Antara Pahlawan dan Uang

Rasanya aneh sekali ya judulnya. Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa di Indonesia, tidak ada pahlawan yang kaya! Sampai sekarang aku masih selalu sedih melihat sebuah foto seorang mantan pejuang yang makan nasi bungkus sambil jongkok. Pasti teman-teman juga pernah melihat fotonya kan? Meskipun memang rasanya seberapapun uang yang kita bisa berikan kepada para pahlawan dapat mencukupi sebegai balasan atas jasa-jasa mereka. Dan tentu mereka juga tidak mengharapkan balasan apa-apa karena apa yang mereka lakukan adalah karena rasa kebangsaan mereka.

Tapi jika diperhatikan di negara manapun biasanya memasang foto wajah pahlawan/pemimpin negara/orang terkenalnya pada uang kertas atau uang logam mereka. Setiap hari kita dapat “bertemu” dengan pahlawan-pahlawan melalui gambar mereka di alat tukar tersebut. Nah, aku mau memperkenalkan salah satu “pahlawan” Jepang yang fotonya terdapat dalam uang kertas 1000 Yen, yaitu Noguchi Hideyo. Kebetulan kemarin tanggal 9 November adalah hari lahir Noguchi 135 tahun yang lalu.

Noguchi lahir dengan nama Seisaku (Noguchi adalah nama keluarga). Dia lahir di sebuah desa di Inawashiro, Fukushima. Waktu berusia 1,5 tahun dia jatuh ke perapian sehingga tangan kirinya luka parah sampai “jari-jari tangan kirinya habis”, dan tidak bisa disembuhkan karena tidak ada dokter. Baru waktu masuk SD, berkat bantuan guru dan teman-temannya, Noguchi menjalani operasi yang dapat menyembuhkannya sampai 70%. Kemudian dia bercita-cita menjadi dokter untuk membantu mereka yang membutuhkan, dan belajar di bawah dokter Watanabe Kanae yang mengoperasinya. Dia belajar di Nihon Ika Daigaku dan tahun 1897 dalam usia 20 dia boleh berpraktek sebagai dokter. Tahun 1898 dia mengganti namanya dari Seisaku menjadi Hideyo, hanya karena membaca sebuah novel tentang dokter yang kebetulan namanya sama, dan dalam cerita itu dokter Seisaku memang pandai tapi kemudian menjadi malas dan menghancuri kehidupannya sendiri.

Noguchi Hideyo kemudian terkenal sebagai bakteriologist  yang menemukan syphilis, treponema pallidum dan meninggal tahun 1928 di Gold Coast karena terjangkit yellow fever. (Padahal dia pergi ke Afrika ini untuk meneliti penyakit yellow fever ini dan membuktikan bahwa penyebab penyakit ini bukan virus tapi bakteri). Noguchi menerima berbagai penghargaan baik dari Jepang maupun dari luar negeri. Dan sebagai penghargaan juga, wajahnya diabadikan pada uang kertas nomimal 1000 yen yang diterbitkan tahun 2004.

Kebetulan hari ini adalah hari Pahlawan di Indonesia. Kebetulan juga kemarin adalah hari lahirnya Noguchi Hideyo, dan kebetulan lagi aku membaca posting sahabat blogger Nicamperenique yang berjudul Kadaluarsa. Jadi deh aku menulis postingan hari ini. Ya, aku mau memberitahukan juga bahwa semua uang kertas dan logam Jepang itu TIDAK ADA kedaluwarsanya. (Menurut KBBI penulisan yang benar kedaluwarsa). Tadi aku telepon ibu mertua untuk meyakinkan hal ini, (sebetulnya ingin bicara dengan bapak mertua karena bekerja di bank tapi belum pulang) dan ibu mertuaku mengatakan bahwa dia masih punya uang kertas yang bergambar Shotoku Taishi (nominal 10.000 yang terbit tahun 1958 -1986). Selain itu uang logam Jepang tidak pernah berubah-ubah desain dan gambarnya seperti di Indonesia. Samaaa terus 😀