(Ber)Gosip itu perlu tidak?

Memang harus dilihat dari konteksnya dulu. Gosip macam mana yang dimaksudkan. Apakah semacam gosip artis yang biasa terdapat di infotainment (yang aku sama sekali tidak MINAT) atau gosip tentang tingkah laku dan kepribadian seseorang? Bagi orang yang religious pasti mengatakan jangan bergosip, tapi kali ini aku sendiri menyadari bahwa bergosip itu sebetulnya perlu juga. Apalagi dikatakan bahwa perempuan senang bergosip, yang tentu saja dapat disangkal karena tidak sedikit pria yang juga suka bergossip.

Jadi seperti yang pernah aku katakan pada yessy, gosip itu wajib diketahui tapi tidak wajib ditindaklanjuti. Karena sebetulnya dari bergunjing itu ada juga kok hal-hal yang merupakan fakta yang bisa dipelajari. Asal tahu batasnya.

Seminggu yang lalu aku datang ke sekolah Riku untuk mengerjakan pemilahan eco cap. Aku memang kebagian tugas bulan April, jadi meskipun sebetulnya pekerjaan PTA periode tahun fiskal 2009-2010 itu habis bulan Maret, aku masih harus bekerja, sampai nanti pergantian pengurus tanggal 28 April.

Nah di situ aku hisabisani (after a long long time) bergossip ria. Mungkin karena membernya juga enak, tema percakapan ngelantur kemana-mana. TAPI banyak yang berguna. Kebetulan tiga member kami ada yang berpenyakit. Tidak terlihat, tapi ternyata cukup mengganggu. Itu akibat hormon perempua. Yang satu cukup terlihat yaitu dia agak pincang kalau berjalan, dan ternyata pergelangan tangannya berubah. Akibat hormon berlebihan setelah menikah, tulangnya berubah bentuk! Duh kasian juga, sehingga dia tidak boleh terlalu capek, dan tergantung obat untuk mengurangi pergeseran tulang yang lebih drastis lagi. Teman yang kedua, juga akibat perubahan hormon setelah melahirkan, menjadi kurus sekali. Makan sebanyak apapun berat badannya menyusut terus. Untung dokter yang merawatnya langsung menyuruh memeriksa laboratorium dan ketahuan dia mengidap penyakit hormonal itu. Sekarang dia bisa mengontrol berat badannya dengan obat yang harus diminum setiap hari …selamanya sampai mati. Sedangkan yang satunya kebalikannya, menjadi gemuk meskipun sedikit makan. Katanya penyakit kelenjar tiroid ini namanya Hashimoto byo (Hashimoto’s thyroiditis). Duhhh ibu-ibu setelah melahirkan memang rentan terhadap berbagai penyakit. Ternyata keluhan sekecil apapun bisa dicari penyebabnya (di Jepang).  Dan aku harus bersyukur bahwa aku tidak sedrastis itu.

Selain bergunjing masalah penyakit, kami juga membicarakan kelakuan anak-anak. Banyak anak-anak sekarang yang tidak berbekal pengetahuan umum  joushiki 常識. Ibunya sendiri jadi bingung, kenapa anak saya ini. Misalnya seorang anak kelupaan kunci rumah, dan berusaha membuka kunci dengan ranting pohon! Mungkin dia pernah melihat film detektif, tapiiiiiii bukan ranting dong. Ranting itu bisa patah di dalam lubang kunci dan malah merepotkan. Hmmm … di saat-saat seperti itu biasanya aku hanya diam saja (kebanyakan begitu sih) tidak bicara dan membayangkan anak-anakku ternyata masih mending hehehe.

Dan ada satu lagi kesadaran yang terpikirkan dalam pembicaraan kali itu. Yaitu bahwa mengurus anak memang susah, menguras tenaga, waktu dan pikiran. Ibu-ibu dituntut untuk alert terus terhadap pertumbuhan anaknya. Aku baru tahu juga dari gosip hari itu, bahwa pernah suatu sore aku membutuhkan waktu 30 menit naik bus dari stasiun dekat rumah, sampai ke rumah. Yang biasanya 7 menit! Ternyata saat itu ada kecelakaan yang tragis. Seorang ibu “menyuruh” anaknya yang berusia 3 tahun menunggu sendiri di halte bus, sementara dia pergi belanja ke toko seberang. Dan anak itu terlindas roda kanan bus yang bergerak waktu lampu merah berganti hijau. Ternyata anak itu menyeberang jalan sendiri dan tidak terlihat oleh supir bus, yang memang tinggi kursinya. Duuuuhhh (mati seketika dengan kepala pecah hiiii). Terlepas dari gosip bahwa anak itu nakal, atau ibu yang careless menyuruh anak “pecicilan” itu menunggu sendiri, atau gosip bahwa si ibu memang tidak disukai oleh sekitarnya, kejadian ini merupakan pelajaran untuk “selalu berpikir sebelum bertindak”.

Menjadi wanita memang tidak mudah. Mungkin lebih banyak susahnya, tapi itulah hidup. Apalagi menjadi seorang ibu, karena dia harus memikirkan suami dan anak-anaknya, bukan hanya dirinya sendiri. Karenanya wanita juga dituntut untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya, supaya bisa menjalankan tugas yang berat itu.

Posting ini BUKAN untuk merayakan hari Kartini, tapi setelah aku tulis ternyata bisa juga dihubungkan dengan perayaan hari Kartini yang sudah lewat kemarin. Yaitu perempuan itu harus pintar!

Dari perempuan manusia menerima pendidikannya yg pertama-tama, di pangkuannya anak belajar merasa, berpikir, berbicara…Dan bagaimana ibu-ibu Bumiputera itu mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri belum terdidik? (Kartini, 31 Jan 1901)

(kutipan kuambil dari statusnya Koelit Ketjil di FB)

25 gagasan untuk “(Ber)Gosip itu perlu tidak?

  1. rhainy

    jadi, kesimpulannya : (ber) gosip itu (sangat) perlu…hehehehehe…,
    bener kok mbak, ny sering banget ketinggalan gosip (baca : berita / kabar), saking pendiemnya (huek…huek…hihihi) dan bener2 gak enak rasanya karena jadi gak tau apa2…apalgi kalo ketinggalan berita makan2 gratis ( :D), atau ada blog bagus yg ternyata ny baru tau (padahal penggemarnya bejibun)…hahahaha…
    .-= rhainy´s last blog ..Kangen =-.

    hehehe nah kalau gosip makan gratis sih di sini ngga ada
    tapi nonton gratis, festival gratis, piknik gratis banyak
    aku kangen juga sama kamu loh 😉

    EM

    Balas
  2. Reva Lee Pane

    Hwahh….!!

    “Gosip itu wajib diketahui tapi tidak wajib ditindaklanjut,” – SETUJU, Mbak! 😉 Si Miss Marple di serial detektifnya Agatha Christie juga rajin dengerin gosip, sebatas utk menilai pemikiran dan karakter seseorang. Kenyataannya, gosip sering kali juga membantu kita menakar response dan tindak-tanduk kita pada seseorang.

    Tapiiiiiiiiii………., gosip bukan sarana penilaian apakah seseorang itu lebih baik atau lebih buruk dari kita. Sayangnya, ini yg sering terjadi malah 🙁

    Gosip yookk…!! :mrgrin:
    .-= Reva Lee Pane´s last blog ..Segitiga dan Logika =-.

    Hahaha kok aku jadi kebayang pemerannya Miss Marple di film, kayak omaku mukanya.
    Nah yang kayak gitu kan siapa tahu kita bisa menyingkap mistery (jiaaahhh)
    yuuuk gossip apa nih? Hutan Aokigahara? hihihi
    buzz me aja 😉

    EM

    Balas
  3. Ria

    aku suka bergosip…apalagi denganmu
    apalagi kalo udah ngebahas ngeblog dan makanan…huhehehehehe

    dan yess indeed! aku setuju perempuan itu memang harus pintar! 😉
    selamat hari kartini mbak :-*

    hahaha jangan bilang bergosip deh…kesannya kita tiap hari ngerumpi terus. (sambil lirik om NH)
    kalau spt blog dan komputers kan mustinya berdiskusi ya…
    EM

    Balas
  4. Ade

    Aih.. aku sampe merinding ngebayangin anak kecil yang kelindes ituh 🙁

    Apa kabar mbaa..
    Dah lama ga mampir 🙂
    .-= Ade´s last blog ..Seandainya… =-.

    Iyaaaa aku juga duh ngebayanginnya gimana gitu. Paling setinggi Kai kan? dooohhh
    kabar baik Uni…
    EM

    Balas
  5. AtA chan


    bergosip..?
    bohong banget kalo gak pernah..
    hi..hi..hi…
    asal gak berlebihan kali ya…
    😉
    ..

    kalau kopdar kan juga pasti bergossip
    boong deh kalo ngga pernah bergosip
    emangnya kalo orang mulai ngomong kita bilan;” STOP STOP Jangan gossip AKU CUMA MAU BERDISKUSI AJA!”
    bisa diketawain orang sekampung tuh
    awal persahabatan justru dari bincang2 dan kita bisa tahu dia tukang GOSIP yang jelek2in, boong-boongan atau ngga
    dan bagaimana seseorang menanggapi gosip itu 😀

    EM

    Balas
  6. henny

    Perlu!…karena banyak informasi penting bisa kita dapatkan yang kadang sangat bermanfaat… tentu yang tidak bermanfaat dan wasting time -aja- juga banyak sekali…hehehehe, tapi aku jarang bergossip lho… percayalah! hohohohoho….

    Balas
  7. nh18

    Gosip itu tidak perlu … karena biasanya hanya berdasarkan pada desas desus belaka ,,, atau bahkan melebih-lebihkan hal yang sebenarnya … atau mengurang-ngurangkan hal yang sebenarnya … dan yang lebih parah lagi adalah … membelokkan hal yang sesungguhnya …

    Berbincang itu perlu …
    entah untuk lelaki atau perempuan …
    karena dari sana bisa didapat pandangan yang lebih menyeluruh ,,, yang sesuai dengan kebenaran yang ada …

    Sekali lagi …
    Gosip itu berbahaya … apalagi jika yang dibahas hal yang sepotong-sepotong saja … tidak berdasarkan fakta … dari persepsi yang salah … dan bahkan yang sudah di GOsok sedemikian rupa supaya SIP …

    hehehe
    Salam saya EM

    Iya nanti aku pasang papan, “Maaf aku tidak mau bergosip, hanya mau berbincang dan berdiskusi!”
    Mana bisa sih memilih-milih pembicaraan…. apalagi dengan org baru, Kalau kita udah tahu org itu tukang gosip yang tinggal dijauhin aja kan? Tapi waktu org berbicara masak kita tanya, “EH KALIAN MAU GOSIP ATAU BINCANG? KALAU BINCANG AKU IKUT, KALAU GOSIP AKU NGGA IKUT!”…. mana bisa? Kalau mas tahu caranya kasih tau deh, paling juga kita diem aja jgn bikin pembicaraan berkembang jadi gosip yang ngga bener kan?

    EM

    Balas
    1. Ahmad Alkadri

      Menurut saya ya mbak (berdasarkan pengalaman pribadi sih, hehe 😛 ) caranya biar bisa menghindari gosip, apalagi yang negatif, yaitu kalau kita sedang tergabung dalam satu pembicaraan, dan pembicaraan tersebut masuk ke topik membicarakan orang lain, langsung dengarkan: apakah yang dibicarakan keburukan-keburukannya?

      Kalau yang dibicarakan adalah kebaikan-kebaikan si objek pembicaraan, saya pikir tidak apa-apa – asal tidak sampai lebai-lebai amat gitu 😀 Tapi kalau yang dibicarakan adalah keburukan orang itu, sampai dibongkar-bongkar aib-nya, lebih baik kita-nya yang keluar dari pembicaraan.

      Pengalaman lagi, di lingkungan baru terutama, tidak masalah bagi kita untuk menunjukkan prinsip kita seperti “Maaf, saya tidak mau ikut ngomongin aib orang.” Itu menunjukkan bahwa kita memiliki prinsip, dan hal seperti itu akan membuat kita lebih dihargai, dan tidak akan dianggap seperti orang yang bisanya cuma ngikut-ngikut saja.

      Akhir-akhirnya kembali ke kita lagi: sanggupkah kita memilah-milah yang mana yang baik dan yang buruk di dalam sebuah pembicaraan? Dan, sebagai orang-orang yang… er… anggap saja sudah cukup lama di dunia ini 😛 😛 kita dituntut untuk harus bisa melakukannya.

      Terakhir, maaf kalau ada salah kata mbak. 🙂

      Alkadri

      Balas
  8. koelit ketjil

    wauuuww.. jd gak enak neh.. statusku jd ada di tulisanmu ini.. uhuuyy
    ayoo kita bergosip tengah malam bu!
    hhumm siapa lagi ya yg mau kita gossipin, jgn si Mr. X itu terus ahhh.. kasian kupingnya panas loh :-p

    hahahah ya dienakin atuh. Terims ke ibu kartini deh
    lebih baik kita bergossip tentang kau dan aku aja deh 😛

    EM

    Balas
  9. Plesiran

    Gosip atau ghibah memang sangat tak dianjurkan karena akibatnya macam2.
    Kalau bicara yang baik dan benar ya bukan gosip donk namanya tapi diskusi atau tukar pikiran.

    Salam hangat dari Plesiran-media untuk mempromosikan wisata daerah anda.
    .-= Plesiran´s last blog ..Rumah Gadang =-.

    Jangan salah pak, kadang diawali dengan diskusi berakhir dengan gossip
    bisa juga diawali gossip berakhir dengan diskusi, tergantung kitanya aja pinter-pinter membelokkan 😀

    EM

    Balas
  10. isnuansa

    Kalo saya jadi anak kecil lagi, memang sepertinya akan mencoba membuka pintu pake ranting, Mbak. Habis penasaran juga dengan film-film yang kayaknya gampang banget buka pintu dengan sepotong kawat yang mereka miliki.

    hehehe iya sih, tergantung seberapa kecilnya. Kan ranting terlalu besar untuk lubang kunci. Kalau bolpen atau pensil mekanik masih mending ehhehehe

    EM

    Balas
  11. Dewa Bantal

    Aku setuju saja sama artikel ini, dengan syarat….

    Gosip tidak disamakan dengan Ngomongin jelek-jeleknya orang.

    Aku selalu tutup telinga kalau masalah ngomongin cacatnya orang 😀
    .-= Dewa Bantal´s last blog ..Dikibulin Kota New York =-.

    Yap, tutup telinga kita saja, kalau kita tidak bisa menutup mulut si pembicara 😀

    EM

    Balas
  12. Nug

    Begosip dalam arti sekedar membbicarakan kejelekan atau masalah orang lain, menurutku gak perlu. Bergosip membicarakan keberhasilan atau prestasi seseorang untuk jadi inspirasi dan contoh, menurutku baik. Kita bisa belajar dari orang kan? Bahkan jika melihatnya dgn benar, kita juga bisa belajar dari kesalahan orang lain kan? Nah yg begitu bergosip bukan..? 🙂
    .-= Nug´s last blog ..Tonggak Sejarah =-.

    Balas
  13. wita

    Dalam bergosip biasanya ada kata2 “eh, tau nggak sih… ” atau “katanya ….”
    Wah jd inget diskusi ttg kasus susno di tv one yg bnyk bgt kata2 “katanya…” heheh

    Kata Gosip konotasinya rada negatif sih dan biasanya identik dengan membicarakan orang lain. Beda tipis sih ya sama diskusi, tp yang pasti lebih seruan diskusi heheh klo gosip, aku diem aja deh 😀 silent is gold.

    Omong2 kasian banget anak kecil itu. Jelas bgt ibunya yg careless, namanya anak2 umur segitu kan blm ngerti banget, duuhhh, aku jg pas baca langsung inget Kai T_T
    .-= wita´s last blog ..Antik & Gyuudon =-.

    Balas
  14. edratna

    Gosip? …jelas perlu, kadang dengan bergosip kita menjadi tahu perkembangan yang ada disekeliling kita.
    Yang penting bukan bergosip menjelekkan orang lain, karena ini jelas tak ada gunanya. Minggu kemarin adik saya yang sudah setahun tak ketemu datang kerumah, jadilah ngerumpi sampai pagi, dan suami mengalah kurang dapat perhatian…hehehe…
    Tapi hasil rumpiannya, banyak hal yang menarik, dan menjadi pengalaman berharga…..(nanti akan saya posting di blog)
    .-= edratna´s last blog ..Kondangan =-.

    Balas
  15. Ria

    Intinya balik lagi ke masalah apa yang mau diomongin dan tujuannya apa yah. Biasanya memang buat bertukar informasi. Dan miris juga baca anak yang meninggal krn ditinggal sebentar oleh sang ibu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *