Arsip Bulanan: Desember 2010

8 Besar dari Nerima

Saat mulai menuliskan posting ini, jam menunjukkan pukul 21:30, berarti 2 setengah jam lagi sisa tahun 2010. Sudah selesai makan malam dan makan toshikoshi soba, mie pergantian tahun yang melambangkan harapan yang panjang di tahun yang akan datang. Sambil menonton acara tahunan dari NHK yaitu Kohaku Uta Gassen 紅白歌合戦 (harafiahnya: Kompetisi Lagu Merah-Putih), aku menuliskan 8 besar (berita) dari Nerima (nama daerah tempat tinggal kami).

Tadi sore waktu aku mempersiapkan makan malam, Gen bertanya padaku tentang 10 hal terbesar dalam tahun 2010 ini. Aku baru tahu bahwa dia selalu menuliskan 10 besar kejadian di keluarga kami yang terjadi pada tahun itu. Kami pikirkan bersama, dan sambil flash back kembali peristiwa demi peristiwa, tidak ada kejadian yang benar-benar menonjol pada tahun 2010.

menu pergantian tahun 2010-2011

Dari 10 besar yang kami pikirkan bersama, aku akan tuliskan 8 besar saja. Kenapa? Karena angka 8 adalah angka keramatku…. dan ada 2 point milik Gen pribadi yang dia tidak mau aku tuliskan di sini. Peristiwa besar dalam keluarga kami yang pertama adalah: 1. Riku sudah bisa tinggal sendiri di rumah bahkan dia sudah bisa memutuskan apa yang harus dilakukan seperti yang sudah aku tulis di sini. Intinya Riku sudah GEDE!

2.  Aku mulai mengajar kembali Kursus Bahasa Indonesia KOI yang diadakan KBRI dengan Japinda, setiap Senin malam setelah cuti 3 tahun. Setiap senin aku dengan anak-anak pergi naik mobil ke Meguro, dan sementara aku mengajar anak-anak aku titipkan pada keluarga Indonesia yang tinggal  di dekat Sekolah RI Tokyo.

3. Kai sudah “lulus tidak memakai pampers”, dan merasa anak gede karena sudah memakai “celana kakak” onisan pantsu お兄さんパンツ.

4. Pertama kali tahun ini mudik memakai pesawat murah lewat Hongkong (selama ini selalu naik JAL/SQ langsung Jakarta). Dan masih sempat bertemu dengan Oma Poel sebelum beliau meninggal.

5. Kai pertama kali menonton di Bioskop “Ultraman Zero”.

6. Riku berhasil mendapat nilai 100 untuk pelajaran bahasa Jepang. Sebelumnya kami sempat khawatir karena nilai bahasa Jepangnya kurang.

7. Kai debut pertama di Tokyo Disneyland, meskipun untuk kali ke dua. Pertama kali Kai ke Disneyland dia masih bayi.

8. Riku bertemu dengan tokoh dari Vietnam, Doc korban perang kimia. Dan tulisan/gambarnya di angket sempat menjadi bahan tertawaan teman-teman Gen.

Menurutku memang tahun ini biasa-biasa saja, dibanding dengan tahun 2009, yang sangat sibuk untuk diriku.

Bagaimana resolusi tahun 2011? Untuk aku pribadi ada dua target yang hendak aku laksanakan di tahun 2011, satu jangka pendek yang diharapkan dapat diwujudkan di pertengahan Agustus, dan satu jangka panjang yang moga-moga dapat direalisasikan tahun 2015.  Semoga aku juga masih bisa terus ngeblog dan menjaga silaturahmi dengan teman-teman yang sudah bertandang ke sini.

Selamat Tahun Baru 2011

kampai!

Mengakhiri Tahun

Banyak cara mengakhiri tahun dan menyambut tahun baru. Sebagai kebiasaan di Jepang, pertama membersihkan seluruh rumah terutama tempat-tempat yang biasanya jarang dibersihkan. Membersihkan bagian belakang kompor, lemari, lampu-lampu, membuang barang-barang yang tidak perlu dan rusak tapi masih disimpan sampai membuang baju-baju yang sudah tidak dipakai atau out of date. Kegiatan ini dinamakan Oosouji 大掃除, bahasa Inggrisnya BIG Clearance.

Selain itu sejak awal Desember, seperti juga di Indonesia, di pertokoan Jepang juga banyak terdapat BIG Sale, buat hadiah natal dan tahun baru. Khusus untuk pembelian TV, dikenakan semacam “tunjangan” dari pemerintah bagi yang membeli sampai pertengahan Desember (sesudah pertengahn desember, tunjangan itu menjadi separuh saja). Semua berlomba-lomba membeli TV karena mulai tahun depan 2011, siaran TV Jepang tidak lagi analog, tapi menjadi digital. DeMiyashita tidak tergiur membeli TV baru untuk menggantikan TV analog kami yang HANYA 14 inchi itu.

Ibu-ibu juga selain sibuk membersihkan rumah, juga sibuk mempersiapkan makanan khusus tahun baru yang disebut osechi ryori おせち料理. Kalau mau gampang sih memang lebih baik memesan yang sudah jadi yang biasanya akan diantar pada tanggal 30/31 Desember. Yang sudah jadi biasanya terhias dengan rapih, bagus tapi… mahal. Kalau mau yang lengkap dan banyak ya silakan merogoh kocek 100ribu yen (10 juta rupiah). Kalau mau yang minimal ya cukup 5-6000 yen (500-600ribu rupiah). Aku? setengah beli setengah masak. Ada yang aku beli jadi dan tinggal masukkan ke dalam kotak bersusun 3, dihias bersama makanan yang aku masak sendiri. Soal osechi ryori, nanti aku pasang fotonya di tahun baru ya 😀

Riku sudah libur sejak tanggal 25 Desember dan masuk kembali tanggal 11 Januari. Cukup lama, dan cukup membuat aku harus masak 4-5 kali sehari karena Riku sering berkata: “Mama aku lapar”. Penitipan Kai tutup dari tanggal 29 sampai tgl 3 Januari, dan Kai tetap rajin “masuk” karena dia sudah mempunyai teman akrabnya di sana, tidak mau bolos! Tadinya kupikir kalau Kai tetap ogah-ogahan, akhir Januari aku mau berhentikan dia dari penitipan itu, karena toh aku juga libur musim semi dan Kai akan masuk TK bulan April. Tapi dengan kondisi seperti sekarang, sepertinya aku akan kewalahan membujuk dia untuk tinggal di rumah hehehe. Papa Gen seharusnya libur sejak tgl 29 tapi masih ke kantor. Biasanya kantor Jepang libur sejak tanggal 29 Desember sampai 3 Januari, memberikan kesempatan kepada pegawai untuk mudik/pulang kampung.

Tanggal 30 Desember, dengan formasi berempat libur, kami menghabiskan hari dengan menonton! Ya, tidak biasanya aku mau pergi ke bioskop. Tapi sejak  aku kencan dengan Riku menonton G-Force dulu, aku yakin bahwa aku sudah bisa menonton di bioskop. Gen mau menonton “Space Battle Ship Yamato” dengan Riku, sedangkan aku mau mengajak Kai menonton “Ultraman Zero”. Riku tidak mau menonton Ultraman Zero, jadi ini merupakan jalan pintas terbaik, berdua-dua menonton film yang berlainan.

Film "Space battleship Yamato" yang dibintangi Kimura Takuya, salah satu idolaku tapi tidak membuatku mau menonton

Kami menonton di T-Joy Ooizumi, sebuah kompleks bioskop dan pusat animasi To-ei, perusahaan pembuat film terkenal di Jepang. Dari rumah kami cuma 10 menit naik mobil (naik sepeda 20 menit). Aku pertama kali menonton di sini, dan aku senang karena sistem di sini bisa memilih tempat duduk waktu membeli karcis (kebanyakan bioskop di Jepang tidak bisa, sehingga harus mengantri sampai pintu buka). Kalau seperti begini, aku mau saja deh mengantar anak-anak nonton (aku sendiri tidak hobby nonton soalnya).

Aku menikmati sekali menonton berdua Kai yang baru pertama kali menonton film di bioskop dan cukup panjang. Expresi dia setiap adengan sangat antusias, sambil tak henti-henti mengunyah popcorn dan minum coca cola. Sebelum masuk aku sempat tanya dia, “Kai ganti popok ya, kalau mau pipis di dalam dan tidak bisa ke WC jadi tidak ngompol”. Dia agak bingung karena memang dia pakai celana dalam, dan waktu dia melihat aku mengeluarkan pampers dari dalam tas, dia langsung berteriak, “Mama…terima kasih…. mama bawa untuk aku ya?” (ya abis untuk siapa lagi sayang hihihi).

Kai dan ULTRAMAN ZERO

Melihat antusiasme Kai di dalam bioskop aku merasakan penyesalan tidak lebih cepat bisa ke bioskop dengan Riku. Riku pertama kali ke bioskop bersama papanya, ntah umur berapa, yang pasti tidak semuda Kai yang 3,5 tahun. Bayangkan dia ikut berteriak waktu Ultraman bertarung, ikut berdebar-debar waktu ultraman tertangkap. Untung saja kami duduk cukup terpisah dengan yang lain, dan suara musik dari film bisa menutup teriakan Kai… seru deh pokoknya. Soalnya penonton Jepang kan “alim” hihihi.

Waktu kami keluar studio pukul 5:10 sore, menjumpai papa Gen dan Riku di lobby, kami mendapat laporan dari Riku bahwa dia merasa “mual”. Rupanya film itu tidak cocok untuk anak-anak karena banyak mempertontonkan pembunuhan dan kematian. Gen pun berkata tidak  menyangka film yang diangkat dari manga itu se”biadab” itu. Hiiiii untung aku tidak lihat ah… untung aku menonton bersama Kai. Oh ya, di bioskop itu aku melihat poster film Rapuntzel baru akan diputar di Jepang akhir Maret. Bagus ngga sih?

Untuk mengobati penyesalan menonton film yang menurut Riku “tidak menarik”, dan dia sudah mengeluh terus “lapaaar”, kami menyusuri jalan menuju daerah Kawagoe, Saitama untuk mencari restoran yang “lain daripada yang lain”. Bosan juga dengan restoran di sekitar daerah kami, meskipun kalau pulangpun aku bisa saja memasak karena lemari es penuh stock.

Akhirnya kami sampai di restoran Ooshimaya di daerah Kawagoe. Sebetulnya restoran ini tidaklah “lain daripada yang lain” tapi menurutku sih lumayan. Karena boleh dikatakan restoran ini mengambil bentuk pelayanan seperti nomiya, tempat minum-minum alkohol khas Jepang. Tapi biasanya nomiya itu gelap, sempit dan berasap rokok, sudah pasti TIDAK BISA BAWA ANAK-ANAK ke nomiya. Tapi restoran ini meskipun bernuansa nomiya, terang, bersih, tidak berasap rokok padahal kami duduk di meja boleh merokok dan tidak jarang kami lihat keluarga membawa anak-anak makan di sini. Jadi seperti family restaurant deh. Apalagi di sini juga ada kaiten sushinya (sushi berputar di atas ban), dan makanan lainnya juga lumayan enak. Yang pasti harganya murah! Kami berempat makan macam-macam cuma 5000 yen saja! Dan satu yang membuat aku kaget, pelayannya berkata, “Silakan datang lagi ya, tanggal 1 Januari kami buka seperti biasa!”. Waaaah… biasanya restoran dan toko Jepang semua tutup di hari pertama tahun baru! Ini pertanda apa? Pelayanan atau krismon?

seperti yang kutulis di FB: I am still …. avoiding Big Sale, doing Big Clearance, hoping Big Fortune

Ritual Malam

Mungkin beberapa pembaca TE sudah membaca tulisan dari Iyha dan Mas trainer tentang mengawali hari atau ritual pagi. Kalau Iyha menceritakan apa yang menjadi “starter” di pagi harinya, Mas trainer tentang kegiatan di pertokoan pada waktu pagi hari sebelum buka. Aku rasa banyak yang seperti Iyha, membuka hari dengan menyalakan TV untuk memulai hari. Sedangkan kalau aku biasanya justru senang dengan keheningan, atau memasang musik jazz.

Seperti yang aku tulis di komentar tulisan Iyha:

Bangun pagi nyalakan komputer, aku langsung ke dapur,nyuci piring yang direndam semalam. Begitu tangan kena air, melek deh hihihi. Bikin kopi, lalu buka TE, buka email, buka FB, buka twitter, buka koran jepang, buka blogspot utk liat ada tulisan baru dr sahabat blogger atau tidak.
Kalo udah baru nyeterika kemeja suami utk hari itu, siapin sarapan utk Riku, bangunin suami…. pontang panting. Setelah Suami dan Riku pergi, nyungsep lagi bawah selimut, bangunin Kai, sambil becandaan.
Kalau Kai udah bangun dan ke meja makan untuk makan sambil nonton TV, akunya siap-siap pergi antar dia. Tas Kai berisi baju ganti dsb. Paling lambat jam 9:30 off ke penitipan.
Bangunnya? ngga tentu, kadang jam 3, jam 4, jam 5 tapi yang pasti jam 6 sudah nyala kompi.
Sampai dengan Riku bangun (6/6:30) its my me time, kadang memang cuma 30 menit, tapi kalau terbangun jam 4 lumayan tuh ada 2 jam. Dalam hening memandang ke luar jendela, menanti fajar merebak sekitar pukul 6/ 6:30 (winter time). Kadang pasang CD jazz yang lembut.

Nah, itulah pagiku yang katanya “padat”.  Tapi aku beruntung Riku selalu bangun sendiri, atau kalaupun jam 7 masih tidurpun dia mudah sekali untuk dibangunkan. Riku akan pergi ke sekolah (berangkat sendiri pukul 8 pagi).

Kalau pagi padat, semestinya malam tidak usah padat ya? Tapi kalau dipikir-pikir ternyata menjadi ibu rumah tangga memang “padat” terus jadwalnya. Kali ini aku mau bercerita tentang ritual malam di Casa deMiyashita.

Anak-anak masuk rumah sekitar pukul 5 sore, karena pukul 4:30 (karena winter time) berbunyi bel di seluruh kelurahan Nerima yang memanggil anak-anak untuk pulang ke rumah. Tidak ada anak-anak SD yang boleh berkeliaran sendiri. Riku pulang sendiri sedangkan Kai aku jemput di penitipan pukul 4:30 (aku tetapkan sendiri mau menitipkan sampai jam berapa). Setelah anak-anak masuk rumah, baru aku memasak makan malam.

Makan malam kami pukul 6/6:30 sore. Kadang aku makan bersama mereka, kadang tidak. Sampai pukul 8 malam, mereka menonton TV atau Riku membuat PR. Sekitar jam 8 malam, kami mandi. Kebiasaan orang Jepang mandi berendam pada malam hari sebelum tidur. Kadang aku berendam bersama Kai, kadang Kai dengan Riku saja bermain-main di bak mandi sampai maximum pukul 9 malam. Yang pasti pukul 9 harus masuk tempat tidur.

Sebelum tidur, sudah tentu mamanya berteriak-teriak menyuruh mereka sikat gigi. Dan biasanya masing-masing membawa satu buku untuk didongengkan. Meskipun akhirnya Riku mengalah dan membiarkan aku membacakan dongeng untuk Kai 2 cerita. Kalau belum jam 9 dan Kai minta 3 cerita pun aku layani, tapi…… kadang aku lebih mengantuk dari mereka. Nah ini yang parah.

Biasanya begitu aku mulai membaca, belum sampai 3 halaman, Riku sudah tertidur. Anak itu cepat sekali tidurnya, dan jangan harap bisa bangunkan dia untuk pindah tempat misalnya. Suliiit banget. Dulu waktu aku kecil juga begitu. Kata ibuku dulu, “Huh melda sih kalau sudah tidur, biar ada bom di sebelahnya juga ngga bangun”. Tapi itu duluuuuu, sekarang sih jarum jatuh aja terbangun hehehe.

Nah, aku tentu saja melanjutkan mendongengnya untuk Kai. Yang parah kalau aku yang mengantuk duluan. Bisa-bisa aku bicara melantur asal bunyi saja, dan saat seperti ini Kai terus menerus berkata, “Mama….yonde!” (Mama..baca dong). Duuuuh berat deh. Makanya biasanya kalau aku sudah mengantuk aku suruh dia bawa buku yang tipis atau banyak gambarnya. 🙂

Asalkan aku sudah menyelesaikan permintaan 2 cerita yang dia pilih, Kai mematikan lampu dan bersiap tidur. Saat-saat itu aku nikmati sekali deh. Soalnya dia yang tidur di sebelah kananku (tempat tidur kami queen size, Riku di kiriku, Kai di kanan) akan tidur menghadap aku, dan aku menghadap dia. Dalam remang lampu bedside, dia akan berkata, “Mama, oyasumi…” (Mama selamat tidur), yang HARUS aku jawab dengan “Kai, oyasumi…”
Lalu Kai akan tersenyum, yang HARUS aku balas dengan senyum, dan dia berkata…”Mama aishiteiru… (Mama I love you)”… dan tentu saja dong aku harus jawab yang sama. Kalau aku masih memandang dia, dia akan bilang, “Mama me wo tsumutte (tutup mata)”… doooh cerewet deh.

Asyik kan? Enjoy banget deh aku dengan saat-saat seperti ini, dan biasanya aku tertidur bersama Kai. BUT…. ada beberapa saat, pas aku lagi ler ler hampir tertidur, Kai berkata, “Mama mau pipis…..” HUH bener deh. Kadang aku bilang, “Udah di pampers aja” (dia masih pakai pampers untuk tidur),  tapi dia tidak mau. TERPAKSA deh bangun (kadang seringnya dengan ngomel hihihi) dan mengantar dia ke WC. Atau kalau bukan karena mau pipis, dia bilang, “Ma, mau minum!”, dan kalau tidak diambilkan minum dia akan berkata “Ma, mau minum” teruuuuuuussssss….. huhuhuhuhu 🙁 🙁 🙁 . Tidak jarang aku ingin nangis loh. Aku itu sulit tidur, jadi kalau ngantuk dan ingin tidur, aku sangat berharap tidak ada gangguan. Tapi belum bisa 🙁 mungkin aku harus bersabar satu tahun lagi ya?

Kalau untuk minum, jalan tengahnya aku selalu menyiapkan gelas isi air di atas tempat tidur, tapi kalau mau ke WC itu kan tidak bisa meskipun sebelum masuk tempat tidur sudah diajak ke WC. Namanya hasrat alami ya ngga bisa ditahan duong…. Jangan ajarin cara-cara menahan seperti yang tertulis di sini ahhh hihihi.

Dan kalau aku marah-marah begitu, sekembalinya dari WC, masuk selimut lagi, Kai akan berkata, “Mama ngga marah kan?…. hoooooooooooooooiiii mau marah sih, tapi kalau aku cuma bilang, “hmmm…” dia akan terus terusan tanya, “Mama ngga marah kan?” Dan dengan terpaksa (meskipun nada marahpun) dia akan LEGA kalau aku bilang, “Mama tidak marah”. Duh nak,…… kamu ini benar-benar menguji kesabaran mama.

Kadang papanya juga dengar aku ngomel-ngomel ke Kai di dalam kamar waktu dia pulang (sekitar pukul 10 -paling cepat) , tapi kalau dia masuk kamar dan ikut campur, bisa-bisa Kai malah tidak tidur dan mau menemani papanya makan. Jadi dia cuma bisa dengar di luar saja.

Yang kasihan kalau aku tidak tahu papanya sudah pulang, dan aku ketiduran, berarti dia makan sesudah aku bangun jam 11/12 an atau dia musti ambil makanan sendiri deh. Jadi? Imelda jam berapa tidurnya? Entahlah, aku sendiri tidak tahu jam berapa biasanya aku tidur hehehe, yang pasti aku tidak bisa tidur lebih dari 4 jam (dulu max 3 jam, sekarang sejak mengurangi kopi bisa lebih lama).

Jadi begitulah ritual malamnya keluargaku. Heboh ya? hihihi tidak kalah deh padatnya ritual malam dengan ritual paginya. Bagaimana dengan teman-teman? Kalau yang berkeluarga mungkin sama hebohnya ya? hihihi

kalau masih jreng, Riku juga suka membacakan utk adiknya, sayangnya Riku cepat ngantuk, jadi mamanya deh musti mendongeng untuk Kai....

sssst aku mau cerita lagi: tadi malam Kai menguji kesabaranku lagi, tapi waktu dia berusaha memperbaiki mood aku dia memandang aku dan berkata:
“Mama, aku besok mau kencan sama mama ke restoran deh”
“Kenapa?”
“Soalnya mama cantik” hahahaha….. bukannya bilang “aku sayang mama” atau yang lainnya tapi “mama cantik”… duuuh masih kecil udah pinter ngerayu! 😀  😀  😀

It’s good to be HOME

Loh, katanya Imelda tidak mudik natalan kali ini? Kok judulnya begitu?

Well, sesuai “sentilan” papa yang “HOME IS WHERE YOUR HEART IS” maka aku bisa mengatakan… yes! It’s good to be home. Dan ternyata HOME-ku lumayan banyak loh!

@HOME1: Christmas Eve,  dimulai dari pukul 5 sore! hihihi, cepet banget ya? Masalahnya 4:30 Kai pulang dari penitipan, dan begitu aku sampai di rumah, Riku bilang, “Ma aku lapar!” “Ada banyak makanan enak, aku boleh makan?”

Jadi aku siapkan christmas dinner, ambil foto lalu mulai dengan appetizer bertiga saja dengan anak-anak sambil nonton disney channel yang menayangkan film-film tentang Natal. Untung aku memasak roast chicken 2 ekor, sehingga waktu jam menunjukkan pukul 8 malam tapi Gen  belum pulang, aku suruh anak-anak makan dengan memotong ayam panggang yang sudah aku bumbui dari sehari sebelumnya. Ayam panggang fresh from the oven itu ternyata enak ya, juice dan empuk. Kali ini aku buat dengan resep sendiri, dan ternyata pas! siiip deh. Cuma aku belajar bahwa waktu pemanggangan tidak perlu sampai 4 jam. Soalnya aku pakai panas 180 derajat dan untuk 2 ekor, ternyata 4 jam jadi hitam kulitnya. Maklum deh latihannya kurang hehehe.

Anak-anak bersikeras menunggu papanya pulang. Hampir pukul 10 malam  Gen pulang. Buka champagne dan yang lain menunggu papanya makan sambil menggelapkan ruang makan. Pertama kali Riku menyalakan lilin-lilin yang aku sediakan. Jadi family’s candle light dinner deh. Gen yang sudah capek malam itu, melihat keceriaan anak-anak menyambutnya akhirnya mengatakan: “Memang keluarga itu nomor satu ya”. Dan ditegaskan Kai: “Kazoku daisuki (aku suka sekali keluarga)”.  (Dan aku test dia, emang keluarga itu siapa sih Kai? Dijawab: Papa, Mama, Kai, Riku)

Setelah papanya selesai makan, aku menyuruh anak-anak tidur supaya santa claus bisa datang. Semoga besok pagi ada hadiah di bawah pohon natal. Jadi deh mama mendongeng supaya mereka cepat tidur. Dan seperti biasa yang nomor satu tidur adalah Riku.

@HOME2: Sabtu 25 Desember. Jam 4:30 aku melajukan mobilku menembus jalan padat Kan-nana untuk mengikuti misa jam 6 sore di Meguro. Wah banyak benar godaannya hari itu. Rencana berangkat jam 4 supaya bisa latihan nyanyi jam 5 ceritanya, tapi berhubung suamiku ketiduran, aku memutuskan untuk berangkat sendiri dengan anak-anak. Di tengah perjalanan, setiap jalur yang kupilih pasti padat dat dat. Ambil kanan, padat…. sabar dulu deh kupikir. Setelah cukup lama, aku berhasil ambil jalur kiri. Eeee sesudah berada di jalur kiri, giliran jalur kirinya yang apadat alias macet. Duh… setan menggodaku untuk menyumpah nyumpah!

Tapi …. sebenarnya saat itu aku pakai berbicara dengan Riku, karena Kai tertidur. Aku jelaskan pada Riku kenapa kita harus percaya pada Tuhan… hehehe serasa jadi pastir (pastor perempuan – julukan dari tante-tante di Meguro). Tak jarang aku sambil mengusap titik airmata karena mau tidak mau aku menceritakan sejarah hidupku sendiri.

Waktu macet yang mengharukan disamping menjengkelkan. Dan aku was was melihat jam di mobilku karena prediksi car navagator menunjukkan bahwa aku akan sampai di Meguro pukul 18:00 (awalnya 17:40 loh!). Oh Macet….. aku akan rela terlambat dan menikmati macet itu kalau saja aku tidak…. kebelet pipis! Worst deh. …..  Bayangin musti nyetir sambil nahan pipis. Aku tidak tahu deh pengemudi mobil lain apa pernah mengalaminya, tapi kemarin itu bener-bener deh. Kalau aku mampir untuk ke WC, sudah pasti aku terlambat. Tapi kalau tidak ke WC, mampu ngga aku nyetir sampai Meguro? Masih sekitar 30 menit. 🙁 duh

Tapi meskipun aku cari pompa bensin di car navigation, ternyata aku bener-bener tidak bisa mampir. Ada satu pompa bensin yang bisa aku masuki sebenarnya. Sudah mau masuk…eh self service, alias kita harus isi bensinnya sendiri. OGAH! Aku belum pernah self service sih, ngga berani. Jadi aku tahan deh sampai mendarat (emang pesawat hahaha) di gereja Meguro.

Sesudah ke WC, langsung masuk ke chapel sebelah altar untuk mengikuti misa. Lumayan , baru mulai gloria (terlambat 10 menitan). Misa oleh pastor Harnoko dan pastor Epen cukup meriah sampai ada sekitar 6 orang tidak dapat tempat duduk.

Setelah misa, kami berkumpul di ruang ramah tamah untuk makan bersama. Masing-masing anggota membawa apa saja yang bisa dimakan bersama. Untung saja aku sudah titip masakan pada tante Lientje, karena tadinya mau masak macam-macam, tapi tidak keburu. Saking banyaknya masakan, aku cuma makan sedikit karena bingung milihnya. Cuma ambil 4 potong lontong, ayam opor supaya bisa kasih makan Kai, sambal goreng hati (yang pedas), dan rujak asinan. Masih lapar sih, tapi ngga mood makan. Bawa dua anak sangat menyita perhatian sehingga tidak bisa makan yang tenang. Berapa kali mereka menjatuhkan minuman, sehingga harus dipel. Tapi yang pasti Riku dan Kai makan banyak kue dan coklat! Ya sudah lah, Natal ini…. aku biarkan mereka makan apa yang mereka mau (dan sadar waktu pulang bahwa mereka sama sekali tidak makan nasi… sa bodo ah!)

Berkumpul bersama umat katolik Indonesia, berdoa, makan dan bercanda bersama mampu membuatku merasa di rumah. Aku sangat terhenyak waktu mendengar ucapan pastor Harnoko, “Kami (pastor-pastor) ingin merayakan Natak bersama keluarga, tapi tidak mungkin. Jadi kami senang sekali berada di antara keluarga Indonesia di sini.” Ahhhh, pastor juga manusia kan… mereka juga ada kerinduan berkumpul dengan keluarga tapi tidak bisa. Banyak orang yang karena tugasnya tidak bisa berkumpul dengan keluarga di hari Natal, trus kamu cengeng karena tidak bisa mudik mel? ….

@HOME3 adalah home di TE, di FB dan Twitter (kalau twitter namanya timeline). Kalau kamu buka FB kan ada tuh HOME, tempat kamu bisa membaca semua kegiatan teman-teman. Ucapan natal yang mengalir, tak jarang ada juga polemik antara kaum muslim yang mengatakan tidak boleh mengucapkan selamat Natal dan muslim moderat yang sangat toleran. Terima kasih banyak untuk keberadaan teman-teman di sana. Tanpa ada ucapan selamat pun aku tetap menganggap semua temanku. Yang telah mengucapkan selamat di TE, FB dan twitter aku ucapkan terima kasih yang sedalamnya, kalian bukan saja teman, tapi saudaraku.

Apalagi aku mendapat telepon 1,5 menit dari adik mayaku, Ria di jakarta. Cuma bicara “Gimana natalnya mbak? Aku kangen!”… Duh senaaaaaaaaaaang sekali. Memang kami akhir-akhir ini jarang bertemu di dunia maya karena kesibukan Ria. Telepon itu benar-benar menyejukkan hati. Rasanya ingin isi pembicaraan itu aku bungkus kado sebagai hadiah Natalku. Terima kasih banyak ya Ri… muachhh.

@HOME 4 dan yang terakhir adalah gereja Katolik di Kichijoji, 20 menit naik bus ke stasiun Kichijoji, dan dari stasiun jalan kaki 7 menitan. Minggu tgl 26 Desember pagi, pukul 6:15 menembus dinginnya pagi yang masih gelap aku naik bus. Berdoa sendiri di gereja ini dan menikmati misa “Keluarga Kudus” yang dibawakan oleh pastor Epen. Umat yang hadir hanya 20-an di gereja yang cukup besar membuat badan yang tidak memakai coat cukup kedinginan. Heater tidak berhasil memanaskan seluruh gereja, tapi aku selalu membiasakan diri tidak mengenakan coat dalam ruangan. Karena jika aku tetap memakai coat dalam ruangan, begitu keluar akan terasa lebih dingin lagi. Misa dalam bahasa Jepang terasa lembut, dengan lagu-lagu yang sama sekali tidak meriah. Memang itulah gayanya orang Jepang, semua lagu misa seperti gregorian. Tapi itu membuat aku lebih bisa berkonsentrasi dalam doa. hening…

“Tuhan, semoga aku bisa meneladani keluarga kudus, sehingga keluargaku bisa menjadi keluarga kristen yang baik.Terutama karena hari ini aku memasuki tahun ke 12 dalam membangun keluarga.”

So ….  its good to be HOME for this Christmas.

Memutuskan Hubungan

Kemarin seniorku di Sastra Jepang menulis begini, “Kalau kita diboongin oleh orang yang kita sudah percaya, enaknya diapain ya?”. Lalu aku tulis, “putuskan hubungan”. Ya, memutuskan hubungan sebagai sahabat dan mengganti bentuk hubungan sebagai teman biasa, atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Kadang ketidakberanian kita untuk memutuskan hubungan bisa merugikan kita sendiri.

Setidaknya itu yang aku dapat dalam acara TV yang kutonton kemarin. Memang hal itu mungkin berlaku untuk kasus-kasus tertentu, dan dalam masyarakat Jepang. Kok sampai segitu parahnya?

Jadi kemarin itu TV menceritakan tentang hubungan pertemanan ibu-ibu rumah tangga Jepang. Biasanya, kita mempunyai teman dari sekolah/tetangga. Dan setelah lulus, dan menikah, semakin sulit untuk berhubungan dengan teman sekolah, atau teman kantor jika pernah bekerja di kantor sebelum menikah. Waktu pindah rumah bersama suami (sering harus pindah kota juga kan), harus berusaha berteman dengan tetangga…. tapi hal ini sulit dilakukan di apartemen. Biasanya kita tidak kenal tetangga sebelah apartemen kita.

Waktu hamil, biasanya punya teman-teman yang sama-sama sedang hamil, dan berkonsultasi di Rumah Sakit yang sama. Tapi setelah melahirkan, masing-masing sibuk dengan bayi-bayinya sendiri. Nah, biasanya jika anak-anak balita masuk ke TK atau SD inilah, ibu-ibu “berteman” dengan ibu dari teman anaknya, terutama jika sekelas. Banyak pengumuman atau kegiatan TK/SD yang melibatkan ibu-ibu. Waktu TK mereka bertemu waktu menjemput anaknya. Pertemanan seperti ini yang disebut dengan Mama Tomo (Teman dengan status “Mama”).

Dan hubungan mama tomo ini juga berbahaya. Salah omong sedikit, bisa menjadi pemicu ketidaksukaan di kalangan ibu-ibu yang lain. Atau menjadi wadah untuk bergosip ria. Ada satu kasus yang ditampilkan di TV, yaitu karena ibu-ibu ini hanya mempunyai teman dengan status “mama tomo“, mereka sangat tergantung dengan mama tomo. Tapi jika menemukan hambatan dalam pertemanan itu juga akan sulit sekali memutuskan hubungan. Yang parah dalam ilustrasi yang diberikan di TV itu, seorang yang memang ndablek, meminjam baju pada teman “Mama Tomo” dan tidak mengembalikannya.

Karena itu dalam kesimpulan yang diambil dari speaker di TV itu, ibu-ibu itu juga harus berani untuk memutuskan hubungan pertemanan, jika pertemanan itu sudah mengandung unsur merugikan dan sakit batin.

Dengan status sebagai  seorang ibu memang sulit untuk menemukan teman yang pas, yang bisa mengerti kondisi repotnya menjadi ibu. Lain halnya jika sudah mempunyai teman dari kecil. Dan waktu menonton acara itu aku beberapa kali nyeletuk, “Makanya cari saja teman virtual, lewat internet…. lebih tidak makan hati!”. hehehe

Tapi benarkah pertemanan di internet tidak makan hati? Ada beberapa teman yang pernah kutahu mengalami masalah dengan teman-teman mayanya. Aku sendiri tahun ini sudah pernah memutuskan hubungan pertemanan dengan teman maya. Dan bukan hanya aku bertindak sepihak, ada pula kasus aku yang “diputusin”. Juga jangan menyangka pertemanan di antara blogger itu juga tidak mengalami “cemburu-cemburuan” loh. Bahkan aku mengetahui “curhat” seorang teman yang dia tulis di postingnya, “Aku heran kenapa dia bisa berkunjung ke blog teman lain, tapi tidak ke tempatku?” . Akupun terus terang sependapat dengan dia, dan kukatakan aku juga sedih (siapa sih yang tidak sedih?) jika tahu bahwa teman-teman yang biasa bertandang ke sini, lebih mementingkan kehadirannya di blog teman lain, dan tidak datang ke TE, atau TE menjadi urutan yang terbelakang. Tapi… aku juga tahu bahwa banyak orang yang mengeluh tidak bisa membuka TE,  mungkin karena masalah koneksi. Jadi untukku sekarang, aku berpegang kembali pada tujuan aku blogging yaitu mencatat kehidupanku di sini, dan memberikan informasi (terutama tentang Jepang) yang kuharap bisa berguna bagi yang membacanya. Bukan jumlah komentar atau hit, atau ranking. Bukan juga untuk menjadi Nara blog atau seleblog meskipun tidak ingin menjadi blogger jahat yang merugikan. Kembali ke khitahnya deh hihihi.

Well, kembali ke topik pertemanan, memang sedih sekali jika harus memutuskan persahabatan, tapi apa boleh buat, jika pertemanan itu membuat kita merugi (lahir/batin) lebih baik diputus saja kan? Pacar saja bisa diputus, apalagi teman kan?  🙁 🙁 🙁

Everybody’s Changing…. Semua memang bisa berubah, meskipun aku tetap mengharap semua hubungan bisa harmonis,dengan toleransi yang tinggi. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atau kunjungan teman-teman di sini, yang berkenan meluangkan waktu untuk memberikan komentar. Aku akui, tahun ini aku jarang sekali menjawab komentar, atau sedikit sekali blogwalking. Aku juga menyadari bahwa banyak teman-teman TE yang berubah, berkurang, hiatus atau bahkan berhenti menulis. Sedih… tapi yah setiap orang mempunyai masalah dan kesibukannya sendiri.

Tadinya aku mau menulis kaleidoskop TE selama 2010, sekaligus ikut acara KUMAT nya pakdhe, tapi aku batalkan. Secara garis besarnya saja selama tahun 2010, aku sudah menulis HANYA 168 tulisan jauh sekali dari 269 tulisan di tahun 2009. Menurun! Komentar? tidak tahu, karena aku tidak memakai plugin  yang bisa menjumlah komentar selama tahun, aku harus menghitung sendiri, dan itu sangat menghabiskan waktu. Jumlah komentar sejak April 2008 sejumlah 14.800. Pasti menurun lah. Blog ini juga Page Ranknya menurun dari 4 menjadi 3, dengan Alexa Rankingnya 148.687 (per hari ini). Semua performance TE menurun 🙁 🙁 🙁

Meskipun begitu aku tetap mengucapkan terima kasih pada semua yang membaca TE, baik yang meninggalkan komentar maupun yang silent reader. Semoga saja aku masih bersemangat untuk menulis di tahun yang akan datang, sehingga masih boleh disebut sebagai blogger. Tidak usahlah sebut aku sebagai Nara Blog, karena aku lebih senang disebut sebagai kakak, teman,sahabat, tante, bunda, sensei, syukur-syukur sahabat hati, daripada disebut sebagai Nara Blog. Percayalah, setiap nama yang tercantum sebagai komentator mempunyai tempat dalam hatiku. (Yang silent reader maaf ya aku tidak tahu kalian siapa sih….)

Maaf kalau tulisan kali ini ngalor ngidul, tidak ada hubungannya satu sama lain mungkin, dan aku putuskan untuk mengakhiri saja tulisan ini.

Kering

Ingin sekali aku membuat kue kering Nastar dan Kaastengels untuk Natal tahun ini, tapi mungkin nanti baru jadi sesudah Natal hehehe. Ntah kenapa akhir-akhir ini badanku cepat capek, sehingga harus tidur sebentar sebelum mulai kerja sesuatu lagi yang baru. Untung kuliah dan kursus bahasa Indonesianya sudah selesai untuk tahun ini, jadi sekarang aku bisa konsentrasi dengan pekerjaan di rumah.

Musim dingin berarti kering. Tingkat kelembabannya rendah sehingga udara kering, membuat kulitpun kering dan pecah-pecah. Body Lotion memang laku di musim dingin untuk tetap menjaga kelembaban kulit. Soalnya kalau tidak dijaga kelembabannya, maka kulit rentang terhadap luka. Kulit kering > gatal > garuk > luka. Belum lagi bagi ibu rumah tangga masih musti mencuci piring. Pakai air dingin, brrrr. Karena itu keran di dapur ada baiknya juga memakai heater. Tapi kulit kering yang kena heater itu jga cepat ledes, berbenturan dengan gelas, piring, tapes dan iritasi akibat sabun cuci. Susah deh emang kalau jadi ibu RT. Mau pakai lotion untuk tangan juga males, tidak enak rasanya mencuci piring jika tangannya pliket-pliket kan?

Tadi pagi aku mengantar Riku ke sekolah, karena dia sakit perut sudah sejak hari Minggu malam. Meskipun tidak begitu mengganggu, aku khawatir jika dia terkena Noro Virus, karena sekarang gastroenteritis atau gangguan pada usus sedang mewabah di TK dan SD. Untung saja menurut dokter, karena Riku kuat dia hanya merasa sakit saja, biasanya kalau parah disertai demam dan muntah-muntah.

Nah sambil menunggu obat di apotik aku menonton berita TV, tentang kebakaran yang banyak terjadi di musim dingin. Ada apartemen yang terbakar dan sumber api diduga dari pemantik api yang dimainkan anak-anaknya. Untung saja  satu keluarga itu selamat, dan yang terbakar hanya apartemen mereka saja. Memang akhir-akhir ini banyak kejadian kebakaran karena pemantik api + anak-anak. Soalnya pemantik api sekarang kan lucu-lucu bentuknya, dan juga banyak yang dijual murah. Murah berarti tidak begitu terkontrol mutunya. Awal tahun ini sempat heboh peristiwa terbakar dan meledaknya sebuah mobil karena pemantik api. Dua anak yang masih balita tewas dalam mobil itu, waktu ayahnya sedang keluar mebeli sesuatu….duhhhh… anak-anak yang jadi korban. Makanya bagi perokok hati-hatilah menaruh pemantik api, karena banyak anak yang tidak tahu bahwa itu berbahaya. Untung anakku sudah sejak awal aku beritahu, sehingga kadang mereka yang melapor padaku. Pisau dan pemantik api.

Macam-macam pemantik api...lucu-lucu kan. Tidak heran anak-anak ingin memainkannya

Sebetulnya sejak tahun 2006,  menurut Fire Defense Law, bangunan rumah baru harus memasang alat Peringatan Kebakaran 火災警報器 (kasai keihouki). Untuk bangunan lama harus memasangnya sampai dengan bulan Mei 2011. Gen sebetulnya sudah mau membeli dan memasangnya sendiri, tapi karena cukup mahal, satu alatnya sekitar 4/5000 yen, padahal harus pasang di seluruh kamar (berarti 4 kamar)…. lumayan mahal kan? Pengeluaran extra 20 ribu yen (2juta rp) untuk alat itu saja. Eh, rupanya untuk apartemen kami, karena kami sewa, pihak pengelolanya yang akan memasangnya. Jadi hari ini seluruh kamar apartemen kami sudah terpasang alat Peringatan Kebakaran. Untuk kamar tidur dan kamar tamu, alat itu akan mendeteksi jika ada asap. Sedangkan untuk dapur alat itu akan mendeteksi jika ada panas. Alat ini diharapkan dapat mencegah korban yang tidak tahu bahwa akan terjadi kebakaran. Alat ini bukan sprinkler seperti di gedung-gedung bertingkat atau hotel yang langsung menyemprotkan air. Hanya akan memberitahukan dengan suara bel dan “Terjadi kebakaran” (dalam bahasa Jepang…aku ingin tahu juga apakah ada yang berbahasa Indonesia ngga ya? hihihi)

Alat Peringatan Kebakaran yang wajib dipasang di setiap rumah di Jepang s/d Mei 2011. Alat ini dipasang di langit-langit setiap kamar.

Karena kering, berbagai hal yang merugikan bisa terjadi. Untuk ibu RT, satu yang plus adalah cepatnya baju-baju basah menjadi kering. Gantung baju di dalam ruangan, besoknya kering. Selain baju kering, ruangan menjadi sedikit lembab kan? Isseki nicho (peribahasa yang arti harafiahnya satu batu dua burung, dengan melempar satu batu bisa menangkap dua burung. Peribahasa Indonesianya mungkin sekali kayuh, dua pulau terlalui ya).

Mamanya belum membuat kue kering, Kai sudah! Pertama kali belajar membuat kue kering dengan Tantenya 19-12-2010

Beras Purba

Kali ini cuma mau posting pendek saja. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat “pembagian” beras seberat 90 gram dari guru penitipannya Kai. Katanya, “Waktu musim panas yang lalu, anak-anak pergi menanam padi, dan oleh pertanian itu kami dikirim hasil panennya sedikit. Jadi kami bagi-bagi sedikit-sedikit kepada semua anak. Silakan dicoba. ” (Kai waktu itu tidak ikut pergi menanam, tapi kebagian juga).

Kadang ingin tertawa juga ya mendapatkan “pembagian” seperti itu. Kalau cuma seuprit begitu, ngapain sih dibagi-bagi? Tapi aku tahu mereka tidak akan “mengantongi” pemberian-pemberian dari luar, semua dilakukan transparan. Jadi ada beras sedikit aja, dibagi kepada semua anak. Mungkin kalau lebih sedikit lagi akan dipakai, dimasak untuk makan siang anak-anak (Di penitipan ini, makan siang disediakan oleh seorang koki yang ahli gizi. Jadi soal kesehatan benar-benar diperhatikan. Kalau mau makan malam juga bisa, yang diberikan pukul 6 sore, seharga 500 yen….. muahal!)

Tapi, beras yang dibagikan itu adalah beras “langka”, yang aku baru tahu juga. Namanya Kodai-mai 古代米 (Kodai = purba, mai = beras). Weks masak beras purba sih? Yang pasti warnanya tidak putih! Bahkan boleh dikatakan berwarna-warni. Ada yang hijau, ada yang hitam seperti ketan hitam, ada putih kusam dll. Dan di bungkusannya tertuliskan cara memasaknya. Rupanya cukup 2-3 sendok saja untuk 2 omplong (aku selalu bilang omplong untuk gelas nasi yang 180 cc itu, bahasa Indonesianya apa ya? Karena setelah aku cari omplong itu bukan bahasa Indonesia loh) nasi putih. Jadi masaknya dicampur dengan nasi putih.

Beras Purba seberat 90 gram yang dibagikan di penitipannya Kai. Beras sehat nih...

Memang sekarang di Jepang banyak sekali jenis beras yang katanya menyehatkan. Ada beras yang bercampur gandum, ada beras hijau yang mengandung warna chlorophyl, lalu beras merah mengandung warna tannin, ada juga beras hitam mengandung warna anthocyanin. Terutama beras hitam banyak mengandung vitamin C, Mangan dan Zyncum. Tapi kenapa beras yang aku terima itu bernama Beras Purba?

Beras Purba berarti jenis beras yang dipanen sejak dulu kala atau bermutu seperti “beras liar” dari jaman dulu. Tentu saja bukan berarti bibitnya dari dulu kala, tapi memakai bibit yang bukan bibit varietas baru apalagi dari bibit beras dari luar negeri. Sehingga nama “Beras Purba” juga hanya merupakan “trade mark” saja.

Aku belum coba masak sih, karena ternyata cukup mendokusai (merepotkan) untuk menanaknya. 2-3 sendok itu harus dicuci 2 kali, lalu direndam sehari semalam, baru dicampur dengan beras biasa yang mau dimasak. Jadi kalau aku cuci sekarang baru bisa masaknya besok dong. Duh, bisa-bisa aku lupa deh hehehe. Katanya sih nasi yang dicampur beras Kodai mai ini akan terasa “kenyal” …  Nanti deh kami buktikan.

Bagaimana teman-teman, apakah memperhatikan kesehatan dengan memilih beras “sehat”? Aku ingat aku pernah bertandang ke rumah teman yang satu keluarganya dokter semua, dan dia juga selalu mendapat nilai 9/10 di SMA. Makannya nasi merah setiap hari euy…. makanya pintar ya? hehehe

Christmas Fantasy

Berfantasi waktu Natal? atau mungkin lebih tepat bernatalan di dunia fantasi. Christmas Fantasy adalah suatu program di Tokyo Disneyland yang berlangsung setiap menjelang Natal. Dan tahun ini dimulai tanggal 8 November  sampai 25 Desember 2010.

Kebetulan Gen mendapat bonus akhir tahun, jadi kami sepakat mengajak anak-anak ke Disneyland sebagai hadiah Natal. Dan setelah diatur-atur jadwalnya, kalau mau mengikuti Christmas Fantasy itu, harus pergi tanggal 12, karena minggu depannya tgl 19 Gen harus pergi ke Okinawa. Sedangkan tanggal 25 hari Natal sudah pasti harus ke gereja dong …. masak misa natal di Disneyland :D. Untuk bulan Desember ini Gen hanya libur hari Minggu dan minta cuti Sabtu tgl 25. Susah deh jadi orang Jepang hihihi.

Jadi Minggu pagi aku bangunkan semua jam 7 pagi (sedangkan aku sendiri sudah bangun dari jam 4! Ngga bisa tidur 🙁 …..)Sarapan, siap-siap dan akhirnya kita berangkat jam 9 pagi dari rumah. Mengambil jalan tol dalam kota Tokyo yang muacet, kami sempat melihat pembangunan Sky Tree yang sudah melampaui 500 m. (Mau tahu tentang Sky Tree silakan baca di Tuti Nonka’s Veranda ya).

Untung mobil kami memakai Car Navigation GPS sehingga bisa mengetahui kalau ada kemacetan, dan kami disarankan untuk turun dari Tol mengambil jalan tikus. Akhirnya kami sampai di parkiran Tokyo Disneyland (TDL) ini pukul 10 teng!. Cuma….. aduh parkirnya kan guede banget, jadi jauh deh untuk berjalan sampai pintu masuknya. Jaraknya 1 km sendiri. Jadi kami belok jalan kaki ke stasiun terdekat dan naik monorail Disney Resort yang gerbongnya berhiaskan Mickey Mouse. Dari jendela sampai pegangan tangannya mickey deh.

Sampai kami membeli karcis masuk TDL itu, Riku tidak menyadari bahwa kami mau bermain di TDL. Karena kami hanya berkata, ingin mampir pipis baru pergi ke toko boneka, bukan bermain di TDL. Jadi begitu kami masuk, dia bersorak kegirangan (well, dia tahu karcis masuk TDL itu mahal dan aku selalu bilang …”Ngga ada duit” hihihi) . Langsung dia bilang, “Mama…papa arigatou….”.  Sedangkan Kai? Dia langsung lari kian kemari dan begitu melihat si Donald Duck, dia langsung menghampiri dan menyentuhnya. Padahal sekelilingnya banyak orang yang berebut untuk berpotret bersama Donald. Untung saja si Kai ini cekatan, jadi tanpa menunggu lama langsung bisa berfoto bersama. Hebat deh! Soalnya dulu waktu Riku seusia Kai, dia takut sekali dengan boneka-boneka sebesar manusia ini. Nangis! hahaha.

Memang untuk berfoto dengan boneka yang “populer” seperti Winnie Pooh harus antri! Karena tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk berpotret dengan Pooh, kami langsung masuk ke gerbang TDL nya. Dan seperti biasa, kami bisa melihat pohon Natal besar di tengah-tengah World Bazaar (kompleks toko-toko souvenir deh). Jadi teringat dulu aku pernah siaran langsung di sini. Radio InterFM  mengudara dari booth khusus dengan world christmas, dan aku memasang lagu natal berbahasa Indonesia!

Di kejauhan terlihat Cinderella Castle sebagai latar. Benar-benar seperti berada di dunia fantasy yang bernuansa Natal. Dan saat ini aku juga teringat pada sahabat blogger Arman yang katanya akan pergi ke Disneyland bulan Desember ini. Ternyata kalau baca laporan dia, mereka pergi Jumat Sabtu, sedangkan aku hari Minggunya. Tempatnya memang lain sih hehehe.

Nomor satu yang kami buat apa? Tentu saja kami menolak rengekan anak-anak yang mau belanja. Belanja itu terakhir karena aku tidak mau nenteng-nenteng belanjaan ke mana-mana. Karena sang supir mau beli popcorn rasa caramel, jadi deh kami pergi mencari kios yang menjual popcorn itu dong. Dasar TDL, di mana-mana ngantri! Untuk beli popcorn aja musti antri. Jadi Gen antri untuk beli, sedangkan aku mencari tempat untuk duduk menonton parade yang rupanya akan dimulai sebentar lagi.

TDL kali ini menurutku istimewa untuk Kai. Karena dia sudah bisa mengerti tokoh-tokoh kartun yang ada, selain juga berbagai tindakan dia yang memang menunjukkan bahwa dia sudah “gede”! Antara lain, dia sudah bisa bersiul! Aku juga kaget kok dia memonyongkan bibirnya..ternyata sudah keluar lumayan siulannya. Aku tahunya juga dari Riku yang berkata, “Mama Kai hebat loh (dalam bahasa Indonesia)… Sudah bisa kuchibue (siul)”.

Kai juga enjoy sekali menonton parade dan menunjukkan kegembiraan dengan bertepuk tangan, sedangkan Riku ikut berdansa tangan mengikuti skaters yang menari. Memang di acara Disney Channel 365 (TV Cable) sering ditayangkan acara-acara yang berlangsung di TDL sehingga dia cukup “ahli” soal Disney hihihi.

Di parade siang hari ini kupikir hebatnya adalah bahwa semua penari bergoyang memakai sepatu roda. Demikian juga yang berada di atas mobil hias. Duh tanpa sepatu roda aja aku ngga bisa goyang, apalagi kalau pakai sepatu roda ya? Jatuh gubrak terus hahaha (Makanya kamu ngga bisa kerja di Disneyland mel! hihihi)

Setelah menonton parade, dan menerima popcorn yang dibeli papa Gen, kami menuju ke arah Toon Town melewati Cinderella Castle. Memang tahun ini kami tahu diri dan tidak mau maksa untuk mengejar naik atraksi yang ada. Masalahnya tidak semuanya bisa menerima Kai yang tinggi badannya belum 100 cm. Jadi kami harus mencari yang semua bisa naik. Salah satunya adalah Merry Go Round. Aduuuh seumur-umur aku datang ke TDL yang sudah tidak terhitung itu, belum pernah aku naik merry go round. Kemarin itu pertama kalinya deh. Dan kami berempat bisa enjoy, naik kuda kayu berputar-putar.

Setelah Merry Go Round, kami antri di Pinokio. Di tempat-tempat seperti Pinokio, Snow white antriannya tidak sepanjang tempat lain yang lebih besar. Cukup 35 menit saja. Kalau yang lain minimum 100 menit!!! Kebetulan aku baru saja membacakan cerita pinokio pada Kai, sehingga Kai mengerti jalan ceritanya. Meskipun di dalam atraksi itu kami harus melewati bagian-bagian yang gelap, dia tidak menangis. Hanya menyembunyikan kepala di kursi hahaha.

Dari tempat Pinokio itu, kami menuju Toon Town. Di sini kita seperti masuk dalam buku komik yang bercerita tentang tiga babi, Donald, Mickey dan Goofy. Dan di salah satu pojok ada tempat bermain khusus untuk balita. Yang membuat aku terbelalak di sini, meskipun tempat itu kelihatannya terbuat dari semen, tapi EMPUK! rupanya memakai bahan khusus yang membuat cushion pada tanah sehingga tidak sakit jika terantuk. Hebat deh!

Anak-anak tidak bosan bermain di sini, dan kami membeli makan siang di cafe Toon Town itu. Menunya memang sedikit dan porsinya kecil. Pizzanya berbentuk Mickey sedangkan kentangnya juga sedikit. Emang cocok buat anak-anak :D. Papanya harus sabar dengan mengganjal perut saja.

Puas bermain dan makan di Toon Town, kami bergerak lagi dan melewati racing car (dari Eneos kalau tidak salah). Riku ingin sekali ikut di sini. Aku juga baru pertama kali menaiki racing car di sini, dan kupikir ada batas umur/tinggi, ternyata no problem. Jadi deh Riku dengan aku (aku biarkan Riku yang pegang setir) dan Kai dengan papanya (tentu saja Kai yang pegang setir). Waaah si Kai seneng sekali karena bisa menyetir! hahaha. Begini deh kalau punya dua anak laki-laki hehehe.

Nah jam 4 sudah mulai capek deh, sebelum pulang ingin jalan-jalan di kawasan Western. Riku ingin naik Jungle Cruise, dan kebetulan antriannya “hanya” 25 menit! Yes… langsung deh antri di sini. Tapi tiba-tiba Gen teringat kejadian 2 tahun yang lalu. Persis di tempat ini Riku muntah! Untung waktu itu aku cepat mengeluarkan plastik, sehingga tidak mengotori tempat itu. Jadi kami siap-siap kalau-kalau kejadian itu terulang. Untung saja sampai naik kapal tidak ada kejadian. Kejadiannya sesudah turun dari kapal hahaha. Riku ini memang dari bayi sering muntah, jadi aku selalu siap membawa plastik dalam tas 🙂

Nah, sesudah itu mau kemana lagi? Bener-bener deh Disneyland kali ini kami santai sekali dan tidak mau terburu-buru. Tapi untuk pulang rasanya juga sayang, karena jam 4:30 sudah gelap. Sayang rasanya kalau tidak melihat parade lampu Dream Light, yang jadwalnya pukul 7:30. Tapi untuk jalan dan antri lagi aku sudah tidak sanggup. Punggungku memang akhir-akhir ini sakit yang cukup mengganggu kegiatan. (Tapi gendong ransel jalan terus, ngga ada porter sih di sini hihihi)

Jadi untuk “killing time”, kami memutuskan untuk makan malam. Weleh makan kok killing time ya? Soalnya aku ingin sekali masuk sebuah restoran yang bernama Crystal Palace. Ingin lihat dalamnya bagaimana. Ternyata restoran itu buffet style, 90 menit dan cukup mahal 2500 yen untuk dewasa, all you can eat selama 90 menit. Hmmm masih murah sih menurutku untuk ukuran TDL (mahal menurut Gen karena dia bilang toh kita tidak bisa makan sebanyak itu….. dan memang benar juga). Tapiiiii untuk bisa masuk restoran itu kami harus antri 80 menit. Ketawa dulu ahhhh. So, orang Indonesia kalian kalau ke sini harus belajar antri dan sabar yah 😀

Jadilah kami masuk restoran itu dan makan sampai acara parade lampu dimulai…rencananya. Ternyata di dalam restoran itu puanasss sekali heaternya sehingga membuat kami mual dan Riku ngantuk. Bahaya deh kalau Riku sudah tidur. Suliiiiit sekali untuk ngebanguninnya. Jadi kami memutuskan untuk keluar setelah 60 menit berada di dalam restoran itu. (Lamaan antrinya kan hihihi).

Begitu keluar restoran, Riku dan Kai langsung masuk ke dalam barisan orang yang berdiri untuk menonton parade lampu. Dan aku berdiri di belakang anak-anak, cukup pas tempatnya karena bisa mengambil beberapa foto dengan kamera digital seadanya… (seandainya ada DLSR yah hihihi) . Electrical Parade itu memang indah! Meskipun sambil menonton begitu aku juga berpikir seberapa banyak listrik yang dipakai untuk ini ya? Tapi memang kami juga membayar mahal untuk hiburan ini. Seimbanglah.

Selesai menonton parade, kami bergerak ke arah gerbang untuk belanja dan pulang. Masih sempat juga menonton Kembang Api yang diluncurkan dari belakang Cinderella Castle. Sayang posisi kami tidak bagus untuk membuat foto. Kembang Api ini juga pertama bagi Kai, dia otomatis bertepuk tangan dan berteriak “Sugoi….(hebat)”.

Kami keluar dari parkir sudah jam 9 malam, dan macet! Anak-anak tidur kecapekan dan aku juga ikut tertidur setelah tanya Gen dia ngantuk apa tidak. Kalau dia jawab ngantuk ya aku harus melek dan ajak ngobrol supaya dia tidak tertidur. Tapi begitu dia jawab, “tidur aja…” Ya aku bobo deh di mobil. (Bobo di mobil itu nikmat loh hihihi) Sambil aku janji dalam hati, besok pagi aku antar kamu ke kantor deh…gantian 😀

Meskipun capai tapi tanggal 12-12 itu kami lewati dengan menyenangkan. Next kapan lagi bisa ke sini ya? Jika Kai sudah lebih besar, lebih kuat dan lebih mengerti pasti kami yang tergopoh-gopoh mengikuti kecepatan kaki anak-anak deh hihihi. Kali ini pun Kai berjalan terus, tanpa minta gendong, padahal cukup berat untuk seorang anak usia 3,5 tahun.

Rindu

Ah, tidak biasanya aku malas begini untuk menulis. Memang benar aku hanya punya sedikit waktu  senggang untuk duduk tenang menulis karena justru di akhir pekan mulai Kamis sampai Senin aku sibuk kerja juga di luar. Tapi dulu biasanya masih bisa menemukan celah-celah waktu untuk menulis di TE. Mau tau sebabnya?

Rindu! Homesick! Satu kata itu saja bisa membuat hidupku jungkir balik. Semakin tua semakin merasakan betapa persahabatan dan persaudaraan itu penting sekali. Karena kita tidak tahu apakah besok masih bisa bertemu atau tidak…..

Sewaktu masih single, aku memang selalu sibuk. Sibuk bekerja….dan sibuk bermain. Yang teringat hanya dua kali aku menangis sesegukan, waktu hari ulang tahun pernikahan mama-papa yang ke 25, aku tak bisa hadir. Yang kedua waktu ulang tahun pertama kali di Jepang. Sesudah itu… biasa saja. Rindu memang, tapi masih bisa ditahan. Karena aku masih bisa bermain di luar dengan teman-teman. Tapi sekarang? Kondisinya sudah berbeda. Rasa rindu itu tidak bisa ditahan lagi…. Sampai hampir panik  🙁

Sampai aku menuliskan ini sebagai status di FB ku:

Menguatkan hati setiap memutar CD Natal… Karena setiap lagu selalu membuatku menangis rindu kalian. Seisi rumah jkt.  Cos I (wont) be home for christmas…..

Memang aku menghindari memasang lagu Natal. Karena setiap lagu yang mengalun membuatku menangis. Sesudah 18 tahun di Jepang, baru saat ini kerinduan mencapai puncaknya. Atau…karena sudah terlalu lama?  Dan sudah menua?

Waktu masih belajar sebagai mahasiswa, aku tidak merasa rindu, karena mempunyai tugas belajar. Tidak ada waktu untuk duduk diam, dan memikirkan kenangan-kenangan. Tapi sekarang setelah berkeluarga, setiap tindakan yang kulakukan dengan anak-anak, mengingatkanku pada masa kecil, membandingkan perbuatanku dengan perbuatan mama/orang tua terhadapku. Dan tak henti-hentinya berpikir, “Mereka hebat…bisa membesarkan kami sampai sekarang. Apakah aku bisa seperti mereka dan membesarkan Riku dan Kai tanpa kekurangan apa-apa…seperti dulu aku?”

Dan sebagai komentar dari tulisanku di FB itu, aku mendapat banyak dukungan dari teman-teman…. dan adik-adikku.

FNC : Missing you too dear….Kita sering2 skype aja ya…? Riku sama Kai baik2 aja khan? Kebayang deh si Riku yang perasa.. pasti juga kangen sama Opa..
Hugging you all…

LMC : Mel, peluk ciumnya titip gw aja. Tinggal bilang mau brapa lama. 🙂
Nanti pinjem komputernya Novi deh buat skype-an pake video-cam. OK? Ato malah jadi tambah kangen?…. (she knows the answer… I’ll be more homesick! tambah kangen)

Dan yang membuatku tambah menangis adalah tulisan dari papaku. Dia jarang buka FB, tapi karena aku memang tag ke dia, dia buka FB dan menulis seperti ini:

Paul Coutrier : Kalau bicara rindu sih, kami selalu rindu pada anak-anak dan cucu-cucu. Bahkan akan mereka yang ada di Indonesia. Tapi itulah SALAH SATU bumbu untuk tetap menyayangi kalian semua.  Sama saja waktu kalian kecil dan di rumah, sering bertengkar, tapi begitu pergi saling mencari. Sekali lagi RINDU itu pendorong untuk saling menyayangi dan mendorong kita untuk saling mendoakan. Keluargamu sekarang sama pentingnya dengan orang tua dan teman-teman lama di Jakarta. Lagi pula teman-teman itu juga sudah menjadi lebih berumur dengan tanggung jawab keluarga khas masing-masing, mungkin tidak ada waktu lagi seperti waktu di sekolah. HOME IS WHERE YOUR HEART IS. Rajin-rajin tabung aja lagi supaya bisa berlibur sekeluarga ke Jakarta.

Saya pernah rindu akan teman-teman sekolah saya di Makasar karena keakraban kami dahulu. Maka waktu berkesempatan “pulang” saya coba cari mereka. Ternyata semua sudah jadi Opa-opa dan Oma-oma yang sibuk sendiri dengan perjuangan hidupnya. Hidup itu tumbuh dan berkembang. God wants us to enjoy and rejoice.

Ya, meskipun sulit untuk bergembira dalam keadaan homesick begini, aku akan terus berusaha menikmatinya. To Enjoy and Rejoice seperti kata papa. Terima kasih ya papa… untuk nasehat itu.

Semoga teman-teman yang sedang merindu juga bisa menikmati hidup ini dan bergembira.

Sambil terisak aku tetap bernyanyi:

I’m dreaming tonight of a place I love
Even more than I usually do
And although I know
It’s a long road back
I promise you…

I’ll be home for Christmas
You can count on me
Please have snow and mistletoe
And presents under the tree

Christmas eve will find me
Where the love light gleams
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams

Christmas eve will find me
Where the love light gleams
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams