Arsip Bulanan: Juli 2010

Lembab

Semenjak tinggal di Tokyo, aku mengetahui bahwa kadar kelembaban udara itu jauuuh lebih penting daripada suhu udara.  Pada musim dingin memang otomatis kelembaban turun, seamikin rendah kadar kelembaban udara menjadi kering dan…dingin. Belum lagi kemungkinan terjadi kebakaran yang amat tinggi jika kelembaban itu rendah. Biasanya kelembaban musim dingin berkisar 20-30 derajat.

Pada musim panas, kelembaban akan tinggi dan ini yang menyebabkan kita hidup dalam sauna. Uap-uap air bergentayangan di udara, membuat kita juga susah nafas (aku benci sauna!). Dan di Hongkong ini kelembabannya bisa mencapai 100 persen. Tahunya bagaimana? Tentu saja ada pengukur kelembaban, dan yang pasti Kimiyo, adikku itu punya alat dehumidifier, alat yang menyerap kandungan uap air di udara, dan biasanya dalam waktu setengah hari saja penampungan airnya penuh dan harus dibuang.

jemur di apartemen

Karena apartemen Kim tidak memperbolehkan menjemur baju di jendela luar, maka baju akan dijemur di dalam kamar yang terkena sinar matahari langsung dan setiap malam dipasang alat pengering udara dan AC. Memang di Jepang pun apartemen mewah mengharapkan baju-baju dikeringkan bukan secara alami, tapi memakai mesi pengering baju. Akibatnya apartemen Kim yang memang sudah bagus karena mewah itu juga sedap dipandang karena tidak ada baju-baju melambai-lambai di jendela. Lain sekali dengan kebanyakan apartemen di Hongkong. Pemandangan jemuran baju seakan sudah harus kita terima sebagai bagian dari paket wisata.

pemandangan yang tidak bisa ditutupi demi pariwisata

Satu hal juga yang membuat aku bengong di Hongkong, adalah begitu padatnya kota dengan bangunan apartemen yang kecil tapi tinggi sekali. Aku rasa minimum 20 tingkat tuh. Laksana batang pencil yang ditancapkan pada tanah.  Hongkong amat tidak cocok untukku, yang phobia ketinggian. Meskipun aku tahu pemandangan pada malam hari dari ketinggian itu bagus sekali. Hongkong by night! Tapi… itu kalau tidak terhalang bangunan lain yang juga sama tingginya hehehe.

Malam pertama kami tiba di Hongkong, kami tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk mencari restoran di dalam kota. Kim memang mengajak aku pergi makan ke luar, tapi itu berarti kami harus pergi naik bus lagi. Wah aku tidak yakin Kai bisa tahan tidak tidur dalam perjalanan. Dan aku tidak mau menggendong Kai selama perjalanan. Sayang badan(ku).

Restoran apartemen yang menyediakan berbagai menu. Ada mbak Jawa di kanan belakang

Delivery saja! pikirku. Tapi ternyata Kim punya alternatif lebih bagus, yaitu pergi ke restoran dalam apartemennya. What? Dalam apartemen itu ada restoran? Dan ternyata memang ada restoran, ada kolam renang, ada ruang bermain anak-anak, ada perpustakaan dan sarana-sarana lain bagaikan hotel. Dan Riku-pun jatuh hati!

library, katanya Kim, boleh pinjam seenaknya, tanpa ada batas waktu pengembalian. Wah itu namanya gudang buku, bukan perpustakaan

“Mama, aku mau tinggal seperti di apartemen ini…”
“Ngga bisa Riku, selain mahal, Papa Gen tidak suka”
Meskipun pekerjaannya berhubungan dengan perhotelan a.k.a hospitality, Gen paling tidak suka tinggal di hotel atau apartemen mirip hotel. Kalau untuk menginap sampai maksimum 1 minggu sih OK, tapi untuk hidup bertahun-tahun? No way.
“Bayangkan bentuk bangunan yang sama semua, pintunya sama. Apa kamu tidak takut salah mengetuk pintu? Kita bagaikan robot yang masuk kerangkeng yang bertuliskan nomor di atasnya. Belum lagi masalah sosialisasi antar penghuni apartemen. Ribet” Begitu katanya, waktu aku memberitahukannya bahwa ada sebuah kompleks mansion (apartemen) dengan 1000 unit kamar yang dibangun di kota sebelah kami. Kami memang sedang memikirkan pindah rumah, tapi tidak mau ke tempat yang seperti “hotel” yang disukai Riku.

Jadilah kami pergi ke restoran dalam apartemen yang benar-benar penuh! Ternyata banyak penghuni yang juga malas masak! Dan jumlah mereka tidak tanggung-tanggung deh. Setiap table paling sedikit 8 orang,  bapak-ibu, opa-oma, anak-anak + baby sitter….. dan sssttt baby sitter itu berbahasa Jawa.

Kimiyo cerita bahwa banyak baby sitter yang berbahasa Indonesia yang tinggal bersama majikan mereka di apartemen itu. Dan begitu mereka mengetahui Kimiyo berbahasa Indonesia, mereka langsung akrab, dan kadang-kadang memberikan perhatian khusus untuk Ao, anak Kimiyo di taman, sementara Kim nya ngobrol ngalor-ngidul dengan temannya yang lain. Bahasa memang memberikan sentuhan keakraban yang lain dibandingkan dengan jika kita tidak tahu bahasanya.

foto bersama di lobby tower

Tak disangka setelah kembali dari restoran, Masa-san, suami Kim kembali dari kantor dan akhirnya kami melewatkan acara “kekeluargaan” dalam apartemen, termasuk membuat pertunjukan musik dari musician cilik. Yang satu menabuh drum, yang satu gitar, dan ukulele. Keakraban seperti ini akan selalu kami rindukan.

Perjalanan

Meskipun pada dasarnya aku orang “rumahan” a.k.a. domestik yang malas bepergian kalau tidak ada tujuan, tapi aku suka pada perjalanan – traveling – tabi. Karena perjalanan tidak harus berarti berwisata saja, tapi mengamati, dan itu hobiku…. mengamati semua yang ada dalam sebuah perpindahan ke suatu tempat maupun yang lebih abstrak, perjalanan hati…(cihuyyy)

Perjalanan d’ miyashita kadang terencana, lebih banyak nariyuki (seenaknya saja, tanpa rencana, what will be will be), tapi ada juga yang perlu perencanaan lebih matang dan jauh hari terutama karena memang begitulah sifat orang Jepang. Kalau bisa sebulan sebelumnya. Meskipun aku tahu, kadang (baca sering) berhubungan dengan orang Indonesia harus siap untuk bisa merubah segalanya, bahkan menerima jika terjadi pembatalan.

Dan meskipun aku sebetulnya tidak suka terlambat, sejak mempunyai anak aku “tahu diri” dan lebih bisa menerima keterlambatan. Anything could happen with children.  Ya tiba-tiba mau boker atau muntah sebelum berangkat, atau bajunya ketumpahan air minum sehingga harus ganti baju lagi, and so on, and so on. Seorang ibu harus menyiapkan seluruh perlengkapan anak-anak, dan dirinya, dan …suaminya…hiks. (Kalau sudah begini rasanya ingin satu hari 36 jam atau tangan sepuluh, atau ada time stopper hihihi)

Sabtu, 24 Juli akhirnya kami berangkat jam 6:45 dari rumah menuju bandara Narita. Rencana awal jam 5 berangkat (dan time limit jam 7 sudah harus berangkat karena butuh waktu 2 jam untuk ke Narita), apa daya semua ngga bisa dibangunin termasuk sang supir. Dan benar, kami terjebak macet sampai di daerah Chiba. Di jalanan yang merayap seperti kura-kura itu, aku cuma bisa merem, dan berdoa semoga tidak terlambat.
“Jam take off nya jam 11 pas ya mel?”
“Ya. ”
“Kalau terlambat gimana?”
“Ngga tau, ngga pernah telat sih” (padahal pernah tuh seperti yang aku tulis di Late Passenger hehehe. Tapi itu kan bersama orang penting!)
“Tenang aja, what will be will be”, sambil dalam hati aku pikir kalaupun harus mengubah jadwal perjalanan kali ini, aku siap deh.

sarapan sambil berdiri di McD

Dan begitu waktu menunjukkan pukul 9 pagi (waktu mulai cek in) kami sudah tinggal 20 km lagi dari bandara dan lancar. Baru kali ini aku senang Gen bisa ngebut seperti itu.  Turunkan koper menuju ke cek in counter sementara Gen parkir mobil. Dan antri cukup lama sehingga kami cuma punya waktu 45 menit sebelum boarding. Wah, mau makan pagi dengan santai juga ngga bisa, karena aku biasakan masuk gate untuk pemeriksaan imigrasi etc minimum 30 menit sebelum boarding.  Tapi lapar! Jadi aku suruh Gen membeli McD cepat-cepat sementara aku menulis kartu imigrasi. Makan sambil berdiri di counter! (Orang Jepang sih biasa makan soba –mie Jepang– sambil berdiri. Kalau orang Indonesia mana bisa hihihi. )

Dalam perjalanan mudik kali ini aku memakai maskapai Cathay Pasific. Karena kedua maskapai yang biasa kupakai JAL dan SQ muahaaal sekali. Biasanya memang semahal apapun aku usahalan pakai kedua armada ini, karena membawa bayi itu sulit, sehingga lebih suka direct flight. Tapi karena anak-anak sudah mulai besar, aku tidak perlu memikirkan Riku lagi, bahkan Riku sudah bisa banyak membantu aku. Lagi pula Kai juga sudah lancar jalan, kecuali kalau lagi rewel saja aku perlu menggendong dia. So, aku putuskan mencoba maskapai CX ini yang jauuh lebih murah dari yang biasa kupakai.

Dalam pesawat CX...makanannya mayan enak loh!

Selain dari murahnya tiket (ada juga yang lebih murah, tapi lewat Korea atau Cina… nanti kalau anak-anak lebih besar lagi), aku mempunyai tujuan khusus, yaitu berkunjung ke kota “Adikku”, Hongkong.

Dari dulu aku ingin mampir Hongkong, tapi selalu tidak mendapat ijin dari Big Boss di Jakarta alias papaku! “Bahaya, anak perempuan jalan ke Hongkong!” (padahal si Tina udah pernah tuh ke sana … emang lain sih Tina bisa beladiri Kempo, aku  bela diri cuma bisa pakai teriakan hihihi)

Dalam bandara HongKong... naik ban berjalan yang tak ada hentinya

So, setelah perjalanan 4,5 jam kami sampai di Hongkong pukul 2:30 siang. Pengurusan imigrasi yang cukup cepat (duuuuh coba deh kalo imigrasi masuk Indonesia…lama!) , mengambil koper dan keluar terminal. Aku harus menghabiskan waktu di Bandara Hongkong sampai pukul 5 sore, karena sang tuan rumah Kimiyo baru pulang sampai apartemennya pukul 5:30 sore. Aku mencari penitipan koper di bandara untuk menitipkan dua koper (kami membawa 3 koper) yang tidak diperlukan di Hongkong. Dan baru kali itu aku sadar, bahwa aku tidak prepare informasi berapa banyak uang yang harus aku tukar ke Hongkong Dollar. Meskipun hampir semua toko menerima credit card, aku tetap butuh uang tunai untuk ongkos perjalanan naik taxi, atau bus, atau makan/ minum. Aku cukup bingung menghitung harga barang dengan HK dollar, meskipun akhirnya aku tahu bahwa 1 HK dollar kira-kira 11-12 yen.

kecapekan jalan mundar-mandir jadi duduk di atas trolley dan mama yang harus jalan sambil mendorong!

Sambil menunggu di lobby yang luas, anak-anak bermain dan kami bertiga minum Chocholate Cream dari Starbuck yang ada di depan kami. Harga minuman itu 32 HK$ berarti sama dengan 350 yen- an. Sama lah dengan di Jepang, dan….aku jarang sekali  membeli kopi di gerai ini di Tokyo. Sayang duitnya, karena dengan harga segitu kami bisa membeli satu bento nasi makan siang yang cukup mengenyangkan. Starbuck gituan hanya cocok untuk mereka yang single!  hahaha (Kalau sudah jadi ibu RT mode-on peliiiiit banget deh gue!)

Aku sempat connect internet dengan fasilitas wi-fi free di HongKong airport. Memang di tempat seperti begini yang paling mudah dibuka adalah YM, twitter, FB ,  TE? sampai mabok nungguin juga tidak terbuka hihihi. Well apapun deh asal bisa membuang waktu sambil menunggu jam 5.  Dan satu yang aku amati, bandara Hongkong ini memang sudah canggih. Banyak sarana yang sudah memakai otomatisasi seperti WC dan pintu taxi, dan berbahasa Jepang! (pasti untuk menarik wisatawan Jepang tuh). Berasa di Narita deh (bahkan kesannya bandara Hong Kong lebih luas dan terang). Jadi aku bisa mengerti kenapa Ria mengatakan dia suka di Hongkong.

Untuk ke apartemennya Kimiyo kami perlu naik taxi merah ini

Nah, teng jam 5 kami menuju ke pangkalan taxi. Ternyata di sini setiap daerah dikuasai oleh taxi tertentu.Waktu aku sebutkan alamat rumah Kimiyo, aku disuruh naik taksi berwarna merah. Jadi kami menuju pangkalan taksi merah itu, dan mendapat taksi nomor satu…. Dan disitu aku kaget! terkaget-kaget! U know what? Si supir Taksi ini mirip sekali mukanya dengan Mas NH18 hihihi…. Loh kok mas ada di sini? Untung aku ngga tanya dalam bahasa Indonesia hehehehe. Si Uncle ini membantu kami menaikkan koper dan aku tunjukkan alamat yang kami tuju. Doooooh dia ngga ngerti bahasa Inggris sama sekali. Mampus deh gue (mas NH versi Hongkong ini perlu ditraining kayaknya deh :D)

Dalam taxi melintasi jembatan BUKAN suramadu hehehe. Bener kan mirip mas NH? Coba kaca spionnya gedean dikit, pasti keliatan tuh. Aku pengen motret dari depan tapi no chance sih hihihi

Ternyata menurut si Mas NH palsu (tentu saja dalam bahasa sono), daerah yang kami mau tuju ada dua, satu di pulau terpisah dr Hongkong, dan satu di Hongkongnya. Biarpun aku sudah sebut di Hongkongnya dia tetap ngga mudeng, sampai dia menyodorkan HPnya dan menyuruh aku telepon Kimiyo! Oiiii emang si Kimiyo bisa bahasa sini? Tapi sepertinya dia bisa mengerti penjelasan Kimiyo, dan kami diantar ke apartemen Kimiyo dengan selamat. Empat puluh menit dari bandara dan biayanya 340 HK$ (argo awal di sini 18$).

Oh ya, sebelum lupa…. Kanji di Hongkong ini mirip dengan kanji kuno Jepang, jadi ada beberapa yang aku bisa baca, dan yang lucu TAKUSI (taxi) dalam tulisan di sini dibaca secara jepang menjadi Tekisi 的士.

Sampailah kami di apartemen Kimiyo, dan mata kami terbelalak karena apartemen ini termasuk apartemen eksklusif dan bagus. Seperti Hotel! Kata Riku. Well, dengan menjejakkan kaki di apartemen Kimiyo ini, kami memulai perjalanan kami di Hongkong.

3 boys --Riku-Kai-Ao-- di lobby apartemen Kimiyo

“Adik”

Aku sengaja menuliskan “adik” dalam tanda petik, memang untuk merujuk seseorang yang usianya lebih muda dari kita, tidak ada hubungan darah tapi keakrabannya bagaikan saudara sekandung. Memang “adik ketemu gede” tapi bukan sebagai kelakar untuk menutupi hubungan khusus dengan lawan jenis (sering kan tuh jika bertemu pasangan, ditanya cewek itu siapa? Lalu dijawab “Adik”…. adik ketemu gede) dan memang bisanya kita bertemu “adik” (atau “kakak”) ini pada saat kita sudah dewasa. Aku sendiri mempunyai beberapa orang yang kuanggap “adik” (dan dia menganggap aku “kakak”) , baik di ruang nyata maupun di dunia maya.

Aku bertemu dia di Jepang, tahun April 1993, di ruang seminar professor MS di Yokohama National University. Aku sebagai mahasiswa peneliti yang waktu itu tugasku bukan hanya meneliti kehidupan kampus tapi juga beradaptasi pada kehidupan di Jepang, sebelum melangkah menjadi mahasiswa Universitas. Ini merupakan “syarat” tidak tertulis untuk mereka yang ingin belajar S2 ke Jepang, harus melalui tahapan “kenkyusei” (Mahasiswa Peneliti). Tugasku waktu itu hanya mengikuti kuliah-kuliah yang diberikan professor pembimbingku, mengikuti “seminar” khusus dengan dosen pembimbing sambil mempersiapkan ujian masuk S2, mengikuti pelajaran tambahan bahasa Jepang (yang akhirnya oleh guru-guru bahasa di YNU dianggap aku tidak perlu mengikutinya karena sudah cukup. “Kamu lebih baik langsung ikut kuliah lain, jangan buang waktu di sini”)

Pihak universitas waktu menyediakan program Tutoring bagi mahasiswa asing, MS sensei kemudian menunjuk Kimiyo dan Kayoko, mahasiswa tingkat 3 tahun itu untuk menjadi mentorku. Meskipun sebetulnya tidak diperlukan karena aku sudah bisa bahasa Jepang, tapi aku merasa beruntung karena dengan “penugasan” inilah aku bisa akrab dengan Kimiyo. 

Karena aku sudah bisa bahasa Jepang, sang dosen menugaskan Kimiyo untuk “berbuat apa saja laksana mentor”, jadi jam pertemuan mentoring kami biasanya kami pakai untuk berwisata bersama. Bukannya belajar, malahan main! hehehe (dan ini dengan persetujuan sensei loh) Kami menjelajah daerah wisata kamakura bersama, masak bersama, karaoke bersama (lagu favorit kami “Natsu no owari no Harmony — Harmoni di akhir musim panas), merayakan hari Natal bersama di kamar kost ku yang sempit, dll. pokoknya isinya main mulu deh.

meeting sebelum menjadi MC untuk acara natal. Kimiyo bahasa Jepang, aku bahasa Indonesia, dan sambil main-main di akhir acara, tukar bahasa.

Bulan Februari 1994, kedua mentorku itu akhirnya ikut bersama ku pulang kampung, untuk berwisata di Jakarta. Ini adalah kedatangan Kimiyo yang pertama ke Jakarta dan mungkin  boleh dikatakan merupakan “titik awal” jalan hidup Kimiyo sehingga menjadi seperti sekarang ini. Aku mengajaknya ke MONAS. Kami naik puncak Monas bersama, (menaiki lift pesing nan pengap), dan kami juga mengunjungi musium perjuangan di bawah pelataran monas. Museum yang rada gelap, penuh diorama-diorama perjalanan bangsa Indonesia. Dan di satu diorama itu, Kimiyo terhenti…dan …terkejut! Sebuah diorama yang menggambarkan kekejaman serdadu Jepang terhadap masyarakat Indonesia di bawah pendudukan Jepang.

Kimiyo dengan alm. opa Beul (meletus) saudaraku yang pernah menjadi romusha di Nagasaki. Mengakhiri pertemuan yang diawali dengan rasa tidak suka, dengan pernyataan opa, "Ternyata ada juga orang Jepang muda yang baik dan berkemauan keras mempelajari sejarah Indonesia-Jepang"

Loh? ada apa ini? kenapa bisa begitu? kenapa negaraku berbuat seperti ini terhadap negaranya Imelda? — mungkin begitu pertanyaan Kimiyo dalam hati. Memang aku tak bisa menyalahkan angkatan Kimiyo /generasi muda Jepang yang sama sekali tidak tahu bahwa negaranya pernah menjajah Indonesia (Kimiyo memang sudah tahu tentang pendudukan Jepang, tapi tidak menyangka se”biadab” itu). Kebanyakan generasi muda Jepang hanya tahu Jepang menjajah Korea dan Cina (Manchuria), tapi tidak menjajah Indonesia. Kemudian aku jelaskan… memang Indonesia pernah mengalami penjajahan Jepang selama 3 tahun, meskipun banyak yang ramah pada orang Jepang sekarang, belum tentu generasi yang lebih tua dapat “menerima” orang Jepang dengan ramah.

Asal pembaca TE tahu, memang dalam buku sejarah di Jepang, tidak ada yang menuliskan bahwa “Indonesia merdeka dari Jepang tanggal 17 Agustus 1945”. Yang ada “Indonesia merdeka dari sekutu tahun 1948”.

Berawal dari “shock”akan ketidaktahuan sejarah Indonesia-Jepang inilah, Kimiyo kemudian mengambil tema penulisan skripsinya waktu itu, “Pendudukan Jepang yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah Indonesia”. Dia ingin mengetahui bagaimana orang Indonesia bisa “menerima” kehadiran orang Jepang dengan “ramah” saat itu padahal sudah mengalami perlakuan kejam dari serdadu Jepang. Kimiyo mengadakan penelitian terhadap buku-buku pelajaran sejarah Jepang dan Indonesia (dia mempunyai sertifikat menjadi guru SD Jepang – wajib dimiliki oleh semua yang mau mengajar di SD, yang macam sertifikasi guru di Indonesia deh.)

Kampai persaudaraan, melewati musim panas bersama, di kampung asal Kimiyo, Hachinohe. Kimiyo-Imelda-Tina

MS sensei membimbing skripsinya dan secara tidak langsung gantian “menugaskan” aku membantu Kimiyo untuk menulis skripsinya. Terutama untuk dokumen berbahasa Indonesia. Skripsi Kimiyo selesai Maret 1995, dan mulailah Kimiyo melangkah sebagai “manusia masyarakat” Shakaijin 社会人, seorang dewasa yang patut bekerja sebagai anggota masyarakat. Tapi saat itu dalam kepala Kimiyo hanya ada satu keputusan, “Aku harus belajar bahasa Indonesia di Indonesia”. Memang Kimiyo lulus dari Yokohama National University, tapi hubungan kami, Imelda dan Kimiyo, tidak berhenti saat itu, malah hubungan sebagai “adik-kakak” dimulai saat itu.

Kimiyo di depan rumah Jkt jaman BIPA

Kimiyo berangkat ke Jakarta sebagai mahasiswa BIPA -UI (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing -UI), dan tinggal indekost di rumahku di Jakarta. Imelda di Jepang, Kimiyo di Jakarta! Aku berkutat dengan dokumen sejarah di Tokyo-Yokohama, sedangkan Kimiyo berkutat dengan buku-buku bahasa Indonesia di Jakarta. Dia juga menjadi guru bahasa Jepang adik “real”ku Tina yang waktu itu mempersiapkan diri  mengambil S2 arsitektur di Jepang.

Give and Take…. selalu begitu dalam kehidupan ini. Tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Dan dalam setiap perjalanan hidup kita, kita pasti akan bertemu dengan seseorang yang bisa mengubah “arah” kehidupan yang mungkin awalnya sudah kita rencanakan. Bisa saja berlangsung sesuai rencana, tapi bisa juga “melenceng” arahnya. Tapi, kita harus tetap yakini, bahwa “perjalanan” hidup kita PASTI akan menuju kehidupan yang LEBIH BAIK.

Aku ingin berterima kasih pada ibunda Kimiyo (tentu juga papanya) yang mau dan memberikan ijin Kimiyo untuk melanjutkan belajar bahasa Indonesia ke Jakarta. Sebagai seorang ibu pasti tidak ingin tinggal berjauhan dengan anak perempuannya. Memang aku tahu bahwa beliau sudah melepas Kimiyo belajar ke Yokohama (mereka berasal dari Hachinohe, utara Jepang), tapi bagaimanapun juga melepas kepergian seorang anak perempuan ke negara lain butuh “keberanian” dan kepasrahan bahwa jalan hidup anaknya akan berubah. Segala kemungkinan bisa terjadi, seperti aku yang akhirnya menikah dengan orang Jepang, seorang ibu harus bisa menerima bahwa memberikan ijin anak perempuannya itu = merelakan anaknya tidak “kembali” lagi a.k.a hidup berjauhan.
Well bukannya semua orang memang melakukan “perjalanan hidup”nya sendiri? Dan memang aku tahu meskipun sejak Kimiyo menyelesaikan SMA nya, kemudian melanjutkan kuliah di daerah lain, kemudian ke Indonesia, waktu yang dilewatkan bersama ibu-anak itu sedikit, tapi banyak pengalaman batin yang terjadi, yang mungkin (aku rasa sih pasti) memperdalam hubungan ibu dan anak. Semoga ibunda Kimiyo, yang meninggal Maret lalu, terus melindungi kami semua yang masih tinggal di dunia ini.Terutama Kimiyo dengan suami dan anaknya, yang sekarang malahan tinggal di suatu tempat yang tidak diduga-duga. Hongkong!

Tulisan ini aku buat untuk mengenang persahabatan dan persaudaraan seorang Imelda dengan Kimiyo Kaneko (yang sering mengaku sebagai Kimiyo Coutrier) selama 17 tahun. Terlalu banyak pengalaman dan cerita yang terjadi selama 17 tahun perjalanan hidup kita bersama Kim, yang tidak bisa aku tuangkan semua di sini, tapi masih akan ada banyak tahun yang akan kita lewati bersama, meskipun kita berlainan kota bahkan berlainan negara. Dua puluh tahun lagi? lebih? ya… tentu sampai mati. Dan semoga persaudaraan kita, bisa berlanjut sampai ke anak-cucu kita ya.

Imelda dan Kimiyo. Merayakan persaudaraan selama 17 tahun, dan seterusnya.

Summer Festival

Panas! Panas! Panas!…… Tapi kalau terus mengeluh panas, maka kami tidak akan bisa menikmati liburan musim panas kami. Kebetulan hari Jumat tanggal 23 Juli lalu, Gen bisa pulang lebih cepat dari biasanya (padahal mustinya bisa libur satu hari, karena ada urgent terpaksa ngantor setengah hari). Sekitar pukul 7 malam, Gen tanya pada Riku, “Sekolah kamu ngadain natsu matsuri (summer festival)?”. Tapi karena tidak ada pemberitahuan apa-apa dari pihak sekolah, maka Gen naik sepeda untuk mencari tahu asal suara “don don don” tetabuhan dan kerincingan yang biasa dipakai untuk Bon Odori (Tarian musim panas). Dan Gen pulang membawa kabar bahwa memang ada festival “Oyako Bon Ondori” (Tarian musim panas untuk anak dan orang tua) yang diadakan oleh sebuah TK swasta dekat rumah kami. Tentu saja semua warga Nerima bisa datang, dan acara sampai pukul 9 malam.

Kami cepat-cepat makan malam, lalu pergi menuju TK itu, jalan kaki dan cukup jauh untuk ukuran Kai…tapi dia terus berjalan sampai TK itu. Begitu sampai di sana Gen dan Riku langsung berbaur, masuk dalam lingkaran tarian Bon Odori, sedangkan aku dan Kai berdiri di luar lingkaran sambil memotret. Festival musim panas ini merupakan pengalaman pertama bagi Kai setelah hidup 3 tahun di dunia ini, jadi dia memperhatikan dengan seksama.

 

Siapa saja yang datang menikmati acara ini. Banyak pula yang datang memakai yukata dan jinbei (bagi anak laki). Sayang aku tidak sempat memakaikan jinbei pada Riku dan Kai.

Setelah menari 2 putaran tarian, kami menuju tenda jualan yang ada. Memang kecil-kecilan karena rupanya ini adalah kegiatan RW kami. Tidak seperti summer festival di tempat lain yang penuh dengan tenda jualan yakisoba (mie goreng), takoyaki (octopus ball), pisang coklat, ikan bakar dll, di TK ini hanya ada 2 tenda jualan yang dikelola PTA dari TK tersebut dan PTA dari SD sekolah Riku. Mereka menjual pop corn seharga 50 yen dan kakigori (es serut) seharga 100 yen.

 

Di sini juga pertama kali Kai membeli pop corn sendiri. Aku berikan dia 50 yen, dan melihat dia pergi ke tenda itu dan membeli, dan kembali ke tempat aku duduk. Hmmm anak ini ngga ada rasa malu dan takutnya! 

 

Waktu malam memang lebih sejuk daripada siang, angin berhembus semilir ditambah dengan suasana meriah dari summer festival ini membuat kami sangat menikmati malam itu. Pukul 9 malam segala keramaian berhenti dan Riku pulang dengan cukup mahir menarikan Bon Odori. Anak ini, tidak seperti mamanya, kelihatan suka menari dan musik (Aku sama sekali tidak bisa menari dan bermain musik). Dia bisa membaca rythm yang pas…sayangnya dia malas latihan sehingga ketahuan sekali dia tidak bisa harmonika dengan baik. Yang dia suka adalah bermain ukulele dan menyanyi (nah kalau ini ikut mamanya dong! hihihi. Tapi Gen cukup bagus kalau menyanyi meskipun tidak hobi-hobi banget. susah mencari lagu yang pas untuk dia yang bariton untuk dinyanyikan di karaoke)

 

Sambil berjalan pulang, Kai dan Riku ramai mengucapkan terima kasih, dan Riku menagih papanya untuk bermain kembang api, yang sedianya dimainkan sehari sebelumnya tapi papanya keburu tidur kecapekan.

Satu set hanabi (kembang api) aku beli di supermarket, tidak banyak, tapi cukup untuk menikmati pancaran pijar api yang keluar dari setiap batang hanabi yang dibakar. Untuk Kai ini juga pertama kali….dan dia juga tidak takut untuk mencoba. Ribut sekali dia di pelataran parkir apartemen kami.

Dengan membakar senko hanabi yang pijarnya lebih tenang dan indah, kami menutup kegiatan satu hari itu. Kami telah mengawali libur musim panas kami dengan cukup meriah.

main hanabi di lapangan parkir, harus sedia ember berisi air, untuk pencegahan kebakaran.

(Mau) Mati Kepanasan

Sebetulnya sih siapa yang mau mati kepanasan, tapi gejala bahasa seperti ini kan sering terjadi dalam bahasa kita. Hari mau hujan… loh si Hari mana mau hujan hehehe. Dan postinganku kali ini tidak ada hubungannya dengan postingan sahabat saya Yessy yang berjudul: Cacing Kepanasan.  Kenapa juga si cacing saja yang diperhatikan kalau kepanasan ya? Karena dia bergerak terus…. dan bertambah panas? Atau OK deh aku bisa membayangkan mungkin seperti ikan yang dibuat sashimi, menggelepar dulu sebelum akhirnya mati…. ihhhh sudah mulai serem nulisnya jadi aku sudahkan sampai di sini dulu.

Nah, memang hari ini ada 5 orang Jepang yang meninggal karena terlalu panas di daerahnya, Gunma yang hari ini maksimum mencapai 39 derajat. Sedangkan Tokyo max hanya 36 derajat dan dikabarkan 177 orang dilarikan ke rumah sakit. Netchubyo, sakit karena overheat. Dehidrasi diawali dengan pusing, lemas dan akhirnya pingsan. Karenanya di sini berbahaya sekali jika tidak memakai topi, atau parasol (payung untuk matahari). Anak-anak selalu diwanti-wanti untuk minum berkala, dan tidak memforsir diri bermain di bawah terik matahari. Kemarin Riku dimarahi gurunya karena tidak pakai topi mengikuti pelajaran tambahan. Karenanya tadi pagi topi, dan termos minuman aku masukkan langsung ke dalam tasnya. Dan hari ini selesailah pelajaran tambahan ini.

Memang kalau panas seperti ini siapa yang bisa tahan untuk belajar? Meskipun di kelas Riku pakai AC, tetap saja perlu berjalan kaki ke sekolahnya. Kai di penitipan juga hampir seharian berada di dalam kolam karet bermain air supaya tidak dehidrasi. Memang perlu ijin orang tua yang menyatakan bahwa anaknya boleh “pool” berarti memakai celana renang, atau “mizuabi” bermain air dengan pakaian dalam. Dan hari ini juga merupakan hari terakhir Kai mengikuti kelas penitipan sebelum kami masuk summer vacation. Waktu aku jemput Kai tadi, ramai teman-temannya memberikan selamat jalan.

Satu hal yang menarik saya perhatikan di sini sarung lengan. Kalau sarung tangan kan untuk memanaskan tangan di musim dingin. Nah ini yang di-cover hanya lengan yang terbuka, terhadap teriknya sinar matahari. Intinya: orang Jepang tidak mau terbakar kulitnya.  Kalau aku… udah dari sononya item, jadi mau dicover juga percuma hahaha. Tapi emang bener sih perlu “perlindungan” ya dengan arm-cover seperti itu atau sun-block spf tinggi, soalnya tadi pagi aku sempat lihat tangannya Riku, wah udah item rek!

Nah seperti ini sarung lengannya. Aku sih males euy, mending sekalian pakai baju lengan panjang. Apalagi kalau masuk ruangan AC nya...brrr dingin.Gambar diambil dari rakuten.co.jp

Ah tidak-apa-apa… nanti juga di musim dingin bisa kembali menjadi putih! Selama musim panas, memang harus menikmati alam yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Have a nice Summer Holiday friends…..

Nattsu di Natsu

Kalau ditulis bahasa Jepangnya 夏のナッツ,  夏 natsu = musim panas, ナッツ = nattu dari bahasa Inggris “nuts”= kacang.

Kacang…kacang…kacang! Eh tulisan ini jangan dikacangin ya hahaha (kasian si kacang kok jadi istilah pengganti untuk dicuekin ya hihihi). Tapi boleh juga sih soalnya cuma mau mengatakan bahwa hari ini tanggal 22 Juli adalah hari Kacang di Jepang. Di tetapkan oleh Asosiasi Kacang Jepang, bahwa hari ini hari Kacang. Kacang memang makanan yang sehat karena mengandung protein Nabati, cuma kalau kebanyakan makan kacang ada orang yang mengalami problem kulit dengan jerawatan, atau problem pencernaan dengan buang gas (terutama kacang merah tuh, bruine boon bahaya!)

Kacang tanah, kacang kedelai dan kacang hijau yang utama di Indonesia, tapi untuk negara dengan 4 musim mempunyai koleksi kacang yang lebih beragam lagi. Almond dan Walnut diantaranya. Dan kacang-kacangan itu diolah dengan bermacam cara atau dicampur dengan bermacam bahan. Salah satu yang terkenal adalah Almond Arare. Arare adalah sejenis kerupuk yang terbuat dari beras. Kemudian dicampur almond, sehingga rasa kerupuk empuk dipadukan dengan almond yang keras, menjadikan rasa yang harmonis.

Almond Arare, paduan krupuk dan almond. Indonesia juga punya paduan krupuk dan ...kedelai (tempe)

Kacang juga cocok jika dipadukan dengan coklat. Oleh-oleh dari Hawaii yang terkenal adalah macadamia nuts chocolate, sehingga setiap kali aku melihat coklat ini pasti teringat Hawaii. Padahal Singapore juga memajang coklat macadamianya sebagai oleh-oleh negara itu.

Ada satu campuran kacang-kacangan Jepang yang aku sukai. Tapi biasanya memang banyak dijual menjelang musim gugur. Seperti kacang atom yang putih tapi warna dan rasanya macam-macam. Kadang dalam campuran itu juga terdapat ikan kering manis dan ganggang laut. Harganya juga tidak murah (meskipun tidak mahal) tapi sensasi campuran itu memang cukup membuat tangan dan mulut tidak berhenti jika sudah membuka bungkusannya.

Campuran kacang, kerupuk kecil dan ikan teri manis diberi nama Ajigonomi

So, karena hari ini adalah hari Kacang, mari kita makan kacang yuuuk. Oh ya sebagai penutup saya mau memberitahukan sebuah “cara” menyuruh orang Jepang menghafal kata kacang: “Ka-chan wa nattu ga suki” Ka-chan = okaasan = ibu. Ibu suka kacang. Ka-chan wa “kacang” ga suki! Dan memang ibu imelda ini suka kacang hihihi

Have a nice Thurday! Di Tokyo kami menyambut 37 derajat lagi deh hihihi.

Libur Musim Panas

Resmi mulai hari ini Riku memasuki libur musim panas, sampai dengan tanggal 25 Agustus nanti. Tapi dia masih akan ikut pelajaran renang, yang diadakan sepanjang libur musim panas, dan tiga hari pelajaran tambahan bagi mereka yang mau mengulang. Gurunya volunteer untuk mengecek pekerjaan beberapa murid (meskipun pada akhirnya cukup banyak peminat). Memang hanya dari jam 10:40 sampai 12:00. Kalau hari sekolah sesudah itu ada makan bersama, tapi karena sudah masuk libur, maka murid akan pulang ke rumah.

Seperti biasa kalau liburan, kalau di Indonesia ada tugas mengarang, “Liburanku”. Yang menarik di sini “PR” untuk musim panas adalah:
1. Mengulang mata pelajaran bahasa dan berhitung.
2. Menulis 2 kejadian yang menarik selama musim panas. Tapi kertasnya terbagi dua, atasnya untuk menggambar situasi, dan di bawahnya tulisannya. Nanti tugas ini akan dipajang di koridor sekolah.
3. Diberikan 2 lembar kertas “monitoring” tumbuhan yang dipelihara selama musim panas. Karena kami akan mudik, maka Riku tidak bisa menanam tumbuhan. Untuk itu mungkin kami harus mencari tumbuhan yang menarik di Indonesia nanti, sebagai bahan untuk tugas ini.
4. Dalam pelajaran berenang ditentukan level kemampuan berenang. Misalnya level 14 : bisa memasukkan kepala ke dalam air, level 12: bisa membuka mata dalam air, level 9: bisa berenang gaya apa saja sepanjang 5 meter. Dan menurut Riku sih, dia sudah sampai level 9. Tapi karena kami akan mudik, tidak bisa melanjutkan pelajaran berenang, sehingga mungkin aku harus memberikan les berenang khusus setelah kembali dari Indonesia. Katanya Kelurahan Nerima cukup ketat mewajibkan semua anak SD harus bisa berenang. Nah loh!

Jadi hari ini Riku kembali ke rumah pukul 12:30, dalam keadaan lapar dan haus! Wah susah deh kalau liburan begini, anak-anak (kai masih di penitipan sih) lapar terus, apalagi benar-benar panas di luar.  Mau masak? Dapur juga panas, apalagi pakai api kan. Rasanya selama musim panas mau delivery aja deh. Sebetulnya dapurku ini tidak terlalu panas karena aku sengaja memasang AC di ruang tamu yang anginnya bisa sampai ke dapur. Tapi namanya barang elektronik, 10 tahun dipakai dia juga minta pensiun deh. ACku koit! Padahal hari ini di Nerima cukup 37 derajat saja! duh….

Nah, di musim panas begini, biasanya orang mau minum terus. Tapi biasanya kalau terlalu banyak cairan, perut akan kembung. Di sini banyak dijual jelly buah-buahan, seperti di Indonesia juga. Tapi aku belum pernah melihat jelly kopi dan teh dijual di Indonesia. Jadi minuman kopi (kalau Jepang kopi pahit) dan teh akan diberi bubuk agar-agar dan didinginkan. Cukup beri sedikit cream (susu) dingin waktu makan. Sudah menjadi dessert yang menyejukkan. Malah kadang-kadang jelly itu dipotong-potong dan dimasukkan dalam susu dingin.

Yang juga aneh adalah minuman kaleng. Sekarang banyak minuman dingin yang mengandung jelly. Jadi sebelum membuka, kita harus mengocok-ngocok dulu beberapa kali supaya terurai. Dijual mungkin awalnya dalam bentuk padat, sehingga kalau buka dan hendak langsung minum, tidak bisa keluar dari lubang yang ada. Ada bermacam rasa, grape atau jeruk, tapi yang tadi aku belikan untuk Riku adalah cola jelly…. yang pasti kalau coffee jelly dan tea jelly, kita bisa buat sendiri di rumah, tapi cola jelly? susah ya rasanya jadi aneh.

sebelum dibuka/diminum harus dikocok dulu tuh. Katanya Riku sih enak, mamanya tidak kebagian nyicip sih ...hiks...

Memang banyak minuman beragam di sini, tapi yang aku inginkan sekarang adalah… es kelapa/kopyor pakai gula jawa cair …duhhhh… tahan mel …tahan… hihihi

Hari Laut di Kebun Binatang

Aneh ya judulnya? Di Jepang tanggal 19 Juli kemarin memang Hari Laut, hari libur nasional. Sejarahnya ada di postingan terdahulu deh (ubrak abrik aja tahun lalu punya ya)  heheheh. Jadi sejak Sabtu tanggal 17 -18- 19 seluruh Jepang libur panjang… cihuy kan? Tapiiiiii untuk kami tidak cihuy karena Gen cuma bisa libur hari Sabtu, sedangkan hari Minggu dan Seninnya dia harus kerja…. Oh Japanis opis emang gitu dehhh. Sebagai gantinya nanti tgl 22-23 dia akan dapat libur.

Nah… biasanya Gen ke kantor naik mobil, soalnya dia kerja di pedalaman sono, yang bus nya cuma ada 30 menit sekali. Tapi untuk hari Senin kemarin itu berbahaya sekali membawa mobil. Perginya sih ok, tapi pulangnya pasti akan terjebak macet.

Pagi kami bangun udara sudah 30 derajat. Dan katanya di Saitama akan mencapai 36 derajat hari ini. Wahhh… Aku kasihan pada Gen yang harus naik sepeda lagi ke stasiun dekat rumah, dan perjalanan jauh ke kantornya…so, aku menawarkan mengantar dia naik mobil. Atau tepatnya ikut bersama anak-anak dan mobilnya aku bawa pulang gitu hehehe.

Nah, kalau antar Gen, sampai di kantornya jam 9, rasanya mubazir juga kalau langsung pulang. Di dekat kantornya Gen ada sebuah kebun binatang anak-anak milik pemerintah daerah Saitama. Sudah pasti kecil sih tapi lumayan lah untuk anak-anak.

Jadi deh, kami sampai di kebun binatang itu pukul 9:30, karena sempat mampir di Lotteria untuk makan pagi dulu. Biasa, kalau imelda lapar bisa berubah jadi singa.Nanti kan kaget petugasnya kalau koleksi singanya bertambah. (Padahal di bonbin ini tidak ada singa hahaha)

Begitu kami sampai di bonbin itu, membayar hanya 250 yen (dewasa 200 yen dan 50 yen anak SD)… dan memang kecil. Kesanku yah seperti Ragunan lah, cuma lebih kecil dan bersih. Tapi panasnya rek….

Binatangnya juga cuma sedikit tapi ada tempat untuk anak-anak memegang langsung (fureai) anak ayam, marmut dan kura-kura. Untuk anak yang tinggal di kota, tidak ada kesempatan untuk bermain dengan binatang, sehingga banyak anak yang datang ke tempat fureai ini. Termasuk Kai yang takut-takut tapi mau.

Nah, setelah dari tempat fureai yang dimulai jam 10:30 ini, kami ke tempat menunggang kuda. Riku senang sekali, karena sudah lama dia ingin sekali naik kuda. Dan kalau mau naik kuda di Tokyo, musti cari tempat berkuda dan bayarnya cukup mahal. Sedangkan di bonbin ini hanya 100 yen satu putaran. Satu putaran saja sudah cukup!

Untunglah Riku tidak usah menunggu sampai ke Jakarta. Karena dia ingin naik kuda sudah lama, aku berjanji akan mengajak dia ke tempat rekreasi yang bisa naik kudanya di Jakarta… (Puncak atau Bandung). Jadi sekarang daftar tugas aku dalam rangka mudik nanti bisa berkurang sedikit.

Dan yang paling menggembirakan, meskipun panas, anak-anak menyatakan bahwa mereka senang bisa jalan-jalan di HARI SENIN (libur hihihi). Padahal seharusnya kalau panas begini tuh ke tempat yang ada airnya, swimming pool atau laut.

Kertas

Sebetulnya sebelum melihat pameran wayang beber di Museum kertas yang aku sudah tulis di postingan BEBER sebelum ini, kami berkesempatan mengikuti praktek membuat kertas berupa kartu pos. Buru-buru karena kesempatan mencoba hampir ditutup. Kami ikut antri di lantai basement Museum Kertas tempat kegiatan ini dilaksanakan.

Menyimak penjelasan bahan-bahan kertas

Di meja pertama, aku dan Riku mendapat penjelasan bagaimana kertas itu dibuat. Dan waktu itu diperlihatkan bahwa kami akan memakai bekas kemasan susu segar. Kemasan susu itu sebetulnya mempunyai tiga lapisan, jika dua lapisan yang paling luar dikuliti, maka dapat kita lihat kertas yang berserat. Kertas ini dapat direndam air, dan menjadi bubur kertas (karenanya untuk bisa dimasuki susu diberi lapisan kertas tahan air).  Nah karena semua sudah dipersiapkan petugas, kami tinggal mengikuti urutannya saja. Lebih afdol memang kalau melihat fotonya ya.

Memilih saringan bermotif

Kami diminta memilih sebuah saringan kawat bermotif. Motif ini akan menjadi motif bayangan di dalam kertas. Seperti motif bayangan di uang kertas deh. Riku memilih Doraemon, sedangkan aku memilih burung bangau. Burung bangau adalah burung pembawa keberuntungan bagi orang Jepang, dan bisa dipakai kapan saja, tidak perlu melihat musimnya. Sulit memang tinggal di Jepang, apa-apa harus memikirkan musim. Misalnya ya jangan mengirim gunung bersalju di musim panas…. something like that deh. Harus timely gitchuuu.

saringan bermotif dan potongan kertas sebagai pemanis kartu pos

Setelah memilih saringan kawat halus bermotif itu, kami boleh memilih dua guntingan kertas bermotif, atau daun maple. Kertas/daun ini nanti akan “tertanam” dalam kertas putihnya dan mempercantik kartu posnya. Memang daun maple bagus sih ya, cocok dibuat motif. Sebetulnya bisa sih kalau mau memasukkan motif yang lain, tapi adanya cuma itu. Jadi aku dan Riku memilih daun maple beda ukuran.

Nah dengan tambahan motif itu, kami pindah ke meja dengan bak berisi air, dan di sebelahnya bak bubur kertas. Kami masukkan saringan bermotif itu dalam bak, dan sambil merendamnya kami masukkan bubur kertas separuh dan motif daun di tempat yang tidak menutupi motif burung bangau tadi. Jika burung bangaunya di kanan bawah, maka motif daun maple tadi ditekan di bagian atas.

Mengangkat saringan dengan hati-hati agar motif tidak berpindah tempat

Kemudian  kami angkat saringan tadi, yang terbawa adalah bubur kertas+ motif, seperti adonan pudding. Kemudian saringan yang masih mengandung banyak air itu diperas airnya, dengan cara ditekan, dipress dengan alat khusus. Sehingga seluruh kandungan air bisa keluar.

Menekan adonan kertas supaya kandungan air bisa keluar semua dengan alat khusus

Dan terakhirnya tinggal mengeringkan kertas itu memakai seterika. Finishing touch nya cap tempat perangko dan 7 kotak nomor kode pos Jepang.

Menyeterika kartu pos yang masih lembab

Seluruh prosesnya amat cepat (tidak sampai 10 menit) dan menarik, sehingga rasanya kok ingin mempunyai alat itu, dan membuat kartu pos sendiri. Mengirim kartu pos buatan sendiri pasti lain dari yang lain ya. Apalagi kalau ditambah tulisan made in imelda (bukan made in bali Madenya orang Bali loh hihihi). Dan memang toko museum dijual juga kit beserta keterangan untuk pembuatan kertas dari bekas kemasan susu, tapi harganya cukup mahal (menurut aku sih, sekitar 1200 yen).

Dengan kartu pos hasil buatan sendiri

Memang kertas dari kemasan susu ini tidak bisa kena hujan, karena dia nanti akan kembali lagi menjadi bubur kertas. Tapi justru itulah letak prinsip daur ulangnya. Kertas itu bisa didaur-ulang tanpa batas, dan dengan waktu yang cepat. Jadi daripada menggunakan plastik lebih baik menggunakan kertas kan?

Persentasi bahan pembuatan kertas. 61% dari kertas bekas.

Dalam museum memang menjelaskan bahwa konsumsi kertas di Jepang 61% adalah dari kertas bekas yang diolah kembali, 19% dari hutan, 14 % dari kayu tak laik pakai atau limbah kayu (semisal bangunan) dan 6% pulp impor. Kalau dilihat persentasinya, kita bisa tahu bahwa memang Jepang sudah menjalakan eco-paper. Aku tidak tahu bagaimana dengan Indonesia. Mungkin perlu ada penelitian lebih lanjut. Karena Jepang bisa mengolah 61% kertas dari kertas bekas berkat sistem pembuangan sampah yang teratur dari warga, yaitu warga sendiri rajin memilah sampah menurut jenisnya.

Uh si imelda pake nanya-nanya segala. ternyata yang kerja volunter di sini, dulunya pejabat dan orang penting di pabrik kertas loh.

Namun sayangnya konsumsi kertas di dunia terbesar dipegang oleh Amerika, dan Jepang mungkin hanya nomor 4 atau 5 saja (dihitung per kepala). Padahal seakan-akan Jepang banyak memakai kertas. Aku sempat menanyakan hal itu pada petugas di sana. Memang Jepang masih banyak memakai plastik, meskipun plastikpun akhirnya didaur-ulang juga. Aku tidak tanya sih, mana yang lebih murah ongkosnya, daur ulang kertas atau daur ulang plastik. Tapi menurut perkiraanku (mungkin saja salah) daur ulang plastik lebih mahal, karena tidak setiap jenis plastik bisa diolah kembali.

Museum Kertas ini sudah berdiri selama 60 tahun sejak 1950 menempati bekas pabrik Kertas Ouji dan berfungsi untuk menyimpan dokumen mengenai kertas baik kertas buatan Jepang maupun buatan Eropa. Pabrik Kertas Ouji sendiri merupakan pabrik kertas pertama di Jepang (dan ke 6 di dunia) dan didirikan tahun 1873. Pada tahun 1998 Museum Kertas menempati bangunan baru yang sekarang yaitu di dalam Taman Asukayama, bersama  2 museum yang lain.

di depan museum kertas

Paper Museum:

1-1-3 Ouji Kita-ku Tokyo, 114-0002

http://www.papermuseum.jp

HTM: Dewasa 300Yen, pelajar 100Yen

ssst jangan tanya saya soal pabrik kertas di Indonesia ya. Yang pasti beberapa saat yang lalu saya menerima artikel lewat milis, bahwa pabrik kertas leces terganggu operasinya karena tidak ada pasokan gas, karena berhutang sampai 41 milyar rupiah. Saya juga suka heran tentang kertas daur ulang di Jepang, kok hasilnya bisa putih. Soalnya kalau di Indonesia kan kertas daur ulangnya coklat tuh dan kasar. Di sini sampai tidak tahu bahwa itu kertas daur ulang. Dan seperti yang pernah aku tulis (lupa di postingan mana) orang TETAP akan membeli kertas daur ulang meskipun harganya sedikit lebih mahal dari kertas baru. Kata Gen itu sebagai prestige, bahwa perusahaannya ramah lingkungan. Wew…. Kalau kertas daur ulang  tetap dipakai masyarakat, tentu saja akan maju dan diproduksi terus.