Arsip Bulanan: Desember 2011

8 Besar dari Nerima (edisi 2011)

Kalau tahun lalu, aku menulis 8 Besar dari Nerima, sebuah laporan 8 kejadian besar pada keluarga kami selama tahun 2010, tahun ini aku akan menuliskan 8 kejadian besar pada keluarga kami di tahun 2011.

1. Mengalami kejadian hebat, Gempa Tohoku, tanggal 11 Maret 2011. Mengalami rasa takut akan kematian, tapi bangga bahwa masih bisa tenang (menulis status di FB dan posting di TE). Menyadari betapa Tuhan melindungi keluargaku dengan semua “kebetulan-kebetulan” : kebetulan Riku sudah sampai di rumah saat gempa, kebetulan Kai bolos Playgrupnya, kebetulan aku tidak mengajar karena masih libur musim semi padahal hari Jumat (hari kerjaku), kebetulan adikku juga sedang ambil cuti, kebetulan adik ipar sekeluarga ada di apartemennya di Sendai….dan lain-lain.

2. Kai masuk TK, sering bolos (dibolosin) sehingga gagal mengikuti Sport Meeting tapi sukses besar ikut menari sebagai Ninja di acara Pentas Seni.

3. Riku (dan Kai) memulai hobi baru : Menangkap Kupu-kupu /membuat specimen di Jepang dan di Indonesia (Bandung, Jakarta) dan di antara kupu-kupu yang ditangkap ada kupu-kupu nasional Jepang Oomurasaki , Mengumpulkan perangko dan Membuat grup Lego dengan 3 teman sekolahnya.

4. Imelda berhasil mencapai 1000 posting dan 20.000 komentar di Twilight Express. Selain itu banyak mendapatkan teman baru melalu blog, dan berhasil mengadakan banyak kopdar waktu mudik pada musim panas lalu.

5. Bisa mengadakan wisata keluarga ke kebun Stroberi, Membuat kertas, Membuat  “batik” Jepang, Memerah susu sapi, Bertemu Giant Panda di Kebun binatang Ueno serta Wisata Sejarah ke Aizu. Selain itu wisata bersama Ira dan Katon sekeluarga ke Kamakura dan Odaiba.

6. Kai menjadi fans film Harry Potter dan Toy Story, sedangkan Riku Pirates of Caribbean. Papa Gen menjadi fans Pramoedya Ananta Toer dengan berhasil menyelesaikan Tetralogi Buru (dalam bahasa Jepang). Mama Imelda masih tetap menjadi fans dari Maria A. Sardjono, S. Mara Gd dan V. Lestari dengan terus berburu buku-buku mereka. Bahkan berhasil menjadi “teman” di FB…. hohoho.

7.  Berhasil membeli  TV digital dan pertama kali punya TV di atas 20 inchi :D, laptop baru untuk TE (cihuy), BB untuk di Indonesia. Mendapat kamera DSLR Nikon dari bapak mertua dan sudah mulai menguasainya.

8. Gen bisa liburan ke Indonesia setelah 6 tahun tidak ikut “mudik”. Selain itu Gen bisa kencan berdua dengan Riku mendengarkan seminar bersama Jun Koshino dan bermain sepak bola “Ayah Anak”, serta pergi bersama Kai ke konser Hand-bell. Waktu yang dilewatkan bersama keluarga memang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Tentang resolusi? Sebetulnya ada rencana besar yang ingin aku laksanakan tahun lalu, tapi tidak bisa terwujud. Mungkin kalau mau menyalahkan, aku akan menyalahkan Gempa Tohoku yang terjadi bulan Maret sehingga semua rencana berantakan. Tapi aku tahu aku belum mengeluarkan kemampuan semaksimal mungkin sehingga cenderung tidak gigih berusaha. Semoga rencana tahun lalu itu bisa aku wujudkan tahun 2012. Selain itu aku ingin lebih memakai waktuku untuk belajar bersama anak-anak. Tahun 2011 ini aku mengurangi banyak waktu online untuk bermain dengan mereka, sehingga memang imbasnya jumlah postinganku menurun sekali. Kai sudah menunjukkan minat besar untuk membaca dan menulis, sehingga rasanya aku perlu lebih banyak waktu untuk mengajar huruf Jepang  pada Kai dan Kanji untuk Riku. Semoga tahun 2012 menjadi tahun yang lebih berguna bagi deMiyashita.

 

Monjayaki

Aku sudah pernah menulis tentang salah satu kuliner Jepang yang bernama Okonomiyaki di  Di atas lempeng besi panas. Ya masakan sejenis dadar/martabak telor. Tapi ada satu lagi yang mirip, namanya Monjayaki.

Kemarin setelah berbelanja dengan anak-anak, aku mengajak mereka ke rumah makan Monjayaki dekat stasiun. Kebetulan Gen makan bersama atasannya di Shinjuku, jadi aku malas masak. Kebetulan juga aku melihat ada meja kosong di resto itu, yang biasanya penuh terus. Memang waktu itu belum jam 6 sore, tapi selain kami, dua meja yang lain sudah ditempati orang. (Ternyata dalam resto itu ada 4 meja di atas tatami yang tidak terlihat dari luar).

Pemilik resto itu sangat ramah dan suka pada anak-anak. Rupanya dia juga mempunyai anak berusia 5 tahun (setahun lebih tua dari Kai), jadi Riku dan Kai sangat merasa at home di restoran itu. Belum lagi pasangan setengah abad yang duduk di meja kami sering mengajak anak-anakku bicara. Pemilik resto itu juga menyarankan mencoba monjayaki yang biasa saja dulu, dan dia membuatkannya untuk kami.

Monjayaki itu adalah adonan seperti okonomiyaki yaitu campuran sayuran (kol) dan seafood/daging dengan kaldu. Adonan yang kami pesan juga dicampur dengan mie kuning. Yang membedakannya hanya pada jumlah tepung. Tepung yang dipakai sedikit sekali, sehingga hasilnya…. berair, tidak bisa melekat seperti telur dadar/martabak. Adonan yang sudah dicampur menjadi satu, ditaruh di atas lempeng besi panas. Kalau sudah masak, tidak bisa dipotong, jadi makan dengan mengambilnya dengan spatula mini dan makan panas-panas. Tentu saja untuk Riku dan Kai perlu menunggu sebentar sebelum makan.

Sambil menunggu Monjayakinya matang, Riku sibuk dengan agenda barunya. Gaya deh!

Monjayaki ini makanan khas Kanto (daerah Tokyo dan sekitarnya) terutama di daerah pasar Ikan Tsukiji. Aku pertama kali makan monjayaki ini memang di Tsukiji bersama murid-murid bahasa Indonesia sekitar 12 tahun lalu. Dan monjayaki di sana memang enak, yang kemarin kurang bumbu….entah apa. Karena porsinya kecil, aku minta tambah okonomiyaki. Nyesal juga coba minta yakisoba (mie goreng Jepang) saja. Karena okonomiyaki yang enak adalah okonomiyaki ala Hiroshima, yang ada di restoran lain.

Kami keluar restoran itu pukul 7:30 dan pulang ke rumah dalam dingin. Baru setelah sampai di rumah aku tanya anak-anak apakah suka makan Monjayaki? Riku bilang, “Enak kok ma….” Lalu aku bercanda…. “Tau ngga Rick, ada teman mama yang tidak suka makan monjayaki karena kelihatan seperti…… (hayo tebak!! 6 kata) . Untungnya anakku kebal seperti mamanya, dan tidak membayangkan yang nggak-nggak, apalagi sampai mengeluarkan makanan yang sudah masuk tadi  hehehe.

Sebelum pulang sempat berfoto dulu depan rumah makan. Kai memeluk boneka kucing yang selalu duduk di situ!

Get Old With Me

Masih dalam suasana tulisan yang kemarin, aku ingin memperkenalkan sebuah iklan dan lagu yang akhir-akhir ini aku senangi.  Iklannya sebetulnya adalah iklan majalah untuk segala persiapan pernikahan dari gedung, gaun pengantin sampai interior rumah pengantin baru, yang bernama Zexy. Intinya sih, seperti  catch phrasenya: Menjadi tua denganku.  Iklan selama 30 detik itu benar-benar membuat orang berpikir untuk melewati harinya bersama….daripada sendirian menghadapi hari tua. Atau berpikiran kalau toh nanti harus sendirian, akan lebih bahagia jika mengisinya berdua… dan beranak-cucu. Aku tidak tahu apakah di Indonesia ada majalah seperti itu. Jadi seperti EO pernikahan yang menyusun berbagai plan upacara pernikahan tapi dicetak dalam majalah dan menjadi referensi bagi mereka yang akan menikah. Hmmm untuk mudahnya bayangkan seperti buku model rambut di salon deh. Tinggal tunjuk mau yang bagaimana, lalu telepon, (bayar) dan laksanakan. Bisnis pernikahan di Jepang memang amat berkembang, karenanya urusan nikah-menikah ini cukup menguras dompet 😀

Nah iklan ini memakai lagu dari seorang penyanyi dan pemain film Fukuyama Masaharu yang berjudul : Kazokuni narou (Mari membangun keluarga)

Meskipun telah membuatku bingung dengan berkata
“100 tahun berlalu tetaplah suka padaku”
Tetap tertawa di sebelahku
Terima kasih telah memilihku

Seberapapun kita saling percaya
Pasti akan ada hal yang tidak kita ketahui
Berdampingan hidup dengan “kesendirian”
Di situlah mungkin ada “cinta”

Suatu hari aku akan menjadi seperti papa yang tangguh sebagai sandaran keluarga
Suatu hari aku akan menjadi seperti mama yang lembut hatinya
Menjadi keluarga dan melewati segala yang akan menghadang

Waktu kecil aku amat lemah
sangat cengeng dan manja
sibuk dengan urusan sendiri
aku belum bisa membalas budi
Tetapi esok meskipun tak bisa langsung berubah
selangkah demi selangkah akan berubah dari orang yang menerima
bisa menjadi orang yang memberi 

Suatu hari aku menjadi seperti kakek yang pendiam tapi kuat
Suatu hari menjadi seperti nenek yang tersenyum manis
dapat hidup bersama kamu, menjadi seperti mereka

Suatu hari bersama seorang anak lelaki dengan senyum seperti kamu
Suatu hari bersama seorang anak perempuan yang cengeng seperti aku
Menjadi keluarga dan melewati segala yang akan menghadang
Jika bersama kamu pasti bisa
Mari kita meraih bahagia…. 

(diterjemahkan bebas oleh Imelda, dengan beberapa penyesuaian)

「100年経っても好きでいてね」
♪みんなの前で困らせたり
♪それでも隣で笑ってくれて
♪選んでくれてありがとう
♪どれほど深く信じ合っても
♪わからないこともあるでしょう
♪その孤独と寄り添い生きることが
♪「愛する」ということかもしれないから…
♪いつかお父さんみたいに大きな背中で
♪いつかお母さんみたいに静かな優しさで
♪どんなことも越えてゆける 家族になろうよ

♪小さな頃は身体が弱くて
♪すぐに泣いて甘えてたの
♪いつも自分のことばかり精一杯で
♪親孝行なんて出来てないけど
♪明日のわたしは
♪それほど変われないとしても
♪一歩ずつ 与えられる人から
♪与える人へかわってゆけたなら
♪いつかおじいちゃんみたいに無口な強さで
♪いつかおばちゃんみたいに可愛い笑顔で
♪あなたとなら生きてゆける そんなふたりになろうよ

♪いつかあなたの笑顔によく似た 男の子と
♪いつかわたしとおなじ泣き虫な 女の子と
♪どんなことも越えてゆける 家族になろうよ
♪あなたとなら生きてゆける
♪しあわせになろうよ

Satu lagi lagu untuk pernikahan yang sering dinyanyikan di pesta-pesta pernikahan yang liriknya cukup bagus (menurutku). Tentu saja selain lagu Kampai yang pernah kutulis di sini. Kalau di gereja memang banyak lagu-lagu yang cocok dinyanyikan untuk pesta pernikahan tapi apakah teman-teman tahu lagu umum berbahasa Indonesia yang cocok untuk pesta pernikahan. Kalau bahasa Inggris memang banyak yang memilihnya untuk dinyanyikan pada pesta pernikahan, tapi bahasa Indonesia? Aku sendiri waktu pesta pernikahanku memilih lagunya “Bawa daku pergi”nya Ruth Sahanaya dan “Serasa” nya Chrisye untuk diputar di pesta pernikahanku 12 tahun lalu.

Jika mau mendengar lagunya Fukuyama Masaharu ini, silakan matikan lagu di sidebar sebelah kiri dan tekan tombol play pada link YouTube di bawah ini:

Satu Putaran

Aku yakin teman-teman semua tahu bahwa kalender China mengenal Shio atau dalam bahasa Jepangnya Eto 干支. Yaitu Karakter binatang yang dipakai sebagai zodiak di China dan jumlahnya ada 12 binatang. Meskipun konon karakter binatang ini juga melambangkan bulan dan waktu (jam), tapi yang lebih dikenal di Indonesia dan diaplikasikan juga dalam kehidupan di Jepang adalah yang melambangkan tahun. Tahun 2011 ini adalah tahun Kelinci dan tahun depan 2012 adalah tahun Naga.  Keduabelas karakter itu dimulai dengan Tikus dan diakhiri oleh Babi.

Legenda tradisional terjadinya Shio :  

Suatu hari menjelang tahun baru, Tuhan bermaksud untuk mengumpulkan binatang-binatang untuk berkumpul pada tahun baru. Lalu Tuhan mengeluarkan pengumuman : “Harap datang ke puncak gunung pada hari Tahun Baru. Binatang yang pertama sampai ke 12 paling cepat datang akan menjadi Raja Binatang yang bertugas menjaga tahun itu setiap setahun sekali bergantian”

Pada awalnya kedua belas binatang berkumpul di dalamnya termasuk kucing. Kucing memberitahu berita ini kepada teman baiknya si Tikus, dan mereka setuju untuk pergi berdua keesokan harinya. Namun, Kucing tertidur dan sambil mengantuk dia lupa hari, dan bertanya pada Tikus. Tikus berbohong mengatakan bahwa pertandingan itu sehari setelah tahun baru. Jadi di malam tahun baru Tikus tidak membangunkan Kucing, dan pergi sendiri. Di tengah jalan Tikus menaiki Sapi yang sedang berjalan mendaki gunung, tanpa sepengetahuan Sapi. Tikus menghemat tenaga, dan begitu Sapi sampai di dekat Tuhan di atas gunung, Tikus melompat dari Sapi sehingga tiba di depan Tuhan lebih dulu dari Sapi.  Setelah Sapi binatang yang sampai di depan Tuhan adalah : Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing. Dan binatang terakhir adalah  Babi hutan. Oleh karena itu Tikus menjadi tahun pertama dari siklus shio, dan diakhiri oleh babi tanpa adanya shio Kucing dalam dua belas siklus tahun itu. Karena itu sejak hari itu kucing dan Tikus bermusuhan. 

Kedua belas tahun ini kemudian digabung dengan lima unsur bumi yaitu : kayu, api, tanah, emas, dan air mengalami 5 putaran untuk mencapai kesempurnaan 60 tahun. Dalam kebudayaan Jepang, orang Jepang merayakan ulang tahun ke 60 dengan sebutan Kanreki 還暦 putaran sempurna. Ulang tahun berikutnya yang dirayakan khusus adalah 70 tahun Koki 古希, 77 tahun Kiju 喜寿, 80 tahun Sanju 傘寿, 88 tahun beiju 米寿 dan 90 tahun sotsuju 卒寿、99 tahun hakuju 白寿 dan 100 tahun momoju 百寿.

Jadi dalam hitungan orang China (dan Jepang) 12 tahun merupakan satu putaran untuk membuat satu lingkaran untuk kemudian diulang kembali. Penentuan Shio di Cina dan Eto Jepang memang agak lain, karena Cina masih menghitung berdasarkan kalender cina yang dimulai sekitar bulan Februari (imlek), sedangkan Jepang menghitung mulai tanggal 1 Januari. Menurut Shio China aku termasuk shio Monyet, sedangkan menurut hitungan Jepang aku masuk Shio Kambing.  Begitulah bingungnya orang yang lahir di bulan Januari sebelum tahun baru Imlek, tapi tinggal di Jepang :D.

Dan hari ini kami, aku dan Gen sudah lengkap melewati 12 tahun perkawinan (menurut gereja dan yang selalu aku rayakan sebagai wedding anniversary). Sudah cukup lama ya? Eh tapi kalau mengukur dengan umur manusia, baru selesai SD. Mulai besok masuk SMP, yang tentunya lebih sulit pelajarannya dari SD :D.  Semoga kami masih bisa terus bersama melangkah masuk ke gerbang SMP dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dalam keluarga kami. Terima kasihku pada Tuhan yang telah melindungi kami berdua dalam hidup berkeluarga. Terima kasih ya Gen untuk 12 tahun bersama. Terima kasih juga untuk Riku dan Kai yang menemani kami berdua.

Seperti yang kubaca tadi di sebuah status : Kebahagiaan bukan milik mereka yg hidup dalam kemewahan, tapi milik mereka yg hidup dalam kesederhanaan tapi tak lupa berucap syukur…  Keluarga kami tidaklah kaya materi tapi kami berusaha bersyukur setiap hari, setiap detik. Di kala aku lupa dan mengeluh, Gen mengingatkanku selalu. Dan ketika aku bimbang dan ragu, cukup kupandang wajah kedua anakku dalam tidur atau menikmati pelukan mereka…. damai dan bahagia menyebar di seluruh hatiku. Dan aku bahagia mempunyai keluargaku ini. Penuh cinta.

deMiyashita on 12 years wedding anniversary

 

 

Meri Kurisumasu

Meskipun tanggal 23 Desember kami libur karena memperingati ulang tahun Kaisar, biasanya tanggal 24-25-26 Desember kami yang tinggal di Jepang tetap harus bekerja karena tanggal-tanggal tersebut tidak libur. Kebetulan saja tanggal 24 Desember tahun ini jatuh pada hari Sabtu sehingga banyak orang yang bisa libur beruntun. Tapi Gen harus bekerja hari Sabtu itu, sehingga kami tinggal di rumah saja. Untung dia bisa pulang cepat (jam 6 sore) sehingga bisa makan malam bersama. Aku cuma bisa memasak ayam panggang dan membuat kue tart yang dihias anak-anak. Kalau natal tahun lalu berbentuk pohon Natal 2 D, kali ini aku putar otak untuk membuat pohon Natal 3 D dengan membuat susunan dari kue bulat yang mengecil ke atas. Anak-anak juga senang dan tidak sabar untuk makan 😀

Riku menghias kue dengan whipping cream dan coklat

Lucunya kami makan Christmas dinner sambil menonton TV acara “Tensai! Shimura Dobutsuen” dan ikut menangis melihat cerita-cerita tentang anjing yang menolong majikannya. Apalagi cerita mengenai Dog Therapist, anjing yang khusus dilatih untuk menemani anak-anak yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Kebanyakan anak-anak ini menderita penyakit berat, dan sebagian besar tidak mempunyai harapan hidup. Dengan kehadiran Dog Therapist itu ada anak-anak yang menjadi riang dan bersemangat untuk tetap hidup, meskipun ada pula yang tidak tertolong. Tapi sisa waktu hidupnya bisa dilewati dengan gembira. Ada dua cerita yang disampaikan, seorang balita  berusia 1 th yang menderita perdarahan otak (meninggal setelah 6 bulan) dan seorang berusia SMP yang menderita leukemia dan sembuh! Anak yang sembuh ini takut mati dan tidak mau “membuka hatinya”. Namun ketika melihat anak ini, si anjing memandangnya dan mendekat, berusaha berteman. Padahal Dog Therapist itu sebetulnya tidak boleh memberikan reaksi terhadap pasien, tapi pada anak-anak tertentu (si penderita Leukemia dan balita 1 tahun yang sebelum sakit sangat suka anjing) anjing ini seakan mempunyai ikatan/panggilan batin.

Ada santa claus mini di atas kue, dan santa claus kecil yang bajunya salah kancing!

Setelah acara “Shimura Dobutsuen” ini kami menonton seri “Youkai Ningen (Manusia Jejadian) ” yang merupakan tayangan terakhir. Manusia Jejadian ini merupakan penciptaan manusia dari seorang profesor yang gagal, sehingga wujudnya seperti monster tapi baik hati. Mereka berwujud seperti manusia biasa, tapi jika marah/emosi berubah menjadi monster. Mereka ingin menjadi manusia sesungguhnya  dan menjadi cara-cara. Lalu diketahui bahwa untuk menjadi manusia harus mempunyai Zen (hati yang baik) Aku (hati yang jahat). Manusia memang terdiri dari dua unsur itu, tergantung bagaimana dia menekan perasaan jahatnya. Akhirnya mereka memilih untuk tidak menjadi manusia daripada harus memasukkan unsur jahat ke dalam diri mereka.

wajah gembira Riku mendapat hadiah dari Opa-Omanya

Biasanya setelah film seri ini, kami menonton acara dari grup musik terkenal Arashi, tapi karena anak-anak ingin mendapatkan hadiah dari Santa Claus, mereka akhirnya tidur juga. Karena aku bilang, Santa Claus datangnya waktu kalian tidur. Kalau tidak tidur ya tidak datang. Jadi begitu Riku dan Kai tidur, sekitar pukul 11 malam, aku mempersiapkan kado untuk anak-anak di bawah pohon  Natal. Dan ternyata saudara-saudara, Riku bangun jam TIGA pagi, menemukan hadiah itu dan membangunkan aku, “Ma, ada hadiah dari Santa, aku boleh buka ngga? Nanti aku foto deh”
“Ngga boleh. Ini jam 3, kamu harus tidur lagi. Jam 6 baru boleh bangunkan mama dan boleh buka. Mama tidak perlu foto hadiahnya, mama perlu foto kalian menerima hadiahnya”
Jadi deh dia tidur lagi dan pasti tidak nyenyak karena penasaran.

Riku langsung membuka satu-satu legonya dan merakitnya

Teng jam 6, Riku sudah membangunkanku, padahal aku masih ngantuk sekali. Dan aku menyuruh dia menungguku. Akhirnya aku kasihan juga, sehingga aku bangun untuk memberikan hadiahnya. Gen juga sudah bangun, sehingga kami bisa melihat mukanya yang begitu berseri mendapatkan hadiah, yang memang sudah lama dia inginkan. Lego – Pirates of Caribbean yang harganya memang mahal, sehingga kami hanya bisa belikan pada waktu khusus saja. Tapi selain itu sebagai hadiah dari opa-omanya dia dan Kai mendapat advent calendar Lego yang star wars. Sebetulnya ini merupakan pilihan Gen yang melihat bahwa di dalam kotak advent calendar itu banyak lego yang anak-anak belum punya. Tapi melihat Riku merakit satu-per-satu lego itu, dalam waktu singkat, Gen melihat dengan kagum. Well jaman dulu belum ada sih mainan seperti begini.

Biar baru 4 tahun, Kai sudah bisa merakit sendiri parts Lego dari Star wars sambil melihat petunjuknya. Kadang kalau perlu tenaga untuk menekan atau melepas partsnya dia minta bantuan kakaknya.

Tapi Riku memang cepat sekali merakitnya. Bayangkan mulai jam 6:30 sampai 12:30 dia menyelesaikan 3 kotak Lego, termasuk satu kapal “Black Pearl” nya Jack Sparrow. Kapal dari Lego ini memang keren! Detil dari film Pirates of Caribbean banyak terekam menjadi parts lego yang unik. Mulai dari koin sampai rambut gondrongnya si Sparrow. Tapi biarpun aku bicara panjang lebar, kalau tidak mengerti Lego seperti situkangnyampah, mungkin tidak bisa mengerti apa sih enaknya main Lego. Iya kan? 😀

Kai meskipun dia belum bisa merakit sendiri kalau terlalu rumit, kami belikan juga seri Pirates ini, sehingga mereka berdua bisa bermain bersama.Tentu saja Kai ingin yang sama juga dengan kakaknya. Tapi dengan alasan pembuatannya sulit (padahal karena mahalnya) dan hanya boleh untuk anak berusia di atas 8 tahun, maka Kai berhasil kami tenangkan. Dia puas dengan merakit sendiri Advent Calendarnya, sedangkan Legonya yang Pirates dikerjakan papanya.

Riku dan Kai bersama kapal Black Pearl (Pirates of Caribbean)

Pagi yang tenang dan cerah. Aku mencuci pakaian dan melakukan rutinitas kerjaan ibu-ibu, sambil melihat mereka konsentrasi membuat lego. Sesekali aku mengintip soc med di internet serta memotret kegiatan mereka. Damai…. apalagi mendapat banyak ucapan selamat dari saudara dan teman-temanku. Meskipun Tokyo dingin, hati kami hangat merayakan hari Natal, hari kelahiran Yesus Kristus. DeMiyashita mengucapkan Selamat Natal bagi umat kristen dan terima kasih untuk semua ucapan yang diberikan kepada kami.

 

Merry Christmas from deMiyashita

*** Meri Kurisumasu adalah pengucapannya orang Jepang untuk Merry Christmas. Kalimat lainnya yang diucapkan adalah kurisumasu omedetou (omedetou = selamat) ***

 

22-12-2011

Bingung mau tulis judul apa, jadi tulis tanggal saja. Kok bingung sih? Kan sudah jelas-jelas tanggal itu adalah Hari Ibu?

Well, aku penganut Mothers Day di bulan Mei, seperti orang Jepang dan orang-orang lain di Amerika, Inggris, merayakan mothers day. Yaitu minggu ke dua bulan Mei. Padahal sih menurutku, kalau mau merayakan Mothers Day mending merayakan pada saat ibu kita ultah saja sudah cukup. Lagipula kebiasaan manusia, heboh di hari H nya, sesudah itu dilupakan begitu saja. Mending seperti aku yang selalu ingat ibu karena jauh di mata :(. Tanggal 22 Desember menurutku lebih baik dinyatakan sebagai Hari Perempuan Indonesia, selaras dengan sejarahnya Kongres Perempuan Indonesia I (Yogyakarta 22-25 Des 1928). Dan Ibu adalah Perempuan, bukan?

Tanggal 22 Desember itu adalah hari selesainya TK Kai untuk tahun ini. Biasanya aku menitipkan dia di TK (perpanjangan) setiap hari Kamis dan Jumat, tapi tanggal 22 itu tidak ada perpanjangan kelas. Dia hanya 1 jam saja berada di TK nya untuk upacara, dan sesudah itu pulang.  Karena Gen tidak bisa ambil libur lagi, jadi aku putuskan untuk membawa Kai ke kampus. Aku sudah minta ijin pada mahasiswaku, dan memang hari kamis itu juga merupakan kuliah terakhir di tahun 2011 sebelum masuk libur musim dingin (sampai tgl 9 Januari). Selain itu aku tidak perlu banyak menerangkan karena memang programnya menerjemahkan sebuah bacaan.

Jadi aku jemput Kai di TK, pulang ke rumah dan mengganti baju seragamnya. Dia langsung menyiapkan 4 buah buku Ultraman dan Rangernya dan memasukkan ke dalam ranselnya. Aku tawarkan membawa pensil warna dan kertas, dia tidak mau. Tadinya aku juga sempat berpikir  membawa komputer untuk memutarkan DVD film + headset, tapi karena kelihatannya dia begitu bersemangat dengan bukunya, aku membatalkan membawa laptop. Cukup berat soalnya.

Dia memaksa memanggul ranselnya sendiri, padahal aku tahu itu berat. Tapi mumpung dia semangat deh. Aku sendiri bawa barang seminim mungkin, supaya jika harus membawa ransel Kai pun aku masih bisa berlenggang :D.  Kami naik kereta lokal, memang lebih makan waktu tapi bisa duduk dan sedikit orang. Begitu sampai stasiun Takadanobaba, kami mau naik bus, tapi Kai mengeluh lapar. Memang waktu makan siang sih. Tapi kalau mampir makan dulu pasti terlambat, jadi aku memenuhi permintaan dia untuk membeli “Happy Set” nya Mac D. Yang mengharukan waktu dia pesan bagian dia, dia langsung bilang, “Mama, untuk Riku yang ini….” Dia ingat kakaknya…. Lalu aku katakan, “Ya nanti ya, sesudah mama selesai mengajar, sebelum pulang kita beli buat Riku”.

Nah, waktu mau naik bus ke kampus itu yang aku kaget! Loh kok begitu banyak orang yang antri? Kebanyakan bukan mahasiswa lagi. Kakek nenek! Memang bus ini bus umum, bukan bus kampus. Dan aku juga tahu bahwa ada cukup banyak lansia yang belajar lagi di universitas W, tapi yang pasti tidak sebanyak ini! Lagipula bus berdatangan terus…. heran benar deh. Tapi karena bersama Kai, aku menunggu sampai kami bisa dapat tempat duduk. Sebetulnya kalau mau jalan kaki bisa sih, sekitar 30 menit. Sampai kampus cuma 4 halte. Tapi kalau mau buru-buru lebih baik naik bus deh. Pas di halte ke 3 aku melihat sumber penuhnya bus-bus ke arah kampus ini, karena hampir semua kakek nenek, ibu-ibu itu turun di halte ke 3 itu. Dan aku melihat antrian manusia begitu panjang. Memang di situ ada semacam jinja, bernama Ana Hachimangu. Tak bisa tidak, aku langsung menanyakan pada nenek-nenek yang duduk di belakangku dan sedang antri turun bus (bayangkan turun aja antri hihihi). “Ada apa sih?”

gambar diambil wikipedia

Kata nenek itu, “Ya hari ini adalah Touji 冬至  hari permulaan winter, hari yang malamnya terpanjang selama winter. Pada hari ini orang dari seluruh Jepang datang ke jinja ini untuk berdoa” bla bla bla tidak jelas. Dan setelah pulang aku mendapat informasi seperti ini:

Orang Jepang (yang percaya) akan datang ke jinja (kuil Shinto) Ana Hachimangu 穴八幡宮 untuk mendapatkan “jimat” Ichiyouraifuku 一陽来復 yang berarti : Setelah musim dingin akan datang musim semi, berarti tahun yang baru akan datang. Segala kesusahan akan berhenti dan akan datang keberuntungan. Jadi kebanyakan yang datang ke sini ingin berdoa supaya bisa untung dalam perdagangan. Mereka akan membeli jimat yang akan dipasang di rumahnya di tempat yang tinggi. Jimatnya sendiri berupa kertas yang bertuliskan kanji Ichiyouraifuku itu. 

Ana Hachimangu ini memang terletak dekat universitas Waseda, merupakan jinja sejak tahun 1062 tapi waktu pemboman AS tahun 1945, jinja ini terbakar. Tahun 1989 dibangun kembali sehingga menjadi seperti sekarang. Dan yang menyenangkan waktu membaca bahwa jinja ini bertetangga dengan kuil Buddha dan gereja kristen … tentu saja dengan harmonis.

Aku dan Kai turun di halte terakhir dan sempat berfoto di depan salah satu gedung bersejarah universitas W, kami lalu pergi ke kelas tempatku mengajar di lantai 7. Tapi sebelumnya aku mampir ke WC wanita yang ada di lantai 8 (lucu deh gedung ini, wc wanita di lantai genap dan wc pria di lantai ganjil) . Masih ada waktu 10 menit sebelum kuliah dimulai, jadi Kai makan burgernya, sambil bermain. Sepuluh menit berlalu, Kai memegang janjinya untuk tidak ramai-ramai, apalagi mengeluarkan suara keras (anak ini suaranya kencang banget sejak lahir! padahal prematur loh). Jadi kuliah bisa dimulai dong waktu jam menunjukkan pukul 1:00 siang.

Baru berlalu  5 menit, tiba-tiba Kai berbisik … “Mama… unchi…. (p*p*p) ”
Waduuuh…. payah deh. Aku tahu anak ini memang tidak pernah bisa tahan. Di mana saja bisa p*p*p tidak seperti kakaknya yang harus di rumah.
Gaman dekiru? (Bisa tahan)”
Dekinai (Tidak bisa)” sambil berbisik memelas….. ingin ketawa juga tapi sebel juga. Karena berarti aku harus ke lantai 8 atau 6 untuk membantu dia p*p*p kan…. Jadilah aku memberikan tugas mencari arti beberapa kata di kamus kepada mahasiswa-mahasiswa sambil aku menemani Kai.

Setelah kembali ke kelas,  satu setengah jam berlalu dengan lancar, tanpa gangguan dari Kai. Dia benar-benar bermain sendiri di bawah tempat dudukku, di atas karpet, jadi tidak terlihat oleh mahasiswa. Aku merasa Kai hebat bisa diam terus, meskipun aku perlu konsentrasi dua kali lipat selama memberikan kuliah. Ada satu kejadian lucu, yaitu waktu aku memberikan contoh, sambil menuliskan A B C D E di white board. Kai melihat huruf itu dan bernyanyi lagu ABC hahahaha. Semua mahasiswa tertawa, dan aku cepat-cepat menyuruh dia diam 😀 ssstttt.

Setelah kuliah selesai, tentu saja kami mampir Mac D dulu untuk membeli bagian Riku sesuai permintaan Kai. Dan waktu kami sampai di rumah sekitar pukul 4:30, pas Riku juga pulang. Jadi kami bertemu di depan pintu lift, dan….. Kai lari ke Riku dan memeluknya. Ahhhh meskipun mereka selalu berkelahi ternyata mereka juga saling merindukan. Aku terharu melihat mereka……

Seorang mahasiswaku bertanya pada Kai:
“Kai tahu mama itu guru?”
“Tahu… Imeruda Sensei!” 😀

 

Kedutan

Dua hari ini aku lagi tegangan tinggi. Rasanya syarafnya kering ketularan si kulit yang mengkeret karena dingin. Mau dibilang sakit kepala juga ngga. Sakit perut juga ngga. Malas dan kedutan!

Menurut KBBI daring : ke·dut n gerak jaringan krn tarikan urat;
ber·ke·dut v bergerak krn tarikan urat;
ke·dut·an v bergetarnya urat-urat pd kelompok mata dsb (yg dianggap sbg alamat atau pertanda)

Biasanya kedutan itu kan hanya sebentar, dan konon itu merupakan reaksi syaraf sekitar mata yang tegang. Kalau cari di primbon ya ada macam-macam artinya. Kelopak mata kiri akan bertemu saudara/kekasih, kelopak mata kanan akan kehilangan. Ada juga yang bilang itu pasti mau nangis. Ya iyalah emang pasti nangis karena syarafnya kan tegang terus di sekitar mata. Obatnya? Dinangisin atau tidur…hehehe.

Menurut situs-situs kesehatan tempat aku browsing, kedutan itu bisa terjadi karena :

1. stress…. iya sih menjelang akhir bulan, akhir tahun begini banyak sekali pengeluaran. Seorang ibu rt pasti stress buka dompet terus.
2. kurang tidur…… Hmmm sebetulnya ngga juga, karena aku tidur lumayan cukup kok. Tapi mungkin tidurnya dangkal.
3. Mata lelah …. kebanyakan menghadap komputer. Ya pastilah, seorang blogger, fb-ers, twitterian, anggota dumay (dunia maya) + mengerjakan terjemahan dan editing pakai komputer.
4. Kebanyakan kafein dan alkohol… Ah ngga juga kok, masih dalam batas yang wajar nih.
5. Mata kering.… ini ada hubungannya dengan dompet kering ngga ya? hehehe.
6. Tidak seimbangnya nutrisi… waduh sepertinya cukup deh, tapi ngga tau juga apa balance atau tidak. Jangan-jangan aku ini beri-beri bukannya gemuk hahaha.
7. alergi…. NAHHHH ini mungkin ya. Aku kan memang alergi. Tapi perasaan alergiku sudah keluar di bersin-bersin. Dan biasanya kalau alergen nya banyak mukaku gatal juga. Kali ini hanya kedutan saja.

Well, akhirnya tadi aku paksakan untuk siesta…tidur siang selama 2 jam. Sebelumnya juga sudah nangis sepuas-puasnya. Hasilnya? masih tuh hehehe. Malah ini sambil ngetik masih cenat-cenut aja. Jangan dikiran aku sedang main mata yaaaa…

Bagaimana teman-teman sering kedutan ngga? Bagaimana penangannya jika kedutan?

Upik Abu vs Putri

Kemarin aku bercakap-cakap dengan si Nique, sesama ibu-ibu aktif dan karena aku mengeluh badanku sakit-sakit, dia bilang, “pekerjaan rumahnya dibantuin suami kan mbak…” wedeh…. aku bilang, “Ngga mau dibantuin suami, soalnya kalau cuci satu piring 10 menit sendiri….! Selain dia memang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, aku tidak memperbolehkan dia masuk dapur. Dapur adalah wilayah kekuasaanku (hampir seluruh rumah sih sebetulnya hehehe) Kalau dia masuk dapur, dan membuka lemari es, bisa-bisa kulkasnya kosong, dibuangin semua isinya hahaha. Jadi biasanya dia masuk dapur hanya untuk membuat kopi, atau ngebul di exhaust fan dapur 😀 (Biasanya di teras rumah, tapi sekarang dingin, kasihan jadi aku memperbolehkan ngebul di dapur :D)

Awal aku datang ke Jepang, aku masih sering menerima undangan dari teman-teman kerja papa untuk makan bersama, dan saat itu mereka selalu berkata, “Imelda kan ojousama お嬢様 (putri /princess), mana bisa hidup di Jepang?” Mereka tahunya aku tinggal di Jakarta, dan menempati rumah yang ada pembantunya, jadi pasti tidak bisa kerja pekerjaan rumah. Uuuuh aku waktu itu sebel sekali. Emangnya aku tidak bisa kerja apa-apa? Menyebalkan sekali dibilang ojousama. Apalagi aku mendengar dari Ibu Kost ku waktu itu, bahwa sebelum aku datang dan tinggal bersama mereka, ada sepasang remaja Indonesia yang tinggal di situ. Dan mereka dari keluarga kaya di Surabaya, si perempuan tidak bisa pakai sepatu sendiri jadi dipakaikan oleh yang laki-laki (pacarnya)…. WHAT???? Kalau kebalik ngerti deh, tapi ini? Bus*t deh, pantas saja di anggapan orang Jepang sekitarku itu perempuan muda Indonesia tidak bisa kerja.

Jadi waktu aku mulai membuat kue tart di dapur ibu kost, baru dia mulai sadar bahwa cewe yang ini bisa masak… uhuk uhuk! Jelas saja, sejak umur 10 tahun aku mulai bantu mama buat kue dan puding. Bahkan waktu SMP aku sudah masak untuk sekeluarga. Kalau pembantu mudik lebaran (dan biasanya tidak kembali), maka biasanya ada pembagian tugas. Aku di dapur, adikku Novi bagian cuci, Tina beresin kamar dan pel. Andy masih terlalu kecil, sehingga dia ikut mama siram kebun. Jadi, memasak untukku tidaklah sulit, karena sejak kecil aku sudah biasa mendengar mama berkata, “Untuk sop, pakai daun bawang ditumis dulu pakai mentega sedikit, pala sedikit, lada sedikit, garam juga sedikit, nanti dirasa apa yang kurang…. ” Tidak ada ukuran pasti satu sendok atau berapa gram 😀 Semuanya kira-kira. Tapi dari mama aku tahu untuk kakushiaji (bumbu penyedap terakhir) kita masukkan kecap manis, atau cengkeh tergantung masakannya apa. Bahkan untuk membuat puding coklat yang manis pun disuruh mama memasukkan sedikit garam supaya rasanya lebih “hidup”. Bingung kan 😀

Karena keluargaku juga cukup sering membuat pesta di rumah dengan masak sendiri, aku juga terbiasa masak banyak. Satu panci besar sup untuk 20 -40 orang… biasa. Jadi waktu aku pertama nikah, seringnya masak kebanyakan 😀 Baru sekarang bisa masak sedikit untuk 4 orang hehehe.

Tapiiiii…… memang benar, karena aku lebih sering di dapur, aku tidak pintar untuk membersihkan kamar! Sama sekali! Suruh aku berdiri di dapur seharian-dua harian aku akan senang sekali, tapi jangan suruh aku membereskan rumah. Cuci piring, langsung kelihatan hasilnya, piring kotor menjadi bersih. Sedangkan bereskan rumah? Biar disapu juga tidak kelihatan kan (kalau disapu tiap hari…hihihi alasan saja!)

Sebetulnya mau cerita apa sih aku ini? Intinya, seorang putri pun, jika hidup di luar negeri tanpa pembantu, akan bisa menjadi upik abu, dan mengatur rumahnya sendiri! Apalagi menjelang akhir tahun begini. Satu rumah harus dibersihkan sampai semua pojok. Kebiasaan orang Jepang untuk Oosoji 大掃除 (bersih-bersih besar-besaran) untuk menyambut tahun baru dengan rumah yang bersih. Kesempatan membuang panci yang sudah jarang dipakai dan piring yang gompal. Membersihkan kap lampu di langit-langit rumah, sampai pojok belakang lemari es. Mengganti filter exhaust fan di dapur, sampai membuang buku-buku atau majalah yang sudah tidak perlu. Dari atas sampai bawah. Seluruhnya dan sendirian 😀

Kemarin aku pergi ke TK nya Kai, ada acara Oosoji bersama orang tua murid. Kami membersihkan kelas yang dipakai selama setahun. Dari seluruh kaca jendela dan frame, sampai mengelap semua mainan puzzle dan balok kayu. Pada kenyataannya kelas itu memang masih bersih, tidak ada orang yang sampai perlu mencuci lap basahnya karena debu. Tapi kemarin aku sempat menggeser lemari TV/video dan menemukan sedikit debu di bagian belakang. Entah kenapa tapi senang rasanya melihat lapku berubah menjadi abu-abu 😀

Kegiatan Oosoji di TK memang sudah masuk dalam program TK setahun. Kalau di SD murid-murid sudah cukup besar untuk bisa membersihkan kelasnya sendiri. Tapi untuk murid TK seusia 3-4-5 tahun, tentu belum bisa dan … tidak sampai tingginya :D. Setelah acara bersih-bersih selesai, kami duduk di bangku anak-anak kami, dan mendengarkan laporan sang guru mengenai perkembangan anak-anak kami. Karena kelas nensho 年初 (TK tahun pertama dari 3 tahun), kebanyakan masih berusia 3-4 tahun, pertama kali berkumpul bersama teman-teman dalam ruangan kelas serta belum terbiasa berinteraksi. Masih banyak kejadian menangis, berkelahi karena tidak mau meminjamkan mainan/alat tulis, atau belum tahu cara “pinjam-meminjam”. Saat ada masalah begitu, guru akan menengahi dan memberitahukan kesalahan mereka. Tapi setelah 8 bulan bersama, mereka mulai bisa berinteraksi dan mulai bisa mengatakan “gomennasai”. Selain itu “gomennasai” bukan sekedar di mulut, tapi mulai bisa mengerti kenapa harus berkata maaf dan apa kesalahan sebenarnya. Pantas saja, akhir-akhir ini Kai sering sekali mengucapkan “Mama… maafkan kai, kai sudah bikin marah mama….” Atau, “Mama maafkan Kai, kai kasih tumpah susu di lantai”. Jadi bukan hanya maaf saja. Terharu juga aku mendengar penjelasan gurunya Kai, dan merasakan Kai memang semakin bertambah besar.

So, apakah sudah Oosoji dan membersihkan rumah menghadapi tahun baru? Atau buat yang kristen katolik, sudah oosoji hati kita untuk menyambut kelahiran Yesus? …. Masih ada 5 hari menjelang natal dan 11 hari menjelang tahun baru 😀
OK deh aku mau lanjut beberes lagi yaaaaa….

Gambar Kai yang dipajang di TK nya, katanya itu self potrait tapi Kai jungkir balik. Mungkin seperti Ninja, kepalanya bisa di bawah hihihi

 

Bus Tour

Pernah ikut bus tour? Mungkin di Indonesia, tidak pernah ada bus tour, kecuali dilakukan oleh rombongan yang sama. Misalnya sekolah anu membawa rombongan murid dengan bus ke suatu tujuan wisata. Tapi kalau di sini bus tour itu lumayan marak loh. Banyak perusahaan bus, atau pariwisata lokal yang mengelola bus tour untuk wisatawan. Ada yang reguler karena biasanya pasti ada penumpang yang naik, seperti Hato Bus, bus kuning yang mengelilingi tujuan wisata dalam kota Tokyo. Aku belum pernah coba naik Hato Bus ini, karena lumayan mahal, dan aku toh sudah pernah pergi ke hampir semua tujuan wisata dalam kota sendiri.

Ada yang tidak reguler, musiman, misalnya pas musim sakura berbunga sekitar bulan April dan musim gugur sekitar oktober-november. Biasanya bus itu berangkat dengan minimum penumpang 2- 5 orang, tergantung tujuannya juga. Tapi biasanya bur tur ini penuh, sehingga kita harus cepat-cepat mendaftar. Aku pernah ikut bus tur musiman, dulu jaman aku awal-awal datang ke Jepang, tentu saja waktu masih single. Seorang ibu Korea mengajakku pergi bersama naik bus dengan serombongan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Dia yang mendaftarkan (dan membayar biayanya) dengan tujuan wisatanya adalah Yamagata, di utara Jepang. Aku lupa musim apa waktu itu, tapi sudah cukup dingin, meskipun belum banyak pohon yang berubah warna. Maklum jaman dulu belum ada kamera digital, dan kamera biasa harus perhitungan biaya cuci-cetaknya hehehe.

tahun 1993 tuh, jaman masih gondrong 😀

Bus tour yang aku ikuti itu menginap satu malam di sebuah hotel kuno yang cukup terkenal di Yamagata, yang mempunyai onsen (pemandian air panas belerang) di dalam hotel itu sendiri. Pemandian khusus wanitanya berupa kolam besar dengan ornamen kapal di bagian tengah.Bagus! Tapi sayang waktu itu jiwa jurnalisku juga belum tumbuh, sehingga tidak berani memotret pemandian itu. Kalau sekarang, pasti aku selundupkan kamera ke dalam baju ganti. Tentu cari waktu jika tidak ada orang yang masuk, kalau tidak bisa jadi hiburan dong karena semua harus berbugil ria di dalam pemandian air panas itu.

Ciri khas Bus Tour adalah tujuan wisata yang sudah pasti, dengan waktu khusus untuk mampir di Parking Area (untuk buang air, namanya toire kyuukei – istirahat toilet selama 15 menit) dan ini hampir disetting setiap 1 jam hehehe. Maklumlah biasanya yang ikut bus tour itu adalah wanita dan lansia/pensiunan, dan mereka-mereka ini kan perlu untuk sering mampir ke WC. waktu itu aku masih muda, jadi merasa heran dengan sistem ini, sekarang setelah semakin tua, semakin mengerti pentingnya mampir ke WC sering-sering hehehe. Selain waktu khusus untuk istirahat WC, ada waktu untuk turun di pusat perbelanjaan oleh-oleh daerah. Dan percayalah, orang Jepang itu suka belanja oleh-oleh. Mereka PASTI membeli sesuatu untuk oleh-oleh keluarga atau temannya, dan biasanya makanan khas daerah tersebut. Dengan kebiasaan seperti ini pariwisata daerah memang bisa berkembang.

Satu lagi kebiasaan Bus Tour yang menginap adalah menyediakan makan malam bersama yang disebut enkai. Karena di hotel/penginapan disediakan yukata (kimono dari katun), maka biasanya semua orang yang menginap di situ dan ikut bus tour akan memakai yukata yang sama pada waktu enkai, makan malam itu. Setiap orang menghadapi sebuah nampan besar berisi makanan untuknya, yang terdiri dari makanan pembuka, makanan utama, makanan hangat (dalam wajan/panci kecil panas khusus), buah/desert dan jus/teh. Semua sama dan sudah termasuk dalam biaya Bus Tour itu. Tapi biasanya orang Jepang suka minum alkohol, dan untuk itu mereka harus membayar sendiri, yang ditagih waktu mereka cek out hotel. Dari minuman keras ini hotel mendapat tambahan pemasukan.

bersama alm. Ratih, teman kosku waktu makan malam - enkai

Untuk Bus Tour yang dikelola mendetil, waktu makan akan dihibur dengan pertunjukan kesenian setempat, atau karaoke….. duh kalau karaoke ini menyebalkan, karena tidak semua orang yang mau menyanyi itu pintar menyanyi dan suaranya bagus bukan? 😀

Selain makan malam, makan pagi juga disediakan di ruangan besar/aula, tempat enkai yang dipakai pada malam sebelumnya. Biasanya sarapan pagi ini ala Jepang yaitu nasi dengan ikan bakar, natto, salad, misoshiru (sup miso) , kalau yang sederhana. Kalau lebih mewah tentu lauknya lebih banyak dan lebih mewah.

Makan siang di kebun apel

Waktu cek out di Jepang biasanya pukul 10-11 siang. Jadi setelah makan pagi, banyak orang yang masuk kembali ke pemandian air panas untuk terakhir kali, lalu bersiap untuk cek out. Dalam perjalanan pulang tergantung bagaimana rencananya, apakah akan mampir lagi ke tempat wisata atau hanya mampir “pemaksaan” membeli oleh-oleh.

Aku senang mengikuti Bus Tour. Selain bersama orang lain yang tidak kukenal itu, aku sering pergi  bersama rombongan teman-teman pendukung bapak kosku dulu (dia politikus). Dalam satu tahun biasanya mereka mempunyai 2 kali program Bus Tour, sehingga dalam 4 tahun aku tinggal di rumahnya, aku sudah 8 kali pergi bersama dalam Bus Tour mereka. Aku sendiri tidak pernah membayar, karena dianggap sebagai keluarga si Bapak Kos. Tapi Bapak dan Ibu Kos ku senang mengajak aku dan teman kos ku, karena katanya kami masih muda-muda sehingga bisa jadi “penghibur” kakek nenek yang ikut rombongan mereka hahaha. Karena itu juga, aku benar-benar pede dan terbiasa  masuk ke pemandian air panas onsen meskipun berbugil ria….soalnya badanku (waktu itu) masih lebih bagus dari nenek-nenek hahaha (kabuuuurrrr).

Makan malam yang termasuk sederhana

Sejak aku menikah dan punya anak, aku belum ikut Bus Tour lagi. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar, aku mau ah jalan sendiri dan ikut Bus Tour ke mana-mana :D. Siapa tahu saat itu aku bisa menulis fiksi dengan latar belakang penginapan di daerah-daerah tersebut ya.  Soalnya di sini Bus Tour sering pula dijadikan tema dalam Drama Misteri/Detektif 😀

Jadi seandainya ingin pergi jalan-jalan di Jepang ada bagusnya juga mengikuti bus tour yang sudah pasti tujuannya. Kalau tidak salah Mas Nug waktu datang ke Tokyo juga ikut Bus Tour keliling Tokyo (semacam Hato Bus). Tapi kalau tidak bisa bahasa Jepang mungkin sulit untuk pergi sendiri ke luar Tokyo, karena mereka tidak menyediakan pemandu bus berbahasa Inggris.

Aku tiba-tiba ingin menulis soal Bus Tour ini, karena tanggal 15 Desember adalah hari peringatan Bus Tour :D. Seandainya saja…. transportasi dan sarana jalan di Indonesia bisa bagus, Bus Tour merupakan salah satu cara meningkatkan pariwisata kita loh.