Arsip Bulanan: Januari 2012

Menahan Keinginan

Sulit…sulit sekali. Sedangkan untuk kita yang sudah dewasa saja sulit, apalagi anak-anak. Tapi…. tentu harus belajar.

Saat ini Kai yang berusia 4 tahun sulit sekali untuk bisa menahan keinginannya. Apa saja yang dia mau harus dikabulkan. Jika tidak dia akan menangis, berteriak, dan keras kepala terus tidak akan berbuat lain, kecuali menunggu sampai keinginannya dikabulkan. Apalagi jika dia sudah mengantuk, wahhh jangan harap bisa dibelokkan perhatiannya pada yang lain. Jadi biasanya kami biarkan saja, dan dia akan menangis sampai… tertidur. Kalau suamiku sudah berkata “Tidak!”, tentu saja aku juga harus berkata “tidak!” agar anak tidak bingung sebenarnya boleh atau tidak sih? Nah, biasanya kalau kami berdua sudah marah dan tidak mau dengar keinginan Kai, Riku (8th) akan berusaha membujuk agar Kai mau berhenti menangis, berhenti meminta-minta dengan segala cara (yang tentu saja diabaikan oleh Kai)…… bahkan sampai Riku menawarkan apa yang dia sukai, yaitu lego dan coklat asal Kai diam. Suatu cara yang tidak aku sukai, tapi aku hargai kegigihan Riku untuk membantu menghentikan “perang” keluarga deMiyashita. 😀

Riku sekarang sedang belajar juga menahan diri, dan seperti sudah cukup berhasil. Tahunya?

Waktu tahun baru, anak-anak biasanya mendapat angpao yang disebut dengan Otoshidama お年玉. Besarnya memang lain-lain tergantung umur dan tergantung “kemurahan” orang tua dan kerabat anak-anak tersebut. Biasanya sih untuk anak SD mendapat 3000 yen. Tapi dia akan menerima bukan saja dari Kakek/nenek tapi juga dari tante/omnya. “Rugi” nya di Jepang keluarganya kecil, sehingga jumlah om dan tantenya sedikit. Coba kalau di Indonesia, bisa kaya raya tuh 😀

contoh kantong angpao, bukan segini banyak yang diterima Riku loh 😀

Namanya anak-anak, tentu ingin langsung menggunakan uang yang didapat dari angpaonya untuk membeli barang-barang kesenangannya, entah berupa makanan, mainan atau keinginan lainnya. Sampai dengan tahun lalu, aku yang memegang angpao anak-anak dan memasukkannya ke rekening bank mereka. Tapi mulai tahun baru kemarin ini, Riku yang sudah pandai hitung-menghitung mau memegang uangnya sendiri. Memang itu bagian mereka, jadi aku biarkan Riku dan Kai memegang angpaonya sendiri. (Tapi Kai akhirnya tidak memperhatikan uangnya dan menaruh di mana-mana, sehingga aku ambil saja). Riku langsung membuat daftar ingin membeli ini itu, terutama mainan lego yang sedang digandrunginya.

Begitu kami pulang dari rumah mertua kembali ke Tokyo, kami langsung mampir ke Tsutaya, sebuah toko yang menyediakan peminjaman/penjualan DVD/CD dan penjualan buku. Gen ingin membeli buku, dan Riku ingin membeli DVD Pirates of Caribbean. Seri Pirates of Caribbean itu ada 3 judul yang dijual murah seharga 1200 yen. Jadi Riku mau membeli satu saja supaya dia masih punya sisa untuk membeli lego. Dia ingin membeli judul yang ke 3, dan sudah mengambil DVD itu untuk dibawa ke kasir. Tapiiiii…. Kai tidak mau yang ke 3, dia mau yang pertama. Nah loh! Kami berkata, “Kai itu kakak beli dengan uang kakak sendiri. Kakak mau yang itu, jadi biar kakak beli. Kalau Kai mau beli yang pertama, Kai harus bayar sendiri dengan uang Kai.” Dan… tentu saja Kai tidak mau mengeluarkan uang, tapi mau membeli DVD 1. Kami juga tidak mau membelikan DVD pertama itu dengan uang kami, supaya Kai belajar menahan diri. Dan tentu saja mulai ramai. Dan teman-teman tahu apa yang terjadi selanjutnya?

Riku berkata, “OK Kai, Riku akan beli DVD pertama karena Kai suka. Nanti kita nonton sama-sama ya. Jadi sekarang diam. Yuk kita bayar sama-sama”.
Melihat anak sulung itu bertindak begitu, air mataku langsung menitik. Gen juga. Dan kami melihat mereka berdua mengantri di depan kasir untuk membayar pakai uang mereka sendiri. Ahhh rasanya aku mau mengabadikan kegiatan itu, tapi tidak enak karena biasanya tidak boleh memotret di depan kasir untuk alasan keamanan. Jadi kami berdua menikmati pemandangan itu, Kakak Riku menggandeng Adik Kai, lalu menyerahkan DVD ke kasir, mengeluarkan uang dari kantong angpaonya, dan membayar serta menerima kembalian. Anakku sudah besar dan… dewasa(?)

Kami kembali ke parkir mobil, tapi kemudian aku bilang, “Tunggu ya, mama lupa beli majalah”. Padahal aku kembali dan membeli DVD kedua dan ketiga (yang Riku mau) karena kami tidak tega dan mumpung murah. Kami berdua sepakat untuk memberikan kedua DVD itu jika Riku mau membelinya dengan uangnya sendiri. Dan ternyata sampai hari ini, kedua DVD itu masih tersimpan rapi dalam lemariku, menunggu cetusan Riku ingin membeli seri lanjutan Pirates of Caribbeannya. Kalau dia tidak juga menunjukkan keinginannya, kami akan berikan sebagai hadiah ulang tahunnya bulan depan 😀

Kelihatannya sih, Riku sudah bisa menahan keinginannya, tapi mama papanya sulit menahan keinginan untuk memanjakan anaknya yang baik hati itu.

Kamu sedang menahan keinginan apa? Aku sedang menahan keinginan untuk membeli gadget nih hehehe.

Cinta Sejati

 

Cinta Sejati

 

Cinta sejati tak butuh nama

tak butuh wujud fisik

tak butuh kata-kata manis

tak butuh tempat

 

Hanya butuh AKU dan KAMU

dan rasa CINTA itu sendiri

tanpa nama tanpa wajah tanpa basa basi

 

Aku tak peduli siapa namamu

bagaimana wajahmu

tapi aku peduli

bagaimana kabarmu dan apa isi hatimu

 

                                                                                                           ****imelda, jan 2012****

 

Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML

—————————————————————————-

sekedar catatan untukku :

http://www.w3schools.com/cssref/playit.asp?filename=playcss_line-height&preval=150%25

http://immigration-usa.com/html_colors.html

Hati-hati dengan Wanita!

Rabu, Kamis…eh sudah Jumat! Sepertinya tiga hari ini berlalu cepat sekali, sibuk sehingga aku tidak bisa menulis tulisan baru di TE. Tulisan ini hanya sekedar catatan buatku.

Rabu 25 Januari

Aku harus pergi ke Open Schoolnya Riku. Kami bisa melihat kegiatan pembelajaran mereka dari pukul 8:50 sampai 14:00 (kecuali waktu makan siang, kami harus pulang). Aku sendiri datang sekitar pukul 9:20 an setelah mengantar Kai ke TK. Persis 10 menit terakhir pelajaran diskusi antara kelas 3 dan kelas 4 dalam membuat acara kunjungan ke SLB. Jadi mereka diajarkan untuk brainstorming, berdiskusi sampai pada membuat kesimpulan. Good!

Pelajaran sesudah itu adalah Soroban atau swipoa (biasanya sih lebih terkenal dengan sipoa, sempoa, cipoa tapi di KBBI namanya swipoa loh) . Pelajaran menghitung dengan menggunakan alat dari biji-biji bulat. Memang alat ini berasal dari Cina. Tapi oleh orang Jepang dimodifikasi untuk mempercepat penghitungan. Dan pada jam pelajaran berhitung itu selama 2 kali pelajaran datang seorang guru khusus pengajar swipoa itu. Dan waktu kami datang itu merupakan pelajaran pertama, sehingga dijelaskan dari awal, sejarahnya dan perubahannya. Semua dijelaskan dengan mudah sehingga anak-anak kelas 3 SD saja bisa langsung mengerti dan langsung mencoba menghitung. Aku jadinya juga ikut belajar gratis! Menarik euy.

Macam-macam swipoa

Tapi berdiri terus di belakang kelas membuat aku lemas, soalnya memang aku sedang tidak fit. Tapi waktu aku mau pulang pada pelajaran Bahasa Jepang, Riku memelas supaya aku tetap melihat jalannya pelajaran. OK demi anakku aku tahan-tahanin dan aku pulang 15 menit sebelum pelajaran berakhir. Tidak tahan lagi.

Well, kesempatan melihat jalannya pembelajaran di kelas memang harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para orang tua. Sayangnya gen tidak bisa cuti untuk datang melihat sendiri. Memang kelasnya Riku yang sekarang agak bermasalah. Anak-anaknya terlalu aktif dan … nakal. Beberapa kali Riku “kena” kenakalan mereka, tapi untung bisa diselesaikan dengan baik. Meskipun Riku memang pernah satu kali tidak mau ke sekolah karena katanya, “Teman-teman rame ma…aku tidak bisa dengar kata guru dan belajar dengan tenang” Waduuuh… Tapi untung akhirnya dia mau juga pergi ke sekolah meskipun terlambat dan aku antar.

Kamis 26 Januari.

Aku mengajar terakhir semester genap dan memberikan ujian. Satu hari ini selama di dalam kereta dan waktu istirahat aku membaca bukunya S. Mara Gd yang berjudul “Misteri Melody yang Terinterupsi” … tidak ada waktu untuk menulis posting 😀 Wong tetap baca terus sambil masak 😀

Jumat 27 Januari.

Hari ini giliran Kai open class. Sankanbi  参観日. Untung tidak satu harian seperti di SD nya Riku. Kami orang tua diundang untuk melihat proses pembelajaran di TKnya selama 1 jam, dari pukul 10 sampai pukul 11. Lima belas menit pertama dipakai menyanyi, grak dan lagu. Doooh anakku itu TIDAK ikut menyanyi dan bergerak! Payah deh… Waktu aku tanya setelah pulang, kenapa sih kamu tidak menyanyi? Dia jawab, “Aku tegang!” haduhhh….

Selain menyanyi, murid-murid TK itu membuat prakarya dengan menggunting dan menempel. Aku melihat Kai cukup telaten waktu menggunting. TAPI aku kaget waktu tiba-tiba dia memindahkan guntingnya ke tangan kiri dan mulai menggunting dengan …cukup sulit, tapi bisa. LOH! kok aneh-aneh saja dia. Setahuku dia tidak kidal, tapi…. entah kenapa dia tiba-tiba mencoba menggunting dengan tangan kiri. Aku musti perhatikan lagi nih di rumah.

Karena waktu berkunjung ke TK itu cuma 1 jam, aku masih sempat berbelanja dan mengurus pembayaran sana sini, sebelum menjemput Kai pulang pukul 2.

Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan judul : Hati-hati dengan Wanita?

Well, kita semua tahu bahwa wanita punya power/influence  yang kadang menakutkan. Dan sering dikatakan bahwa wanita tukang gosip (KEPO ya istilahnya sekarang :D) serta tidak bisa menjaga rahasia. Padahal sama saja sih wanita atau pria, tergantung orangnya.

Nah aku katakan : Hati-hati kepada Wanita itu tadi kepada Riku.

Dia pulang bermain sekitar pukul 4:30, lalu dia laporan:
“Mama, tadi aku main-main bertiga (laki-laki) dengan salju yang tersisa di rumah teman. Lalu tiba-tiba ada 6 anak perempuan yang lewat. Eeehhh mereka melempar salju ke arah kami. Ya jelas kami balas dong. Ehhh mereka marah dan bilang akan melaporkan ke guru kami. Kami jadi bingung sampai temanku nangis loh. Dia takut dimarahin guru…..”

Hmmm perempuan memang kalau berjumlah banyak, merasa kuat dan merasa bisa menguasai semua, lalu mulai menyerang. Aku ingat kok dulu aku menjadi anggota geng di sekolah SD, kalau tidak salah namanya Tomcat. Ketuanya bernama Catherine dan dia naksir seseorang bernama Tom, jadi dia menamakan gengnya dengan nama itu. Kalau tidak salah kami berlima perempuan waktu itu dan kami mengejar seorang laki-laki yang mengejek si Ketua sampai ke WC laki-laki dan menguasai WC itu. Bahkan sampai keesokan harinya si Cat ini membawa pestol air yang diberi cabe! Mengerikan! Aku cuma bisa berlari-lari di belakang dia sambil ketakutan dan memohon “Cat jangan pakai cabe gitu dong…..” …wong aku anak alim waktu itu (sekarang sudah tidak alim hahaha).

Jadi kesimpulannya, aku beritahu Riku kalau sampai dia bertemu lagi dengan “rombongan” anak-anak cewe dan kelihatan mereka akan mulai sesuatu, lebih baik lari saja. Jangan buat masalah deh. Lalu kata Riku: “Mama tahu karena mama perempuan sih ya?”
HO OH! 😀 😀 😀

 

Handle Keeper dan SIM

Berhubung barusan saja di Jakarta terjadi kecelakaan maut yang terjadi konon karena sang supir mabuk, aku jadi ingin memperkenalkan sebuah istilah baru di Jepang. Handle Keeper! Coba cari di kamus bahasa Inggris, dan pasti tidak ada! hehehe. Karena kata bahasa Inggris jadi-jadian ini diciptakan oleh orang Jepang. Japlish deh. (Kalau mau baca soal Japlish lainnya silakan baca di sini.)

Handle keeper adalah sebuah gerakan dari Japan Traffic Safety Association untuk mengurangi kecelakaan mobil karena pengaruh minuman keras. Jadi jika ada serombongan tamu datang ke restoran/tempat minum, maka dengan bantuan teman-temannya dan pelayan toko, akan ditentukan siapa yang akan menyetir. Misalnya A-san sebagai handle keeper, maka dia tidak boleh minum, dan kepadanya juga tidak diberikan  minuman keras, serta dia harus bertanggung jawab mengantarkan semua teman-temannya pulang sampai ke rumah. Intinya: Begitu kamu minum minuman keras, kamu tidak boleh menyetir. Bahkan ada beberapa perusahaan taxi daerah yang menyediakan Unten daikou 運転代行. Jika si peminum yang membawa mobil hendak pulang, dan tidak mau meninggalkan mobilnya di restoran itu, maka perusahaan taxi akan mengirim satu taxi dengan dua supir. Mobil si peminum alkohol akan disetiri oleh satu supir yang disediakan. Dan beriringan mobil si peminum dan taxi menuju rumah si peminum. Begitu sampai di rumah, kunci diserahkan pada si pemilik mobil dan supir pengganti + supir taxi itu akan pulang ke terminal.

Menyetir dalam keadaan mabuk dalam bahasa Jepang disebut dengan Inshu Unten 飲酒運転, dan jika melanggar maka :

1. Menyetir dalam keadaan mabuk (minum sampai kehilangan kendali diri) akan dihukum maksimum 5 th atau 1 juta yen (100juta Rp)
2. Menyetir dalam kondisi beralkohol (kandungan alkohol dalam nafas minimum 0.15mg/l  ) akan dihukum maksimum 3 th atau 500rb yen (50juta Rp)
3. Menolak pemeriksaan kandungan alkohol dalam nafas akan dihukum maksimum 3 bulan atau denda 500rb yen (50juta Rp)

Selain pengemudi tersebut dihukum, orang-orang di sekitarnya yang mengetahui kondisi si pengemudi akan dihukum dengan detail sbb:

1. Orang yang meminjamkan mobil kepada pengemudi mabuk/beralkohol : hukuman max 5 th/1 juta yen atau max 3 th/500rb yen
2. Orang yang memberikan minuman keras kepada pengemudi :  hukuman max 3 th/500rb yen atau max 2 th/300rb yen
3. Orang yang meminta pengemudi mabuk/beralkohol  untuk menyetir dan ikut dalam mobil tersebut :   hukuman max 3 th/500rb yen atau max 2 th/300rb yen

Hukuman bagi pengemudi yang mabuk ini baru saja (2 tahun yang lalu) diperberat begini.

Tiga buku yang dibagikan pada kursus lalin waktu di perpanjangan SIM

Mengapa aku tahu? Ya, karena kebetulan aku baru saja memperpanjang SIM Jepangku yang habis masa berlakunya, tanggal 11 Januari yang lalu. Enaknya di Jepang, masa berlaku SIM akan habis sebulan setelah ulang tahun. Jadi setiap ulang tahun diharapkan mereka yang punya SIM untuk mengecek masa berlaku SIM nya, apakah sudah harus ganti atau belum. Meskipun sebetulnya sebulan sebelum tanggal ulang tahun, kami sudah dikirimi kartu pos dari kepolisian yang mengingatkan bahwa masa berlaku SIM akan habis. Jadi sebetulnya sejak menerima kartu pos pemberitahuan itu, kita masih punya tenggang waktu 2 bulan untuk memperpanjangnya.

Dengan membawa kartu pos tersebut, jika hari biasa kami bisa pergi ke kantor polisi daerah terdekat (bukan pos polisi), sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu pergi ke Tempat Ujian Mengemudi  yang berada di 3 tempat dalam kota Tokyo. Untung saja kantor polisi terdekat rumahku itu hanya berjarak 15 menit naik sepeda. Jadi setelah mengantarkan Kai ke TK, pergi langsung ke kantor polisi Shakujii.

Begitu masuk tempat perpanjangan SIM dalam sebuah kantor yang terpisah dari kantor polisinya, aku menyerahkan kartu pos dan SIM yang akan diperpanjang. Sudah itu saja, tidak perlu membawa foto atau surat-surat lainnya, karena aku memang tidak pindah alamat. Jika pindah alamat atau ada perubahan lain harus menyertakan dokumen tambahan. Setelah itu menjalankan pemeriksaan mata, membayar 3.250 yen dan ambil foto. Semuanya tidak sampai 30 menit.

Tapi setelah itu kami yang perpanjang SIM di situ harus mengikuti kursus lalu lintas selama 30 menit. Hanya 30 menit karena kami yang perpanjang di situ adalah pemegang SIM Emas atau Gold Menkyou (berlaku 5 tahun), belum pernah melakukan kesalahan atau penalti. Jika sudah pernah kena tilang atau pernah melakukan kesalahan, harus memperpanjang di Tempat Ujian Mengemudi (yang cukup jauh dari rumahku) dan kursusnya juga lebih lama (aku tidak tahu berapa lama karena tidak pernah ikut, mestinya sekitar 2 jam). Pemegang SIM Gold ini biasanya lebih murah waktu membayar premi asuransi kendaraan.

Satu setengah jam perpanjangan dengan resmi, tanpa bertele dan uang tambahan. Dan kami tentu saja bertanggung jawab penuh atas kendali mobil yang kami kemudikan, karena di sini salah parkir  atau melebihi kecepatan max akan kena tilang dan jika sering akan ditandai deh SIM nya.

Memang peraturan itu ada untuk dipatuhi, bukan untuk dilanggar, bukan?

Kartu pos pengingat untuk memperpanjang SIM yang diterima sebulan sebelum ulang tahun

 

 

Gurume

Gurume adalah pengucapan bahasa Jepang untuk bahasa Perancis ‘Gourmet‘, atau yang mungkin lebih akrab di telinga teman-teman Indonesia adalah wisata kuliner. Namun di Jepang Gurume lebih ke menikmati masakan dengan bahan segar terpilih yang didukung oleh keindahan penyajian hidangan dan suasana sekitarnya. Nah biasanya restoran yang menjadi tujuan Gurume seperti itu tentu mahal. Ada rupa ada harga! Restoran yang seperti ini di Jepang disebut sebagai Gurume Kelas A. Sedangkan untuk restoran dengan masakan yang terjangkau oleh masyarakat biasa (baca: murah) tapi enak disebut dengan Gurume Kelas B.

Untuk pembagian apakah suatu restoran itu Gurume A atau B memang sulit, tapi biasanya kalau di Jepang rata-rata makan siang 1000-1500 masuk ke Gurume B, yang lebih mahal dari itu ya Gurume A. Perlu diketahui bahwa biasanya harga Lunch dan Dinner di restoran di  Jepang (kecuali family restaurant dan chain restaurant) berbeda. Jika budget lunch minimum 1000 yen (100.000), maka untuk dinner biasanya 4000 yen. Kecuali jika Anda peminum minuman keras pasti budgetnya akan lebih mahal. Harga minuman memang mahal, tapi biasanya setiap tamu mendapat air minum (bukan air mineral – di Jepang biasanya tidak tercantum air mineral dalam daftar minuman). Tidak seperti di Indonesia yang untuk minumpun harus membeli air mineral.

Set Lidah Bakar

Waktu pergi ke Sendaipun kami berwisata kuliner ke restoran yang memang khas Sendai. Dan yang terkenal di Sendai adalah Lidah Sapi Date (date no gyutan). Satu set lidah bakar lengkap dengan nasi dan sup nya sekitar 1900 yen. Dan memang namanya juga lidah, untuk yang bermasalah dengan gigi, lebih baik memesan Semur Lidahnya daripada Lidah Bakar. Selain masakan dari Lidah Sapi, restoran ini juga menyediakan sake dari daerah Tohoku. Yang aku heran waktu pergi ke restoran ini, Kai yang biasanya malas makan, makan dengan lahapnya. Akupun menikmati dinner di malam pertama kami di Sendai.

Untuk lunch pada hari kedua, kami pergi ke sebuah restoran sushi di Ishinomaki. Kami memang sengaja makan (dan mengeluarkan uang untuk membeli bermacam oleh-oleh) dengan maksud membantu perekonomian lokal. Apalagi Ishinomaki terkenal dengan hasil lautnya. (Tapi aku merasa sushi di sini mahal!) Kami memesan set sushi yang dipilihkan oleh itamae (chef/pembuat sushi), kecuali untuk Kai kami memesan Ikura Gunkan (jenis sushi dengan telur ikan ikura di atasnya) kesukaan Kai.

Sushi di Ishinomaki

Setelah dari restoran sushi, kami membeli oleh-oleh dan souvenir di pusat penjualan di stasiun Ishinomaki. Di sini kami menemukan es krim rasa bir, rasa sake, rasa beras dan yang kami beli untuk coba adalah es krim rasa Lidah bakar! hehehe…rasanya aneh! Di tempat yang lain kami juga melihat es krim shijimi (kerang kecil), tapi malas ah untuk mencoba.

es krim Lidah Bakar dan es krim kerang

Malam hari kedua kami diajak makan ke sebuah nomiya (tempat minum-minum khas Jepang) yang makanannya juga enak. Di sini kami disuguhi berbagai jenis sashimi dan udang (tentu saja mentah semua), tempura 3 jenis ikan, dan penutup 2 buah sushi. Makanan ini saja sebetulnya tidak mengenyangkan, tapi kami minum sake khas Tohoku 4 jenis yang berbeda. Nomikurabe (membandingkan yang mana yang enak), dan menurutku sake bernama Miya no Kanbai yang terenak (dan semua Miyashita Family menyetujuinya hehehe). Kadang-kadang aku terpikir untuk menjadi Sommelière (pencicip anggur) tapi khusus sake Jepang. Karena sake Jepang terbuat dari beras, rasanya perut juga tercukupi.

Nomiya bernama Isshin

Wisata kuliner kami yang terakhir tidak dilaksanakan di restoran tapi di dalam Shinkansen. Aku dan Riku membeli bento (bekal makanan) berupa Lidah Bakar di stasiun Sendai, sedangkan Gen membeli nasi dengan lauk ikan, dan Kai Hayabusa Bento. Hayabusa adalah nama kereta shinkansen terbaru berwarna hijau. Dalamnya nasi dengan berbagai lauk yang disukai anak-anak. Rata-rata bento-bento ini harganya 1000-1200 yen.

Hayabusa bento, bekal berbentuk shinkansen hanabusa

Nah, biasanya bento dalam keadaan dingin, tidak panas. Dan itu sudah diketahui orang Jepang, bahwa bento itu dingin. Tapi yang menariknya, bento yang aku beli memakai alat pemanas khusus. Sebelum makan kami harus menarik tali yang ada, sehingga tiba-tiba bagian bawah bento itu memanas. Bagaikan tercurah air panas 80 derajat. Setelah 5-6 menit, baru dibuka, dan…. voila… makanan kami hangat! Sistemnya seperti kairo pemanas buatan. Untuk mengetahui cara kerja pemanas itu aku sampai membawa pulang bagian dasar dari bekal makanan kami.

Pemanas untuk bento yang aku beli. Lumayan panas sekali waktu ditarik benangnya

Ah, memang makan makanan yang hangat jauh lebih enak dari makanan dingin. Teman-teman biasanya memilih makan yang mana? Masakan panas, hangat atau dingin? Orang Indonesia di Jepang dikenal sebagai nekojita (lidah kucing) tidak bisa makan yang panas-panas :D. Dulu aku memang nekojita, tapi sekarang sudah menjadi orang Jepang 😀

Demikianlah laporan gurume di Sendai dan Tohoku.

 

Nasi Menjadi Bubur

Sedikit intermezo di pagi hari yang mendung di Tokyo, setelah kemarin turun salju. Dinginnya masih menusuk sampai ke tulang, sehingga malas untuk pergi ke luar rumah. Lebih menyenangkan tinggal dalam rumah yang hangat sambil makan yang panas-panas.

Nah kebetulan aku ada satu wadah berisi nasi kering. Ya karena di sini dingin, sering kalau lupa dibiarkan di luar, nasi cepat sekali menjadi kering. Belum lagi sisa-sisa nasi anak-anak yang tidak termakan. Biasanya nasi yang masih bersih aku kumpulkan dalam satu wadah tupperware dalam lemari es. Kebetulan pagi ini, waktu aku memeriksa lemari es, masih ada bayam, mitsuba (daun seperti kemangi di Jepang, bisa juga pakai mizuna) waluh, singkong dan jagung kaleng (kalau musim dingin tidak ada jagung segar). Jadi deh nasi keringku menjadi bubur manado (bubur tinutuan) . Bumbunya bubur tinutuan itu sebenarnya apa sih? Kalau aku paling suka yang gampang yaitu hanya garam dan…. daun kunyit. Ternyata daun kunyit itu yang menentukan bau bubur itu harum dan rasanya enak. Kalau pakai daun sereh terlalu pedas. Karena itu aku selalu ada persediaan daun kunyit dalam freezer.

from deMiyashita's Kitchen

Tapi bubur manado itu belum lengkap kalau tidak ada sambal dan ikan asin! Untuk ikan asin aku lebih suka ikan jambal roti atau ikan gabus. Padahal orang manado asli mungkin pakai ikan roa ya. So, yang suka makan bubur manado, masak sendiri aja! (Menjawab reply nya Nique di postingnya “Kerupuk Getas“.

Tongcai yang sering dipakai untuk bubur ayam. Kalau lihat kanjinya ya artinya : Sayur (Musim) Dingin

Selain bayam yang harganya melangit di musim dingin, waluh dan ubi banyak dan murah. Kecuali sawi putih yang memang banyak dipanen, semua sayur yang berdaun memang naik harganya di musim dingin. Jadi biasanya untuk mengatasi kekurangan hasil panen sayur, orang Jepang banyak memakai acar dan sayur yang dikeringkan. Aku sendiri baru tahu di sini bahwa sayur kering tongcai 冬菜yang biasa dipakai untuk bubur ayam terbuat dari  sawi putih yang diacar sampai warnanya berubah…dan asin sekali.

Sayur beruang yang kubeli di "Loker Sayur" sistem penjualan tanpa penjaga. Masukkan 100 yen, padahal harganya kurang dari seratus yen, jadi oleh si empunya ladang uang kembaliannya diselotipkan pada plastik sayur itu. Praktis!

 

 

Kami dan Diksi

Diksi adalah pilihan kata yg tepat dan selaras (dl penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (spt yg diharapkan) KBBI Daring

Tidak pernah terlintas di pikiranku untuk menikah orang Jepang. Apalagi dia itu kembar! Dan yang lucunya kami bertiga berulang tahun di hari yang sama, 14 Januari. Imelda-Gen-Taku. Tapi sudah sejak 8 tahun lalu, aku dan Gen tidak bisa merayakan ulang tahun bersama. Gara-garanya tanggal itu biasanya berbenturan dengan pelaksanaan ujian masuk universitas Jepang, yang dinamakan Senta Shiken センター試験. Percuma ulang tahun sama tapi tidak bisa rayakan bersama hehehe. Apalagi merayakan bertiga dengan Taku, yang tinggal di Sendai. Sulit deh.

Sebetulnya aku mau menuliskan posting ini dan dipublish tepat tanggal 14 Januari. Apa daya, aku sedang malas menulis karena aku lebih punya kewajiban lain yaitu mengatur rumah yang kamarnya sedang dibongkar. Kamar studioku kuberikan pada Riku untuk dia belajar, jadi membeli satu set meja belajar untuk dia, dan… harus memindahkan dan membuang barang-barangku yang tadinya ada di kamar itu. Benar-benar kerjaan tuh.

Ceritaku ini berpusat mengenai adik iparku, Taku. Aku sudah cerita kan bahwa kami mengadakan perjalanan spiritual ke Sendai/Tohoku tanggal 7-8-9 Januari lalu. Salah satu tujuan kami adalah juga menghibur Taku. Waktu tahun baru dia tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya di Yokohama, karena harus bekerja. Juga tidak bisa melewatkan tahun baru bersama istri dan anaknya yang sedang mengungsi ke Miyazaki, selatan Jepang. Memangnya kerja apa sih sampai Tahun Baru juga bekerja?

Taku bekerja sebagai wartawan di surat kabar daerah Tohoku bernama Kahoku Shimpo. Entah apa yang menyebabkan dia memilih kerja di koran daerah, yang menyebabkan dia tentu harus tinggal terus di daerah Tohoku, dipindahtugaskan juga masih dalam lingkungan Tohoku (dan dia pernah ditugaskan di Ishinomaki, daerah yang waktu gempa kemarin terkena musibah tsunami parah.) Tapi dia sudah bekerja di sana sejak lulus universitas, jadi sudah hampir 20 tahun ya.

 

Gougai (lembaran ekstra) yang dibagikan di depan Stasiun Sendai

Bisa bayangkan pekerjaan sebagai wartawan seperti apa? Tentu meliput berita ke mana-mana. Dari berita bagus sampai berita jelek. Nah waktu gempa Tohoku terjadi,wartawan-wartawan ini tentu harus turun ke jalan juga. Tapi bagian pekerjaan adik iparku ini adalah menyusun mengedit judul berita. Dalam keadaan gelap tanpa listrik dan pemanas (bulan Maret masih dingin), harian Kahoku Shimpo ini tetap terbit! Karena masyarakat terutama pelanggan tentu ingin tahu kabar berita mengenai musibah yang baru saja dilewati. Informasi itu amat dibutuhkan.  Tepatnya 7  jam setelah gempa terjadi, di depan stasiun Sendai dibagikan Gougai 号外 koran extra yang biasanya diterbitkan jika ada berita khusus darurat. Itupun rupanya dengan kerja keras sekali, karena data komputer rusak. Untung percetakan masih bisa dipakai untuk mencetak surat kabar. Dan bayangkan kehidupan warga yang sama sekali tak punya akses informasi lewat TV atau radio karena tak ada listrik? Tentu saja mereka senang menerima informasi tertulis meskipun judulnya, “Miyagi Gempa Skala 7 (Ukuran Jepang)”, karena warga haus berita.

Riku dan om nya di depan poster cover buku

Cerita tentang Surat kabar daerah Kahoku Shimpou waktu musibah Gempa dan tsunami itu bisa dibaca dalam buku, “Kahoku Shimpou no ichiban nagai hi 河北新報のいちばん長い日- それでも新聞をつくり続けた” Hari Terpanjang bagi Kahoku Shimpou - namun terus membuat surat kabar. Tapi tentu saja dalam bahasa Jepang, sehingga teman-teman yang tidak bisa bahasa Jepang tidak akan bisa mengerti. Nah yang ingin aku sampaikan adalah pemilihan kata yang tepat dalam kondisi seperti dalam musibah dasyat seperti Gempa Tohoku itu. Ada satu cerita dalam buku itu yang mengetengahkan adik iparku. Karena dia yang bertugas mengedit judul, dia sempat berperang batin. Semua tentu tahu berita itu harus disampaikan sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya. Ada Judul tulisan masuk  seperti ini: “MATI (死者): Puluhan ribu! ” Apakah bisa dipakai kata mati di sini?

ma·ti v 1 sudah hilang nyawanya; tidak hidup lagi: anak yg tertabrak mobil itu — seketika itu juga; pohon jeruk itu sudah — , akarnya pun sudah busuk; 2 tidak bernyawa; tidak pernah hidup:batu ialah benda –; 3 tidak berair (tt mata air, sumur, dsb); 4 tidak berasa lagi (tt kulit dsb); 5padam (tt lampu, api, dsb); 6 tidak terus; buntu (tt jalan, pikiran, dsb): krn pikirannya sudah — , ia tidak dapat berbuat apa-apa; 7 tidak dapat berubah lagi; tetap (tt harga, simpul, dsb); 8sudah tidak dipergunakan lagi (tt bahasa dsb); 9 ki tidak ada gerak atau kegiatan, spt bubar (tt perkumpulan dsb): kalau tidak diurus, koperasi itu akan –; 10 diam atau berhenti (tt angin dsb): perahu layar itu terombang-ambing di tengah laut krn angin –; 11 tidak ramai (tt pasar, perdagangan, dsb): setelah ada pasar swalayan, pasar ini –; 12 tidak bergerak (tt mesin, arloji, dsb): saya terlambat krn jam saya ternyata –; KBBI Daring

Dari segi fakta memang kondisi ya begitu, mati titik. TAPI jika warga membaca bisa tidak bayangkan perasaan mereka? Dalam bahasa Indonesia mungkin dipakai kata tewas (死亡), tapi tepat kondisi mati itu tetap tergambarkan.

te·was /téwas/ v 1 mati (dl perang, bencana, dsb): enam gerilyawan dan puluhan tentara — dl pertempuran itu; 2 cak kalah: tim sepak bola itu — pd babak semifinal3 kl cela; salah (luput); kekurangan (sesuatu yg kurang baik): apa — nya maka duli dipertuan tiada boleh mengurus ke benua Siam itu; ia masih merasa — dl ilmu keprajuritan; KBBI Daring

Wafat 逝去? Tentu saja tidak bisa pakai ratusan ribu orang wafat.

wa·fat v meninggal dunia (biasanya untuk raja, orang-orang besar ternama): putra mahkota dinobatkan sebelum raja —

Dan oleh adik iparku kata mati diganti dengan korban (犠牲), meskipun kata mati itu pun memang benar. Tapi jika kita berdiri sebagai korban musibah dan mengetahui kemungkinan saudara-saudara kita ada yang menjadi korban, tentu akan sedih jika media memakai kata yang kasar, yang tidak memakai perasaan. Selain kata-kata tentu saja pemakaian foto-foto sangat diperhatikan. Seperti aku pernah tulis di “Pengaruh Media” Jepang memang tidak akan pernah memperlihatkan/menayangkan  foto jenazah pada media cetak/visual, karena tertulis juga dalam UU penyiarannnya. Adik iparku sendiri masih ragu sampai sekarang, apakah memang pemilihan kata yang berpihak pada warga itu sebetulnya benar atau tidak. Dari sisi kemanusiaan memang benar, tapi dari sisi jurnalisme?

Tanggal 9 Januari lalu, sebelum kami pulang kembali ke Tokyo, Riku dan Gen sempat pergi ke kantor Kahoku Shimpou, yang kebetulan bersebelahan dengan hotel Sendai Kokusai yang kami inapi. Riku senang sekali bisa masuk ke kantor penerbitan surat kabar, dan bisa melihat bagaimana omnya bekerja. Aku sebetulnya ingin sekali ikut (jiwa jurnalis ku juga tergoda loh) tapi….. kami tidak bisa mengajak Kai yang masih terlalu kecil masuk ke kantor itu. Bakal ramai deh. Jadi aku tinggal di hotel bersama Kai dan tentunya bapak-ibu mertuaku. Aku hanya bisa melihat foto-foto yang diambil Gen.

Waktu Riku berkunjung ke Kahoku Shinpou. Ayo, yang mana yang Gen, suamiku? 😀

Sebagai koran daerah, memang harus menyatu dengan warga sekitar. Bukan hanya soal oplah. Dan aku percaya dengan semangat kemanusiaan yang digambarkan dalam buku “Hari Terpanjang bagi Kahoku Shimpou” (bukan hanya oleh adik iparku, tapi oleh begitu banyak wartawan koran daerah itu), warga dapat merasakan memiliki wadah informasi, media yang mutlak ada. Kala listrik, batere, komputer (ebook) tidak bisa dipakai dalam musibah, kertas koran bertuliskan informasi itu menunjang kehidupan mereka. Dan buku yang meraih penghargaan dari asosiasi surat kabar ini menurut rencana akan didramakan bulan Maret/April nanti. Silakan menonton, di televisi Jepang tentunya. (Kami tadinya berharap adik iparku bisa ikut muncul hehehe ). Meski terlambat 4 hari, aku mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk Taku (+suamiku deh hehehe). Semoga bisa tetap terus berkarya meskipun banyak rintangan dan kesulitan yang dihadapi, sambil menyembuhkan trauma yang mungkin timbul akibat gempa lalu.

 

 

Berita kepada Kawan

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang, engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering berbatuan…..

Sepertinya memang lagu Ebiet G. Ade ini menjadi lagu wajib putar di media Indonesia setiap terjadi bencana ya? Tapi waktu penayangan berita mengenai gempa Tohoku di Jepang tanggal 11 Maret lalu, sama sekali tidak ada lagu, atau bahkan tidak ada iklan. Hanya ada iklan layanan masyarakat untuk menjalin kekeluargaan dalam keadaan musibah ini.

Setelah cek in ke hotel tempat kami menginap untuk 2 malam, mobil yang kami sewa di Stasiun Sendai kemudian menuju ke arah daerah Natorishi, tetangga kota Sendai  yang paling parah terkena tsunami. Setelah melewati daerah pemukiman, kami mulai mendekati jalan besar. Ya ampun! Rupanya ini jalan besar yang kulihat di televisi yang kena terjang tsunami. Seluruh daerah rata dengan tanah 🙁 Ada beberapa rumah yang masih berdiri, tapi rusak bagian lantai satunya sehingga hanya ada lantai duanya. Atau sebagian besar dinding dan kaca jendela rusak. Benar-benar membuat kami diam melihatnya. Padahal daerah ini penuh dengan perumahan….tadinya.

@Natori-shi. Tadinya.... perumahan. Rata oleh tsunami

Kami kemudian berhenti di sebuah bukit yang menjulang kira-kira 4-5 meter. Di situ ada satu pohon besar dan tangga untuk menaikinya. Rupanya tempat ini dibuat sebagai tempat memuja leluhur dengan adanya satu batu tulis besar di situ. Kami pun menaiki bukit itu dan bisa melihat keseluruhan daerah pantai. Ada bulan belum penuh yang samar di kejauhan dan warna langit berwarna pink biru muda. Indah pemandangan itu jika kami tak mengetahui bahwa tadinya di situ penuh dengan perumahan.

Bukit di daerah Natori shi. Tempat ini yang paling tinggi dibanding sekelilingnya. Masih ada beberapa kapal yang terdampar di daerah perumahan.

Menurut seorang bapak yang ada di situ, kira-kira 800 orang penduduk sekitar terbawa tsunami dan menjadi korban. Sekitar 50 orang sempat menaiki bukit ini, tapi tsunami melebihi ketinggian bukit sehingga mereka pun terhanyut 🙁 Tak ada tempat untuk lari. Jika aku berada di situ pasti aku juga hanya bisa pasrah. Tidak ada tempat yang lebih tinggi dari bukit itu.

Setelah mengatupkan tangan dan berdoa untuk kedamaian jiwa-jiwa yang menjadi korban di depan bohyou 墓標, sebuah papan pengganti nisan, kami meninggalkan bukit itu. Setelah itu kami pergi ke kota sebelahnya, yaitu Watari-cho. Tujuannya untuk besuk seorang pendeta Buddha, bekas induk semang ibu mertuaku. Ibu mertuaku melewati masa SD nya di sebuah tera, kuil Buddha yang bernama Shomyouji. Karena tidak mau berlama-lama basa basi, memang sengaja mendadak dan serombongan sehingga kami bisa kembali ke hotel untuk beristirahat. Aku tak menyangka kuil ini besar dan bagus! Ada satu foto di sini yang aku suka sekali…..

Posisi Buddha sedang tidur ini menggambarkan keadaan sebelum masuk nirvana. Puncak kedamaian.

Hari kedua Minggu tgl 8 Januari, pukul 9 pagi kami pergi ke kota Ishinomaki yang terletak satu jam dari Sendai melewati jalan tol. Karena Ishinomaki adalah kota korban tsunami maka jalan tol menuju dan dari Ishinomaki digratiskan oleh pemerintah. Kami sempat mampir ke WC di parking area dalam rute itu dan anak-anak sempat bermain salju dari tumpukan kecil yang ada, sementara hujan salju turun reda silih berganti. Well, daerah Tohoku ini memang dingin. Siang hari saja 0 derajat!

Mengapa kami pergi ke kota Ishinomaki? Karena dulu sekitar 4-5 tahun yang lalu adiknya Gen pernah bertugas di sana, tinggal di cabang kantornya yang di Ishinomaki selama kira-kira 3 tahunan. Gen sudah pernah mengunjungi mereka (adik dan ipar kami) tapi aku belum sempat. Sebuah tempat yang indah di pinggir pantai dengan hasil laut yang enak-enak. Terus terang waktu gempa dan tsunami melanda kota Ishinomaki, kami merasa lega bahwa adiknya Gen sudah tidak bekerja di situ. Kalau masih di sana …. tentu sudah menjadi korban juga.

pemandangan yang indah... dari sini, tapi maju berapa langkah lagi.....

Kami memasuki kota Ishinomaki dan menuju ke bukit yang bernama Hiyoriyama 日和山 memang berupa bukit tinggi. Begitu aku sampai di tempat itu aku langsung terpesona dengan keindahannya. Bayangkan di kejauhan kita bisa melihat laut di antara dua tiang torii (gerbang Jinja). TAPI, begitu aku berdiri di pinggir pagar bukit dan memandang ke bawah, aku tak bisa menahan air mata. Semua rumah di bawah bukit itu hancur, rata dengan tanah! Memang ada beberapa rumah yang masih berdiri, tapi….kosong, karena tidak bisa ditinggali lagi. Di kejauhan ada tumpukan mobil-mobil sampai 3-4 tingkat yang terkumpul dari hempasan tsunami. Di bagian lain terlihat tumpukan sampah reruntuhan rumah 🙁 Sedih sekali melihatnya. Aku ingat aku melihat video waktu mereka melarikan diri ke bukit ini, dan dari atas bukit ini mereka melihat teman-teman dan saudara-saudaranya terbawa tsunami. Rupanya di sini tempatnya. Dan memang tempat ini tinggi sekali sehingga bagi orang tua yang mau melarikan diri ke sini agak sulit untuk mencapainya, kalah dengan kecepatan air.

Memandang kota dibawahnya yang rata dengan tanah. Dikejauhan mobil bertumpuk.

Dari Hiyoriyama, kami sempat mampir ke rumah teman bapak mertua yang tinggal di dalam kota Ishinomaki. Waktu tsunami melanda, karena rumah mereka jauh dari pantai, lantai satu rumahnya saja yang tergenang air, sehingga mereka hidup di lantai dua untuk beberapa waktu.

Gen sempat memotret kami, Ibu mertua, aku, Riku (yah hadap belakang), Kai, Taku (adik Gen) dan bapak mertua

Setelah makan siang di dalam kota, kami menuju ke daerah sungai Kitakamigawa sekitar 20 menit dari dalam kota. Pikir orang toh bukan daerah pantai jadi mustinya tidak banyak korban di daerah ini. Tapi salah besar saudara-saudara! Tsunami itu bukan hanya di daerah pantai tapi sampai ke daerah pinggiran sungai, karena sungai itu meluap bukan? Perumahan di sebelah sungai Kitakamigawa juga rata dengan tanah! Satu daerah habis. Yang tertinggal adalah sebuah kuil Shinto, Tsuriishi Jinja.  Memang kuil Shinto selalu berada di daerah tinggi, jadi paling aman dijadikan tempat pelarian. Tapi mengapa masih banyak korban di daerah ini? Karena mereka tidak menyangka bahwa air akan meluap sampai bermeter-meter (sekitar 4 meter). Pengalaman mereka dulu waktu tsunami, paling-paling 1 meter saja.

 

Tsuriishi Jinja, Batu yang menggantung tidak goyah karena gempa dan tsunami

Tsuriishi Jinja ini ditandai dengan sebuah batu besar yang menggantung di atas bukit. Meskipun dilanda gempa dan tsunami, batu itu tetap “bertengger” di sana. Sehingga banyak anak-anak yang ingin masuk sekolah lebih tinggi berdoa di sini supaya tercapai keinginannnya dan bisa tetap tegar berdiri di atas bukit laksana batu itu. Karena Kai tidur, aku menemani Kai dalam mobil dan tidak ikut turun di kuil ini. Untung saja, waktu aku melihat batu itu dari bawah, terlihat tangga yang panjang ke atas…waduh! Langsung Riku membeli omamori (semacam jimat) supaya bisa rajin belajar.

SD Ookawa yang membuat kami tercekat. Mainan balok plastik di tanah. Rest in Peace

Dari Tsuriishi Jinja ini, kami menuju ke Ookawa Shogakko SD Ookawa yang berada di sisi sungai seberang Tsuriishi Jinja. Di sini merupakan puncak kesedihan aku kami sekeluarga. Airmata tak tertahankan. Bayangkan jika anakmu sedang belajar di sekolah, dan waktu anak-anak sedang berada di sekolah itu, tsunami menerjang dan tidak menyisakan satupun murid hidup? Habis semua. Satu gedung sekolah rusak oleh tsunami. Konon ada beberapa murid yang bisa bertahan hidup karena lari ke atas hutan di belakang sekolah mereka. Tapi kalau melihat kontur bukit menuju hutan itu, sulit! Benar-benar sulit untuk bisa lari dari tempat ini. Tak ada tempat berlari, kecuali pasrah. Airmataku tak bisa berhenti melihat kondisi sekolah, melihat kelas yang kosong, melihat potongan blok plastik mainan, melihat satu kota di daerah sungai Kitakami yang rata dengan tanah. Betapa manusia amat kecil, tak mampu berbuat apa-apa menghadapi alam. Aku perlu menangkupkan tangan sampai dua kali untuk mendoakan arwah murid-murid SD yang menjadi korban. Tuhan terimalah mereka dalam pangkuanMu. Amin.

Mendoakan arwah teman-teman sebayanya...Kanan adalah bukit di belakang SD yang cukup terjal.

Dari sungai Kitakami kami menyusuri perbukitan menuju desa tetangga, yang juga hancur oleh tsunami. Lucunya di sini kami tidak melihat sungai sama sekali. Bukan di sebelah sungai tapi di sebelah teluk. Kami bahkan masih bisa melihat ada bus yang “bertengger” di atas lantai 2 sebuah gedung.  Belum lagi ada mesin boat yang tertinggal di sela-sela daun pohon 2 meter dari tanah.

Bus yang terangkat sampai ke lantai dua gedung

Perjalanan deMiyashita kali ini memang bukan perjalanan yang menyenangkan. Tapi perjalanan untuk mendoakan dan melihat, mengingatkan diri bahwa manusia tidak berdaya. Manusia boleh berusaha tapi Sang Maha yang menentukan.

 

 

Shinkansen Pertama

Awal tahun, tanggal 7-9 Januari 2012, Miyashita Family mengadakan wisata bersama ke Sendai. Sebetulnya mau dikatakan wisata juga ngga sih. Karena sebetulnya tujuan kami ke Sendai, selain untuk menjenguk adiknya Gen, juga ingin memperlihatkan pada Riku kondisi daerah tohoku pasca gempa. Wisata keluarga, wisata kekeluargaan atau wisata batin lebih tepatnya.

Berawal pada percakapanku dengan Gen pada Natal yang lalu, betapa kami ingin pergi berlibur. Untuk ke Indonesia tidak mungkin karena mahal sekali. Inginnya sih pergi ke Onsen (Hot Spring) tapi juga ingin bertemu adiknya Gen di Sendai, sambil mengunjungi juga daerah yang dilanda tsunami waktu Gempa Tohoku lalu. Di sana ada Matsushima, tempat yang pemandangannya termasuk dalam 3 besar di Jepang. Tapi…. kalau hot spring begitu biasanya mahal. Untuk biaya transport naik shinkansen (kereta cepat – bullet train) saja butuh 30.000 yen per orang. Dan di penginapan ala Jepang satu malam biasanya 15.000 sampai 30.000 per orang tergantung tempatnya. Oh ya sebagai informasi di sini biasanya biaya hotel/penginapan dihitung per kepala, bukan per kamar. Jadi tidak bisa kita minta satu kamar untuk diisi 4 orang misalnya dengan harga satu kamar seperti di Indonesia/negara lain selain Jepang. Memang untuk Riku dan Kai akan dihitung beda dengan harga anak-anak. Sehingga untuk shinkansen dan hotel satu orang minimum butuh 50.000 yen (kali 4 orang…oh no…. mahal!). Naik mobil memang murah tapi untuk menyetir di daerah bersalju….. kami penduduk Tokyo tidak biasa, dan ban mobilnya tidak memadai. Harus beli ban berantai khusus jalanan salju. Belum lagi menghabiskan waktu minimum 6 jam perjalanan. Sayang waktunya.

Akhirnya aku sibuk mencari tempat-tempat dan hotel di daerah hotspring lewatsitus jalan.net. Ya namanya memang “Jalan” lanjutan dari majalah travel yang berjudul Jalan (jaran じゃらん) terbitan penerbit recruit. Perusahaan Recruit memang mengaku bahwa dia mengambil dari bahasa Indonesia, untuk menamakan majalah travelnya. Aku suka perhatikan perusahaan ini sering pakai bahasa asing untuk produknya. Karena ada majalah ini juga, maka mahasiswaku cepat menghafal kata “jalan”. Tapi aku tidak menemukan penginapan yang cocok untuk tanggal 7-8-9 Januari. Setelah tanggal itu Gen akan sibuk terus dengan sipenmaru (UMPTN)nya Jepang dan akhir semester dilanjut awal tahun ajaran baru dsb dsb, sampai sekitar bulan Mei. Tidak ada lagi waktu yang tepat selain tanggal 7-8-9 Januari itu. Hmmm…

Jika daerah hot spring tidak bisa, ya apa boleh buat, kita fokus di kota Sendai saja. Itu kesimpulan kami sambil mencari hotel kosong di kota Sendai. Ternyata banyak yang kosong! Dan senangnya waktu membuka situs travel agent Kinki Nihon Tourist, karena mereka menyediakan paket untuk shinkansen+hotel khusus online buying. Bayangkan kami bisa menginap dua malam +naik shinkansn dengan separuh harga semestinya. Lalu Gen hubungi orang tuanya, menanyakan apakah mereka juga bisa ikut berwisata ke Sendai bersama kami. Dan ternyata mereka juga OK untuk ikut. Senangnya bisa berwisata bersama, dan aku langsung memesan paket untuk 6 orang, setting jam berangkat dan pulang shinkansen sekalian.

Yang bodohnya, pada hari Sabtu itu aku salah lihat jam berangkat shinkansennya. Kupikir jam 12:43 padahal itu adalah jam untuk pulang tanggal 9 nya. Seharusnya kami berangkat jam 11:20. Dan saat itu kami masih dalam kereta menuju Stasiun Tokyo. Duhhhh benar-benar bodoh deh aku! Salah juga sih aku tidak pakai lihat-lihat lagi. Mungkin karena aku kecapekan jadi careless. Terpaksa deh kami membeli karcis shinkansen baru dengan tempat duduk bebas (jiyuseki 自由席)yang berangkat jam 12:08. Karena yang kubeli tidak bisa ditukar (fix tiket dari biro wisatanya).  Padahal sudah senang bisa berangkat sama-sama dengan bapak ibunya Gen satu gerbong, eh ngga jadi deh.

Ekiben yang kami beli dalam shinkansen

Untung saja sedikit orang yang antri di tempat duduk bebas, sehingga kami bisa mendapat tempat duduk. Kalau seandainya kejadian itu pada akhir tahun, pasti penuh dan harus bersiap-siap berdiri selama 2 jam lebih. Karena buru-buru juga, kami tidak sempat mengambil foto shinkansennya sebelum berangkat. Bahkan kami juga tidak sempat membeli ekiben 駅弁 (singkatan dari eki bento = bekal makanan untuk dimakan dalam kereta yang dibeli di stasiun). Ekiben ini banyak macamnya, dan banyak yang enak. Sehingga biasanya orang Jepang menikmati perjalanan shinkansen (atau kereta biasa) karena ekibennya itu. Seperti yang pernah kutulis di sini, papaku senang sekali makan ekiben yang berisi unagi (belut) , sehingga setiap naik shinkansen pasti minta unagi bento.

Dalam shinkansen. Kok tidak ada video (TV) nya ma?

Jadi begitu naik shinkansen dan berangkat, kami membeli ekiben di dalam kereta saja. Biasanya harga ekiben di dalam shinkansen sekitar 1000 yen, sedikit lebih mahal dari ekiben biasa. Sambil makan, syarafku yang tegang sejak mengetahui bahwa aku salah jam mulai kendur dan bisa menikmati pemadangan yang ada. Aku memang sudah lumayan sering naik shinkansen, sehingga tidak terlalu exciting. Riku juga sudah pernah naik shinkansen waktu dia usia 3 tahun, jadi kali ini yang kedua kalinya. Sedangkan  Kai baru pertama kali ini naik shinkansen sehingga enjoy bener dan…. cerewet! Semua dikomentarin. Memang sih tempat duduk di shinkansen itu mirip tempat duduk dalam pesawat. Apalagi suara kereta yang halus tidak terdengar sebagai suara kereta. Jadi waktu dia membuka tutup tempat menaruh makanan, dia bertanya, “Mana (televisi) videonya? Kok ngga ada?” (Dalam pesawat kan memang ada display untuk video hehehe). Dan…. di shinkansen juga tidak ada seatbelt! Perjalanan deMiyashita di awal tahun ini sudah dimulai.

bersambung

Pemandangan dari Shinkansen, daerah Fukushima yang sudah bersalju