my journey from dawn to dusk

PKK

Aku bukan mau membahas soal Perempuan Kurang Kerjaan loh, tapi Pelajaran Ketrampilan Keluarga di Sekolah Dasar.

Masih ingat pelajaran PKK di SD? Aku sih cuma ingat pernah coba merajut, menyulam membuat saputangan/celemek. Tapi lupa kelas berapa.

Di Jepang pelajaran PKK dimulai kelas 5. Waktu pameran hasil pelajaran PKK kelas 5 dan 6 di sekolahnya Riku, aku bisa lihat mereka membuat tas kain dan celemek. Dan hasilnya benar-benar bagus deh. Kalau ini pameran di Indonesia aku akan merasa yakin hasil itu dibuatin ibu atau tukang jahit deh hehehe (berdasarkan pengakuan salah satu teman di SMA, dia menyuruh tukang jahit tuh hihihi). Tapi anak SD di Jepang? Mungkin juga ortunya ya? Karena Riku belum kelas 5, ya aku belum tahu… nanti ya aku cari tahu 😀

Anak-anakku sejak kecil memang sudah menunjukkan minat pada pekerjaan rumah tangga. Kalau mereka lihat aku mengepel, mereka juga mau. Tapi hasilnya …becek di mana-mana. Kalau memang aku lagi “ngga angot” ya aku perbolehkan mereka membantu, tapi kalau lagi “High Voltage” aku bilang lain kali aja ya, soalnya mama buru-buru 😀

Setiap kali aku mau membuat kue pasti berebut yang mau memecahkan telur atau memutar mixernya. Tapi tentu saja mereka juga yang pertama mau memotong jika sudah jadi.

Tadi pagi ada kejadian yang membuat aku tercengang. Si Kai (3th) membungkus buku dengan selebaran seperti membungkus untuk kado. Dia minta diambilkan selotip, sehingga aku beri saja. Dan hasilnya cukup rapih loh. Padahal aku tidak pernah membungkus kado di rumah. Dia belajar atau melihat dari mana ya?

Kai membungkus buku dengan kertas pamflet toko + selotip. Kanan: hasil bungkusannya

Nah, kalau Riku (8th) waktu dia melihat aku menjahit label nama untuk seragam TKnya Kai beberapa waktu yang lalu, dia minta diajarin menjahit. Jadi aku ajarkan saja dulu cara memasukkan benang, membuat simpul dan jelujur. Tengah-tengah melakukan jelujur dia bosan hihihi.

Riku belajar memasukkan benang ke jarum. Yah sebentar lagi mama ngga bisa liat loh, musti minta bantuan kamu 😀

Tapi pada prinsipnya, aku selalu membiarkan anak-anak untuk mencoba berbuat sesuatu, sepanjang tidak berbahaya. Aku juga membiarkan mereka berkreasi dengan bahan yang ada. Setiap ada kardus bekas, Riku minta katanya mau membuat robot-robotan atau ntahapabentuknya. Jadi harap maklum ya kalau rumahku itu berantakan dan jika mau ada tamu membereskannya butuh waktu lama 😀 (alasan hihihi). Anak-anak memang harus diberi kebebasan. Bisa baca di tulisan Desri di 3 Contoh Pembunuh Kreativitas Anak.

Tulisan ini juga terinspirasi oleh tulisannya Devyi Yudhistira yang “Belajar di Dapur“.

Bongkar foto jadul ada foto Riku belajar buat kue waktu umur 3 th. Tanpa ada rival, dia punya waktu banyak bersamaku. Sekarang setiap Kai mau belajar, mesti diganggu oleh kakaknya yang juga mau membantu...susah deh 🙁



Category: Diary

19 Comments to “PKK”

Add Comments (+)

  1. morning_hen berkata:

    Wuih, Riku belajar bikin kue umur 3 taon? Wow. Aku aja sampe sekarang cuma bisa bikin brownies doank, hehehe… Sugoi ne 😀

    Btw kak, foto hasil sampulnya Kai gimana tuh? Penasaran, hehehe…

  2. Farijs van Java berkata:

    Oh iya, jadi kepikiran singkatan PKK yang ibu-ibu itu apaan yak?

    Akhirnya nemu di sini. PKK, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga. Hoho. 😀

    Dulu waktu kecil saya terkenal jago gunting, Bu. Segalanya dapat saya gunting, termasuk rambut kawan perempuan. (doh)

  3. Misfah berkata:

    Memang anak-anak harusnhya diberikan kebebesan berkreasi dan berimajinasi kalau sudah begitu rumah dari ruang tamu sampe ujung dapur jadi tempat bereksplorasi mereka…termasuk dinding rumah tak luput dari ajang kreatifitas anak-anakku Mbak Imel..he..he..

  4. bro eser berkata:

    Wah sepertinya ini calon ibu teladan se Indonesia… Btw saya setuju dengan pandangan bahwa membiarkan anak melakukan apa yang mereka sukai. Sekarang sudah bukna jamannya lagi sang anak melakukan apa yang disukai oleh orang tuanya, tapi melakukan apa yang disukai oleh si anak. sebagai orang tua peran kita mungkin hanya mengawasi apa yang dilakukan oleh anak kita. Saya juga ingin menerapkan hal tersebut kepada anak saya kelak jika dia besar nanti

  5. RyZack berkata:

    Kebebasan bagi anak-anak untuk bergerak salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasannya. Jadi teringat ketika sewaktu bersekolah dulu kancing baju seragam saya lepas, dan saya ingin mencoba menjahitnya namun kesulitan memasukkan benang kedalam lubang jarum, hehe

  6. monda berkata:

    aku juga merasa mbak waktu untuk si sulung kurang leluasa, karena sudah punya adik bayi yang butuh perhatian, untuk si bungsu memang lega, jadi bisa lebih fokus perhatiannya

  7. itikkecil berkata:

    Kai hebat ya. sudah bisa membungkus dengan rapi…
    soal jahit menjahit itu, saya jadi teringat pada saat SMP mbak, ada tugas menjahit kemeja, dan ibu saya yang menjahitkan kemeja itu untuk saya *culas*

  8. niQue berkata:

    waktu SD emang ada pelajaran menyulam
    tergantung anak-ortunya juga mba
    tapi karena mamak-ku kan ‘kejam’
    jadi ya anaknya harus ngerjain sendiri laaa
    boro2 diajarin, praktekin sendiri apa yang diajarin guru di sekolah
    nanya boleh sih karena mamak juga suka nyulam di waktu senggangnya
    tapi minta dikerjain? No way 😀

    Senang ya mba klo anak2 mau ngerecokin yang positif gitu
    wlo pun klo lagi mo buru2 malah bikin ribet hehehe
    gpp lah daripada anak2 cuma mau nongkrongin tv doang 😀

  9. elindasari berkata:

    wah…hebat yach mbak…kecil2 mereka mau membantu dan mau belajar 🙂

    Senangnya melihat mereka tumbuh dan pintar berkreasi….

    Mbak tahun ini ada rencana pulkam ?

    Ok, mbak salam to kel tercinta yach…see you 🙂

    Best regard,
    Bintang

  10. arman berkata:

    wah bagus tuh ya mbak.. pada mau ngebantu pekerjaan rumah. walaupun sekarang masih belum bener2 bisa yang ada malah bikin berantakan, tapi niatnya itu patut diacungin jempol. lama2 karena terbiasa pasti akan jadi bisa…. 🙂

  11. nh18 berkata:

    Saya ingin komentar mengenai PKK …
    Saya masih ingat …
    Sampai SMP saya masih belajar PKK …
    Yes indeed … salah duanya adalah Menjahit dan Memasak
    Tanpa terkecuali … Lelaki dan Perempuan

    Ujian PKK waktu itu kalau tidak salah bikin SOP, dan Perkedel
    (kebetulan ini ujian beregu 4 orang)(dan grup saya Laki-laki semua …)
    (dan please jangan tanya rasanya … )
    (ini sayur SOP apa Pecel … ???) hahaha jauh bener yak

    salam saya

  12. elviyesti berkata:

    bukan mo komentarin ttg PPKnya tapi mo komentar soal foto2 dokumentasi mbak imel niy luar biasa yah mnurutku. sampe foto ngajarin riku masukin benang aja ada. itu sapa yg motoin mbak? papanya?

    Itu kebetulan aja kok, pas Gen liat dia langsung ambil kamera. hehehe
    EM

  13. Kika berkata:

    Hai Kai, apa kabar?

    Baik om!
    EM

  14. soal yang ngebantu didapur itu yah…baru aja saya bikin postingannya, wkwkwkwkwk

    nggak pengalaman ama anak kecil, tapi setuju kalo kreatifitas anak jangan dibatesin 😀

  15. jasmine berkata:

    riku lucu yah, pipinya gembil *OOT 😀

  16. Ceritaeka berkata:

    Nice! Gak ada pemisahan gender untuk apa2 yg boleh dilakukan. Yeeeay mbakku gitu lhoo 😉 hehe
    Btw kalo diliat2 si Riku umur 3 tahun ada miripnya ama Kai ya mbak 😀

  17. edratna berkata:

    Hehehe…pasti Riku senang nanti melihat fotonya memegang mixer ini.
    Benar Imel, anak-anak yang diperbolehkan mencoba sesuatu tanpa dilarang-larang, akan menjadi anak kreatif, risikonya rumah berantakan dimana-mana. Namun jika itu membuat mereka bahagia, kenapa tidak?

  18. Liona Lee berkata:

    LOL!
    Ktawa dulu: PKK nya. O.o
    wah, tante orang yg telaten sekali..
    Aku bosenan & ga tekun
    Hebat yah Kai lmyn perfeksionis & Riku peka sm mamanya
    Senengnya..
    Mw pd bantu pula
    Cara didik yg bagus untuk membiarkn mereka berkreasi & berekspresi & bereksperimen
    Rumah amburadul gpp 😉

    ~LiOnA~

  19. ranids berkata:

    nitip salam buat Kai dan Riku 🙂

April 2011
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

yang mau cari-cari

yang bersahabat