Giri dan giri-giri

Giri dan giri-giri

Sudah lama aku tidak berbicara atau mendengar kata “giri” dalam bahasa Jepang, sampai saat aku membaca sebuah timeline penulis, “Support teman MEMBELI bukunya, bukan meminjam atau meminta gratisan! ” Hmm  tentu saja aku setuju sekali! Penulis itu kan memang mengharapkan bukunya dibeli, kalau diberikan gratis ya bangkrut dong. TAPI kalau untuk tujuan promosi diri sendiri ke penerbit lain atau orang-orang yang telah berjasa menjadikannya penulis, ya gratis dong yah. Yang saya tahu malah Pakdhe Cholik tuh sering membagi-bagikan buku karya penulis-penulis kenalannya juga yang beliau beli sendiri, sebagai hadiah kontes atau giveaway. Tindakan pakdhe itulah yang terpuji, karena selain beliau membantu penulis, juga membantu menyebarkan buku (literasi) kepada teman-temannya. Lagipula menurutku BUKU adalah HADIAH yang terbaik!

Lalu terhadap tulisan “”Support teman MEMBELI bukunya, bukan meminjam atau meminta gratisan! ”  itu aku menulis: “Aku selalu beli buku teman. Ngga pernah mau gratisan. Inget “giri” dan “ninjo” aja!”. Nah Giri itu apa?

Sulit dijelaskan dengan satu kata karena artinya juga bisa berubah sesuai dengan kalimatnya. Tapi definisi Giri yang umum adalah:  moral untuk berhubungan dalam masyarakat. Etika yang sewajarnya dilakukan dalam kehidupan. Sesuatu yang wajib dilakukan dalam berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Wajib itu belum berarti “dari hati” loh… karena itu dulu banyak orang yang tidak mau membantu orang lain karena takut orang yang mereka tolong mempunyai “giri” yaitu harus membalas budi si penolong. Sulit juga menerangkan kata giri ini yang mendasari kehidupan orang Jepang.

Tapi hari ini yang paling tepat adalah pemakaian kata giri choco. Seperti mungkin sudah diketahui, pada hari valentine di Jepang, justru si perempuan yang memberikan coklat kepada laki-laki untuk menyatakan “cinta” nya. Dan nanti tanggal 14 Maret – White Day – giliran si laki-laki memberikan sesuatu sebagai balasan kepada si perempuan, sebagai arti menerima cintanya. TAPIIIII kebiasaan itu akhirnya ditutup dengan memberikan coklat juga kepada semua laki-laki di sekitarnya. Mungkin kalau kasih kepada satu cowok saja, malu dan takut ketahuan, jadi semua cowok diberikan saja coklat, dengan harga yang berbeda (lebih murah). Nah ini yang disebut giri choco. Coklat “terpaksa” atau coklat pamrih hehehe.  Katanya kalau harganya di atas 1500 yen itu berarti itu lambang cinta sejati hahaha.  Memang ini bisa-bisanya/ taktik dari perusahaan coklat untuk membudayakan pemberian coklat.

Coklat mahal dari GODIVA yang diberikan staf perempuan di kantornya Gen. Uenak pastinya soalnya mahal dan GRATIS! tapi aku harus bagi bertiga nih, aku, Riku dan Kai. Gen tidak begitu suka coklat soalnya. .

Nah apakah aku sudah memberikan coklat kepada TIGA cowok di rumahku? Belum! Mungkin nanti giri-giri sebelum tidur, cari simpanan coklat di lemari atau buat sebentar hehehe. Atau buat susu coklat aja deh. Giri-giri itu artinya MEPET. Jadi coklatku bukan coklat pamrih atau terpaksa tapi coklat mepet 😀
Jadi hari ini sudahkah Anda makan coklat? 😉 Suka coklat ngga? Aku sudah pasti suka coklat tapi yang bitter. Lebih suka lagi yang isinya marmalade! (dan ini biasanya mahal!) Marmalade yang agak kecut pahit dilapis coklat bitter yang pahit manis… sama seperti hidup ini kan? Paduan pahit, kecut dan manis 😀
HAPPY VALENTINE!

 

Akhirnya setelah bongkar lemari ada coklat berbentuk seashells, yang memang pernah aku beli untuk valentine. Dulu pernah coba coklat yang berbentuk seperti kerikil (dan persissss banget). Kali ini sea-shells deh. lucu ya 😉

34 Comments

saya suka COKLAT. tapihari ini tak adayg memberi coklat.
tak ada juga yang memberi bunga
tak ada yang spesial

itu gambar coklat kok menggoda sangat ya
sepertinya saya harus beli sendiri neh hehehe
jadi bisa bewe sambil makan coklat 😀

atau mau ngirim coklatnya ke sini mba? Dijamin ga nolak deh 😀

tanpa tanda halal loh yang dijual di sini 😉
EM

gara2 giri, akhirnya ada giri2…
Sebuah istilah memang tak selalu mudah didefinisikan, apalagi kalau punya makna yg beda untuk tiap pemakaian.
Meski beda istilah, tiap kita pastinya pernah ada dalam situasi giri…

yup … pak eM memang top bisa mengerti soal giri
EM

Waduh Godiva pasti lebih dari 1.500 yen dong….qiqiqi

hahahhaha demo honki janai yo… Kan dari beberapa orang patungan hihihi
**no cemburu at all**
EM

Terkait pinjam meminjam buku saya jadi ingat seorang kawan yang anti untuk meminjamkan. Baginya buku itu nomor satu, dan istri jadi nomor dua. Jika istri saja tidak mungkin dipinjamkan, apalagi buku, katanya 🙂

Ugh… coklat dalam boks itu menggoda sangad… 😀
Sudah lama saya nggak membuat coklat, gara2 gagal bikin filling-nya 🙁

Senang rasanya bila bisa turut memperkenalkan buku karya teman ya, Mbak… Misalnya sebagai hadiah giveaway yang kita adakan 🙂

Jadi, cokelat buat saya mana, Bu? 😛

Waktu kecil saya malah mikirnya cokelat itu ya yang batangan. Kalau yang bentuknya bulat-bulat atau yang kecil-kecil gitu, itu bukan cokelat, melainkan hanya makanan kecil biasa.

untung kamu ngga mikir MM, smarties atau cha-cha itu coklat…padahal kacang bercoklat 😀
Jadi bagianku tidak kurang!
EM

saya biasa aja ama coklat… tapi kalo dikasih godiva sih gak nolak mbak… hahaha

maunya sih ngirimin kamu Godiva… tapi pasti melelh sampai di sana …jadi ya ngga jadi deh 😀
EM

“….karena itu dulu banyak orang yang tidak mau membantu orang lain karena takut orang yang mereka tolong mempunyai “giri” yaitu harus membalas budi si penolong..”

Dalam hal saya, jeng tak perlu mempunyai giri seperti itu lho yaaaa Tali asih ya tali asih, tak ada maksud apa-apa, apalagi mengharapkan balasan. Biarlah semua itu diurus oleh pencipta dunia ini seisinya.

Ngemeng-ngemeng kapan jeng Imel nyumbang artikel Cerpen untuk blogku yang baru. Ingin tahu nich bu dosen membuat cerpen khas situasi di Jepang sana.

Terima kasih
Salam hangat dari Surabaya

Orang Indonesia memang tidak ada giri… biasanya tanpa pamrih…. memang tergantung orangnya juga sih.

cerpen? Haduh aku ngga bisa tulis fiksi nih 😀
EM

mbak memang sih kalau penulis itu sebenarnya pengin bukunya dibeli. kecuali kalau memang buku suvenir hehe. kalau aku sih suka ngasih buku ke orang yang aku tahu dia menghargai buku. dan dia memang suka baca. aku juga suka dikasih buku mbak 🙂

oiya, aku baca tulisan ini pas abis makan cokelat. kemarin dikasih cokelat sama oni, baru kumakan pagi ini :p kalau aku suka cokelat yang nggak bitter malahan.

Bagiku coklat nggak terlalu berarti, tapi rasa perhatiannya itulah yang menjadikannya coklat menjadi berarti. Lewat coklat itulah rasa kasih sayangnya di tunjukkan. Mungkin harganya tak seberapa, tapi perhatiannya sangat tak ternilai harganya.

aku makan coklat yang ada di ruangan lab, mbak 🙂 eh, btw, coklat godiva itu mmg perlambang coklat valentine di jepang yah mbak? sering dipajang di etalase terdepan kombini2 tuh mbak

Happy Valentine (walau telat hahaha…).
Padahal kemarin sudah ingat, gara-gara pusing setelah berbajaj ria ke Kelurahan, Kecamatan, jadi lupa deh.

Hmm….Valentine ini jadi budaya memang karena peran marketing yang aktif, namun sesungguhnya menjadi pengingat untuk memberikan “sesuatu” bagi orang-orang yang kita sayangi. Kadang kita lupa kan, untuk memberikan sesuatu pada orang terdekat yang kita sayangi…malah lebih ingat tugas lain, atau orang yang jauh.

Jepang membudayakan ini, karena sebagai budaya harus setiap kali diingatkan agar orang menjadi perhatian, dan jika dilakukan terus menerus suatu perbuatan baik, nanti akan menjadi suatu kebiasaan tanpa paksaan atau dorongan.

Wah di sana ternyata tradisinya seperti itu ya, memberikan coklat pada cowok di hari Valentine. Lalu sebulan kemudian gantian. Laris manislah produsen coklat.
Aku malah gak ngeh kemarin itu Valentine. 😀

aku udah dapet cokelat mbak em.. hehehehe.. aku juga suka banget dengan cokelat.. apalagi yg gratisan.. soalnya klo beli sendiri kadang malea.. mahal!! *pelit* hahahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :