Pemakan segala?

Aku jadi terpikir, apa betul orang Jepang pemakan segala? Yang bukan hanya “biasa” dimakan oleh manusia, tapi juga segala macam yang “tidak terpikirkan” bahwa itu bisa dimakan?

Dari dulu kita tahu bahwa orang Cina pemakan segala…. tapi kalau menurutku “segala” di sini berkisar pada “semua bagian tubuh makhluk hidup yang bergerak atau tepatnya binatang”. Konon, otak monyet bisa dimakan dan bahkan menjadi obat kuat. Aku sendiri pernah shock melihat sup kodok utuh di televisi… hmmm aku menganggap diriku sebagai pemakan segala, tapi kalau kodoknya masih berbentuk kodok begitu? tunggu dulu deh. Kalau sweekee kan cuma kakinya aja, jadi anggap saja makan burung dara.

Nah, aku berpikir apakah pantas orang Jepang dianggap sebagai pemakan segala? Umumnya mereka tidak mau makan “jerohan” sapi, meskipun ada masakan “motsu nikomi” yang berarti rebusan usus dengan bumbu miso. Kalau kangen dengan soto babat dulu, jaman aku mahasiswa (belum punya dapur sendiri) , beli deh motsu nikomi ini di resto/ tempat minum nomiya yang murah bernama “Tengu”. Kasih bubuk cabe banyak-banyak, dan terhibur deh kerinduan akan masakan Indonesia.

Memang orang Jepang baru-baru saja berkenalan dengan masakan yang terbuat dari daging setelah jaman Meiji. Kebiasaan makan daging yang dihasilkan dari peternakan dibawa oleh warga asing, dan Kaisar Meiji sendiri yang menghapus “Pelarangan Makan Daging” yang dikeluarkan Kaisar Tenmu tahun 675.  (Sumber : http://detail.chiebukuro.yahoo.co.jp/qa/question_detail/q1219644977) Karena berabad-abad orang Jepang tidak mengenal “daging” (hasil peternakan) maka masakan Jepang menggunakan bahan yang ada disekelilingnya yaitu dari tanaman dan laut (ikan dan tumbuhan laut).

Nah di situlah aku bisa berkata, bahwa memang Jepang “ahli” dalam mengolah apa yang ada kemungkinan untuk bisa diolah. Aku sudah pernah tulis tentang akar bunga teratai RENKON yang bisa dimakan dan enak! Akar yang keliatannya tidak menarik, kasat dan mungkin orang Indonesia bilang, “duuuh kok manusia makan akar gituan sih” bernama GOBOU, sering nangkring di meja makan orang Jepang.

lihat tuh, akar kayak gini dimakan! Ini namanya Gobou

Atau tidak usah jauh-jauh, rumput laut dan ganggang laut saja, yang pasti tidak terbayangnya masuk ke dalam perut orang, merupakan bahan makanan terpenting dalam kehidupan orang Jepang. Sushi Roll (makisushi) tidak afdol tanpa dibalut “sesuatu berwarna hitam seperti kertas” yaitu NORI. Sup Miso juga lebih lezat rasanya jika dimasukkan ganggang laut yang bernama WAKAME. Dan tumbuhan dari laut ini banyak mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh. Aku pernah dengar bahwa zat besinya saja 40 kali lipat bayam!!! Yang aku heran kenapa di Indonesia, yang juga merupakan negara bahari tidak ada makanan atau bahan makanan yang terbuat dari rumput/ganggang laut kecuali agar-agar? Salada dari berbagai jenis rumput laut itu yummy sekali loh!

Tulisan hari ini aku potong di sini karena sebetulnya dengan judul ini saja bisa menjadi thesis. Aku tergerak untuk menulis ini karena komentar dari Mas Goenoeng pada foto yang saya upload di facebook: “daun sakura bisa dimakan, Mbak Imel? *melongo*”

Sakura mochi (kiri) dan Doumyouji (kanan). Daunnya daun sakura yang bisa dimakan.

Ya, daun sakura bisa dimakan. Tentu saja tidak semua jenis, waktu aku cari katanya Sakura jenis Oshima, daunnya dibubuhkan garam (mungkin diperam lebih tepat untuk pengolahan ini ya?) . Jangankan daunnya, bunganya pun bisa dimakan kok. Dicuci, diberi garam, seperti diasinkan, lalu masukkan dalam teh hijau, atau sup bening, atas nasi, atau….. berbagai jenis masakan sampai menjadi hiasan untuk kue. Dan bisa dimakan! Silakan lihat sajian foto makanan dengan tema sakura yang aku dapat di website sebuah restoran (http://www.villa.co.jp/cook/2009/04/28.html)

semua PINK…. cocok untuk Pink lover!

Hidangan lengkap memakai sakura dan nuansa sakura  dari sebuah restoran

Lalu minumnya bir SAKURA!!! dari asahi. Kalau ini sih bukan terbuat dari sakura, tapi seasonal aja.

limited edition

18 gagasan untuk “Pemakan segala?

  1. Yasuitori

    O iya. Orang Jepang kayaknya gak makan daging anjing (kalaupun ada gak banyak). Kalau ditanya kenapa, rata2 jawabnya kasihan. 😆

    *apa mereka gak kasihan sama ayam dan sapi, pas makan yakitori dan gyuudon*
    .-= Yasuitori´s last blog ..Lagu dari Belitung =-.

    Balas
  2. nh18

    Hahahhaa …
    ada-ada saja si EM …
    But yang jelas … Manusia dikaruniai akal …
    akal untuk bertahan hidup …
    akal untuk mencari suatu terobosan baru …
    termasuk dalam urusan lidah atau perut … atau keduanya …

    Saya pikir hampir disemua negara …
    mempunyai makanan khas … yang dibuat dari bahan … yang menurut kita tidak lazim …

    Salam saya EM
    .-= nh18´s last blog ..LIFT =-.

    Balas
  3. catur wahyu lestari

    Salut memang sama orang Jepang. kreatif, teliti,disiplin,komit atas aturan. Kita senang juga kalau mereka pemakan segala yang ndak semua mereka punya, kaya ubi jalar, buncis, labu pumpkin) rumput laut yang disini orang ogah2an mengolahnya, disana punya nilai jual yang lumayan.

    Balas
  4. priskila

    hahahahaha dan aku suka makanan jepang… karena terkadang rasanya light ga terlalu berminyak dan terlalu banyak yang lemak2 gt (skr lagi hindarin yang begituan seeh, tapi kalo rendang maaah sikaaat!!!)

    tapi aku belom penah makan yang hmmm aneh2 dr jepang model, uni (selaen mahal aku ga tau itu rasanya gimana >.< takut ga suka wkwkkw)

    tapi aku akan mencobanya xixix suatu saat nanti xixixix

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *