dan dolce atau dessert khas resto tersebut yang yummy. Tapi yang juga membuat aku dan Gen suka dengan restoran ini adalah Caesar Saladnya. Romainne Lettuce diberi salad topping bacon bits dan roti goreng yang crunchy dan parmesan cheese. Parmesan cheesenya diserut langsung dari balok keju besar di depan kami. Tidak banyak restoran yang melayani tamunya dengan parutan keju langsung seperti ini, karena selama 20 tahun aku baru melihat di 3 restoran. ( mungkin banyak karena aku juga jarang wiskul sih hehehe)

Dessertnya cantik-cantik dan enak tentu saja. Aku juga pesan dessert khas Jepang: Anmitsu

Yang pasti kami merasa senang dan terpuaskan menikmati salad, pizza, spaghetti dan dolce dari restoran ini. Kai yang biasanya makan sedikitpun, kemarin makan cukup banyak. Pizza dan salad. Aku pun senang karena sudah bisa mengajak ibu mertuaku makan bersama di sini. Dan sepulang dari restoran ini, kami sempat pergi ke toko ikan untuk membeli kerang, kemudian ke Taman Showa Memorial di Tachikawa untuk melihat bunga khas musim gugur, Cosmos. Sayang waktu kami sampai di taman ini, hanya tinggal 40 menit sebelum tutup, padahal untuk menuju bukit cosmos itu butuh waktu 40 menit pulang pergi. Jadi kami hanya sempat berfoto di depan pintu masuknya saja. Next time.

cuma sempat berfoto di depan gerbang 😀

Dalam kemacetan akhir liburan panjang, kami mengantarkan ibu mertua pulang ke yokohama, beristirahat dulu sebentar dan dan sampai kembali ke rumah kami sudah pukul 12 malam. Hari yang panjang, melelahkan tapi puas! Yang penting, kami bisa melewatkan waktu bersama satu keluarga.

NB: Bapak mertuaku pergi mendaki gunung ke 100 hari ini. Target kelompok mereka memang untuk menaklukkan 100 gunung terkenal di seluruh Jepang. Banyak sekali foto-foto gunung dan tetumbuhan di puncak gunung yang dibuat bapak mertuaku. Nanti suatu waktu, aku ingin menuliskannya, meskipun bukan aku sendiri yang mendaki 😀

Sport Day

Dalam pojok bahasa Inggris acara ZIP di chanel TV Nihon beberapa hari yang lalu, diajarkan bahwa undokai 運動会 itu dalam bahasa Inggrisnya adalah Sport Day, tapi menurutku lebih tepat diterjemahkan Sport Meeting, karena Sport Day lebih tepat untuk menerjemahkan Taiiku on hi 体育の日, yang akan diperingati tanggal 8 Oktober besok.

Hari Sabtu, 6 Oktober kami pergi ke acara undokainya Kai di TK nya. Sebetulnya aku cukup khawatir dengan kesehatan Kai, karena beberapa hari sebelumnya dia batuk-batuk dan Kamis kemarin demam, sampai aku terpaksa membatalkan kelas hari Jumatnya. Aku memang agak memaksa dia supaya jangan libur selama ini, karena aku tidak mau kejadian seperti tahun lalu karena Kai nangis terus selama pelaksanaan sport meeting di TK nya, sampai kami malu diliatin orang-orang.

Pagi harinya aku bangunkan pukul 7 pagi supaya dia ada waktu untuk sarapan, dan nonton tv, sekaligus bisa mempersiapkan hati untuk pergi. Sambil aku menyiapkan bekal makanan untuk kami berempat, karena ada acara makan ‘piknik’ bersama di lapangan TK. Tentu saja buat yang mudah, dan seperti biasanya dibuat ibu-ibu lainnya, yaitu onigiri. Bedanya bekal makanan (bento) tidak pernah kubuat lucu-lucu, karena kupikir toh dimakan juga. Enaknya punya anak laki-laki ya begitu, tidak pernah iri lihat bento teman-temannya yang lucu-lucu hehehe.

Kami berempat akhirnya berangkat pukul 8:25, karena anak-anak harus berkumpul di TK jam 8:45. Jalan kaki ke TK nya Kai sebetulnya cukup 15 menit, lebih cepat naik sepeda cuma 6 menit. Tapi kami sudah diimbau sedapat mungkin jalan kaki, karena parkir sepedanya kecil. Maklum deh kalau pertandingan olahraga, undakainya TK itu satu anak yang datang minimum 3 orang, belum kakek-nenek nya kalau mau datang hehehe. Aku dulu heran sekali karena kupikir, “Duuuh kok kakek nenek sampai ikut nonton sih… kayaknya over deh…”Dan dapat jawaban dari Gen, “Tentu saja, ini kan pertama kalinya cucu mereka bersosialisasi, tampil di depan umum, jadi biasa di undokai TK itu penuh nuh nuh….”

Kai bersama teman-temannya. Ada 4 kegiatan termasuk lari

Dan aku kemarin bisa merasakan kebanggaan itu, sekaligus terharu. Tahun ini aku duduk saja terus, tidak berdiri dan bergerak ke sana kemari. Kamera kami berikan pada Riku, karena dia kecil, jadi mudah berkelit masuk ke depan dan mengambil foto sedekat mungkin. Papanya masih jalan-jalan melihat Kai berdiri di mana, tapi aku cukup melihat dari kejauhan.
“Mama, aku tidak usah menjadi yang pertama kan?”
“Tidak usah. Kalau bisa, bagus. Tapi mama sudah senang kalau Kai mau ikut acara, dan tidak nangis. Enjoy saja”
“Nanti mama janji belikan kado untuk aku kan?” (dia mau sabuk plastik dari Kamen rider yang harganya tidak mahal)
“Iya kan mama sudah janji, Jadi berusahalah”

Dan di situlah aku, duduk di bawah pohon di tikar plastik yang kami bawa dari rumah, sambil menahan p*nt*t tidak merosot, karena kami kebagian tempat yang miring. Tapi beberapa kali aku harus menghapus air mata, melihat defile anak-anak usia 3 sampai 5/6 tahun ini berbaris, dan ada yang bermain pianika dan genderang. Ah terharu, meskipun aku tahu Kai tidak terlalu antusias dengan acara ini, aku melihat kerjasama di antara anak-anak dan guru. Mereka yang sekecil itu sudah belajar untuk “mendengar”, menyimak, menaati dan berpartisipasi. Pantas saja kakek nenek mau melihat cucu-cucu mereka, karena sebetulnya aku juga sempat berbisik dalam hati, “Ma… lihat cucumu itu yang lahir tidak sampai 2000 gr dan di inkubator 1 bulan itu… sudah besar dan bisa mengikuti acara seperti ini” Ah, pastinya mama juga ikut bangga yah di surga sana.

Beberapa kali aku harus menelan keharuan dan menghapus air mata, waktu melihat seorang guru tua, wakil kepsek TK yang tetap aktif padahal rambutnya sudah memutih (aku pernah tulis kan bahwa kepala sekolahnya berusia 80 th-an) dan ibu itu mengingatkanku pada mama. Selalu dikucir dan selalu tersenyum. Juga waktu melihat senam ritmik yang dibawakan seluruh murid nenchou (Kelas atas usia 5-6 tahun) yang membentuk formasi-formasi sampai pada piramida manusia. Memang hanya 3 tingkat, tapi ini TK loh. Dan ditutup dengan lomba lari estafet gabungan anak-anak terpilih, guru dan orang tua murid. Penutupnya tentu ayah-ayah yang berusaha berlari secepat mungkin agar kelasnya yang menang. Mengharukan.

“piknik” di lapangan sekolah

Sayangnya setelah acara penutupan kami tidak bisa berfoto dengan gurunya Kai, karena semua buru-buru pulang. Ya, saat bubar itu hujan mulai menetes dan cukup besar. Kebanyakan tidak membawa payung, sehingga semua berlari pulang. Kami hanya ada 1 payung lipat, sehingga aku dan Kai berdua pakai payung, sedangkan Riku memakai tikar plastik di atas kepala. Untung saja hujan cepat berhenti. Dan kami beristirahat di rumah. Bukan kami yang berlari dan berolahraga, tapi kenapa ya menonton saja pun capek? Katanya orang Jepang karena kitsukau 気遣う capek hati menjaga tindakan di depan orang lain. Mungkin kalau bahasanya abg sekarang ya JAIM!

 

Sekolah dihias dengan bendera dari berbagai negara, dan masih ada bendera Rusia hehehe. Memang TK ini sudah berusia lebih dari 30 tahun

Tahun depan Kai tahun terakhir. Akan ada pertandingan estafet, ada senam ritmik, lebih sulit, lebih membutuhkan latihan. Semoga dia pun bisa mengetahui bahwa tanggungjawabnya sebagai TK nenchou itu semakin sulit, dan bisa mempersiapkan memasuki dunia baru, dunia sekolah dasar. Gambatte ne Kai kun! (Dia marah kalau pakai -chan :D)

Pertemuan Orang Tua Murid

Aku tidak tahu apakah di Indonesia ada seperti ini. Dulu saya pernah dengar ada istilah POM, mungkin ini sebangsa PTA (Parent Teacher Association), dan aku tidak tahu seberapa sering mereka berkumpul dan membicarakan apa saja.

Kemarin aku mengikuti hogoshakai 保護者会 kelasnya Riku. Setiap tahun 3-4 kali diadakan pertemuan orang tua murid bersama gurunya untuk membahas perkembangan anak-anak. Kemarin adalah pertemuan terakhir di semester ganjil karena hari ini Riku menerima raport yang dinamakan Ayumi (あゆみ) artinya “langkah”. Pertemuan itu mulai pukul 3 siang, padahal aku musti mengajar sampai pukul 2:30. Dan butuh satu jam untuk pulang…. Terpaksa aku mempersingkat pelajaran sebelum waktunya selesai, dan lari pulang. Dari stasiun aku masih harus naik sepeda dan melewati jalan tanjakan. Tapi hebat, aku bisa sampai teng jam 3 di depan kelasnya Riku. Gurunya juga heran melihat aku, karena sebelumnya aku sudah memberitahukan bahwa aku akan terlambat.

Kami masing-masing menempati tempat duduk anaknya yang sudah disusun bentuk U mengelilingi guru. Sebelum mulai, kami menerima agenda pertemuan dalam selembar kertas dan gurunya berbicara menurut topik yang tertulis. Bahasan pertama adalah : Menoleh ke belakang, selama satu semester (Evaluasi) . Guru memberitahukan kami perkembangan murid-murid di matanya selama satu semester. Katanya dibanding 6 bulan yang lalu, murid yang masih kekanakan itu sudah berkembang menjadi setengah remaja. Contohnya anak-anak laki-laki sudah mulai memperlihatkan perhatian pada lawan jenis, dan bergerombol membicarakan “cewe” yang ditaksir (hihihi di mana aja sama ya?)  dan teman-temannya memberi advis bagaimana cara “mengaku” bahwa si A itu suka pada cewe itu… kokuhaku 告白. Guru Riku memang laki-laki jadi cukup dekat dengan anak laki-laki, sehingga merasa lucu dan mungkin ada waktunya untuk mengontrol pembicaraan soal lawan jenis sehingga yang perempuan juga tidak terganggu. Ini soal kehidupan, sedangkan soal pelajaran, ya memang pelajaran Kanji yang paling sulit dan merupakan momok untuk hampir semua anak. Setiap tahun jumlah kanjinya bertambah terus dan memang kanjinya sulit-sulit.

Gurunya juga menjelaskan bahwa rapor yang dibagikan hampir semua tidak bermasalah. Seperti yang pernah kutulis di sini, raport Jepang untuk kelas 4 SD hanya ada 3 penilaian yaitu “yoku dekiru よくできる bisa sekali, dekiru できる bisa dan mou sukoshi もうすこし sedikit lagi”, bukan berupa angka seperti di Indonesia. Juga tidak ada ranking kelas apalagi juara-juaraan. Tapi yang dinilai kebanyakan adalah sisi moralnya, bagaimana bersikap di kelas, apakah menjalankan tugas yang diberikan atau tidak. Seperti Riku, semester ini menjadi petugas lampu dan jendela, jadi apakah dia menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab atau tidak. (Barusan Riku pulang dan memberikan ayuminya, lumayan lah hasilnya)

Selain membicarakan perkembangan selama satu semester yang telah lewat, gurunya juga menerangkan rencana-rencana di semester ke 2 seperti ada 3 kali kunjungan masyarakat yaitu ke Dinas Pengolahan Air Limbah, planetarium dan keliling Tokyo, serta 3 kali kegiatan bersama dengan SLB yang berada dekat SD nya Riku. Kegiatan bersama ini aku rasa hebat karena anak-anak bisa mengetahui bahwa ada anak-anak juga yang tidak seberuntung mereka karena cacat mental. Aku tidak tahu apakah SD Riku ini bisa mengadakan kerjasama karena letaknya yang dekat, atau ada SD lain yang juga punya program semacam ini.

Setelah penjelasan dan pengumuman gurunya, kami orang tua murid, diberi kesempatan untuk bicara, memberitahukan perkembangan apa yang menyolok dari anak-anaknya, dan apa yang kurang atau perlu diperhatikan. Kebanyakan ibu-ibu menyampaikan bahwa selama 6 bulan anaknya mulai rajin, bisa belajar dengan tenang, tidak suka lupa barang, atau membantu pekerjaan rumah dengan masak bersama dll. Pas giliran aku, aku juga menyampaikan bahwa Riku menjadi lebih dewasa, sampai sering memperingati aku agar tidak kecapaian, atau kalau ada yang perlu dibeli biar dia yang belikan di toko terdekat bahkan memperhatikan adiknya. Kadang aku merasa Riku menjadi dewasa karbitan terlalu cepat, padahal dia masih anak-anak. Itu kusadari waktu dia menangis jika bertengkar dengan adiknya. Rupanya dia juga masih anak-anak. Wajar kan.

Selain itu aku menceritakan kepada gurunya mungkin anak-anak laki-laki itu belajar untuk approach anak perempuan karena mengikuti acara TV anak-anak Piramekino. Karena ada suatu tayangan bagaimana caranya anak lelaki “menyatakan cinta” pada teman ceweknya. Aku sendiri selalu ikut menonton acara TV itu, sehingga aku langsung memperingati Riku jangan seperti itu, kalau mau kokuhaku, liat dulu si cewe itu ada perhatian juga ngga. Karena sakit loh patah hati itu hahahhaa. Dan selama aku menceritakan soal TV ini, ternyata ibu-ibu yang lain jadi rame, karena mereka juga menganggap acara itu “tidak berbobot” sama seperti aku :D. Dan gurunya tidak tahu acara ini karena pada jam tayang jam 6:30, dia masih di sekolah, jadi tidak tahu sama sekali. Jadi aku sarankan merekam acara itu sehingga bisa tahu trend anak-anak jaman sekarang seperti apa. Karena mau melarang Riku untuk tidak menonton acara itu juga tidak bisa, karena teman-temannya menonton. Kasihan Riku jika tidak ada topik percakapan yang sama dengan teman-temannya kan?

Jadi gurunya Riku berterima kasih sekali karena aku menyebutkan acara TV yang mungkin bisa menjadi bahan trend anak-anak. Rupanya selama ini dia tidak tahu keberadaan acara ini. Senang juga aku bisa bicara yang berguna bagi gurunya, juga bagi ibu-ibu yang bekerja dan tidak bisa menemani anak-anaknya menonton TV. Inilah pentingnya ada pertemuan orang tua murid, hogoshakai, sehingga ibu-ibu (atau bapak) bisa mengetahui perkembangan anaknya, juga sekaligus  kehidupan berteman di sekolah. Karena semakin tinggi kelasnya (kelas 5 dan 6) akan lebih rumit lagi masalah-masalah yang dihadapi anak-anak, baik di bidang pergaulan atau pelajaran. Pentingnya pertemuan ini sangat aku sadari, sehingga aku selalu mengusahakan untuk datang. Dan ini jauh dari gosip di luar sekolah antar ibu-ibu, karena resmi dengan dipimpin gurunya. Biasanya pertemuan ini hanya berlangsung maksimal 1,5 jam sehingga tidak bertele-tele dan tidak buang waktu, langsung to the point. Tentu saja tanpa makan dan minum, bukan untuk nge-rumpi deh 😀 Sayang kegiatan ini tidak bisa aku foto, karena sulit mendapatkan ijin dari semua pihak terkait. Begitu masuk gedung sekolah, kami tidak bisa seenaknya memotret, karena berkaitan dengan privacy right kojin jouhou 個人情報。