Kotobuki

Dua hari yang lalu aku menonton program televisi Piramekino dari TV Tokyo, sebuah acara anak-anak yang ummm sedikit dewasa (dan ramai) daripada program NHK misalnya. Akhir-akhir ini Riku tergila-gila dengan acara ini, karena acara ini memang lebih bervariasi, penuh dengan istilah bahasa Jepang yang aneh-aneh, dan meskipun “cuma 30 menit” padat sampai ada ramalan bintang untuk anak-anak segala. Ramalannya sih agak-agak deh, termasuk cara pdkt dengan cowo/cewe kesukaan. (Mau bilang jangan percaya! pada Riku juga ngga tega)

Nah, yang menarik perhatianku dari acara dua hari yang lalu itu adalah sebuah acara kuis yang diikuti oleh 2 pasang kakek+cucu. Kuisnya adalah tentang menebak tokoh/karakter yang sering muncul di televisi. Aduuuh aku pasti angkat tangan deh kalau disuruh menebak nama-nama karakter hanya dengan gambar saja. Jepang kaya dengan karakter anak-anak (dewasa juga sih) sehingga yang bukan “anak televisi – terebikko テレビっ子” (I hate television actually)  pasti tidak akan bisa hafal.

Ok deh aku tahu Thomas karakter kereta api biru, tapi jangan tanya aku nama teman-temannya ya!

thomas dan teman-temannya

Aku tahu Naruto juga, tapi jangan tanya selain sakura dan sasuke kepadaku deh.

Naruto dkk

Aku tahu Peko-chan, karakternya restoran/bakery Fujiya, tapi jangan tanya temennya peko-chan yang laki-laki namanya siapa.

maskot perusahaan Fujiya (restoran/bakery) , gadis bernama pekochan. Peko-peko dalam bahasa jepang berarti lapaaaaarrrr.

Dan satu lagi aku cuma tahu Satoshi dan Pikachu, dari Pokemon (Pocket Monster) yang monsternya bejibun gitu. (Bener-bener nguras dompet orang tua tuh karakter seri Pokemon). (Yang herannya anak-anak hafal semua tuh puluhan karakter yang ada, tapi kalau disuruh hafal pelajaran …..tunggu dulu ya Mah!)

Pikachu dan.... hmmm hmmm hmmm pochama, hikozaru dll dll( gambar diambil dr takaratomy-arts.co.jp)

Tapiiiii itu dua kakek yang tampil pada acara kuis itu (satu berusia 67 tahun dan satunya 74 tahun) tahu hampir 90% nama karakter yang ditanyakan. HEBAT! SASUGA さすが!SUGOI すごい!Dan mereka berdua TIDAK diberi tahu oleh cucunya loh. Cucu di situ hanya sebagai suporter mereka saja.

Yah dengan melihat acara itu aku bisa mengetahui salah satu sisi kehidupan lansia di Jepang. Kakek-kakek ini “berfungsi” sebagai teman menonton TV para cucunya. Sesudah pulang sekolah pukul 3 sampai dengan waktu makan malam pukul 6-7 malam, Sang Kakek dan Cucu berdua atau berbanyak akan duduk bersama di depan televisi dan menonton acara anak-anak itu. Si nenek mungkin sedang berbelanja atau menyiapkan makan malam di dapur, sementara ayah dan ibu bekerja di luar rumah. Karena itu kakek juga mungkin orang pertama yang merasa sedih waktu cucu-cucu itu beranjak dewasa, lulus SD dan tidak memerlukan teman menonton TV lagi 🙁

Kakek-kakek ini pensiun bekerja umur 60 tahun. Biasanya sampai usia 70 tahun, mereka masih bisa bekerja sebagai OB di kantornya yang lama, atau bisa juga mendaftar sebagai pekerja sukarela di kantor pemerintah daerah atau organisasi sosial lainnya. Bayangkan jika mereka hidup misalnya sampai 80 tahun sesuai dengan survey usia rata-rata pria Jepang 79, 59 (wanita 86,44 tahun), berarti masih ada 20 tahun waktu setelah pensiun. Apalgi kalau bisa hidup sampai 100 tahun? Bagaimana melewatkan waktu 40 tahun itu sampai dipanggil Tuhan?

Bapakku sekarang 72 tahun dan menurutku dia bahkan lebih sibuk daripada sebelum pensiun dan masih bekerja. Meskipun memang dia selalu berkata, “Aku kan pengacara, pengangguran banyak acara!”. Tapi yang pasti cucu-cucu di rumah kami di Jakarta akan kehilangan “supir pribadi”, jika opanya ada janji/seminar/kerja lain sehingga tidak bisa antar jemput ke sekolah. Bahkan aku cukup tersentak waktu mengetahui opa dan oma yang sering mengantar cucu-cucu itu ke Unit Gawat Darurat jika sang cucu mengalami kecelakaan kecil atau sakit. (Seandainya mereka ada di Jepang juga untuk bantu aku….. hehehe)

Betapa dukungan kakek/nenek sebetulnya dibutuhkan oleh keluarga modern saat ini di Jakarta atau kota besar lainnya. Begitu pula di Jepang, sampai-sampai menjadi trend untuk mempunyai rumah nisetai 二世帯住宅 rumah 2 keluarga, yaitu keluarga si kakek/nenek menempati lantai bawah, dan keluarga ayah-ibu-anak menempati lantai atas, atau kebalikannya. Tapi, sekali lagi, itu berlaku untuk mereka yang tinggal di kota yang sama.Kenyataannya masih banyak orang tua yang tinggal sendiri di masa tuanya.

Hari ini tanggal 20 September 2010 adalah hari peringatan di Jepang untuk penghormatan kepada lansia, keiro no hi 敬老の日. Biasanya pemerintah daerah akan mengirimkan hadiah sederhana dengan tulisan KOTOBUKI 寿 (umur panjang) kepada para lansia yang tinggal di daerahnya. Pemerintah juga akan mengumumkan usia rata-rata warganya, selain melaporkan kondisi kehidupan para lansia yang menurut data sejumlah 23,1%  dari seluruh jumlah penduduk Jepang(data 15 Sept 2010). Masyarakat Jepang semakin tua. Sekarang yang muda-muda menghormati yang tua, akankah kelak tak ada lagi yang muda yang seharusnya menghormati ya tua sehingga arti dari “hari penghormatan kepada lansia” menjadi rancu (karena semua masyarakatnya sudah tua)?

Yang sekarang menjadi pe-er adalah bagaimana menjadi lansia yang sehat dan tidak perlu menjadi beban keluarga dan masyarakat. Aku tetap kagum pada almarhum nenek Miyashita yang meninggal pada usia 90 tahun, karena serangan jantung, dan sampai detik terakhir masih hidup sendiri, masak sendiri, jalan sendiri, tanpa perlu bantuan untuk semua yang bisa dikerjakan sendiri. Meskipun kami tidak pernah membiarkan nenek pergi keluar sendirian.  Memang kotobuki, umur panjang menjadi ciri masyarakat sejahtera, meskipun sering dipertanyakan sampai umur berapa sebaiknya manusia hidup. Ya tentu saja kita harus menyerahkan jawaban ini kepada yang Empunya Hidup, bukan?

Seorang lansia di Hongkong, pasti didampingi seseorang. Kalau di Jepang dia akan berjalan sendiri! Kalau di Indonesia? Tidak keluar rumah ..... mungkin 🙂

Dan menurut berita siang ini jumlah lansia Jepang yang berusia di atas 100 tahun sejumlah 44.490 orang!!!! (Dan dijawab Gen mungkin 40.000 itu sudah tidak diketahui keberadaannya ….. masalah yang sekarang dihadapi Jepang yaitu bahwa banyak lansia yang tidak diketahui keberadaannya, entah meninggal tanpa diketahui atau kematiannya tidak dilaporkan, padahal mereka masih terus mendapat tunjangan dari pemerintah)