Arsip Bulanan: September 2011

Universal dan Kampung Daun

Setelah dari Saung Udjo (15 Agustus 2011), kami cek in dulu di hotel, takut nanti kemalaman dan kamarnya batal. Padahal sih kalau pesan di agoda.com itu sudah pasti ada kamarnya, karena langsung dicharge 100% dari credit card. Mungkin dengan menelepon saja juga bisa, tapi tetap rasanya kok kurang sreg. Aku pun harus mengatur penginapan untuk sang supir kan?

Jadi kami menyusuri jalan menanjak ke Lembang, dan di kiri kanan jalan banyak restoran dan toko yang asyik-asyik. But, no F.O. for me deh, aku tidak suka belanja baju sih hehehe. Dan saat itu aku melihat papan iklannya Kampung Daun. Yes! dinner di sini saja. Aku belum pernah ke Kampung Daun, meskipun awalnya aku ingin mengajak Gen ke The Valley. Rutenya beda lagi sih.

Agak sulit menemukan Hotel GH Universal (Jl Setiabudi 376)  ini, karena letaknya pas di belokan di kanan jalan dan di sebelah sebuah hotel yang memang besar juga. Jadi kami kelewatan dan musti u-turn kembali menurun. Wah…. memang hotel yang disarankan oleh temanku Wida ini memang keren! Masuk gerbang saja, kita sudah merasa masuk ke kompleks…. PURI yang mistis…. Semestinya kami naik kereta kuda nih, bukannya naik CRV hahaha. Memang hotel ini mengambil arsitek seperti puri-puri di Eropa.

Turun dari mobil memasuki lobby langsung disambut oleh kolam air mancur ala romawi … dan terlihat sofa-sofa model chesterfield yang terbuat dari kulit, dan tirai-tirai beludru berwarna merah. Hmmm aku sempat berpikir, pasti berdebu deh…maklum aku tuh kan alergi debu… eh tapi ngga juga tuh ternyata waktu aku duduk di lobby pagi harinya. Bersih…cling! Aku kemudian ke meja resepsionis di sebelah kiri. Petugas resepsionisnya laki-laki dan ramah. Tapi waktu aku menanyakan soal extra bed, rupanya mereka belum memasangnya, dan mohon maaf akan memasang sesegera mungkin. Bagiku tidak masalah karena aku toh akan keluar makan malam. Untuk extra bed aku harus membayar 300 ribu, tapi ternyata sudah termasuk pembayaran waktu aku pesan online. Dan satu lagi, ternyata mereka tidak mempunyai kamar untuk supir. Mereka sarankan untuk mengambil kamar supir di hotel sebelahnya. Tapi setelah aku rundingkan dengan Danny, lebih baik supirku ikut Danny dan menginap di hotel melati yang ada di sekitar rumah Danny. Bagus juga ide itu.

Kami menuju ke kamar yang terletak di lantai 4, dengan menaiki lift satu-satunya yang ada di samping kanan meja resepsionis. Oh ya di samping meja resepsionis ada lampu-lampu kristal, dan yang menarik pasti ada kristal berwarna merahnya. Ini ternyata juga menarik bagi Ira Wibowo, yang mengatakan justru kristal merah itu membuat tidak bosen… hmmm. Unik memang. Wah… sesampai di lantai 4, kami cukup dibawa putar-putar untuk bisa sampai di kamar kami. Tapi… begitu buka pintu kamar, aku tahu bahwa aku tidak salah pilih hotel. Sebetulnya ada 2 hotel yang kupertimbangkan waktu itu. Gen, sukanya hotel yang bernuansa etnis… yang endonesah banget. kalau bisa kamarnya dari bambu! Memang aku pernah melihat website Kampung Sampireun yang kabarnya untuk masuk kamar harus naik perahu dulu… tapi letaknya jauh dan hanya ada itu saja. Sayang waktunya. Kalau di Bandung ada hotel yang bernama hotel Jadul, lihat dari websitenya sih seperti kamar-kamar di Bali dengan nuansa etnis. Harganya lebih mahal sedikit dari universal. Kalau aku sendiri? Aku suka arsitekturEropa, jadi aku ingin menginap di Universal ini. Waktu mau pesan hotel, aku sih sudah menyerahkan pemilihan hotel pada Gen, maunya di Jadul atau di Universal. Lalu kata Gen, “Memang etnis sih, tapi kok kesannya dibuat-buat etnisnya. Udah di tempat pilihan kamu aja!” Cihuuuy deh (Makasih ya Gen, aku tahu kamu ngalah hehehe. Kalau mau etnis yang alami ya musti tinggal di kampung-kampung atuh, bukan di hotel :D)

Hotel Universal : kamar dan teras

Kamar dengan tempat tidur King Size lalu ada sofa yang cukup besar di sebelah kanan. Sayangnya kamar mandinya bukan bath tub, hanya shower saja. Sepertinya sekarang trend hotel baru, tidak memasang bathtub dalam kamar mandi. Padahal tarifnya cukup mahal loh. (Kalau mau yang pakai bathtub di hotel ini musti pesan Suite Room, yang tentu harganya juga suit suit dehhh… Setelah kami menaruh tas, tak lama petugas hotel datang untuk memasang extra bed. Untung aku pesan kamar yang cukup luas sehingga meskipun dipasang extra bed, tidak menghalangi jalan kami. Kamar itu cukup lega untuk 4 orang! Extra bed itu untuk Riku, soalnya dia paling lasak kalau tidur 😀

Nah, kami masih wara wiri dalam kamar, Gen mau merokok sehingga dia buka pintu ke teras luar. Dan dia langsung memanggil kami untuk melihat pemandangan di luar. Wow, pemandangan dari kamar kami memang  fabulous! magnificent! Rasanya bukan di Indonesia! Untung kami sempat melihat keluar sehingga bisa melihat hotel ini waktu malam. Karena tentu saja pemandangan waktu malam dan siang akan berbeda.

Karena sudah lapar dan Danny menunggu di bawah, kami cepat-cepat turun untuk pergi makan malam. Ke Kampung Daun ( Jalan Sersan Bajuri KM 47 No.88, Lembang, Bandung) , berarti menuruni jalan yang sama. Begitu sampai ke papan iklan yang besar, kami belok kanan. Katanya sih 4 km, tapi perasaan kok jauuuuh sekali. Mungkin karena malam, sepi… sampai aku pikir kok mau-maunya orang ke restoran yang sejauh ini? Tapi kata Danny, waktu restoran ini masih baru, orang-orang rela antri dalam mobil sepanjang jalan loh. Semoga kami tidak perlu antri. Aku sebetulnya sudah telepon untuk pesan tempat jam 7 malam, tapi oleh pihak restoran dipersilahkan datang langsung (tidak menerima reservasi). Mungkin karena hari Senin ya, jadi dianggap hari sepi.

Sepi? hmmm begitu kami sampai pukul 7:30, kami masih harus menunggu 30 menit lagi sodara-sodara! Waduh… udah lapar gini, dan mau pindha restoran lain juga jauh… Terpaksa deh kami tunggu. Tapi belum sampai 30 menit, waktu kami berjalan-jalan di sekeliling tempat souvenir, kami sudah dipanggil. Dan kami menuju “saung” atau “dangau” kami, yang kebetulan letaknya dekat air terjun. Masuk ke kompleks dangau-dangau itu saja lewat pintu masuk dengan api-api lilin. Serasa di karibia deh hihihi. Karena malam jadi etnis sekali, dan suamiku tentu senaaaaang sekali (eh bener senang kan pa?)

Makan malam di Kampung Daun

Kami duduk di semacam dangau itu dan cepat-cepat memesan makanan. Apa saja deh pokoknya lapaaar dan DINGIN! Ingat ya… kalau ke sini, ke restoran Kampung Daun waktu malam, bawa jaket deh. Apalagi kalau lapar pasti tambah dingin kan. Karena takut mereka masaknya lama, segala jenis makanan aku pesan. Soalnya pesannya saja musti pakai manggil dengan kentongan hahaha. Dari sate, ayam kremes, tempe mendoan, tahu goreng sampai sup buntut bakar. Dooh kayak ngga makan seminggu aja. Dan kamu tahu masakan apa yang paling cepat datang? Tempe mendoan dan tahu goreng! hahaha (Tapi tempenya di sini terlalu banyak minyak. Karena lapar aja, cepat-cepat dihabisin. Mendoannya enakan buatan mbak Win, asisten di rumah hehehe)

Suasana remang-remang, dangau, dingin, romantis, makanan enak, suara gemercik air terjun, api-api obor, suara kentongan, udah gitu dilengkapi bantal-bantal untuk sandaran duduk….. kalau kenyang bisa tinggal tidur hihihi. Akhirnya kami pulang ke hotel Universal hampir jam 10 malam. Sssst tempat tidur di hotelnya empuk loh! (Eh tapi aku terbangun jam 2 pagi dan menulis kerjaan 4 halaman loh. hebat yah 😀 mumpung ada ide gitu. Jam 5 Kai bangun dan memaksa aku tidur di sebelahnya :D)

Berfoto di pagi hari sebelum cek out

Keesokan paginya kami sempat berfoto-foto di halaman dan lobby, serta makan pagi di restorannya. Lumayan banyak ragam makanan di sini, tapi tentu saja aku dan Gen tidak gubris breakfast ala Eropa. Kami pilih bubur/soto dan Gen nasi kuning!

Sarapan kami pagi itu....

Kami juga sempat naik ke tingkat paling atas, ternyata di situ ada semacam perosotan untuk anak-anak berbentuk seperti menara Rapunzel. Lucu juga. Yang aku perhatikan seluruh detil hotel memang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Memang sih masih baru, tapi terlihat dari dekat pun detil bangunan cukup bagus. Misalnya air mancur biasanya kelihatan kalau duplikat kan buatannya kasar, tapi ini lumayan halus buatannya. Yang aku sayangkan adanya spanduk reklame dari salah satu provider telepon seluler yang dipakai sebagai penutup pembangunan sebagian lantai 5. Merusak pemandangan jadinya. Satu lagi, jika kita naik di lantai 5, bisa melihat perumahan dengan atap seng persis di sebelah kompleks hotel. Kesenjangan itu juga menyadarkan kami bahwa ini di Indonesia, tepatnya Bandung.

Sekitar pukul setengah 11 pagi, kami cek out hotel, dan menuju tujuan kami berikutnya: Taman Kupu-kupu Cihanjuang.

 

Berfoto di lantai 5 dengan latar belakang kamar kami di kejauhan (tirai yang terbuka sedikit)

Saung Udjo

Masih ingin menulis sisa-sisa cerita waktu mudik kemarin. Seperti telah aku tulis di “Makanan Terlezat Sedunia“, suamiku Gen datang ke Jakarta tanggal 14 Agustus. Aku dan Kai menjemput di bandara, dan menghabiskan malam pertama di Jakarta dengan ngobrol bersama mama dan papaku di rumah. Esok harinya pukul 11 kami berangkat ke Bandung, yang memang sudah aku rencanakan karena Gen belum pernah ke Bandung. Sebetulnya ingin sekali ke Jogja tapi rasanya 5 hari libur habis di jalan, jika kita pergi ke Jogja. Next time deh.

Tujuan pertama di Bandung adalah Saung Angklung Ujo. Aku belum pernah ke sana, dan aku ingin mengenalkan angklung kepada anak-anakku. Jadi aku kontak D.M. lurahnya Bandung waktu kami mendekati pintu keluar tol Bandung. Maklum kami tidak tahu jalan di Bandung. Tapi waktu itu kami sudah lapar. Mau cari makan sendiri saja, karena D.M. puasa. Jadi aku minta dipandu lewat telepon untuk pergi ke Batagor Kingsley (Jl Veteran No 25. Tel 022-420-7014).

Batagor Kingsley... ternyata hanya sebuah kios sederhana di emper rumah kuno.

Ya aku sering mendengar namanya, dan baru pertama kali ke situ. Setelah parkir di kiri jalan Veteran, kami masuk ke restoran yang merupakan tenda sambungan dari rumah kuno. Di rumahnya sendiri terdapat toko oleh-oleh berbagai macam makanan kecil. Ingin sekali melongok dan belanja, tapi waktu itu kupikir sudahlah nanti pulangnya saja. Ntah mudik kali ini aku malas sekali membeli souvenir atau oleh-oleh.

Kami coba makan batagor goreng dan mie bakso/yaminnya. Sayangnya Kai yang biasanya suka makan mie, saat itu (sebetulnya sudah sejak hari sebelumnya) demam, naik turun. Aku sempat waswas juga  apakah aku harus membatalkan rencana ke Bandung. Tapi ya begitu karena naik turun tidak stabil, dan dia masih kuat, tancap terus jalan ke Bandung. Dan pas waktu makan itu, dia malas makan. Aku kasih obat dan biarkan dia tidur dalam pelukanku. Batagor Kingsley enaaak (sayang porsinya kecil, tidak seperti kalau kita pesan siomay)! Rasanya ingin bungkus bawa pulang, tapi kalau ingat repotnya, jadi malas. Katanya sih bisa juga dipesan, dan diambil keesokan harinya pas pulang. Tapi takut ah kalau tidak ada waktu untuk kembali.

Oh ya satu hal yang sempat aku perhatikan di sini, adanya seorang pengamen yang keren sekali nyanyinya.  Lagu-lagu jazz! Dia bermain di depan pintu masuknya, dan menerima “tanda kasih” dari pelanggan yang keluar pulang. Kalau nyanyinya bagus begitu, memang tidak rugi rasanya memberikan tip kepadanya.

Setelah makan, aku menghubungi D.M. lagi untuk menanyakan jalan ke Saung Udjo. Eh tahu-tahu dia minta dijemput di tengah jalan menuju ke Saung Udjo. Untung saja Danny ikut, karena ternyata jalannya cukup jauh dan rumit! Kalau dia hanya pandu seperti GPS, pasti aku tidak akan sampai ke sana hehehe. Jadi dengan satu mobil kami menuju ke Saung Udjo ( Jl. Padasuka no. 118 Bandung, Telp. (022) 727 1714) .

Waktu kami sampai, di lapangan parkirnya yang luas, tidak terlalu banyak mobil atau bus yang sedang parkir. Karena sepi kami takut juga jika sudah tidak ada pertunjukan. Ternyata kami masih keburu mengikuti rangkaian pertunjukan yang baru mulai (Pertunjukan sore mulai jam 15:30 – 17:30). Tamunya kebanyakan wisatawan Eropa dan Korea. Dengan membayar sekian rupiah  (lupa berapa hahaha, tapi dari keterangan di internet sih  harga tiket masuk pertunjukkan sebesar Rp 35.000 untuk anak-anak, Rp 50.000 untuk WNI (dewasa) dan Rp 80.000 untuk tamu asing), kami diberi kalung angklung sebagai semacam tanda masuk untuk menikmati pertunjukan tari dan musik yang dikemas dengan bagus selama 2 jam.

Pertunjukan musik dan angklung + tarian

Pembawa acara memandu dalam bahasa Inggris dan memperkenalkan kesenian yang ditampilkan. Ah, kalian harus berada di sana untuk mendengarkan rangkaian nada dari alat musik khas Jawa Barat itu. Seperti yang sudah aku tulis di Who Am I, waktu SD aku pernah ikut exkul angklung, sehingga terbiasa dengan musik ini. Dan waktu mendengar pagelaran ini aku bernostalgia sekaligus menerawang hidupku di perantauan. Tak disadari airmata mengalir di pipi. Aku bangga sebagai orang Indonesia!

Mencoba bermain angklung

Bagian yang paling menarik sebetulnya adalah kesempatan para penonton memegang, memainkan angklung dan dengan mengikuti tanda-tanda dari dirigen (pewarisnya Mang Udjo yang sudah meninggal) . Meksipun instant, para penonton bisa memainkan satu lagu hanya dengan mengikuti tanda-tanda dari dirigen. Dan selama pertunjukan dua jam itu, aku memperhatikan Kai yang terlihat lebih menaruh perhatian pada musik dibanding kakaknya. Aku juga membiarkan Riku memakai kamera DSLR membidik pemain-pemain di panggung.

Setelah melihat-lihat souvenir yang ada, kami meninggalkan Saung Udjo sekitar pukul setengah 6 sore untuk makan malam dan check in ke hotel kami.

Seribu, 12 dan 19

Kemarin, Jumat tanggal 23 September adalah hari libur di Jepang, Equinox Day yang menyatakan awal musim gugur di Jepang. Pada hari Equinox itu panjangnya siang dan malam sama panjangnya. Tapi di Jepang, hari Equinox juga disebut dengan HIGAN, saat untuk “nyekar” di makam keluarga. Dan sudah menjadi pengetahuan umum di Jepang bahwa “atsusamo samusamo higan made” (panas dingin sampai Higan), jadi panasnya musim panas akan berhenti pada hari Higan, dan sebaliknya dinginnya musim dingin akan berhenti pada hari Higan yang jatuh bulan Maret. Dan memang sejak tanggal 22 sejuk pada pagi hari, tapi siangnya masih lumayan tidak sejuk. Tapi kemarin tgl 23…sejuk seharian.

Tapi kemarin aku tidak libur. Justru hari itu aku mulai mengajar di Universitas S. Sebelumnya Gen berpikir untuk mengantarku ke kampus naik mobil, lalu pergi ke kebun binatang. Kai ingin melihat panda. Tapi, di kebun binatang dekat kampus tidak ada pandanya. Yang ada pandanya hanya di kebun binatang Ueno (dan sulit untuk naik mobil ke sana). Jadi kami naik bus dan kereta bersama, kemudian berpisah di stasiun Takadanobaba. Gen, Riku dan Kai pergi ke Ueno, mengejar tour dengan guide mulai pukul 11. Kata Gen, guidenya membawakan tour dengan menarik, sehingga banyak pelajaran yang bisa diketahui. Misalnya Kirin (Jerapah) selain lehernya panjang untuk mencapai daun-daun di pohon, dia juga mempunyai lidah yang panjang untuk bisa mencabik dedaunan itu. Katanya panjang lidah kirin yang bisa dijulurkan keluar sepanjang 25 cm.

Menonton Big Panda di Kebun Binatang Ueno

Waktu aku selesai mengajar dan mengirim email pada Gen, dia mengatakan bahwa mereka baru akan makan siang. Jadi kami sepakat untuk bertemu di Shinjuku untuk makan siang (late lunch) di Tsubame Grill (berdiri sejak tahun 1930). Sebuah restoran yang terkenal dengan Hamburg dengan saus beef stew. Memang ada banyak cabang restoran ini, dan kami pergi ke cabang di Lumine, Shinjuku. Heran deh, jam aneh begitu (jam 3:30) tapi restorannya penuh saja. Untung kami tidak perlu menunggu lama.

Senang sekali kami berempat bisa makan bersama di Tsubame Grill. Kami agak jarang makan di sini, padahal restoran ini waktu aku pacaran dengan Gen sering menjadi tujuan kencan. Dan kali ini kami datang dengan Riku dan Kai. Apalagi Riku dan Kai sudah bisa memotret papa dan mamanya. Memang kemarin adalah hari khusus kami, 12 tahun yang lalu kami mencatatkan pernikahan kami di catatan sipil. Meskipun bagi kami berdua wedding anniversary adalah tanggal 26 Desember, saat kami mengucapkan janji perkawinan di gereja. Tapi secara hukum (Jepang) kemarin itu aku genap 12 tahun sebagai Mrs Miyashita.

Selain itu kemarin aku memperingati 19 tahun tinggal di Jepang. Di pasporku masih tercantum cap mendarat pertama di Jepang sebagai mahasiswa pada tanggal 23 September 1992. Hmmm mulai hari ini aku menghitung ke 20 tahun tinggal di Jepang. Rasanya sebentar? Lama? Tidak bisa diukur dengan pikiran dan perasaan. Banyak temanku yang lebih lama dari aku sudah tinggal di Jepang, sehingga kadang kalau ditanya sudah berapa lama tinggal di Jepang aku menjawab, “Baru 19 tahun”. Tapi well, akhir-akhir ini aku berpikir memang aku sudah cukup lama tinggal di Jepang (terasa tuanya hahaha).

Tsubame Grill, restoran dengan menu specialnya Hamburg beef stew sauce

Selesai makan kami pulang, tapi sekali lagi kami ingin menyenangkan Kai. Kami berdua merasa kami kurang memenuhi permintaan Kai. Setiap ingin pergi ke suatu tempat, kami tunda atau batalkan karena kami sudah pernah, tapi sebetulnya Kai belum pernah. Jadi hari ini selain menuruti permintaan Kai untuk melihat panda, kami ingin naik Red Arrow (bukan Enni Arrow loh 😛 ).

Red Arrow adalah kereta cepat dari Seibu Line, jalur kereta di dekat rumah kami. Waktu Kai masih dititipkan di penitipan Himawari, karena letaknya di samping stasiun, anak-anak sering diperlihatkan kereta-kereta yang lewat. Jadi Kai tahu bahwa ada kereta cepat yang bernama Red Arrow.Red Arrow memang tidak berhenti di stasiun kami, tapi kami bisa turun di setasiun pertama, dan kembali ke stasiun kami naik lokal train. Untuk naik Red Arrow ini kami perlu membeli tiket extra untuk kursi. Senangnya Kai bisa naik Red Arrow ini, meskipun karena tidak ada kursi kosong berderet untuk 4 orang sehingga aku duduk sendiri, dan Gen bertiga duduk satu deret. (Masih ada permintaan Kai yang lain, yang belum sempat kami kabulkan yaitu ingin naik perahu/kapal!…. harus cari kesempatan nih)

Kai dan Red Arrow..... gaya barunya Kai, angka tujuh deh "Ore ikemen!"

Sesampai di rumah, kupikir aku bisa istirahat tidak perlu masak makan malam, karena aku masih kenyang sekali makan jam 3:30. Eeeee satu persatu mulai dari Riku bertanya, “Mama, makan malam kita apa?” Doooh ternyata 3boys ku ini mengharapkan makan malam! Coba kasih tahu sebelum sampai di rumah, aku kan bisa beli makanan jadi di dekat stasiun. Terpaksa deh aku masak daging goreng (Tonkatsu) untuk mereka. Sementara mereka makan, aku mandi berendam air panas…. teler dan tertidur kecapekan. Dan terbangun pukul 12:30… yahhhhh hari sudah berganti, dan aku TIDAK SEMPAT menulis posting yang ke SERIBU di hari istimewaku…. hiks.

Sebetulnya untuk menyambut posting ke 1000, aku sempat berbicara dengan Little Usagi dan Elizabeth Novianti. Mau buat giveaway, tapi kok akhir-akhir ini banyak sekali blogger yang membuat giveaway. Belum lagi seandainya mengadakan kuis, aku (atau juri) harus menilai siapa juara pertama, kedua, ketiga….. dan itu pasti makan waktu dan repot. Makanya aku selalu kagum pada Pakdhe Cholik yang getol sekali membuat kuis-kuis, hebat deh pokoknya. Tadinya Putri usul membuat lomba menulis surat untuk Riku dan Kai supaya anak setengah Jepang, setengah Indonesia ini tetap cinta Indonesia. Usulnya bagus sih cuma ya itu …repot hehehe.  So, untuk kali ini aku tidak membuat kuis, tapi aku ingin mengirimkan sesuatu kenang-kenangan kepada 10 orang Top Commentator tahunan yang termasuk dalam daftar di samping kiri.Dan 10 orang yang memberikan komentar terbanyak dalam bulan ini, bulan September.

(per tahun 2011)

(dalam bulan September)

Yang dobel namanya hadiahnya dijadikan satu ya hehehe. Untuk itu aku minta alamat pengiriman pos lewat emi(dot)myst@gmail(dot)com. Aku mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas komentar yang diberikan, dan mohon maaf jika tidak bisa menjawab/membalas semua komentar yang masuk. Seribu posting dalam 3,5 tahun memakai domain ini menurutku lambat, karena terlihat sekali penurunan jumlah tulisan per bulan. Jika dulu hampir sehari satu posting, itu sudah tidak bisa lagi aku pertahankan. Apalagi waktu aku mudik kemarin, boleh dikatakan aku amat jarang menulis, padahal tahun lalu waktu mudikpun aku bisa menulis. Entah faktor U atau faktor semangat yang sudah kendur ditambah kesibukan mengurus anak-anak yang semakin besar dan butuh perhatian ekstra, tapi aku tetap berharap aku bisa terus menulis selama aku bisa. Pengunjung TE juga datang dan pergi, nama-nama yang dulu ada, sekarang tidak ada, atau jarang terlihat. Tak mengapa, karena masing-masing tentu mempunyai kesibukannya sendiri. Yang penting silaturahmi yang pernah ada, sedapat mungkin dilanjutkan, kalau tidak mungkin dengan blog, ya dengan bentuk lain, atau social media lain. Aku tetap berharap masih bisa menjumpai teman-teman di Jakarta waktu mudik tahun depan, atau paling sedikit lewat blog ini.

Seribu, 12 dan 19 …angka-angka yang ingin aku peringati khususnya pada hari ini.

Tabik

Imelda

NB: Gara-gara baca postingnya pakdhe yang ini, aku jadi buat nasi kuning (sederhana karena cepat-cepat) deh hari ini hehehe. Disanding dengan nasi (ketan) merah Jepang yang selalu disajikan waktu selamatan.

CCTV = CC+TV

1. Tahu kan CCTV? Kamera pengintai deh mudahnya. Biasanya dipasang di tempat-tempat strategis, untuk memantau keamanan, termasuk merekam kejadian/kejahatan yang terjadi. Itu fungsi utamanya.

Tahun 2002, seperti yang pernah kutulis di “Di Jepang ada pencuri?”, apartemenku pernah kemalingan. Dari satu bangunan ada 3 rumah menjadi korban, termasuk aku. Nah, sejak ada kejadian itu, pihak manajemen apartemenku memasang CCTV di dalam lift, yang kupikir bisa meningkatkan keamanan di apartemenku. Namun, aku sering merasa aneh dengan kamera itu. Karena tidak terlihat ada kabel atau lampu yang menyatakan CCTV itu berfungsi. Dan ternyata benar perkiraanku. Waktu kami pulang dari Jakarta tahun ini, melihat CCTV itu berpindah tempat, ke mana-mana. Hahaha.. ternyata CCTV mainan dan ada yang iseng memindahkannya. Coba saja perhatikan posisi kamera itu di foto. Aneh bukan? Well…. kami juga sempat membaca di kamera itu memang bukan tertulis CCTV tapi CCD, D nya display mungkin 😀

coba deh perhatikan letak kameranya...aneh kan hehehe

 

2. Kami baru-baru ini memakai CC baru. Aku sebetulnya tidak begitu suka A**X, tapi karena bisa nabung mileage dari maskapai A*A yang kami pakai kemarin, jadi mulailah menabung mileage dengan CC baru itu. Dan karena Gen cari-cari info bagaimana “menabung” sebanyak-banyaknya, dia bilang, “Kalau beli di konbini (convinience store) CK itu, pointnya lebih banyak loh dari konbini yang lain”… Jadi deh apa-apa beli di situ 😀 Siapa tahu tahun depan kami bisa dapat tiket gratis untuk mudik kan? hehehe. Doain yah 😀

3. TVdi Jepang sekarang semua digital. Jadi hampir semua keluarga di Jepang membeli TV baru yang bisa digital. TV biasa sudah tidak bisa dipakai lagi. TAPI di apartemen kami, karena memakai TV cable, kami bisa tetap memakai TV lama tanpa perlu membeli TV baru. Dan mereka yang sudah pernah bertandang ke rumahku tahu bahwa TV kami itu sudah kuno dan berukuran 14 inchi! Tadinya memang ada yang lebih besar, tapi karena rusak dan malas beli, kami pakai yang “sisa”.

Tapi mau dibilang sisa juga tidak, karena sebetulnya TV 14 inch itu amat bersejarah untukku. Itu hadiah waktu aku juara pertama lomba karaoke mahasiswa asing. Pertama kali ikut lomba-lomba begitu, dan langsung nomor satu (dan sesudah itu juga tidak pernah ikut lomba lagi hehehe) . Aku sih tahu kenapa aku bisa menang. Pertama karena Jurinya orang tua (dia adalah presdirnya pabrik TV yang kuterima itu –tidak begitu terkenal sih mereknya) dan aku menyanyikan lagu yang pas untuk orang tua. Judulnya “Kawa no nagare no youni“(Bagaikan sungai yang mengalir). Sedangkan peserta lain, mahasiswa yang lebih muda dari aku dan lagunya disco-disco hihihi. Jelas aku bisa menang 😀

Dan sejak beberapa bulan TV 14 inch itu suka ngadat (Jelas saja buatan 1998 sih :D). Kadang suara tidak keluar, kadang gambarnya tidak keluar. Sehingga setiap kali perlu “dipukul-pukul”. Sepertinya kok kami pelit sekali ya tidak mau membeli TV…. tapi sebetulnya ini juga karena kami merasa anak-anakku sudah kecanduan TV. Tidak bisa tidak menonton TV. Jadi kami biarkan. TAPI, lama-lama akunya yang sebal, karena Kai tidak bisa menyambung kabel dengan video deck, dan tidak bisa “pukul-pukul” setiap suara/gambarnya tidak keluar dan setiap begitu, “mamaaaaaaaaa….”, memanggilku untuk membenarkan. Lama-lama aku sebal juga 😀

Jadi deh minggu lalu kami membeli TV baru yang digital dan tentu saja lebih besar (maunya sih 32 inchi tapi apa daya rumah kelincinya bisa tenggelam kalau kami beli yang 32 inchi hahahah). Daaaaannnn sengaja kami bilang “Tidak bisa sambung dengan TV cable dan video/dvd, jadi hanya bisa TV biasa”, supaya anak-anak mengurangi waktu nonton TV 😀 (dan sampai hari ini berhasil! hahaha —- eh untung Riku belum bisa baca alfabet ya jadi tidak tahu bahwa dia dibohongi hihihi). Ntah bisa tahan sampai kapan, karena biasanya ada yang INGIN sekali nonton film atau yang lain, sehingga bisa ketahuan deh bahwa sebetulnya bisa sambung(sambil melirik suamiku :D, aku sih sampai sekarang memang tidak suka nonton TV)

Dan selain TV, minggu lalu aku mendapat “hadiah” buat perayaan hari spesial tanggal 23 September besok, yaitu laptop baru…. horeeee! Sebelum mudik memang aku sudah waswas karena laptopku yang sudah berusia 3,5 tahun itu sudah mulai mengeluarkan suara-suara berdecit lagi. Padahal summer tahun lalu sudah aku ganti fan dan keyboardnya. Rasa-rasanya sudah waktunya untuk ganti. Tapi aku tahan dulu, ingin pakai sampai titik darah penghabisan…hihihi. Jadi waktu Gen ajak melihat-lihat komputer, aku menolak. “Tapi aku mau lihat!”. Ya terpaksa aku ikut lihat-lihat deh. Dan ….. ada laptop yang memenuhi spec keperluanku dengan harga yang murah banget (meskipun aku tidka begitu suka merek dan warnanya :D). Kata si orang toko, “Kalau mau beli laptop mending sekarang, karena ini sudah turun harganya karena akan ada model winter yang akan keluar. Dan lebih untung beli laptop sekarang dibanding desk top. Sekarang desk top mahal, karena semua memasang tuner untuk TV. Itu yang bikin mahal”.

“Udah beli aja…” Gen bilang dalam bahasa Indonesia. “Boleh????” hihihi… ya memang sih dalam 6 bulan ini pasti harus  beli laptop baru untuk kerjaanku, jadi mau beli sekarang atau 6 bulan lagi sama saja :D. “Hadiah untuk postingan ke 1000 di TE” kata Gen.  ho ho.

Ya, postingan ini adalah postingan ke 999… angka cantik ya. Dan sebetulnya 2 hari yang lalu  sahabat blogger Misfah menuliskan komentar ke 18881, angka cantik di Twilight Express. Sebuah buku akan dikirimkan ke Misfah. Terima kasih juga untuk semua komentar yang pernah ditorehkan di sini oleh teman-teman semua.

Anak-anak aku perbolehkan nonton Youtube di komputer baruku 😀

postingan kedua hari ini sesudah Makanan Terlezat Sedunia….. soalnya musti kejar setoran 😀

Makanan Terlezat Sedunia

adalah RENDANG. Dan yang kedua adalah nasi goreng. (Ini menurut surveynya CNN loh) Kalau aku pribadi sih maunya SATE PADANG di nomor satu dan Rendang atau KETOPRAK di nomor dua hehehe. Soalnya Sate padang dan Rendang adalah menu pada kopdar terakhirku waktu mudik kemarin.

Tanggal 14 Agustus, Gen bergabung di Jakarta. Setelah 6 tahun tidak ke Jakarta, tahun ini aku paksakan satu minggu rencana ke Jakarta sudah sejak bulan Februari waktu aku memesan tiket. Tahun-tahun sebelumnya, dia tidak bisa menjanjikan libur karena selalu ada acara besar yang membutuhkan kehadirannya di tempat kerjanya. Tapi tahun ini, dengan resiko di-cancel, aku beli tiketnya.

Jadi tanggal 13 Agustus adalah hari terakhir aku bisa merencanakan kopdar, karena setelah itu sang Bunda Ratu (julukan dari Imoe loh) harus dipingit :D. Kopdar terakhir dan mungkin yang terheboh karena pesertanya dari macam-macam daerah. Tamu agung dari Pariaman : Imoe + 2 anak, dari Yogya : Uda Vizon, dari Serang : Koelit Ketjil dan kakak, dari Bandung : Catra + DM. Yang menjadi satu kesamaan mereka yaitu : urang Minang atau (pernah) calon urang Minang **perlu melirik siapakah ini?**. Plus Urang Sunda dan Japanis boys.

Berawal dari percakapan via internet dengan Imoe. Sudah lama kami ingin bertemu (ini merupakan kopdar pertama untuk kami), dan kebetulan dia ada acara di Bogor sehingga bisa “dipaksakan” untuk ke Jakarta setelah selesai. Nah, karena kebanyakan pesertanya dari daerah, aku cukup sulit memikirkan tempat pertemuan. Rasanya kalau bertemu sore hari, buka bersama di restoran, lalu bubar grak, rasanya gimana gitu. Kasihan juga sudah datang dari jauh. Kalaupun seandainya melewatkan waktu di karaoke dengan dugem bersama, mereka harus sahur juga. Apalagi Imoe dan Uda Vizon akan kembali ke Padang dan Yogya Minggu siang. Kan aku bisa ikut mengantar mereka dan sekaligus menjemput Gen yang mendarat jam 3 sorenya.

Pikir punya pikir, aku memang merasa paling enak mengadakan pertemuan di rumah, bisa lebih santai. Tapi aku tidak punya rumah di Jakarta. Rumah yang kutinggali bukan rumahku, tapi rumah orangtuaku, dan adikku sekeluarga juga tinggal di sini. Ah, ribet! Jadi aku mengambil satu kamar di The Belleza Suites, Permata Hijau, tidak jauh dari rumahku. Waktu mencari kamar di agoda.com, memang yang aku pilih haruslah kamar dengan kamar tamu, dan kebetulan aku pernah dengar tentang apartemen di Permata Hijau yang bisa disewa ini. Jadi, aku tentukan tempat berkumpul di Belleza sesudah jam cek in, jam 1 siang.

naik motor, main, berenang, bercanda melengkapi kopdar hari ini

Tapi Koelit Ketjil (KK) yang datang dari Serang kurang mengerti daerah Permata Hijau. Justru lebih mudah menemukan rumahku di kebayoran. Dan tentu saja Riku dan Kai senang bisa bertemu sama om nya yang pernah pergi bersama ke Tanjung Lesung tahun lalu. Apalagi KK datang bersama kakaknya naik sepeda motor. Anak-anak langsung mengklaim untuk naik sepeda motor keliling kompleks. Dan mereka inginnya naik sepeda motor ke Belleza.

Bagaimana Belleza? Hmmm pertama itu bukan hotel. Tidak menyediakan parkir untuk sepeda motor, sehingga KK dan KKK (Kakaknya KK) harus cari parkir motor di luar kompleks. Ah, diskriminasi ya? Begitu masuk lobbynya, memang ada ruang untuk duduk-duduk yang…sepi. Reception? Hanya satu orang wanita muda berjaga, dan tanpa tulisan “Reception”. Begitu aku serahkan print out pemesanan kamar, dia lalu menyerahkan kunci kamar no 10, di lantai 11. Jangan berharap banyak pada tempat ini, karena memang pada dasarnya gedung ini adalah apartemen yang disewakan. Mungkin bulanan. Yang pasti di depan elevator ada satpam, yang mengawasi gerak-gerik kita. Ya maklum juga sih, karena tempat ini terhubungkan dengan tempat belanja 24 hours dan restoran lainnya. Tamu bisa leluasa masuk keluar, jadi pengamanan memang diperlukan.

Gedungnya memang terlihat mewah dari luar, tapi aku cukup kecewa dengan kamarnya. Masih baru tapi di bagian langit-langit sudah terlihat retak dan bekas bocoran. Belum lagi air yang tergenang di kamar mandi karena saluran pembuangan yang tidak bagus. Mau panggil “room service” hmmm tidak ada, dan jangan berharap ada yang bisa membetulkan. Sehingga kami harus sabar dengan kondisi yang ada. Tapi yang penting saat itu bagiku, aku mempunyai ruang tamu dan meja makan yang bisa dipakai untuk menjamu teman-temanku. Ada kitchen, dua piring, dua gelas, dua cangkir, tapi tak ada sendok, garpu….apalagi panci 😀 Jadi percuma saja ada kompor di sana. Mungkin semua yang tinggal di sini harus membawa panci sendiri ya? Ah, sebenarnya dengan harga yang sama, aku lebih suka tinggal di hotel yang lengkap dengan pelayanan.

Sambil menunggu teman-teman yang belum datang, aku mengajak anak-anak berenang di lantai 5. Ternyata semua kolamnya hanya 1 meter sehingga Riku bisa merenanginya. Tapi Kai hanya bisa di tempat anak-anak. Senang melihat mereka enjoy, meskipun hanya sebentar.

Tak lama Imoe, Catra dan anak-anak pengikut Imoe datang bergabung. Sambil ngantuk-ngantukan dan menonton tv kami menunggu DM, Uda Vizon dan …waktu buka (meskipun aku ngga puasa sih hehehe). Aku memang bingung menentukan menu. Inginnya membeli segala yang enak untuk dimakan bersama, tapi sekali lagi waktu dan tenaga yang menjadi penghalang. Dan kamu tahu dong kalau hari Sabtu bagaimana macetnya. Jadi aku cuma sempat “lari” membeli sate Mak Sukur dan Nasi Padang (tentu saja dengan Rendang sebagai pokoknya). Tahun depan harus menu yang lain nih….(mulai mikir dari sekarang)

"menyerbu" sate mak sukur, "melantai" dengan nasi padang. Tak lupa berpose bersama Jong Labar (dalam tupperware warna kuning itu tuh)

Dan satu lagi yang aku syukuri hari ini adalah “kehadiran” Nique dengan buatannya Jong Labar. Nique hanya menitipkan Jong Labar itu di receptionis dan langsung kabur lagi. Ya, mungkin dia merasa belum waktunya membuka kedoknya di depan sekian banyak blogger. Tapi terasa sekali “cinta”nya sekaligus keinginannya untuk bergabung bersama kami. Terima kasih banyak Nique.

Karena sudah pukul 9 malam aku harus pamit. Aku tanya pada Riku apakah dia mau menginap? “Boleh ma?” dia bertanya. Tentu saja boleh. Aku tahu dia akan senang sesekali berpisah semalam dengan ibu dan adiknya (yang cerewet). Untung saja Kai tidak minta nginap juga. Dia masih “Aku mau sama mama”s boy. Ah… anak laki-laki…aku harus siap sedikit demi sedikit melepaskan mereka untuk bertualang sendiri. Dengan meyakinkan ada makanan dan minuman untuk sahur, aku meninggalkan mereka.  Kopdar terakhirpun selesai, setelah aku melambaikan tangan pada Uda Vizon yang menuju bandara dengan supirku, serta pada DM yang pergi menuju acara meeting di Bintaro. Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan, ada proses juga ditengahnya. Aku pun menutup pertemuan -pertemuanku dengan teman-teman masa lalu, dan teman-teman blogger dengan harapan bisa bertemu lagi, suatu waktu nanti.

Jadi? Sudah berapa blogger (+mantan blogger) yang kutemui selama mudik summer 2011  ini? Ayo tebak! Yang belum sempat aku temui perlu dicatat nih, supaya tahun depan kita bisa bertemu ya….

Kopdar Belleza

 

Bisa baca laporan kopdar Belleza di sini juga:

http://hardivizon.com/2011/08/18/the-bellezza/

http://imoe.wordpress.com/2011/08/20/kopdar-dengan-sang-bunda-ratu/

 

30-35 tahun lalu

Kamu di mana? Mungkin banyak yang belum lahir, atau baru lahir. Tapi saat itu aku sudah bersekolah di SD, SD swasta di bilangan Kebayoran Baru. SD itu adalah milik yayasan katolik, dan kebetulan aku bersekolah sejak TK sampai SMA, pada perguruan yang sama. Dan ada pula beberapa temanku yang seperti aku, terus bersekolah pada yayasan yang sama.

Masih ingat nama teman SD mu? Jika sudah lewat 35 tahun, rasanya sulit mengingat semua nama, tapi paling tidak teman satu kelas dan teman terdekat pasti masih ingat ya? Waktu SD aku pendiam. Amat pendiam. Dengan teman akrab yang sedikit jumlahnya. Aku sendiri lupa siapa teman akrabku s/d kelas 3 SD. Tapi yang pasti Ratih Lestari, adalah teman akrabku di kelas 5 dan 6 SD. Bersama Kwik Mulan, Catherine dan Ani kami membentuk geng di SD yang bernama Rascal. 😀

Terakhir aku bertemu Ratih waktu Riku berusia 2 th, jadi 6 tahun yang lalu. Jadi waktu Ratih menulis inbox di FB, kami langsung merencanakan pertemuan kami di PIM. PIM ini juga merupakan tempat favoritku dalam mudik 2011 sebagai tempat bertemu teman-teman. Kami mengejar ketinggalan berita terutama sejak lulus SMA dan menikah.

Selain Ratih yang teman SD, aku sempat bertemu dengan Ika yang teman SMP, Xenia yang teman SMP. Ratih dan Ika tinggal di Jakarta jadi masih bisa bertemu setiap tahun, tapi Xenia karibku di SMP tinggal di New York dan kebetulan mudik juga. Bertemu teman lama memang paling enak kencan berdua-dua, sehingga banyak yang bisa diceritakan. Tapi karena waktu yang terbatas, sering kami mengajak teman yang sebetulnya merupakan teman kami, yang setting nya di tempat lain. Sehingga pada suatu kali kami bertemu 7 orang, yang masing-masing setting pertemuannya berbeda. Misalnya aku kenal dengan Ratih, Xenia, Chandra dan Kassandra di SMP, sedangkan kenal Prayang dan Wida di SMA. Tapi pembicaraan bisa aja nyambung tuh. Ah, teman-temanku ini sudah menjadi orang terkenal semua.

7 teman dari SD, SMP dan SMA

Yang aku rasa merupakan kejutan adalah reuni teman-teman SD secara mendadak. Tadinya aku hanya mau bertemu seorang teman, Ani. Lalu si Ani berkata, “Mel, ngga apa-apa kan kalau aku ajak Nta dan Jendril?” …of course… Eh, pas sedang mengatur jadwal, tahu-tahu seorang teman, Maya yang tinggal di Melbourne dan kebetulan mudik juga berkata, “Mel… mau reuni dong…ajak-ajak gue ya”. Jadi aku menentukan waktu hari Jumat tgl 12 Agustus, waktu buka, di Urban Kitchen Pasific Place (situ lagi situ lagi hihihi). Mendadak semua menghubungi semua, lewat BB percakapan terjadi, kemudian aku menghubungi lewat FB. Dari yang tadinya 4-5 orang menjadi 21 peserta. HEBAT! Dan… senang sekali bertemu teman lama yang memang tidak berubah meskipun usia berubah (selain usia, yang berubah juga adalah warna rambut, daging di pinggul dan perut, serta isi dompet :D)

bayangin deh ramenya hihihi

Aku dan Ani sebagai pencetus pertama sudah berada di Urban Kitchen dari pukul 4 sore. Aku minta petugas untuk menyiapkan tempat duduk untuk 18 orang. Mungkin di bulan puasa, kami tidak bisa reserve tempat, tapi kalau sudah ada yang datang bisa minta tempat untuk beberapa orang. Memang petugasnya itu juga mengatakan bahwa jika jam 6 masih ada kursi yang kosong, kemungkinan besar akan diambil untuk orang lain. Untung saja pukul 6 sore, sudah cukup banyak yang berkumpul sehingga kami tetap bisa memakai tempat di situ, bahkan untuk 21 orang!

Bisa bercakap seperti dulu dan menggali kenangan di SD. Sepertinya nanti waktu berusia setengah abad, harus mengadakan yang resmi, supaya masih bisa bercerita dan tidak belum PIKUN! Dan tahukah cerita yang paling “seru” adalah menggali kenangan bahwa kelasku 6A, pernah ditampar oleh guru olahraga, satu kelas hahahaha. Aku sendiri sudah lupa kejadian itu, tapi Ani temanku mengingatkan kami semua. Nah loh, kok ingatnya yang jelek ya?:D Teman-teman sendiri masih ingat cerita waktu SD? Kalau baru max 20 tahun mungkin masih ingat, tapi lebih dri 25 tahun? hihihi

Sebagian kelas 6A yang pernah ditampar guru OR kami... entah salah apa kami ya?

Selain kenangan masa SD, kami juga saling bertukar informasi mengenai keadaan kami dan teman-teman kami. Ada yang sudah meninggal karena gagal ginjal. Sedih mengetahui 2 teman yang sudah menjadi janda karena suaminya meninggal, 3 lagi janda cerai, dan beberapa duda. Ada yang memang belum menikah. Ah… manusia memang harus menjalani liku-liku kehidupan ini.

Sayang sekali jam 8 malam, aku sudah harus pamit. Karena anak-anak telepon menanyakan diriku kemana, karena aku sudha keluar rumah sejak pukul3 siang. Padahal masih ingin mengejar ketinggalan 30 tahun lebih cerita-cerita jaman dulu. Padahal mereka masih melanjutkan pembicaraan di Starbuck entah samapi jam berapa ….hiks. Jadi kami berfoto bersama dulu sebelum berpisah. Reuni mendadak yang amat sukses menurutku. I really miss them. Semoga semua tetap sehat sampai kita bisa bertemu lagi ya….

peserta reuni (+2 orang yang sudah pulang) SD dadakan.... forever young

Kopdar On Air

Bukan kopdar di udara. Masak kopi darat di udara, itu kan kontradiksi sekali? Tapi memang kopdar kali ini ditandai dengan “On Air di sebuah stasiun radio”.

Aku kembali dari Bandung tanggal 4 Agustus malam, dan dalam perjalanan aku sempat menghubungi pemilik Mie Janda, yang menanyakan apakah hari Jumat tanggal 5 nya beliau ada di tempat. Tapi setelah sampai di rumah pukul 9 malam, aku pikir, kok aku ngukur jalanan terus ya? Akunya mungkin kuat, tapi pak supirku belum tentu kan? Mungkin dia butuh istirahat…. Apalagi aku sering pakai dia hari Sabtu dan Minggu. Jadi aku tanya langsung kepadanya: “Pak, bapak mau istirahat?” dan dia jawab, “Kalau ibu tidak perlu saya ya tidak apa-apa, tapi saya tidak mau istirahat”. Hmmm tentu saja, dengan status supir harian, jika satu hari istirahat berarti tidak dapat pemasukan kan? Tapi badan bisa ambruk juga, jika aku pakai tanpa memikirkan kesehatannya. Akhirnya aku bilang, “Besok masuk jam 12 saja deh (dan aku akan memulangkan dia jam 5 sore”.

Dan segera aku re-schedule kunjungan ke Mie Janda pada hari Minggu. Benar juga sih, siapa tahu ada blogger lain yang bisa join di hari Minggu, daripada di hari Jumat. Dan aku janji untuk datang ke Cibinong pukul 4 untuk ngabuburit dan buka di Mie Janda. Kebetulan pas hari Minggu itu aku ada acara pada pukul 12 nya, acara baptisan keponakan baruku, Gissela di Gereja St Stephanus Cilandak.

Tapi hari Minggu 7 Agustus itu tiba-tiba aku dapat sms bahwa kalo bisa, aku diminta menjadi narasumber untuk acara di Radio Sipatahunan. Weleh…berarti ngga boleh terlambat tuh. Kan siaran langsung, kudu tepat waktu (meskipun yang ngundang santai aja sih hehehe). Jadi jam 2  siang aku sudah berpisah dengan anak-anakku yang ikut pulang dengan sepupunya dan opa-omanya. Aku sendiri langsung menuju jalan tol menuju cibinong. Maklum, aku tidak berani ambil resiko nyasar lagi, karena tadinya aku janjian dengan Eka untuk pergi bersama, tapi tidak jadi. Tahu-tahu Eka sudah menunggu aku di pintu keluar tol cibinong. Mie Janda cibinong mudah dicari, karena tidak begitu jauh dari pintu tol keluar dan persis berada di depan SMP. Ya ini kali ke dua aku ke sini. Sebelumnya aku sudah pernah menikmati Mie Tajir 2 tahun yang lalu.

Bersama Eka sebelum acara dimulai

Waktu kami sampai di depan kedai, pas Kang Achoey juga mendarat, sehingga kami bisa langsung pergi ke Radio Sipatahunan yang terletak di Bogor. Karena masih banyak waktu, kami melewati jalan biasa (bukan jalan tol) sambil bercakap-cakap berbagai hal selama perjalanan. Waktu kami sampai pun masih cukup banyak waktu sehingga waktu siaran dimulai pukul 4 diawali oleh Kang Achoey karena Ibu Desi Hartanto  terlambat, seperti melanjutkan pembicaraan di luar ruangan saja. Terus terang aku juga sudah lupa apa saja yang aku bicarakan selama 1 jam itu.  Tapi yang pasti aku pun bernostalgia pada pekerjaan lama ku di radio, rindu rasanya kembali mengudara. Apalagi setelah acara selesai, lagu-lagu yang diputar itu lagu jadul semua. Pak operatornya sepertinya tahu seleraku. Antara lain lagu berjudul “Nona”  nya Gito Rollies…. hayoooo ada yang tahu ngga? Lagunya enak loh 😉

Oh ya sebelum acara dimulai, karena aku upload foto bersama Eka di FB, si Nicamperenique kemudian mengajak teman-teman mendengar streamingnya di internet. Jadi rame karena pak Marsudiyanto ikut nimbrung juga. Terima kasih atas dukungannya ya :D.

Berpose di studio Radio Sipatahunan

Dan setelah berfoto-foto bersama di studio, kami kembali menuju Kedai Mie Janda di cibinong untuk berbuka bersama. Untung saja masih ada meja kosong dekat meja kasir, karena hampir semua meja terisi pelanggan yang menunggu waktu berbuka. Akhirnya aku dan Eka bisa menikmati sajian mie Janda setelah 2 tahun. Ada beberapa menu baru, bahkan setelah aku selesai makan baru sadar bahwa ada menu nasi ayam goreng. Well, next time ya.

Es duda dan Mie Janda Komplit... bisa ketagihan loh

Dalam kesempatan itu kami juga bisa bertemu dengan Silvia Dewi, istri Kang Achoey yang sedang mengandung. Ah, ngiri benar deh melihat pasangan pengantin baru ini. Mesraaaaa sekali (maksudnya mesra gitu). Oh ya aku juga mendapatkan hadiah novel karangan Kang Achoey yang berjudul Sahaja Cinta. Kabarnya akan terbit (lagi dengan penerbit yang lain) sebentar lagi loh.

Istri Kang Achoey: Silvia Dewi. Berpose bersama sebelum pulang

Ya, dalam pertemuan setelah 2 tahun memang banyak yang berubah. Jika dulu Kang Achoey masih bujang, sekarang calon papa, dan sudah menerbitkan novel. Dan mungkin 1-2 tahun ke depan akan ada lagi perubahan yang terjadi. Namun aku selalu berdoa semoga silaturahmi ini bisa terus dipelihara, dan kelak dapat reuni bersama anak-anak mungkin 😀

Tulisan mengenai pertemuan saat itu juga bisa dibaca di :

http://cucuharis.wordpress.com/2011/08/08/mengulang-perjumpaan/

Rasa itu tetap sama -3-

Tanggal 4 Agustus pukul 4:44 pagi hari waktu Jepang (di komputerku tetap pakai waktu Jepang, jadi kalau mau tahu WIB nya tinggal dikurangi 2 jam saja), aku masih kluthekan dengan komputerku. Wah hotel Golden Flower ini asyik bagiku karena koneksi internetnya maknyus, cepat, tentu saja jika dibandingkan dengan rumahku di Jakarta. Jadi aku mengupload semua foto kopdar dan main-main s/d tanggal 3 Agustus. Persis di angka yang cantik itu aku menuliskan sebuah pesan singkat ke nomor HP seorang yang kukasihi. Dia berulang tahun tanggal 4 Agustus. Sebetulnya aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kami berdua tidak cocok jadwal dan budgetnya. Dia berada di Solo sedangkan aku di Jakarta, padahal dulu dia di Malaysia dan aku di Tokyo. Jarak sekali lagi memisahkan kami.

Dan aku sempat memperbarui status di FBku : ” Di Bandung setengah hari enaknya ngapain ya? Yang pasti No shopping, No eating, No transstudio… nah loh apa yang sisa?”, dan disahut oleh Putri Rizkia : “Braga atau Kawah Putih”. Hmmm sebetulnya sudah sering ke Braga, dan aku tidak senarsis Putri yang bisa bergaya sendirian untuk difoto! hahaha.

Jadi sampai aku check out hotel jam 12 siang, aku belum menentukan mau pergi ke mana. Tapi sebetulnya aku sudah infokan pada Danny a.k.a DM bahwa aku mau mampir ke Kopi Aroma. Dia pernah membawakan kopi Aroma untukku tahun lalu, dan aku suka sekali. Mokka Arabika! Selain itu, aku pernah melihat foto seorang teman dari Jepang yang bergaya di depan tumpukan karung! Maybe… just maybe aku juga bisa melihat pabriknya.

Jadilah kami pergi ke toko Kopi Aroma pukul 1-an. Waaah kecil tokonya. Seperti sebuah kios saja. Memasuki pintu sempit ada seseorang yang sedang berdiri di depan meja kaca berisi jenis biji kopi. Aku sempat mendengar pesannya: “Minta 2 kg Robusta”. Aku sempat keder juga, wah apakah di sini harus membeli partai besar? Sedangkan aku sendiri tidak tahu mau membeli berapa banyak.

Saat itulah seorang Engkoh berbaju coklat berbicara pada Danny, “Mas, ini loh coffee maker dari tahun 1930”. Selanjutnya kuketahui beliau bernama Widya Pratama. “Yang di dekat jendela lebih tua lagi 1920.” Aku mulai memperhatikan perkataan dia, dan melihat Danny mulai memotret peralatan antik itu. Kamera memang aku serahkan pada Danny karena aku harus menggendong Kai yang lagi angot.

“Sukanya apa? Paling enak sih Robusta, ngga bikin perut kembung. Mau minum berapa kali juga ngga apa-apa. Tapi buat laki-laki jangan kebanyakan minum robusta. Kasian bininya.” Meskipun (pura-pura) ngga ngerti aku senyum-senyum aja. “Kopi saya mah ngga bikin kembung, ngga seperti kopi lain yang enak cuma di mulut aja. Soalnya kita tahan kopi itu 8 tahun dalam karung. Harus dalam karung biar mateng. Sini ikut ke dalam….” Waaaaah pucuk dicinta alim ulama ulam tiba. Langsung aku mengikuti pak Widya ke dalam. yattaaaaa.

Karung berisi kopi yang disimpan sampai 8 tahun. Berpose bersama Pak Widya Pratama di depan gudangnya.

Pak Widya masih menjelaskan macam-macam pada Danny, sambil dia memotret dan aku hanya senyam-senyum. Tapi akhirnya dia ajak Kai bicara, dan aku bilang Kai tidak bisa bahasa Indonesia. Sambil bercerita tentang kopi, beliau juga mengatakan bahwa anak-anak harus dibiarkan melihat pekerjaan orang tuanya sejak kecil. Anak itu bisa kelihatan minatnya sejak kecil. Dan dia menambahkan bahwa anaknya sekarang 3 perempuan dan semoga bisa melanjutkan usaha yang sudah turun temurun itu. Tak disangka beliau juga berprofesi sebagai dosen.

Pengolahan kopi mulai dari pemilihan biji kopi, sampai pada penggilannya semua masih memakai alat-alat jaman baheula. Lihat saja listriknya, masih pakai kotak listrik jaman dulu. Tapi meskipun ada mesin hitung dan stapler jaman dulu, tentu saja sudah tidak dipakai lagi. Di dinding juga masih ada poster-posterAroma Kopi  jaman dulu. Ah, di luar saja atapnya masih bertuliskan Paberik Kopi.

tour de Kopi Aroma dipandu oleh bapak Widya Pratama sendiri

Akhirnya aku membeli 2 kg kopi Robusta dan Arabika dan setengahnya digiling kasar karena orang Jepang biasanya memakai filter untuk membuat kopi. Jadi khusus untukku, 1 kg kopi diubah setingannya menjadi giling kasar. 250gram seharga 15.000 (150 yen)  itu murah! Tadinya aku mau beli lebih banyak lagi, sekalian untuk oleh-oleh teman-teman di Jepang, tapi kupikir nanti bisa beli lagi sebelum kami pulang. Aku memang berencana datang lagi ke Bandung waktu Gen bergabung dengan kami….yang akhirnya tidak bisa mampir ke Kopi Aroma, dan tidak terbeli tambahan kopinya hehehe. (Musti ingat kalau mau ke Kopi Aroma ini sebelum pukul 3 siang!)

Tampak luar toko Kopi Aroma dan gedung Sate

Setelah dari Kopi Aroma, kami sempat mampir ke Gedung Sate, dan kemudian kembali ke Jakarta. Dan tentu saja, pulangnya pak supir salah lagi keluar tolnya, sampai muter-muter di daerah bekasi or mana deh aku ngga ngerti abis sudah malam sih hahaha. Yang tadinya bisa sampai jam 7 malam, jadinya sampai di kebayoran jam 9 deh. Dan aku kaget kok  rumahku banyak tamu, rupanya ada sembahyangan rutin di rumah. Ah memang rumahku di jkt itu sering “open house” 😀

 

When Geo met Desi

Setelah dari Bandung Coret, kami cepat-cepat menuju Bandung Pusat. ITB tepatnya. Tapi,……sekali lagi supirku tidak tahu jalan. Dan aku beruntung mempunyai GPS hidup di Bandung, yang tak lain adalah pak Lurahnya Bandung :D. Aku selalu memberitahukan posisiku dan Danny yang waktu itu sedang berada di bagian Bandung yang lain  menunjukkan arahnya. Sampai pada suatu saat, kok sepertinya kita kok cari jalannya menjauh. Lucu rasanya ketika sampai suatu jalan Danny bisa menyusul kami. Dan setelah itu aku lega deh karena pak supir tinggal ngekor di belakang mobilnya Danny saja. Karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 4:30 an. Untung kedua bapak professor ini mau menunggu kedatanganku.

Sampailah kami di ITB, parkir dan aku ajak Danny ikut bertemu Pak Hendra Grandis (blognya bernama Oemar Bakrie)  dan Pak Nanang Puspito. Pak Hendra Grandis ini mantan blogger angkatan-angkatan awal (awalnya seberapa ya? yah sekitar th 2008-2009 an deh) yang cukup akrab dengan kami. Sedangkan Pak Nanang Puspito adalah temanku (teman di gereja dan karaoke :D) tahun 1995- an waktu Pak Nanang sedang belajar di Universitas Tokyo (eh bener ngga ya). Aku sendiri sudah pernah kopdar dengan pak Grandis, tapi Danny dan Pak Grandis yang sama-sama tinggal di Bandung belum pernah bertemu sama sekali. Jadi kesempatan deh. Apalagi aku berhasil menghubungi Catra Pratama yang juga sudah lama kukenal lewat blog, tapi belum pernah bertemu. Jadilah kami berempat bertemu di depan gedung GEODESI 😀

Menurut IAG (International Association Of Geodesy, 1979), Geodesi adalah Disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan perepresentasian dari Bumi dan benda-benda langit lainnya, termasuk medan gaya beratnya masing-masing, dalam ruang tiga dimensi yang berubah dengan waktu. Dalam bahasa yang berbeda, geodesi adalah cabang dari ilmu matematika terapan, yang dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan pengamatan untuk menentukan:  Posisi yang pasti dari titik-titik di muka bumi ; Ukuran dan luas dari sebagian besar muka bumi; Bentuk dan ukuran bumi serta variasi gaya berat bumi

Karena kedua dosen harus pulang ke keluarga masing-masing, kami pamit. Dan sebelum meninggalkan ITB itu aku, kai dan Catra sempat berfoto di depan gerbang. Well, setidaknya ada tanda bahwa sudah pernah ke sini hehehe.

Bertemu orang-orang pintar di ITB

Danny dan Catra ikut sampai ke hotel, karena kami berencana untuk buka bersama. Hotel yang kupilih kali ini adalah Golden Flower Hotel yang berada di jln Asia Afrika. Sebetulnya ingin sekali mencoba yang di Dago atau Ciumbuleuit tapi kok rasanya rugi menginap di hotel mahal berdua dengan Kai saja. Lagipula aku pesan hotelnya hanya satu hari sebelum hari menginap lewat agoda.com. Hotel ini lumayan lah meskipun kesannya gelap dan muter-muter untuk bisa ke liftnya (aku dapat kamar yang jauh dari lift). Dan untungnya mereka juga punya kamar untuk supir dengan harga yang reasonable.

Karena kami sampai di hotel pas waktu buka, Danny dan Catra membatalkan puasanya di lobby hotel dengan tajil yang beraneka ragam. Nah, setelah cek in, aku menghubungi seorang lagi yang ingin kutemui di Bandung. Tidak lain dan tidak bukan adalah Guru Menulis yang kerap kupanggil pak EWA.Pak Ersis Warmansyah Abbas sudah lama kukenal sejak awal menulis juga, dan diperkenalkan temanku di Kumamoto, Mega. Menulis Tanpa Berguru menekankan bahwa menulis itu mudah. Pak Ewa sudah menulis puluhan buku tentang kiat menulis.

Kami bertemu pak Ersis di Ciwalk. Terus terang ini pertama kalinya aku ke Ciwalk. (udik yah :D) . Kami berempat dengan satu mobil menuju Ciwalk (tentu tanpa acara nyasar karena ada GPS hidup), dan begitu turun di depan Ciwalk, langsung “dihadang” pak Ersis yang ternyata sudah cukup lama menunggu. Langsung kami menuju restoran korea, steamboat, tapi karena terlambat sudah lewat waktu buka, kami harus menunggu dulu baru bisa makan. Padahal sudah lapar tuh. Keliling Ciwalk, kami (aku dan pak Ersis) berkesimpulan bahwa restorannya tidak menarik semua. Kami tentu saja tidak mau makan di tempat franchise… masih mending di restoran Padang. So, kami akhirnya sepakat untuk mencari restoran yang lebih “representative” di Paris Van Java.

Wait, Paris Van Java memang aku tahu julukannya kota Bandung, dan sekilas saja mendengar bahwa itu adalah nama pusat pertokoan di Bandung. Tentu saja aku belum pernah ke sana (lebih udik lagi mungkin hihihi). Jadi kita makan di sebuah restoran Thailand di PVJ yang bernama Suan Thai (Paris Van Java GF-RL-C19 Jalan Sukajadi No. 137-139). Enak-enak makanannya di sini, tapi yang terenak adalah masakan daging sapi lada hitam (mungkin namanya beda). Mau deh ke situ lagi untuk pesan nasi dan daging sapi itu. Bener enak (duh ngebayanginnya aja sekarang ngiler deh aku hihihi…) .

masakan daging sapi yang uenaaak banget!

Di restoran ini Kai sempat protes. Waktu Catra dan Danny buka puasa di hotel, dia melihat om-omnya ini makan es buah. Dia pengen, tapi waktu mau ambil sudah habis. Lalu aku bujuk dia nanti beli di restoran. Nah, waktu lihat menu di restoran Thai itu, dia lihat semacam es shanghai gitu yang gelasnya pakai gelas es krim. Tapi waktu pesanannya datang, gelasnya lain! Duuuuuuh anakku itu memang begitu. Dia mau yang SAMA PERSIS! Hmmm anakku yang satu ini, kalau punya sumpit pribadi, dia maunya makan dengan sumpit pribadinya dia, dan tidak ada orang lain boleh pakai. Dan dia akan protes, kalau aku misalnya makan dengan sumpit papanya. Kalau cangkir untuk teh, ya hanya untuk teh, tidak boleh untuk yang lain. Kalau aku bilang tidak boleh pakai tangan (kalau makan mie atau masakan Jepang), dia akan protes melihat aku makan ayam/ikan+sambel pakai tangan. Orangnya KODAWARI, hmmm bahasa Indonesianya apa ya? Mungkin untuk kasus ini, CEREWET, strict, punya pendirian? Jadi waktu dia menerima es buahnya pakai gelas tinggi biasa, dia masih menanyakan es shanghainya dia mana????? Duuuh susah banget aku njelasin ke dia, bahwa ISInya sama, gelasnya kotor jadi ngga ada…terpaksa pakai gelas minum biasa…. sampai akhirnya aku bisik ke pelayannya, “Mas, kalau bisa sajiannya yang sama ya dengan yang di menu…anak saya nih jadi cerewet, karena dia pikir itu lain!” Si pelayan hanya senyum-senyum saja. Dan kelihatannya memang mereka tidak punya gelas es krim, atau malas mindahin. Karena kalau di Jepang, kita “protes” begitu, biasanya mereka akan pindahkan isinya ke gelas yang sama dengan di gambar hehehe. (Aduh semoga teman-teman bloggerku ngga ada yang seperti Kai yah :D)

Berbincang-bincang dengan pak Ersis yang sebetulnya sedang deg-degan karena ternyata keesokan harinya akan mengikuti ujian seminar proposal. Memang kami dengar soal ujian proposal, tapi tidak ngeh bahwa keesokan harinya  :D. Pembicaraan berkisar tentang dunia tulis menulis, dan aku dibawakan hadiah buku-buku karangan pak Ersis. Terima kasih banyak pak.

Satu hari di Bandung bisa bertemu dan kopdar dengan Erry, Danny, Pak Grandis, Pak Nanang, Catra dan pak EWA. Sayang Asop dan empunya Farijs van Java tidak bisa bergabung (karena memang mendadak juga sih). Senang sekali rasanya bisa merajut benang laba-laba yang lebih besar lagi.

 

BIG Usagi si empunya Usagi-goya, mengucapkan terima kasih pada Little Usagi a.k.a Putri yang telah membantu publish posting ini. Koneksi Jepang Indonesia tampaknya lelet seharian.