Arsip Bulanan: Agustus 2010

Kupu-kupu Nasional

Jika ditanya apa bunga negara (bunga nasional) Indonesia? Banyak yang akan menjawab: Melati. Tapi mungkin ada yang menjawab : Anggrek. Dan ini tidak salah, karena memang ternyata Indonesia mempunyai 3 bunga yang ditetapkan menjadi bunga Nasional yaitu bunga Melati Putih (Jasminum Sambac) sebagai puspa bangsa, bunga Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona dan bunga padma raksasa (Raflessia Arnoldii) sebagai puspa langka. (sumber : wikipedia)

Nah, kalau di Jepang selain bunga nasional yaitu Sakura dan Seruni, ada pula penetapan Kupu-kupu Nasional yaitu dari jenis Oomurasaki (nama jepangnya) atau nama Latinnya Sasakia Charonda, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “great purple emperor“. Kupu-kupu jenis ini ditetapkan menjadi kupu-kupu nasional tahun 1956 oleh Asosiasi Serangga Jepang (日本昆虫学会).

Kupu-kupu nasional Jepang: Oomurasaki, dari website daerah Hokuto

Bingung juga mungkin orang Indonesia kalau ditanya Kupu-kupu Nasionalnya apa, karena konon dari 17.500 jenis kupu-kupu yang ada di dunia, 1600 jenis ada di Indonesia, yang merupakan negara nomor dua terbanyak jenis kupu-kupunya setelah Brazil. Bagaimana kupu-kupu Jepang? Di Jepang hanya ada 240 jenis dan 28% di antaranya dalam bahaya kepunahan.(Karena sedikit itu maka masih bisa ditentukan yang mana yang kupu-kupu nasional? ntahlah)

Kupu-kupu Oomurasaki ini memang masuk ke dalam kategori NT yaitu sekarang masih belum termasuk dalam tahap kepunahan tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda pengurangan. Jadi sebetulnya kupu-kupu ini masih bisa kita lihat beterbangan di bukit-bukit sekitar Tokyo juga. Tapi hari minggu tanggal 29 Agustus yang lalu, kami pergi ke Nagasaka, kota tempat yang mempunyai Center untuk Kupu-kupu Oomurasaki. Kota ini terkenal sebagai habitat terbanyak dari kupu-kupu jenis ini di Jepang, sehingga didirikanlah Center di sini.

Gen yang memang “ahli” serangga (bukan ahli secara akademis, tapi memang suka saja) ingin mengajak Riku untuk melihat center ini yang terletak di prefektur Yamanashi. Diapit oleh pegunungan South Alpen, dan dataran tinggi Yatsugatake daerah ini memang masih sejuk dan asri. Tapi memang cukup jauh dari Tokyo, yaitu sekitar 110 km melewati jalan tol. Kami berangkat pukul 7 pagi dan sekitar pukul 9 kami singgah di Parking Area (PA) Shakado untuk beristirahat. Meskipun pagi hari jalan tol ini sudah padat dengan kendaraan. Hari Minggu itu merupakan hari minggu terakhir dari liburan musim panas, dan setiap hari sabtu/minggu pengguna jalan tol diberi keringanan membayar 1000 yen jauh dekat. Jadi sudah pasti macet di mana-mana. (pulangnya kami terjebak macet sampai 4 jam di jalan tol …hiks)

mist, semburan embun yang bisa mendinginkan suhu dan menyegarkan

Nah yang menarik di PA ini adalah adanya awning yang diberi semburan embun (mist). Mist ini dipercaya dapat menurunkan suhu udara, dan memberikan kesegaran alami. Memang waktu itu belum terlalu panas, tapi berdiri di bawah mist ini membuat badan menjadi segar kembali. Pemandangan yang hanya bisa dilihat waktu musim panas.

Tak lama kami sampai di Oomurasaki Center and Nature Park. Masuk ke dalam gedung, terdapat maket hutan di sekitar kota Nagasaka, lengkap dnegan binatang dan tumbuhan yang terdapat di situ. Selain itu ada berbagai koleksi kupu-kupu kering dari seluruh dunia dan ruang pemutaran video mengenai siklus kehidupan kupu-kupu Oomurasaki.

bisa melihat kepakan sayap kupu-kupu oomurasaki dengan model ini, sementara di sekelilingnya terdapat kupu-kupu kering dari seluruh dunia.

Di gedung sesudahnya terdapat koleksi kumbang dari berbagai belahan dunia, termasuk kumbang dari Jawa. Hiiii ngeri deh, besar sekali. Di sini juga ada pemutaran film, ada permainan-permainan yang berhubungan dengan serangga, dan kayu. Jadi bagian ini lebih pakai “meraba” daripada “melihat”.

Gedung paling dalam, seperti kandang, hutan kecil untuk mengembangbiakkan kupu-kupu

Keluar dari gedung ini,kami memasuki “kandang” besar berisi pepohonan, yang merupakan hutan kecil untuk pengembang-biakan kupu-kupu. Nah, sayangnya kami tidak bertemu dengan kupu-kupu Oomurasaki, karena salah waktu. Waktu melihat kupu-kupu seharusnya bulan Juli awal. Sekarang mereka sedang bertelur dan menjadi ulat, yang kemudian akan menetasnya Juli tahun depannya lagi. Memang siklusnya begitu, karena Jepang negara 4 musim. Kupu-kupu tidak tahan jika harus terbang dalam dingin kan? hehehe

Tapi di antara pohon-pohon enoki yang ada dalam taman ini, kami bisa menemukan beberapa telur yang sudah berubah menjadi ulat kecil di ujung-ujung daunnya. Mata Riku memang tajam, aku mungkin tidak bisa menemukan ulat itu karena warnanya sama dengan daun enoki.

ulat calon kupu-kupu oomurasaki, yang ditemukan Riku di ujung daun enoki.

Meskipun tidak bertemu dengan Oomurasaki, kami masih bisa melihat beberapa jenis kupu-kupu lain yaitu kupu-kupu hitam Kuroageha, dan kupu-kupu kecil kuning kichou yang memang banyak dijumpai di taman-taman Tokyo juga.

Kupu-kupu hitam, kuroageha, masih banyak dijumpai di Jepang. Hasil bidikan aku loh....susyah bidiknya, terbang mulu soalnya.

Yah, memang kami harus kembali lagi datang ke sini tahun depan. Karena belum bertemu langsung dengan kupu-kupu nasional Jepang. Sebagai kenang-kenangan aku mengirimkan kartu pos berbentuk kupu-kupu Oomurasaki untuk Riku dan Kai, yang jika dikirim dari Center itu akan mendapatkan cap khusus berbentuk kupu-kupu.

Kartupos berbentuk kupu-kupu yang kukirim dari center

Sebelum pergi dari tempat itu kami menyempatkan diri mengelilingi taman yang ada, dan melihat berbagai serangga di kolam teratai serta rumah pohon “tree house”.

kupu kupu yang lucu
kemana engkau terbang
hilir mudik mencari
bunga bunga yang kembang

berayun-ayun
pada tangkai yang lemah
tidakkah sayapmu
merasa lelah


kupu kupu yang elok
bolehkah saya serta
mencium bunga-bunga
yang semerbak baunya

sambil bersenda-senda
semua kuhampiri
bolehkah kuturut
bersama pergi

(ciptaan: Ibu Sud)

Me-layang-layang

Kuambil buluh sebatang
kupotong sama panjang
kuraut dan kutimbang dengan benang
kujadikan layang-layang

bermain….berlari…….
bermain layang-layang
bermain kubawa ke tanah lapang
hati gembira dan riang

Lukisan anak bermain layang-layang di museum layang-layang

Masih ingat lagu ini? Terus terang aku lupa! Nah, pas aku cari-cari di google dengan kata acuan “layang-layang”, keluarlah lagu ini di Youtube. Pas aku dengar…well,…. aku tahu kok lagu ini. Cuma memang jarang masuk repertoire untuk dinyanyikan seperti “desaku” atau “kasih ibu”.

Nah, mudik kami memang rasanya seperti antiklimaks. Sejak pergi ke TL, RD, dan kopdar tgl 2, rasanya tidak ada kegiatan besar yang kami lakukan. Untung saja waktu aku bercakap-cakap dengan kakak kelas di SMA, Retty dia mengajak aku pergi ke museum layang-layang. Wehhh ada ya museum layang-layang di Jakarta? Akhirnya kami janjian untuk pergi ke sana tgl 14 Agustus 2010.

rombongan di depan pintu masuk

Kami, Retty dengan 3 anak, Aku dengan 2 anak dan Krismariana sampai di museum layang-layang ini sekitar pukul 11 siang. Harga tanda masuk di sini seorang Rp 10.000 yang sudah termasuk dengan pembuatan layang-layang. Tapi di sini juga bisa membuat keramik dan melukis T-Shirt yang masing-masing biayanya Rp. 50.000.

Mereka bicara apa ya?

Nah, sebelum masuk museum kami diantar masuk ruangan untuk menonton video mengenai layang-layang. Videonya dilengkapi subscript, tapi terus terang saja, saya tidak tonton. Lebih asyik menonton anak-anak yang bermain dalam ruangan itu. Retty membawa 3 anaknya, yang paling tua Ray dan si kembar Sisco dan Rafael. Nah si Sisco dan Rafael itu bener-bener “kakak” yang baik untuk Kai. Mereka mau aja dijadikan kuda-kudaan oleh Kai, dan yang lucu jika melihat mereka “bercakap-cakap”. Ah…anak-anak memnag tidak perlu bahasa tertentu untuk bisa berinteraksi. Mereka benar-benar anak yang baik (well, pada dasarnya semua anak dilahirkan baik kan?).

Itu video ngga dilihat lagi deh....

Setelah selesai menonton kami menuju ke halaman belakang. Benar-benar asri tempat ini. Museum layang-layangnya sendiri terletak di gedung paling belakang, dengan pendopo yang secara keseluruhan kecil tapi cukuplah jika mengingat tempat ini dikelola pribadi (bukan pemerintah…dan lebih baik jangan diserahkan pemerintah deh hehehe). Ibu Endang W. Puspoyo yang mendirikan tempat ini tahun 2003.

dalam museum layang-layang

Kami dipandu oleh mbak staff yang menjelaskan tentang layang-layang yang ada di dalam ruangan. Ada layang-layang yang terbuat dari kantong plastik kresek, ada yang dari daun ubi, dari tikar atau kreasi lainnya. Ada juga perwakilan dari propinsi, seperti dari Kalimantan Selatan yang memang besar-besar. Dan baru di sini aku mengetahui, bahwa di setiap ujung layang-layang itu terpasang semacam suling, dari bambu atau kayu, yang akan berbunyi jika terkena angin.

Tentu saja ada layang-layang dari manca negara juga, termasuk dari Jepang dan Cina, yang sejarahnya lebih tua daripada layang-layang Indonesia. Di meja hias yang terletak di tengah ruangan terdapat berbagai pernik mengenai layang-layang, termasuk perangko khusus layang-layang. Aduh aku ngiler sama perangkonya deh. Dan kelihatannya aku menemukan lagi teman satu hobby, karena Retty juga ternyata pengumpul perangko. Sayang kita belum sempat bercakap-cakap banyak mengenai perangko, karena kami juga harus mengawasi anak-anak yang berjumlah 5 orang, laki-laki lagi…. “Awas jangan pegang itu…” “Hati-hati…nanti rusak”…. dsb dsb.

Layang-layang berbentuk maket bangunan museum

Kadang aku juga membayangkan jika aku menjadi anak yang selalu dilarang ini itu oleh orang tuanya. “Jangan pegang…nanti rusak!” Padahal, aku (sebagai anak) juga tidak mau kok merusak barang. Kenapa kok tidak ada kepercayaan bahwa aku tidak akan merusak ya? Kenapa ini itu tidak boleh? Padahal aku ingin tahu banyak tentang hal itu. Hmmmm di Jepang mungkin wadahnya sudah ada. Karena seandainya pun rusak, tidak apa-apa. Museum di Jepang sudah melengkapi barang-barang pamerannya yang antik-antik dengan “pelindung” sehingga kemungkinan untuk rusak sedikit. Anak-anak boleh memegang sarana yang memang khusus disediakan untuk dipegang, dicoret, dicoba tanpa perlu takut rusak. Menyediakan khusus untuk anak-anak itu yang mungkin negara kita belum bisa, karena memang butuh dana yang tidak sedikit. (Boro-boro untuk anak-anak mel….menyediakan museum yang layak saja sepertinya susaaaah sekali hihihi).

Membuat layang-layang di pendopo

Aku tahu anak-anak cepat bosan, karenanya kami cepat-cepat mengakhiri kunjungan kami dalam ruangan museum, dan keluar ke pendopo. Di pendopo sudah tersedia kayu panjang sebagai alas untuk membuat layang-layang. Karena ada 5 anak-anak disediakan 4 bahan untuk membuat layang-layang, dan untuk Kai yang masih kecil, disediakan kertas yang bisa diberi warna dan dijadikan layang-layang oleh staf museum.

Berfoto bersama Nenny sekeluarga (eh Mas Totok tidak masuk karena dia yang motret)

Dan di pendopo ini aku bisa bersua dengan teman blogger lama, Nenny Dewi Rhainy yang khusus datang jauh-jauh dari Tangerang ke Pondok Labu ini untuk menemuiku, bahkan mereka sebetulnya duluan sampainya ke museum ini. Jadilah kami bercerita-cerita di pendopo, karena abang Shafa dan Audri-chan sudah selesai membuat layang-layang mereka. Kami bertukar kabar setelah 1,5 tahun tak bertemu,  yaitu sejak kopdar di Omah Sendok. Senang sekali rasanya bertemu teman lama. Meskipun kadang-kadang kami masih saling menyapa lewat YM atau FB, tapi namanya ibu rumah tangga kan selalu ada saja yang harus dikerjain, harus dipikirin…. terutama mikirin keluarga tentunya ya Nenny…hihihi.

Aku dan Nenny, setelah 1,5 tahun

Karena Mas Totok, suami Nenny ada urusan jam 2, dan Nenny sendiri ada janji ke dokter jam 3, jadi pukul 12 kami berpisah. Pertemuan yang singkat tapi menyenangkan. Terima kasih banyak ya Nenny…. ditunggu loh tulisan-tulisannya lagi kalau sudah bisa menulis lagi.

Setelah anak-anak menyelesaikan layang-layang mereka, mereka mencoba menerbangkannya di halaman museum yang cukup luas, meskipun tidak bisa tinggi-tinggi. Sementara itu aku, Retty dan Krismariana menjenguk bangunan di tengah-tengah kompleks yang sepertinya dulunya merupakan rumah kediaman Ibu Endang. Hmmm….ngeri juga tinggal di situ ya, meskipun tampaknya adem meskipun tanpa AC. Banyak koleksi antik dan kain-kain yang dipajang di situ.

tersedia 5 bungkahan tanah liat untuk anak-anak

Kemudian anak-anak dipanggil oleh staf ke tempat terbuka seperti kantin, yang khusus dipakai untuk membuat keramik. Di atas meja sudah tersedia 5 bungkahan tanah liat untuk dibentuk. Karena Kai masih terlalu kecil, jadilah mamanya yang memakai bungkahan tanah liatnya Kai. Dan…aku senang sekali, karena memang aku ingin sekali belajar membuat keramik. Nanti jika Kai sudah sekolah, aku mau mencoba masuk kelas keramik, atau kelas Taiko (genderang Jepang) atau kelas caligrafi… atau fotografi,  nah nah nah…ketahuan deh my wishlist yang seabreg-abreg itu (dan tampaknya nanti akan berakhir di depan komputer juga hehehe).

riku melirik ke gurunya yang sedang bantu si kembar. Dia mencoba berkreasi membuat macam-macam bentuk.

Kami disuruh membuat sebuah jambangan bunga yang sudah ada contohnya, tinggal membuat serupa dengan contoh. Kami menyambung bagian-bagian dengan lem tanah liat karena tanpa lem itu bagian-bagian itu bisa berantakan waktu dibakar. Riku tentu saja menciptakan banyak bentuk-bentuk baru seperti gajah, boneka salju dan manusia dengan bungkahan tanah liat jatahnya. Dia sudah biasa main lilin di sekolahnya sih. Dan aku merasa bodoh tidak sempat membuat foto hasil karyanya sebelum dibakar. Lupa!


Sebetulnya setelah membuat keramik ini kami lebih baik pulang, karena anak-anak belum makan siang. Tapi karena Riku ingin seklai membuat T-Shirt, jadi aku biarkan mereka melukis T-shirt cepat-cepat. Tadinya kupikir T-Shirtnya kosong melompong, dan anak-anak bisa melukis apa saja. Ternyata sudah ada gambar dan tulisannya, tinggal mewarnai saja. Hehehe…semestinya judulnya bukan melukis T-Shirt, tapi mewarnai T-Shirt.

Kai melukis T-Shirtnya sendiri

Nah, di sini Kai tetap mau melukis T-Shirt bagiannya. Tentu saja semaunya dia hehehe. Jadi setelah dia puas membuat “totol-totol” di kaosnya, aku yang melanjutkan memperbaiki dan menulis nama Kai dengan Kanji. Riku? Riku sih selalu tegas dan pede dalam mewarnai. Dia punya pilihan warna tertentu yang lain dari yang lain. Menurut ibu mertuaku, warna pilihan Riku adalah “warna riang”.

Jam setengah tiga, 5 anak kelaparan dan 3 ibu kecapekan naik mobil pulang. Kami sempat menjemur T-Shirt yang masih belum kering cat nya di sandaran kursi mobil. Sambil menyusuri jalan Fatmawati yang macet, aku memangku Kai yang bersikeras duduk di depan, samping Retty yang menyupir. Karena tidak tahan lapar, akhirnya kami mampir di Kentuckynya De Best untuk makan siang. Dan di situ aku sempat “berkelahi” dengan Kai yang manjanya minta ampun. Mungkin karena terlalu capek dan lapar dia terlanjur rewel. Susah deh…..

Tapi pengalaman satu hari ini di Museum Layang-layang benar-benar membekas di hati kami. Terima kasih banyak ya Ret, sudah memperkenalkan museum yang bagus ini, dan bahkan antar jemput sampai di rumah. Senang sekali bertemu dengan anak-anak kamu yang begitu sayang pada Riku dan Kai. Hasil keramiknya ternyata tidak selesai sampai waktu kami kembali ke Tokyo, sehingga tidak bisa kami bawa, atau at least memotret hasilnya. Tapi pengalaman itu tidak akan terlupakan.

Kaos hasil karya anak-anak dijemur dalam mobil

Untuk keluarga yang mau mencari kegiatan bersama, aku sarankan pergi ke museum Layang-layang ini. Mereka buka setiap hari dari jam 9:00 sampai jam 4:00 tapi kalau hari biasa justru harus menelepon dulu karena sering menerima kunjungan rombongan sekolah (termasuk sekolah Jepang) . Meskipun akhir pekan, biasanya tidak banyak yang datang sehingga bisa langsung datang, dan paling sedikit bisa membuat layang-layang.


Live Music

Seberapa sering kamu mendengar live music? Dulu waktu aku masih single dan bekerja sebagai DJ Radio, kadang aku pergi bersama DJ negara lain ke restoran di Tokyo yang menyajikan musik Latin. Riang dan tidak jarang berakhir dengan “joget” bersama (tentu saja aku berdiri saja, karena aku tidak bisa joget hihihi). Suatu saat pernah juga aku pergi ke restoran dengan musik bossanova dan mengenal juga sistem “nagesen 投げ銭” melempar (memberikan uang) jika kita merasa puas dengan pertunjukan musik mereka. Wah kebalikan dengan sistem ngamen, kalau ngamen kita seakan terpaksa memberikan karena didatangi satu-satu.

Tapi sejak punya anak, tidak pernah lagi aku pergi ke tempat seperti itu. Di Jepang membawa anak ke tempat selain family restaurant memang membutuhkan keberanian, karena tidak semua restoran mau menerima anak-anak untuk makan malam. Apalagi tempat-tempat seperti itu jauh dari rumahku, seperti di daerah Shinjuku dan Roppongi.

Karena itu acara mudik biasanya diisi dengan pergi ke resto yang ada live musicnya. Syukur-syukur kalau penyanyi kesayanganku Katon Bagaskara mengadakan konser, aku bisa pergi bersama Ira Wibowo, sekaligus reuni. Tapi tahun ini keduanya sibuk mondar-mandir ke luar negeri sehingga tidak ada kesempatan bertemu.

Nah kebetulan aku ingin merencanakan reuni dengan teman-teman SMP. Tapi karena keburu masuk bulan Puasa, kami mengatur supaya acara menjadi acara bukber, buka bersama. Dan kali ini tanggal 13 Agustus, Intan temanku menyarankan berkumpul di The Lounge, Plaza Senayan…. persis di sebelahnya Marche yang kukunjungi bersama Mbak Tuti Nonka sebelumnya.

Hmmm, kalau bukan karena Intan, mungkin aku tidak akan pernah masuk tempat ini. Melongok ke dalam saja cukup membuat kamu berpikir untuk masuk…. ya..berpikir musti menyediakan budget berapa ya? hehehe.

Kai yang ikut reuni dan menikmati live music

Untung saja hari itu sekitar pukul 5, temanku Bharata mengirimkan sms, menanyakan tempat pertemuan, karena dia bisa datang kalau daerah Senayan. Wow, aku langsung tembak dia, “Jemput aku dong!”. Kami dulu tetanggaan, rumahnya tepat berada di halaman belakang rumahku. Jadi kami bisa bercakap-cakap lewat pagar kawat, dan saling meminjamkan buku. Ehhhh tapi dulu aku lebih dekat dengan adiknya, Sinta. Maklum jaman itu kan aneh rasanya murid SMP berlainan jenis untuk bisa akrab….. atau…. takut diejek teman-teman bahwa kita pacaran, meskipun sebetulnya tidak.

Jadi Bharata menjemput aku dan Kai (Riku tentu saja tidak mau ikut) pukul 5:30….dan dalam 10 menit kami sampai di PS. Masih cukup banyak waktu karena reservation restoran pukul 18:00 untuk 8 orang. Jadi aku minta waktu untuk mencari money changer dulu. Persis waktu aku menyelesaikan urusan di money changer, seorang teman SMA, secara kebetulan berpapasan dan menyapaku…. Ya ampun …..ketemu lagi seorang teman dengan tidak sengaja. Sepertinya aku memang “jodoh” dengan PS untuk menemukan teman-teman lama.

Kai yang ambil foto ini loh

Kami bertiga, Aku, Bharata dan Kai, akhirnya masuk restoran pukul 6 dan memesan minuman. Dan baru kali itu aku merasa beruntung “nembak” orang menjemput aku, karena ternyata sampai dengan pukul 8 malam, kami harus melewatkan waktu bertiga. Wahhh seandainya waktu itu cuma aku dan Kai?  bete bener deh. Tapi karena aku kenal Bharata, jadi kita bisa cerita ngalor-ngidul selama dua jam sambil menunggu yang lain datang.

Hmmm …. reuni SMP tahun ini memang sulit diadakan. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya, aku merencanakan pertemuan jauh hari dan menentukan tempat, lalu memakai sarana FB dan sms memberitahukan kepada seluruh alumni, dan paling sedikit 15 orang pasti datang. Tapi kali ini rasanya susaaaah sekali mengumpulkan mereka. Padahal aku pikir dengan adanya FB dan BBM group semestinya lebih gampang. Memang timingnya kali ini karena ada bulan Ramadan yang membuat orang sulit berkumpul. Tapi mungkin juga karena sudah ada FB dan BBM itulah membuat kesempatan bertemu lebih banyak, tidak perlu menunggu acara reuni sudah bisa janjian lunch atau dinner bersama. Mungkin tahun depan aku tidak usah memasukkan reuni SMP dalam agendaku saja.

Yang ikut reuni waktu itu

Yang membuatku terhibur di sini adalah adanya pertunjukan live music. Sebuah group bernama “Flash Back” membawakan lagu-lagu jadul tahun 70-an dan 80-an. Ada tiga laki-laki dan satu perempuan yang bergantian menyanyi, tapi ke tiga laki-laki itu suaranya bisa benar-benar menyerupai Bee Gees. Dan ternyata bukan aku saja yang menikmati musik ini, karena Kai juga “terbengong” melihat live music. Ini merupakan pengalaman pertama Kai menonton live music dan kelihatan dia enjoy sekali, sambil sesekali menggoyangkan kepala, tidak berpaling dari panggung dan…. ikut bertepuk tangan pada akhir lagu. Wow…aku jadinya malah “menonton” anakku deh.

Acara reuni dengan live music malam itu berakhir pukul 10 lebih, dengan Kai yang masih “semangat”….. dan ternyata sodara-sodara, keesokan harinya Kai menuntut untuk pergi lagi makan di restoran. Dia memang tanggung tidur siangnya sehingga terbangun justru sekitar jam 9 malam. Mungkin dia “ketagihan” live music ya? hehehe.

Kai dengan pizzanya. Untung ada Andy yang mau mengantar kami ke sini

Untung saja adikku Andy ada di rumah dan mau mengantar kami pergi. Aku memang tidak ada acara malam itu, sehingga aku pikir ya sudah kita pergi ke Cafe Pisa Mahakam aja lagi, karena setahuku di sana ada juga Live Music. Cuma memang saat itu lagu-lagu yang dibawakan lagu jaman sekarang sehingga aku tidak tahu. Setelah makan sepotong pizza dan mendengar sedikit alunan lagu, kami pulang, masih sambil tertawa geli pada tingkah Kai yang “ketagihan” live music. Tapi untung saja rewelnya Kai berhenti hari itu. Kalau setiap malam musti pergi ke restoran yang ada live musicnya bisa bangkrut deh mama hehehe.

Live music memang sangat menghibur, apalagi jika memang membawakan lagu-lagu yang kita sukai. Tapi kalau kita bermaksud untuk bercerita atau ngerumpi banyak, susah juga untuk berbicara jika musik dimulai. Dan kebanyakan memang musik dimulai di atas jam 8-9, jadi bisa ngobrol dulu baru menikmati musiknya. Live music juga bisa menjadi cara ampuh jika kita mati gaya, tidak ada bahan pembicaraan lagi.

live music di Pisa Cafe...sayang lagu-lagu baru jadi aku tidak tahu

Cuma, waktu itu ada dua hal yang aku sayangkan. Satu, Riku tidak ikut sehingga aku tidak tahu reaksi dia terhadap live music. Dan ke dua, Aku tidak sempat pergi ke Pisa Cafe Menteng waktu saudara sepupuku yang bermain band di sana…. Dia juga penyanyi yang bagus, karena dulu aku pernah menonton waktu dia menyanyi di Fashion Cafe dan Park Lane Hotel.Well, masih ada tahun depan ….

Pembaca TE juga suka Live Music (bukan konser yah) ? Biasanya pergi ke mana? Siapa tahu bisa masuk agenda aku tahun depan nih…

Bermain

Kata kerja yang satu ini memang aneh, sementara umumnya kata kerja berawalan ber- itu intransitif (tidak memerlukan obyek), si “bermain” bisa intransitif dan bisa transitif.
“Sedang apa?”
“Sedang bermain…”
“Bermain apa?”
“Bermain piano”

Kata “bermain” dalam keluargaku berarti pergi ke Taman dan bermain pasir, naik perosotan atau ayunan. Tapi kondisi seperti ini tidak ada di Jakarta, meskipun di dekat rumahku ada sepetak tanah kecil yang dilengkapi ayunan yang tidak terawat. Rasanya parno juga menyuruh anak-anak bermain di taman di Jakarta.

Nah tanggal 8 Agustus lalu, hari Minggu, adikku Andy mengajak kami jalan-jalan ke Senayan City, mall yang terdekat rumah. Aku sendiri sebetulnya tidak suka jjl di mall, tanpa ada tujuan. Tapi ok deh, paling sedikit bisa makan es krim Cream and Fudge….itu pikirku. Waktu jalan-jalan ke tingkat atas, aku melihat tulisan “Lollypop”, sepertinya tempat bermain anak-anak. Jadilah kami pergi ke sana. Dan waktu naik ke lantai teratas itu, kami melewati “Timezone” (semacam game center) . Tentu saja Riku langsung minta bermain di timezone. But… NO! certainly BIG NO! Karena Timezone pasti lebih menghabiskan duit dan badan tidak bergerak. Sama saja dengan bermain DS Nintendo game versi besar.

berfoto depan lollipop, playland and cafe judulnya....

Well, bermain di lollipop ini juga mahal. Aku belum pernah mengajak main di Kidzania, jadi tidak tahu info lengkapnya, tapi sepertinya Kidzania lebih mahal. Kalau hari biasa anak berusia 2-12 tahun membayar 85.000/anak Karena kami waktu itu tidak membawa kaus kaki, maka kami juga terpaksa membelikan Riku dan Kai kaus kaki seharga 10.000 rupiah. Satu orang pendamping dewasa harus membayar 15.000 yen juga. Sehingga paling sedikit kita harus menyediakan 150.000 ribu untuk satu anak deh…(termasuk kalau mau makan di dalam). Hmmm 1500 yen per orang? Di Tokyo sudah PASTI aku tidak akan membawa anak-anak ke tempat main yang semahal ini. Bisa bangkrut deh aku. Ini juga karena liburan saja.

Padahal menurut Andy, banyak ibu-ibu borju yang membawa anak+ baby sitternya ke sini, menyuruh mereka bermain (bisa sampai jam 10 malam loh) sementara sang ibu bertemu dengan teman-temannya di toko/restoran di dalam Senayan City ini. Hmmmm segitu mahalnya kah “Me Time” nya ibu-ibu Jakarta? Aku selama ini selalu membawa serta Kai bertemu teman-teman, tanpa baby sitter, dan tidak pernah merasa kewalahan apalagi kemahalan hihihi.

Ada banyak sarana permainan di sini. Dari perosotan hingga jungle jim yang terbuat dari karet.  Dan jelas aku lebih suka di sini, karena membuat anak-anak berlari, bergerak di tempat yang luas dan aman, karena biasanya berada dalam ruangan yang sempit. Dan  Riku paling suka permainan yang seperti bungee jump, ditarik-tarik dari bawah sehingga bisa membal ke atas. Persis seperti katapel yang nempel terus tapinya. Untung sjaa pakai sabuk pengaman. Tapi aku cukup heran, karena aku sendiri tidak suka permainan yang mengocok perut seperti ini. Kelihatannya Riku ikut Gen yang menyukai segala macam jetcoaster dan tidak takut ketinggian.

Sementara Andy menjaga Riku dan Kai, aku sempat makan di Urban Kitchen yang terletak di lantai bawahnya. Saat itu aku kepengen banget makan rujak. Sayangnya rujaknya bersih sekali jadi kurang afdol tuh rasanya hehehe. Tapi, enough deh, kesampaian makan rujaknya sebelum kembali ke Jepang.

Sayang ikan masnya ditaruh di bak yang seperti bak mandi hehehe

Kembali ke Lollipop, anak-anak masih terus bermain, tidak capek-capek. Mereka juga membawa sebuah gelas kertas agak besar yang berisi ikan mas hasil pancingan di situ. Waduh kok seperti festival (matsuri) di Jepang aja, ada pancing ikan mas (kingyou sukui). Waktu itu sudah pukul 9:20 malam. Anak-anak tentu sudah tidak mikir makan malam lagi karena asyik bermain, jadi aku membelikan kwetiau goreng yang cukup mahal (35.500 rp) di dalam Lollipop itu untuk Kai. Kai juga enjoy sekali bermain di tempat seluas itu. Tapi terlihat sekali sifat Kai yang “bersihan”, coba deh lihat kursi yang dia tumpuk dulu sebelum pulang…. beres-beres pulang ceritanya.

Lihat kursi yang ditumpuk Kai sebelum pulang. Kebiasaan di tempat penitipan Jepang dibawa terus 😀

Kami pulang ke rumah waktu toko-toko sudah banyak yang tutup. Ya, toko di Indonesia kan kebanyakan hanya sampai jam 10 malam. Tapi Riku dan Kai puas sekali bermain, dan tidak henti-hentinya berkata, “Mama terima kasih”…. itu tentu aku senang mendengarnya, cuma biasanya ditambah, “Besok main lagi ya….” hahaha, yang terakhir sih mikir-mikir dulu nak… muahal jeh.

Kai dan Riku sempat menelepon papanya selama berada di sini. Lihat gayanya Kai, seperti anak gede aja....

Jam berapa sekarang?

Apakah kamu-kamu bisa langsung menjawabnya? Pasti harus melihat jam tangan atau jam di HP dulu untuk bisa menjawabnya bukan?

Nah, pada hari ke 26 aku di Jakarta ini, aku tertawa getir. Yaitu ketika aku berada di sebuah restoran sushi di Senayan City. Om ku yang puasa menunggu jam buka, dan mengatakan bahwa paling aman jika jam sudah menunjukkan pukul 6 tepat. Dan kemudian aku jawab : “Sekarang sudah pukul 6″, tapi disanggah papaku…” Belum masih 6 menit lagi!”. Lohhhhh berarti jamku itu kecepatan 6 menit dong? Memang aku selalu heran karena jam di komputerku tidak sama dengan jam di HP Jakartaku. Tapi selalu kupikir jam di HP lah yang benar. Hmmmm TERNYATAAAAAAAA….. aku selama ini TIDAK PERNAH TERLAMBAT!!!! horeeeee…………..

Aku selalu berusaha menepati janji. Aku akan merasa tidak enak jika harus membuat orang lain menunggu. Untuk ini mungkin aku sudah menjadi orang Jepang…..

Seorang teman SMP ku Ika, mengajakku makan siang bersama sebelum bulan Ramadan mulai. Hari Jumat tanggal 6 Agustus, pagi hari dengan bertukar sms.
Ika : “Mel… ternyta hr ini ank gw hrs dijmpt tepat wkt. Ntar lunch di Pisa Cafe di Mahakam ya biar dket ma sekolh ank gw”
Aku : “OK ka. Mau dicepetin juga GPP kok”
Ika : ” Paginya hrs belanja dulu jd bs nya j 11. Tepat ya say”
“Kita kan aliran jepun jd udh biasa on time”
Aku: “Hahaha okay. C U @pisa cafe mahakam jam 11 ya”

Jadi jam 10:30 aku sudah mempersiapkan Riku dan Kai untuk pergi. Biasalah heboh pergi dengan anak-anak kan. Jam 10:45 bingung mau pergi naik taxi sendiri atau minta diantar opa yang akan menjemput cucu. Andy adikku sudah melihat aku senewen lalu berkata: “Sini mahakam cuma 8 menit kok mel”. Well, cepat-cepat naik mobil dan kami diturunkan opa tepat di depan Pisa Cafe. Begitu turun mobil aku melihat jam di HP (yang jamnya kecepatan 6 menit ituuuu)… yaaah jam 11:03 . Aku terlambat deh.

Tapi aku disambut dengan senyum lebar sang pelayan. Tentu saja karena kami adalah tamu pertama mereka. Loh… rupanya Ika belum sampai.

Ya sudah, karena anak-anak sudah lapar, aku memesan makanan saja dulu. Baru kulihat ada sms jam 10:50 darinya, “Mel, gomen telat kyknya macet”, dan kubalas, “No problem. Aku sudah pesen makanan soalnya anakku kelaparan”.

calzone yang merupakan favoritku di pisa cafe

Aku sudah beberapa kali ke restoran Pisa ini yang terkenal dengan es krimnya. Dan biasanya aku pesan Calzone, sebuah pizza tertutup seperti sebuah pastel raksasa. Rasanya yummy, dan disukai Riku dan Kai.

Bersama Ika, teman di SMP setelah 27 tahun....

Akhirnya Ika datang setelah 20 menitan, dan kami langsung bercerita banyak. Catch up berita selama 27 tahun tak berjumpa. Terakhir bertemu waktu SMP, karena dia kemudian masuk LPK Tarakanita, sedangkan aku ke SMA Tarakanita. Pukul 1:30 aku pamit karena aku punya janji bertemu seseorang di Senayan City pukul 2:00. Tapi aku masih ragu apakah aku akan mengajak anak-anak atau tidak, jadi aku mau naik bajaj pulang dulu ke rumah.

Riku dan Kai yang suka naik bajaj

Dan…. Kai berteriak gembira, “Bajaj da…bajaj da… sugoi ne”. Senang sekali Kai dan Riku naik bajaj…. yang pertama dan terakhir untuk Kai, sedangkan untuk Riku, dia sering ikut asisten RT yang harus menjemput sepupu-sepupunya naik bajaj. Kai? Tidak pernah mau berpisah dariku 😀

Tapi hari Jumat itu memang hari yang sial. Karena setelah kami sampai rumah, aku menghubungi temanku itu, ternyata dia baru berangkat dari depok naik taksi. Jadi aku bilang padanya, tolong sms aku deh kalau sudah dekat-dekat senayan. Dari rumah ke sency paling lama 10 menit. Dan…. karena hujan, disertai macet di mana-mana, kamu tahu aku bertemu dia di sency jam berapa? Jam 4 sodara-sodara. Selama2,5 jam dia terkatung-katung dalam taksi. Kasihan sekali. Karena itu aku memang tidak ada perasaan sebal jika harus menunggu teman yang terlambat (Juga waktu menunggu Ika 20 menit itu… karena aku sudah sampai duluan kan bisa makan atau minum duluan, sementara yang ditunggu pasti sedang panik di jalan) . Ya Jakarta gitu loh. Semuanya tidak bisa diprediksi.

Nah, kejadian yang hampir serupa terjadi keesokan harinya. Tanggal 7 Agustus. Ceritanya  kami akan mengadakan kopdar+reuni. Karena anggotanya adalah Retty N Hakim yang blogger dan kakak kelas di SMA (mungkin sekelas dengan adiknya mas NH nih 😉 hehehe) , Diajeng yang sekelas denganku di SMA (eh kita sekelas ngga ya?) . Tapi yang pasti kami bertiga adalah anggota ekskul Science Club di SMA. Foto kami bertiga waktu masih culun ada di page about me tuh. Secara tidak sengaja Retty menemukan blogku ini persis sebelum aku pulkam, jadi merasa wajib bertemu. Kopdar+ Reuni!Dan yang menghubungkan kami juga adalah Krismariana, karena Kris mengenal Retty duluan di internet. Dari Blogroll Kris, dan masukan dari Diajeng akhirnya Retty bisa “menemukan”ku. Well dunia (internet) memang kecil!

Diajeng yang mengatur waktu pertemuan kami, Sabtu tgl 7 itu di PIM2. Katanya: “…jam 10 kalau bs sdh tiba disana yaa, maklum hr sabtu kan acaranya padat merayap…”.

Karena Krismariana belum pernah ke PIM, padahal sudah sering ke rumahku, jadinya mampir dulu ke rumahku, dan kami bersama-sama naik taxi ke sana. Kali ini hanya Kai yang ikut. Perkiraanku dari rumahku sampai PIM butuh waktu kira-kira 30 menit. Ternyata kami sampai dalam waktu 20 menit. Jadi deh kami bengong 10 menit di PIM, karena semua toko, eskalator dan lift buka jam 10 teng! Sementara Kai dan Kris jalan-jalan di depan toko yang belum buka di lantai 1, aku sempat menghubungi teman-teman lewat sms dan telepon.

Menu makan pagi+siang hari itu. Sate padang.... yang tidak bisa aku buat sendiri.

Begitu lift dibuka, kami langsung pergi ke lantai atas, ke food courtnya. Ya, aku ingat aku pernah juga janjian dengan teman di sini. Karena masih pagi, kami adalah tamu yang pertama sehingga bisa memilih tempat yang enak. Tentu saja sambil menunggu kehadiran Diajeng dan Retty, aku membeli makanan duluan. Karena aku juga belum sarapan, jadilah Sate Padang dan es campur ntah apa namanya jadi menuku hari itu. Sate Padang bener-bener menjadi menuku waktu mudik, karena paling sering aku makan.

Kami berempat berbicara ngalor ngidul, tentang blog, tentang sekolah dulu, tentang pendidikan anak-anak sekarang… macam-macam deh (sampai aku sudah lupa kita bicara apa ya? hehehe) . Yang pasti blog kami memang harus menjadi blog informatif bagi yang membaca ya? (eh semua berpikir yang sama kan hehehe). Keep on bloggin girls eh ladies!

Kopdar reuni hari itu, Kris + Diajeng + Retty dan aku+ Kai

Jadi aku mau kembalikan lagi ke topik semula, bahwa aku senang, selama mudik aku bisa tetap menjaga kejepanganku dengan selalu tepat waktu hahaha. Sebetulnya ada satu lagi cerita tentang waktu ini, tapi karena ceritanya panjang, aku tulis di posting terpisah.

So … jam berapa sekarang? (Aku publish ini pukul 2:47 pagi, karena tidak bisa tidur karena berisik!! Siapa yang berisik? Nanti aku bisikin deh 😉 )

Ini Pasar atau Peternakan sih?

(Tulisan ini masih merupakan rangkaian Kopdar Summer 2010. Dan ternyata tulisan special, karena merupakan postingan yang ke 800. )

Memang begitu kami mendekati  tempat ini, kami disambut seekor sapi besar berwarna hijau (heran juga sapi kok hijau ya hihihi). Bahkan seorang bule yang kurasa Manager Toko kemudian berbicara pada pelayan, menyuruh memindahkan seekor anak sapi supaya Kai bisa naik di atasnya. Well mister, thank you very much for your hospitality! Sayangnya anakku malu-malu sehingga percuma aja si Om berusaha nyenengin anakku.

Hari itu tgl 3 Agustus, aku janjian dengan Mbak Tuti Nonka di Plaza Senayan. Sebetulnya sebelumnya aku pergi ke Ratu Plaza untuk membeli game Nintendo untuk Riku. Dia kehilangan 3 chips DS dari Jepang waktu ke TL, sehingga untuk mengobati rasa kecewanya aku pergi ke RatPlaz deh. Waktu sms-an dengan Mbak Tuti kupikir RatPlaz belakang-belakangan dengan Plaza Senayan, sehingga bisa jalan kaki tuh lewat belakangnya. Tapi, biasalah Riku mana mau ikut mamanya kopdar? Dia mending pulang ke rumah dan bermain dengan sepupu-sepupunya (dan bermain games). Jadi terpaksa deh aku antar Riku pulang dulu, dan kemudian dengan taxi yang sama kembali lagi ke PS.

Tak sengaja bertemu teman lama di Tokyo, yang sudah lama sekali tidak bertemu. Ketemunya kok bisa di Jakarta, di PS lagi....

Nah ada satu lagi kejadian waktu aku tiba di PS. Sambil nunggu aku dan Kai duduk di belakang lift menghadap jam. Kemudian aku melihat ke arah pintu masuk dan sekelebat melihat sosok belakang temanku yang di Jepang. “Haruko?” cukup keras aku memanggilnya. Dan waktu dia menoleh, aku tahu pasti aku tidak salah. Ya, dia adalah teman gereja di Tokyo, bertahun-tahun yang lalu. Haruko yang half japanese – bali menikah dengan teman kami segereja juga dan tinggal di Ibaraki sebelah barat Tokyo (kira-kira 3-4 jam dr Tokyo). Aku heran sekali kok kami bisa bertemu di sini, karena Haruko kan kampung halamannya Bali, bukan Jakarta. Guuzen 偶然. Pas kami berdua libur, kok bisa kami berada di tempat yang sama saat itu. Well ada pepatah dalam bahasa Jepang bahwa Tuhan juga suka bercanda. Dan ini mungkin candaannya Tuhan. Mempertemukan kami di Jakarta.

Tak lama, aku mendapat sms dari Mbak Tuti bahwa beliau sudah ada di pintu masuk PS. Pas aku mau cari ke pintu masuk, mendapat telepon bahwa beliau sudah di lantai satu. Cepat-cepat kami naik ke lantai satu, dan bertemu di sana. Setelah mbak Tuti menyelesaikan urusannya dengan salah satu toko, kami beranjak mencari restoran.

Mau ke food court kok rasanya tidak tenang. Sambil aku menggoda mbak Tuti yang belum pernah makan sushi, kami berjalan menuju bioskop PS. Nah, di situlah kami bertemu si sapi!

Ini sapi hijau yang dimaksud. Lalu sapi yang kecil itu dipindah ke kanan pintu masuk resto, dengan maksud spy Kai naiki...eeh dianya ngga mau

Restoran Marche ini khas dari Swiss yang dibuka bulan April 2009 di Plaza Senayan. Aku sudah pernah pergi ke restoran unik ini waktu dia masih berada di sebelah hotel Melia, Kuningan. Waktu itu Riku masih kecil sekitar 2 tahun, dan sangat senang naik becak yang diletakkan di tempat bermain anak-anak. Ah…. semoga aku bisa buka file dalam HD yang macet itu. (baca “Hati-hati Kehilangan” deh)

Begitu kami masuk restoran Marche PS ini, kami diberikan satu kertas untuk diberi stamp makanan yang kami pesan. Satu orang satu kertas, dan biarpun anak-anak tetap mendapatkan satu kertas itu. Kabarnya jika hilang maka pengunjung harus membayar 1.000.000 rupiah saja. Sistem BSS (Bayar Sendiri Sendiri) ini juga diterapkan di Urban Kitchen (dan mungkin resto lain yang aku tidak tahu) dan aku rasa sebuah sistem yang “demokratis” yang “egois”,  mendidik masing-masing bertanggung jawab atas pesanannya, dan bayar sendiri. Jika bill disatukan, untuk orang Indonesia ada kecenderungan untuk “traktir-mentraktir”, sedangkan dengan pemisahan bill semacam ini, kita hanya membayar apa yang kita makan saja. Meskipun tidak menutup kemungkinan jika saat pulang, semua kertas dikumpulkan dipoolkan ke satu orang yang jadi cukong. Tapi sistem ini bagus untuk mereka yang terburu-buru tidak bisa ikut sampai akhir acara, sehingga dia bisa keluar kapan saja dan tidak perlu meminta pihak restoran menutup bill.

Di pintu masuk juga terdapat paket kids meal, yang harganya cukup mahal (aku lupa berapa) tapi meal + kertas/crayon dan bola bersinar. Tadinya mau membelikan kids meal untuk Kai, tapi karena Kai sudah makan, aku membeli bolanya saja. Dan itu langsung dicatat di kertas bill-nya si Kai.

Kami mengelilingi restoran untuk mencari kursi yang enak. Dan kami masuk ke sebuah ruangan dengan sapi di jendela. Wah kesannya memang seperti makan di sebuah peternakan. Kai senang sekali. Jadi supaya tempat duduk kami tidak diambil orang lain, aku meninggalkan susu dan barang Kai di kandang itu. Kemudian kami melihat-lihat tempat lain.

Si sapi melongok dari jendela. Kami tadinya akan duduk di sebelah sapi ini tapi lalu pindah

Ternyata ada bilik bermain untuk anak-anak dan semacam cable car di suatu sudut, sehingga kami merasa lebih baik duduk di dekat bilik bermain itu. Jadi Mbak Tuti mengambil barang kami di tempat duduk semula (terima kasih ya Mbak) dan aku menduduki tempat baru. Saat itu seorang pelayan datang dan bertanya, “Ibu akan duduk di sini?” “Ya”…dan dia membalikkan sebuah papan di meja yang menunjukkan bahwa tempat itu sudah ditempati. Yaaah tahu gitu kan tidak usah taruh barang segala hihihi (ketahuan udiknya).

kai main di bilik bermain, tapi takut sendiri

Setelah duduk, tibalah waktunya kami memilih makanan. Nah, di sini kami bisa memilih berbagai jenis masakan yang disajikan di stall (ajungan) seperti di pasar. Ceritanya keliling pasar dan membeli makanan A di warung ini, dan minuman B di warung lain. Atau konsep Pujasera deh (Pusat Jajan Serba Ada), yataimura 屋台村 di Jepang. Rupanya kata Marche itu dalam bahasa Swiss adalah pasar. Nah kan…sekarang bisa mengerti mengapa aku menulis judul “Ini Pasar atau Peternakan sih?”. Karena memang restoran ini perpaduan dari Pasar dan Peternakan.

Makanan di sini memang European banget. Hmmm ada nasi ngga ya? Kok rasa-rasanya tidak ada nasi. Tidak cocok untuk perut jawa! Tapi cocok untukku karena sebetulnya aku tidak suka makan nasi :D. Maka ketika seorang teman mengajak makan di restoran Sunda aku menolak (Maaf ya Ye…). Biasanya kalau di restoran yang menu utama nasi, aku akan memilih sate ayam, gado-gado atau makanan lain yang bisa dimakan tanpa nasi. Perutku memang bukan perut jawa tapi perut eropa hahaha.

Makanan swiss memang banyak memakai kentang, sehingga menu seperti kirsch (pie kentang) menjadi menu utamanya. Dan yang membuat aku bangga di sini adalah kentang-kentang besar yang ditaruh di sana berasal dari DIENG! Sayang aku tidak foto (kabarnya di sini tidak boleh foto-foto, kata mbak Tuti…aku sendiri tidak baca sih). Mungkin takut konsepnya ditiru ya?

es krimnya Kai loh bukan aku. aku cuma ngabisin

Restoran Marche ini bekerjasama dengan Movenpick Restaurant. Juga nama movenpick adalah nama sebuah perusahaan ice cream swiss yang terkenal, sehingga bisa dipastikan es krimnya enak. Karena itu aku membelikan waffle ice cream untuk Kai, yang hampir 80% aku yang habiskan. Berlainan dengan Riku, Kai tidak begitu suka ice cream. Tidak pernah habis!

Sambil makan dan mengobrol, Kai bermain di gerbong cable car. Dan akhirnya tertidur setelah minum susu di situ. Terpaksa deh aku gendong dia pulang, waktu jam menunjukkan angka tiga. Karena Mbak Tuti harus kembali ke hotel, mengambil barang lalu ke bandara.

Silakan dipilih-pilih mbak.... Jangan lupa minta stampsnya ya. (Kainya udah lari kemana)

Ah…sambil berjalan ke kasir aku sudah merasa sedih, ditambah lagi waktu mau membayar diambil alih oleh Mbak Tuti. Aku tidak bisa berbuat banyak karena sambil menggendong Kai. Di depan kasir itulah aku jadi terharu dan mulai menangis. Mbak Tuti sudah datang dari jauh untuk bertemu denganku, masih traktir lagi… hiks, padahal waktu berada di Jakarta rasanya belum optimal dipakai untuk bercerita dan bermain bersama. Padahal aku juga tahu mbak Tuti sedang super sibuk, tapi mengkhususkan datang ke Jakarta tiga hari. Perasaan dekat itu keluar begitu saja dan membuatku terisak. Ingin memeluk Mbak Tuti erat-erat tapi sambil menggendong Kai. Ahhh Kai, kamu ngganggu aja sih. Tapi tanpa Kai sudah bisa dipastikan kami berdua dapat menjadi pusat perhatian di depan resto itu. Tidak ingin berpisah, tapi harus. (sambil menulis ini saja aku nangis lagi deh).

Kai tertidur di dalam compartment cable car... enak banget tidurnya

Memang seperti yang aku tulis di komentar posting mbak Tuti “The Amazing Three Days” bahwa Quality of Friendship tidak ditentukan oleh tatap muka dan pertemuan. Dilandasi keinginan baik tentu persahabatan ini tidak akan berakhir. Entah kenapa aku juga merasa kecocokan dan kedekatan yang “misterius” dengan Mbak Tuti. Yang tidak bisa ditanya apa alasan atau sebabnya. Karena interaksi kami berdua juga bisa dihitung dengan jari. Tapi that kind of feeling…. Mungkin seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama? or…. lebih ke soulmate? entahlah. Aku berharap persahabatan yang awalnya dimulai dari dunia maya ini dapat terus berlangsung, sembari kita masing-masing hidup dengan kegiatannya masing-masing. Meskipun “No news is good news”, kita bisa saling membaca dan berkomentar di TE dan TV, atau bahkan lewat blog teman-teman yang lain.

Mengulang kembali tulisanku di TV, aku mendoakan seluruh kegiatan teman-teman blogger selama bulan Ramadan ini. Khususnya untuk Mbak Tuti dalam penyelesaian disertasinya (bukan thesis). Kami menunggu dengan sabar sambil berdoa agar hasilnya baik adanya. Jaga kesehatan ya mbak…

Dan… mungkin kita bisa berdoa bersama juga supaya sahabat kita Ata-chan bisa membuka restoran dengan konsep peternakan di Kediri, sehingga nanti kita bisa sama-sama wisata kuliner ke sana ya…. (pisss Ata…. heheheh)

Soal kopdar ke Bali Desember 2010,aku sudah pasti tidak bisa datang mbak. Aku hanya bisa liburan bulan Agustus saja, mengikuti liburan musim panasnya Riku. So till summer next year ya….

Kopdar Summer 2010

Friends are kisses blown to us by angels.(Unknown)

Jika mau jujur baru kali ini aku merasa mandeg, stuck dalam menuliskan pengalamanku di Jakarta. Memang aku salah terlalu menundanya sehingga aku kehilangan momentum “rasa” dari peristiwa tersebut. Cukup bingung juga karena memang aku memutuskan untuk menulis urut berdasarkan kejadian. Dan ketika sampai pada “gilirannya”, aku terus memandangi monitor tanpa harus tahu memulainya bagaimana.

Jika Rumah Dunia penuh emosi keharuan karena aku bisa mewujudkan ide yang ada di kepalaku sudah lama sejak sebelum aku datang ke Jakarta, maka Kopdar tanggal 2 Agustus itu penuh dengan emosi keharuan lain karena bisa bertemu dengan sahabat-sahabat yang sudah kukenal lewat tulisan mereka. Dan terus terang acara kopdar tanggal 2 dan 3 adalah klimaks dari perjalanan mudikku tahun ini. Setelah itu aku merasakan anti klimaks meskipun tidak bisa dikatakan membosankan.

Para peserta kopdar blogger tanggal 2 Agustus ada yang sudah menuliskannya di blognya masing-masing sehingga mungkin pembaca TE juga bisa berkunjung ke sana untuk membacanya. Sementara aku menulisnya dengan urut.

Mbak Tuti Nonka dengan The Amazing Three Days nya,
Yessy Muchtar dengan Bukan Cuma Sebuah Pertemuan,
Ade Susanti dengan Blog yang terlupakan,
Lady Clara dengan Kopdar

Tanggal 2 Agustus, 2010. Setelah acara di Rumah Dunia selesai sekitar pukul 3 siang, kami berombongan cek in di hotel Le Dian, Serang. Kupikir supaya kami punya waktu untuk jalan-jalan melihat kota Serangnya sendiri, meskipun akhirnya tujuan ini tidak terlaksana…hehehe. Kami mengambil 3 kamar di sini, dan kamarku dan Ria sebagai base tempat ngobrol. Sebuah suite yang lumayan mewah dan affordable. Riku langsung bertanya padaku, “Mama… hotelnya bagus. Aku mau nginap sini 4 hari ya…..” Dasar penyuka hotel hahaha. Dia selalu minta untuk tinggal di Hotel. Dan kuakui ini gara-gara sebuah film seri di Disney Channel, Suite Life of Zack & Cody, kisah sepasang anak kembar yang tinggal di kamar suite hotel karena ibunya penyanyi di hotel itu.

Eka dan Adrian masih sempat mengobrol di sini, sebelum akhirnya mereka pulang ke Jakarta untuk mengikuti kebaktian. Sementara itu, Ria bertemu temannya di lobby hotel, KK, DM bersama Riku dan Kai berenang di kolam renang hotel, yang katanya Riku, “Hebat ma… Guede banget!”

Malam itu kamu makan makanan serba bebek. Sop Bebek, Sate Bebek, Bebek Goreng, Garang Asem (semacam sup kuah asem). Ternyata kuliner di Serang selain Bebek juga ada Sate Bandeng. Aku mendapat oleh-oleh Sate Bandeng dari KK dan waktu kumakan hmmm yummy loh. Sepertinya dicampur parutan kelapa sehingga gurih. Jika ada yang pernah makan Paria Kambu (masakan makassar untuk Paria yang diisi ikan/daging giling masak santan) nah Sate Bandeng itu mirip isinya Paria Kambu ini.

Pagi harinya, Win istri KK berpamitan karena harus mengajar. Dan setelah makan pagi pukul 9, kami juga berpamitan dengan KK untuk pulang ke Jakarta. Sedih juga melihat proses pamitan anak-anak dengan KK yang sudah sangat akrab selama 4 hari. Tapi kami harus buru-buru karena kami mempunyai jadwal lunch pukul 1 siang di Cafe Lokananta, Blok M.

Untung saja perjalanan ke Jakarta lancar. Kami bisa sampai di rumahku sebelum pukul 12 sehingga sempat menaruh barang, istirahat sebentar dan ganti baju, tak lupa pakai parfum tentunya hehehe. Lagipula aku bersyukur juga bisa sempat pulang ke rumah, karena ternyata di rumahku sudah menunggu seorang Oma yang sudah berusia 89 tahun yang ingin bertemu denganku. May God bless her…

Kami, yaitu aku dan Kai, Ria dan Daniel Mahendra sampai di Cafe Lokananta itu pukul  1 lewat sedikit (tepatnya 13:09 bukti sms hahaha). Di situ sudah menunggu Christina Paska a.k.a Mbak Puak dan Ade Susanti a.k.a Uni dede. Mbak Puak tadinya bilang akan datang jam 2 an…eeeh malahan bolos ngantor, jadi  sejak pukul 12:24 (bukti dari smsnya) sudah hadir di tempat (sambil nyuci-nyuci taksi ya? hihihi). Uni dede yang aku hanya kenal lewat blog dan FB, ternyata lain dengan image yang kudapat selama ini. Aku juga beranggapan Uni dede berbadan tinggi besar sehingga bisa masuk kelompok kami, de gembils…. Ehhhh kenyataannya tidak!

Kedua sahabatku Jumria Rahman dan Tuti Nonka yang datang dari jauh demi menemui aku dan melewatkan waktu panjang bersama. Rasanya kata terima kasih saja tidak cukup untuk keduanya. Please be my friend forever!

Kami berlima masih menunggu beberapa saat sambil memesan minum sebelum Ibu Cantik bergaun hijau Yessy Muchtar datang bergabung dengan kami. Tak lama juga hadir Mbak Tuti Nonka yang katanya sempat nyasar waktu mencari lokasi Cafe Lokananta ini. Maaf ya mbak, semestinya saya beri petanya.

formasi kloter pertama di 13:51 WIB 😀

Formasi kloter pertama kemudian dilengkapi dengan kehadiran Ekawati Soejono dan Reva Liani Pane. Khusus untuk Ekawati Sudjono  ini dia sudah membuka blog tapi belum mengaku sebagai blogger karena masih kosong isinya (dan ketika aku cek, ternyata sudah dia hapus hihihi). Dia adalah salah satu pengunjung rumahku di Nerima yang ceritanya bisa dibaca di sini. Nah, entah mungkin karena dia merasa bukan blogger tapi ikutan kopdar dan aku tahu pasti karena dia cinta padaku (uhuyyyy) , dia membawakan kami semua sebuah cake coklat dari Dapur Coklat bertuliskan, “Maju terus Indonesian Blogger”. Terima kasih banyak kuenya ya Eka.

Kapan dong kuenya dipotong?

Kalau Reva, kami juga belum lama kenal lewat blog, tapi cukup sering menyapa lewat twitter dan YM, karena kami sama-sama lulusan sastra Jepang. Bedanya hanya dia lulusan UGM aku lulusan UI (yuhuuu dulu kita bersaing ya hihihi). Dan bacaan buku Jepangnya canggih banget, sastra awal Meiji loh. Kereeen.

Memotong kue dengan Samurai hihihi

Reti Hatimungil, yang sedang hamil juga hadir dalam acara kodpar kali ini. Aku mengenal Reti cukup lama, karena sebetulnya Reti termasuk dalam daftar kopdar di Omah Sendok satusetengah tahun lalu, tapi batal datang. Kami biasanya bersapa lewat FB, terutama soal makanan deh. Blognya Reti sendiri baru diperbarui setelah acara kopdar kami ini. Semoga bisa terus menuliskan pengalaman selama hamil ya Ret. Semangat!

Kami mendapatkan kehormatan dengan kehadiran seorang Lady bernama Lady Clara, yang baru tahun ini kami berkenalan dan saling memberikan komentar di blog. Padahal isi blog Lady Clara itu aku banget loh. Sejarah dan environment :D. Katanya kopdar ini adalah kopdar yang pertama untuknya, semoga kelakuan kami semua tidak memberikan imej yang menakutkan sehingga Lady Clara mau kopdar bersama blogger yang lain ya.

Cafe Lokananta tambah heboh, dan kursi harus ditambah lagi. Aku memang cuma memperkirakan 10 orang hadir 2 minggu sebelumnya waktu aku memesan tempat di sini (telepon langsung dari Tokyo loh hehehe). Jadi ketika jumlah yang hadir membengkak, pelayan Cafe harus menambah kursi supaya semua bisa duduk. Dan keramaian Cafe Lokananta dilengkapi kehadiran Eka Situmorang Sir dan Krismariana. Sayang sekali Eka tidak datang dengan seragam PNS nya, padahal aku ingin sekali berfoto dengan dia yang berseragam hihihi. Suatu waktu kita kopdar lagi ya, Aku ingin diapit Puak dengan seragam “supir Taksi”nya dan Eka seragam PNS nya hehehe.

Yang tidak "cantik" tapi manis....senyumnya hihihi. DM dan Pak Syafruddin. Terima kasih banyak buku-bukunya pak....

Oh ya, yang juga melengkapi keriuhan di Cafe Lokananta adalah kehadiran Pak Syafruddin Azhar dari Kaki Langit Kencana. Beliau membawakan buku-buku terbitan kaki langit yang akan menjadi PR buatku di Jepang. Terima kasih banyak pak. Juga kehadiran Wita a.k.a Eka Perwitasari yang pernah muncul di rumahku di Tokyo.

Baik yang baru pertama kali bertemu maupun yang sudah berkali-kali bertemu mempunyai cerita yang unik. Tapi satu hal yang bisa aku simpulkan dari pertemuan kami yaitu pertemuan kami secara fisik hanyalah perpanjangan dari pertemuan kami di internet. Sehingga rasanya tidak ada kekakuan dalam pembicaraan kami, dan semua bisa lebur dalam kehangatan berdasarkan persaudaraan. Ada beberapa orang yang mendadak tidak bisa hadir seperti IndahJuli dan Riris karena satu dan lain hal. Atau yang dari jauh-jauh hari sudah menyesal pasti tidak bisa datang seperti Ibu Enny Dyah.

bisa dibayangkan "ramenya" kan?

Sebetulnya pertemuan kami ini bisa dikatakan tidak direncanakan untuk menjadi kopdar Akbar. Awalnya hanya ingin mengumpulkan ibu-ibu blogger yang tidak bisa keluar malam (melirik ke Yessy dan Puak), tapi kemudian membengkak sampai ke luar Jakarta dengan kehadiran Mbak Tuti. Dan aku yakin (sok tau deh hihihi) kalau aku undang bapak-bapak jauh-jauh hari MUNGKIN mereka akan bisa bergabung dengan kami. Tapi merencanakan sesuatu yang “akbar” itu sulit. (Menjadi EO juga sulit ya bu Enny hehehe). Kendala waktu, tempat biasanya menjadi penghambat kelangsungan acara pertemuan seperti ini. Karena itu aku sangat berterima kasih pada mereka yang hadir pada kopdar tanggal 2 Agustus lalu.

Formasi lengkap yang datang KOPDAR sebelum bubar grak

Kopdar tanggal 2 kemudian dilengkapi dengan pertemuan kami dengan Afdhal yang sedang training di Hotel Mulia. Tadinya memang bermaksud bertemu Mas NH yang dipikirnya berada di Hotel tersebut. Tapi rupanya belum jodoh sehingga kami tidak bertemu malam itu. Baru dua hari sesudahnya ketika aku janjian “makan bakso” dengan Afdhal di Hotel Mulia, sempat bertemu sebentar dengan narablog terkenal yang mempopulerkan istilah “The Beauty of Blogging” TBoB.

kiri ke kanan DM, Kai, Ria, Mbak Tuti, aku, Afdhal, bertemu di Cafe Hotel Mulia tgl 2 Agst malam

Mas NH18, Afdhal, aku dan Kai 5 Agustus 2010. Kai selalu ikut kopdar loh hehehe

Seperti yang telah aku tuliskan di postingan sebelum-sebelum ini dan pada komentar di tulisan Mbak Tuti. I AM BLESSED,  aku beruntung dianugerahi teman-teman yang baik. Dunia blog bagiku sekarang memang merupakan dunia yang penting dalam kehidupanku. Dan aku  juga percaya sebuah quote dari Oliver Wendell Holmes yang isinya “Without wearing any mask we are conscious of, we have a special face for each friend“. Ada wajah kaku, ada wajah ramah dan lucu, wajah keibuan atau kekanakan, tergantung dari sifat kita dan kadar pertemanan kita. Special Face! Special Person… Ya semua mempunyai tempat khusus di dalam hati seorang Imelda. Terima kasih… terima kasih…. terima kasih….. Semoga kita bisa berjumpa lagi tahun depan, jika aku bisa pulang kampung lagi.

Sebagai penutup aku ingin menulis funny quote tentang friend yang cocok untuk blogger wanita (yang menempati porsi 90% kopdar kali ini).

Friends are like bras: close to your heart and there for support!!!”

Jadi jangan lupa digunakan ya “bras” nya hihihi…..


Hening di Rumah Dunia

Suasana di Rumah Dunia (RD), Minggu tanggal 1 Agustus lalu, tidak seperti biasa. Banyak orang tapi tidak seramai biasanya. Tidak ada suara teriakan riuh rendah seperti jika anak-anak sekitar berkumpul bersama, meskipun banyak pengunjungnya. Hening dalam keramaian. Karena kali ini yang hadir di sana adalah 16 anak Sekolah Luar Biasa yang tuna rungu.

Pagi itu kami keluar Villa Kaalica Tanjung Lesung pukul 8 pagi. Perkiraan kami cukup untuk sampai pukul 10 di Rumah Dunia Serang, untuk mengikuti acara yang direncanakan mulai pukul 10 sampai pukul 12. Tapi…. jalanan di pagi hari ternyata dipenuhi angkot yang berhenti seenak perut, sehingga kami tidak bisa bablas seperti waktu perjalanan kami ke TL sebelumnya. Jalanan memang tetap sama, berlubang-lubang (tidak mungkin berubah dalam 2 hari kan?).

Pemandangan tepi laut di kiri kami juga berbeda dengan waktu kedatangan kami malam hari. Kami memang juga tidak sempat sarapan pagi itu, karena tidak ada waktu santai. Dan mungkin karena AC sehingga masuk angin, Kai sempat muntah dalam perjalanan ke Serang, sehingga membuat kami terlambat sampai di RD. Ketika jam 10, Koelit Ketjil a.k.a KK menelepon kami, untuk mengetahui posisi, kami tahu bahwa kami pasti terlambat. Untung ada KK di RD sehingga bisa langsung memulai acara dengan permainan-permainan bersama anak-anak SLB itu.

Kami sampai di lahan Rumah Dunia pukul 11. Saat itu anak-anak baru saja selesai lomba makan kerupuk. Melihat kami datang, mereka menempati panggung dan melaksanakan satu game lagi. Dibagi menjadi 3 kelompok, mereka menyampaikan “pesan berantai”. Namun pesan yang biasanya dibisikkan, kali ini berupa “gambar” di punggung teman depannya. Teman paling depan yang harus menggambar di papan hasil “pendengaran” nya, dan mencocokkan dengan teman awal yang melihat gambar awal.  Aku tahu, aku belum tentu bisa menggambar atau menebak seperti mereka.

Gambar berantai

Semua instruksi diberikan oleh Ibu Bilqis, yang merupakan guru di SLB Samantha dan koordinator dari pertemuan ini. Tentu saja memakai bahasa isyarat. Aku jadi ingin mempelajari bahasa isyarat ini, tapi setiap bahasa, bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang berbeda, jadi cukup bingung untukku untuk memilih. Ah aku kagum pada Bu Bilqis yang cantik dan ramah ini.

Setelah selesai game “pesan berantai” ini, dengan grup yang sama, mereka diberikan satu kertas gambar besar untuk menggambar bersama. Temanya: “Kegiatan di sekolahku”. Riku ikut salah satu kelompok, dan membantu menggambar awan dan pohon-pohon. Sementara mereka menggambar, aku berkesempatan berbicara dengan ibu Bilqis dan ibu-ibu lainnya.

hasil gambar kelompoknya Riku: Kegiatan di sekolah kami

Sambil membagikan snack kepada mereka, kami membagikan kertas origami. Seni melipat kertas dari Jepang menjadi acara penutup hari itu. Dan yang menjadi gurunya adalah Riku. Kadang Riku memang maunya yang aneh-aneh seperti kumbang atau pacman. Tapi aku minta Riku mengajarkan melipat bunga lonceng, Asagao. Jadilah semua anak-anak juga semua yang hadir di sana, termausk bapak Didik, kepala sekolah SLB Samantha, memegang kertas dan melipat bersama. Jadilah berpuluh kembang kertas yang bisa ditempel, dijadikan satu menjadi sebuah buket.

Pernahkah kamu berinteraksi dengan anak tuna rungu? Aku kagum kemarin dengan mereka, yang berusaha mengekspresikan pendapatnya dengan gerak dan raut muka. Manusia normal cukup berbicara saja, mengatakan keinginan dan pendapatnya. Tapi mereka? mereka lebih ekspresif wajahnya. Aku senang ada beberapa anak yang “berbicara” padaku dengan raut muka senang, dan juga memberitahukanku bahwa dia bisa membuat origami burung. Lalu aku minta dia membuat origami burung dan mengajarkan pada temannya. Terus terang Riku belum bisa membuat origami burung, masih terlalu sulit. Origami itu mudah-mudah sulit loh. Pastikan kamu melipat dengan tepat, jangan miring. Begitu miring dan garis lipatan tidak jelas, maka keseluruhan origami akan menjadi jelek.

Selesai origami sudah jam 12, sehingga kami kemudian membagikan nasi kotak kepada semua peserta dan makan siang bersama. Nasi yang dipesan berisi ayam goreng tulang lunak, sayur asam, ikan teri dan lalap. Riku  makan dengan lahap, sampai ketumpahan sayur asam…. “Sayur ini pedeees” hihihi.

Foto bersama dengan anak-anak SLB Banten di Rumah Dunia

Sebelum berpamitan, kami semua berfoto bersama di panggung RD sebagai kenangan bahwa kami pernah bertemu. Bahkan sampai di depan gerbangpun, kami masih berfoto bersama. Sepertinya Gerbang Rumah Dunia ini memang bagus sebagai lokasi foto.

Setelah semua anak SLB pulang, kami kembali lagi masuk ke pelataran RD dan melanjutkkan acara dengan anak-anak sekitar. Kesempatan bagi Riku untuk mengikuti lomba makan krupuk bersama anak-anak sepantaran. Aku memang minta pada KK untuk memasukkan “Makan krupuk” dalam acara permainan, karena acara seperti ini tidak ada di Jepang. Apalagi lomba karung dan panjat pinang …hehehe. (Tapi kedua permainan ini tidak bisa kami laksanakan).

Tidak mau kalah dengan anak-anak, tante-tante yang hadir juga ikutan untuk meramaikan suasana. Seru juga loh… kapan terakhir aku ikut lomba makan krupuk ya? Waktu TK atau SD? sudah jadul banget dong.

Sementara itu Mbak Tias, bundanya Rumah Dunia memotong-motong kue Black Forrest yang kami bawa untuk dibagikan pada anak-anak dan semua yang ada. Tanggal 1 Agustus itu adalah hari ulang tahun Daniel Mahendra dan sehari sebelumnya 31 Juli adalah ulang tahun mbak Tias. Sayang Mas Gola Gong tidak ada karena harus pergi ke Surabaya.

Yang berulang tahun, DM dan mbak Tias

Setelah selesai acara potong kue (tanpa nyanyian dan tiup lilin) kami berkumpul kembali di sekitar panggung RD. Kali ini acara perkenalan Riku dengan anak-anak sekitar. Rikunya malu-malu sehingga akhirnya dilanjutkan dengan acara origami dan aku mendongeng. Wah aku memang tidak prepare untuk mendongeng. Mau mendongeng cerita rakyat Jepang, tidak ada medianya (buku atau gambar). Akhirnya aku pakai cerita yang aku selalu suka, yaitu the black crayon.

Kami akhirnya berpamitan pukul 3 siang. Sebelumnya kami bersama-sama membersihkan tempat yang kami pakai. Satu yang membuat aku terharu di sini yaitu Kai yang mau ikut menyapu dan mengumpulkan sampah untuk dibuang ke tempat sampah. Sementara kakaknya bermain, dia saja yang ikut memunguti sampah. Ah Kai, kamu tuh emang pembersih…. keturunan siapa ya? Papa atau mama? Kayaknya papa deh ya hehehehe.

Rumah Dunia, bersemboyankan : Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru, Memindahkan Dunia ke Rumah, yang terbukti hari itu. Ria dari Duri, Daniel Mahendra dari Bandung, Eka dan Adrian dari Jakarta, aku, Kai dan Riku dari Tokyo, Anak-anak SLB yang tersebar di seluruh Banten, kami semua  dengan “dunia”nya masing-masing berkumpul menjadi satu di rumah ini — Rumah Dunia. Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Mas Gola Gong dan Mbak Tias, empunya Rumah Dunia, Relawan RD yang banyak membantu pelaksanaan acara, Koelit Ketjil yang mengatur seluruh pertemuan kami ini, Bu Bilqis dan Pak Didik yang membina anak-anak SLB Banten, ibu-ibu guru lainnya, Murid-murid SLB yang hadir dalam acara tersebut. Semoga pertemuan ini bisa menjadi energi baru, awal persahabatan dan silaturahmi yang berpusat di Rumah Dunia. Dan kami berdoa Rumah Dunia dapat menjadi pusatnya cendekia Banten.

BANZAIIII!

Tanjung Lesung

Berawal dari rencana mengunjungi Rumah Dunia di Serang, aku dan Ria cari-cari tempat vacation yang enak di sekitar Ujung Jawa Barat itu. Maklum kami berdua memang sudah jenuh dengan kesibukan pekerjaan. Ria sebagai IT yang tidak mengenal waktu, dan aku sebagai ibu rumah tangga, keduanya profesi yang membutuhkan alert 24/7. Melalui percakapan lewat YM kami sepakat untuk VACATION bersama.

Tadinya kami mau pergi ke Anyer, tapi waktu Koelit Ketjil (KK) yang empunya Serang dan sebagai  EO untuk acara di Rumah Dunia itu menyebutkan “Tanjung Lesung”, aku mulai mencari via internet info mengenai Tanjung Lesung, dan mengontak marketing officernya, mBak Titi. Kupikir masih cukup banyak waktu, karena aku memesan villa Fiji nya masih satu setengah bulan sebelum berangkat. Tapi apa mau dikata, ada rombongan perusahaan sejumlah 200 orang yang mau pakai semua villa yang ada. Biasalah nasib minoritas, selalu terdepak oleh mayoritas. Jadi pelajaran untukku juga, jangan percaya pada travel biro/pengelolaan dari Indonesia. Meskipun sudah bayar DP pun (lewat bank Indonesia) , belum tentu bisa dapat yang kamu inginkan.

Jadi, sampai saat-saat terakhir aku belum dapat kepastian soal villa, meskipun si mbak Titinya sudah memberitahukan bahwa dia akan usahakan villa milik pribadi (tidak dikelola managemen). Villa milik pribadi berarti aku harus masak sendiri atau makan di restoran (meskipun memang bayarnya di bawah standar harga managemen hotel). Udah terbayang juga repotnya.

Ada 3 kamar seperti ini dalam villa Bora-bora yang mengambil arsitektur bali

Kami menginap di Villa Bora-bora 3 namanya, villa ini tanpa kolam renang. Beruntunglah aku karena aku dapat villa yang jauh lebih bagus daripada foto-foto yang dikirim sebelumnya lewat email. Berangkat hari jumat itu molor melebih waktu yang ditentukan sebelumnya yang jam 9 pagi (plan I) dan 12 siang (plan ke2). Tapi kita berusaha berangkat sebelum pukul 4 sore, sebelum terjebak macet.Kami menumpang mobil yang datang dari Bandung. Mobilnya masih gres sehingga berasa aman di perjalanan, mana yang nyetir handal lagi karena terbiasa nyetir antar pulau kota.

Sampai di Serang, kami langsung menuju Carrefour untuk membeli perbekalan, dan snack untuk anak-anak di Rumah Dunia. Belanjalah kita dan memenuhi bagasi mobil yang sudah penuh. Untung masih bisa masuk. Kami juga bertemu KK di Carrefour dan sambil briefing sedikit acara, kami juga membeli peralatan main. Menurut rencana tadinya KK akan bergabung dengan kami keesokan harinya, tapi ternyata mendapat ijin dari istrinya untuk menginap bersama kami. Jadi kami mampir dulu di rumahnya untuk ambil baju segala. Nah, untung juga kami mampir tuh, karena baru tahu bahwa ada paku nancap di ban mobil. Jadi deh kami menunggu ganti ban dulu di Serang.

Sayang sekali Win, istri KK tidak bisa ikut bersama kami karena keesokan harinya pagi-pagi dia harus mengajar. Aku bisa bayangin murid-muridnya pasti tersepona pada kecantikan Win (makanya KK juga langsung terjerat yah hihihi). Mereka baru saja menikah tanggal 20 Juli lalu. (selamat yah)

tampak depan villa, di mukanya terbentang halaman yang luas, dan ada yang mulai dibangun. Ayo siapa yang mau beli, nanti aku kenalin ke Mbak Titi. komisi untukku cukup nginap gratis kalo aku ke jkt. gimana?

Perjalanan panjang dari Serang ke Tanjung Lesung di dalam gelap dan jalan berlubang-lubang. Mana kami masih harus mencari lewat papan penunjuk. Rasanya jalan tak ada ujung. Riku dan Kai tertidur dalam pelukan KK kecapekan si Kai bermain perang-perangan campur bahasa Jepang dan Jawa. Dia (kai) sampai fasih mengucapkan “hantemono”….

Ada bangunan indah yang kami temukan mendekati Tanjung Lesung, yaitu Pembangkit Listrik PLTU sepertinya. Indah karena diterangi lampu-lampu. Sayang kita tidak berhenti di sini untuk foto-foto, karena kami was was jam berapa bisa sampai di villa. Padahal bagus tuh kalau foto-foto di situ, bisa buat foto pre-wed juga (tapi jangan sengaja ke sini… doooh jauhnya hahahaha).

Jalan mulai berbau air laut, dan kami tahu bahwa di sebelah kanan kami laut. Tapi karena gelap kami tidak tahu apakah itu indah atau tidak. Sampai di pintu gerbang masuk Tanjung Lesung pun ternyata masih jauh masuk ke dalam, melewati rimbunan pohon yang… indah tapi seram. Tadinya sempat sih mau turun foto-foto, tapi kok jadi ngeri sendiri kalau nanti di fotonya ada yang muncul hiiiiiiiiii hihihih.

Jalan masuk kompleks di siang hari, kalau malam hiiiii

Kami masuk kompleks Kaalica Villa dan disuruh ke arah kiri tempat villa kami berdiri. Amang Udin yang menjaga di situ ikut membantu kami menurunkan barang-barang yang seabreg-abreg. Dan yang stupid, aku biasanya selalu memotret bangunan/kamar hotel yang aku akan tempati sebelum bongkar barang. Eh kali ini aku lupa sama sekali. Karena kami sampai itu sudah jam 10 lewat dan lapar! Jadi pertama-tama yang aku buat adalah masak nasi 🙂

Ada 3 orang yang tidak jadi menginap bersama kami, sayang sekali.

Untung aku sempat membeli makanan jadi dari AW, paket nasi dan ayam goreng, tinggal menambah sup sayuran. Anak-anak juga terbangun sehingga kami makan bersama-sama pukul 11 malam. Hari sudah berganti ketika kami menempati kamar kami masing-masing.  Villa ini mempunyai 3 kamar sehingga KK dan DM menempati satu kamar, aku dan Ria satu kamar,  Riku dan Kai juga satu kamar. Malam itu kami tertidur pulas Zzzzz.

Aku terbangun pukul 5 dan mencoba mencari akses internet memakai Flash… doooh sulitnya minta ampun. Jangankan akses internet, jaringan HP saja mati nyala. Bener-bener tempat yang bagus untuk menyepi dan memutuskan hubungan dengan dunia! Cocok untuk penulis. (melirik seseorang yang pegang BB terus). Aku sempat keluar villa untuk mencari sunrise, tapi aku tidak tahu arah ke pantainya di mana, sehingga akhirnya cuma jalan-jalan sekitar villa dan kembali serta bersiap membuat sarapan pagi.

Begitu anak-anak bangun, mereka bermain di pantai bersama KK. Untung saja ada dia sehingga aku bisa jadi fotografernya. Lucu sekali melihat Kai yang bermain ombak dan sesekali tersedak air laut. Pantai yang indah itu hanya sepotong, tapi cukup memberikan keceriaan bagi anak-anakku.

bisa sewa sepeda. satu jam nya 40rb rupiah

well, menu kami hari Sabtu itu benar-benar hanya leyeh-leyeh, sarapan, main di pantai, makan, leyeh-leyeh lagi (Ria sih masih sambil kerja tuh). What a wonderful life deh… Sekitar jam 3 sore, akhirnya aku berdua Ria pergi ke pantai dan…photo session deh. Bener-bener berpose untuk foto, padahal aku tuh kan orangnya kaku sekali dan tidak suka berpose. Untung kameraman nya si Ria, jadi lupain urat malunya hahhaa. Jadilah kita gantian menjadi model dan fotografer.

Pantai putih, ombak dan karang serta langit biru, perpaduan yang indah sekali untuk berfoto. Tapi lama-lama aku jadi tidak enak hatinya dan untung saja pas aku kembali ke villa, bertemu dengan Riku yang berlari ke luar sambil menangis. “Mama lama sekali, aku takut. Kai nangis minta susu dan aku ngga tau bagaimana bikin susunya”. Memang aku tinggalkan anak-anak sendirian di villa karena tidak ada yang bisa dititipkan. Riku sibuk dengan DS nya sedangkan Kai bobo waktu aku pergi. Aku jadi menyesal juga, dan sambil peluk Riku, aku cepat-cepat lari membuat susu untuk Kai. Selesailah waktuku untuk menikmati pantai sendirian (tanpa anak-anak), karena setelah itu mulai menyiapkan makan malam dan packing. Foto-foto di pantai itu akan menjadi kenangan tersendiri bagiku. Terima kasih ya Ri.

Kurang bagus hasilnya karena melawan cahaya, tapi apa boleh buat, kami lupa membawa tripod, sehingga terpaksa menaruh kamera di atas karang

Minggu jam 8 pagi kami berangkat ke Serang meninggalkan tempat tetirah kami di Tanjung Lesung. Mungkin lain kali harus mencari pantai yang lebih luas dan bisa menikmati sunset dan sunrise, karena letak pantai TL ini kurang strategis. Well, next time will be Bali maybe, dan nabung beli DLSR ahhh.

goodbye Tanjung Lesung…. the end of my healing getaway!