Arsip Bulanan: Agustus 2012

Kopdar Keluarga #1

Bagaimana jika blogger beserta keluarga masing-masing bertemu dalam sebuah kopdar? Tentu seru dan ramai ya. Nah, tanggal 13 Agustus itu aku mengadakan kopdar emak-emak beserta anak-anak mereka di Bandung Coret.

Tahu kan Bandung Coret itu di mana? Ya, Bandung Coret itu adalah julukan tempat-tempat yang termasuk Kabupaten Bandung, tapi entah berapa km jaraknya dari pusat kota Bandung yang biasa Anda kenal :D. Pinggiran gitu ….. Jahat ya 😀

Pagi itu tanggal 13 Agustus, Senin pagi, aku berangkat dari rumah pukul 7:30 bersama Riku, Kai dan Krismariana. Sebetulnya mobilnya sudah siap dari jam 7, tapi biasalah ibu-ibu selalu ada saja yang mau dibawa. (Padahal tetap saja ada yang lupa). Kami langsung masuk tol dalam kota untuk kemudian menuju Bandung. Sepanjang jalan, kami bisa melihat kemacetan Jakarta, dari arus balik/berlawanan. Mereka yang mau masuk ke Jakarta tapi terhenti di tol karena macet. Aduuuh benar-benar seperti parkiran di Disneyland Chiba sana yang gedeeee banget. Ini tol atau parkiran sih. Sama Bang Raja yang nyetirin mobil, kami berdiskusi, berapa banyak kerugian negara dengan kemacetan seperti itu. Rugi tenaga, rugi energi listrik dsb dsb dsb. Kalau cuma sekali-sekali sih masih mending, tapi katanya kemacetan seperti itu sudah lazim 🙁

 

duh, sampai pakai satu jalur lawannya? Tidak pernah lihat kejadian seperti ini di Jepang. Di sini juga suka macet di tol kalau musim liburan, tapi tetap jalan meski 10 km/jam. Jarang sampai terhenti total

Kami turun di pintu tol StoneFruit a.k.a Buah Batu, dan langsung mengikuti pesan dari GPS hidup, Jeng Nchie. Karena ini kali yang ke dua untukku melewati daerah itu, jadi sudah familier. GPSnya juga canggih sih 😀 Dan kali ini kami langsung masuk rumahnya Nchie. Katanya alasannya tahun lalu aku sudah ke rumahnya Bibi Erry, jadi giliran. Kami di sambut di depan pagar oleh kedua blogger bersahabat itu (katanya mereka bersahabat jauh sebelum mulai menulis loh). Dan setelah itu Diandra bergabung.

Lima blogger bertemu di Bandung Coret

Senang sekali bisa kopdar dengan tiga ibu empunya Bandung Coret dengan satu pasukan anak-anaknya. Tentu saja bapak-bapaknya tidak ada karena sedang gawe, tapi tanpa bapak-bapakpun aku tetap menamakan kopdar ini sebagai Kopdar Keluarga. Serunya pas berfoto bersama, karena aku lupa membawa tripod (kan ada yang lupa :D) jadi mesti ada salah satu yang tekan tombol deh. Udah gitu, kopdarnya di Bandung Coret tidak ada satu jam, karena ternyata aku ditunggu di Restoran Kartika Sari oleh petinggi ITB dan salah satu Bank, mantan teman-teman segereja di Meguro Tokyo. Maaf sudah membuat mas-mas  ini menunggu.

Blogger ibu-ibu dengan anak-anaknya di Bandung Coret

Riku dan Kai senang sekali di Restoran Kartika Sari itu karena ada tempat bermainnya. Jadi deh aku biarkan mereka bermain satu jam, sementara aku dan Kris makan siang di situ. Kami baru keluar tempat itu pukul 4:3o padahal aku merencanakan sudah berada di tempat selanjutnya pukul 4. Waktu kuhubungi orang yang ingin kutemui, ternyata mereka baru saja keluar dari restoran Kartika Sari dan sedang berbelanja di tempat lain. Waduh, padahal kami berada di satu tempat yang sama, kok bisa tidak ketemu. Memang sih restorannya di bagian belakang, dan bagian depannya ada penjualan oleh-oleh khas Bandung. Rupanya kami memang ditakdirkan untuk bertemunya di tempat yang telah ditentukan. Dan ternyata Kopdar Keluarga Bandung berlanjut di tempat berikutnya….

bersambung

 

Bertemu teman-teman mantan Meguro-kyokai di Kartika Sari. Mas Nanang dan Mas Bambang.

Personal Touch #1

Karena sesungguhnya pertemuan dua hati tidak dibatasi oleh tempat, waktu dan kwantitasnya. Tapi oleh keinginan dan pengertian dari kedua belah pihak. (IEVCM)

Setelah mengadakan kopdar pada tanggal 10 Agustus di Pasaraya Blok M, keesokan harinya aku bertemu dengan dua orang blogger. Yang satu belum mantan (semoga) meskipun sedang hiatus cukup lama, sedangkan yang satunya blogger aktif penulis masalah sosial yang memang cukup vokal menurutku. Vokal dalam arti semua pemikirannya ditumpahkan dalam blog, yang mungkin bagi sebagian orang akan dicap sebagai radikal. Tapi aku pribadi lebih banyak setujunya, meskipun aku mungkin tidak bisa menulis seperti dia.

Si “vokal” satu ini adalah Pito. Cukup lama aku mengenalnya, dan setiap aku pulkam kami juga cukup sering bertemu. Terakhir (mungkin tahun lalu) dia datang ke rumahku pas aku sedang packing untuk pulang. Dan dia ikut membantuku packing menghadapi koper-koper yang perlu diisi. Dengan dia, selalu bebas, dalam arti jika pas waktunya, “Nte.. aku ke rumah ya…” “OK…” atau aku akan mengajak dia bersama-sama bertemu temanku jika aku sudah ada janji sebelumnya. Dan dia akan dengan “anteng”nya duduk bersama kami, tidak pernah merasa kikuk. Malah sebaliknya aku sering dibantu menangani anak-anak. Kadang aku suka heran, Pito ini bisa menjadi baby sitter yang baik :D, bahkan baik sekali.

Hari itu aku janji bertemu dengan Reti dan Moza di Senayan City. Reti sulit mengikuti acara yang diadakan pada sore/malam hari karena harus keluar dengan Moza berdua saja. Tahun lalu, dia datang bersama om-nya ke acara kopdar Pasaraya. Tapi Om-nya yang sudah akrab juga dengan kami sudah meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi yang menemani Reti bepergian. Aku tahu betapa shock dan kehilangannya Reti ketika om nya meninggal. Apalagi sebulan setelah itu bapaknya di Surabaya juga kena stroke. Untunglah sekarang bapaknya sudah mengalami kemajuan dalam rehabilitasinya.

Aku sebenarnya merasa bersalah, meminta Reti dan Moza yang mendatangiku ke Senayan City. ‘Secara’ aku hanya butuh waktu 5 menit sampai di Sency, padahal Reti membutuhkan waktu 1,5 jam menembus kemacetan dari Bekasi ke Sency. Seharusnya aku yang mendatangi dia, tapi aku ‘buta’ sama sekali daerah Bekasi. Kelapa Gading saja aku tidak tahu 🙁 Dan Sabtu itu aku tidak ada supir yang bisa diandalkan untuk mencari alamat karena papa juga ada acara di gereja. Peringatan ulang tahun paroki kami yang ke 60, sehingga papa yang termasuk dalam Dewan Paroki harus ikut sibuk wara-wiri. Benar-benar aku menyesal tidak memilih tempat yang lebih dekat dengan kediamannya. Sebetulnya tempat mana sih yang asyik buat ketemu, yang di tengah-tengahnya Kebayoran dan Bekasi (Barat)?  Ada usul tidak? Untuk lain kali 😀

Tapi, sesuai dengan judul postinganku, dengan bertemu hanya sendiri atau berdua, terasa lebih akrab. Ada personal touch, ada ikatan batin yang lebih dekat, meskipun waktunya tidak sampai berjam-jam. Kami bisa bicara dari hati ke hati, sambil menikmati makanan, apalagi Pito membawa Moza jalan-jalan ke luar menonton TV sebesar kamarku di Jepang 😀 sambil lesehan 😀 Untung aku tidak ada di situ, jadi tidak bisa ambil foto ketika Pito dan Moza lesehan berdua 😀 Dan waktu yang mereka berikan padaku dan Reti cukup lama, sehingga kami benar-benar bisa bercerita tentang macam-macam. Yang pasti aku kagum pada keputusan Reti untuk membesarkan anaknya sendiri, tanpa pembantu dan baby sitter. Hebat! Memang konsekuensinya, kami tidak banyak bisa melihat update status di FB atau di blognya. Tapi itu tak mengapa, semuanya kan tergantung prioritasnya. Dan Reti lebih memprioritaskan keluarga terutama Moza. Aku angkat topi untuknya, karena tidak banyak yang bisa dan mau. Aku dukung dari jauh ya Reti dan Pito! Terima kasih untuk waktu dan kesediaan untuk bertemu, penuh dengan sentuhan pribadi yang mewarnai liburanku kali ini.

 

Reti-Aku dan Moza. Pito yang ambil fotonya, dengan BB. Karena aku dan Reti lupa bawa kamera 😀

 

 

Piano Story

Akhirnya sampai juga akhir perjalanan liburan musim panas 2012 deMiyashita. Kutulis ini sebagian dalam pesawat yang membawaku pulang NH938. Perjalanan pulang boleh dikatakan mulus, padahal sebelumnya diperkirakan akan ada turbulance, dan dipastikan 30 menit lebih lama perjalanannya karena ada Angin Topan di daerah Okinawa.

Sambil mendengarkan lagu Piano Story dari Max Greger Jun, dari albumnya berjudul Thursday Night, aku mengingat kembali apa-apa yang ingin kutuliskan dalam TE, sebagai pengingatku saja, dan mulai mencatatnya. Biasanya aku juga membuka album foto untuk melihat foto-foto yang kubuat per tanggal, sehingga bisa mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah lewat.

Pada liburan tahun ini, akhirnya aku memang tidak bisa update tulisan sesering tahun lalu. Padahal banyak hal yang ingin kutulis, dari semua perjumpaan dan perjalanan yang kubuat selama liburan ini.  Tapi ternyata aku juga harus mengalah pada waktu yang benar-benar kupakai untuk silaturahmi dan untuk keluarga. Sejak tanggal 15 Agustus, asisten rumah kami mudik, sehingga otomatis aku juga harus membantu pekerjaan domestik di rumah jakarta, dan mengatur agar setelah tgl 15 aku tidak lagi ke luar kota, apalagi Gen bergabung dengan kami pada tanggal 19 Agustus…. untuk lebaranan 😀

Gen sampai di jkt “mudik” tanggal 19 Agustus.

Dan ya, jalanan di Jakarta pada saat lebaran bagaikan surga. Mulai tanggal 17 Agustus, kami bisa keliling Jakarta dalam waktu singkat tanpa hambatan apa-apa. Bahkan sampai dengan kami pulang tgl 25 Agustus, kami tidak pernah bertemu “macet” yang berarti. Sampai aku memang harus me- like penyataan beberapa teman di FB yang menuliskan: “Yang Jakarta perlu sebetulnya bukan gubernur yang handal mengatasi kemacetan, tapi lebaran sebulan sekali” 😀

Demikian juga halnya waktu kami menuju Bandara untuk kembali ke rumah kami yang di Tokyo, jalan sepi. Dua mobil dipakai untuk mengangkut 8 koper kami berlima (7 koper deMiyashita saja). Tidak seperti tahun yang lalu, aku tidak memakai semua kesempatan kuota koper/barang yang bisa dibawa. Untuk penerbangan ANA, setiap orang mendapat ‘jatah’ 2 koper dengan max 23 kg, yang tidak boleh lebih karena jika lebih 1 kg pun harus membayar 3000 yen. Aku hanya membawa 5 koper sehingga diberi 2 koper lagi dari papa dan adikku sebagai tambahan. Padahal kalau mau memenuhi satu koper saja amat mudah buatku. Banyak yang masih ingin kubawa (Kalau bisa satu rumah sekalian hehehe).

Si Nique mau lihat koper-koperku waktu kembali ke Jepang. Nah inilah dia hahaha. Tidak bisa diangkut dengan satu mobil saja 😀

Tapi ada satu koper yang ternyata tidak bisa dikunci, karena cantelan zippernya patah. Memang isinya cuma buku, jadi tidak apa juga jika dibiarkan tanpa dikunci. Namun tetap ada resiko orang lain memasukkan sesuatu ke dalam koper ini. Karenanya khusus untuk koper itu, aku minta porternya membawa ke mesin pembungkus plastic film khusus untuk koper. Aku baru pertama kali pakai jasa itu. Ternyata harganya ‘hanya’ Rp. 35.000 (lebih murah daripada harga satu kunci di Jepang!). Namun aku rasa akan jarang sekali aku pakai jasa tersebut, karena menurutku kok tidak ramah lingkungan ya? Memang terasa lebih aman dari pencurian dan kebasahan, tapi menurutku jika sudah ada kunci tidak perlu deh.

Plastic wrap for luggage. Aku lupa apa namanya, disebutkan oleh porter padahal. Cari di gugle juga tidak keluar apa namanya. Ada yang tahu? Koper berisi buku ini satu-satunya yang belum kubuka sampai hari ini, soalnya harus cari tempat untuk menaruh buku-bukunya dulu 😀

Setelah cek in dengan lancar, kami keluar lagi untuk bertemu terakhir kalinya dengan keluarga yang mengantar. Karena sudah diperingatkan oleh maskapai penerbangan bahwa mereka hanya menyediakan sandwich dan minuman setelah kami boarding, kami berarti harus makan malam sebelum terbang. Jadilah kami makan malam bakso di resto A Fung di bagian kedatangan. Adik iparku, Chris, konon selalu makan di sini setiap sebelum terbang, sehingga tidak perlu makan di pesawat. Tapi menurutku rasanya sih biasa-biasa saja 😀

Jadi waktu kami naik pesawat, kami sudah cukup kenyang dan bisa langsung tidur kalau mau. Kai yang duduk di sebelahku langsung terlelap setelah pesawat mengangkasa, sedangkan aku masih melek. Saat itu adalah saat yang paling tidak mengenakkan. Tidak ada teman bercerita, adikku duduk dengan Riku di depanku, dan Gen duduk sendiri di depan mereka. Tidak bisa akses internet, dan biasanya saat ‘kesepian’ begitu aku tidak mau mendengarkan musik. Menonton film tidak pernah masuk pilihan, karena kalau salah memilih film, hasilnya bisa lebih parah (=mewek terus hehehe). Saat itulah aku menemukan lagu Piano Story, tidak menyayat hati, tidak dinamis, biasa-biasa saja, sehingga aku sempat berulang kali me-rewindnya.

Langit fajar dari atas pesawat tgl 26 Agustus. Indah! Kuberi judul, “Di atas langit masih ada langit”

Kami sampai dengan selamat di bandara Narita, lebih lambat 30 menit dari rencana, karena pesawat menghindar angin topan yang sedang bergerak menuju Okinawa. Aku sebenarnya sudah meng-antisipasi jika banyak turbulance, terutama dengan tetap memakaikan seat belt pada Kai walaupun dia sedang tidur. Kadang kakinya ke atas pahaku, kadang kepalanya yang kupangku. Tapi sistem ‘reclining’ pesawat ANA sekarang memang tidak nyaman untuk tidur. Jika dulu sandaran kursinya yang bisa miring ke belakang, sekarang sandarannya tetap dengan dudukan kursinya yang bisa digerakkan ke depan. Mungkin mereka ingin membuat penumpang  tidak terganggu dengan sandaran penumpang depannya yang miring ke belakang, tapi itu membuat semua penumpang tidak enak tidur 🙁 Untung saja di sekitar kami tidak ada bayi yang menangis. Ngenes rasanya kalau mendengar bayi menangis… entah kesakitan atau tidak enak badan.

Setelah mendarat, proses imigrasi dan pengambilan bagasi kami juga lancar. Di luar dugaan, kami sama sekali tidak ditanya apa-apa bagasinya (tahun lalu ditanya mungkin karena ada kardus yang isinya buku… karena itu usahakan jangan pakai kardus, tapi koper). Sambil mengurus pengiriman 4 koper ke apartemen (3 lainnya bisa masuk mobil), adikku Tina pulang naik bus limousine ke rumahnya. Senang sekali waktu diberitahu karena kami punya kartu ANA Amex, kami berhak mengirim satu koper gratis. Cihuy… Jadi kami hanya membayar untuk 3 koper saja.

Setelah semua beres, kami menuju hotel ANA Crown dengan bus shuttlenya untuk mengambil mobil yang diparkir di hotel itu selama Gen berada di Indonesia. Kami sempat mampir di parking area untuk makan pagi, karena Kai tidak makan pagi di pesawat. Dia tidur terus sampai pesawat masuk lorong kedatangan 😀 Dan kamu tahu apa yang dipesan Kai untuk makan paginya? SOBA! (mie Jepang dingin). Dasar orang Jepang!

Makanan pertama yang dipilih Kai begitu sampai di ‘kampung halaman’nya = Soba. Kamu biasanya ingin makan apa begitu sampai di kampung halamanmu?

Aku teringat dulu setiap mendarat kembali dari Indonesia, aku selalu ingin makan Udon (mie Jepang yang lebih tebal dari Soba) tapi sekarang… apa saja. Makanan sepertinya bukan menjadi keharusan dalam umur segini. Atau sudah bosan dengan semuanya? Semoga tidak.

Ada dua pembaca setia TE yang sampai mengirimkan pesan lewat inbox dan email, menanyakan kapan posting terbaru TE tayang. Terima kasih banyak untuk perhatiannya ya Krismariana dan Nique, aku bukan tidak ada waktu menulis karena bongkar koper, tapi lebih karena lemas dan capek karena setibanya di Tokyo, aku tepar kena flu yang menyerang tenggorokan. Kai memang sudah batuk-batuk sejak dari Jakarta, tapi aku baru rasa tenggorokan aneh dan pilek-pilek setelah sampai di apartemen. Langsung minum obat, dan sebanyak mungkin tidur. Sehingga tulisan di blog ini pun tertunda lama.

Agustus hampir berakhir, dan bulan penuh badai (topan dalam arti sebenarnya) akan tiba. Semoga kita semua bisa tahan dan kuat menghadapi berbagai macam ‘badai’ dalam hidup, dan menyambut September dengan Ceria. (Nyanyi deh hehehe)

 

Pasaraya dan Pak Djaelani

Rasanya kalau pulang kampung dan tidak bertemu teman-teman blogger yang sudah lama kenal memang tidak afdol ya. Maka dari itu, aku merencanakan pertemuan a.k.a kopdar blogger pada tanggal 10 Agustus yang lalu. Yang diundang sebetulnya siapa saja, tapi tentu saja teman-teman blogger yang dulu sudah pernah bertemu di Kopdar Pasaraya tahun 2011. Dan setelah berdiskusi dengan mas Necky, diputuskan untuk tetap memakai Food Court Pasaraya sebagai tempat berkumpul. Dengan pemikiran dekat dengan terminal bus sehingga bisa langsung pulang cepat. Segera kubuat undangannya via event di FB. Praktis ya dengan cara ini, namun tidak bisa diandalkan bagi yang jarang buka FB.

Meskipun aku tahu bahwa resiko membuat acara buka bersama di hari Jumat itu sebetulnya riskan sekali, karena biasanya masing-masing komunitas akan mengisi kegiatan di bulan puasa pada hari Jumat dan Sabtu. Tapi kupikir bukan jumlah pesertanya yang penting, tapi kebersamaannya. Dan benar saja, dengan kehadiran teman-teman ini acara bukber/kopdar blogger Jakarta bisa berlangsung dengan sukses. Aku memang datang yang pertama, maklumlah pengangguran. Kemudian Ibu Enny juga hadir, sehingga kami berdua punya cukup banyak waktu untuk berbincang berdua. Sekitar pukul 5 lewat Krismariana bergabung, dan kami mulai memesan minuman untuk buka (yang buka sih Cuma ibu Enny).

Nah waktu aku habis memesan ketoprak, dari jauh kulihat seorang gadis berjilbab sedang asyik dengan BB nya di tengah jalan orang lalu-lalang. Aku langsung mencari BB ku dalam tas, karena takut ada yang mencariku tapi tak terjawab dan bingung. Kami memang duduk di tempat yang terpisah dari keramaian, sehingga agak sulit untuk dicari. Dan, ternyata memang si gadis itu adalah Inon. Dia cukup modis, tapi itu karena aku tak tahu bahwa ada cerita heboh sebelum ke Pasaraya.

Dan aku juga kaget karena ternyata Mas NH yang tidak mengkonfirm kedatangannya, tiba-tiba muncul. Selanjutnya yang datang adalah Dhana dan temannya. Dhana pada saat itu bukan blogger tapi sebagai pembaca TE, tapi keesokan harinya dia resmi menjadi blogger karena sudah memberitahukan blognya kepadaku. Kalau sempat silakan main juga di sini. Dhana pernah menjadi perawat di Kumamoto, Jepang dan sudah kembali bertugas di RSCM. Satu lagi pembaca setia TE adalah Elizabeth Novianti, yang setiap tahun, pasti kami bertemu. Tahun lalu di kami berdua mencoba restoran Meradelima. Dan sebagai peserta terakhir datangnya (karena macet di busway) adalah Mas Necky.

 

Apa saja ya bahasan kita? Sudah banyak yang lupa, tapi yang kuingat kami membahas soal peraturan imigrasi bagi orang Indonesia. Semisal paspor yang masa berlakunya kurang dari 6 bulan, atau posisi anak-anak kelahiran ibu WNI dan ayah WNA (seperti Riku dan Kai), atau anak Indonesia yang lahir di Amerika yang harus mempunyai paspor Amerika (tidak bisa apply visa) dsb.

Enaknya bukber di Pasaraya ini, karena dibanding dengan restoran di mall lain, relatif lebih sepi. Makanannya juga beragam dan terjangkau jika tidak bisa dibilang lebih murah. Yang pasti ada sate padang Mak Syukurnya 😀 (Rp. 20.000 saja per porsi) yang begitu maknyus deh 😀 Aku pasti pesan sate padang ini kalau pergi ke Pasaraya. (duuuh sambil nulis aja jadi ngiler lagi deh hehehe, kapan bisa ke sana lagi ya….)

 

Akhirnya sekitar pukul 8:30 kami bubar, setelah berfoto bersama tentunya. Dan masalahnya adalah taxi saat itu amat sulit. Rupanya ada kecelakaan beruntun di Senayan, sehingga macetnya minta ampun. Kebetulan ada satu taxi aku naiki bersama Novi, supaya sesudah mengantarkan aku, bisa langsung ke rumahnya di Depok. Yang lucu setelah aku sampai di rumah, Novi mengirim BBM :
Novi: Mbaak taxinya bau ya… 😀
Aku: Makanya aku buka jendelanya hahaha
Novi : Ya, baunya keras d posisi mbak duduk. Krn pas angin ac nya. Posisiku tdk terlalu
AKU : Ya makanya jangan pindah 😀
Novi: Makanya aku pindah posisi lagi 😀

Aku sering menghadapi situasi seperti begini. Supir BB (bukan burung biru tapi bau badan) sehingga mabok deh rasanya. Biasanya aku buka sedikit jendelanya. Tapi pernah loh di Tokyo, aku naik taxi baru, mobilnya baru berbahan bakar listrik. Tapi kok bau ya? Kupikir tadinya karena bau plastik sehingga bau, tapi sepertinya BM alias bau mulut sang supir. Duh benar-benar sengsara deh, sehingga aku perlu mengalihkan pikiran sehingga tidak ‘tercium’. Untung jaraknya ‘hanya’ 20 menit, kalau lebih bisa pingsan aku 😀

 

Tuh kan tulisannya ngalor ngidul lagi. Tapi sebetulnya dari judul posting ini, aku belum menceritakan siapa itu Pak Djaelani kan?

OK, aku mau memperkenalkan supir bajaj ‘keluarga’ kami. Rupanya asisten rumah tangga kami sering memakai jasa pak Djaelani ini untuk antar jemput anak-anak (keponakanku = sepupu Riku dan Kai). Nah karena parno macet ke acara bukber di Pasaraya, kupikir lebih baik aku naik bajaj dari rumah, dan aku meminta asisten kami untuk memanggil bajaj. Sesudah bajaj sampai depan pintu rumah, aku naik dan sempat mengganti status di BB : “Perfume Chanel No 5, mobilnya bajaj orange”.

Seru juga naik bajaj, dan memang lebih bisa nyelip di kerumunan mobil-mobil. Tapi, aku heran mengapa dia tidak masuk ke jalan yang sebelah gereja Effatha.

“Pak, kok belok kiri…”
“Ngga boleh masuk situ. Nanti lewat sana”
Ya sudah kupikir mustinya dia tau dong… Dan dia ikut antri untuk ambil karcis parkir di pintu masuk yang depannya hotel Ambhara. Sambil antri dia berkata,
“Ibunya Sofie ya?”
Loh kok dia tahu?

“Bukan pak, saya tantenya….. “
“Kakaknya ibunya Sofie ya?”
“Iya, makanya gede…” sambil manyun hihihi

“Saya sering anter sofie. Dulu oma suka bilang sama saya… hati-hati bawa anak-anak… Kasian ya Oma…sepi sekarang”
………………. Dan aku terharu… amat terharu. Sekali lagi aku menemukan orang yang mengenal oma (mama). Dia terlihat tulus menyatakan kesepian tak ada oma. Aku harus menahan air mataku.

Tapi, dia tidak membawaku ke jalan sebelah kiri tempat Pasaraya berada.

“Loh mau ke mana pak?”
“Sana…”
“Udah pak sini aja. Nanti saya jalan”, dan aku keluar dari bajajnya dan membayar lebih + 2000 untuk masuk. “Titip anak-anak kalau antar ya….”
Dan aku harus berjalan melalui jalan rusak di depan Gramedia Blok M, yang sepi, sambil ketakutan juga, jangan sampai dijambret. Pak Djaelani, kalau tadi kamu belok kiri di sebelah Effatha, aku tidak perlu jalan jauh. Tapi dengan demikian aku kehilangan moment mengenang mama.

 

Sesaat sebelum turun aku tanya boleh ambil foto tidak 😀 Dan inilah fotonya. Ternyata si Opa (papaku) pun sampai punya no HP nya! Dan aku pernah sms padanya minta “dijemput” untuk pergi bukber daerah blok M ahhahahaa Canggih supir bajaj sekarang

Salah satu episode Perjalanan Hati 2012.

Family Outing

Sudah lama keluarga inti kami (coutriers) tidak mengadakan acara pergi bersama. Tentu saja sejak kami tercerai-berai tempat tinggalnya, kami sulit untuk bisa berkumpul dan bepergian bersama. Bepergian dalam arti bertamasya, berlibur. Aku selalu ingin mengajak mama pergi, waktu mama masih hidup, paling sedikit ke Yogyakarta dan menengok makam ibunya. Tapi kata mama, “Ah makam itu juga sudah tidak ada, sudah tidak tahu ada di mana.” Dan karena masalah kesehatan mamapun, aku tidak pernah bisa mengajak mama pergi. Terakhir kami (Papa, Mama dan 3 putri + keluarga masing-masing) pergi bersama adalah waktu kami mengadakan perjalanan ke Eropa melalui Natal dan Tahun Baru tahun 2002.

 

Family’s Journey to Germany 2002

Aku juga sebetulnya sudah merencanakan mengadakan perjalanan ke Yogya pada liburan musim panas ini, yang terpaksa kami batalkan karena mama menghadap Bapa bulan Februari lalu. Rencananya keluarga Gen dan papa-mamanya akan berlibur ke Yogya dan sepulang dari sana, mampir Jakarta, memperingati ulang tahun pernikahan ke 45 bagi Miyashita dan Coutrier. Namun tidak bisa kami laksanakan sesuai rencana. Sekali lagi kami diingatkan bahwa manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.

Nah, pada tanggal 4-5 Agustus lalu, Papa, aku + anak-anak serta adikku Novi + keluarga, total 9 orang mengadakan outing (cukup) mendadak ke Cisarua. Rencananya Sabtu pagi-pagi kami menuju ke Taman Safari bersama Kimiyo karena dia mau mengajak anaknya ke sana, lalu bermain bersama. Sementara Kimiyo kembali ke Jakarta karena sudah ada rencana untuk hari Minggunya kami tetap di Cisarua dan menginap di hotel dekat Taman Safari yang bernama Hotel Seruni. Chris, suami Novi sering menginap di situ jika ada seminar-seminar kantornya, dan terkesan dengan besarnya hotel itu. Tapi sekali lagi manusia hanya bisa berencana, karena ternyata Ao-kun, anak Kimiyo demam sehingga terpaksa agenda ke Taman Safari dibatalkan. Kami sendiri karena sudah sering ke Taman Safari, tetap pergi ke Cisarua, tapi langsung ke hotelnya saja, dan santai di hotelnya.

 

Bermain di Cimory yang puanas terik!

HADUUUH hebohnya 9 orang mau pergi semalam aja. Aku geleng-geleng kepala lihat persiapan adikku, selimut, baju tebal, cup noodle, snack segala oreo keripik singkong dkk, susu kotak, baju ganti, dsb dsb, persis orang mau pindahan. Aku di Jepang kalau pergi semalam, paling Cuma bawa baju ganti atasan + daleman (kecuali Kai ya), semua cukup satu tas ransel yang bisa digeret. Karena makanan, minuman dsb gampang bisa beli di perjalanan, serta di hotel pasti disediakan amenities + yukata untuk tidur (jadi tidak usah bawa baju tidur). Makanya aku tertawa melihat bagasi mobil Kijang kami penuuuh sesak dengan bawaan kami.

Kami berangkat pukul 9 an, santai, karena tidak berencana ke Taman Safari. Jalanan tidak macet, lancar jaya, sesekali macet setelah keluar pintu tol karena dekat pasar. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 12, dan kami lapar! Jadi kami bertujuan ke Cimory untuk makan siang. BUT, waktu kami sampai di sana, tertulis : “Restoran buka jam 4, Toko buka”. Kami tetap mampir, pikirnya biar anak-anak bermain. TAPI panas teriiiik. Dalam keadaan lapar dan panas, semua menjadi koro-koro (bahasa Makassar berarti kesal). Jadi kami cepat naik mobil lagi dan bermaksud mencari restoran lain, apa saja yang buka.

Hotel seruni yang kami inapi semalam. Bagus tapi…. menurutku terlalu “rame” hiasannya. Hmmm perpaduan Bali dan Perancis gimana gituuuu

TAPI TERNYATA SAUDARA-SAUDARA (terutama yang kristen), jangan berpergian tanpa makan siang di bulan puasa ke arah Puncak deh! TIDAK ADA YANG BUKA! Baik resto, kentucky, mac donald di sepanjang jalan ke Cisarua itu. Kami tidak naik sampai ke Puncak Passnya sih karena langsung berbelok masuk ke arah Taman Safari. Cukup kesal aku melihat keadaan ini, karena aku pikir, bagaimana jika aku membawa turis asing saat itu? Untung saja Kimiyo tidak jadi ikut. Seharusnya ormas yang melarang pembukaan (kabarnya resto ini takut disweeping ormas tertentu) berpikir dong bahwa arah situ merupakan tujuan wisata juga. Bagaimana mau memajukan pariwisata kalau begini. Tapi sudahlah, aku hanya bisa cuap-cuap lewat status BB, yang ditanggapi teman baikku, Ika. Dia sampai menulis, “Udah mel, kamu ke Indomart, beli cup noodle apa kek, buat anak-anak supaya jangan kelaparan”. Kujawab, “Aku tidak mau makan cup noodle waktu tamasya! Maunya makan enak kok.” Dan dijawab, “WELCOME TO INDONESIA MEL!” hahahaha. Ika, ika, i will miss you when I’m back to Japan. Semoga…semoga BB ku masih bisa dipakai di Jepang 😀 sehingga kita berdua bisa “mendiskusikan” Indonesia KITA!

JADI, aku harus mencabut tawaku tadi yang menertawakan persiapan adikku membawa cup noodle segala kan?

Sebagai solusi, kami langsung saja pergi ke Hotel Seruni, untuk cek in. DAN, kabar gembira! Restoran BUKA 24 jam!!! Muachh deh pengen aku cium tuh orang-orang hotel semua 😀 Jadi, satu alternatif bagi wisatawan non muslim, kalau mencari lunch di bulan puasa, PERGILAH KE HOTEL!

interior dan pemandangan dari kamarku yang di lantai 3

Jadi deh bersembilan masuk restoran yang amat luas, dan pesan makanan. KALAP 😀 Makanannya cukup enak loh. Ada Nasi Bali, Chicken Cordon Blue, Gado-gado dan spaghetti. Sayangnya spaghetti meat sauce pesanan Riku lamaaaa sekali baru datang, padahal spaghetti carbonaranya yang pertama datang 😀 Kasihan Riku musti menunggu lama…. “Dagingnya masih dibeli di pasar, dipotong, digiling, dibuat saus… jadinya lama Riku” 😀 Setelah makan, kami masuk kamar, dan anak-anak pergi berenang.

Boleh dikatakan kami hanya menghabiskan waktu di kamar dan di kolam renang. Tapi aku sempat beberapa kali di tengah malam keluar ke Restoran dan menggunakan internet (wifi) di sana. Soalnya di kamar tidak ada wifinya. Aku sempat mengirimkan nilai mahasiswa dan update posting TE dari sana.

berenang dan menikmati pemandangan alam. opa juga enjoy tuh

Minggunya kami keluar Hotel itu pukul 2 siang menuju Jakarta. Masih berharap Cimory buka karena mendengar desas-desus buka, tapi ternyata tidak buka. Kami langsung menuju Jakarta melewati jalan yang lancar jaya. Bulan Puasa memang surga di jalanan ke/dari Puncak…sepiiiiii. Tapi ya itu dia, jangan berharap dapat makan 😀

Kami sampai di Kebayoran Baru pukul 3 siang, dan masuk restoran Mandala di dekat pasar Santa. Aku baru pertama kali masuk restoran ini. Sebuah restoran yang kecil, khas chinese, tapi begitu ramai. Waktu kami datang, kami masih harus berdiri nunggu giliran meja kosong. Kami tetap tunggu sampai ada meja kosong, dan penantian kami terbalaskan oleh masakan yang enak-enak. Seperti kata Dodo, temanku, Sup Tahu Seafoodnya nomor satu!

 

Restoran yang sudah ada sejak aku kecil, namun aku baru pertama kalinya ke sini. Biasanya ke restoran saudaranya (Mandala Baru) di Mayestik. Sup Tahunya memang enak.

Akhir pekan dengan family outing yang singkat, tapi padat dengan pengalaman.

Perjalanan Hati

Sudah pernah baca buku “Perjalanan Ke Atap Dunia”nya Daniel Mahendra? Buat yang pernah bermimpi melanglang buana kurasa buku ini patut dibaca. Aku sendiri baru saja mendapatkan buku ini beserta tandatangan pengarangnya, meskipun aku sudah baca catatan perjalanannya ke Tibet waktu dituliskan di blognya, setahun yang lalu.

Dalam percakapanku dengan Danny, aku mengatakan, “Aku bukan backpacker, meskipun aku suka berwisata. Tapi ternyata aku TIDAK mencari keindahan suatu daerah/kota, karena jika aku bepergian aku lebih mencari orang-orang yang kukenal. Aku akan berusaha pergi ke suatu tempat yang baru jika aku kenal seseorang yang tinggal di situ. Untuk menemuinya, dan keindahan tempat di situ (wisatanya dan pertemuan dengan orang lain lagi) hanya menjadi sebuah bonus. Aku jarang bahkan tidak pernah menentukan tujuan kepergianku tanpa ada pertemuan dengan seseorang. Entah itu Amsterdam, New York, Manchester, dll semua pasti ada temanku atau saudaraku di sana. Perjalananku adalah perjalanan hati.” Aku ingin sekali pergi ke Surabaya menemui teman SMP Gatot dan teman SMA ku Nana, atau ke Tasik menemui Nana Harmanto dan BroNeo, atau ke tempat-tempat lain dimana ada temanku di sana. Sayangnya waktu yang kupunya (dan dana tentunya) tidak mendukung, sehingga perlu dibuat daftar yang cukup panjang.

Namun salah satu tujuan setiap aku mudik, berhasil aku laksanakan pada tanggal 3 Agustus yang lalu, yaitu ke Rumah Dunia. Kebetulan sekali ada acara bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia” karya Daniel Mahendra yang dibedah Yudi Kudaliar Febrianto yang merupakan rangkaian acara Nyenyore, program “ngabuburit” ala Rumah Dunia. Sebetulnya aku ingin mengikuti acara Kado Lebaran untuk anak-anak pada tanggal 5 nya, tapi karena aku sudah ada rencana lain, kupikir aku majukan saja rencana pergi ke Rumah Dunia nya pada tanggal 3 Agustus itu. Lagipula selama aku kenal Danny, aku belum pernah datang pada acara launching atau bedah buku karyanya (Epitaph dan Perjalanan ke Atap Dunia” ). Oleh Yudi dikatakan buku PKAD ini sebagai RACUN! Mau mengetahui sebabnya silakan baca ulasan Yudi di sini.

Aku mengikuti acara ini sampai sekitar pukul 5 (dimulai pukul 4 lewat), sambil kemudian aku bersama mbak Tias Tatanka (istri Gol A Gong) mempersiapkan es teler dan makanan kecil untuk acara berbuka. Meskipun demikian aku sempat mendengar “malu-malu”nya Danny ketika mengatakan, “PKAD ini menurut saya memberikan kebahagian yang begitu besar, karena selain dibukukan dalam jangka waktu setahun setelah perjalanan, buku PKAD juga yang memberikan seorang calon istri kepada saya”. Ya, akhirnya seorang Daniel Mahendra, mengumumkan bahwa dia akan mengakhiri masa lajangnya. Siapa calonnya? Tunggu saja press release DM karena bukan wewenangku untuk memperkenalkan siapa calonnya, yang pasti inisialnya adalah LS. 😀

Aku selalu senang melihat kegiatan Mbak Tias dan Mas Gong dalam menjalankan gempa literasi dengan berbagai kegiatan di Rumah Dunia. Kadang jika membaca kegiatan mereka berdua yang tak ada hentinya, aku merasa capek sendiri, dan berdoa semoga keduanya tetap diberikan kesehatan dan energi yang melimpah oleh Yang Mahakuasa. Kali itu aku juga sempat mengobrol dengan ibunda Mas Gong, yang kami panggil Nenek, seorang perempuan bersahaja yang melahirkan penulis novel terkenal. Dalam pembicaraan seperti begitu, aku sering harus menjelaskan kehidupanku di Jepang, yang bagi yang mendengar seakan “hebat” tapi menurutku biasa saja. Selalu ada sisi positif dan sisi negatif, di mana saja kita berada dan tinggal.

Sore yang tidak terlalu panas jika tidak bisa dikatakan sejuk, berubah menjadi malam yang pekat. Satu hal yang mungkin perlu diketahui teman-teman Rumah Dunia dibangun secara gotong royong dan sukarela sehingga tempatnya benar-benar berada dalam lingkungan pemukiman, dan tidak mempunyai listrik jalanan yang memadai. Hal itu terasa sekali waktu kami ingin berfoto bersama di depan panggung Balai Belajar Bersama yang tanpa pencahayaan. Untung aku cepat meminta supirku untuk memutar mobil dan membantu penerangan ke arah balai sehingga masih bisa membuat foto seperti ini. (Foto courtesy of Yudi  Febrianto)

Satu-satunya foto yang membuktikan bahwa aku pergi ke RD tanggal 3 Agustus itu 😀

Karena makan malam yang berupa gojlengan akan disajikan pukul 8:30, padahal aku masih harus pulang ke Jakarta, maka aku mohon pamit. Tapi sebelum itu sempat mengikuti acara tiup lilin ulang tahun Mbak Tias yang bintangnya sama dengan suaminya yang akan berulang tahun tanggal 15 Agustus mendatang. Ah ternyata banyak sekali teman-teman akrabku yang berbintang Leo!

Tetapi karena merasa belum puas mengobrol, Koelit Ketjil (KK) mengajak ngopi bersama. Berdelapan termasuk aku dan Mas Gong beranjak menuju kedai kopi di depan kepolisian Serang. Kedai kopi yang cukup lengkap menyediakan berbagai macam kopi, bukan hanya “nama” asing dengan pilihan kopi yang kurang maknyus. Aku dan KK memilih kopi Lanang Aceh sebagai pilihan kami, sementara Mas Gong yang bukan penikmat kopi memilih Hot Chocolate. Ternyata tepat sekali pilihanku, kopi Aceh memang maknyus sekali. Setelah ngalor ngidul bicara soal pendidikan luar sekolah di Jepang sampai pada wejangan untuk calon pengantin baru, kami berjabat tangan perpisahan pukul 8:15. Akupun kembali ke Jakarta menembus jalan tol yang masih padat terutama oleh truk-truk dan kendaraan berat lainnya dalam pekatnya malam. Namun kutahu hatiku tidak pekat, karena selalu ada cahaya-cahaya harapan bagi negeriku tercinta. Cahaya yang dipancarkan sahabat-sahabat yang berusaha membangun dunia melalui literasi dan buku. Kudoakan Rumah Dunia akan tetap terus berdiri dan menjadi contoh bagi Taman Baca lainnya. Banzai!

 

Peserta sesi lanjutan acara Nyenyore di Kedai Kopi

Kidzania…Again

Ada 3 agenda besar yang diajukan oleh Kimiyo yang ingin dia lakukan di Jakarta, yaitu Ancol, Kidzania dan Taman Safari. Tapi yang butuh satu hari cuma Ancol dan Taman Safari, sedangkan Kidzania karena dekat dari rumah bisa kapan saja. Jadi waktu ada hari yang suaminya bermain golf paginya, kami merencanakan pergi ke Kidzania. Katanya golf kan paling sampai jam 11, jadi lumayan setelah itu kan?

Tapi pada kenyataannya kita baru masuk Kidzania pada pukul 2 lewat, jadi hanya bisa bermain kurang dari 2 jam (tutup jam 4). Selain dari memang kitanya lambat pergi setelah makan siang segala, aku tidak mau mengulang kesalahan dengan percaya begitu saja dengan sang supir. Aku minta supir papa untuk menjadi penunjuk jalan dengan motornya. Cari parkir di PP juga cukup memakan waktu, meskipun kami tetap mendapat tempat di P2Q4 (langsung catat dong!). Memang bisa sebetulnya kami turun di lobby dan membiarkan supirnya cari tempat parkir sendiri, tapi resikonya terlalu besar. Aku takut dia keluar di pintu yang salah, dan tidak bisa berada di lobby yang sama, selain dari ketakutanku tak ada signal HP di basement sehingga tidak bisa menghubungi dia. Ah daripada pusing memikirkan resiko-resiko itu, lebih baik kami mengetahui tempat parkir dan kami yang mencari sang supir 😀

Naik ke lantai 6, anak-anak tidak sabar ingin berlari sampai ke kidzania. Setelah menyelesaikan bayar-bayar dan isi formulir untuk bayi Haru, kami masuk. Aku sempat protes pada kasir Kidzania, mengapa tidak ada potongan harga khusus untuk mereka yang masuknya sudah siang/sore. Semua dipukul rata 115.000 rupiah/anak. Sedangkan di disneyresort aja ada potongan harga untuk mereka yang masuk pukul 6 sore, twilight ticket, sehingga pengunjung tidak merasa dirugikan. Kata adikku masih mending orang tua hanya membayar 85.000 rupiah sjaa, karena dulu waktu awal-awal buka/hari libur orang tua pun harus membayar sama, padahal ORANG TUA TIDAK BISA BERMAIN APA-APA. Hanya bisa bengong dan menunggu anak-anaknya bermain. Karena tidak memikirkan cara-cara menarik pengunjung inilah, Kidzania pada hari ini SEPI sekali. Memang enak sih karena tidak perlu mengantri, tapi 115.000 untuk 1,5 jam? Gila memang! (akunya hehehe kok mau….)

 

Riku dan Ao menjadi petugas pompa bensin

Tapi ternyata Ao kun ketakutan dan tidak mau mencoba menjadi polisi atau pemadam kebakaran. Dia hanya bisa menjadi penumpang bus BB. Padahal Riku, Sophie dan Kei aktif mau ke mana-mana (Aku membawa sepupunya Riku juga, kecuali Dharma yang sudah merasa besar dan banyak sekali PR nya. Maklum dia sudah SMP kelas 1 sekarang). Jadi deh rombongan kami terbagi 3, Ao kun bersama papa, mamanya (dan Haru tentunya) , kemudian kelompoknya Riku, Sophie dan Kei yang heboh bermain sana sini, dan kelompoknya Kai chan + mama yang kerjanya hanya duduk dan bengong 😀 Loh….

 

menjadi polisi dan menangkap maling 😀

Kai memang penakut, dia tidak pernah berani mencoba sesuatu yang baru atas inisiatifnya sendiri. Sungguh berlainan dengan Riku yang sejak kecil sudah aku latih untuk tidak malu bertanya dan berani mencoba…segalanya baik permainan maupun makanan 😀 (Dia SUKA sate padang loh…..padahal kan pedas). Kai enggan mencoba, padahal jika dipaksa atau dibiarkan beberapa waktu akhirnya dia menemukan kesenangan yang bisa diperoleh, baru dia tahu dan mau. Ibaratnya dia membiarkan semua orang berpesta dan dia baru makan sisa-sisa pengunjung, dan…menyesal kok baru tahu sekarang (ironis sekali tapi memang begitu sih). Padahal aku selalu berusaha supaya dia sama seperti Riku yang berani mencoba. Tapi yah karakter anak itu kan memang berbeda ya. Jadi waktu kakak-kakaknya bermain mobil dan petugas pompa bensin, dia bengong saja. Itu karena dia tidak punya SIM. Untuk membuat SIM perlu pemeriksaan kesehatan, tapi dia TAKUT disuntik 😀 ampuuun deh. Meskipun akhirnya setelah sekian lama tidak ada satupun kegiatan yang dia buat, akhirnya dia mau membuat SIM dan bermain sendiri. Duh nak, kamu terlambat!

Waktu aku menemani Kai, tiba-tiba ada seorang ibu dengan anak bule yang menyapa,

“Mbak…. Imelda ya?”

Aku bingung dan berkata, “Ya, saya imelda”
“Saya lihat Kai, jadi saya pikir pasti mbak Imelda. Saya temannya Susi di Belanda, sering melihat foto-foto mbak di FB.”
“Susi Huijbergen? Kamu juga dari Huijbergen? Wah lucu sekali bisa bertemu di sini ya.”
“Saya sih di Bergen op Zoom, dekat Huijbergen.”
“Ya, ya… tapi stasiunnya sama kan? Bergen op Zoom. Saya turun di stasiun itu waktu pergi ke rumah Opa Baseler”
“Betul sama….”
“Lagi liburan juga?”
“Ya sudah hampir pulang seminggu lagi. Ini Nick anak saya, dari tadi pagi jam 9 kami di Kidzania. Karena sendiri, jadi tidak seru mau main-main. Riku di mana?”
“Riku sama sepupunya udah lari ntah kemana. Nanti kalau dia kembali bisa ajak Nick bermain bersama.”
Dan akhirnya Nick, Riku, Sophie dan Kei bermain racing car berempat.


Ah pertemuan lagi dengan seseorang nun jauh dari sana, berkat Facebook. Tadinya kupikir dia bukan temanku, ternyata sudah menjadi temanku di Facebook, bahkan aku pernah berkomunikasi dengannya soal resep gethuk! Siapa nyana aku bisa bertemu dia di dunia nyata, di Jakarta. Tempat bukan lagi penghambat untuk bisa bertemu, meskipun perlu keajaiban untuk bisa mempertemukan kami.

 

bertemu teman FB dari Belanda :D. benar-benar kebetulan!

Waktu tutup pukul 4 segera menghampiri, sehingga Riku yang merasa kurang bermain agak merajuk. Memang harus datang dari pagi jika mau menikmati semuanya. Jadi aku katakan, nanti sebelum kembali ke Jepang, aku akan antarkan dia bermain sepuasnya. Dan sebelum pulang, kami sempatkan mampir ke Urban Kitchen di lantai 5 Pasific Place untuk ngopi dan anak-anak makan ice cream… tadinya. Eh kok setelah makan es krim mereka minta makan juga 😀 Jadilah kami sekalian makan malam, apalagi Ao kun agak hangat sehingga mereka juga membeli makanan untuk dibungkus bawa pulang. Waktu kami datang pukul 4:15 tidak ada satupun pengunjung, tapi mulai pukul 5 sore mulailah berdatangan pengunjung yang akan buka puasa. Menjelang pukul 5:30 tidak ada lagi kursi yang kosong, bahkan tidak sedikit orang yang mengincar kursi kami (padahal sedang diduduki) seakan-akan membatin “Cepet dong pergi…” Meskipun tanpa kata, pandangan mereka juga tidak “bersahabat” sehingga akupun merasa tidak nyaman… “Ambil gih sana…..” Dan bahkan sebelum pantat kami berpisah dari kursi, sudah ada yang menaruh tasnya. HUH, sebal sekali rasanya, seakan mencari makan menjadi pertempuran. Kunamakan ini “The battle of buka puasa”. Bukan, sama sekali tidak ingin menyinggung mereka yang berpuasa, tapi kadang aku merasa aneh. Mereka memesan makanan dan minuman di hadapan mereka dan sambil melihat jam “teng!” langsung menyantapnya bagai singa lapar (yah memang lapar sih). Aku pikir bukannya seharusnya pelan-pelan ya supaya perut tidak kaget? Ah, tapi itu bukan ranahku untuk berbicara, sehingga aku hanya menikmatinya, dan berusaha tidak mengambil semua kejadian (perebutan tempat duduk, petasan, kerja lelet) ke dalam hati. Aku berusaha menghormati mereka yang berpuasa, tanpa berharap apa-apa.

Berkat kecerdikanku **halah** kami kembali ke mobil tanpa tersesat dan tanpa khawatir mobilnya tersesat 😀 dan meninggalkan Pasific Place untuk pulang ke rumah dan hotel. Tapi ternyata ini merupakan awal dari ketidakmujuran liburan Kimiyo karena setelah itu sampai tanggal 6 Agustus, Ao kun demam 🙁 ……. Jadi bagaimana Taman Safarinya?

Ancol di Bulan Puasa

Mumpung puasa memang masih berjalan aku sekalian mau memberitahukan bahwa Ancol memberlakukan potongan harga 60% untuk tiket masuk ke Dufan, Gelanggang Samudra dan Atlantis tuh, jadi yang masih mau main-main di bulan puasa, bisa dimanfaatkan. Tapi jangan lupa diprint ya selebarannya, satu orang satu lembar. Aku berterima kasih sekali karena Nique memberitahukan info ini, sehingga untung dong.

Aku, Riku dan Kai bersama Kimiyo sekeluarga melewatkan waktu bersama di Ancol pada tanggal 1 Agustus lalu. Aku memilih Gelanggang Samudra karena anak Kimiyo, Ao-kun (6 tahun) masih sulit untuk bermain di Dufan (untung juga sih pas aku lihat HTMnya lumayan mahal rek, sayang kalau tidak dipakai sepuas-puasnya). Dan daripada Seaworld, bagaikan melihat akuarium besar berarti kitanya yang berjalan keliling, lebih baik ke Gelanggang Samudra dan menonton berbagai pertunjukan.

Kami sampai di ancol sudah pukul 12 siang. Kami langsung menuju loket tiket masuk di gelanggang samudra, dan menyelesaikan pembayaran. Meskipun tinta printer rumah sudah sekarat, masih bisa terpakailah kertas lembaran diskon itu. Kami langsung masuk area dan diberitahukan akan ada pertunjukan aneka satwa. Well, pengunjungnya sedikit sekali, yang menonton pertunjukan aneka satwa tidak lebih dari 15 orang, dan kami menempati tempat duduk terdepan.

Sebetulnya pertunjukan biasa saja, dari lingsang, beruang madu dan kuda nil. Tapi buat anak-anak, apa juga lucu! Kadang kala kita harus memikirkan apa yang lucu buat anak-anak, bukan untuk orang dewasanya. Kadang dan sering orang tua bermaksud menyenangkan anak-anaknya dengan segala kegiatan dan rekreasi mahal, tapi sebenarnya anak-anak itu belum cukup umur untuk bisa mengerti dan menikmatinya. Untuk anak-anak seusia Kai dan Ao, pertunjukan di Gelanggang Samudra sudah cukup. Untuk Riku yang 9 tahun, butuh sesuatua yang lebih seru, sehingga dia sepuas-puasnya naik atraksi ubur-ubur (seperti kendaraan yang diputar di angkasa)  dan gocart. Mamanya sudah pasti tidak mau naik ubur-ubur dan tidak masuk jika main gocart 😀 Mamanya sih cukup menjadi pembawa barang, fotografer dan temani Kai yang penakut.

Setelah menonton pertunjukan aneka satwa, kami menonton atraksi lumba-lumba. Di sini ruangan digelapkan, dan pertunjukan merupakan permainan lampu + senam air, jadi Kai serta Ao cukup takut melihatnya. Belum lagi musik yang menakutkan. Tapi kami tutup pertunjukan di sini dengan berfoto (anak-anak) dengan lumba-lumba.

Setelah dari tarian lumba-lumba itu, kami menonton Scorpion Pirate, sebuah ketangkasan bermain speedboat dikemas dengan cerita bajak laut. Jadi pemainnya ya seperti berkelahi dan memakai tembak-tembakan. Waduh untung kami diperingatkan untuk tidak duduk di 5-6 bangku pertama karena akan basah. Tadinya kupikir, ah basah sedikit…well benar-benar basah tuh hahaha. Riku yang ingin basah sehingga dia turun sampai bangku ke 3 😀 Tapiiii pertunjukan ini memang benar serius, memakai peledak dan api, sehingga benar-benar menakutkan anak-anak. Ao kun dan mama papanya sudah duduk di bangku paling ataspun masih ketakutan 😀 Aku saja sempat beberapa kali terkaget-kaget. Seru sih, sayangnya Kai dan Ao tidak mau berfoto dengan para pemain 😀 Takut :D. Jadilah Riku dengan Haru yang digendong papanya 😀 Kalau ada pertunjukan lagi dalam jadwal yang cukup dekat sebetulnya mau juga tuh nonton lagi hehehe

Dari situ sebetulnya kalau melihat jadwal ada pertunjukan singa laut, tapi kami tidak ada yang tertarik untuk menontonnya. Jadi sambil menunggu atraksi lomba-lumba, kami melewatkan waktu dengan permainan  ubur-ubur, melihat toko souvenir (aneh aku sama sekali tidak tertarik membeli souvenir di sini ya… kalau suamiku ada pasti dia akan membeli sesuatu. Well aku memang bukan turis asing sih hahaha)

Pertunjukan lumba-lumba menjadi penutup acara kami di Ancol, dan memang pantas sebagai gong nya. Memang kolamnya kecil, karena katanya kolam yang biasanya sedang dalam perbaikan, sehingga memakai kolam latihan. Tapi yang penting kan lumba-lumbanya bukan kolamnya. Karena kecil, jarak penontong juga dekat, sehingga bisa membuat foto yang cukup menarik (baca : fokus) meskipun sulit memprediksi gerakan apa yang akan dipertunjukkan. Ketangkasan dolphin ini ya seperti yang mungkin pernah teman-teman tonton, tapi saat itu ada acara ulang tahun seorang anak warga negara asing yang ke 12. Mungkin dia membayar untuk acara khusus itu, tapi kami jadi bisa kecipratan pertunjukan khususnya 😀 Kubayangkan sebetulnya jika Kai tidak penakut, bagus juga meminta acara khusus untuk ulang tahun Kai di situ. Untuk ulang tahun Riku ke 10? Jangan deh kasihan lumba-lumbanya, karena Riku kan ukuran anak SMP hehehe.

Dan setelah selesai pertunjukan aku melihat banyak orang yang menuju ke panggung untuk berfoto bersama. Wah kapan lagi, jadi aku suruh Riku dan Kai pergi ke sana serta aku bersiap mengambil foto. Kalau hanya memegang lumba saja, Kai masih berani, tapi tidak berani waktu kusuruh untuk berpose bersama sang lumba. Lalu mbak yang di situ mengatakan “Ibu saja… sini saya fotoin”. Wah senang sekali mendapatkan kesempatan itu. Biarlah dibilang seperti anak-anak, tapi aku memang suka berfoto dengan binatang-binatang (kecuali ular dan serangga). Tentu saja untuk memotret begini, kami perlu menyelipkan sekedar uang rokok eh uang pakan untuk si dolphin.

Akhirnya kami keluar areal ancol pukul 3:30 sore, dan …. masuk neraka! Hihihi memang supir mobil sewaan temanku ini benar-benar tidak tahu jalan (again :D). Jadi dia mengatakan bahwa bensin kurang, jadi kami tidak bisa naik tol, dan melewati jalan bawah mencari pompa bensin. Lewat Mangdu, jalan kartini ntah akhirnya sampai di jalan apa yang ada pompa bensinnya. Padahal saat itu kami belum makan siang, dan karena Kimiyo ingin makan Coca Suki, aku minta supirnya untuk menuju BRI2 di Sudirman. Sedangkan sang supir tidak tahu BRI2 di mana 😀 Jadi aku beritahu, “Itu loh yang depannya Plaza Semanggi. Jadi kamu mesti putar balik di semanggi, lalu masuk jalur lambat masuk BRI2”. Dan dalam kemacetan akhirnya mendekat juga deh tuh BRI2, kelihatan dari mobil di sebelah kanan. Jadi aku katakan, “Tuh gedungnya yang itu tuh, kita ke sana…..” So, tentunya bisa mengerti dong gimana caranya untuk putar balik. Eeeeeeee dia masuk jalur yang untuk masuk ke Plaza Semanggi. Yah sudah deh salah. Aku sendiri tidak tahu apakah dengan masuk Plaza Semanggi dapat menyelesaikan masalah. Jadi aku katakan, “Ya sudah tidak bisa putar balik dan masuk kemacetan lagi. Daripada putar balik, sudah kita ke Jalan Tendean saja. TAHU KAN?”…. “Ya ibu” 😀

Jadi sambil menuju Jalan Tendean, waktu buka sudah lewat, sudah pukul 6:20 waktu kami lewat di resto “Ayam Suharti”. Tiga resto, Coca Suki, Ayam Suharti dan Bakmi GM adalah tiga restoran “must go” bagi Kimiyo. TAPI…. Ayam Suharti berada di sebelah kanan jalan dan kami harus putar balik jika mau ke sana, sementara aku melihat lapangan parkirnya penuh. NO way! Lalu aku berkata, “Ya sudah sekarang kita ke GM saja…” Sambil aku melihat kemungkinan restoran yang cocok di jalan Wolter Mongensidi karena baby Haru sudah rewel (terus sejak di sudirman) tapi tidak ketemu (Maunya sih cari Mandala Baru tapi tidak ketemu di sebelah kiri jalan). Tapi kemudian aku pikir… Bakmi GM pas jam buka dan makan malam, pasti penuh! APALAGI si supir TIDAK TAHU Bakmi GM Blok M hihihi. Sudah deh, daripada nerakanya berkepanjangan, lebih baik cari resto yang aman, yang sudah pasti buka dan bisa masuk, yaitu sebuah restoran dimsum di bulungan yang bernama “Grand Central”. Mama alm sering dan senang sekali pergi ke sini, jadi aku minta maaf pada Kimiyo, orang yang tinggal di Hongkong aku ajak makan di restoran Dimsum 😀 Tapi cukup senang waktu suami Kimiyo mengatakan “Enak, tidak kalah dengan Hongkong”.

Well yang penting sampai di restoran dengan selamat dan bisa mengisi perut yang sejak siang belum di isi. Meskipun untuk sampai ke Bulungan ini pun masih kelewatan 😀 (Kalau dia puasa aku bisa maklum loh, tapi dia tidak puasa… eh apa hubungannya ya puasa sama nyetir….. 😀 Aku cuma bisa ngelus dada eh dompet eh kepala! Menghadapi supir ini :D…. Ampuuuun deh).

Akhirnya perjalanan seharian ke Ancol dengan 3 bocah + 1 bayi berakhir. Ancolnya sih OK, tapi lunch and dinnernya payah. Anyway  Gelanggang Samudra itu cocok sekali untuk keluarga yang membawa balita dan lansia 😀

 

oh ya, pesan sponsor 😀

Ngabuburit – bukber bersama blogger Jakarta FoodCourt Pasaraya BlokM (lt basement) host by EM….Friday, August 10, 2012 mulai pukul 5.

Utara, Selatan dan Khatulistiwa

Kalau dilihat dari Jakarta, ya memang Jepang terletak di utara, serta Australia di selatan. Dan kami, aku yang dari Jepang serta Donny yang dari Australia bertemu di khatulistiwa, tepatnya di ibukota Indonesia.

Setiap aku mudik ke Jakarta, memang aku selalu menyempatkan diri untuk kopdar dengan teman-teman blogger. Tapi khusus kali ini aku hanya merencanakan  kopdar jauh hari dengan teman blogger dari Australia yang kebetulan juga sedang mudik ke Indonesia. Tapi waktu yang memungkinkan kami untuk bertemu hanya 3 hari, yaitu hari setelah aku mendarat dan sebelum dia kembali ke Sydney. Jadilah jauh-jauh hari kutentukan untuk bertemu setelah papa ulang tahun, yaitu tanggal 30 Juli.

Sebenarnya kami berdua pecinta sushi, namun karena sang istri, Joyce sedang flu, ingin makan yang panas-panas sehingga akhirnya kami janji bertemu di Pasific Place di restoran Sop Buntut Bogor Café, yang menyediakan sup buntut legenda dari Hotel Borobudur. Daripada jauh-jauh ke hotel Borobudur lebih baik ke Pasific Place yang memang juga lebih dekat dari rumahku.

Sup buntut yang konon terkenal seantero Jakarta.

 

Aku dan Krismariana datang terlebih dahulu dan sambil menunggu Donny, kami sempat bertukar buku. Tak lama kemudian kami melihat Donny masuk menggendong anaknya Odi dan kereta dorongnya. Well, aku memang sudah mengenal Donny lewat tulisannya, dan sekarang bisa membuktikan secara langsung rajahan nama Odilia di leher pasangan suami istri itu. Lucunya kami  sama sekali tidak membicarakan tulisan-tulisan kami di blog tapi justru membicarakan pengalaman-pengalaman waktu kepulangan Donny ke Jogja/Klaten dan Jakarta.

 

Sambil menghabiskan pesananku yang legendary, yaitu sup buntut rebus dengan porsi mantap alias cukup besar, aku juga sempat bermain dengan odilia yang menggemaskan.  Sementara itu aku juga sempat mengirimkan pesan singkat ke empunya PP, mas NH18, jikalau beliau bisa muncul menjumpai kami di sela-sela waktu kerjanya. Namun sampai kami bermaksud pulang kembalike rumah masing-masing, mas NH belum memberikan kabar apakah beliau bisa atau tidak. Eh untung saja kami masih sempat bertemu di lobby bawah setelah mas NH mempercepat meetingnya. Inilah kopdar pertamaku di Jakarta th 2012 yang dihadiri oleh Krismariana, Donny Verdian dan mas NH18. Meskipun merupakan standing kopdar, cukuplah untuk menambah pengalaman daftar kopdar antar blogger sedunia 😀

 

standing kopdar PP : dari kiri ke kanan Mas NH18, Donny, Imelda, Krismariana

Sebetulnya pada hari yang sama, siang harinya, adik angkatku yang tinggal di Hongkong juga mendarat di Cengkareng. Ntah kenapa dia tak bisa menghubungi HPku sehingga dia langsung menuju ke rumah dan sempat bertemu dengan adik dan  papaku, tapi aku belum kembali dari PP. Jadi begitu ada waktu malam harinya, aku langsung menemui Kimiyo di hotelnya. Perjumpaan setelah 2 tahun tak bertemu ditandai dengan hadirnya bayi Haru, adik dari Aoshi yang sangat sumringah, full of senyum!

Menemui adik angkatku Kimiyo bersama kedua anaknya Ao dan Haru.

Karena aku mau menemani Kimiyo, Ao dan Haru berlibur di Jakarta, maka sampai dengan tanggal 7 aku tidak merencanakan membuat kopdar. Baru setelah tanggal 7 Agustus aku ada waktu….sedikit 😀