Hari Anak-anak

Semestinya aku menulis ini kemarin, persis hari anak-anak (anak lelaki)  atau Kodomo no hi, yang sekaligus merupakan penutup rangkaian hari libur berurut yang disebut Golden Week. Kemarin kami bener-benar melewati waktu dengan anak-anak dan… alam. Mungkin hadiah alam adalah hadiah yang masih berharga saat ini, semasa alam yang hijau dan bersih masih dinikmati. Kabarnya di Tokyo kebun binatang dan beberapa tempat wisata menggratiskan karcis masuk untuk anak-anak (kapan ya di Indonesia bisa gini hehehe, hari anaknya udah ada kok). Tapi kami memang sepakat untuk tidak pergi jauh-jauh. Takut terjebak macet arus balik.

Kami pergi bersepeda ke Taman Shakujii (Shakujii Koen), sambil tak henti-hentinya aku merasa takjub, kok aku dulu bisa pilih rumah (apartemen yang kami tempati sekarang aku yang memilih persis sebelum kami menikah) yang begitu dekat dengan alam sebagus dan seluas ini, tapi masih dalam kawasan kota. Tujuan kami kali ini cuma satu, yaitu memenuhi permintaan Riku untuk naik perahu.

Bunga Wisteria berwarna ungu, biasanya memang ditanam dan merambat di atas pergola. Pertanda bulan Mei sudah datang!

Sambil melewati perumahan orang kaya dengan arsitektur yang bagus (kapan ya aku bisa punya rumah di tepi kolam/danau begini), kami bersepeda cukup jauh. Tapi tidak terasa 20 menit sampai di tempat naik perahu, di sisi Kolam Danau Shakujii. Setiap menjelang musim panas, disewakan perahu kayuh dan perahu dayung di Kolam (Danau) Shakujii ini dan libur jika musim dingin. Pikirku mungkin kalau musim dingin, tidak ada yang mau ambil resiko tercebur dan mati kedinginan ya? hihihi. Kami harus menyewa dua perahu, karena satu perahu hanya bisa 3 orang (meskipun bayi tetap dihitung 1 orang — ya iya laaaah). Jadi Papa Gen dengan Riku maik perahu kayuh biasa, sedangkan aku dan Kai naik perahu kayuh berbentuk angsa. Kai langsung berkata, “Ga…ga noru (naik angsa)”.

Kai menyetir, sedangkan mama sibuk memotret dan mengirim foto lewat HP hihihi

Sebetulnya ini bukan kali pertama aku naik perahu kayuh begini, dulu juga pernah bersama Gen dan aku ingat waktu itu aku takut sekali. Takut tercebur. Tapi kali ini entah kenapa aku enjoy sekali naik berdua Kai, dan tidak takut… dan bisa mengayuh selama 30 menit jatah mengelilingi kolam (perahu angsa 700 yen, perahu kayuh biasa 600 yen). Hmm aku perhatikan aku juga banyak berubah sejak Kai lahir. Jadi sambil aku yang mengayuh, Kai yang menyetir entah arahnya kemana terserah dia. Asal begitu mendekati perahu orang aku yang ambil kendali setirnya. Senang sekali dia bisa menyetir perahunya.

Setelah puas bermain sepeda, kami pergi mampir ke tempat bermain untuk Riku. Kai tidak bisa bermain di sini karena alat permainannya terlalu besar untuk dia, Jadi aku menjanjikan mengantar dia pergi ke taman bermain untuk anak balita yang memang ada di tengah perjalanan juga. Dan ternyata di tempat luncuran itu tertulis “Untuk usia 3-6 tahun”. Pantas Kai juga tidak begitu mahir… baru sadar kami bahwa Kai belum berusia 3 tahun. Tapi lagaknya sudah seperti anak besar! dan cerewetnya itu deh ampuuunnnn…

Kai memperhatikan kakaknya membuat gulali di mesin gulali dengan memasukkan 100 yen

Setelah bersepeda, bermain dan mandi pasir, kami pergi membeli sepatu untuk Riku, karena kondisi sepatu dia yang sudah kasiaaaan banget deh. Bolong! Padahal aku sudah belikan sepatu baru, tapi dia tidak suka karena musti pakai tali…. Pelajaran buat aku, Jangan pernah beli sesuatu untuk anak-anak tanpa dipilih mereka sendiri. Mubazir. (Aku juga tidak bisa dan tidak mau memaksakan sih…padahal ibunya Gen dulu streng nya minta ampun. Ngga ada tuh ba bi bu. Dibelikan ya harus pakai!  Tapi entahlah aku sejak anak-anak balita lebih suka membelikan sesuatu yang mereka suka, mungkin ini adalah salah satu bentuk memanjakan mereka.) Jadi deh Riku membeli sepatu yang termurah di toko itu, tidak sampai 1000 yen! Dan dia senang sekali…. dan dompet mama senang juga hehehe.

Sesudah dari toko sepatu, kami makan malam di okonomiyaki ala hiroshima. Dan sekitar pukul 8 malam Riku pergi ke Sento, pemandian umum bersama papanya. Hari ini adalah hari khusus di sento, yaitu Shobu yu, air panasnya dipakaikan batang shobu, katanya supaya anak lelaki menjadi kuat.  Tadinya aku dan Kai juga mau ikut, tapi Kai sudah terlalu capek dan mengantuk. Karena aku tidak ikut, jadi tidak ada deh foto mereka mandi berendam di Shobu-yu…hahaha (padahal biar aku ikut juga tidak bisa masuk ke pemandian khusus pria).

Hari anak-anak berlalu dengan kegiatan bersama anak-anak. Biasanya memang ada banyak kegiatan “seremonial” dalam memperingati hari anak-anak. seperti tahun lalu kami memperingati bersama Nobu, sepupu Riku dan Kai yang baru berusia 1 tahun. jadi lengkap semua makanan, perhiasan seperti Koi Nobori dan yoroi (baju perang samurai) seperti yang bisa dibaca pada posting tahun lalu. Tapi karena tahun ini ibu mertuaku kurang enak badan, kami menghapus kegiatan seremonial dan hanya bermain bersama saja.

Kata Witha yang menulis artikel ini, dari sekian banyak foto, foto Kai yang terpilih. Pasti karena senyumnya tuh hehehe. Thanks ya Wit.

Tapi tahun ini Kai memperingati hari anak-anak secara khusus sebenarnya, karena dia “masuk koran”, udah gitu koran Indonesia lagi. Foto Kai dengan hiasan yoroi terpajang di koran “Berani” edisi 27 April 2010. (dan aku lupa kasih tau keluarga di Jakarta hihihi). Maklum deh keluarga cueks, mau masuk koran kek tipi kek, udah biasa…. hahaha. Lagian kan Riku dan Kai udah “masuk internet” karena ada tuh yang bilang (beberapa) kalau tidak ada Kai dan Riku, TE ngga laku …. hiks.(mamanya nangis air mata darah deh….)

Sebagai akhir tulisan ini, aku mau berbangga sedikit dengan menampilkan karangan Riku. Suatu hari tiba-tiba dia menyodorkan karangan ini, dan membuat aku terharu. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia menulis begitu. Apa ada sesuatu yang dia tonton, atau di sekolah (yang aku ragukan). Tapi semoga seruan ini, tulisan dari seorang anak bisa menjadi masukan untuk  dapat direnungi.

Tulisan 1:

Mina-san (Semuanya) saya ingin membuat pernyataan.
Saya tidak suka senjata. Bukan saya saja, tapi semua negara menjadi susah.
Perang menyebabkan negara-negara menderita.
Saya ingin mengubah dunia masa depan yang baik.
Apa sebab? Saya tidak ingin kehilangan banyak orang (teman)

(halaman sebaliknya dia menulis, Apa pendapatmu?)

Tulisan 2:

Saya bisa makan kenyang, tetapi banyak orang di negara lain
tidak mempunyai makanan, sehingga banyak orang yang meninggal.
Kamu juga jika ada orang yang kamu kasihi meninggal pasti akan sedih kan?
Saya kadang-kadang memberikan sumbangan di kotak dana di Circle K.

(lalu aku kotbahin dia, sebelum kasih sumbangan —
karena kamu belum bisa bekerja dan cari uang, berusaha lah
jangan membuang makanan. Itu saja sudah bagus)

Well, semoga dunia ini mau mendengarkan juga suara dan perasaan anak-anak. Tidak keras kepala dengan pemikiran yang ingin menguasai segala sesuatu menjadi miliknya sendiri.Dan semoga anak-anakku tetap terus mempunyai hati yang murni dan peka terhadap penderitaan sesamanya.

28 gagasan untuk “Hari Anak-anak

  1. edratna

    Senangnya berpiknik bersama anak-anak.
    Tadinya nggak tahu apa arti Glden week…ternyata libur panjang ya…

    Dan Riku makin pintar saja.
    OOT (maaf)…Imel udah mulai sensus nggak disini? Ternyata tak berdasar KTP…jadi di Jakarta ya cuma saya dan Tiah, suami di catat di Bandung, Ari di Denpasar dan Ani di Jepang…dan ternyata Ani belum sempat lapor ke KBRI..ehh lapornya kemana? Mesti ke KBRI Tokyo? Atau ada di Nagoya?
    .-= edratna´s last blog ..“Bisakah kita mempertahankan api cinta sampai tua?” =-.

    Kalau ngga salah bisa lapor lewat surat ke KBRI Tokyo kok bu. Coba telepon KBRI Tokyo 03-3441-4201 ext 243 Ibu Hikita saja bu.
    EM

    Balas
  2. Tuti Nonka

    Kai memang lucu banget. Pipinya kok bisa merah gitu ya. kalo cewek, bisa menghemat dana buat beli rouge tuh … hihi …

    Tulisan Riku sangat bagus dan menyentuh. Mungkin dia bisa berpikir seperti itu karena nonton acara di televisi ya, atau baca di buku? Kepekaan sosial dan solidaritas seperti itu memang harus ditumbuhkan pada anak-anak semenjak kecil …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Bergumul di MSL Gumul =-.

    Iya tuh mbak aku juga heran kok pipinya selalu merah. Udah gitu skr belum begitu panas, tapi rambutnya basah terus dgn keringat. Gimana kalau panas banget ya? Jadi mikir mau dibotakin aja kali ya hihihi

    Soal Riku, aku ngga bisa mengira karena memang dia sering menonton film dan sekilas membaca surat kabar untuk anak SD
    EM

    Balas
  3. wita

    Riku dan Kai, Kodomo no Hi Omedetou! semoga selalu sehat dan berbakti pada mama dan papa ya? 😉 baca surat Riku aku jdi terinspirasi mau masukkan dia jadi profile tokoh di Berani heheheh
    .-= wita´s last blog ..Osaka Trip: Waktunya Pulang! =-.

    Oi oi… ntar dikira kamu KKN loh hihihi
    EM

    Balas
  4. sauskecap

    kai lucu sekali…

    dunia tentu akan indah jika semua berpikir seperti dia…
    .-= sauskecap´s last blog ..Red Bean Pondok Indah Mall =-.

    iya kalau semua begitu, ada pula yang sudah diajarkan untuk tidak berpikir demikian oleh orang dewasa
    EM

    Balas
  5. Kika

    Menyenangkan sekali dengan anak-anak. Dan aku suka anak-anak.
    .-= Kika´s last blog ..Kriteria penulisan untuk Adik-adik asuh MIF =-.

    Balas
  6. koelit ketjil

    aku nitip ini aja ya.. 🙂

    CHILDREN LEARNS WHAT THEY LIVE
    (Dorothy Law Nolte)

    If children lives with criticism
    They learns to condemn
    (jika anak dibesarkan dengan celaan
    mereka belajar memaki)
    If children lives with hostility
    They learns to fight
    (jika anak dibesarkan dengan permusuhan
    mereka belajar berkelahi)
    If children lives with ridicule
    They learns to be shy
    (jika anak dibesarkan dengan cemoohan
    mereka belajar rendah diri)
    If children lives with shame
    They learns to feel guilty
    (jika anak dibesarkan dengan penghinaan
    mereka belajar menyesali diri)
    If children lives with tolerance
    They learns to be patient
    (jika anak dibesarkan dengan toleransi
    mereka belajar menhan diri)
    If children lives with encouragment
    They learns to be confident
    (jika anak dibesarkan dengan dorongan
    mereka belajar percaya diri)
    If children lives with praise
    They learns to appreciate
    (jika anak dibesarkan dengan pujian
    mereka belajar menghargai)
    If children lives with fairness
    They learns justice
    (jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan
    mereka belajar keadilan)
    If children lives with security
    They learns to be faith
    (jika anak dibesarkan dengan rasa aman
    mereka belajar menaruh kepercayaan)
    If children lives with approval
    They learns to like him self
    (jika anak dibesarkan dengan dukungan
    mereka belajar menyenangi dirinya sendiri)
    If children lives with acceptance and friendship
    They learns to find love in the world
    (jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan
    mereka belajar menemukan cinta dalam kehidupan)

    Balas
  7. PEMULUNG ASAM-GARAM

    Wah…Ini putranya pada gemesin banget bu’
    memang…Anak anak merupakan salah satu buah dari gaya hidup kita sebelumnya ….Bagaimana kita mendidik, mengajar,menghidupinya akan terlihat gamblang hasilnya…Seperti mba’ EM yg udah kliatan benar benar ibu dambaan….

    wah aku masih jauh dari ibu dambaan lah mas…
    EM

    Balas
  8. Retie

    ihhh udah lamaaaaaaaaaaa banget ngga mampir ke sini…..apa kabar tante?
    bunganya cantik banget…seandainya di Indonesia ada golden week pasti asyik banget tuch….ahhh Riku semakin tambah pinter aja,tulisannya bagus…

    Balas
  9. AtA chan

    ..
    Punya rumah besar dan indah ditepi danau yg tinggal belum tentu bahagia mbak..
    Meski usagi goya kecil tp yg tinggal bahagia dan deket.. 😉
    Saya juga senang tinggal deket alam, maklum anak gunung..:-D
    ..
    Si kai pasti lg seneng nanyak apa ini apa itu..
    He..he..
    🙂
    ..

    Balas
  10. henny

    Semua gemas melihat pipi Kai… bersemu merah…kayak sakura…hehehehe…

    aku mo ngomentarin mesin pembuat gulali made in Japan… canggih bener! *padahal disana udah biasaaa bgt yah…* dan tulisan Riku yang sangat hebat, salute!!!

    Balas
  11. merawat dan memperbaiki komputer

    hahaha,kai lagaknya sudah kaya anak besar ya mba?
    malah bagur no mbak,tu buktinya sudah bisa berpikir kaya anak gede kan mbak?hehe

    Balas
  12. nh18

    Ada Tiga Hal EM …
    #1. Perahu Angsa …
    Ingat perahu angsa … ingat Taman Ria Remaja …
    asik memang main sepeda air itu …
    sayang Taman Ria Remaja sudah tidak ada lagi

    #2. Kai Masuk Koran …
    Wow … keren …
    Jangan lupa di klipping EM …
    Buat kenang-kenangan si Kai nanti … hehehe

    #3. Karangan Riku
    Double WOW …
    kalimatnya sederhana …
    Tapi Dahsyat …
    Bravo Young Man …

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..…(teaser) … =-.

    Balas
  13. Liona Lee

    hahaha. aku dan Riku sama… ga co”k kalo dibeliin…
    tapi dari pengalamanku, keliatannya kadang (kalo emang barangnya uda mahal gitu) harus dipaksa pakai. 1. suatu saat dia akan melihat barang itu keren – kan masih kecil, belum tau kalo itu keren. 2. belajar menghargai dan berterima kasih juga walopun ga gitu suka – biar kalo dikasih kado ultah ga langsung reaksi ga suka gitu.

    asyik yaaah, perahu”an…
    tante ga boleh takut… kalo takut ntar anaknya ga nyoba dan ikut takut juga dooonk ^O^Y

    ~LiOnA~

    Balas
  14. Ria

    so sweet..Kai sudah bisa bikin karangan seperti itu ya mbak…hebat banget untuk ukuran anak seumuran itu. Tapi bener juga tuh, kalau gak ada KAI dan RIKU … blog TE mamanya laku gak ya? huhehehehehe *becanda mbak e’…pasti laku lah…mbak imel gitu ;), jadi jangan menangis darah dung…*

    yang aku suka dari TE adalah bisa tau cerita2 disana dan apa saja yg ada di Jepang. so someday if i have a change to visit japan aku bisa jalan2 ketempat yg mbak imel ceritain…*berdoa sekali lagi semoga nanti bisa ada kesempatan ke Jepang 😉 *

    Balas
  15. Asop

    Wow. Ternyata itu bunga wisteria. 😯
    Ungunya bagus… mencolok banget…

    Tunggu… saya ingat2 dulu… di Indonesia ada hari anak gak ya? 😕

    Lupa!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *