Miraikan

Miraikan

Ini bukan kata bahasa Indonesia baru, tapi bahasa Jepang yang berarti “Balai Masa Depan”. Kalau diinggriskan menjadi National Museum of Emerging Science and Innovation. Kami pergi ke sini hari Minggu tanggal 2 Mei, pas di Indonesia memperingati Hari Pendidikan. Tidak dipas-pasin loh, karena memang sejak paginya kami bingung mau pergi ke mana hari ini. Sayang gitu kalau tidak keluar rumah. Memang ada banyak alternatif awal seperti pergi manen stroberi, atau pergi ke peternakan Mother Farm di Chiba. Tapi karena paginya Gen mau pergi ganti oli mobil, jadi kami baru bisa memutuskan tujuan kami pukul 2 siang.(Kayaknya de Miyashita waktu keluar kandang nya emang pas jam segini deh… bukan morning person untuk hal-hal begini heheheh)

Gedung fuji Television di Odaiba

Nama lengkapnya Nihon Kagaku Miraikan 日本科学未来館, disingkat Miraikan, terletak di Odaiba, sebuah lahan reklamasi di Teluk Tokyo. Odaiba sendiri merupakan kompleks yang besar dengan gedung-gedung besar nan canggih, termasuk gedung Fuji Television. Kami sampai di depan gedung Miraikan ini sudah jam 3:20. Sambil Gen mencari parkir, aku dan anak-anak membeli karcis masuk. Untuk dewasa 600 yen, anak SD 200 yen. Kami harus membayar lebih jika mau melihat film 3D, tapi itupun harus pesan tempat. Karena waktu tinggal sedikit, jadi aku beli karcis yang base saja.

National Museum of Emerging Science and Innovation, Odaiba

Nah sebetulnya yang menjadi trigger, pemicu kami datang ke sini adalah adanya pameran Kako Satoshi mengenai teknologi. Kako Satoshi yang mengarang picture book Dewi Sri yang barusan kutulis itu, memang menulis juga berbagi picture book yang menyangkut pengetahuan. Misalnya tentang laut, tentang planet dsb. Nanti deh kalau ada senggang aku coba tulis tentang bukunya yang lain lagi ya.

Bola dunia raksana di lobby

Pameran itu berjudul Your Future, Your FutureSelf, a journey into picture book with Satoshi Kako. Sayangnya di pameran ini banyak bagian yang dilarang memotret. Ada yang aku kadung motret, karena tidak lihat sign “No Photography” nya. Nah kalau soal ginian, aku strict nih, kalau dilarang, ya aku pasti patuh. Padahal ada kalanya Gen punya sense…ngga papa lah, bilang aja ngga tau (kadaaang sekali, soalnya kalau orang Indonesia kan kebanyakan berprinsip peraturan itu memang dibuat untuk dilanggar hihihi). Nah untuk ini Gen jadi orang Indonesia deh, aku yang orang Jepang. hehehe.

Pameran Your Future, Your FutureSelf, a journey into picture book with Satoshi Kako

Isi pameran itu kebanyakan berisi panel-panel tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan, juga disediakan beberapa pojok dengan matras plastik bagi yang mau membaca picture book yang disediakan di situ. Menurut Gen, “Yaaah aku ngga nyangka pamerannya kok sok kotbah gini” hehehe. Pasti ada pejabat/institusi yang mau memakai nama Kako Satoshi yang terkenal untuk menyampaikan pesan tertentu. Namun memang ada surat dari Kako Satoshi kepada anak-anak, yang kata-katanya aku setuju. “Belajarlah apa yang kamu sukai, dan tidak sukai, supaya bisa menjadi pintar dan bisa mengubah dunia dengan pengetahuan”. Kita memang harus juga belajar yang tidak kita sukai karena, somehow suatu waktu akan perlu dan berguna.

Pintu masuk pameran Kako Satoshi

Di pameran ini Riku dan Kai bosan! Aku harus menjaga Kai yang lari kian kemari, sehingga tidak bisa melihat dengan tenang. Ya tidak apa lah, sudah biasa hehehe. Dari pameran ini, kami pergi ke ruang Yokan Kenkyujo, kalau diterjemahkan yokan = prediksi, imaginasi, kenkyujo = penelitian. Jadi di sini memang kita bisa melihat penemuan-penemuan pengembangan teknologi yang berhubungan dengan art (kesenian) dan hiburan. ART! adalah sesuatu yang disukai Riku. Anak ini memang suka seni, segala macam ini dicoba dan berkreasi sendiri. Jadilah di sini dia melewatkan waktu cukup lama dan mencoba semua booth yang ada. Lari ke sana ke mari sendiri. Wew…sementara mamanya berdiri dari jauh memperhatikan dia dan si unyil koala yang juga merasa bosan, tidak ngerti apa-apa. Jelas lah…apa sih yang menarik bagi anak usia 2 tahun?

Memainkan wayang tradisional

Booth pertama yang dikunjungi Riku adalah memadukan permainan wayang (memakai bayang-bayang) dengan komputer. Riku mencoba menggerakkan wayang secara tradisional dan setelah itu dipakaikan semacam topi yang tersambung pada komputer. Setiap gerak riku dibaca oleh komputer yang akan menggerakkan wayang sesuai dengan gerakan Riku. Jadi kalau tradisionalnya orang menggerakkan wayang kulit dengan tangan, di masa depan, orang menggerakkan wayang dengan gerakannya sendiri, tapi dengan tampilan wayang kulit (bayangan) . Hehehe…bukan wayang orang gitchuuu. Cukup bangga aku di booth ini, tentu saja karena mereka memperkenalkan wayang, dan penelitinya adalah team dari Universitas Waseda. Waseda gitu loh….

Wayang canggih dengan gerak virtual

Setelah dari sini aku kehilangan jejak Riku, yang sudah lari ke sana kemari mencoba setiap booth yang hampir semua dilengkapi komputer. Sampai akhirnya aku bertemu dia sedang mencoba program komputer untuk membuat balon dari gambar kita sendiri.

Program membuat balon dari gambar kita di komputer

Booth selanjutnya tentang program komputer untuk mendesain kursi yang cocok untuk kita. Disesuaikan dengan tinggi badan, keseimbangan kursi dll, sehingga bisa menghasilkan desain kursi khusus spesial (ngga pake telur!) . Di sini aku turun tangan, karena si peneliti tidak bisa bahasa Jepang, jadi Riku tidak mengerti maksudnya. So begitu deh dia menjelaskan kegunaan programnya dengan bahasa Inggris padaku (yang cerewet tanya ini itu hihihi)

Kami berfoto dengan Mr Chair yang menjelaskan program mendesain kursi khusus. Bisa lihat pramodel kursi di bagian belakang

Berikutnya adalah program komputer yang memungkinkan karakter beruang di dalam display bereaksi terhadap gerakan kita. Selain itu juga ada program memasak virtual, program menyarankan menu makanan dengan balancing bahan-bahan makanan yang telah kita konsumsi, bahkan sampai mengatur dan menghitung jumlah kalori yang sudah dikonsumsi. Nah…yang ini perlu deh untuk aku hahaha.

Kai mulai bosan,papanya juga bosan, jadi mereka berdua pergi duluan ke ruang pameran lain, yang terletak di lantai 5.  Sementara aku menemani Riku mencoba ini itu. Dan setelah semuanya dicoba, kami juga pergi ke lantai lima gedung ini, untuk melihat pameran tentang manusia dan teknologi. Nah, waktu mau masuk ke ruangan ini, kami sempat bingung, karena pintu otomatisnya tidak membuka. Seperti di pintu masuk stasiun sepertinya harus memasukkan karcis. Tapi pintu ini lebih canggih, cukup menyentuh QR code yang terdapat pada karcis masuk, kemudian pintu membuka. Huh.. berasa ketinggalan jaman deh.

Pintu masuk museum dengan scanner pembaca QR code yang terdapat pada karcis masuk

Menurutku di sini terlalu beragam yang ingin dipamerkan. Ada masalah lingkungan hidup, ada tentang DNA dan manusia, penelitian biologi, sampai kehidupan di luar angkasa… tidak fokus gitu hehehe. Tapi lumayan deh aku sempat mendengar sedikit kuliah gratis  mengenai DNA  sebelum akhirnya Kai minta minum. Kelaparan dia. Jadi aku dan Kai keluar ke Cafe, dan membeli hot dog untuk dia. Sementara Riku dan papanya melewatkan waktu dalam museum itu sampai jam 5:45 sore.

Jadi DNA itu begini toh...kata Kai

Kesan aku? Jepang kebanyakan duit sampai harus membuat museum begitu besar, mewah dan canggih untuk menjadi pusat pameran teknologi. Tapi mungkin memang harus begitu, sebagai daya tarik  supaya akan lebih banyak lagi anak-anak canggih yang lahir dan berkreasi di bidang penemuan. Aku kagum ada anak yang sudah mengerti DNA dan bisa menjawab semua keterangan pada waktu kuliah gratis itu. Mungkin dia kelas 5 SD…duh otakku ngga nyampe deh bersaing dengan dia. Dan aku juga tidak memaksa anakku untuk tahu semuanya seperti dikarbit. Enjoy aja nak!

Jam 6:30 kami keluar dari parkiran Museum.  Bayarnya cuma 700 yen untuk 3 jam…aku pikir bakal lebih dari 1000 yen, kalau mengingat gedung yang begitu mewah ini. Lalu Gen berkata, “Ngga mungkin lah pemerintah meras warga dan mengambil keuntungan dari ongkos parkir!” … Hmmm memang sih, 600 yen karcis masuk juga masih murah. Tapi masalahnya, mau ngga keluarin 600 yen untuk datang ke tempat beginian?

Karena sudah starving, pekopeko alias lapar berat, kami akhirnya masuk ke tempat parkir di gedung DECK Odaiba. Semacam mall dan restoran. Ada banyak gedung semacam ini di daerah ini, tapi kebetulan yang cepat dan mudah parkirnya ya di DECK ini. Jelas aja… 1 jam parkirnya 500 yen jeh… muahal! Dan kami langsung menuju lantai 5, ke restoran Tonkatsu WAKO. Restoran ini menjual daging/ayam/udang goreng yang cukup terkenal. Tadinya sih kepingin makan sushi tapi antri… jadi ubah haluan deh. TAPI….

Kami benar-benar enjoy makan di sini, bukan karena makanannya enak banget, tapi pemandangannya bagus banget! Restoran ini mempunyai teras yang langsung menghadap ke teluk Tokyo, dengan Rainbow Bridgenya yang mulai diwarnai lampu-lampu. Keren banget pemandangannya! Riku tadinya mau duduk di luar, tapi sepertinya petugas restoran malas membawa makanan sampai luar (atau kami perlu membayar charga khusus… ngga tau juga deh) Tapi alasannya dingin berangin. Padahal Riku berdiri di luar terus sampai makanan datang karena di lantai 3 nya ada pertunjukan “gratis” musik oleh idunnohisname, tapi entah kenapa Riku suka sekali sehingga merekam dalam video pertunjukan itu dengan camera.

Pemandangan dari teras restoran... Rainbow Bridge by night

Meskipun waktu pulang kami terjebak macet di jalan tol (bayangin jalan tol macet!…eh udah biasa ya di Jakarta hehehe) tapi pemandangan lampu-lampu di sekeliling bisa menghibur kami, dan mengakhiri hari yang kedua dalam liburan panjang  Golden Week.

24 Comments


wahhh
wayangnya keren banget tuh…
bayangan wayang krena kayaknya..
saya orang jawa tapi malah gak punya wayang kulit.. 🙁
….

Waaah masak ngga punya? Aku punya loh gunungan di rumah Jakarta hehehhe
di sini punya yang kecil untuk pajangan
EM

hebaaat euy jepang..! jd mau liat wayang nih.. ( ah celamitan nih whita.. hehe)

ada loh pertunjukan wayang di Tokyo oleh Nihon Wayang Kyokai

EM


kok krena..
maksudnya Kresna..hi..hi…
🙂
..
pipinya kai, kok merah banget gitu ya…
lucu..
..

Kulit bayi masih sensitif jadi peka terhadap perubahan udara
EM

Birokrasi dan dana…itu masalahnya. Tapi sekarang generasi muda mulai masuk dalam jajaran kepemimpinan semoga bisa lebih terbuka dan lebih maju.

He…iri aku pada perjalanan ini. Tapi tolong dong kurs yen berapa? (hahaha malas ngitung sendiri…)

keren euy wayangnya… tadinya sy pikir ini gambar di Indonesia, eh ternyata bukan.. :p

Salut d buat orang Jepang, mau mempelajari culture kita.

heheheh canggih kan?
EM

Haha, masalah dilarang foto itu sering buanget kulanggar dimana mana…. xD — mulai dari pameran, sampe toko baju hahaha. Konser2 juga.

“Oh sorry, I don’t know about that (meringis)” terus pindah lagi rada jauhan, motret2 lagi, yang dateng kan petugas lain lagi xD — GEN KAKKOOIII
.-= Dewa Bantal´s last blog ..Yang Bodoh Di Antara Kaya Dan Miskin =-.

Nechan… Taman Pintar di Jogja kayaknya mirip seperti itu deh. Lobinya juga persis; berbentuk bundar dan di tengahnya digantung bola dunia raksasa serta tangga melingkar itu. Trus, di dalamnya juga berisikan hal yang sama. Apakah TP itu terinspirasi dari sini ya?

Kami kerap bermain ke TP, karena tempatnya yang di pusat kota dan tidak mahal… 🙂

Hai Nechan… kunjungan perdana nih dari orang baru tapi usang, hehehe… 😀

Benar seperti yang dibilang si Uda, museum ini mirip dengan taman pintar. Kapan-kapan saya bikin postingan soal itu deh
.-= icha´s last blog ..kado untuk ibu =-.

Dengan museum sebesar itu, diperlukan tenaga ekstra untuk mengelilinginya ya…
aku ngebayangin kalau bawa 2 anak aja udah segitu hebohnya lari ke sana ke mari, gimana kalau bawa serombongan anak-anak ya?

Aku tertarik dengan wayang dan komputer itu… itu wayang buatan mana ya, Mbak?

Haduuuh jangan bilang Mbak Imel ketinggalan jaman doong! Bayangin gimana kalo aku yang tinggal seminggu di Tokyo… bisa kejungkal-jungkal gak karuan hehehehe…..*TE pusat informasi teknologi!*

Kayaknya tiap hari Mbak Imel nulis tentang hal baru yang bisa dilihat di Jepang. Jadi kalo mau lihat semua yang ada di sana, butuh waktu berapa tahun ya?

Denger-denger, ekonomi Jepang cukup terimbas juga dalam krisis global ini. Begitupun duitnya masih berlimpah ya, masih membangun museum yang hebat-hebat kayak Miraikan ini.

Itu wayang kita kok bisa masuk ke sana ya …
.-= Tuti Nonka´s last blog ..Bergumul di MSL Gumul =-.

hehehe ya tinggal di sini aja mbak….

museum itu kan dibangun dengan pajak rakyat mbak

Nah itu dia yang membuat saya bangga
EM

jadi foto rainbow itu diambil dari sini toh mbak!
kalau disana ada wayang virtual? kok di indonesia gak ada ya? atau akunya yg ketinggalan info!
seperti yg bunda tuti bilang bahwa aneh juga wayang bisa masuk sana tapi indonesia sendiri sudah hampir terlupakan 😀

“Belajarlah apa yang kamu sukai, dan tidak sukai, supaya bisa menjadi pintar dan bisa mengubah dunia dengan pengetahuan”.

Itu ada;ah Quote of the Day!
#menampar diri sendiri yg gak suka baca reformasi birokrasi tp tiap hari makanannnya itu 😀 hahaha

anw aku ngikik baca komen mbak kalo Jepang kebanyakan duit makanya bikin museum kegedean hahaha….

aiiiih tempat dinnernya seru mbak 🙂 seperti yg aku komen di FB.. nice buanget
.-= Ceritaeka´s last blog ..Harta Yang Paling Berharga (an Adventure in Kali Progo & Keteb Pass) =-.

Mel, Miraikan itu letaknya gak jauh dari Tokyo Bay yah..? Kok aku seperti sangat familiar dengan bentuk gedung yang ada bola ditengahnya itu tak jauh dari pinggir laut. Sangat keliatan kalau sedang cruising disekitar Rainbow Bridge.. 🙂
.-= Nug´s last blog ..Butir-butir Bening =-.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :