Private Interview

Sebetulnya ku lebih suka istilah “private consultation” untuk bahasa Jepang Kojin Mendan 個人面談 suatu sistem pendidikan di sini untuk memonitor perkembangan akademis murid di sekolah SD.  Ini biasanya dilakukan di tengah semester bukan waktu penerimaan raport, supaya jika ada yang kurang bisa ditindaklanjuti oleh orang tua dan guru.

Hari ini pukul 3:30 aku mendapat “jatah” bertemu dengan gurunya Riku selama 15 menit. Entah kenapa, gurunya Riku ini selalu menempatkan aku di paling belakang, mungkin (mungkin loh) dia juga senang bercakap-cakap –ngerumpi– masalah lainnya. Dia merasa dekat denganku, karena katanya, kita kan sama-sama bekerja di bidang pendidikan, jadi bisa saling mengerti.

Jadi aku menerima laporan dari guru Riku mengenai perkembangan pelajaran Riku di sekolah. Waktu kelas satu memang Riku masih belum bisa lancar menulis beberapa hiragana. Tapi sekarang dia sudah bisa menulis kanji yang sulit-sulit juga. Memang masih ada beberapa kesalahan dalam tata bahasa, tapi yang penting Riku selalu enjoy di sekolah. Itu nomor satu! Gurunya juga bilang bahwa Riku sendiri mengaku bahwa lebih suka berhitung daripada bahasa (dan memang nilainya bagus-bagus kalau berhitung), tapi Riku paling “kreatif” di prakarya. Selalu lain dari yang lain, dan begitu pula dengan pemakaian warna-warna waktu menggambar, yang disebut gurunya “lain dari orang Jepang biasanya” 日本人離れ。

Gambar Riku kesan waktu field trip bersama teman-teman ke Kokuu Koen, Saitama

Selain itu Riku juga tidak punya masalah dalam pertemanan, temannya banyak. Pokoknya tidak ada keluhan untuk Riku. Nah, giliran aku yang melaporkan bahwa selama liburan musim panas, kami akan pulkam jadi Riku tidak bisa mengikuti pelajaran berenang yang diadakan selama musim panas. Selain itu setelah libur, murid-murid kelas 2 SD akan mulai menghafal perkalian dengan cara “kuku” 99 sebuah cara menghafal berupa kalimat-kalimat… aku sendiri tidak pernah belajar memakai cara ini, sehingga aku serahkan semuanya pada papanya (Ya jelas lah, aku kan belajar SD di Indonesia hihihi)

Setelah aku melaporkan bahwa kami akan melewatkan musim panas di Indonesia, sang guru kemudian bertanya. “Di Jakarta bisa lihat apa?” “Wahhh banyak bu…” Lalu dia mengatakan bahwa dia ingin pergi ke luar negeri sebelum menikah, dan waktu yang paling tepat adalah liburan musim panas (dan paling mahal memang hihihi). Jadi aku sarankan dia untuk pergi ke Bali dengan paket tour saja. Kecuali dia mau datang ke Jakarta waktu kami berada di Jakarta, sehingga kami akan mengantar dia jalan-jalan. Semoga dia bisa mendapatkan tiket yang sesuai.

Pegangan tangga khusus untuk pemakai kursi roda.

Bener deh, aku keluar kelas sudah cukup laat, sehingga setelah aku memesan foto-foto waktu Riku pergi “field trip” bersama sekolah waktu itu, aku cepat-cepat pulang. Oh ya, kelas dua terletak di lantai dua, sehingga aku harus menuruni tangga, dan saat itu aku sempat mengambil foto pegangan tangga di situ. Pegangan tangga itu khusus dibuat supaya penyandang cacat dengan kursi roda bisa naik tangga. (Tidak ada lift di sekolah pemda di sini). Pemandangan ini juga bisa dilihat di stasiun dan tempat umum lainnya. Pokoknya kalau berbicara tentang fasilitas penyandang cacat di Tokyo, ngga ada habisnya deh…alias bagus gitu. Tidak bagus-bagus amat, tapi dipikirkan.

Setelah aku “berlari” ke rumah mengambil sepeda, aku jemput Kai di penitipan. Dan terpaksa bayar ekstra karena lebih dari waktu yang seharusnya.

Bersiap naik sepeda. Di bagian belakang ada tumbuhan merambat dengan bunga dan bau seperti melati.

Sesampai di rumah, aku mencoba membuat German Potatoes. Memasuki musim panas, para petani banyak memanen kentang, sehingga hasil kentang berlimpah. Entah kenapa diberi nama German Potatoes, tapi masakan yang mudah ini cukup enak dan mengenyangkan, selain bisa dipakai sebagai satu jenis lauk makan malam. Apalagi jika ditemani dengan susis bradwurst  dan… bir dingin (maaf ya, yang tidak boleh jangan ngiri, cukup minum Zero saja) serasa berada di Munchen deh….

Resep German Potatoes:

Kentang : 300 gram
Potongan daging atau ham
garam sedikit
lada hitam sedikit
air jeruk nipis sedikit
mustard 2 sdm bagi yang suka, kalau saya ganti dengan mayonneise

Kentang direbus dan dipotong-potong secukupnya. Kebetulan kentang yang aku beli kecil sehingga satu kentang aku potong menjadi 4. Kemudian cara merebus juga bermacam-macam. Ada yang memotong dulu baru direbus, tapi kalau aku kebiasaan di rumah Jakarta, merebus kentang utuh dulu, baru dipotong-potong. Menguliti kentang rebus jauh lebih mudah. Tiriskan air rebusan dan beri air dingin (air ledeng), kulit akan mudah sekali dikelupas.

Hmmm warning untuk yang diet! Tidak disarankan untuk mengonsumikannya hehehe

Tumis potongan daging atau ham (atau bisa juga corned beef) dengan sedikit minyak atau mentega lalu masukkan kentang rebus potongan. Campurkan dengan semua bumbu sampai merata, dan taruh menggunung di atas piring (hint: Orang Jepang selalu menyusun makanan seperti gunung dalam piring yang cantik). Untuk pemanis bisa pakai parsley… tapi aku jarang beli pemanis-pemanis begitu sih (soalnya dirikyu kan sudah manis…hihihi… langsung kabur menghindari lemparan tomat pembaca TE.

Dengan resep dasar ini, tentu banyak bisa dimasukkan variasi lainnya, seperti memasukkan rebusan sayuran (peas/wortel) atau jamur…. apalagi pakai keju leleh …waaahhhh bisa gudbai deh diet hahaha. Selamat mencoba!

 

 

20 gagasan untuk “Private Interview

  1. yessy muchtar

    Waduh, bangganya punya anak seperti Riku 🙂 Pintar dan mudah berteman. Jadi gak sabar ketemu Agustusan nanti niyyyy. Riku pasti tambah tinggi!

    Btw, Kentangnya bikin ngiler! Huh!
    .-= yessy muchtar´s last blog ..Istimewa. =-.

    Yup dia udah tambah tinggi ajah..hiks udah susah mau dipeluk
    EM

    Balas
  2. krismariana

    mbak, riku tentu nggak pernah menggambar pemandangan dengan dua gunung dan sawah ya? hihihi. btw, resep kentangnya gampang tuh, bisa kucontek deh! tengkyu idenya ya mbak 🙂
    .-= krismariana´s last blog ..Belajar Multikulturalisme Lewat Komik =-.

    Riku? Dia tidak tahu fenomena dua gunung dan sawah 😀
    Aku selalu masak yang mudah kok hehehe. Ngapain masak njelimet-njilemet untuk langsung masuk perut dan keluar lagi hahaha
    EM

    Balas
  3. Cunn

    wuihhhh,,,enak bangedd kayaknya tante tuh German potatoesnya…
    wajib coba tuh kapan2,,hehehe

    Silakan dicoba, gampang kok membuatnya 😉
    EM

    Balas
  4. aminhers

    [….murid-murid kelas 2 SD akan mulai menghafal perkalian dengan cara “kuku” 99 sebuah cara menghafal berupa kalimat-kalimat….]

    Gimana sih caranya….. jadi ingin tahu nih Bu Ikkyu…kalau boleh , kasih tahu bocorannya ke Om Gen 😀

    Sebetulnya ini lebih ke bahasa Jepang yang bisa membuat kalimat dengan sebutan angka…tapi nanti aku coba tanya Gen ya
    EM

    Balas
  5. herfina

    Weis, sekarang postingnya mulai dikasih resep2 makanan, asiiik 🙂 Aku ga bisa masak Mbak, jadi dikasih resep yg kayanya gampang begini aku jadi pengen coba deh, hehe..
    .-= herfina´s last blog ..High tea atau Afternoon tea? =-.

    sip sip…dicoba ya…
    Masak itu gampaaaaaaaaaaaaang kok 😉
    aku selalu cari yang masaknya mudah dan cepat.
    Dulu aku kerja sampai jam 10 malam. Pulang masak dalam waktu 30 menit harus jadi
    makan malam trus tidur jam 12 malam hihihi.
    Jadi aku selalu cari yang cepat saja 😉

    EM

    Balas
  6. AtA chan

    ..
    -Warna lukisan Riku nggak seperti anak jepang kebanyakan-
    Ya,iyalah..
    Kan setengah Indonesia..
    Hi..hi..
    ..
    Kalo ngerebus kentang emang bagus utuh mbak..
    Gizinya gak banyak hilang..
    Kalo dipotong dulu jadi menyerap air, kadang jadi mblenyek.. 🙂
    ..

    Ho oh…setengah Indonesia.
    Dia sering dipanggil Indonesia kun, oleh sempainya tuh. Aku tanya dia, apa dia marah kalau dipanggil begitu. Dia bilang: ngga kok mah, biar aja (Mungkin dia belum merasa itu sebagai ijime — bullying)

    Tuh penjelasan dari ahlinya pertanian hehehe
    Setahuku memang kentang ada 2 jenis di sini. Danshaku (kebanyakan asal Hokkaido) dan mekuin. yang danshaku lebih keras tahan air…sepertinya hahahah (musti dicari lagi penjelasannya kalau mau tahu sih)

    EM

    Balas
  7. vizon

    Nechan… dialog antara ortu dan guru itu sangat dibutuhkan bagi perkembangan pendidikan. Hal ini harus disadari oleh kedua pihak. Di sekolahan Satira, aku terpaksa sedikit “nyinyir” untuk terus mengadakan pertemuan rutin ortu-guru, agar jembatan komunikasi ini benar-benar bisa terbangun. Kesuksesan sebuah pendidikan sangat bergantung dengan komunikasi yang baik antar ortu dan guru. Aku merasakan manfaat yang besar dari jalinan komunikasi ini di sekolahan anak-anak…

    Hmmm… udah siap-siap mau pulkam nih ceritanya…? 🙂

    Balas
  8. novi

    Mba, boleh juga resepnya. Yuk mari… kita praktekkan. Gampang dan cepat… Hmmm yummy…
    Mba Imel tetep aja narsis ya.. nga perlu pemanis ya mba, karena mba memang sudah manis ha… ha….

    Balas
  9. julianusginting

    wa…wa..wa..bahasa Jepangnya ok punya neh…
    .-= julianusginting´s last blog ..My Blog Was Hacked?? =-.

    Balas
  10. henny

    Gambar Riku baguuus banget! Riku hebat, sudah bisa menuangkan apa yang dilihat/dipikirkan dalam bentuk gambar yang indah…

    Mbak, aku gak ngerti dengan foto pegangan tangga khusus untuk pemakai kursi roda… mesti ada petugas yang mendorong kursi rodanya ya?

    Balas
  11. edratna

    Aha! dapat resep lagi….
    Kayaknya si bungsu juga mesti baca nih…
    Btw Imel, saya mesti mengkoleksi respmu….udah ada berapa ya? Soalnya mudah dan enak…dan juga empuk (dasar suka yang empuk-empuk).

    Duhh gambarnya Riku..kayaknya Riku berbakat fotografi dan menggambar. Fotonya bagus2 juga gambarnya, dia berani pakai warna tanpa ragu.
    .-= edratna´s last blog ..Serba serbi perjalanan dari Jakarta ke Bali =-.

    Balas
  12. Ria

    mbak ini kentang yg dirimu cerita waktu di YM ya?
    nyam nyam.,…jam segini bikin lapar!

    ohya Riku itu sudah mukanya mirip mamanya, sifatnya pun gak beda jauh sama mamanya…gak sabaran pengen denger cerita koalaku nanti saat masuk SD pasti ceritanya juga gakj kalah seru dengan kakaknya hehehehe…

    Balas
  13. Bro Neo

    hmmm resepnya bikin ngiler…!!

    gambar riku cerah sekali.. warna-warnanya berani dan tampak ceria…

    btw perasaan dulu jarang deh ortu ku diajak diskusi oleh guru…, lha wong bagi raport aja seringnya terima langsung, bukan ortu yg terima, cuma ortu diminta utk membubuhkan tanda tangan saja 🙂

    salam,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *