Arsip Bulanan: November 2011

Mellow

Tidak tahu apakah karena menjelang akhir bulan, atau menjelang akhir tahun, atau pengaruh cuaca, tapi sejak kemarin malam aku ingin menangis terharu terus. Apa pasal?

Kemarin malam seperti biasa sebelum tidur, kami pasti berdoa bersama kemudian aku membacakan buku untuk Kai. Jarang sekali Kai tertidur sebelum cerita itu selesai, bahkan bisa minta nambah…tidak seperti kakaknya yang sering sudah tertidur pada halaman ke 3 :D. Tapi kemarin malam entah kenapa, aku mulai menasehati anak-anak. “Mama tahu Riku dan Kai masih kecil, tapi mama ingin Riku dan Kai bisa mandiri. Misalnya kalau ada gempa, Riku dan Kai sudah tahu harus berlindung di bawah meja kan? Tapi seandainya nih, Riku di sekolah, mama di universitas, papa juga di kantor, Kai di TK. Kemudian terjadi gempa. Riku dan Kai tidak bersama mama kan. Atau Riku sendiri di rumah. Paling sedikit Riku harus tahu di mana air minum dan makanan. Kita harus bersyukur loh bahwa waktu gempa Tohoku Maret lalu, Riku dan Kai ada bersama mama. Coba Riku masih dalam perjalanan pulang dari SD, lalu Kai di penitipan….wah mama pasti panik.”

Kai menyela, “Tapi aku mau sama mama terus…”
“Iya dong Kai…. mama juga mau sama Kai terus. Tapi adakalanya tidak bisa begitu. Gini ya, mama mau cerita. Waktu gempa di Kobe, ada anak umur 3 tahun (anggap namanya Boya) naik mobil dengan mama dan adiknya yang masih bayi. Mamanya nyetir, dan gempa datang. Lalu mobil mereka tertimbun pasir dan batu. Si Boya selamat tapi mama dan adiknya meninggal. Boya ini tahu bahwa mamanya selalu bawa air minum dalam mobil, jadi dia cari dan minum. Dengan minum terus dia bisa hidup sampai 3 hari ditemukan team SAR. Karena itu mama juga mau Riku dan Kai tahu tempat mama simpan makanan dan minuman. Itu di teras luar kan ada pet botol isi air. Seandainya kurang air waktu gempa, air itu bisa diminum, karena itu air ledeng. Tapi…. sebetulnya itu mama simpan buat WC dan bersih-bersih. Ingetin mama untuk beli makanan persiapan gempa ya, soalnya yang sekarang sudah kedaluwarsa, sampai Oktober kemarin. ….”

“Mama sih cerita begini sebelum tidur…”Riku berkata.
“Iya maaf, tapi ngga ada waktu lain kan untuk mama cerita gini sama Riku dan Kai kecuali sebelum tidur… Ayo kita berdoa saja”
Seperti biasa aku berdoa, dan terakhir Kai akan menambahkan, “Tuhan tolong semua supaya bisa bangun besok. Tolong semua supaya sehat. Tolong semua supaya tidak mimpi buruk…..” tapi kemarin malam dia menambahkan dengan kalimatnya sendiri, yang intinya “Tuhan kalau gempa supaya ada bersama kami”.
Aku kaget….. lalu aku tegaskan, “Tentu jika gempa, kalian takut, langsung berdoa. Tuhan pasti tolong!”
“Tuhan dengarkan doa kami. Amin”

Ahhhhhhh aku benar-benar terharu. Tanpa aku suruh, Kai bisa berdoa semanis itu. Benar-benar bangga pada Kai. Dan malam ini sebelum aku menulis posting ini aku dibuatnya terharu lagi.

Sebagai desert aku memberikan coklat buat semua. Satu orang dapat sekitar 3 biji. Dan aku lihat Kai masih punya satu biji coklat, sedangkan kakaknya, papa dan aku sudah habis. Mungkin dia melihat papanya kasih satu bagiannya kepadaku, karena aku kasih satu kepada Riku. Tiba-tiba Kai memberikan coklat terakhirnya itu kepada papanya. Tapi papanya bilang, “Ngga usah untuk Kai saja.” Lalu dia kasih ke aku, dan aku bilang tidak usah juga, itu kan bagian Kai. Lalu aku tanya, “Kai mau kasih ke Riku?” (Riku yang memang suka coklat seberapapun kurang). “Mau. Riku…. ini buat Riku” …. Aku bengong, sambil liat suamiku. Gen langsung peluk Kai, juga aku. “Anak baik”….
Lalu waktu mandi bersama Kai sesudah itu, aku tanya mengapa Kai kasih coklatnya ke Riku? Lalu dijawab, “Karena senang!”
“Oh Kai senang?”
“Riku kan senang”
“Oh maksud Kai, Kai senang kalau Riku, Mama dan Papa senang?”
“Iyaaaa……”

Ah, aku menghapus air mata lagi sambil memeluk Kai. “Mama juga senang kalau Kai senang”

Senangnya mempunyai anak yang percaya Tuhan dan senang menyenangkan orang lain. Semoga Kai yang sekarang berumur 4 tahun, bisa tetap mempunyai hati usia 4 tahun, meskipun dia berangsur menjadi besar dan dewasa. Dan aku merasa diingatkan oleh anakku sendiri.

Doa St Fransiskus dari Asisi:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami,
mencintai dari pada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

Serba Besar

Kalau sudah baca postinganku kemarin tentang Bengkuang Raksasa, hari ini aku mau memperlihatkan sebuah foto:

Lobak, Brokoli dan clip

Apanya yang besar sih? Dibandingkan dengan clip begitu aja kelihatannya semua biasa dan normal saja kan? Tapi….. coba kalau lihat foto berikut ini :

Lobak, Brokoli, Clip Raksasa dan clip biasa 😀

Bisa tahu kan bahwa memang lobaknya besar (panjang 50 cm), juga clipnya Raksasa :D. Lobak itu adalah jenis Lobak Nerima (Nerima nama daerah tempat tinggalku) yang dipanen oleh Riku hari ini. Biji lobak (daikon) ditanam sekitar bulan September dan baru tadi di panen. Daerahku memang terkenal dengan lobaknya.

Sedangkan paper clip raksasa itu aku beli di toko 100yen dekat rumah. Lucu juga melihat ada paper clip sebesar itu. Biasanya dipakai sebagai pembatas buku. Brokolinya aku beli dari petani sayuran tetanggaku. Setiap pagi ojiisan (kakek) itu menjual beberapa sayuran hasil kebunnya dengan harga sama semua, yaitu 100 yen.

Kebetulan tadi aku juga bercakap-cakap dengan Nique, dan dia tanya apakah Brokoli itu bisa dibekukan. Memang aku pernah menulis di sini, cara-cara menghemat tentang sayuran yang dimasukkan freezer.

Kalau sayuran membeli banyak? Kan pasti terbuang? Hmmm di musim panas sayuran murah sehingga bisa membeli banyak sekaligus. Misalnya brokoli dan bayam biasanya aku rebus sebentar (setengah matang) lalu masukkan dalam plastik untuk masukkan freezer. Ketimun, wortel, umbian  kalau banyak, aku simpan dibungkus koran sebelum masuk lemari es. Cara membungkus dengan koran aku dapati dari papa-mama di Jakarta, karena sayur bisa tahan lebih lama dalam koran daripada langsung taruh begitu saja di rak sayur lemari es. Kecuali ketimun yang memang lebih enak segar atau diacar, bisa juga direbus dulu setengah matang sebelum masuk freezer. (selanjutnya baca di sini ya)

Dan kebetulan beberapa hari yang lalu aku juga menonton TV yang memberitahukan bahwa brokoli itu mengeluarkan gas tertentu yang bisa membuat sayuran lain yang disimpan bersama jadi cepat busuk. Karena itu waktu menyimpan brokoli mentah harus dibungkus kertas/kitchen towel dulu lalu dibungkus plastik. Jangan terbuka. Sedangkan aku lebih suka merebus setengah matang, tiriskan lalu masukkan plastik untuk kemudian dimasukkan ke freezer. Dalam acara TV itu juga dikatakan bahwa vitamin yang terdapat dalam berbagai jenis jamur (shiitake dsb) akan lebih meningkat jika dimasukkan ke dalam freezer dulu.

Krismariana pernah menanyakan padaku sayur apa saja yang bisa dibekukan. Semua yang dijual frozen pasti bisa kan? Ada vegetable mix (brokoli, wortel, peas), kentang. Aku biasanya : bayam, toge, daun bawang iris, bumbu dapur potong yang sesuai keperluan (sereh, laos, jahe,temu kunci, daun salam, daun jeruk), jamur shiitake, jagung (biasanya pretelan atau yang sisa kaleng).

Tapi untuk daikon, di Jepang biasanya ada kebiasaan untuk menggantung daikon untuk dikeringkan. Daikon kering itu bisa dibuat acar, atau dipotong halus panjang-panjang yang lebih dikeringkan lagi. Waktu mau dimakan direndam ke air untuk mengembalikan ke bentuk semula (seperti kita merendam bihun deh). Ini adalah chie atau pengetahuan orang-orang yang hidup di negara salju.

Nah, aku sudah punya lobak raksasa, banyak persediaan sayur, yang sekarang kuperlukan hanyalah: freezer raksasa! hehehe.

clip raksasa di depan display 14 inchi 😀

Bengkuang Raksasa

Hari Selasa lalu aku kedatangan tamu. Akemi san adalah mantan muridku sampai dengan tahun 2004, tapi kami terus berhubungan sampai sekarang. Seperti kebanyakan warga Jepang yang tinggal di apartemen tapi hobi berkebun, dia menyewa sebidang ladang pemerintah yang memang dikhususkan untuk ladang warga. Biayanya rata-rata 3000-4000 yen (400.000 rupiah)  perbulan per petak. Dan tentu saja bisa menanam tanaman apa saja yang disuka, tapi biasanya tanaman buah/sayur/hias yang kecil-kecil. Aku sendiri tidak punya bakat berkebun, jadi tidak pernah terpikir untuk menyewa ladang.

Tahun ini Akemi san membawakanku kacang tanah mentah, labu siam dan buah umbi bengkuang (Bengkuang bukan buah loh), tapi hanya satu. Kupikir panennya gagal karena tahun lalu dia membawakanku 3 umbi. Kok tahun ini hanya satu. Tapiiiii setelah kubuka….. ampun deh ternyata bengkuangnya sebesar waluh!

Bengkuang raksasa (bandingkan dengan sambal botol) , bibit dari Indonesia memakai tanah Jepang, yang menanam orang Jepang dan yang makan orang Indonesia

Memang tidak manis seperti di Indonesia, tapi cukup berair, sehingga aku langsung makan dengan bumbu gado-gado (tidak sempat membuat bumbu rujak) . Bengkuang tidak dijual sama sekali di Jepang, karena tidak ada. Akemi san biasanya mendapatkan biji dari Indonesia dan kali ini rupanya bibit bengkuang raksasa! Pernah lihat bengkuang sebesar ini?

 

My Bookshelves – Bunkobon

Aku tidak begitu suka menulis review, ulasan buku yang sudah kubaca. Karena kupikir buku itu seharusnya semuanya bagus, tergantung dari kesukaan kita pada suatu topik. Seperti yang pernah kutulis, aku tidak suka membaca Harry Potter, tapi itu alasannya  karena aku tidak begitu suka fiksi yang terlalu melampaui batas pemikiran manusia. Tapi aku menonton filmnya loh (menemani Kai yang sangat suka menonton Harpot, Riku sedapat mungkin tidak mau menonton karena takut hehehe). Selain itu, aku tidak suka membaca buku yang berbau filsafat, kecuali jika itu merupakan tugas dari dosen. Ya, jika tugas kuliah tentu saja harus dibaca, kan? suka tidak suka.

Bunkobon yang sebelah kanan dibandingkan dengan buku biasa di sebelah kiri(kebetulan hard cover)

Dalam beberapa posting hari ini dan mendatang, aku ingin memperkenalkan buku-buku yang ada di dalam rak bukuku. Mungkin ini sedikit narsis, karena seakan memamerkan “harta”ku, tapi sekaligus ingin memperkenalkan sedikit cerita tentang buku, penulis, penerbitan di Jepang.

Bunkobon dengan cover sederhana + cover pelindung yang bergambar + obi (ban buku)

Di Jepang ada buku yang disebut sebagai bunkobon 文庫本. Semua bunkobon berukuran sama yaitu A6, 105mm×148mm. Dipelopori oleh penerbit Iwanami Bunko, bagian dari sebuah penerbit Iwanami Shoten, termasuk penerbit lama di Jepang (berdiri th 1913). Iwanami Bunko menerbitkan buku-buku dengan ukuran sama A6 ini untuk mempopulerkan buku klasik yang pernah diterbitkan dengan harga murah kepada masyarakat umum pada tahun 1927.  Tapi sesudah perang (1945) beberapa penerbit juga meramaikan penerbitan  bunkobon ini.  Buku bunkobon ini bisa disebut sama dengan paperback dalam bahasa Inggris (ukurannya sedikit lain), tapi bunkobon ini mempunyai cover pelindung tambahan yang tidak terdapat dalam paperback di negara lain.

Pencetakan cover disesuaikan dengan membuat ruang untuk meletakkkan obi (supaya tidak tertutup obi)

Ada satu lagi kebiasaan dalam penerbitan buku di Jepang yaitu “ban buku” hon no obi 本の帯 (obi sebenarnya artinya ikat pinggang – stagen yang dipasang di pinggang), yang dipasang diatas cover pelindung buku. Dalam obi ini dituliskan pesan sponsor, kata-kata memikat untuk memilih buku itu. Atau bisa juga berupa promosi dari film yang berkaitan dengan buku tersebut (seperti pamflet/flyer kecil). Atau obi tersebut bisa diberi warna, sesuai dengan kategori bukunya. Misalnya warna kuning adalah kategori sastra Jepang kuno, warna biru kategori science/pemikiran, warna hijau sastra Jepang, warna pink sastra luar negeri, dan warna putih social science.

Ada beberapa buku bunkobon baru dari Iwanami Bunko tanpa obi, tapi langsung dicetak langsung di cover dengan warna berbeda.

Keberadaan bunkobon ini juga yang membuat rak buku di Jepang bisa terlihat teratur. Besarnya sama, dan bisa dibuat lemari khusus yang kedalamannya tidak perlu terlalu dalam (16 cm).  Juga jarak antara papan juga sudah pasti. Tentu saja kalau semua bukunya bunkobon. Selain bunkobon, masih ada ukuran-ukuran lain misalnya dari buku-buku hardcover. Yang paling menyebalkan menyusun buku picture book karena besarnya tidak sama , kecuali dalam satu seri yang sama.

bunkobon dalam rak buku koleksi suamiku. Eeeh ada kaleng indomilk tuh, dia suka banget sih ngumpulin barang-barang Indonesia 😀

Bagaimana teman-teman mengatur buku-buku di rak buku? Apakah susunan buku dalam rak berdasarkan besar/kecil atau berdasarkan nama pengarang/kategori? Atau… tidak diatur? hehehe.

The Wizard of Oz

Hari ini ada Gakugeikai 学芸会 di sekolah Riku. Bahasa Indonesianya Pentas Seni. Kegiatan ini dilakukan setahun sekali pada bulan November/Desember. Dua tahun yang lalu berupa konser musik, sedangkan tahun lalu terpaksa dibatalkan karena ada wabah influenza di sekolah Riku. Tahun ini kelas 3 menampilkan sendratari The Wizard of Oz.

Sebetulnya aku baru tahu cerita The Wizard of Oz itu waktu kami pergi ke planetariun di Tama Rokuto Science Center. Bahwa seorang Dorothy diterbangkan angin ribut dan ingin kembali ke rumahnya. Cerita selanjutnya silakan baca di wikipedia ya.

Nah Riku mendapat peran Burung Gagak. Dari 12 burung gagak, dia mendapat peran menyebutkan satu kalimat :” Dia itu kan orang-orangan!”. Thats all. Cuma itu saja. Tapi latihannya sebulan lebih hehehe. Kostum mereka juga memakai bahan-bahan yang ada, dan dibuat sendiri oleh anak-anak. Riku memakai setelan atas bawah berwarna hitam, sayap dari plastik hitam dan topi karton berbentuk kepala burung. Bahkan tadi yang sempat aku kagumi pertunjukan dari kelas 5, tata lampu dan musik semua dikerjakan oleh murid. Hebat euy.

Riku berperan sebagai gagak

Karena papanya bekerja, hanya aku dan Kai yang menonton, sehingga tidak begitu banyak bisa mengambil foto, serta posisi duduknya juga tidak bagus. Tapi senang sekali bisa menyaksikan Riku pertama kali bermain drama begitu. Mulai kemarin dia sudah grogi dan antara mau dan tidak mau kami datang 😀 Maklum banget soalnya aku dulu begitu, tidak pernah bisa “manggung”. Waktu SMP dan SMA sih kalau disuruh manggung, aku selalu minta bagian belakang layar, eh depan layar karena bagian tata lampu 😀 Kadang aku sendiri heran dulu aku paling malu kalau di suruh berdiri di panggung, eh sekarang malah sering disuruh jadi MC hehehe.

Oh ya, sebagai penutup, aku ingin mengucapkan selamat Tahun Baru Muharam 1433H.

 

Santa + Minggu yang Sibuk

Minggu ini amat sibuk. Padahal hari Rabu tanggal 23 November ada hari libur loh. Ya, hari libur untuk menghargai buruh, kinrou kansha no hi 勤労感謝の日. Jadi semua libur. Tapi aku sudah mengayuh sepedaku pagi-pagi jam 7 pagi menuju Tsutaya, toko rental DVD. Kami harus mengembalikan DVD Pirates of Caribbean yang kami pinjam. Setelah memasukkan DVD itu ke dalam deposit box yang terdapat di depan toko, aku pulang. Hari itu kami tidak pergi ke mana-mana, benar-benar dara-dara (santai-santai) di rumah saja.

Eh, hari Kamisnya, pagi-pagi lagi, aku harus keluar rumah dalam dingin ke toko kombini (Circle K) dekat rumah untuk belanja buah! Jadi ceritanya si Riku harus membawa buah-buahan sebagai bahan menggambar. Aku memang tahu, tapi kapannya itu akan diberitahu kemudian oleh senseinya. Dasar Riku dia lupa memberitahukan aku sampai hari H nya. Untung toko kombini biasanya menjual jeruk atau pisang. Jadi deh mamanya pontang-panting cari buah sebelum dia berangkat ke sekolah. Kurasa yang seperti ini termasuk juga dalam “desk job”nya emak-emak!

Ternyata hari Jumat, hari ini berulang lagi deh kejadian pontang-panting di pagi hari. Bukan membeli sesuatu tapi membawakan kunci rumahnya Riku yang tertinggal di rumah. Setiap Kamis dan Jumat Riku harus masuk rumah sendiri sesudah pulang sekolah karena aku bekerja dan tidak bisa sampai di rumah waktu dia pulang. Jadi deh aku cepat-cepat mengantarkan kunci itu ke SD nya Riku sebelum mengantar Kai ke TK. Pagi-pagi udah buru-buru deh.

Sesudah selesai mengajar aku berbelanja di Kichijoji. Aku suka belanja daging di toko daging yang berada di situ karena murah. Nah hari ini aku baru sadar mengenai satu hal. Jadi kalau kami membeli daging/ayam kami menyebutkan jumlah gram yang diinginkan lalu dibungkuskan oleh petugas. Nah setelah daging itu dimasukkan ke plastik, mereka pasti membungkusnya lagi dengan kertas. Tadi itu ada ibu yang tiba-tiba berkata, tidak usah pakai kertas. Kupikir itu karena dia mau cepat-cepat saja. Tapi….. aku jadi berpikir juga, untuk apa fungsinya dibungkus kertas lagi, toh sudah dalam plastik. Kan bisa saja tempelkan harga di atas plastik. Hmmm…. jadi waktu giliranku, aku tanya pada petugas, kenapa sih musti dibungkus kertas lagi? Lalu jawabnya: “Ya supaya tangan pembeli tidak kotor”. Memang kadang plastik saja tidak menjamin tidak bocor. Jika bocor maka darah/cairan akan mengotori tas/ tangan pembeli. Dengan adanya kertas itu maka paling sedikit darah/cairan itu akan terserap dulu di kertas, sebelum mengotori tas/tangan pembeli. Hmmm satu lagi layanan penjualan ramah pasar Jepang, tapi belum tentu ramah lingkungan karena berarti menambah sampah kertas.

bungkusan plastik daging, masih dilapisi kertas lagi

Selesai belanja aku pulang naik bus, dan di dalam bus itu aku mendengar percakapan menarik dari dua anak SD berdiri dekatku :
“Santa Claus ada berapa orang ya? Kalau sakit gimana?”
” Pasti ada dua! Lalu bagi tugas negara ini Santa A yg itu Santa B. Kan ada 25 Negara!”
” Loh kan ada perbedaan waktu di setiap negara! Jadi sendiri juga bisa.”
geli juga mendengar pemikiran mereka tentang Santa Claus. Riku sendiri selalu bicara begini:
“Mama, Natal kali ini aku minta Santa Claus lego paket yang ini. Dari mama dan papa, lego paket yang ini…..”
Kemudian aku tanya
“Memangnya Riku percaya Santa Claus itu ada?”
“Eh? Kan Santa Claus itu orang tua kita sendiri”
“Kalau tau begitu, kenapa kok ada permintaan pada Santa Claus paket ini, dan mama papa paket ini? Itu kan berarti dua-duanya mama musti beli?”
“hehehehe” sambil tertawa culas. Duuuuuuuh “%#%$&%”&))’

Untung Kai masih belum mengerti soal Santa Claus, dan menggunakannya sebagai tameng minta hadiah yang banyak hihihi.

Ahhhh… aku juga mau minta hadiah pada Santa Claus ahhhhhh…. Apa ya? Rumah aja deh 😀

Seribu Yen

“Yah kok seribu yen? Inginnya sih 10.000 yen…. Eh tapi bercanda saja kok, Karena uang seribu-an itu lebih sering dipakai masyarakat kan? Dan saya satu-satunya ilmuwan yang gambarnya diabadikan pada uang kertas. Saya merasa tersanjung” demikian kata “robot” Noguchi Hideyo di Museum Noguchi, Aizu Wakamatsu.

 

Robot Noguchi Hedeyo, di lantai 2 museum. Matanya berkedip loh

Masih ingat tulisanku yang “Antara Pahlawan dan Uang”?  Aku menceritakan tentang Noguchi Hideyo yang berulang tahun tanggal 9 November, salah satu “pahlawan” Jepang yang wajahnya diabadikan dalam uang kertas 1000 yen. Karena mau menulis tentang Noguchi ini, aku sempat browsing dan mencari keterangan tentang dia.

Noguchi lahir dengan nama Seisaku (Noguchi adalah nama keluarga). Dia lahir di sebuah desa di Inawashiro, Fukushima. Waktu berusia 1,5 tahun dia jatuh ke perapian sehingga tangan kirinya luka parah sampai “jari-jari tangan kirinya habis”, dan tidak bisa disembuhkan karena tidak ada dokter. Baru waktu masuk SD, berkat bantuan guru dan teman-temannya, Noguchi menjalani operasi yang dapat menyembuhkannya sampai 70%. Kemudian dia bercita-cita menjadi dokter untuk membantu mereka yang membutuhkan, dan belajar di bawah dokter Watanabe Kanae yang mengoperasinya. Dia belajar di Nihon Ika Daigaku dan tahun 1897 dalam usia 20 dia boleh berpraktek sebagai dokter. Tahun 1898 dia mengganti namanya dari Seisaku menjadi Hideyo, hanya karena membaca sebuah novel tentang dokter yang kebetulan namanya sama, dan dalam cerita itu dokter Seisaku memang pandai tapi kemudian menjadi malas dan menghancuri kehidupannya sendiri.

Karena itu waktu Gen mengajak kami pergi ke Museum Noguchi Hideyo di Aizu Wakamatsu, aku setuju sekali, dan ingin mengetahui lebih dalam mengenai Noguchi Hideyo, dan tentu saja supaya bisa kutuliskan di TE.

Setelah dari Tsurugajo Castle, kami menuju Inawashiro, sebuah danau yang cukup besar, nomor 4 terbesar di Jepang. Luasnya 103,32 km persegi dan kedalamannya 93 meter. Transparansi airnya mencapai angka 12-15. Terasa sekali udaranya lebih dingin daripada waktu di Tsurugajo Castle. Mungkin karena merupakan dataran yang luas, sehingga angin bertiup lebih terasa. Benar-benar dibuat menggigil. Yang pasti penunjuk temperatur di jalan tol menunjukkan 12 derajat + angin. Padahal aku tidak bawa jacket tebal… hiks.

Danau Inawashiro di kejauhan... brrr deh

Kami memang tidak sempat mampir di danaunya. Cuaca yang berubah-ubah juga tidak mendukung, dan kami ingin cepat-cepat masuk museum sebelum tutup. Kami juga belum makan siang karena salah jam waktu makan pagi, yaitu jam 11 di Tsurugajo Castle.

Museum Noguchi Hedeyo ini terletak di dekat beberapa tempat wisata. Dari luar terlihat kecil tapi waktu masuk…. kami bisa masuk ke halaman sebuah rumah yang cukup besar. Rumah tempat kelahiran Noguchi Hideyo. Di salah satu ruangan, diputar film sejarah hidup Noguchi Hideyo sepanjang 6 menit, tentu saja dengan kejadian dramatis, waktu Noguchi bayi jatuh ke perapian. Untung saja ada video ini, sehingga aku bisa lebih mengerti jalan ceritanya. Termasuk ketika teman-teman dan guru SD Noguchi saweran uang untuk membiayai operasi tangan Noguchi. Juga perjuangannya berjalan sejauh 12 km untuk bisa pergi ke SMP. Latar belakang ekonomi ini yang membuat Noguchi ingin mengabdi sebagai dokter.

Rumah asli Noguchi. Dia dilahirkan di sini.

Setelah melihat rumah asli, tapi sudah direnovasi dengan ditambahkannya  atap besi yang melindungi atap dari salju, kami menuju jalan keluar yang merupakan rumah tambahan berisi diorama dokumen, barang-barang bersejarah dan cerita kehidupan Noguchi Hideyo. Dari situ aku juga tahu bahwa Noguchi Hideyo yang menjadikanNew York,  Amerika sebagai base studi dan penelitiannya menikah dengan Mary Darziz, seorang keturunan Irlandia yang tinggal di New York, dan mereka tidak mempunyai anak.

 

Ternyata tinggi badan Noguchi Hideyo hanya sekitar 150-an loh

Yang menarik di lantai 2 museum itu terdapat robot mirip Noguchi. Dan jika menekan sebuah tombol, akan keluar suara Noguchi mengenai suatu pertanyaan. Yang aku kurang teliti apakah benar itu suara Noguchi atau bukan. Tapi robotnya benar mirip dan yang mengagumkan,  kelopak matanya berkedip   sehingga menambah suasana real.

Kami tidak membeli apa-apa di museum ini, karena tidak ada yang menarik. Dan setelah dari museum ini kami makan di sebuah rumah makan di samping museum, yang menyajikan masakan dari daerah tersebut. Gen memesan satu set soba, dengan tempura natto dan bunga. Tempura bunga? Ya bunga krisan besar berwarna kuning diberi adonan tempura dan digoreng. rasanya? Tak ada rasa, karena itu makan dengan kecap asin.

Soba dengan tempura natto dan bunga, sebelah kiri kue mamadoru oleh-oleh terkenal dari sini.

Kami meninggalkan Aizu Wakamatsu pukul 4:30 sore, sesuai perkiraan yang jam 5, karena perjalanan pulang masih jauh! dan kami sempat terkena macet. Kami sampai di rumah di Tokyo pukul 10 malam. Satu hari yang panjang dan melelahkan, tapi puas karena bermanfaat.

 

Rahasia Arrietty

Meskipun aku bukan fans film, aku penyuka film-film dari Studio Ghibli, pembuat film animasi. Tapi di blog  TE ini aku baru menulis tentang Ponyo. Padahal banyak sekali yang aku suka loh, seperti Totoro Howl dan Majo no Takkyubin (Kiki Delivery Service).

Akhir pekan lalu kami meminjam DVD yang berjudul Karigurashi no Arrietty, yang kalau diterjemahkan menjadi The Borrower Arrietty atau The Secret World of Arrietty. Ini merupakan film terbaru dari Ghibli, yang diputar di bioskop musim panas tahun 2010 lalu.

poster film Ghibli: Karigurashi no Arrietty

Film ini dibuat berdasarkan novel dari Mary Norton yang berjudul “The Borrower” yang mendapatkan Carnegie Medal tahun 1953.  Rupanya Miyazaki Hayao memendam obsesi untuk membuat film animasi ini selama 40 tahun, dan akhirnya bisa selesai tahun lalu. Seperti Ponyo, warna-warna yang dipakai dalam film ini memang kaya dan penuh detil-detil yang mengagumkan untuk film animasi. Jika ada kesempatan menonton, coba perhatikan tetes hujan yang begitu real. Cuma aku merasa karakter manusia yang keluar dalam film-film Ghibli ini hampir sama semua mukanya. Ya memang sulit untuk menciptakan perbedaan yang mencolok dalam wajah wanita dan pria dalam film animasi. Yang pasti mata mereka besar dan bagus, seperti idaman semua orang Jepang untuk memiliki mata yang besar dan bagus.

Cerita dimulai dengan kedatangan pemuda Sho ke rumah tante ibunya (selanjutnya aku sebut Sadako) . Kabarnya setting rumah ini di Koganei, daerah barat Tokyo, yang cukup dekat dengan rumahku. Sho menderita penyakit jantung bawaan dan akan dioperasi. Orangtuanya sudah bercerai, dan ibunya adalah seorang diplomat yang sering pergi ke luar negeri. Bagi Sho, hubungan keluarga sangat tipis dan dia merasa dia akan mati dalam operasi nantinya. Waktu Sho datang, dia melihat kucingnya mengejar sesuatu, dan dia merasa seperti melihat seorang  “mini” yang mungkin hanya setinggi 10 cm. Sho sering mendengar dari ibunya bahwa di rumah itu, rumah tempat ibunya dibesarkan, terdapat manusia kecil seperti liliput.

Arrietty tinggal di bawah lantai rumah nenek Sadako, bersama ibu dan bapaknya. Ibunya bernama Homily dan bapaknya bernama Tod. Waktu Sho datang, Arrietty sedang mencari dedaunan dan bunga untuk ibunya. Mereka adalah “borrower” karigurashi, yang “meminjam” barang-barang dan makanan dari manusia untuk bertahan hidup. Padahal menurut manusia, mereka adalah “pengambil” titik. Nah malam itu Arrietty ikut dengan bapaknya untuk “berburu” makanan dan barang. Homily minta mereka mengambilkan gula cube dan tissue. Bagi seorang liliput yang hanya setinggi 10 cm, perjalanan mengambil barang-barang itu merupakan petualangan yang berbahaya. Kecoak menjadi binatang yang berbahaya buat mereka.

Setelah berhasil mengambil gula cube,  mereka mengambil tissue yang berada di atas meja sebelah tempat tidur Sho. Sho terbangun dan melihat Arrietty. Mereka bertatapan, dan Arrietty menjatuhkan gula waktu melarikan diri bersama bapaknya. Ya, keberadaan mereka tidak boleh diketahui manusia. Begitu ada manusia yang tahu, mereka harus pindah rumah. Padahal Sho hanya ingin berteman dengan Arrietty dan membuktikan cerita ibunya tentang liliput ini. Sho juga iri pada Arrietty yang tinggal bersama kedua orang tuanya.

Tetapi di rumah itu selain Sadako, tinggal juga seorang pembantu bernama Haru, yang ingin sekali menangkap liliput ini. Dia berhasil menangkap Homily dan memanggil “pasukan” pembasmi tikus. Sho membantu Arrietty membebaskan ibunya yang ditaruh dalam stoples dalam gudang.

Perpisahan Sho dan Arrietty mengharukan tapi menjadikan titik awal kehidupan mereka yang baru. Sho bersemangat untuk sembuh, sedangkan Arrietty bersama keluarganya pindah ke tempat yang baru. Durasi film ini 94 menit, tapi dari segi isi cerita aku merasa ada yang kurang, terasa biasa saja. Tapi tentu saja aku menikmati gambar dan warna yang bagus, bagaikan di surga (ntah surga seperti itu atau bukan hehehe). Silakan menilai sendiri film ini jika ada kesempatan untuk menontonnya.

Kamar Arrietty yang berada di bawah lantai rumah manusia. Warnanya keren kan...

Allt Gott

Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris artinya “All Good”. Semuanya bagus (enak). Pantas sebagai nama sebuah restoran Swedish yang berada di Kichijoji. Masakan Swedish itu seperti apa sih?

Terus terang aku tidak begitu tahu tentang negara Swedish, kecuali imagenya tentang salmon! Dan memang ada salmon marinate yang terhidang sebagai hidangan pembuka atau appetizer (hors d’ouvres atau bahasa swedishnya :  förrätt) . Lainnya? ada satu yaitu IKEA (dan kalau ingat IKEA pasti aku ingat si tukangnyampah yang pecandu IKEA sekali). Selain itu? Hmmm ternyata pas aku cari keterangan mengenai negara Swedia ini aku menemukan beberapa kata yang akrab di telingaku yaitu : Volvo, Ericsson, dan Electrolux. Kenal? 😀

Aku, Whita, Nesta dan Lisa, berkumpul di depan Atre Kichijoji dan sempat-sempatnya berfoto di depan hiasan Natal yang ada. Tentu saja banyak orang Jepang yang lewat dan berpikir “Aduh ini gaijin (orang asing) masak gitu aja difoto!” hihihi.

Empat ibu-ibu Indonesia di Tokyo narsis depan hiasan natal 😀

Kami berjalan sekitar 7 menit ke arah belakang  Tokyu melewati beberapa toko dan restoran yang menarik. Memang Kichijoji adalah daerah yang penuh dengan fashion dan restoran enak, yang harganya terjangkau, jauh jika dibandingkan dengan Ginza. Tapi aku suka kota ini.

Restoran Allt Gott berada di lantai 2. Kecil, hanya bisa menampung 20 orang-an. Untung aku sudah pesan tempat sejak hari Jumat, kalau tidak kami tidak akan bisa makan siang di situ. Kami memesan course menu seharga 2600 yen, dengan main dish steak anak sapi (veal) untuk aku, Lisa dan Nesta, sedangkan Whita memilih steak ikan Kakap. Selain salmon marinate, ikan nissin goreng dengan saus khas dan penne ditaburi flakes ikan, entree paling awal adalah udang rebus ala skandinavia. Supnya adalah sup kabu atau turnip (lobak bulat) yang sangat enak. Aku masih ingat kata-kata Lisa “Iya ini enak karena dimasakin dan sedikit jumlahnya. Coba kalau kita buat sendiri, sama enaknya mungkin tapi kita akan membuat satu panci sendiri, dan akan blenek kebanyakan makan sup” hihihi ada-ada saja si Lisa. Lisa memang paling pandai masak di antara kami berempat!

Sebagai penutup kami mendapat satu piring berisi maroon pie yang sangat lembut, serta framboisse glaze (serbet rasa strawberry) dengan kopi atau teh. Secara keseluruhan masakan Swedish ini cukup enak dan yang pasti halal. Waktu aku menanyakan pada pelayan soal ada tidaknya kandungan babi, dia langsung menanyakan langsung kepada chef, yang kemudian dijawab, sama sekali tidak memakai babi. Aku juga suka dengan servis pelayan di sini yang amat ramah.

Oh ya ada satu lagi yang belum tertulis yaitu course menu ini memang tidak ada nasinya, tapi kami mendapat roti ala swedish dan knäckebröd semacam cracker terbuat dari gandum yang keras, khas swedish. Untuk roti memang aku lebih suka roti perancis yang rasanya lebih lembut di mulut daripada roti swedish. Meskipun cuma roti dan cracker, dijamin perut akan kenyang! (kecuali bagi mereka yang perutnya jawa, belum merasa makan kalau belum makan nasi :D)

Dengan wiskul hari ini, aku bisa menambah daftar masakan negara-negara dunia yang pernah kucoba. Roma, Ghana, Turki, Perancis, Jerman, Belanda, Vietnam, Kamboja, dll. Sayang waktu dulu aku belum ngeblog dan belum ada kamera digital. Kalau sudah, mungkin bisa menyaingi Jalansuteranya pak Bondan deh. hehehe.

Next destination adalah masakan Rusia. Gen ingin mengajakku makan di situ tapi belum ketemu waktu yang pas, karena sudah pasti tidak bisa ajak anak-anak. Soalnya di situ pasti ada vodka! 😀

 

Info restoran:
Allt Gott
0422-21-2338
Kichijoji / Swedish
Kichijoji Honcho 2-28-1, Shibata Bldg. 2F. [walking from the station, turn left at the street just past Tokyu department store – it’s called Taisho-dori – and walk about 250 meters or around 4 blocks; Allt Gott is on the right-hand side] Open 11:30am-2, 6-9:30pm. Closed Mondays.