The Princess and The Frog

The Princess and The Frog

Kemarin malam Kai memintaku untuk membacakan cerita “The Princess and The Frog” dari Disney yang diterjemahkan menjadi “Purinsesu to Mahou no kisu” プリンセスと魔法のキス sebelum tidur. Di sebelahku Riku sudah terlebih dahulu tidur. Anak itu paling mudah untuk tidur, begitu kepala menyentuh bantal… ZzzZZzz deh. Jadi aku mendongengkan Kai. Di situ aku tanya pada Kai,
“Kai tahu princess  artinya apa?”
“Ngga tau”
“Princess itu anak perempuan dari Raja (Oosama – ini dia sudah tahu).
Kalau anak laki-laki itu disebut Prince. Untuk Mama, Kai adalah Prince”
“Ihhh ngga mau…”
“Kenapa ngga mau? Riku juga prince. Jadi mama punya dua prince”
“eeeeee?? Riku prince?”
“Iya, Kai juga prince. Mau?”
” un (ya)”
” Kai prince…”
“Mama princess…” Duh aku kaget sekali… kok dia langsung tahu penggunaan kata princess.
“Waaah mama princess? Makasih Kai” Lalu aku cium Kai.
dan tahu reaksi dia? “Kero kero…(suara kodok)” … Ya ampun dia tahu bahwa prince itu menjadi kodok.

Saking gembiranya aku juga bilang pada Kai, “Mama princess cium prince jadi mama kodok yaaa (dalam cerita ini si prince tidak berubah menjadi manusia, malahan si princessnya jadi kodok juga)”
“kero-kero….Hahaha…” kami berdua tertawa…
Dan tadi pagi dia meloncat-loncat seperti kodok waktu aku panggil dia Kai prince.

Ada banyak kejadian yang menunjukkan Kai tiba saatnya untuk mengekspresikan semua yang dia tahu, semua yang selama ini dia lihat tapi belum bisa keluar dalam bentuk kata-kata. Dan aku berusaha menikmati perubahan ini.

Dan hari ini kedua prince ku pergi ke “sekolah”. Riku memulai hari pertamanya sebagai murid kelas dua SD. Dan dalam upacara penerimaan murid baru (kelas 1), dia harus mengucapkan kata sambutan pertama sebagai wakil kelas dua. Pendek memang, hanya mengucapkan “Adik-adik kelas satu…” kemudian akan dilanjutkan oleh murid lain. Tapi sebagai pemula, dia harus berbicara dengan lantang, supaya keseluruhannya dapat berjalan dengan baik.

Tadi dia pulang dan mengatakan bahwa dia dipuji oleh gurunya, karena berhasil berbicara dengan suara lantang.
“Tadi grogi?”
“Sedikit sih… tapi ngga papa tuh” (sasuga mama no ko – anak mama sih, jadi tidak grogian hehehe)

Selain memberikan sambutan kepada kelas satu, murid-murid kelas dua juga mempertunjukkan permainan harmonika sebagai penyambutan kepada kelas satu. Aku jadi teringat peristiwa satu tahun yang lalu. Saat itu Riku yang menjadi murid kelas satu, dan disambut oleh kakak kelasnya. Tadi juga waktu aku mengantar Kai ke penitipan sempat melihat ibu-ibu bersama anak-anak mereka yang baru masuk SD memakai kimono atau jas. Wah, satu tahun sudah berlalu sejak saat itu, dan Riku sekarang sudah kelas dua. Sudah menjadi kakak kelas, yang juga diberikan tanggung jawab untuk membimbing adik-adik kelasnya. (Aku senang dengan sistem SD di sini yang memberlakukan sistem mentoring, membimbing adik kelas sehingga mereka menjadi bertanggung jawab.)

Kai juga sudah menjadi “kakak kelas” , meskipun dia baru 2,5 tahun. Sebelumnya di penitipan (hoikuen– 保育園)dia masuk kelompok usagi (kelinci) yang diperuntukkan bagi anak-anak berumur 1-2 tahun. (Di bawahnya ada kelas hiyoko (anak ayam) yang diperuntukkan bagi anak berusia di bawah 1 tahun. Mulai tanggal 1 April Kai menjadi anggota kelompok zoo (gajah) yaitu untuk anak berusia 3 tahun ke atas (sampai dengan sebelum 6 tahun, usia masuk SD). Banyak orang tua yang keduanya bekerja, tidak memasukkan anak-anak mereka ke TK, karena jam belajar TK hanya sampai jam 2 atau kalaupun ada perpanjangan hanya sampai jam 5. Sedangkan kalau di penitipan bisa sampai jam 8 malam. Dulu akupun sebetulnya ingin agar Riku tetap di penitipan sampai usia SD, supaya aku bisa bekerja terus. Tapi karena Gen ingin anak-anaknya mengecap pendidikan di TK, jadi aku yang mengalah dan berhenti kerja malam (yang sebetulnya lebih banyak pekerjaan  mengajar di malam hari, hampir setiap hari biasa), dan memasukkan Riku ke TK waktu dia berusia 4 tahun.

TK di Jepang terdiri dari 3 tingkat, kelas nenshou 年少, anak berusia 3 tahun, kelas nenchuu 年中 mereka berusia 4 tahun dan nenchou 年長 yang berusia 5 tahun. Jadi Riku masuk dari pertengahan, di kelas nenchuu. Sedangkan Kai kami ingin memasukkan dia sejak dari nenshou, bulan April tahun depan. Memang lain ya mendidik anak kedua dengan anak pertama. Kelihatannya anak kedua lebih cepat pintar dan cepat beradaptasi, karena mengamati dan meniru kakaknya. Tadi pagi juga begitu aku bilang bahwa Kakak Riku sudah pergi ke sekolah, Kai juga ditunggu sensei… dia mau pergi ke penitipan meskipun dengan enggan. Jangan kalau dia tahu Riku ada di rumah, pasti tidak mau pergi dari rumah.

Well, mulai hari ini kesibukan di rumah kami pun mulai, meskipun aku sendiri baru mulai mengajar tanggal 16 April nanti. Itu sebagai Mama sensei… tapi “Mama Princess” nya Kai kerjanya sebagai upik abu setiap hari 24/7, tanpa libur. (Eh tapi mulai hari ini aku bisa bernafas lega sedikit waktu membersihkan rumah tidak ada dua unyil yang mengganggu. Dan bisa konsentrasi nulis deh seperti hari ini)

Princess and her prince

13 gagasan untuk “The Princess and The Frog

  1. edratna

    Istilahnya lucu-lucu ya..hiyoko (anak ayam)….terus usagi ( kelinci), ..baru zoo (gajah)….
    Membayangkan Kai kecil sudah punya adik kelas, pasti lucu juga..ehh apa juga membimbing adik2 kelasnya, seperti Riku?

    Balas
  2. fatma

    mba imel gimana tuh resensi ceritanya, ko dikisu malah jadi kodok??
    wkwkwkwkwk

    klo baca postingan mba imel yg ini
    terasa klo mba imel bahagia dan enjoy banget
    menikmati kehidupan bareng sama keluarga

    tulisan ini juga inspiratif
    karena sosok ibu bekerja kecenderungannya nitipin anak ke pembantu
    dan quality time untuk anaknya lebih sedikit,,
    malah lama2 jadi kaya’ anak pembantu deh hehehe…

    tapi mba imel bisa tetep bekerja (eksis buuu!)
    sekaligus dekat dengan anak+suami (liat postingan sebelumnya kencan mulu.., klo g jalan2 sekeluarga)
    salut deh,,gimana bagi waktunya tuh?
    lain kali posting ya mba rundown kegiatannya selama 1 hari *buat dicontek ;p*

    smoga energi positifnya nular pleus bikin happy juga untuk yg bacanya..^^

    Balas
  3. Ria

    huhehehehe…mbak Koalaku tambah pinter ya!
    mendidik anak itu memang susah2 gampang ya mbak, susah kalau mereka lagi gak mau diatur dan rewel. Gampangnya ketika ngobrol enak dan mereka langsung ngerti apa yang kita omongin…

    you’re great mommy and great friend too…

    Balas
  4. wita

    Eeh, udah satu tahun ya, cepet banget, kayanya baru kemarin aku liat neechan, Gen aniki, & riku foto di depan sekolah, sblm upacara penerimaan murid baru heheh

    Selamat ya Riku, skrg jadi Senpai nih! 😉

    Balas
  5. vizon

    Nechan… tentang tradisi penyambutan murid baru di SD Riku itu, sangat menginspirasiku. Beberapa kali aku usulkan ke sekolahannya Satira untuk melakukan hal yang sama. Sepertinya usulanku itu diterima. Rencananya pada tahun ajaran baru mendatang (Juli), tradisi itu akan dimulai. Semoga saja berhasil… Terima kasih atas info-info seperti ini Nechan, aku belajar banyak darinya… 🙂

    Balas
  6. usagi

    hayyahhhhhhh
    usagi = kelinci (^_^)

    tapi kenapa aku malah berisik kaya bebek ya..
    kalau bebek bahasa jepangnya apa tan…

    mbak ria bener you are a great mam.. *jempol*

    dulu waktu kecil aku juga selalu didongengin sama mama..
    tapi bukan cerita kartun atau kisah negeri dongeng
    tapi cerita nabi dan para sahabatnya

    bebek = ahiru kwek kwek kwek hihihi
    EM

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *