Arsip Bulanan: Januari 2011

Eh… ketemu Eko lagi

Hari minggu kemarin kami sekeluarga pergi ke sebuah acara yang diadakan oleh Kota Wako dari Prefektur Saitama. Acaranya berjudul “Nippon Zenkoku Nabe Gassen” Pertandingan Masakan Rebusan Seluruh Jepang. Nabe sendiri sebetulnya artinya panci, tapi sebagai salah satu kuliner Jepang, Nabe menjadi nama masakan yang direbus, dan makan hangat-hangat. Karenanya cocok untuk musim dingin.

Bedanya dengan shabu-shabu apa? Kalau shabu-shabu dagingnya yang diiris tipis-tipis hanya “dicelupkan” sejenak dalam rebusan air, kemudian langsung dimakan. Shabu-shabu merupakan bunyi waktu kita mencelup daging itu, shabu satu kali, shabu dua kali, angkat …. yang kemudian menjadi nama. Sedangkan Nabe ya semuanya direbus bersama, sampai kaldunya menjadi kental dan mantap.

Nabe dengan jerohan dan tauge

Pertandingan Nabe itu diikuti 43 peserta, dan salah satunya adalah kelompok kuliner dari yayasan sekolah tempat Gen bekerja. Karena itu kami pergi ke sana untuk memberi dukungan…dan cari makan juga sih.

Kota Wako sendiri tidak begitu jauh dari rumah kami, karena sebetulnya kami tinggal di perbatasan Tokyo bagian barat dengan Saitama. Dengan mobil hanya 20 menit. Begitu sampai terdengarlah bunyi genderang Jepang wadaiko yang tampil meramaikan acara itu. Sementara di lapangan kelurahan kota Wako didirikan tenda-tenda peserta lengkap dengan papan nama dan atribut mereka. Tentu saja semua menjual Nabe, rebusan itu tapi dengan bumbu dan isi khas masing-masih. Ada Nabe dengan rasa kare, ada nabe jerohan (mengingatkan soto BABAT!), nabe dengan celeng atau babi hutan, nabe dengan kaldu ayam, dll.

Setiap mangkok nabe dijual rata-rata 300 yen. Mungkin ada yang lebih mahal, seperti nabe daging sapi dengan wine….. aku ingin sekali coba ini tapi waktu kami sampai sudah habis. Jelas saja, rupanya mereka dulu juara ke dua di pertandingan tahun lalu. Nah, Gen mencoba makan Kasujiru Nabe, bahan dasarnya adalah kasu atau beras sisa pembuatan sake dan aku lihat sebagai dagingnya mereka memakai ikan salmon. Karena bahan dasar beras maka supnya berwarna putih.

Aku tentu saja mencari nabe yang pedas…dan bertemu dengan si soto babat pedas di sebuah stand. Rasanya sudah pasti TIDAK pedas menurutku (menurut orang Jepang mungkin sudah pedas yah), selain itu amat berminyak. Tetelan (suji) yang dipakai banyak lemaknya, sehingga dengan agak terpaksa aku makannya…. untung panas-panas dan mangkoknya kecil kalau tidak pasti ngendal tuh. Sambil mikirin kolesterol ya abis juga sih aku makan (aku paling anti buang makanan sih). Alasan penjualnya: Colagen! jadi sehat saja untuk badan hehehe.

Momongga dengan 20 jenis bahan

Riku aku suruh beli sendiri apa yang dia mau, sehingga bersama Kai dia “ngider” mencari makanan yang bisa dia makan. Tahunya dia langsung membeli Momonga Nabe, rebusan dari 20 macam bahan sayuran, daging, ikan plek jadi satu yang direbus di panci khusus “raksasa” terbuat dari tanah liat. Dan nabe ini dijual oleh yayasan sekolahnya Gen (Kami tidak mau ke situ dulu karena mau mencoba yang lain. Maunya ke situ terakhir, eh si Riku udah duluan ke sana hehehe)

Baru setelah isi mangkok habis, aku melihat ada yang lain dengan mangkok plastik yang dipakai. Ada lapisan plastik tipis yang bisa dilepas dari mangkoknya untuk dikumpulkan pada mas Eko ini. Eko di sini namanya Eco-station, tenda tempat pengumpulan mangkok dan sumpit bekas makan nabe tadi. Jika ada sisa makanan, maka dibuang dulu sisa makanannya di ember khusus. Setelah itu plastik pelindung dilepaskan dari mangkok untuk dikumpulkan sendiri, mangkok putih itu juga dikumpulkan sendiri. Tentu saja ada tempat khusus lain untuk mengumpulkan sumpit kayu.

plastik lapisan yang bisa dibuka untuk memudahkan daur ulang

Semua sampah ini dipilah-pilah oleh petugas yang merupakan murid pemain base ball di SMA Wako. Senang sekali bertemu dengan mas-mas Eko ini yang ganteng-ganteng tapi tidak jijik, tidak malu, tidak enggan mengumpulkan sampah makanan. Mana ada orang Indonesia yang mau kerja mengumpulkan sampah dengan sukarela? Di sini sih semua punya kesadaran dan tanggung jawab atas sampahnya masing-masing. Jadi seandainya tak ada petugas pun, asal ada pemberitahuan bagaimana memilah sampah, pasti akan dilaksanakan.

Tujuan pemilahan tentu saja untuk kegiatan daur ulang. Mangkok putih yang bersih dari minyak akan lebih mudah langsung masuk pabrik pengolahan untuk dibuat menjadi mangkok baru. (Padahal menurutku masih bersih tuh, cukup disemprot air panas untuk sterilisasi….. tapi orang Jepang kan “jijikan” jadi pasti akan diolah dipabrik. Higienitas memang dijunjung tinggi di sini).

Selain stand-stand nabe, ada juga deretan stand pendukung yang tidak ikut pertandingan. Mereka menjual berbagai macam kue, makanan dan mainan, persis seperti pasar malam di kuil-kuil atau tempat umum lainnya. Di sini kami sempat memarahi Riku yang membelikan Kai balon dengan uangnya sendiri (pakai uangnya sendiri sih gpp, tapi ngomel dan minta ganti ke mama hahaha).

Tak lama ada upacara pengumuman pemenang yang diadakan di panggung. Kami kembali ke tempat utama tapi kehilangan jejak Riku. Cari punya cari ternyata Riku sudah duduk di deretan pertama di depan panggung. Aduuuh anak ini memang aneh, suka jalan sendiri dan penuh perhatian pada hal-hal aneh. (Dan dia bilang… Mama mungkin aku bisa masuk TV ya. )

Riku duduk paling depan

Sementara Riku duduk di depan panggung, papa Gen membantu stand yayasan sekolahnya untuk beberes, aku dan Kai menunggu sambil duduk. Nah di situ aku dihampiri oleh seorang wanita, yang menyodorkan mangkok berisi nabe. Kupikir dia bertanya soal buang dimana, tahu-tahunya dia mau memberikan nabe itu untukku gratis, kata, “Daripada dibuang, kalau Anda mau”. Yaaah aku lagi ditawarin dengan omongan gitu. Pasti sayang dong kalau dibuang, ya terima aja rejeki ini hihihi.Herannya tidak lama setelah aku membuang mangkok sup ayam itu, datang lagi seorang pemuda menawarkan semangkok lagi. aduuuuh langsung aku kasih Gen untuk habiskan. Sesayang-sayangnya makanan, perutku ada batasnya juga hehehe. Heran aja kok pada nawarin aku ya? Apa tampangku melasin seperti orang tidak pernah makan? Atau tampang baik yang tidak akan menolak jika diberikan. Well, anggap saja yang terakhir ya 😀

Untung juga sih diberikan nabe gratis begitu, paling tidak tangan menjadi hangat hanya dengan memegang mangkoknya. Karena saat itu dingiiiiiiin sekali. Tanganku sampai terasa membeku dan menyesal tidak bawa sarung tangan. Abis kupikir naik mobil ini, bukan naik sepeda. (Ternyata waktu aku periksa facebook lewat HP, seorang teman yang tinggal di Meguro menulis “Salju”…. pantas dingin sekali. Tapi memang di tempat saat itu tidak turun salju, kecuali langit yang aneh).

Tapi nabe kan tidak pakai nasi dan berkuah, dan karena tempat pertandingan di luar, tambah udara dingin, kami lalu buru-buru pulang mencari kehangatan di dalam rumah. Dan sebagai oleh-oleh bepergian kemarin itu, hari ini Gen demam deh… jadi tidak masuk kantor. Untung saja anak-anak sehat seperti biasa.

Selamat menikmati sisa hari Senin. Aku pergi ngajar dulu yah….

NB: Eco adalah slogan singkatan dari ekologi. Kegiatan memikirkan ekologi ini di Jepang marak dengan kegiatan dimulai dengan eco- misalnya eco-car, eco house, eco station

Berubah Nama

Wah biasanya sih dalam kehidupan nyata, kita tidak bisa seenaknya mengubah nama kita kan? Kecuali jika perempuan menikah, maka nama keluarganya akan berganti menjadi nama keluarga (marga) suaminya. Di Jepang juga sama, tapi di sini ada peraturan yang memperbolehkan suami istri memakai nama keluarga yang berbeda. Jadi misalnya aku, Imelda Coutrier, boleh tetap memakai nama Coutrier terus sampai mati, tanpa memakai Miyashita. (Anak-anak tentu ikut bapak) Tapi nama keluarga berbeda atau bessei 別姓  ini masih amat jarang.

Kita bisa mengubah nama di dunia maya, dengan nama apa saja sesuka kita tapi tidak mungkin di dunia nyata, kecuali memang mau menipu. Nah yang aku mau tulis di sini sebetulnya terpicu oleh acara televisi anak-anak tadi pagi, dengan ilustrasi lucu. Memang aku sudah tahu tentang hal ini sebelumnya, tapi ilustrasi tadi cukup mengena dan mudah.

Kepiting bertemu temannya, si Shibasu

Ada seekor kepiting yang bertemu si ikan teman lamanya. Kepiting memanggil: “Hai… Shibasu… apa kabar?”
“Kepiting… aku bukan Shibasu”
“Loh… kita kan sama-sama dulu di TK. Kamu Shibasu”
“Namaku sekarang Hamachi”

….. 5 tahun kemudian….

“Haiii….. Hamachi! Apa kabar?”
“Aku bukan Hamachi”
“Loh… kok. Emang nama kamu siapa?”
“Buri”
“Waaah kamu ganti-ganti terus sih namanya…”

Memang Ikan Buri ini (Seriola quinqueradiata) mempunyai nama yang berbeda tergantung besarnya. Bayi ikan s/d ukuran 20 cm disebut Shibasu, atau di Kanto (Tokyo dan sekitarnya) ada yang menyebut dengan Hamachi atau di daerah lain di Jepang disebut sebagai Mojakko. Sampai dengan ukuran 30/40 cm dia disebut Inada atau Hamachi, sampai dengan 60 cm menjadi Mejiro, dan di atas 70 cm disebut Buri. Jadi namanya berbeda menurut besarnya. Makanya waktu aku makan sushi ada yang namanya Hamachi, ada yang namanya Buri. Biasanya Buri ini lebih mahal, karena kandungan minyaknya lebih banyak…. dan lebih lembut.

Pantas aku cocok sekali masak ikan Rica-rica memakai ikan Inada ini. Ukurannya pas, tidak terlalu besar, lagipula di musim dingin begini harganya tidak mahal karena memang sedang musimnya. Ikan-ikan di Jepang justru enak di musim dingin karena dagingnya keket (padat) dan berminyak jadi lembut. Rasanya? Seperti ikan tongkol, jadi memang cocok untuk rica-rica kan?

Kemarin dulu aku membeli ikan Inada ini, lebih kecil sedikit dari yang aku beli waktu ulang tahun dulu. Karena masih fresh, petugas toko tanya apa aku mau dipotongkan untuk sashimi? Aku tertegun… oh ternyata bisa dimakan untuk sashimi ya? Tadinya aku berniat membakarnya saja, jadi mau minta potong dua saja. Tapi begitu dia bilang bisa sashimi, kupikir boleh juga deh setengah untuk sashimi, setengah untuk dibakar. Lalu dia berkata: “OK, san mai oroshi ya (san mai oroshi adalah pemotongan ikan menjadi 3 bagian, bagian kepala, lalu mendatar persis di atas tulang). Dan karena aku mau sashimi, setengah bagian ikan bagian kulit juga dikupas sekaligus. Tapi…. waktu aku menerima hasil potongan ikan itu aku agak kecewa. Kenapa?

Karena kepalanya tidak diikut sertakan, mau minta malu hihihi. Padahal kepala ikan kan enak hihihi. (Pasti ada pembaca yang tidak setuju padaku, bahkan sampai saat inipun Gen selalu “geli” melihat aku makan kepala ikan. Dia tidak bisa menikmati enaknya daging lembut di bagian pipi ikan dan mata 😉 . Well aku kan orang makassar jadi ikan memang makananku 😀 ).

Lagipula perasaan ikanku ini jadi kecil banget deh (ya dua potong tanpa kepala dan ekor, jelas kecil lah hihihi). Lain kali aku mau minta utuh saja deh, aku akan potong sendiri di rumah. Yang penting ada pisau yang tajam pasti bisa :D. Dan hari ini aku beli lagi deh satu Inada yang utuh, karena kebetulan juga petugas yang biasa melayani aku tidak ada. Tinggal asah pisauku maka aku siap menjagal ikan ini hehehe. Ayo ibu-ibu dan calon ibu… bisa memotong ikan atau ayam utuh tidak? Ini adalah keahlian yang sebetulnya wajib dikuasai ibu-ibu. Tapi jaman sekarang di Jepang sedikit sekali ibu muda yang mau dan bisa memotong ikan sendiri. Jadi kalau bisa, kamu akan dibilang Jouzu 上手 pandai!

Si ikan Inada yang kubeli, siap untuk dibantai

Makan di Sekolah

Kebanyakan anak-anak sekolah di Indonesia membawa bekal dari rumah atau diberi uang jajan oleh orangtuanya untuk membeli kudapan di kantin. Aku sendiri sampai SMP selalu membawa bekal dari rumah, baik itu roti, atau setelah lebih besar membawa bekal nasi. Sampai SMP aku tidak pernah dapat uang saku/uang jajan. Apalagi dulu aku sempat sekolah siang karena ada pembangunan gedung sekolah, jadi aku selalu membawa bekal. Dan aku ingat sekali bekalku itu amat sangat sederhana. Nasi dan telur ceplok pakai kecap. Tidak ada tuh bekal yang bagus dihias-hias segala susis atau ayam goreng. Apalagi spaghetti. Biasanya juga aku ceplok telur sendiri (aku sejak kelas 5 SD sudah sering masak sendiri, diajarin mama kalau tidak ada pembantu). Kalau mau lebih mewah, aku membuat bihun goreng. Jaman dulu belum ada tuh ind*mie goreng segala.

Di TK Jepang anak-anak membawa bento atau bekal. Jangan harap ada kantin sekolah untuk jajan di TK/SD/SMP. Lingkungan sekolah bersih dari segala macam “perdagangan”. Ada memang agak jauh dari sekolah toko-toko kombini, tapi di SD nya Riku, anak dengan ransel dan topi SD tidak boleh masuk toko sendirian. Kalau mau belanja harus dengan orang tua, atau menaruh ransel/topi di rumah dulu, dan berbelanja dalam keadaan “bersih” dari atribut sekolah. Itu berarti sudah menjadi tanggung jawab masing-masing keluarga. Bulan April nanti Kai masuk TK, sehingga aku musti siap membuatkan bekal untuknya. Padahal enaknya sudah istirahat 2 tahun karena Riku di SD mendapat makan bersama yang disebut Kyuushoku 給食, jadi tidak perlu menyiapkan bento di pagi hari, cukup sarapan pagi, yang bisa berkuah tentunya. (Tidak bisa membawa sup untuk bekal kan)

Aku tadi pergi ke SD nya Riku dalam rangka “Open School”. Tidak ada yang baru menurutku sehingga aku agak mengantuk sambil melihat kegiatan pembelajaran di kelas Riku. Tapi sekitar pukul 10:25 mereka ada waktu istirahat selama 15 menit, sehingga mereka berhamburan lari ke luar kelas. Memang anak-anak seharusnya berenergi begitu ya, berlarian menggerakkan badan di halaman sekolah, sambil melawan dinginnya udara hari ini yang cukup hangat dibanding kemarin. Tak jarang anak laki-laki kembali ke kelas hanya dengan kaos dalam saja karena kepanasan. Riku? Oh tentu saja dia tidak akan buka bajunya. Dia itu kelahiran musim dingin tapi paling tidak tahan dingin. (Apa gunanya itu lemak ya? hihihi **sambil mengaca diri sendiri sih**)

Nah sementara menunggu jam istirahat selesai itu, aku melihat-lihat kertas-kertas yang tertempel di dinding/lemari sekeliling kelas. Gara-gara ada anak yang bilang, “Yaaaaah hari ini menunya Hamburger pakai keju… aku ngga suka”, jadi aku membaca menu hari ini. Memang benar Cheese burger + roti+ petite tomato + sup sayuran. Hmmm ada anak yang bilang, “Aku tidak suka tomat”… Untung saja anakku bisa makan apa saja.

Ternyata dalam daftar menu itu aku membaca bahwa mulai tanggal 24- 30 Januari adalah Pekan Makanan Sekolah Seluruh Jepang. Tidak tahu apa maksud diadakan Pekan ini, tapi mungkin untuk menggalakkan menu sehat bergizi untuk meningkatkan ketahanan tubuh murid-murid selama musim dingin. Soalnya sudah mulai ada kelas yang ditutup karena muridnya kena influenza. Di sini kalau ada kelas yang muridnya banyak tidak masuk karena influenza, maka satu kelas akan ditutup, supaya tidak menulari kelas lain, dan tidak perlu diadakan penutupan sekolah.

Dalam kertas menu itu juga diberi keterangan sejarahnya kyuushoku atau makan bersama di sekolah yang disediakan sekolah ini. Rupanya kyushoku pertama kali disediakan di SD Tsuruokacho di daerah Yamagata pada tahun 1889. SD ini menyediakan makan siang untuk murid yang miskin berupa onigiri (nasi kepal), ikan salmon asin dan acar sayuran. Kemudian kyuushoku ini berkembang, berlanjut sampai sekarang. Setiap bulan kami harus membayar kira-kira 5000 yen untuk kyuushoku (pasti dapat subsidi dari pemerintah tuh) dengan menu beragam dan memenuhi kebutuhan kalori dan gizi anak SD. Kyuushoku ini juga membuat anak-anak “terpaksa” makan segala jenis makanan/masakan dan mengurangi “pilih-pilih makanan”. Apalagi dalam kyuushoku sekarang, sudah banyak masuk menu internasional juga. Riku malah pertama kali makan Nan dan Kare (dari India) di kyuushoku sekolah. Soalnya aku tidak suka kare India sih hehehe.

Petugas kyushoku harus memakai baju ini, dan tugas ini berlaku selama satu minggu. Pada hari jumat, pakaian ini dibawa pulang untuk dicuci dan dibawa kembali ke sekolah seninnya.

Petugas kyushoku harus memakai baju ini, dan tugas ini berlaku selama satu minggu. Pada hari jumat, pakaian ini dibawa pulang untuk dicuci dan dibawa kembali ke sekolah seninnya.

Menu setiap sekolah berbeda tapi memenuhi standar gizi yang ditentukan Departemen pendidikan. Kadang tiap daerah memakai sumber alam yang kaya di daerahnya selain juga memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional daerahnya.

Aku sendiri merasa kyuushoku ini sangat bagus. Selain meringankan tugas ibu-ibu menyiapkan bekal, semua anak makan menu yang sama! Tidak ada yang setiap hari ayam atau yang mahal-mahal, dan yang lain telur ceplok terus (kayak aku dulu) hehehe. Harga sama, gizi sama. Semua sama, seragam. Sayangnya di SMP tidak ada kyuushoku, mungkin sekolah akan kewalahan kalau harus menyediakan makanan untuk anak-anak puber yang sedang banyak-banyaknya makan (subsidinya juga musti besar tuh).

Satu lagi keuntungannya, semua anak mempunyai tugas dalam menyediakan kyuushoku itu, ada yang menuangkan nasi, ada yang membagikan lauk, susu (setiap hari ada susu) dsbnya. Jadi murid-murid juga belajar bermacam hal yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. (Aku sudah pernah menulis tentang kyuushoku juga di sini)

Ada ngga ya sekolah di Indonesia yang menyediakan makan kyuushoku ala “asmara asrama” gini? 😀

Bersiul dan Cetak-cetok

Aku ingin tahu deh, apakah semua bisa bersiul? Ingat kapan pertama kali bisa bersiul? Aku sendiri tidak ingat kapan aku bisa bersiul, tapi aku ingat aku bisa bersiul karena ingin menandingi papa dan mama hihihi.

Dulu waktu masih kecil, aku ingat kalau mama dan papa saling “memanggil” pasangannya yang tidak ada di kamar yang sama dengan bersiul. Bukan berteriak, “Paaaaa…” atau “Maaaa…..”. Tapi mereka punya “lagu” sendiri untuk memanggil. Mungkin kalau diterjemahkan dengan kata-kata seperti “Schaatje” atau “Meisj….” (panggilan papa kepada mama memang Meisj dari dulu, padahal kan meisj artinya gadis hihihi). Nah, imelda kecil ingin meniru bersiul seperti itu, dan memonyong-monyongkan mulutnya meletakkan ujung lidah di belakang gigi bawah… fu…fuu…. fuuu….. mengeluarkan udara lewat sela-selanya.

Setelah berhasil, tentu saja bisa meniru nada panggilnya papa dan mama, bahkan bisa bersiul mengikuti irama. Suatu waktu aku bersiul di rumah kost pertamaku di Tokyo, dan dimarahi sang Nenek. Katanya, “Kupikir cucu laki-lakiku, ternyata kamu ya? Wanita Jepang tidak boleh bersiul…..” Supaya tidak panjang, ya aku iyakan saja, minta maaf, dan tidak bersiul lagi di rumah. Padahal waktu aku tanya Gen, dia tidak pernah dengar tabu seperti itu bahwa wanita Jepang tidak boleh bersiul dsb dsb. Dan memang sih aku tidak pernah mendengar wanita Jepang bersiul. Waktu kutanya ibu mertuaku, dia hanya bilang “Saya tidak bisa…” tanpa ada alasan lain. 😀

Waktu Riku  mendengar aku bersiul (setelah nikah dan punya rumah sendiri ya bebas dong untuk bersiul), dan ingin sekali bisa. Waktu itu dia baru TK, dan berusaha sekali belajar bersiul….. tapi agak sulit. Cukup lama dia akhirnya bisa bersiul. Tapi Kai…. seperti sudah aku ceritakan, ternyata Kai sudah bisa bersiul waktu kami pergi ke Disneyland waktu itu, berarti umur 3 tahun! Lalu kata Gen waktu aku beritahu hal itu, “Iya, Kai ompong sih, jadi gampang bersiul” hahaha. Jahat ya!

Karena Kai sudah bisa bersiul, dia merasa dia sudah gede, sama dengan kakaknya. Jadi kadang aku panggil dia, “Kakak Kai….” Dan dia memang sering bersiul-siul sendiri di rumah. Aku sih tidak pernah melarang, karena bukannya bersiul pertanda gembira? Betul kan?

Selain bersiul karena gembira, atau tidak ada kerjaan, biasanya aku ikut bersiul dengan burung perkutut kesayangan. Untuk mengundang perkutut peliharaan bernyanyi sering kami awali dengan bersiul dulu…. (dulu kami pelihara perkutut sih, jadi aku sering begitu hihihi).

Nah, ada satu lagi “keahlian” yang seakan-akan menjadi penentu “kedewasaan” seseorang. Aku tidak tahu apa namanya. Itu tuh, kalau kita mengeluarkan suara “cetak cetok” dengan jari tengah dan ibu jari, atau “memukulkan” jari telunjuk pada jari tengah dan ibu jari, sehingga mengeluarkan bunyi… ya cetak-cetok itu deh. Rasanya kalau sudah bisa mengeluarkan bunyi begitu puas rasanya, dan sering dilakukan jika kita bosan, atau memanggil …anjing :D. Tambah afdol lagi memanggil pakai cetak cetok itu dan bersuit, “Fuit fuit”. (Jangan lakukan untuk memanggil gadis lewat ya! :D)

Bagaimana apakah pembaca TE bisa bersiul dan cetak-cetok itu? Kapan bisanya? Atau tidak bisa atau tidak boleh karena ditabukan? (Dulu memang aku sering dengar tidak boleh bersiul di malam hari karena memanggil setan 😀 ). Ini bisa dikatakan ketrampilan atau ngga ya? hehehe….

Have a nice Monday! Mine will be busy as usual….. Dan Tokyo sedang mendung nih (max 9 derajat), malas mau ngapa-ngapain. Belum lagi aku mulai menderita karena serbuk bunga/ pollen. Terpaksa minum obat anti alergi deh.

Tabiks

EM

Tertipu dan Terjebak

Jangan diartikan judul diatas dengan arti yang “parah” sehingga aku menjadi korban ya?  Hanya hiperbola kok, tapi aku mau menuliskan perasaanku kemarin yang bisa dikategorikan dengan dua kata tersebut.

Pertama aku tertipu oleh Kai. Jadi ceritanya kemarin aku membeli coklat kotak, karena aku perlu kotaknya. Biasanya aku jarang membeli coklat yang “agak” mahal begitu untuk oyatsu atau snack time anak-anak. Tapi karena hari Jumat ini Riku harus membawa kotak bekas kue untuk prakaryanya, terpaksa deh aku cari-cari kotak yang cocok. Supaya tidak salah, aku beli juga roti kering dalam kotak yang besarnya berbeda. Serta sebuah kotak wafer “Gaufres”. Jadi ada 3 macam kotak yang bisa Riku bawa ke sekolah. Sekolah Riku memang sering menyuruh membawa barang bekas dari rumah untuk dibuat prakarya. Cuma keluargaku memang jarang makan kue-kuean dalam kotak sih, jadi mana ada bekasnya hehehe.

Lumayanlah kupikir jadi seminggu tidak usah beli snack, dan untuk hari Kamis kemarin aku buka kotak coklat dan bagikan ke anak-anak. Riku penyuka coklat jadi dia langsung kalap deh ingin makan sebanyak-banyaknya.  Jadi aku pakai sistem suruh Riku pilih satu (coklatnya macam-macam jenis), kemudian Kai. Sesudah itu coklat yang kedua, aku suruh Kai pilih duluan. BUT, Kai berkata “Kai ngga mau.”… Wah kupikir hebat sekali Kai tidak mau makan coklat dan tidak ngiri melihat kakaknya makan dua, sedangkan dia makan satu. Tapi ternyata aku tertipu

Sehari sebelumnya aku memberikan rusk coklat putih, dan Kai suka sekali. Dia tahu aku simpan kaleng itu di mana, jadi sesudah dia berkata, “Kai ngga mau…” Dia mengendap-endap mau membuka kaleng rusk coklat putih. Untung ketahuan aku dan dia merengek, “aku ngga mau yang coklat, aku maunya ini” hihihi. Ternyata aku dikelabui bocahku ini.

White rusk yang disukai Kai...sampai mengendap-endap dan menolak coklat "biasa"

Kejadian tertipu kedua aku alami yaitu karena aku menerima kiriman dari SOLO! Dari seorang pembaca TE yang mengaku pecinta TE (uhuy…. ) aku singkat LL saja ya, aku takut dia marah kalau aku tulis nama lengkapnya.  (Kecuali kalau dia komentar di sini hehehe) . Tentu saja aku terkejut, tidak menyangka dikirimi sesuatu. (Terima kasih banyak ya) Tapi aku juga sekaligus merasa tertipu hihihi. Biasanya aku akan wanti-wanti  orang yang akan mengirim sesuatu ke Tokyo, karena biaya pos mahal dan supaya mengurungkan niat untuk kirim. Mending kalau bertemu saja di Indonesia pas mudik. Tapi si LL ini memang ada rencana untuk bersekolah di LN untuk waktu yang lama. Dia mengatakan ingin mampir ke Tokyo sebelum pergi ke negara tujuan, jadi dia perlu alamatku. Ya aku tanpa curiga (dan percaya sekali bahwa dia akan datang ke Tokyo) aku memberikan alamatku di Tokyo. eeeeh tahu-tahunya dia “menipu”ku karena dia sama sekali tidak berniat mampir ke Tokyo (aku agak amat sangat kuciwa deh sampai nangis meraung-raung 😀 ), tapi perlu alamatku untuk mengirim bingkisan. Duuuuh sebel deh! Memang aku senang menerima bingkisan, tapi akan lebih senang kalau bisa bertemu langsung dengannya. Really! Aku menganggap dia extraordinary! Extraordinary young girl.

Di usia yang masih belasan, LL sudah sangat mandiri dan menguasai banyak ilmu. Dia melewatkan pendidikan High Schoolnya di Malaysia, dan tak jarang aku mendengarkan dia kewalahan menyelesaikan tugas-tugas/papers. Suatu hari tgl 20 Oktober 2010 tuhpas dia lagi suntuk mengerjakan paper tentang ” The Great Gatsby” yang ditulis Franciz Scott Fitzgerald, kita bercakap-cakap tentang banyak hal (do you still remember what we’re talking about?) . Wah, aku yang belum pernah mendengar judul buku itu jadi browsing di Amazon dan Wikipedia, dan bertemu salah satu quote dalam buku itu, “Whenever you feel like criticizing any one, just remember that all the people in this world haven’t had the advantages that you’ve had.” Membuatku cukup berpikir sebelum mengkritik orang…..

Bertemu LL di dunia maya membuatku optimis akan masa depan, karena ternyata masih ada pemuda pemudi yang berusaha menyerap berbagai pengetahuan di luar negeri, tapi juga tidak meninggalkan kebudayaan Indonesia dan terlebih agamanya. So, LL keep studying and keep reading TE ya…. sometimes I can see “young Imelda” in you. Seandainya aku ini berusia 20-an dan akan belajar ke Eropa/Canada sendirian, waaah bagaimana ya aku? Tapi dulu waktu aku masih mahasiswa di Jepang jarang homesick kok, belajar terus dan arbaito (kerja) terus hehehe. Oh ya…dan MAIN terus. Jadi kamu juga jangan lupa main ya!

Oh ya, masih ketinggalan kata “terjebak“nya apa. Ini pun agak hiperbola. Ceritanya hari Kamis kemarin itu kuliah terakhir di Universitas Waseda, minggu depan test. Dan aku bercerita bahwa satu stasiun dari kampus ada Toko Indonesia yang menjual bahan makanan Indonesia. Tiga murid perempuanku (dari 6 mahasiswa sih) matanya langsung bersinar dan berkata, “Waaah ingin coba ke sana”. Dan aku terjebak oleh binar mata mereka yang penuh “pengharapan”. Jadi deh aku berjanji memasakkan mereka masakan Indonesia asalkan mereka mau ke rumah pada siang hari. Tentu saja mereka senang sekali dan antusias untuk datang ke rumahku. Langsung setting tanggal 3 Februari …. alamat aku bersibuk ria di dapur lagi deh (sambil mikir menu apa yang kira-kira keterima perut mereka hehehe). Terjebak …. di dapur deh…..

Ulang Tahun Bersama

Selama aku berada di Indonesia 24 tahun sejak lahir, belum pernah mengetahui ada orang yang berulang tahun bersamaan denganku.  Tapi sejak datang ke Jepang, aku mengetahui bahwa ada beberapa orang yang bersamaan dengan aku “bertambah umurnya”. Pastor Bambang Rudianto SJ,  seorang murid ibu-ibu  yang direktur perusahaan Jepang di Indonesia, seorang mantan mahasiswa Senshu University, dan….. mantan pacar, alias suamiku Gen Miyashita. Karena Gen mempunyai saudara kembar, jadi kami bertiga dalam keluarga Miyashita merayakan ulang tahun bersama.

Dari beberapa teman di FB menanyakan “Kok bisa sih suami istri ulang tahun bersamaan?”… Yah, aku juga tidak tahu, mungkin itu yang disebut jodoh kali ya? hehehe. Pertanyaan lain, “Dapat hadiah apa dari husband?” Nah, kalau ini aku bisa jawab. Waktu pacaran dan awal-awal pernikahan, kami masih saling memberikan kado ulang tahun. Tapi lama-lama memberi kado itu seperti “tukeran kado” saja, padahal sumber keuangannya sama…hehehe. Jadi kami sudah lama menghentikan kebiasaan saling memberi kado.

Tahun ini, ulang tahun kami jatuh pada hari Jumat, dan hari Sabtu dan Minggunya di Jepang diadakan ujian pusat atau center-shiken yang mungkin bisa disamakan dengan Sipenmaru (jadul yah hihihi) atau UMPTN/ SPMB dll deh. Karena universitas tempat suamiku bekerja dipakai juga sebagai lokasi ujian, maka mulai malam sebelum ujian Gen harus menginap di dekat kampus. Kami hanya bisa merayakan ulang tahun bersama pada waktu makan pagi saja, sebelum Riku ke sekolah dan Gen ke kantor. Dan fotonya aku sudah pasang di posting sebelum ini. (Kuenya aku yang buat loh, berbentuk hati dua tumpuk hihihi)

Mumpung suamiku menginap di kantor, aku kan kesepian tuh…. (alasan aja sih), jadi sudah dari sebelum Natal aku mengajak Ekawati Sudjono yang sedang belajar di Tsukuba dan Narpen dari Toyohashi untuk menginap di rumah untuk menemani aku. Jadi deh “Pesta ultah ala Indonesia”  bersama teman-teman selama 2 hari.

Jumat dimeriahkan dengan kehadiran Eka, dan dua ibu yang tinggal di Tokyo, Whita Hikaru dan Nesta Iijima. Pertemuan dengan Whita sudah yang ke 3 kalinya tapi aku baru pertama kali bertemu dengan Nesta, yang “mengaku” TE Reader waktu berkenalan denganku. Terima kasih ya Nesta sudah mau membaca TE.  Seputar meja makan kami menikmati Mie Bakso Pangsit Goreng, Ikan Rica-rica, Ayam Bakar Padang, kroket, Macaroni Schotel… dan memotong kue ultahnya. Karena ibu-ibu tentu saja percakapan tidak jauh mengenai kehidupan di Jepang dan cara-cara berhemat :D.

Formasi Jumat bersama Nesta, Whita dan Eka

Sabtu pagi aku dibangunkan dengan dering email dari Narpen yang menanyakan arah jalan ke rumahku dari Shinjuku. Sambil menunggu kedatangan Narpen aku membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan Mie Bakso untuk Narpen. Tadinya sih ingin tidur kedua, tapi karena anak-anak sudah bangun, terpaksa deh menyiapkan sarapan untuk mereka, Omuraisu. Dan bablas terus membuat Sayur Lodeh, Tahu Isi, Lumpia dan Pangsit.

kopdar blogger, Fety dan aku

Kemudian terjadilah kopdar blogger di rumahku, dengan kehadiran Fety yang biasa menulis di Fety Sebuah Cerita tentang Kehidupan. Terima kasih banyak Fety yang mau melangkahkan kaki jauh-jauh dari Chiba (mungkin total makan waktu 2,5 jam ya one-way)  sampai ke rumahku.

aku, anak-anak dan tante tina alias titin

Selain Fety ikut bergabung adik kandungku sendiri, Tina yang terakhir bertemu sebelum Natal, dan Steven, pelajar mombusho (beasiswa dari depdikbud Jepang). Jadi deh Steven yang termuda karena dia berusia 18 tahun! Dia lahir, aku datang ke Jepang tuh….

Aku dan Steven, yang dihubungkan melalui Twilight Express oleh Mama Steven

Steven bisa datang ke rumahku karena Miss Eka (panggilan dia pada Ekawati Sudjono) yang mantan guru bahasa Inggrisnya sebelum datang ke Jepang. Aku ingin sekali bertemu dengan Steven, meskipun sebetulnya lebih ingin bertemu dengan ibunya Steven (Mama Steven, jika membaca postingan ini aku ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya). Mama Steven ini yang mengenalkan TE pada Eka sebelum datang ke Jepang, supaya Eka bisa belajar tentang Jepang. Jadi boleh dikatakan Mama Steven yang mempromosikan TE di Jakarta. Hebatnya Mama Steven mempunyai dua anak yang jenius dan mendapat beasiswa ke Jepang! Suatu waktu mungkin kita bisa bertemu ya.

Formasi hari Sabtu kiri-kanan, Fety, Narpen, aku, Eka dan Steven

Minggu pagi kedua tamu istimewaku, Eka dan Nerpen cek out dari Nerima  Hotel (a.k.a rumahku) jam 1 siang, setelah makan soto ayam. Kami berlima naik bus ke Kichijouji karena Riku ingin mendownload games untuk DS nya. Untung saja ada alasan itu karena kalau tidak aku tidak keluar rumah 2 hari deh. Dan cukup terperanjat melihat penunjuk suhu udara tertulis 5 derajat di pukul 2 siang! Jadi pagi hari pasti lebih kurang dari itu. Memang aku sempat membaca di status teman-teman di kota lain di Jepang tertutup salju. Tinggal Tokyo saja nih yang belum.

Bergaya di lantai bawah apartemenku sebelum pergi ke Kichijouji

Kami berpisah di stasiun Kichijoji, Eka dan Narpen naik kereta ke tujuan masing-masing, sedangkan kami naik bus lagi kembali ke rumah. Dalam bus, kami duduk di bangku panjang paling belakang, dan di sebelah kami duduk 3 orang satu keluarga “aneh” bukan aneh karena bapaknya orang Africa, ibunya orang Jepang dan satu anak laki-laki (tidak boleh loh menilai dari penampilan) tapi anehnya karena mereka sangat ribut, berbicara keras bahasa Jepang, berbisik bahas Inggris (tapi kan banyak juga yang bisa dengar) dan bertengkar soal keuangan rumah tangga, dsb dsb. Doooh ribut bener deh, sampai Kai saja lihat ke arah mereka terus dengan “takjub” hihihi. Setelah turun aku mengucapkan terima kasih kepada dua anakku, karena mereka tidak pernah cerewet, berkata keras-keras dalam bis, atau “ngomongin” orang…. sambil aku peringatkan mereka untuk jangan meniru perbuatan keluarga tadi.

Akhirnya papa Gen pulang pukul 8 malam dan disambut anak-anak (dan mamanya) seakan-akan tidak bertemu seminggu hihihi. Dan tugasku tentu saja menyiapkan makan malam versi ultah yang sengaja aku “sisakan” (kok kata sisakan kurang enak ya? Bahasa Jawa ngengehin kedengarannya lebih halus ya? atau aku salah?) untuknya.

Sudah lewat 2 hari dari hari ulang tahun kami, tapi excitement ultah masih terasa di hatiku. Sekali lagi terima kasih atas ucapan dari teman-teman, dan khusus untuk 3 bidadari – 3 angels sahabatku Jumria, Eka dan Yessy yang sudah menitipkan kadonya lewat Eka. Kadonya cantik loh (secantik yang ngasih, yang pakai dan yang bawain! hihihi).

The Birthday girl lady with necklace from 3 angels, and flowers from whita.

Kemudian kedatangan Eka, Narpen, Whita, Nesta, Fety, dan Steven ke rumahku dan membuat rumah ceria dan HANGAT. Kalah deh udara dingin dari luar dengan kehadiran kalian. Dan sebagai penutup, di sini aku mau mengucapkan “Selamat Ulang Tahun untuk Eka yang berulang tahun kurang lebih 2 jam lagi, tanggal 17 Januari. Semoga tetap sehat, sukses dalam cita dan cinta (ehm), selamat menikmati Disney Sea hari ini dan semoga bisa bertemu lagi di Tokyo dalam waktu dekat, atau akhir tahun nanti ya….cup cup dari Imelda, Riku dan Kai”.

Hari Bahagia

Pernah ada yang mempertanyakan, kenapa hari pernikahan disebut sebagai hari bahagia? Apakah penikahan menjanjikan kebahagiaan? Padahal setelah menjalaninya kehidupan berkeluarga itu jauh dari bahagia.

Aku juga termasuk salah satu yang mempertanyakan mengapa hari bahagia = hari pernikahan. Padahal begitu banyak hari yang dapat dikatakan hari bahagia, bahkan seharusnya setiap hari…… Aku bahagia masih boleh hidup.

2 menit lagi tanggal 14 Januari berlalu…. Hari bahagiaku karena aku boleh bertambah umur 1 tahun lagi. Atau kata beberapa orang malahan “berkurang” umur. Apa saja deh…. Tapi yang pasti hari ini aku bahagia.

Terima kasih untuk semua ucapan yang diberikan baik melalui FB, Twitter, YM, sms, email…. kalian semua melengkapi kebahagianku hari ini.

Satu menit berlalu dari pukul 12 malam. Hari sudah berubah, tapi aku tahu, aku tetaplah aku yang sekarang. Yang memang sudah bertambah umur, dan semoga bertambah bijaksana.

Terima kasih Tuhan atas perlindunganMu selama ini, dan tolong tuntun langkahku menghadapi hari-hari di masa mendatang. Amin.

Ultah papa Gen dan mama Imelda, 14 januari 2011.

Dewi WC

Judulnya aneh ya? Bukan DEWI dengan nama panjang yang disingkat menjadi WC tapi memang WC, atau Water Closet beneran! Abis aneh kalau aku tulis Dewi Kakus kan? Judul aslinya Toire no kamisama トイレの神様 dari penyanyi bernama Uemura Kana. Sebuah lagu yang aku dengar di acara Kohaku Uta Gassen, acara tahunan NHK dalam menutup tahun pada oomisoka (malam tutup tahun).

Terus terang aku sudah lama tidak dengar lagu-lagu Jepang yang baru dan aku rasa duh kok judul lagu seperti itu sih? Pasti ada sesuatu pesan di dalamnya. Gen langsung berkata, “Denger deh mel, lagu itu kamu pasti suka. Cocok untuk kamu”. Dan aku dengarkan…. dan…aku menangis! Lah? Kok Dewi WC bisa bikin nangis?

Ok aku akan coba terjemahkan isi liriknya ya… (baca deh sampai habis)

Sejak aku kelas 3 SD
entah mengapa aku tinggal dengan nenek
Memang tinggalnya  di sebelah rumah kami
sama saja, kami tinggal bersama nenek

Setiap hari aku membantu pekerjaan rumah
dan kami juga bermain “catur jawa” (seperti Igo)
Tapi aku paling benci membersihkan WC
dan nenek berkata padaku begini

**di ruang WC ya nak…
tinggallah dewi WC yang amat cantik
makanya jika kamu membersihkan WC setiap hari
kamu juga akan cantik seperti dewi

Sejak hari itu
aku selalu membuat WC berkilap
aku ingin menjadi cantik
setiap hari kusikat bersih

Waktu kami pergi berdua
Kami makan soba dengan daging bebek
dan aku marah besar pada nenek
waktu dia lupa merekam acara kesukaanku

Ketika aku besar sedikit
aku bertengkar dengan nenek
dengan keluargapun aku tidak harmonis
aku merasa “jauh” dari mereka

Hari liburpun aku tidak pulang ke rumah
berdua saja bermain dengan pacarku
tidak ada lagi soba daging bebek dan catur jawa
di antara aku dan nenek

Mengapa ya, manusia melukai manusia lain
membuang sesuatu yang berguna
Meninggalkan nenek yang selalu menjadi pendukung
meninggalkan rumah (di Osaka) dan hidup sendiri

Tinggal di Tokyo sudah lebih dari 2 tahun
Nenek  masuk rumah sakit
menjadi kurus dan pucat
aku menjumpai nenek di rumah sakit

“Nenek, aku pulang”
sengaja aku bicara dengan nada riang seperti dulu
baru sebentar bercakap-cakap
Nenek mengusirku  “pulanglah….” katanya

Keesokan pagi
nenek pulang dalam damai
seakan-akan selama ini
menanti kedatanganku
Padahal aku selalu diasuhnya
aku belum sempat balas budinya
aku bukan cucu yang baik
tapi nenek selalu menungguku

“di ruang WC ya nak…
tinggallah dewi WC yang amat cantik”
Kata-kata nenek itu
apakah bisa membuatku jadi cantik?

**di ruang WC ya nak…
tinggallah dewi WC yang amat cantik
makanya jika kamu membersihkan WC setiap hari
kamu juga akan cantik seperti dewi

Aku bercita-cita menjadi
menantu yang baik
Hari ini pun aku
membersihkan WC sampai mengkilat

Nenek… Nenek …. Terima kasih
Nenek… benar-benar..kuberterimakasih….
(terjemahan bebas “Toire no Kamisama” oleh Imelda Coutrier, lirik bahasa Jepangnya bisa lihat di sini )

huhuhuhuhu….. ayo anak perempuan! Siapa yang tidak menangis mendengar lagu seperti ini. Apalagi kalau sambil lihat video clipnya. (Video clip yang di Youtube sudah ditonton 7 juta kali lohhhh huibat deh).  Tentu saja mereka yang pernah mengenal kehadiran seorang nenek akan menangis. Kalau tidakpun, biasanya yang cerewet soal WC siapa? Kalau bukan ibu kita sendiri?

Dan memang cobalah datang ke Jepang. Sedangkan WC di kedai makan yang kecilpun, WC nya bersih. Kalau pergi ke restoran yang agak besar atau toko convinience store seperti 7eleven/circle K, bahkan di dalam WC nya biasanya ada daftar kapan dan siapa yang bertugas membersihkan WC. Cobalah pergi ke WC stasiun sekitar pukul 10 pagi, pasti bersih karena baru dibersihkan. Jangan datang jam 7 pagi, karena sisa-sisa kotoran dari malam sebelumnya memang masih banyak. Memang kadang aku juga menjumpai WC yang kotor, tapi itu tidak sampai 10% dari WC yang kukunjungi. Dan memang benar toilet menunjukkan bagaimana kepribadianmu, atau kepribadian masyarakatnya, seperti yang ditulis Mamah Aline di sini.

Lagu Toire no Kamisama ini sekarang memang sedang hit di Jepang, tidak tahu menempati rangking berapa, tapi cukup sering dipasang dimana-mana. Apakah lagu ini menggambarkan WC Jepang terlalu kotor sehingga perlu dibersihkan? Rasanya bukan…. Lagu ini terpilih dalam Kohaku Uta Gassen, lebih karena menggambarkan keharmonisan keluarga. Pentingnya keluarga sering diangkat sebagai tema karena seperti dalam lirik lagu itu memang biasanya anak-anak jika sudah masuk universitas, dan jauh dari tempat tinggal akan hidup kost sendiri, dan semakin jauh dari keluarga. Lagu ini memang membuat pemuda/pemudi  20-an tahun menangis terharu. Semoga saja mereka tetap memikirkan kakek/neneknya terlebih orang tuanya.

Tapi yang kadang aku merasa heran dengan penyanyi Jepang itu memang idenya untuk menciptakan lagu yang sangat beragam. Kok bisa aja gitchuuu… Dari kejadian-kejadian kecil sehari-hari saja bisa menjadi tema lagu. Tidak melulu cinta dan perselingkuhan seperti lagu-lagu di Indonesia. Tidak pernah akan terpikir kan oleh pengarang lagu Indonesia untuk memasukkan soal membersihkan WC atau menyeterika kemeja dalam lirik lagu? Tapi itu ada di Jepang. Selayaknya pemusik Indonesia juga bisa mengangkat tema-tema sosial/masyarakat dalam lagunya dan menjadikannya  populer!

NB:  Buat yang mau dengar lagunya seperti bagaimana silakan lihat di Youtube ini

Semua Ada Artinya

Wah, sudah tanggal 10 Januari ya? Tapi aku masih ingin bercerita mengenai perayaan tahun baru di Jepang, karena ternyata aku baru tahu beberapa informasi setelah sekian lama tinggal di Jepang. Ya, dulu aku merasa bahwa libur 3 hari mulai tanggal 1 sampai 3 Januari itu lumrah saja. Ingin memberikan istirahat kepada istri-istri yang selama setahun sudah banyak bekerja. (Meskipun untuk membuat sup khusus ozouni お雑煮ternyata ibu-ibu juga masih harus memasaknya). Tapi ternyata libur 3 hari itu ada hubungannya dengan agama tradisional Jepang Shinto.

sup ozouni, isinya mochi, kamaboko (bakso ikan), potongan lobak, wortel dan jamur dengan dashi (kaldu ikan)

Agama Shinto mempunyai banyak “Tuhan atau Dewa” yang disebut kamisama 神様. Dan salah satunya adalah Toshigami 年神, Dewa Tahun. Dewa Tahun ini melindungi kesehatan keluarga dan hasil panen, dan katanya sejak tanggal 1-3 Januari akan berkunjung ke rumah masing-masing. Untuk itu anggota keluarga menyambut Dewa dan melewati hari dengan tenang. Tidak boleh beberes dan memasak. Karena itulah, setiap keluarga menyiapkan osechi ryori.

Dan ternyata masing-masing masakan osechi ryori itu mempunyai arti atau melambangkan sesuatu. Misalnya Udang Besar エビ, diharapkan panjang umur sampai bungkuk seperti udang. Tapi karena aku tidak begitu makan udang (dan mahal) jadi aku tidak sediakan. Aku pakai udang besar itu untuk tempura, di malam oomisoka (pergantian tahun).

osechi th 2009

Kurikinton 栗きんとん, rebusan chestnut dengan pasta ubi yang manis. Berwarna kuning terlihat seperti emas sebagai  tanda bersyukur (pesta). Rasanya manis, bisa dibayangkan seperti biji nangka, kue tradisional dari makassar, yang pernah kutulis di sini.

Nimono 煮物 atau rebusan yang biasanya terdiri dari renkon (akar teratai), wortel, konnyaku (lidah setan), ubi taro (sato imo) yang bulat, jamur shiitake dan ayam. Direbus memakai dashi (kaldu ikan). Niimono ini melambangkan keharmonisan anggota keluarga.

Kamaboko かまぼこ atau saya terjemahkan menjadi bakso ikan. Biasanya terdiri dari warna merah (pink) dan putih.  Juga terbuat dari pasta ikan yang dikukus, tapi tanpa telur. Biasanya adonan ikan tersebut ditaruh di atas sebuah papan kecil lalu dibentuk setengah lingkaran. Tapi ada pula yang dibentuk bundar dengan teknik khusus yang menimbulkan huruf atau gambar jika dipotong. Bentuk setengah lingkaran ini seperti bentuk matahari terbit, sehingga bisa melambangkan “Matahari Pertama”.

Kazunoko 数の子, atau telur ikan nisshin. Kalau di keluarga Miyashita, biasanya digabung dengan edamame. Kazunoko melambangkan banyak anak yang dapat melanjutkan kejayaan keluarga.

Kuromame atau kacang hitam. Direbus dan diberi banyak gula sehingga manis, selain menimbulkan efek warna mengkilap. Melambangkan kesehatan anggota keluarga.

osechi th 2009

Datemaki 伊達巻, bentuknya seperti rool tart (bolu gulung), karena memang dia terbuat dari banyak telur dengan rasa asin manis karena memakai garam dan gula, tapi berbeda dengan telur dadar biasa, datemaki memakai parutan daging ikan/udang, lalu dipanggang di cetakan persegi, kemudian digulung. Biasanya orang Jepang juga tidak membuat sendiri, karena sulit untuk mendapatkan warna dan bentuk yang bagus. Makimono (benda yang digulung) melambangkan rajin, sedangkan date berarti elegan.

Nishiki Tamago 錦たまご, telur dua warna kuning dan putih.  Sebetulnya kata nishiki memang bisa ditulis dengan kanji yang berbeda, 二色 yang berarti dua warna dan 錦 yang berarti indah.

osechi th 2010

Ada satu acar yang bernama Kohaku Namasu 紅白なますyaitu irisan halus wortel dan daiko (lobak) yang menurutku mirip dengan acar kita. Warna merah dan putih memang warna “perayaan” yang sering dipakai di Jepang. Lagipula itu adalah warna bendera Jepang (dan bendera kita) bukan?

Semestinya makanan osechi ini memang untuk 3 hari, tapi hari kedua kami sudah tidak “betah” makan osechi, sehingga aku masak soto ayam…. hmmm hangat-hangat di hari yang dingin. Memang makanan panas lebih enak ya.