Canggih tapi….

Masih lanjutan dari Budak Gadget deh, yaitu betapa tergantungnya kita, terutama warga Jepang terhadap Gadget. Di satu sisi aku menyayangkan jika kita menjadi budak gadget, sehingga tidak bisa hidup tanpanya, tapi di sisi lainnya, ternyata dalam hidup di kota metropolis megapolitan Tokyo ini kadang mau tidak mau HARUS menjadi budak gadget.

Pertama cerita dari adikku Tina. Dia pemakai iPh*ne memang, dan sudah lama. Maklum karena orang IT, dia tentu tahu segala macam yang berkaitan dengan komputer. Beli tiket juga kalau bisa dengan online. Memang akupun sudah lama e-shopping juga, tapi untuk yang murah-murah, sedangkan kalau membeli tiket online, baru 2-3 tahun terakhir. Lebih nyaman kalau lewat telepon, dan memang karena aku harus beli tiket untuk anak dibawah 12 tahun, biasanya harus lewat telepon karena ada special request. Tapi aku baru terbatas pada pembelian tiket saja. Setelah mendapatkan e-tiket, aku printout dan bawa ke counter check in, dan mendapatkan boarding pass yang dicetak. Pernah mau mencoba online check in, ternyata pasporku sulit terbaca, jadi stop deh daripada ada masalah macam-macam 😀 Langsung ke counternya saja.

Nah adikku ini sering online check in, dan ternyata dari Tokyo, boarding passnya bisa berupa QR code, tanpa kertas boarding pass. Waktu mau mengurus imigrasi pun tinggal kasih HPnya, lalu pihak imigrasi baca dengan reader… atau waktu mau boardingpun tinggal menyerahkan HP atau menempelkan permukaan HP yang ada QR Codenya di pintu otomatis yang bisa membaca code tsb. Tentu saja cara ini tidak bisa dipakai waktu kembali dari Jakarta ke Tokyo, harus dengan kertas printout.

Aku tidak punya smartphone. Telepon genggamku di Jepang, masih telepon biasa, meskipun bisa terima email dan browsing dengan internet. Ya pas-pasan lah. Aku beli HP bernama biblio ini karena sesuai namanya bisa dipakai untuk membaca e-book. Padahal kenyataannya, aku malas memakainya karena displaynya yang kecil. Juga aku sadar masih banyak fungsi lainnya yang belum kukuasai semaksimal mungkin.

Fungsi yang baru-baru ini aku pakai adalah mendaftar sebagai anggota gerai karaoke dengan beberapa kali mengirim email, sampai dinyatakan sebagai member, diberi “kartu anggota” virtual berbentuk QR Code (yang belum tahu QR Code, bisa lihat di side bar kiri ada QR Codenya Twilight Express) . Lalu sebelum masuk ruangan karaoke aku harus menyentuh QR Code itu di reader untuk menyatakan bahwa aku adalah anggota, supaya bisa dapat diskon khusus dan harga anggota. Akhirnya aku cukup terbiasa dengan penggunaan QR Code ini.

Nah, hari ini aku merasa “dikerjai” lagi oleh kecanggihan teknologi ini. Jadi ceritanya nanti tanggal 20 Oktober 2012( 28 Oktober) , di Tokyo  akan diadakan Tokyo International Film Festival (TIFF). Dan tentu saja ada beberapa film Indonesia yang akan ditayangkan di sana. Suamiku Gen memang suka sekali menonton Film. Waktu TIFF beberapa tahun yang lalu, dia pernah pergi sendiri untuk menonton pertunjukan film Ada Apa Dengan Cinta di TIFF dan melihat dengan langsung si Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra sebelum pemutaran film. Jadi dia selalu mengikuti informasi penyelenggaraan TIFF setiap tahunnya. Dari dia aku tahu ada film : Atambua 39 ⁰Celsius (Riri Riza),  Mata Tertutup (Garin Nugroho), Soegija (Garin Nugroho),  Kebun Binatang (Edwin),  Babi Buta Yang Ingin Terbang (Edwin),  Laskar Pelangi (Riri Riza),  Sang Pemimpi (Riri Riza). Wah ada tujuh film loh!

Sayang waktunya banyak yang tidak cocok bagi pekerja. Dan diantara 7 film itu, ada satu film yang harus aku lihat, yaitu Soegija (tentu saja karena aku katolik :D). Dan menurut daftar penayangan film, “Soegija” ini akan diputar pada hari pertama tanggal 20 Oktober, pukul 20:20. Konon Garin Nugroho sendiri akan datang sebelum pemutaran film. Wah aku tentu tidak mau kehabisan tiket, kalau perlu beli tiket sebelumnya dulu. Nah waktu mau membeli tiket itulah aku merasa “dipermainkan” oleh gadget! Karena untuk pembelian tiket TIFF ini harus melalui sebuah situs yang bernama Ticket Board via website atau smartphone, dan sebelumnya harus menjadi anggota dulu (gratis sih). Dan kalau membaca peraturan pembeliannya satu HP hanya bisa membeli maximum 2 tiket saja. Wah kok angel (susah) ya. Sepertinya mereka akan mengirimkan tiket dalam bentuk QR Code sebagai tanda masuknya. Tadi aku sudah mencoba mendaftar menjadi anggota pakai bahasa Jepang, dan lumayan nyebelin 😀 Dan berhubung penjualan tiket TIFF itu baru dibuka tanggal 6 Oktober nanti, aku belum bisa mengetahui proses pembeliannya. Sepertinya kalau tidak bisa membeli dari website atau smartphone bisa sih menghubungi telepon khususnya. Kita lihat nanti saja apakah aku berhasil membeli online.

Tentu saja harapanku sebagai orang Indonesia, semoga banyak orang Indonesia yang tinggal di Tokyo bisa ikut meramaikan film-film Indonesia ini. Untuk mengetahui daftar film dan daftar penayangan bisa melihat website resminya yang berbahasa Inggris. Kita ketemu di Toho Cinemas Roppongi Hills ya 😉