Arsip Bulanan: Juni 2011

Kota Tua Bersama Teman Lama

Akhir pekan yang lalu deMiyashita mendapat kehormatan mengantar pasangan  selebriti Indonesia yang sedang berwisata ke Tokyo. Teman sekelasku waktu di SMA, Ira Wibowo datang ke Tokyo bersama suaminya, penyanyi Katon Bagaskara dan anaknya Radya. Sebetulnya kami sudah sempat bertemu hari Rabunya tapi hanya sebentar, karena aku harus menjemput anak-anak sekolah. Kebetulan sekali Gen libur pada hari Sabtu dan Minggu, dan Ira juga belum ada rencana apa-apa. Gen yang juga sudah pernah bertemu Ira dan Katon tahun 2004, langsung mengajak kami semua berwisata bersama. Dia bersedia menjadi supir untuk dua hari 😀

Sabtu siang kami menjemput Ira, Katon dan Radya di hotelnya. Udara di luar hotel cukup panas, meskipun jika dibandingkan hari sebelumnya masih tolerable. Dan kami (aku) langsung merasa sejuk begitu melihat Ira berjalan ke arah kami. Dia masih tetap cantik dan langsing seperti waktu aku terakhir melihatnya. (Gen sempat berkata padaku, “Ya jelaslah mel, namanya juga cantik dari lahir, cukup senyum sedikit…… ” “keplek-keplek yang melihatnya” –sambungku hahaha). Untunglah kami bergerak dengan mobil sehingga tidak terlalu lecek muka kami hari Sabtu itu.

Tujuan kami adalah Kamakura. Melewati jalan tol, mampir di Daikoku PA (Parking Area) yang terletak di dekat pelabuhan Yokohama. Lalu melanjutkan perjalanan lagi ke Kamakura. Sudah masuk di daerah Ofuna, kami tertahan oleh kemacetan jalan. Padahal kami sudah mulai lapar! Lapar dalam keadaan macet itu amat tidak enak. Aku mulai mencari coklat atau apa saja yang bisa dimakan. Akhirnya kami berhasil mencapai stasiun Kita Kamakura. Tadinya kami pikir akan parkir di dekat stasiun ini dan naik kereta Enoden, untuk melihat tanaman hydrangea di sisi kanan jalur kereta. Tapi… tidak ada tempat parkir. Jadi kami terus menuju Daibutsu, patung Buddha raksasa yang menjadi obyek wisata keharusan di Kamakura. Jalan tetap merayap, sehingga rasanya akan lebih cepat jika kami berjalan saja sambil mencari restoran. Tapi Ira kasihan pada Gen yang harus mencari parkir. Lagipula di sepanjang jalan tidak terlihat ada restoran yang kami mau.

Persis jalan berbelok, Gen melihat sebuah restoran Soba (Mie Jepang) di sudut jalan. Kami cepat-cepat turun dari mobil,  masuk ke restoran itu dan memesan makanan. Untung saja, karena setelah kami masuk, petugas restoran memasang papan “TUTUP” di depan pintu restoran. Gen juga bisa mendapat tempat parkir dekat situ, sehingga aku memesan soba tambahan untuk Gen yang menyusul masuk restoran.

Dengan perut kenyang, kami berjalan ke Daibutsu yang tidak jauh lagi. Masih banyak wisatawan yang berjalan menuju ke Daibutsu, karena hari di musim panas memang terangnya lama. Sambil melihat-lihat kiri kanan, kami sempat menemukan sarang burung walet di bawah atap toko. Nah, di sini mas Katon mulai memperlihatkan kepiawaiannya memotret dengan Nikonnya.

Sepanjang jalan memang banyak toko, dan ada beberapa toko yang memamerkan produknya dimakan/dibeli/dipakai oleh presiden Amerika Obama. Ya, Obama pernah berkunjung ke Daibutsu ini. (Karena sebab  itu juga, Gen ingin mengajak Ira dan Katon ke sini). Ada toko dodol, toko softcream yang menjual OBAMATTCHA dll. Tapi tujuan kami yang utama adalah berfoto di depan Daibutsu sebagai tanda bahwa kami pernah ke sini (Ini kali ke dua untuk Riku, 2 tahun yang lalu waktu Silver Week kami sudah pernah ke sini, tapi tidak aku tulis di TE)

Daibutsu adalah patung Buddha besar yang terdapat di Kuil Kotokuin, merupakan warisan budaya nasional yang dibangun tahun 1264 dan dipugar tahun 1737.

Terbuat dari campuran tembaga, patung ini setinggi 13,35 meter dengan berat 121 ton. Sebetulnya kami bisa masuk ke dalam patung ini lewat pintu belakang tapi hanya anak-anak saja yang masuk. Dua tahun lalu, aku ikut masuk melihat bagian dalam patung ini dan …di dalam itu panas sekali. Tentu saja terbuat dari tembaga sih.

Mas Katon memotret dengan Nikonnya, aku juga, dan anak-anak bergantian memakai kamera yang ada. Pokoknya kesempatan untuk berpotret. Memang masih banyak orang yang datang, sehingga kami harus mengambil sudut-sudut tertentu supaya orang lain tidak masuk dalam frame foto kami.

Foto bertiga, Katon, aku dan Ira pakai kamera HP

Pose yang aku paling suka adalah pose anak-anak bersila mengikuti cara duduk Buddha. Dengan foto ini bisa diketahui skala besarnya anak-anak dibandingkan patung Daibutsu itu.

Puas menghabiskan waktu di Daibutsu ini, kami pulang menuju tempat parkir, sambil mampir-mampir di toko souvenir di sepanjang jalan. Tujuan berikutnya adalah Tsurugaoka Hachimangu, sebuah kuil Shinto yang akan aku tuliskan di posting berikutnya.

 

 

 

Duduk atau Jongkok

Mungkin akan lebih banyak yang berkata, “Tentu saja kalau bisa duduk, lebih baik pilih duduk dong mel, daripada jongkok!”… eits tapi tidak demikian dengan ibuku. Dia itu sebetulnya paling anti duduk……………. di WC. Sayangnya karena semakin tua dan kakinya bermasalah jadi terpaksalah dia selalu masuk ke WC duduk. Nah, pernah kejadian aku dan mama masuk ke sebuah toilet yang pintunya kaca buram. Kalau tidak salah di P*s*r*y* Jakarta deh,  jadi bisa terlihatlah “kegiatan” kita di dalam bilik tersebut meski samar-samar.

Begitu aku keluar dari WC, dia berkata, “Mel…kok kamu duduk sih? Kan kotor!”
“Laaahhh wong WC duduk kok aku musti jongkok di WC duduk?”
” Iya bukan jongkok, tapi ya jangan duduk bener-bener di situ gitu”
“Waduh sambil nungging gitu maksudnya? Ya susah lah……nanti salah masuk lagi, jadi repot” hihihi

OK, Jangan anggap aku jorok ya dengan menulis seperti di atas. Percakapan seperti itu pasti akan ada di kalangan kita semua, kecuali tidak mau berterus terang. Lagipula masalah membuang hajat itu kan adalah manusiawi sekali. Buat apa malu? (Aku mungkin termasuk guru slengekan yang bisa menjelaskan pemakaian wc/kamar mandi kepada murid-murid orang Jepang… daripada mereka salah pakai kan?)

Kali ini aku ingin menjawab komentar dari pak Guru Uda Zul yang menuliskan di posting “Peringatan itu perlu tidak?” begini:

walau kurang populer, saya kira sangat menarik membahas masalah wc dan cara perjongkokannya di Jepang mbak imel. Apalagi kalau yang nulisnya mbak imel, dijamin ada nilai plusnya. Ditunggu lho….

Selain Uda Zul, banyak pula komentator lainnya yang merasa lucu, aneh, heran dengan tulisan saya di situ. Bahkan akhirnya tulisan yang saya ikut sertakan dalam acara ASKATnya pakdhe Cholik pun terpilih dan saya mendapat sebuah buku berjudul “Semiliar Cinta untuk Ayah”.

Sebelum mulai menjelaskan  tentang WC di Jepang, aku ingin menunjukkan bahwa di depan WC biasanya ada lambang ini: Laki-laki dan Perempuan. Dan warnanya pasti biru untuk laki-laki dan pink/merah untuk perempuan. Hanya dengan melihat warnanya saja orang bisa membedakannya. Kadang ada juga restoran yang eksentrik dengan memasang lambang dengan topi wanita dan topi laki-laki atau kalau di restoran Indonesia malah memasang topeng wanita dan laki-laki wayang…. atau sebuah gedung di Jakarta juga memasang tanda yang unik dengan koper dan tas, tapi terus terang lambang-lambang ini tidak internasional yang dapat membuat bingung pengguna WC.

Tanda umum : wanita itu merah/pink, laki-laki itu biru…. (Siapa sih ya yang menetapkan harus begitu? Soalnya aku suka biru 😀 )

WC di Jepang ada dua jenis, yaitu WC jongkok yang disebut sebagai WC ala Jepang 和式 dan WC duduk yang disebut WC ala Eropa 洋式. Biasanya di pintunya ada lambang seperti ini:

Jadi jika pergi ke WC umum, biasanya lebih banyak WC jongkoknya daripada WC duduknya. Tapi memang lihat tempatnya juga. Kalau ke bandara tentu saja lebih banyak WC duduknya. Nah peringatan yang fotonya aku pasang di posting “Peringatan itu perlu tidak” tentu saja dipasang di dalam bilik WC jongkok yang seperti ini. Foto sebelah kiri aku ambil di bandara Haneda, sehingga wujud WC nya lebih bagus daripada WC jongkok yang biasa ada di stasiun-stasiun.

Biarpun WC jongkok, di setiap bilik pasti tersedia tissue. Tidak disarankan memakai tissue kering/basah yang dibawa karena bisa menyumbat saluran. Tissue yang disediakan biasanya mudah larut dalam air.

WC duduk memang bermacam-macam juga, ada yang biasa tapi ada yang dilengkapi washlet (bidet dilengkapi penghangat untuk musim dingin. Selain bisa membilas untuk wanita, mencuci sesudah b.a.b, ada pula yang dilengkapi pengering -dryer). Bisa di lihat pula di foto di atas kiri dan foto di bawah ada tempat duduk khusus untuk bayi berusia 5bulan -2 tahun, sehingga para ibu bisa mendudukkan bayinya di situ selagi memakai WC. Perlu diketahui bahwa ibu-ibu di Jepang menggendong bayinya sendiri tanpa baby sitter atau orang lain yang bisa dititipkan selama sang ibu ke WC. Jadi untuk mendudukkan bayi biasanya ada beberapa WC Umum yang dilengkapi tempat duduk khusus bayi ini.

di sayap kanan kloset itu ada tombol-tombol untuk membilas.

Pipa putih di dinding adalah salah satu usaha barrier-free, tempat pegangan untuk lansia. Di WC Jepang tissue HARUS dibuang ke dalam kloset TIDAK BOLEH dibuang ke dalam tempat sampah. Sistem pembuangan di Indonesia tidak bagus sehingga kita tidak bisa mengalirkan tissue ke dalam kakus, sehingga kita harus membuangnya ke dalam tempat sampah.

Ada seorang mahasiswaku menanyakan apakah washlet yang memiliki penghangat ini akan laku jika dijual di Indonesia? Kubilang, tidak karena mahal, dan orang Indonesia tidak perlu penghangat karena tidak ada musim dingin. Selain itu butuh listrik khusus. Lagipula Indonesia memakai air yang ditampung di bak kecil samping kloset, atau jet-shower yang (lebih) muantabs! Jadi kalau mau memasarkan washlet ini lebih baik ke negara-negara 4 musim.

Alat yang mengeluarkan suara air, produksi Toto. Salah satu usaha untuk menghemat air. Lihat titik-titik di bagian atas, itu huruf braille untuk tuna netra.

Jadi begitulah WC di Jepang…. sepertinya sudah kujelaskan cukup detil. Oh ya ada satu lagi alat yang sering terrdapat di dinding dalam bilik WC (terutama WC perempuan) yaitu OTOHIME, sebuat alat untuk menutupi suara-suara yang dikeluarkan waktu buang hajat. (Aku sudah pernah tulis di sini, silakan baca keterangan detilnya) . Otohime ini akan mengeluarkan suara bagaikan air mengalir. Ini juga salah satu usaha penghematan air.

Hmmm apa lagi ya? Sepertinya sudah semua deh. Nanti kalau teringat aku tambah lagi deh.

Kiri peringatan di WC jongkok, Kanan peringatan di WC duduk 😀

 

Riku Dapat SIM

Benar-benar SIM loh, bukan main-main. Surat Ijin Mengemudi SEPEDA yang dikeluarkan oleh Kepolisian daerahku di Tokyo. Jadi di sekolahnya tanggal 22 kemarin ada pelajaran “Keselamatan Lalu Lintas”, dan ada test praktek mengendarai sepeda, juga test tertulis! Dan Riku lulus! Horeeee, dia senang sekali bisa berlagak seperti orang dewasa, pakai SIM segala, meskipun hanya SIM Sepeda. Katanya sih ada juga yang tidak lulus.

Tampak muka berisi nama dan nama sekolah

Kurasa pengadaan SIM seperti ini bagus sekali. Tidak jarang kecelakaan justru terjadi karena anak-anak kebut-kebutan dengan sepeda, tidak melihat rambu-rambu dll. Setahuku sih tidak dipungut bayaran (atau sekolah yang membayarkan dulu ya? Sampai sekarang belum ada tagihan)

Tampak belakang dengan peringatan-peringatan (isinya nanti deh ya, aku mau pergi dulu)

Sekarang aku juga lebih tenang membiarkan dia bermain sepeda, karena sudah ada pengakuan dari yang berwenang bahwa Riku memang sudah mahir bersepeda. Juga jika dia membawa SIM itu, jika terjadi apa-apa kami bisa langsung dihubungi.

***************************

Terjemahan tampak belakang kartu :

(Patuhi peraturan untuk mencegah kecelakaan)

* Harus berhenti di  perempatan dan memastikan bahwa sudah aman
* Setelah lampu lalu lintas menjadi hijaupun, jangan langsung jalan/bergerak
* Tidak boleh membonceng (Ini berlaku untuk semua pemakai sepeda dewasa, kecuali untuk ibu/bapak yang membonceng anak balita)
* Sebelum senja menjadi gelap, nyalakan lampu
* Trotoar diprioritaskan untuk pejalan kaki
*Tidak menghentikan/parkir sepeda di tempat yang mengganggu pengguna jalan lainnya, seperti di atas jalan khusus untuk tuna netra.
**** Kartu ini bukan untuk membatasi pemakaian sepeda

 

Peringatan itu perlu tidak?

Peringatan dari Pakdhe Cholik bahwa tulisan ASKAT harus dilaporkan/didaftarkan sebelum pukul 17:00 teng itu benar-benar strict sekali. Lewat berapa detik langsung ditutup tuh pendaftarannya. Maklum deh pak Komandan blogger ini memang tegas dan seram :D. Aku sendiri sudah 2 kali mengikuti acara ASKAT, tapi ya itu, yang ke dua terlambat. Dan waktu hari ini aku melihat kata kuncinya ASKAT adalah peringatan, aku sedang berada di luar rumah. Sibuk deh berpikir mau menulis apa tentang PERINGATAN.

per·i·ngat·an n 1 nasihat (teguran dsb) untuk memper-ingatkan:  2 kenang-kenangan; sesuatu yg dipakai untuk memperingati:  3 catatan: 4 ingat-an; 5 hal memperingati (mengenang dsb):  (KBBI Daring)

Nah, tadinya aku mau menulis tentang peringatan yang nomor 5, tapi kok tidak ketemu tentang apa. Hari Ayah sudah lewat. Meskipun kalau cari di igoogle ku hari ini di Jepang adalah GESHI 夏至, yaitu hari dimana panjang siangnya terpanjang selama setahun. Jadi hari ini katanya panjangnya siang 14 jam 36 menit karena matahari baru terbenam jam 19:01 (Tokyo).

Jadi aku mau menulis tentang beberapa “Peringatan” yang bisa diterjemahkan menjadi WARNING 注意 yang ada di Jepang. Peringatan ini belum pernah aku jumpai di Indonesia.

1. Peringatan pada sumpit kayu: “Hati-hati waktu membelah sumpit, jangan sampai tertusuk”. Apalagi ada beberapa toko yang menyediakan tusuk gigi di dalam plastik sumpit. Bagus sekali ada peringatan ini, meskipun belum tentu orang “sempat” membacanya. (Saking laparnya…)

Ada bahasa Inggrisnya loh, "Toothpick may hurt your finger"

2. Peringatan pada WC yang sedang dibersihkan. “Hati-hati sedang dibersihkan, licin”. Nah, kalau ini kupikir memang perlu, apalagi kakek nenek yang jalannya susah dan mudah tergelincir.

Papan peringatan ini dipasang di depan WC atau lantai yang sedang dibersihkan/dipel

3. Peringatan cara jongkok di WC ala Jepang. Cara menghadapnya kemana ditandai dengan tanda bundar (yang benar) serta tanda silang (salah). Hmmm ini juga perlu deh, jangan sampai “salah tembak” hihihi.

Peringatan: Jangan hadap belakang! hihihi

4. Peringatan bahwa ada kamera pengintai. Perlukah ini? Hmm paling tidak sebagai pencegah supaya jangan berbuat jahat/iseng karena tindakanmu terekam loh.

Perlu tidak ya? Buat yang pacaran mungkin perlu, supaya kalau sedang ciuman jangan terekam. Tapi... orang Jepang cuek-cuek kok 😀

5. Peringatan untuk berhati-hati akan kotoran burung dara/walet di stasiun. Ya memang kadang ada burung-burung yang membuat sarang di tiang-tiang stasiun, di atas peron, persis di atas orang-orang menunggu kereta datang. Tapi meskipun ada peringatannya, kita tidak bisa menengadah terus ke atas untuk melihat ada burung dara/walet ngga ya. Salah-salah si kotoran-chan akan masuk ke dalam mulut kita (makanya mingkem! hihihi). Untuk peringatan ini aku tak punya fotonya. Nanti deh kalau nemu dan sempat foto ya 😀

Di Jepang sebetulnya banyak peringatan-peringatan yang kadang kala kami pikir tidak perlu. Tapi begitulah orang Jepang, tidak mau membuat orang lain menderita atau celaka, jadi dipasanglah peringatan-peringatan itu. Juga sebagai “tameng” jika terjadi sesuatu, bisa mengatakan… “Loh kan sudah dikasih peringatan” 😀

Posting ini diikutsertakan dalam acara ASKAT nya pakdhe.

 

Papaku Ultraman

Posting hari ini untuk memenuhi permintaan teman blogku Andori, yang meminta aku menulis tentang buku ini di Hari Anak. Berhubung waktu itu aku tidak bisa “mengadakan” buku itu, entah pinjam di perpustakaan atau membelinya, jadi kupikir biar untuk moment pas Hari Ayah saja.

Ya, hari ini tanggal 19 Juni adalah hari Ayah. Tapi…papa Gen harus bekerja. Padahal hari ini juga ada open school di SD Riku. Riku agak sedih karena papanya tidak bisa datang ke kelasnya, tapi cukup senang hari hari Senin besok Riku dan Papanya sama-sama dapat hari libur pengganti.

Papa by Riku

Sebelum mulai bercerita sedikit mengenai picture book “Papaku Ultraman”, aku ingin mengucapkan Happy Father’s Day untuk semua ayah yang kukenal. Di sini aku juga ingin memperkenalkan tulisan-tulisan sahabat blogger tentang ayah yang bisa dibaca di blognya Uda Vizon “Surau Inyiak” dalam pagelaran Baralek Gadang. Aku juga menulis di situ dengan judul, “Syarat Menjadi Ayah yang Baik”. Silahkan baca di sana.

Picture book Papaku Ultraman karangan Miyanishi Tatsuya

Papaku Kuat
Papaku Ultraman.
Papaku Kuat.
Papaku amat kuat, tak terkalahkan.
Tapi….
Juga lemah (terhadapku)

Papaku Tidak Kenal Lelah.
Papaku Ultraman.
Berkelahi dengan monster, penuh luka pulang ke rumah.
“Papa pulang”(dengan lunglai)
“Papa…….. selamat pulang! Main monster-monsteran yuuuk”
(dan masih menyimpan energi untuk bermain denganku)

Papa Tidak Menangis.
Papaku Ultraman.
Papa selalu berkata, “Laki-laki tak boleh cengeng”
“Sakit sedikit…tahan… jangan menangis”
“Takut sedikit…tahan…jangan menangis”
Tapi……
Bisa menangis juga (waktu melihat gambarku)

Papa Tidak Takut Luka.
Papaku Ultraman.
Papa berkelahi dengan semangat.
Meskipun luka tetap berkelahi.
“Laki-laki itu harus terluka” sambil terttawa.
Tapi……
Paling tidak tahan melihat anaknya terluka 😀

Papa Disiplin.
Papaku Ultraman.
Dia sangat disiplin. (harus selalu membereskan mainan yang berantakan)
Tapi…. Sesudah berkelahi dengan monster, langsung terbang, tanpa membereskan apa-apa. 😀

Masih ada lagi cerita di dalamnya tapi picture book itu tidak menarik jika tidak membacanya sendiri. Tapi pada intinya buku ini ingin menceritakan bahwa sehebat-hebatnya seorang ayah, sekuat apapun, setegar apapun, jika berhadapan dengan anaknya sendiri, bisa berubah 180 derajat! Atau apa yang dikatakan atau diajarkan seorang ayah pun bisa berubah jika itu mengenai dirinya sendiri. “Harus makan sayur supaya sehat”, padahal dirinya sendiri tidak makan sayur 😀 . Kesimpulannya? Ultraman juga manusia (baca: Papa juga manusia) (sambil menyanyi “Rocker juga manusia ” by Seurieus hihihi)

Papa ultraman juga bisa menangis melihat hasil gambar anaknya 😀

 

Ubi dari Jakarta

Kentang dalam bahasa Jepang disebut sebagai Jagaimo. Imo sendiri artinya ubi, nah masalahnya artinya jaga apa?

Rupanya kentang pertama kali masuk ke Jepang tahun 1600-an yang dibawa oleh kapal-kapal Belanda. Kentang-kentang ini berasal dari Jakarta, jadi untuk menamakan umbi baru ini dipakailah nama  Jagatara (waktu itu Jkt bernama Jayakarta dan disebut orang Jepang sebagai JAGATARA) imo == Jagaimo dan nama ini dipakai sampai sekarang.

Menjelang musim panas begini, setiap bulan Juni, TK tempat Kai bersekolah (dan tentu Riku juga dulu, cerita waktu Riku bisa baca di sini) mempunyai program untuk memanen kentang di ladang masyarakat sekitar. Tentu ada biaya tapi ini dicover dari uang sekolah, sehingga kami tidak ditarik biaya lagi.

Hari Kamis pagi aku mempersiapkan peralatan yang harus dibawa yaitu  sepatu boot yang biasa dipakai waktu hujan dimasukkan dalam plastik, kemudian sarung tangan berkebun untuk mengambil kentang. Mereka mengambil kentang langsung pakai tangan, jadi harus pakai sarung tangan berkebun (gunte 軍手). Tapi jarang ada sarung tangan kebun yang khusus untuk anak-anak TK, jadi kami disuruh membawa kaus kaki bekas saja. Kemudian kami juga harus menyiapkan kantong plastik yang agak tebal untuk membawa hasil panenan. Semua peralatan harus diberi nama.

Sejak pagi Kai sudah bersemangat. Padahal cuaca hari itu mendung. Jika hujan maka acara memanen ini akan dibatalkan. Untung saja sampai dengan kelas Kai pergi ke ladang kentang, hujan tidak turun. Dan Kai bisa membawa pulang sekantong kentang yang masih diliputi tanah untuk mama. Ada kira-kira 2 kg.

Kentang hasil panenan Kai

Begitu pulang, tentu saja Kai minta aku memasak kentang hasil panenannya. Tapi berhubung aku capek sekali dan kami sampai di rumah sudah pukul 6 malam, jadi aku masak miso soup dengan kentang dan potongan daging. Tadinya ingin membuat German Potatoes, tapi tidak keburu. Hari ini aku coba membuat Rosti Swiss dan hasilnya lumayan enak. Aku juga sudah beli daging untuk membuat Kare daging+kentang besok. Untuk beberapa hari ini menu deMiyashita sudah pasti ada kentangnya deh.

Kentang dan tangan Kai 😀

Kentang dan ubi jalar banyak di Jepang, tapi singkong tidak ada. Dan biasalah manusia selalu mencari yang tidak ada kan hehehe. (Ssst di bahasa Jepang singkong itu artinya pengantin baru loh 😀 )

Model Tak Harus Seksi

Model lebih banyak dikaitkan dengan peragawati yang cantik-cantik, tinggi dan langsing kalau tidak kurus. Belum lagi kalau peragawati itu menjadi model baju renang, sudah pasti harus seksi.

Menurut KBBI Daring arti model ada empat :

mo·del /modél/ n 1 pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dr sesuatu yg akan dibuat atau dihasilkan: rumahnya dibuat spt — rumah adat; 2 orang yg dipakai sbg contoh untuk dilukis (difoto): pernah aku menjadi — lukisan; 3 orang yg (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yg akan dipasarkan: gadis — yg cantik-cantik itu memperagakan pakaian dr bahan batik; 4 barang tiruan yg kecil dng bentuk (rupa) persis spt yg ditiru: — pesawat terbang; — dasar pola utama: ia menggunakan jenis tari bedaya sbg — dasar ciptaannya

Nah, yang berhubungan dengan wanita tentu saja arti yang nomor 2 dan 3. Beruntunglah aku sudah pernah menjadi model untuk kedua arti tersebut. Beruntung? Ya tentu saja beruntung, karena aku tidak pernah bercita-cita jadi model, karena menyadari bentuk badanku jauuuuuh dari kriteria untuk menjadi model. (Ya ini juga karena di Jepang sih, kalau di Indonesia sainganku pasti banyak :D)

Meskipun agak maksa dan terpaksa, aku pernah menjadi model lukisan tapi berpakaian baju tradisional Indonesia, yaitu kebaya dan baju Bodo. Tulisannya pernah kutulis di sini : Menjadi model = harus bugil?

Nah, aku juga pernah menjadi model kacamata, membantu teman yang memang designer kacamata dalam sebuah lomba. Tapi aku masih kalah dengan adikku karena dia menjadi model kacamata yang bisa dilihat seluruh Jepang karena memang masuk majalah.

maunya sih pasang fotonya adikku yg di majalah, tapi takut dia marah...musti tanya dulu hehehe

Lalu untuk model yang memperagakan contoh pakaian? Tentu pernah (ho ho), yaitu memperagakan dengan berjalan di atas catwalk, baju tradisional dari Sumatra Barat, bersama adikku yang memakai kimono berwarna merah (senada) dalam festival kimono internasional bertahun lalu.

Baju tradisional Sumatra Barat bersanding dengan kimono jepang. Modelnya aku dan adikku Tina

Sebenarnya aku ingin memasang foto-foto sebagai bukti, tapi karena waktunya mepet, fotonya belakangan yah (hihihi) belum dicari dan discan 😀

Berjalan di atas catwalk.... sebetulnya tidak bisa senyum karena itu hiasan kepala beraaaaat ....hiks

Aku ingin ikut berpartisipasi dalam acaranya ASKATnya pakdhe soalnya, jadi untuk foto…sabar dulu.Dan sekaligus membuktikan bahwa menjadi model tak perlu seksi kok 😉

 

**************************

pakdhe…masih terima ngga? publishnya pas jam 17:00 tuh Kalau tidak terima ya ngga apa-apa juga sih 😀

Nama: Imelda
Judul : Model Tak Harus Seksi
URL: http://imelda.coutrier.com/2011/06/15/model-tak-harus-seksi/

+ foto buktinya belakangan soalnya masih musti cari dan scan hehehe

EM

Ternyata pendaftarannya ditutup tepat jam 17:00 dan saya tidak berhasil menuliskan komentar ke sana 😀 Biarlah, untuk ngeramein narsis sambil mamer foto aja 😉

 

 

Panjang Umur – Umur Panjang

Tadi pagi waktu kubuka akun Facebookku, aku bisa melihat ada kumpulan foto-foto saudara-saudara kami dalam sebuah pesta di Belanda. Dengan foto itu aku mengenali beberapa om yang pernah kutemui. Well, mereka sudah bertambah tua, tentu saja. Tapi yang menjadi primadona adalah oma Dorothea, adik perempuan dari alm. Opa dari papa, yang menjadi 90 tahun pada January 2010 (sekarang 91 tahun). Pesta itu untuknya, seorang oma yang cukup kukenal baik karena pernah beberapa kali bertemu dan bercakap-cakap di telepon. (Dia masih mahir berbahasa Makassar, sayangnya aku yang tidak bisa :D, sepertinya aku harus belajar bahasa Makassar nih)

Oma Do pada pesta ulang tahun yang ke 90

Kebetulan kemarin malam, dalam pelajaran Bahasa Indonesia kami membicarakan tentang umur. Usia rata-rata orang Jepang sekarang 82,6 tahun, tertua di dunia. Tapi aku cukup kaget membaca di wikipedia bahasa Jepang tentang Jumyou 寿命 bahwa negara jiran  Singapura termasuk dalam 17 negara yang usia rata-rata mencapai 80 tahun lebih. Wah! (Kesejahteraan dan  kesehatan kan membuat mereka panjang umur) Indonesia? cukup 70,7 tahun saja. (lihat daftarnya di sini. ups maaf bahasa Jepang :D)

Satu lagi informasi yang kudapat dari wikipedia itu adalah, selama ada pencatatan (diketahui pasti tanggal lahirnya, bukan yang tidak pasti seperti pernah mbak Monda tulis di sini) adalah seorang Perancis bernama Jeanne Louise Calment hidup sampai berusia 122 tahun.

Wahhh masih badansa dengan anaknya

Kalau kita mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang, pasti kita mengatakan atau menyanyikan “Panjang Umurnya…”. Tapi sebetulnya mau sepanjang apakah umur kita? Tentu saja kita tidak bisa tahu, karena panjang tidaknya umur kita adalah wewenang Tuhan. Tapi benarkah kita ingin umur panjang?

Nah, kemarin itu ada seorang muridku yang berusia 60 tahun, akan mendirikan perusahaan di Indonesia, dan dia masih terlihat muda. Hobinya? naik gunung. Dan katanya dia memang tidak banyak mengasup kalori. Katanya kalori itu membuat pendek umur, jadi sebaiknya jangan mengasup kalori terlalu banyak, cukup sepertiganya saja. Dan menurutnya ada sebuah obat umur panjang yang dijual. Namanya Resveratrol, dijual di Amerika seharga 2000 yen (entah dapat berapa biji). Katanya dengan minum obat itu, penuaan akan terhenti, dan kita dapat hidup sampai 100 tahun (tentu saja diluar faktor kecelakaan dsb).

Di situ aku langsung berkata, “Hmmm aku tidak tahu apakah aku mau membeli obat itu. Untuk 2000 yen mungkin murah, dan orang akan berusaha membelinya. Tapi…. kalau aku bisa umur panjang, so what? Apa yang aku bisa kerjakan di usia 100 tahun. Pasti tidak bisa seflexibel waktu muda kan? Pikun? Tidak bisa berjalan? Tidak bisa mencari uang pastinya. Mending 2000 yen nya ditabung untuk anak-anak saja”. (Eh tapi kalau orang kaya sampai uang berlebih mungkin beli satu pabrik yah 😀 )

Mati dan hidup lanjut memang rahasia Tuhan. Sebagai orang beragama tentu kita harus mengisi hidup kita dengan kebaikan. Semua agama pasti menyarankan begitu. Tapi kalau kita juga mau berandai-andai, sebetulnya (kalau bisa) kita mau hidup sampai umur berapa sih? Terus terang aku melihat foto Oma Dorothea itu, aku tak yakin aku bisa sampai 90 tahun dengan begitu sehat dan RIANG. Dan setelah kupikir-pikir aku mau hidup sampai usia berapa? Tetap aku tak bisa menjawabnya. Tapi yang pasti aku tidak mau membeli obat umur panjang :D. Kamu bagaimana?

 

***************
Karena aku mau memasang  fotonya di sini, aku mau meminta ijinnya. Sudah lama juga aku tidak meneleponnya, lebih dari dua tahun. Ya terakhir aku meneleponnya pada hari Ulang tahunnya yang ke 89! Padahal dia sekarang berusia 91 tahun. Kesempatan bagus, setelah aku mencari tahu waktu di Belanda masih pukul 11 pagi.

Oma Do bernyanyi atau pidato? Sayang aku lupa tanya 😀

Oma Do sangat senang begitu aku menyapanya, dan tentu dia masih ingat aku. Sebetulnya waktu gempa di Tohoku, dia ingin meneleponku, tapi karena tidak tahu jadi menelepon papa di Jakarta. Kami berbicara cukup lama sekitar 30 menit, bercerita tentang masa lalu, sejarah keluarga kami, sambil aku juga bertanya apa kegiatan dia. Dulu dia tinggal bersama anak perempuannya, tapi karena anak perempuannya pindah, dia tinggal sendiri. Dia mengakui bahwa pada malam hari dia sering kesepian sendiri.

Karena umurnya sudah lebih dari 90, dia memberikan mobilnya pada anaknya dan tidak menyetir lagi. Dia bilang, “Aduh melda, aku seperti kehilangan pacar. Mobil itu pacarku. Saya kan tidak bisa minta antar-antar terus pada anak-anakku. Jadi sekarang tidak bisa bebas pergi”

Sepi sendiri, tapi Oma Do masih tetap ceria, bahkan sempat menasehatiku untuk melihat semuanya dari sisi positif. Tapi waktu aku mau menutup percakapan kami, aku tetap berusaha berbicara ceria, dan sempat mendengar suaranya bergetar di kata “Daag ” yang terakhir 🙁

Waktu kulihat tarif telepon dari Jepang ke Belanda selama 30 menit hanya 250 yen! Ah, aku harus sering-sering menelepon ke sana juga.

So, aku pasang foto omaku tersayang, Oma Do, 91 tahun yang sekarang tinggal di Amersfoort, Belanda.

Dan dia sempat bertanya, “Kenapa kamu harus tanya dan minta ijin segala imelda?”
“Well, orang Jepang memang harus tanya dulu, terutama jika akan dipublikasikan”
“Ooooh, karena takut disalahgunakan di internet ya?”
“Iya oma….”
“Tapi kamu pilih foto Oma yang bagus ya”
“Tentu!”

Oma Do.... I love you

 

12 Juni 2012 Oma Do berkunjung ke Jakarta menemui papaku, dan adik-adikku… Ah sayang sekali waktunya tidak pas dengan waktu mudikku sehingga aku tak bisa bertemu. I really want to hug you Oma……

 

 

Pada Hari Minggu

kuturut ayah ke kota…. (emangnya aku tinggal di desa)

naik delman istimewa kududuk di muka (boro-boro delman, di sini bajaj aja ngga ada)

kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja (pak supir aja deh)

mengendarai kuda supaya baik jalannya (supaya jangan ngebut!)

tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuuuukkk (brummm brummm)

***********

Aku mau bercerita tentang hari Minggu yang lalu, Minggu tanggal 5 Juni yang lalu. Kami menghabiskan waktu dengan… belanja.

Tapi belanjanya bukan yang seperti dibayangkan man-teman. Karena bukan belanja harian/bulanan sebangsa makanan, atau baju/sepatu dan lain-lain. Tapi belanja untuk menunjang hobi lama dan baru deMiyashita.

Tujuan kami hari itu adalah Stasiun Nakano, karena hanya di situ ada barang yang kami cari. Jadi kami berempat naik bus, lalu naik kereta dari Kichijoji. Sesampai di Nakano kami langsung ke lantai 2  sebuah mansion (apartemen) yang penampakannya seperti ini:

Toko khusus all about insect yang bernama Mushi-sha. Masuk sini bisa beli kumbang kelapa, jenis kumbang lain yang masih hidup atau sudah mati, peralatan menangkap/membesarkan dsb. Di tempat terpisah ada kupu-kupu dari Indonesia juga. Muahal!

Kalau bukan demi anak (dan suami) aku jelas-jelas TIDAK MAU masuk sini. Hiiii… bergidik aku lihat kumbang-kumbang dalam toples bergerak. grotesque... Ada juga kepompongnya, di dalam tanah yang masih musti tunggu menetasnya. Penampakan dalamnya seperti ini:

Ini penampakan dalamnya, waktu 3boys pergi pertama kali dan aku tidak ikut. Waktu aku ke sana banyak orang loh. Terutama anak laki-laki.

Memang menjelang musim panas, hobi mengumpulkan kumbang dan kupu-kupu memuncak. Aku juga lihat loh anak perempuan datang melihat-lihat. Duh aku rasa anak Indonesia tidak ada yang sampai sesuka ini pada serangga. Bayangkan sampai ada toko khususnya loh.

Poster tentang toko khusus ini. Hebat deh orang Jepang kalau sudah suka pada sesuatu. Mereka benar-benar mendalaminya. Riku saja sudah bisa membedakan beberapa jenis kupu-kupu sekarang.

Sebuah poster di luar toko menunjukkan bahwa banyak kumbang ditemukan di Indonesia terutama Jawa dan Sumatra. Bahkan toko ini juga mengatur paket tour ke pulang Flores khusus untuk menangkap serangga! Kalau orang betawi bilang Edan hehehe.

Frame ini yang kami beli di toko khusus serangga di Nakano.

Sebetulnya kami ke sini hanya mau membeli kotak kaca untuk penyimpanan kupu yang telah dikeringkan. Kira-kira sebesar B5 harganya 1500 yen.(Begitu pulang Riku langsung memasukkan kupu-kupunya yang telah kering. Keren juga euy hasilnya.

Sesudah dari toko khusus serangga ini, kami makan siang dan langsung mencari barang kedua yang kami perlukan. Yaitu album perangko. Ya, tidak setiap toko buku menyediakan buku perangko. Dan berkat perangkat GPS di HPku, aku menemukan beberapa toko buku di sekitar situ. Langsung aku telepon dan mencari toko yang tidak terlalu jauh itu.  Mereka hanya punya  2 buku, padahal kalau ada tiga aku mau beli juga. Tapi ya sudahlah, yang penting ada untuk Riku dan Kai.

Kedua anakku memulai hobi baru. Kita lihat bisa lanjut terus sampai kapan 😀

Sayangnya album yang ada di Jepang kebanyakan berupa clear file dengan kertas hitam berpita transparan, bisa dikeluar masukkan. Aku tidak suka yang ini, aku lebih suka buku lama, benar-benar seperti album. Tapi karena jarang sekali album yang seperti kumau itu, jadi beli saja yang ada. Sebesar B5 (22 x 17 cm) , 8 halaman harganya 1365 yen (menjawab pertanyaan mbak Devi dalam posting Dara-dara). Mahal menurutku. Dan memang sih hobi mengumpulkan perangko ini mahal, seperti yang dikatakan pak Agus Siswoyo di postingan Dara-dara. Karena sebetulnya selain mengumpulkan perangko bekas hasil surat-menyurat, kita bisa membeli perangko bekas “kiloan” atau mengumpulkan perangko baru yang belum dipakai.

Stamp album (Stock Book) di Jepang banyak yang berbentuk begini.

Nah, dulu waktu aku masih single dan kaya (ho ho) aku selalu membeli 1 sheet perangko setiap ada perangko baru terbit. 1 Sheet berarti sekitar 10-20 perangko. Tergantung nominalnya berapa, kalau 50 yen berarti 1 sheet bisa 1000 yen kan. Dan, Pos Jepang selalu menerbitkan perangko baru sedikitnya 2-3 jenis per bulan! Belum lagi masing-masing prefektur juga bisa menerbitkan perangko khusus. Duh, tak ada habisnya jenis perangkonya, tapi yang pasti habis uangnya 😀

Koleksiku. Kiri atas adalah perangko kuno, jaman pendudukan Jepang, bertuliskan JAWA. Kanan atas, perangko Jepang banyak yang bersambung gambarnya spt itu. Kiri/kanan bawah clear file tempat menyimpan perangko lembaran/sheet.

Untuk perangko dalam 1 lembaran itu aku memasukkan ke dalam clear file biasa saja bukan yang khusus untuk perangko, karena lebih murah. Koleksiku yang 1 sheet baru 5 album. Sedangkan yang dimasukkan ke album baru 3 album. Ini yang di Jepang. Yang di Indonesia sih banyak hehehe, sudah ada 12 album dari seluruh dunia! Setiap mudik aku pandangi dan simpan lagi. Untung tidak kena lembab, jadi kondisi masih bagus.

Lihat apa yang kutemukan dalam Koleksi Gen (beruntunglah kami berdua hobinya sama) . Perangkonya Agus Salim, satu-satunya perangko Indonesianya sebelum kami menikah. Tentu saja ada byk koleksi kuno dari Indonesia milik alm kakeknya.

Jadi sepulang dari Nakano, deMiyashita langsung berkutat dengan hobinya. Ada yang masukkan perangko ke album, ada yang memasukkan kupu-kupu ke dalam frame. Kai yang terkecil meskipun baru 3 tahun 10 bulan, juga ikut-ikut mempunyai album perangko. Mana mau dia kalah dengan kakaknya 😀

Tapi sesungguhnya belanjaan kami hari ini bukan hanya frame kupu-kupu dan album perangko. Tapi juga ada satu set Lego Star Wars untuk Riku dan Kai. Riku sedang tergila-gila pada Lego Star Wars, sehingga ingin membeli yang baru terus. Dasar perusahaan juga mau untung, mereka menempatkan master Yoda,Luke skywalker dsb yang ber-light saver itu tercerai berai dalam pake yang beragam. Jadi kalau mau punya pentolan Star Wars yang lengkap harus beli semua. Huh ! Duit lagi….. jadi pilih yang paling murah 😀 (Tapi terus terang aku jauuuuh lebih suka melihat Riku bermain lego daripada bermain game Nintendo 😀

Koleksi Riku, pangkalan Star Wars kreasi sendiri 😀 (Pangkalan yang dari Lego harganya 1,5 juta Rp bo! kagak bisa beli)

Bisa bayangkan kan hobi kami seperti itu butuh space yang banyak sebetulnya. Jadilah rumah “Kandang kelinci” kami tidak pernah beres. Dan karena Minggu lalu sudah banyak belanja, hari Minggu ini kamu tinggal di rumah saja, neres-beres rumah dan melanjutkan membereskan hobi yang tertinggal.